AS BITTERSWEET AS COCKTAIL

A GH FANFICTION BY LILPERVIEME

GINTAMA BELONGS TO SORACHI


CASE 1 :

The First Sight

Hotel Swan adalah salah satu hotel berbintang di Tokyo. Di tempat ini lah Gintoki membuat janji dengan salah seorang kliennya, lebih tepatnya di kamar nomor 313. Kini pria 27 tahun itu sedang duduk di suatu sofa di sudut lobby hotel, mengenakan setelan jas rapi berwarna maroon dengan kacamata yang membingkai kedua matanya. Kacamata itu hanya sekedar hiasan semata, agar penampilannya semakin terlihat smart. Kedua tangannya dibalut dengan sarung tangan berwarna putih yang sesuai dengan warna kemerjanya. Rambut peraknya ditata sedemikian rupa, namun pola berombaknya tetap terlihat.

Sesekali Gintoki melirik alroji di tangannya untuk memastikan waktu. Sepuluh menit lagi, pikirnya. Iya, dia sedang menunggu seorang klien. Ia membuat janji pukul 5:00 p.m, setidaknya 5 menit sebelumnya dia akan menuju ke ruangan tersebut. Ia tidak ingin datang terlalu cepat karena itu bisa saja mengganggu kliennya.

Setelah 5 menit berlalu, ia beranjak dari sofa menuju ruangan 313 dengan menggunakan lift. Ia menenteng sebuah tas hitam kotak di tangan kirinya dan menyelipkan map yang berisi kertas-kertas berharga di sela lengannya.

Setibanya di depan ruangan, Gintoki menarik nafas dalam-dalam lalu memenekan tombol bel.

Tidak lama kemudian, seorang pria paruh baya dengan kemeja putih yang kerahnya terbuka hingga dada dan rambut sedikit berantakan membuka pintu.

"Selamat sore, Furukawa-san. Saya Sakata Gintoki dari Svanosky Co. Saya ditugaskan oleh atasan saya untuk datang kemari membawa beberapa barang yang anda pesan."

"Ah, ya tentu saja. Aku hampir lupa sudah membuat janji. Silahkan masuk, maaf kamarnya sedikit berantakan aku sedang melakukan pekerjaan."

Pria tua itu pun mempersilahkan Gintoki memasuki ruangan hotelnya. Di atas meja kerja terdapat tumpukan kertas dan sebuah laptop yang layarnya masih menyala.

"Sepertinya Bapak sedang sangat repot."

"Tidak juga, hanya mempersiapkan bahan untuk rapat nanti malam," katanya sambil mempersilahkan Gintoki duduk di sofa tamu.

Setelah merasa nyaman dengan tempat duduknya, Gintoki meraih tas tentengnya dan membukanya. Ia menunjukkan beberapa perhiasan berbahan emas putih mengkilat kepada kliennya tersebut.

Dengan tatapan yang penuh dengan ketertarikan, pria tua itu mulai menyentuh satu demi satu perhiasan itu, membelainya bagaikan suatu harta karun yang sangat berharga. Wajar saja karena harganya yang mahal.

"Semuanya indah," kata pria itu sambil tetap membiarkan jemarinya menjamah perhiasan-perhiasan tersebut.

Gintoki tersenyum sambil meraih salah satu perhiasan yang bernilai paling tinggi dan berkelas. Sebuah kalung dengan mata merah ruby yang berkilau.

"Batu ruby langka dari Kashmir, bisa dilihat dari kilauannya yang memukau, sangat cocok dengan Bapak yang memiliki karir yang cemerlang."

"Hahaha kau bisa saja!" pria tua itu mendekatkan wajahnya pada kalung yang Gintoki pegang.

"Biar saya bantu," Gintoki pun berdiri dan melingkarkan tangannya pada leher pria tua itu, bermaksud untuk membantunya mengenakan kalung itu.

Pria tua itu kini terpukau akan indahnya batu ruby yang menggantung di lehernya melalui cermin yang ia pegang.

"Aku pilih yang ini saja," katanya lalu meletakkan cermin ke atas meja.

Saat hendak berdiri untuk mengambil amplop uang, Gintoki menghujam lehernya dengan jarum dalam satu gerakan. Jarum itu tepat menusuk titik lemah di lehernya yang membuat pria itu bahkan tak sadar kalau nyawanya baru saja direnggut dari tubuhnya.

"Done," Gintoki meraih kalung yang baru saja ia pasangkan di leher kliennya dan melepaskannya. Jarum yang ia pakai untuk menghujam pria malang itu sudah kembali ia selipkan ke lengan baju.

Ia merebahkan tubuh yang beberapa menit lalu masih bernafas dan masih bisa menikmati salah satu permata terindah di dunia itu ke sandaran sofa.

Setelah mengatur nafas untuk beberapa saat sembari memperhatikan suasana kamar yang penghuninya sudah tiada akibat ulahnya, Gintoki meraih tas tentengnya dan berjalan meninggalkan ruangan.

xxx

Jalanan yang macet membuat tubuh Gintoki merasa lelah. Ia sudah menghabiskan waktu setidaknya 1 jam di perjalanan sedari hotel tadi.

Lagu Saint Motel - LA to NY terlantun melalui radio di mobilnya. Melodi yang menyenangkan dan lirik yang ringan membuat Gintoki menjadi sedikit lebih santai.

Paling tidak mood Gintoki sedikit lebih baik, seharusnya. Namun apa daya ia justru mengenang sosok orang yang sudah sekian lama tidak ia jumpa. Teman lamanya, teman yang dulu selalu bersamanya saat SMA, serta wali kelasnya.

Gintoki membiarkan pikirannya melayang jauh ke masa lalu, saat ia dan teman-temannya melakukan banyak kejahilan dan membuat gurunya marah. Semua kenangan itu menghujamnya sama seperti jarum yang menghujam korbannya belum lama tadi.

Mulai merasa lelah dan butuh asupan gizi, Gintoki melirik sekitar. Berjejer kafe-kafe mulai dari Italian, Prancis, Asia, hingga yang temanya sangat Jepang.

Matanya kemudian tertuju pada suatu bar sederhana yang terlihat biasa saja namun terlihat tenang dari luar, tidak seperti bar pada umumnya.

Aneh juga ada bar diantara rentetan kafe-kafe. Karena merasa sudah lelah dan butuh istirahat ia memasang rating ke kiri dan memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Ia segera memasuki bar tersebut.

Benar saja. Desain bar ini lebih terlihat seperti kafe-kafe normal yang menjual kopi biasa tempat nongkrong. Namun bedanya di belakang meja bar tersebut berjajar botol-botol minuman beralkohol mulai dari beer hingga champagne.

Pada tembok belakang meja bar, berbaris dengan rapi rentetan champagne terkenal; Veuve Cliquot, Bollinger, Krug, dan Dom Perignon.

Setelah puas melihat-lihat suasana bar, Gintoki memutuskan untuk duduk di salah satu kursi di meja bar.

"Bar yang tenang ya," sapa Gintoki pada bartender yang bertugas.

"Iya, biasanya akan ramai pukul 8:00 keatas." Bartender itu memamerkan senyumnya yang ramah. Lalu melirik keluar jendela kaca yang memaparkan pemandangan jalan raya.

"Luar biasa macetnya ya," tambahnya.

"Begitu lah, saking macetnya aku sampai mampir ke sini dulu. Beruntung lagi sepi-sepinya."

"Sepertinya hari yang melelahkan ya?"

Gintoki hanya tersenyum sebagai respon dari ungkapan bartender itu.

"Mojito?" Bartender itu menawarkan salah satu jenis cocktail menyegarkan yang terbuat dari campuran daun mentol dan jeruk nipis.

"Boleh." Lalu Gintoki melirik papan menu di tembok. Matanya tertuju pada barisan makanan yang tersedia.

"Chicken avocado sandwhich, ada?" Gintoki memesan sambil tetap melirik papan menu.

"Baik."

Bartender itu mulai menyiapkan minuman sementara rekannya yang lain menyiapkan sandwich yang dipesan. Sambil menunggu pesanannya, pandangan Gintoki kembali tersebar ke seluruh ruangan bar.

Ia pun tertarik pada desain tangga di ujung ruangan. Ukiran kayu dari pegangannya sangat unik. Ia mulai mengira-ngira jenis kayu dan ukiran tersebut beserta harganya.

"Silahkan minumannya," bartender itu menyuguhkan mojito tepat di hadapan Gintoki.

Sebagian rambut yang tidak terikat sedikit terkulai sebahu itu terlihat sangat halus seperti rambut seorang wanita. Hal itu menarik perhatian Gintoki yang kemudian memperhatikan baik-baik wajah bartender itu.

Dalam beberapa detik kemudian ia sadar wajah itu terasa tidak asing baginya...

"Zura?!" Gintoki sedikit tersentak sambil mengarahkan telunjuk kanannya ke arah orang yang bersangkutan.

"Namaku bukan Zura, tapi Katsura! Eh...?"

Bartender itu pun melongo melihat wajah Gintoki yang terlihat sangat terkejut.

Selama beberapa saat ia pun sadar kustomer di hadapannya ini merupakan temannya saat SMA.

"Wow Gintoki aku tidak menyangka ini dirimu. Berpenampilan serapi ini sama sekali bukan dirimu!" Katanya sambil memelototkan mata lalu mengedipkannya berkali-kali.

"Kurang ajar, apa begini caramu melayani pelanggan hah?"

"Haha bercanda keleus! Dasar sumbu pendek."

"Bacot lu. Lagian kenapa itu rambut jadi pendek begitu? Habis patah hati ya?"

"Ah..." Katsura lalu menyentuh ujung rambutnya.

"Ini tuntutan pekerjaan. Bosque mau sajian kita tetap steril gitu ah orang awam kayak lu ga bakal paham."

"Bgsd."

Gintoki pun menyeruput mojito. Lalu beberapa saat kemudian sandwich pesanannya sudah terhidangkan dengan indah di atas meja. Karena lapar, Gintoki langsung menyambar sandwich itu tanpa mempedulikan teman lamanya lagi.

Beberapa saat kemudian, seorang pria bersurai hitam yang mengenakan kemeja putih yang dua kancing atasnya dibiarkan terbuka dan kemejanya dibiarkan terkulai di atas bahunya memasuki ruangan.

Tanpa melihat-lihat atau berpikir ia langsung duduk di kursi sebelah Gintoki dan memesan minuman.

"Campari Bitter"

"Coming..."

Katsura kembali menuju susunan minuman kemudian menuangkan cairan berwarna kemerahan terang itu ke atas gelas di hadapan pelanggannya.

"Silahkan, Hijikata-san."

Pria yang dipanggil Hijikata oleh Katsura itu pun mulai meneguk perlahan minuman kemerahan yang terlihat seperti bersinar di dalam gelas kaca. Sepertinya pria itu merupakan pelanggan bar ini.

Gintoki diam-diam memperhatikan pria itu dari sudut matanya. Rambut hitam lurus berbentuk huruf V, dagunya yang runcing, serta bibir tipis dan kecil yang mengecup ujung gelas itu.
Dalam beberapa saat, ia merasa suatu energi mengalir ke dadanya.

"Hm?"

Gintoki terperanjat saat orang yang sedari tadi ia perhatikan sudah menatapnya dengan tatapan penuh heran. Hampir saja ia tersedak karenanya.

Buru-buru Gintoki meraih mojito-nya lalu meneguknya cepat.

"Ini pertama kali aku melihatmu di sini." Pria itu membuka percakapan.

Gintoki yang gugup ditolong oleh Katsura yang sudah menyodorkan sekotak tisu ke hadapannya. Ia pun meraih selembar tisu kemudian ia mengelap lembut bibirnya.

"Ah, sedang menunggu orang? Maaf," Hijikata hendak berdiri dan pindah dari tempat duduknya namun terhenti karena Gintoki meraih tangannya.

"Tidak kok, aku sendirian saja," Gintoki langsung melepas tangannya begitu sadar dari refleksnya.

Untuk beberapa saat mereka terdiam menikmati hidangan masing-masing. Rekan kerja Katsura yang berambut panjang kecoklatan itu meletakkan sepiring tacco di hadapan Hijikata.

"Silahkan, Hijikata-san," sapa wanita itu.

"Terima kasih, Ikumatsu-san."

Hijikata langsung meraih botol mayones dari kantong kemeja yang ia letakkan di kursi sebelah.

Dengan perlahan dan anggun, Hijikata menuangkan seluruh isi mayones ke atas tacco tersebut tanpa mempedulikan wajah Gintoki yang keheranan, sekaligus jijik.

"Mau?" Hijikata menawarkan dengan polosnya pada Gintoki.

Dengan cepat Gintoki menolak namun tetap berusaha untuk bersikap sopan, "tidak, aku sudah kenyang. Terima kasih."

"Aku jarang melihatmu kemari, tinggal di dekat sini?"

"Tempat tinggalku agak jauh dari sini. Hanya saja tadi ada kerjaan," katanya sambil menyeruput Mojito yang masih tersisa sedikit.

"Bussinessman, ya?" goda Hijikata.

"Mungkin bisa dibilang begitu," Gintoki agak gugup bila ditanya mengenai pekerjaannya karena tidak mungkin ia menjawab dengan lantang aku baru saja membunuh orang.

"Oh begitu..." dari wajah Hijikata terlihat ia masih ingin bertanya lebih lanjut namun diurungkannya. Melihat itu, Gintoki lantas memperkenalkan diri lebih jauh.

"Aku bekerja di suatu dojo tapi sesekali aku melakukan pekerjaan sampingan menjadi konsultan keuangan pribadi." Bagian konsultan investasi sudah pasti merupakan suatu kebohongan.

"Konsultan keuangan? Cocok dengan penampilanmu," kata-kata terakhir Hijikata membuat Gintoki merasakan hal aneh menyelimuti dadanya. Akhirnya Gintoki kembali mengumpulkan kesadarannya dan melanjutkan percakapannya.

"Bagaimana denganmu?"

"Aku polisi, kamu belum pernah melihatku?" Hijikata pun memperlihatkan lencana polisinya. Seorang Wakil Kepala Kepolisian kota. Bagaimana mungkin Gintoki tidak menyadarinya?

"Ah... Jadi kamu Waka yang terkenal itu. Tidak menyangka aku bisa minum bersama petinggi sepertimu," kata Gintoki basa-basi sambil mengangkat gelas Mojito yang baru diisi kembali oleh Katsura. "Untuk perkenalan, namaku Sakata Gintoki."

Hijikata pun mengangkat gelas, "Hijikata Toushiro," kemudian mereka bersulang.

Dari ujung hidungnya, Gintoki melirik wajah Hijikata sambil meneguk Mojito perlahan, "aku tak menyangka akan berteman dengan seorang polisi. Tidak, dia justru akan menjadi musuh terbesarku. Aku harus waspada," pikirnya.

Katsura hanya memperhatikan kedua kliennya ini. Dalam hatinya sebenarnya ia penasaran dengan apa yang Gintoki kerjakan saat ini. Menjadi pelatih di suatu dojo agak kurang cocok untuk dirinya yang pemalas, tapi mengingat saat SMA dulu ia bergabung dengan club kendo bersama temannya yang satu lagi membuat Katsura merasa tidak heran.

"Ngomong-ngomong, kenapa jalan begitu macet sore ini? Apa terjadi kecelakaan?" Gintoki bertanya langsung ke Hijikata, membuat orang yang bersangkutan sedikit tersentak.

"Sebetulnya aku tidak boleh mengatakan ini pada siapa pun, tapi mumpung aku juga lagi pusing karena berbagai kasus jadi boleh lah," kata Hijikata sebentar lalu menatap ke depan seolah sedang mengolah kembali informasi yang baru saja ia terima.

"Sekitar pukul 6 sore tadi, seorang warga menemukan mayat seorang anak perempuan di dekat suatu kafe di ujung jalan."

Setelah mendengar penjelasan Hijikata, Gintoki dan Katsura langsung membelalakkan kedua mata mereka. Bahkan Ikumatsu yang berdiri tidak jauh dari sana juga tersentak dan menghentikan kegiatannya untuk sejenak dan menoleh ke arah Hijikata.

"Oh... sungguh tidak seharusnya aku menceritakan ini kepada kalian, atau siapapun itu. Kami masih menyelidiki kasus ini." Ia mengeluarkan sekotak rokok bermerk Mayoboro kesukannya lalu mengeluarkan pemantik berbentuk botol mayones dan menyalakan sebatang rokok.

Gintoki mengeratkan kepalan tangannya, terlihat sekilas wajahnya geram. Ia merasakan emosi mulai menguasai sekujur tubuhnya.

Katsura yang penasaran bertanya, "bagaimana kondisi mayat anak itu?"

Hijikata terdiam, wajahnya terlihat ragu untuk menjelaskan mengenai kondisi anak yang meninggal itu mengingat keadaannya yang tidak wajar. Apapun yang dilakukan oleh pembunuhnya sudah jelas sangat keji apalagi dilakukan kepada seorang gadis belia.

"Anak itu... diperkosa sebelum dibunuh. Itu perkiraan sementara. Tapi bisa juga ia dibunuh baru diperkosa. Yang mana pun itu kami masih harus menunggu hasil forensik sebelum mempublikasikannya. Dan kemacetan di jalan, kalian sudah bisa menebak bagaimana perilaku warga kalau sudah ada police line dan anggota polisi tersebar di mana-mana bukan?"

Hijikata menghirup rokoknya yang diselipkan diantara jari telunjuk dan tengah tangan kanannya.

Setelah menjelaskan keadaan yang sebenarnya terjadi, ia melihat reaksi dari kedua orang itu. Katsura hanya menunduk sambil mengelap gelas-gelasnya, sepertinya ia memikirkan kondisi anak perempuan itu.

Sementara itu, Gintoki terlihat lebih mengerikan. Gintoki menggigit bibir bawahnya hingga terlihat memerah. Hijikata ingin mencoba menenangkannya, kalau urusan ini sudah menjadi tanggung jawabnya sehingga Gintoki tidak perlu khawatir. Tapi Hijikata menelan kata-kata itu dan menyilangkan kedua lengannya di atas meja bar.

Tak lama kemudian handphone Hijikata berunyi. Ia pun menerima telepon itu dan berbicara dengan orang di seberang sana.

"Mereka memanggilku. Aku harus kembali," katanya sambil berdiri dan mengambil jasnya di bangku sebelah. Ia pun mengeluarkan beberapa lembar uang lalu menyerahkannya ke Katsura. Gintoki hanya memperhatikan gerak gerik Hijikata dalam diam.

"Oh ya, kalau kalian bertemu dengan orang yang mencurigakan di dekat sini, tolong kabari pihak kepolisian."

"Hmm..." Gintoki mengangguk lalu melambaikan tangannya. Hijikata menyadari tatapan Gintoki terus mengikutinya sampai sosoknya menghilang dari balik pintu.

Hijikata sebenarnya merasakan ada yang aneh dengan Gintoki. Entahlah, instingnya berkata kalau ia harus berhati-hati dengan orang itu, walaupun ia masih belum tau mengapa demikian.

Tapi jujur saja, Hijikata juga merasakan hal aneh lainnya saat pertama berjumpa dengan pria bersurai perak tersebut. Ia merasa nyaman berada di sampingnya.

xxx

"Oi, Gintoki..."

"Hm?"

"Kamu mengajar di dojo mana?"

"Ada suatu dojo milik keluarga Shimura."

"Aku tak menyangka kamu akan kembali ke dunia perkendoan," Katsura tertawa kecil.

"Apa dia sering datang ke sini?"

"Huh?" Katsura bingung, ia melihat ke wajah sahabatnya ketika SMA, dan mungkin hingga sekarang, yang duduk di hadapannya. "Maksudmu Hijikata-san? Kalau dia sih tiap sore jam seginian pasti masih bekerja, biasanya ia datang lebih malam lagi. Kadang bersama anggota polisi yang lainnya, kadang juga bersama Si Kepala Kepolisian itu.

"Oh tiap hari ya,"

"Tapi kadang juga ga dateng, apalagi kalau lagi ada kasus besar seperti ini. Aku yakin ia pasti sibuk bekerja bahkan sampai lupa tidur! Jadi polisi itu merepotkan ya," keluh Katsura.

"Begitu ya, merepotkan ya..."

Gintoki hanya memperhatikan gelas yang kosong di hadapannya sambil sesekali menyentuhnya dengan ujung jemari.

Walaupun sebaiknya aku tidak berurusan dengan anggota kepolisian, tapi entah mengapa aku ingin bertemu dengannya lagi.

Diam-diam Gintoki berharap kali ini bukan pertemuan terakhirnya dengan Hijikata, tentu saja.

TBC...


Auth's Note

Hai semua, maaf kalo FF ini mengandung banyak OOC dan mungkin banyak "celah" juga dikarenakan aku yang masih sangat amatir ini.

Belakangan aku lagi kekurangan asupan GinHiji jadi karena iseng, aku pun kepikiran untuk menulis FF ini.

Semoga ceritanya bisa menghibur kalian yang kekurangan asupan juga ya! hehehe.

Sedikit spoiler, alurnya bakal lebih serius dan bakal makin banyak "celah" nya juga jadi mohon jan expect tinggi tinggi dari FF ini yah!

Selamat membaca.

With love,

Lil.