Senja bersembunyi di balik gumpalan awan. Aku mematung menatapnya. Tak selang berapa lama ketika air mataku kembali menetes. Dan tetesan itu terselangkup rintik hujan yang mendadak turun. Mungkin hal yang ganjil bagi setiap manusia normal, sebab ketika cuaca cerah dan matahari bersinar terang, tiba-tiba turun hujan. Namun tidak bagiku, hal ini terlalu lasak. Ketika aku menangis, langit pun mengamini. Air mataku dan air matanya menjadi dua hal yang tak terjeda.
Aku memejam, menarik napas melewati paru-paru. Segala memori dan kenangan tentang sosoknya memutar dalam relung ingatanku. Manis, pahit dan semuanya. Aku tersenyum kemudian menangis, sudut bibirku tertarik dan bergerak seiring emosi hatiku yang tertuang. Detik demi detik berlalu hingga ku membuka mata. Ku tatap batu nisan di hadapanku dengan nyalang. Sebaris nama terukir padanya, mengantar mulut dan benakku mengeja. Sangkala yang sama ketika jemariku merunut deretan abjad di atasnya.
"Jiraiya," lirihku.
Kakek tua yang selama beberapa tahun belakangan menemaniku. Pendekar mesum yang selalu mengajarkan intisari kehidupan kepadaku. Aku mematri senyum tulus selama beberapa saat sampai pada menit di mana aku berhenti. Aku memasang wajah tegas dan mendekritkan sebuah janji di dalam hati.
"Aku tidak akan menjalin hubungan apa pun lagi dengan manusia normal."
A/N:
Sebuah cerita terinspirasi dari sebuah komik kosong dari halaman fb Acela Nur Pricilia
Plotted by
SiHitam
.
Written by
ForgetMeNot09
Disclaimer:
Karakter yang digunakan dalam cerita ini diambil dari Naruto karya Masashi Kishimoto.
Sebuah Penyesalan
.
.
.
Uzumaki Naruto, itulah namaku. Lahir di desa Konoha, dari pasangan Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina. Orang-orang menyebutku beruntung sebab dalam diriku bernaung seekor monster abadi. Monster rubah ekor sembilan yang membawaku pada kedaiman. Aku tidak mengerti pada awalnya, hanya tawa gembira yang kusunggingkan ketika mereka memandangku takjub. Aku bangga dan bahagia, tidak semua manusia terpilih sepertiku. Namun pada suatu ketika, pada suatu waktu, sebuah kenyataan menamparku. Bahwa hidup dalam kekekalan sama sekali tak seindah yang mereka dan diriku bayangkan.
Ketika itu aku dan kedua orang tuaku berkendara kereta kuda menuju kota untuk menjual hasil pertanian. Melewati jalan yang hanya seluas satu badan kereta. Bebatuan kecil sempat menghambat langkah kami. Saat itulah tiba-tiba kilat menyambar, hujan turun tanpa aba-aba. Kuda yang menarik kereta mendadak gelisah, kemudian mengamuk. Berlari kencang tanpa tahu licinnya jalanan. Hingga naas, kuda tergelincir membawa kereta dan kami yang berada di dalamnya tertarik ke dalam jurang.
Kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuaku, tapi tidak denganku. Aku terdera kebingungan. Di satu sisi aku menangis karena ternyata masih ada kehidupan dalam diriku, dan di sisi lain aku menangis sebab hal yang mustahil seorang manusia mampu bertahan dari sakaratul maut semacam itu.
Sejak saat itu aku hidup seorang diri. Memiliki umur abadi membuatku mampu menyaksikan segala bentuk perubahan di dunia, termasuk perubahan watak khalayak manusia yang hidup di atasnya.
Sejak kehilangan seseorang yang menjadi panutanku dalam sekian tahun terakhir, Jiraiya, aku tak mau lagi bergaul dengan manusia. Tidak untuk menjalin hubungan dekat. Jiraiya bukan yang pertama tetapi kan menjadi yang terakhir, itu sumpah yang kuucap kepada diri sendiri. Aku menjadi sosok manusia penyendiri. Menetap dalam sebuah gua tua di ujung hutan, jauh dari pusat peradaban dan memilih hidup dari kekayaan yang alam ini sajikan. Primitif, seperti itulah. Namun aku tidak peduli, yang penting adalah bagaimana aku menjalani sisa napasku yang tak mampu lagi kuhitung. Bagaimana aku menjalani tiap masa yang Dewa berikan yang tak mampu lagi kulafal.
Mati?
Sekali waktu aku acap berusaha, untuk mencabut saja karunia yang Dewa berikan. Bekerja menemukan cara untuk membunuh diriku sendiri. Namun, di tiap upaya, aku menyerah. Sebab hanya kesakitan yang kurasa tanpa memberikan apa yang kuharapkan.
Tahun demi tahun, melewati dekade demi dekade, hidupku berubah. Perubahan terpaksa sebagai akibat perubahan dan kemajuan zaman. Aku mengikuti perlahan, meski cara kuno masih tidak kutinggalkan. Dunia zaman sekarang begitu keji, gedung-gedung dibangun menjulang dengan membabat habis pepohonan dan hutan tempatku tinggal dulu. Hewan-hewan yang hidup sejak zamanku dulu diburu dan dijual untuk menghasilkan uang bagi saku pribadi. Pemerintahan kian keji, kebobrokan masa cukup digambarkan olehnya. Perilaku manusia pada zaman ini sungguh memilukan. Berlomba-lomba mengejar kekayaan dan kejayaan diri. Lupakah mereka bahwa mereka hanya makhluk fana? Yang suatu saat akan mati dan meninggalkan apa yang mereka perjuangkan kini?
Aku tersenyum, miris tepatnya. Kupandangi seekor ikan yang menggelepar menuntut kebebasan dari tusukan kail. Aku beruntung masih ada sungai yang bersih dan penuh dengan ikan untuk kupancing, kendati ini satu-satunya. Aku membawa ikan itu ke rumah dan membakarnya di kebun belakang rumah. Duduk termenung sembari menunggu masak. Sampai telingaku menegak, mendengar suara tangisan dari arah sungai. Jangan tanya mengapa aku bisa mendengar suara yang bahkan jauh di bawah desibel arus sungai. Lagi-lagi ini tentang karunia yang Dewa berikan.
Aku berjalan cepat, mata biruku membulat. Kutatap penyebab suara tangisan itu. Seorang gadis kecil dengan rambut biru gelap, duduk meringkuk. Bajunya kotor dan berantakan, ia menangis tersedu-sedu. Aku mendekatinya, berjongkok di hadapannya.
"Hei," sapaku.
Gadis itu mendongak. Alis tipis yang indah itu bertaut, semacam ketakutan dan kebingungan.
"Jangan takut, aku bukan orang jahat."
Sejenak kuabaikan tentang kebenaran diriku yang seorang tak acuh dan tak peduli. Aku mendekatinya. Mata ametis yang seketika mengambil kesadaran dalam diriku. Aku terpesona, sebelum sang gadis berteriak teredam.
"A-apa yang kau lihat?"
Aku tersentak. Kutarik tubuhku menjauh. Lantas tersenyum, "Aku Uzumaki Naruto," ujarku seraya mengulurkan tangan.
Gadis itu menggigit bibirnya, gamang jelas menghantam pikirannya. Namun kemudian, ia pun menyambut tanganku.
"Hyuuga Hinata."
-Sebuah Penyesalan-
"Naruto-kun!"
Teriakan membahana ke seluruh penjuru rumah dan pekarangan. Aku tertawa terbahak-bahak dan berlari kencang meninggalkannya. Gadis yang telah beranjak menjadi remaja itu, mengejarku dengan amarah menggebu, rona merah pekat menutupi wajah marah dan malu. Membawa sapu yang diarahkan padaku, ia kembali berteriak.
"Kembali kemari kau, dasar Kuning Mesum!"
Aku tertawa jahil. Masih bisa kubayangkan bagaimana ketika Hinata selesai mandi dan menyadari ada aku di dekatnya, mengintip melalui celah dinding kayu yang menutup kamar mandi.
Sampai aku merasa lelah. Kulirik ke belakang, sepertinya Hinata juga kelelahan hingga tak mengejarku lagi. Aku tertawa penuh kemenangan, kurebahkan tubuhku di atas rerumputan tepi sungai. Lagi-lagi aku bersyukur, sungai ini masih asri. Mungkin sebab letaknya di pelosok hingga para manusia enggan menjejakkan kakinya di sini. Pun segala jenis tanaman yang ada di sini, membuatku menarik napas dalam, menghirup aroma dedaunan basah. Pejaman mataku cukup tenang dengan suasana seasri ini mengelilingi.
Bahagia rasanya. Aku menghabiskan waktu selama ini bersama Hinata. Sejak pertemuan pertama kami, ia menjadi gadis yang baik. Selalu membantu pekerjaan rumahku, jika tempat tinggal sederhanaku bisa disebut rumah, dan mengolah makanan mentah yang kupungut dari hutan dekat sungai menjadi makanan yang cukup membuat lidahku bereaksi. Entah dari mana ia mendapatkan semua pengetahuan tentang itu. Mungkin selama perjalanannya ke kota ia berinteraksi dengan manusia lain.
Aku bahkan nyaris lupa jika sebenarnya aku adalah makhluk abadi. Berkebalikan dengan Hinata yang seorang manusia biasa. Aku nyaris lupa bahwa suatu saat nanti Hinata pasti akan meninggalkanku, sama seperti Jiraiya dan orang-orang lain sebelumnya. Dan kala mengingat kenyataan itu, pipiku bagai ditampar keras. Aku menitikkan air mata tanpa sadar. Bayangan tentang Hinata yang akan meninggalkanku membuatku ketakutan.
Mengapa?
Sedalam inikah perasaanku kepadanya? Tidak, tidak boleh, aku tidak boleh memiliki perasaan semacam ini kepada manusia biasa. Aku tak sanggup jika suatu saat harus meruntuhkan perasaanku kembali. Tidak.
Aku sudah berjanji pada diri sendiri. Jiraiya, 100 tahun yang lalu adalah yang terakhir. Aku bangkit berdiri tepat saat suara sopran Hinata terdengar di telingaku.
"Kena kau!"
Aku mengabaikannya. Berjalan meninggalkan sosok gadis yang kini tengah kebingungan.
"Naruto-kun, kau kenapa?"
Gadis itu mengejarku dengan langkah kecilnya.
"Hei, kenapa kau marah? Seharusnya aku yang marah bukan?"
Raut datarku pias seketika, aku memaksakan senyuman lebar yang terlihat kaku.
"Hahahaha ... maaf Hinata, aku hanya menipumu hahahaha ..."
Dan menanggalkan seluruh kekhawatiranku aku berlari menjauh dari Hinata, memberikan umpan ejekan padanya agar ia tetap mengejarku. Sembari perlahan membangun tirai baja melingkupi hati dan perasaanku.
Tirai yang tanpa kusadari semakin kuat seiring berjalannya waktu.
-Sebuah Penyesalan-
"A-apa yang kau katakan?"
Aku membulatkan mata biruku. Gemetar tangan kekarku membuat meja tempatnya bertumpu ikut bergetar. Panas dan dingin menjalar, seiring dengan rambatan gelombang rasa yang enggan kumengerti.
Kubagi tatapan tajam kendati irisku nanar. Wanita cantik itu menundukkan kepalanya. Kedua tangan di pangkuan ia remas bersamaan.
Hening sejenak, mengizinkan sepoi angin untuk menyapa melalui jendela yang terbuka. Helaian kuningku yang memanjang bergerak pelan. Pun rambut biru tuanya yang melambai, mengantar harum sabun pencuci rambutnya ke indra penciumanku. Entah mengapa, aroma itu membuat setiap bulu halus di permukaan epidermisku menegak. Sensasi hangat yang tak sepenuhnya asing juga melajur.
"Aku menyayangimu, Naruto-kun."
Lirih tapi bagai halilintar yang ujungnya menyengat selaput pendengaran. Aku bergeming, sejeda kemudian menghembuskan napas pasrah. Kupejam mataku, kupaksakan dionsefalon bekerja.
"Maaf, aku tidak bisa," tegasku.
Tak ada pergerakan, malam yang tenang kian membisu. Gadis itu tetap berada dalam duduknya, tanpa menengadah. Pun aku yang tak memiliki keberanian untuk menatapnya. Aku merasa bersalah, tetapi tetap pada pendirian. Aku tidak boleh memiliki rasa khusus apa pun kepada siapa pun. Mengingat entitasku yang abadi sementara para manusia itu adalah fana.
Aku pergi meninggalkan Hinata. Tak dapat kubaca apa yang tengah ia rasakan lantaran aku menutup semua pintu hati dan perasaanku.
"Maafkan aku," gumamku.
Keesokan harinya aku sengaja bangun lebih awal, pergi ke hutan dan mencari mangsa untuk kumakan. Sengaja aku tidak membangunkan Hinata. Aku tidak mau bertemu dengannya dan membuat suasana menjadi canggung. Jujur saja aku masih menyimpan rasa bersalah dan bukan tidak mungkin Hinata juga membenciku sebab hal itu.
Tengah hari baru aku kembali ke rumah. Dan aku dikejutkan oleh suara ramah seorang wanita yang teramat kukenal.
"Selamat datang ..."
Kulihat Hinata menyambutku pulang. Dahiku berkernyit heran, gadis itu bersikap biasa saja, seakan tidak ada apa pun yang terjadi malam tadi. Aku tersenyum kikuk, antara bingung harus berbuat apa dan rasa bersalah yang hinggap karena telah berburuk sangka pada Hinata.
"A-aku membawa ikan, lihatlah," seruku berusaha menyeka keganjilan.
Hinata berteriak gembira dan mengambil ikan yang kubawa. Aku tersenyum melihat tingkahnya. Tak selang berapa lama pandanganku menyendu.
Sejak malam itu tak sekali pun Hinata menunjukkan perubahan sikap. Ia tetap berlaku seperti biasa. Kami bercanda, kami menjalani hidup bersama seperti biasanya.
Aku bahagia, di satu sisi, sebab di sisi lain ada sesuatu yang menggelitik benak. Perasaan yang sedikit demi sedikit merangkak, menempel pada tirai baja yang kubangun dan menempel padanya. Bagai sebuah upaya untuk meretakkan tirai itu perlahan.
Namun lagi-lagi aku keras kepala. Kutepis pemikiran itu dengan tegas. Aku tidak boleh menyerah. Aku tidak mau perasaanku hancur kembali.
-Sebuah Penyesalan-
"Naruto-kun."
Aku menoleh mendengar suara lirih itu. Tampak olehku sosok yang bertahun-tahun menemani hidupku. Wajahnya tetap cantik meski keriput mulai menghiasi kulit. Rambut panjangnya tetap indah dan rapi meski telah memutih. Senyumnya sama sekali tak berubah kendati gigi-giginya sudah tiada lagi.
Aku berjalan dengan tubuh kekarku menghampiri ia yang terbaring di atas ranjang kayu. Kusentuh tangan kurusnya dan kucium.
"Hinata?"
Hinata tersenyum. Mendadak bulir air mata menetes di sudut matanya. Hatiku nyeri, aku bergegas mengusapnya. Aku tak sudi air suci itu menyentuh tempat lain selain pada kulitku. Aku memandangnya sendu.
"Jangan bersedih," ujar Hinata seraya mengusap pipiku.
Wanita itu tetap tersenyum. Padahal aku tahu kondisi tubuhnya tidak baik-baik saja. Tubuh lemah dan menua itu mulai dihinggapi berbagai penyakit yang oleh dokter Sasuke disebut sebagai "penyakit orang tua". Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Kemampuanku tak sampai melebihi Dewa untuk menghilangkan penyakit Hinata dan membuatnya kembali sehat. Aku meremas dadaku. Sesak rasanya. Inginku membawa tubuh itu untuk melebur bersamaku agar kami tak lagi terpisahkan.
"Jalani hidupmu dengan baik. Hadapilah setiap tantangan yang silih berganti di sisa umurmu. Jangan pernah bersedih sebab aku benci melihatmu bersedih. Bahagialah selalu, Naruto-kun."
Terbata ucapan itu bagi telingaku. Mencipta gemetar di sekujur tubuhku. Kurasakan hangat tangan keriput Hinata mengelus setiap inci rahangku. Aku memejamkan mata, sebelum kembali membukanya dan melihat Hinata tersenyum. Senyum yang sama menemaniku tiga perempat abad terakhir.
"Aku mencintaimu."
Satu jeda sepanjang satu detik, mata dengan iris pias indah itu menutup. Dan tangan keriput itu jatuh terkulai. Menandakan habisnya batas umur yang Dewa berikan pada Hinata.
Aku terdiam kaku. Bergeming dalam perasaan kosong selama berjam-jam di depan jasad Hinata. Aku tak mengerti. Rasanya sakit dada ini, bak dihantam dengan batu besar berkali-kali. Ada perasaan lain pula yang tak kumengerti. Atau mungkin aku mengenal tetapi tak lagi memiliki ingatan tentangnya, sebab bertahun-tahun lalu perasaan itu sengaja kutanggalkan hingga tak bersisa.
Tanpa sadar, bagai mayat hidup yang berjalan, aku mengubur jasad Hinata di bawah pohon besar tempat aku pertama kali menemukannya. Setelah sempurna tubuh itu tertutup tanah, tiba-tiba air turun dari sudut mataku. Setetes, dua tetes, tiga tetes, hingga tak terbendung lagi. Aku tidak percaya. Aku menangis.
Dan tangisan ini kuyakin berbeda dengan tangisanku ketika ditinggalkan orang-orang sebelum Hinata. Tangisanku kali ini benar-benar membawa kesakitan yang luar biasa pada hatiku. Ibarat hati yang lunak itu teriris sembilu lantas tertabur garam.
Perih
Gelombang penyesalan mendadak menyeruak. Memenuhi tiap rongga tubuh dan mencapai titik puncak di dada. Aku semakin menggugu. Isakku kian melantang. Dan aku berteriak.
"Arrghhhhhhhhhhh!"
Sakit
Nyeri
Kucengkeram tanah di samping pemakaman Hinata. Kujatuhkan dahiku pada lapis cokelatnya. Kuabaikan air mata yang mulai membuat tanah itu basah.
Detik yang sama ketika kurasakan tetesan air dari langit menyentuhku. Perlahan kemudian menjadi deras. Seakan sengaja mengguyurku dengan segenap perasaan yang langit miliki. Bagai hardikan dari Dewa sebab aku telah menyia-nyiakan cinta tulus seorang wanita.
Ya
Aku mengakuinya kini.
Aku mencintai Hinata.
Aku sangat mencintainya.
Dan aku menyesal tidak mau membalas perasaan Hinata dulu, ketika ia masih hidup.
Tangisku tak mereda, selaras dengan hujan yang tak jua reda. Guntur bersahutan memaksaku untuk membuka mata dan menyadari sesuatu.
Seluruh hidupku kan selalu dirundung sesal sebab tak sempat mengungkapkan perasaan cintaku pada wanita yang kucintai,
Hyuuga Hinata.
TAMAT
.
.
.
Omake
"Kau tidak apa-apa Pak Tua?"
Pria tua itu mengangguk saja, menjadi kausa kebingungan bagi yang muda.
"Kau yakin?" ulang pemuda berambut seperti daun nanas itu.
"A-aku baik-baik saja Shikadai."
Shikadai mengangguk, lalu duduk di sebelah pria tua itu berbaring. Diliriknya tubuh renta itu dengan melas.
"Kau mau minum ini?"
Shikadai menyodorkan sekaleng soda yang langsung ditolak oleh pria tua.
"Hahahaha ... jangan bercanda dengan pria tua ini, Shikadai."
Shikadai mengendikkan bahu dan meminum soda tersebut.
"Shikadai."
"Hmm?"
"Jangan pernah membohongi perasaanmu sendiri."
"Hah?"
Pria tua itu tertawa, "Jangan pernah membohongi perasaanmu sendiri atau berusaha menutupinya, atau kau akan menyesal seumur hidup."
"Seperti dirimu yang menyesal selama seribu tahun lamanya?"
Pria tua tersenyum. Mata birunya masih secerah mentari kendati gurat tua jelas membingkai. Pandangannya menerawang, pada sosok seorang wanita cantik dalam benaknya.
"Aku terkejut kau benar-benar percaya bahwa aku telah hidup ribuan tahun."
Kembali Shikadai mengendikkan bahu, menenggak sodanya hingga tak bersisa, dan membuang kaleng soda itu ke tempat sampah di seberang jalan.
"Yang aku tahu kau tak pernah berbohong, maka aku percaya apa pun kata-katamu meski itu mustahil bagi akal sehatku."
Pria tua kembali tersenyum, "Jangan sedih ketika aku pergi nanti," lanjutnya.
"Memang kau mau ke mana?"
Shikadai bingung ketika pria itu menatapnya sendu.
"Aku senang bertemu denganmu, Shikadai. Itu mengurangi beban hidupku yang penuh penyesalan selama 1000 tahun ini. Meski aku berharap bisa bertemu dengannya suatu saat nanti."
"Hinata?" celetuk Shikadai
Helaan napas pria tua terdengar. Lantas ia mengangguk.
"Ingat pesanku tadi ya."
"Hahh? Memangnya kau mau ke mana sih Pak Tua?"
"Waktuku sepertinya sudah habis."
Air mata menetes di pelupuk Pak Tua. Kendati hanya setetes tetapi cukup memerikan segala penyesalan di sisa umurnya. Harapan terucap dalam hati, agar Dewa mengabulkan inginnya untuk kembali bertemu dengan sang kekasih hati. Tak berapa lama hingga mata pria tua memejam. Shikadai menatap datar wajah tua itu sebelum melirik pangkal lehernya yang sudah tak lagi bergerak.
"Merepotkan," desah Shikadai.
