Natasha tidak pernah sadar seberapa banyak kehadiran Clint dibelakangnya, menjaganya, memastikan bahwa dia pulang secara utuh, dan tangan Clint tak akan segan untuk merengkuh badan Natasha.
Ia masih tak mengerti mengapa, namun ia merasakannya, ketika punggung mereka menyentuh satu sama lain, ketika mereka menjaga keberadaan satu sama lain seperti tak ada lagi yang dapat dijadikan pegangan hidup. Bahwa panah Clint akan selalu jadi yang ia kagumi—walaupun dirinya sendiri memiliki keahlian setara, namun Natasha mengaguminya.
Dan, sosok Clint sebagai seorang ayah adalah—ah, sesuatu yang harusnya tak pernah ia pikirkan.
Karena, Clint akan pulang, ia mungkin akan melepas semua pelindung itu, dia menaruh busurnya, ia meninggalkan nama 'hawkeye' dalam bayang-bayang memori Natasha Romanoff. Ia tak bisa merasa kesal, ia harusnya senang, Nath terlihat lucu walaupun agak gemuk untuk bayi berumur tiga bulan.
Tapi Clint akan pulang, kerumah.
"Berhenti menatapi layar ponselmu, Romanoff, memangnya kau menunggu pesan dari siapa?" suaranya bariton khas yang menyapanya membuat gadis itu terlonjak halus dari posisi bersender pada dinding dibelakangnya. Capt—Steve, menatapinya dengan alis terangkat.
"Seseorang dari pizza company karena sudah dua jam dan pizza ku belum datang," dia melucu, walaupun tidak ada tawa yang meluncur melainkan sebuah senyum tipis. Nat menonaktifkan ponselnya, menggelapkan layar dengan wallpaper photo candid yang sengaja diambil Tony ketika pesta (pemuda itu benar-benar punya hobi tidak baik untuk mengambil photo wanita diam-diam, ya). Dan ia menatap Steve, pelan, bibirnya terbuka lagi, hendak bertanya.
"Tony akan datang?" sudah lama, sudah lama sekali mereka meninggalkan suasana yang mereka anggap nyaman. Sudah lama sekali sejak Nat mendengar lawakan khas Tony Stark, dan pula, suara Clint.
Sudah lama, sekali.
"Tidak, apa yang kau harapkan? Dia tidak akan kembali, Rom," tidak akan kembali, ya, mungkin?
"Dan kau akan merindukannya?" dia bertanya, nadanya kering, bibirnya terkatup rapat setelahnya. Steve mengangkat bahu, ia akan berbohong jika berkata ia tidak merindukan lelaki itu.
"Akan sama seperti aku merindukan Thor," bahu tegapnya terangkat, irisnya berputar menatap langit-langit kantor yang kelewat tinggi. Sebelum sang lawan bicara menjawab, ia menambahkan; "Dan, Clint, ya, kau dengar berita darinya? Aku—sayang sekali, tak punya kontak dengannya,"
Natasha bisa merasakan dia menggigit bibir, jemarinya bergetar. "Dia—" ucapannya terputus, mencoba untuk tidak terdengar menyedihkan—walaupun disaat yang sama ia ingin Steve tahu bahwa dia merasa kehilangan. "—Dia pulang, capt, pulang, ingat? Baby. Dia tak akan bisa pergi lagi," ujarnya cepat, membuang muka.
Rumah, dan dia bisa merasakan memorinya menarik dirinya kembali pada masa-masa itu, ketika dia berkata 'aku pulang' setiap memasuki kantor Tony, menjatuhkan diri disofa dan lanjut bermalas-malasan. Ia berada disana cukup lama hingga ia tahu semuanya. Ia tahu kebiasaan Clint menaruh gelas dipinggir meja, ia tahu kebiasaan Thor meninggalkan piring kotor di pinggir bak ketimbang didalamnya, dan ketika dia berhenti mengingat—dia sadar bahwa dia merindukan rumah.
Dia merindukan rumah, dan Clint.
"Steve," dia memanggil pelan, menelan ludah sebelum lanjut mengangkat dagunya tinggi. "Aku ingin pulang,"
Ke rumah.
"But I want to fight," —alongside with him— "It wouldn't be the same again,"
Bahwa Clint bukan rumah, dan Natasha juga bukanlah opsi 'pulang' milik lelaki itu cukup untuk membuatnya menelan ludah kedua kalinya.
"I'm tired, Steve,"
