Drap! Drap! Drap!
Langkah kaki pemuda bersurai pirang itu begitu cepat, menyelinap dibalik pohon-pohon besar lalu berhenti dibalik pohon besar. Mata emeraldnya memantau keadaan, ditangan sang pemuda terdapat shuriken yang siap ia lempar jika mendapati sosok musuh yang tengah mengejarnya.
Deg
Deg
Deg
Jantungnya berdetak cepat, dikejar oleh ninja suruhan musuh ayahnya membuat ia harus berpikir cepat bagaimana untuk lari dari keadaan ini. Dan pula—ia tak mungkin mengirim kegabunshinnya menuju sang ayah yang tengah berada di Suna. Sejenak—ia mengingat sosok ibunya yang selalu melindungi ia—
SRAK—
TRANG!
Si pirang bergerak cepat, ia mengelak dari katana yang dilayangkan padanya dan menghalau katana itu hanya dengan sebuah kunai.
"Uzumaki Shinachiku.. Kau akan bernasib seperti ibumu—
"Jangan berbangga dulu—orang aneh."
Shinachiku menghentakkan kakinya, retakan besar ditanah itu membuat lubang besar yang membuat musuh berkostum ala ninja pro itu terjatuh kedalam. Pohon-pohon yang ada disekitarnya pun ikut tumbang dan menutupi lubang besar nan dalam yang telah memperangkap ninja tersebut.
"Jangan menganggap remeh aku, sialan!" Ia menyeringai senang.
Tak ingin ditemukan oleh ninja lain—ia pun berlari kembali menuju hutan terlarang lebih dalam. Musuh-musuh yang mengejarnya datang dari arah berlawanan darinya—ia pun mengambil jalan lain tanpa pikir panjang. Hingga akhirnya ia berada di pinggir jurang.
"Kau tak bisa lari kemana-mana lagi, Shinachiku." Seorang ninja menyeringai dibalik penutup wajahnya. "Hidupmu berakhir disini."
"Sial." Rutuk si pemuda. Jika mundur selangkah saja, ia akan jatuh kedalam jurang. Dan jika dia tetap diam, sama saja dia memberikan nyawanya secara gratis pada orang-orang sialan itu.
Tangan Shinachiku yang terkepal kuat perlahan melemas. Ia menggerakan tangannya, memasukkan tangannya kedalan saku celana belakangnya lalu mengambil sebuah gulungan.
"Hei.."
Shinachiku menggigit jempolnya hingga terluka, darah yang mengalir dari jempolnya membuat mata ninja itu memincing tajam.
"—sampaikan salamku pada pemimpin kalian."
Gulungan yang ia ambil terbuka lebar dihadapannya.
"Dasar wanita jalang!"
—BOOF!
Darah yang ia goreskan digulungan segel itu membuat ia hilang tanpa jejak.
.
#
.
THE NEXT GENERATION
© Ryuuki Ukara
Naruto © Masashi Kishimoto
Rate: T
Warning: Yaoi/BL/Shounen-Ai, Semi-AU, Mpreg, Typo(s), Bahasa sesuka hati author dan lainnya...
Note: Ryuu memakai Shinachiku yang mungkin sebagian tau kalau chara ini adalah buatan dari fans berat NaruSaku atau yang dibuat oleh Dattbae karna kekecewaan mereka tentang ending cerita tersebut. Tidak ingin membuat war atau hal-hal negatif lainnya, Ryuu hanya meminjam chara ini untuk satu cerita(atau mungkin nanti bisa berlanjut)yang awalnya Ryuu hanya terpukau oleh Shinachiku buatan hallsth-eien, yang sumpah ganteng. Dan Ryuu mencoba membandingkannya dengan Menma dari Road to Ninja yang Ryuu dan fans SasuNaru lainnya menganggap bahwa ia adalah anak dari pasangan terhumu kita ini :3
Dan bukannya membandingkan—Ryuu malah jatuh cinta dengan aura dua character tersebut hingga membuat Ryuu berfantasi jika saja dua anak dari beda pairing ini bertemu dan jatuh cinta.
Dan semoga...
Ini memuaskan.
.
#
.
BOOF!
"HUWAAAA!"
—BRUK!
Kemunculan seseorang dari langit yang membuat Menma membelalak, tak memberi kesempatan ia untuk melangkah barang sejenak untuk menghindarinya.
Alhasil, Menma tertimpa tubuh yang agak lebih besar darinya hingga membuat ia jatuh tertelungkup dengan si pirang duduk dipunggungnya.
"Ah.. Yokatta.. pendaratan yang bagus."
"Bagus apanya?! PERGI DARI PUNGGUNGKU, SIALAN!"
Shinachiku tersadar telah menduduki seseorang, ia pun beranjak dari punggung pemuda berambut hitam yang kini duduk sambil mengelus belakangnya.
"Che.. Sialan!" rutuknya kesal. Ia pun lalu beranjak dan memberesi barang-barangnya yang buyar dijalan. Tak perduli tatapan heran dari si pirang yang menatapnya.
Setelah selesai membereskan barang-barang bawaannya dan memasukkannya kedalam tas, pemuda yang memakai gakuran hitam setingkat menengah pertama itu pun berdiri.
Mengabaikan uluran tangan dari si pirang.
"Hei.. Aku minta maaf." Ujar si pirang, Menma mengabaikannya dan pergi begitu saja. Tak ingin memiliki rasa bersalah, Shinachiku pun menyusulnya dan berjalan berdampingan dengan si raven. "Hei.. Aku minta maaf. Aku tidak menyangka akan mendarat dipunggung orang." Shinachiku tersenyum tak enak, ia lalu menyadari sesuatu. "Tunggu.. Aku ada dimana?" tanyanya, ia berhenti dan memutar, memandangi suasana yang sangat asing baginya.
"Kau ada di Tokyo, tuan pirang."
"Tokyo?" Menma berjalan pergi, Shinachiku menahannya. "Hei, Tokyo itu dimana?"
"Di Jepang."
"Jepang itu apa?"
"Negara yang sedang kau pijak, pirang."
"..."
"Lepaskan aku. Aku harus pulang."
Shinachiku terpaksa menuruti. Ia melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Menma dan membiarkan si raven itu pergi.
Namun, belum beberapa langkah jauh dari Shinachiku—Menma berhenti melangkah ketika sebuah rombongan yang memakai gakuran sama dengannya menyeringai senang menatapnya.
Lantas Menma berbalik dan berlari.
"Hei—!"
Shinachiku terheran melihat Menma tiba-tiba berlari, ia pun mengikuti Menma berlari. Menoleh kebelakang, Shinachiku menatap heran rombongan yang mengejar mereka. Merasa jika si raven dalam bahaya—Shinachiku berinisiatif mengangkat Menma ala putri dan melompat keatas atap rumah orang dan meloncatinya hingga jarak mereka dengan rombongan itu jauh.
Meloncat turun kebawah bukit, Shina berhenti dibawah pohon besar dan menurunkan Menma yang tadi sempat tak bernafas ketika digendong ala putri oleh Shinachiku.
"A—Apa yang tadi kau lakukan?!" Menma menunjukkan raut ketakutannya, ia melangkah mundur. "K—Kau tak mungkin bisa meloncat keatap rumah orang dengan mudahnya begitu saja! Ka—Kau ini apa?!"
Shina menunjukkan raut wajah aneh, "Tentu aku manusia. Sama denganmu."
"Ka—Kau pasti alien! Kau alien!"
"Aku manusia." Dia menghela nafas, "Ah sudahlah! Pokoknya kita imbang! Kau menyelamatiku dari pendaratan keras, dan aku menyelamatkanmu dari orang-orang aneh itu!"
Menma tak bersuara, mata birunya menatap lurus pada wajah Shinachiku yang tampak lelah.
"Apa liat-liat?!"
"Kau alien."
"AKU INI MANUSIA-TTEBAYO!"
xXXXx
"Jadi namamu siapa?"
"Sinbakiku."
"Telan dulu mie mu, alien."
Slurp. "Namaku, Shinachiku. Uzumaki Shinachiku."
"Oh.. Klan Uzumaki." Menma menyumpit mie ramennya dan memakannya teratur. Tak seperti Shinachiku yang entah mengapa mengingatkannya pada sang ibu. "Kalau begitu, kau kenal dengan Kyuubi pastinya."
"Tentu. Rubah besar yang ada ditubuh ayah."
"Ya.. Rubah besar yang jelek."
"U-um.." slurp. "Aku pernah menemuinya sekali, dia besar, bergigi tajam dan matanya merah. Dan nafasnya bau."
Menma memandang si pirang yang selesai makan mienya. "Kau—apa kau sebegitu bencinya dengan Kyuubi? Seperti ku?"
"Tidak." Shina menatap Menma, "Aku tidak membencinya. Malah aku berterimakasih pada dia yang telah membantu ayah menyelematkan Konoha."
"Konoha?"
"Ya.. Dan karna itulah Ayahku diangkat menjadi Hokage."
"Hokage?" Menma menggelengkan kepala lalu memakan mienya kembali, "Kau benar-benar alien ternyata."
"Aku ini manusia." Ia memangku wajah diatas meja dengan sebelah tangannya, "Hahh.. Kau tau? Kau belum mengenalkan dirimu."
"Aku Menma. Uchiha Menma."
"Wow.. Klan pemilik sharingan ternyata. Oh ya.. Kau pasti mengenal Sasuke-Teme, dia itu sahabat ayahku yang paling brengsek. Kau tau? Dia membiarkan ayahku berkerja sendirian ketika banyak dokumen yang harus ia tandatangani. Dan dia? Si Sasuke brengsek itu malah pulang meninggalkan ayahku sendirian sampai pagi." Dia mendecak kesal, "Benar-benar brengsek." Ia melirik Menma.
Menma yang mendengarkannya dengan seksama langsung memincingkan matanya pada si pemilik emerald. "Kau yang brengsek, alien." Menma meminum segelas air putih disebelah mangkoknya. "Menghina ayahku? Kau lancang sekali brengsek."
Menma menaruh dua lembar uang lalu berdiri, meninggalkan Shinachiku yang terpaku.
"He—Hei—Tunggu!" Shina mencoba mengejarnya, "Kau bilang apa? Hei! Apa benar ayahmu, Uchiha Sasuke?!"
Menma terus berjalan, ia menaikan tali ranselnya yang turun dan mempercepat jalan.
"Harusnya aku tidak bergaul dengan orang-orang aneh sepertinya." Gumam si raven kesal, ia mempercepat langkah ketika Shinachiku mendekati ia.
"Hei, Menma! Hei! Aku ingin bertanya sebentar saja!"
Shinachiku berhasil menyusul Menma, tapi si raven tak ingin bicara dengannya lalu berlari.
"OI!"
Lari Menma cukup cepat, tapi Shinachiku yang sebagai akan mendapat gelar jounin sedikit lagi itu—tentu bisa mengejarnya.
Tak ingin si raven lari—Shinachiku membantingnya ke tembok dan mengurungnya diantara dua tangan. Keuntungan memiliki tinggi beberapa senti darinya membuat Shinachiku menang. Menma tak berkutik.
"Apa benar Uchiha Sasuke adalah ayahmu? Bagaimana bisa? Sasuke tidak pernah menikah!"
"Kau tak tau apa-apa! Jadi menyingkir dariku!" Menma mendorong Shina cukup kuat hingga ia terdorong, tapi sebelum Menma lari, pergelangan tangannya telah digenggam erat oleh Shinachiku.
"Aku membutuhkanmu, Menma. Aku tidak tau aku ada dimana. Kau orang yang pertama aku temui, jadi tolonglah aku."
Luluh dengan tatapan emerald yang membuat Menma tak berkutik—si raven akhirnya mengangguk.
"Ceritakan tentangmu." Pintanya kalem.
Melepaskan genggaman tangannya pada Menma, Shina pun bercerita. "Saat itu, aku mau pergi menemui salah satu orang yang dipercayai oleh ayahku. Dan ketika dijalan, aku diserang oleh ninja bayaran keluarga Hyuuga, aku sempat bertarung dengan mereka hingga akhirnya aku terjebak dipinggir jurang. Tak punya pilihan lain, aku menggunakan gulungan segel yang aku tulis ulang dari ruang rahasia dikantor hokage. Dan ketika aku memakainya, aku tau-tau ada disini." Matanya beratatapan dengan safir Menma, "Bertemu denganmu."
Mendengarkan seksama cerita orang asing dihadapannya, entah kenapa membuat Menma merasa iba dan ingin menolongnya.
"Terserah. Jika kau mau kau ikut denganku pulang. Akan ku jelaskan pada orangtuaku." Menma membalikkan badan, ia berjalan lalu berhenti saat mengetahui kalau Shinachiku tak mengikutinya, "Kau tau? Ibuku paling benci jika aku terlambat pulang makan malam. Jadi cepat lah!" Shina berjalan cepat dan akhirnya beriringan dengan Menma.
"Aku penasaran bagaimana rupa Sasuke didunia mu. Apa seaneh Sasuke-Teme rival ayahku."
"Entahlah. Tapi yang terpenting kau jangan berkicau hal aneh tentang orangtua ku. Atau kau ku tendang keluar."
"Osh~"
xXXXx
Ceklek—
"Tadaima.."
"Menma, cuci tanganmu, ganti bajumu dan cepat ke ruang makan!" perintah dari suara cempreng yang dikenal Shinachiku membuat jantungnya berdegup tak karuan.
Mengikuti langkah Menma, Shina dibawa si raven menuju wastafel didalam kamar mandi. Mereka melewati ruang makan, dan Shinachiku sempat mengintip ruang makan. Sayang, wajah kedua orangtua Menma tak terlihat. Satu karna koran, satu lagi karna sedang memunggunginya.
"Cepat cuci tanganmu dan ikut aku kekamar."
"Oke."
Setelah memastikan tangannya bersih dari sabun dan air, Shina lalu kembali mengikuti Menma. Ia pun kembali melewati ruang makan, dan ia pun juga mengintip—tapi sayang masih tak terlihat. Berbelok kearah kiri, Shina mengikuti Menma yang naik tangga menuju lantai dua.
Langkah kaki yang cukup bersuara membuat tersadar orang rumah.
"Menma, kau membawa temanmu?" suara cempreng itu mengalihkan pandangan Shina, tapi Menma menariknya kedalam kamar.
"Ya." Dan pintu tertutup.
"Wow.." Shina berdecak kagum, kamar Menma yang ia masuki begitu rapi. Tak seperti kamarnya. "Apa benar kau ini anak laki-laki? Kamarmu bersih sekali." Ia memandangi sekeliling kamar Menma.
"Jika aku tak membersihkannya, ayahku akan menghukumku. Daripada aku harus melakukan hukumannya yang menyusahkan, lebih baik aku merapikannya setiap hari." Menma membuka bajunya.
"Anak bakti." Mata emerald Shina berhenti pada tubuh putih Menma.
"Oi." Menma memanggilnya, punggung yang telah berbalut kaos biru polos itu kini telah berada diambang pintu. "Cepat ikuti aku."
Menuruni anak tangga, Shinachiku terus mengikuti arah Menma berjalan. Hingga akhirnya mereka pun masuk keruang makan dan duduk berdampingan.
Duduk manis disebelah teman barunya, Shina memasang wajah dengan senyum lebar. Di hadapannya, sebuah koran menghalangi Shinachiku dari sang kepala keluarga dirumah itu. Walau begitu, ia tetap tersenyum.
Tak lama menunggu, koran itu turun—akhirnya terlihatlah wajah sang kepala keluarga Uchiha.
Muda. Tampan.
"Sasuke-Teme." Gumamnya tak menyangka.
Dihadapan Shinachiku, pria 30an itu menatapnya dengan raut wajah datar. Rahang tegasnya menunjukkan bahwa ia yang harus disegani dirumah ini.
Shinachiku meneguk ludah.
Sama seperti sebelum-sebelumnya, ia akan menelan ludah jika ditatap oleh Sasuke rival ayahnya seperti itu.
"Tou-san.. Kenalkan, ini adalah temanku. Shinachiku." Ujar Menma, ia melirik Shinachiku yang menggangguk hormat dan Sasuke yang 'Hn' saja.
"Hajimemashite.. Uzumaki Shinachiku, desu."
"Uzumaki?" ujar suara yang berasal dari dapur—pirang yang tadi menjadi hiasan didapur sana kini telah berbalik badan dan menunjukkan wajahnya. "Aku sudah lama tidak mendapat tamu Uzumaki sejak dua tahun lalu." Ujarnya dengan senyuman.
Shinachiku terpaku ditempat.
"Kaa-san, kenalkan ini temanku." Menma menatap wajah ibunya yang sumringah.
"Che.. Kau harusnya memanggil ku 'papa', Menma. Seperti yang aku bilang sebelum-sebelumnya." Orang itu mendekat ke meja makan, menaruh lauk dan sayuran.
"Untuk apa aku memanggilmu, 'papa'. Kau yang melahirkan ku. Kau ibuku walau kau laki-laki."
BUK!
Satu pukulan mendarat dikepala raven Menma, Shina masih terpaku dibuatnya hingga tak bisa berbicara.
Dengan senyum lebar, si pirang lainnya disana mendekati wajah Menma dan mengintimidasinya. "Kau tak ingin tinggal dirumah Kakashi-sensei lagi, bukan?"
Menma bergidik dan melambaikan bendera putih.
"Baiklah.." ia melepaskan apron ditubuhnya lalu duduk berdampingan disamping Sasuke. "Selamat datang dirumah kami, Shinachiku-kun. Kau mungkin aneh melihat kami, tapi tolong terima saja ya?" Shinachiku tak merespon. Ia melihat si pirang yang selalu ia banggakan itu menuangkan nasi kedalam mangkok dan memberikannya pada Sasuke, Menma lalu dirinya. Tangan tannya dengan cekatan melakukan hal-hal yang dulu mendiang ibunya lakukan.
"Kaa-san.. Kau tau aku tak suka brokoli—
"Makan saja."
Dan ketika seluruhnya menikmati makan malam, Shina sendiri yang masih diam memandangi si pirang.
"Shina.. Cepat makan." Menma menyenggol lengannya, menyadarkan ia dari keterkejutan.
Dan pertanyaan-pertanyaan yang sudah melalulalang dipikirannya akan ia tanyakan nanti setelah makan.
.
.
Piring-piring dan mangkok itu tak lagi berisi, sumpit dan sendok juga terletak disamping mangkok nasi mereka. Mempertandakan telah selesainya acara makan malam mereka kali ini.
"Shinachiku-kun, sepertinya kau punya banyak pertanyaan untuk kami." Sang kepala keluarga bersuara lebih dulu, membuat dua pasang mata lainnya memandang ia yang masih diam menatapi si pirang berkulit tan yang kini tersenyum tak enak padanya. "Kau bisa tanyakan pada kami."
"Kalian menikah?"
"Ya. Belasan tahun lalu." Si pirang itu menjawab dengan senyuman.
"Kalian saling mencintai?"
"Tentu." Kepala keluarga Uchiha yang menjawabnya.
"Si—Siapa yang menjadi ibunya Menma?"
"Aku." Si pirang mengangkat tangan, "Kau bisa mendengarnya dari panggilan Menma untukku."
"Ka—Kau benar-benar mengandung Menma dulu?"
"Tentu.."
"Da—Dan melahirkannya?"
"Ya..dengan operasi sih."
"Bagaimana bisa?"
"Ya bisa saja.." si pirang mulai risih dengan pertanyaan Shinachiku. Ia pun memutar bola matanya, bosan dengan pertanyaan pasaran itu.
"Ka—Kau seorang ibu.. Yang mengandung Menma—menikah dengan Sasuke-Teme.. Rivalmu.. Bagaimana bisa?" wajah Shina begitu emosi. "BAGAIMANA BISA, AYAH YANG AKU BANGGAKAN MEMERANKAN PERAN WANITA DIPERMAINAN RUMAH-RUMAHAN INI?!"
Seluruh memandangnya heran.
"Ka—Kau Uzumaki Naruto! Kau ayahku!" ia yang berdiri menunjuk lancang Naruto si pirang yang kini mengernyitkan dahi. "Kau adalah Hokage ke-7! Kau ayahku! Bagaimana bisa—ini aneh! Dunia ini aneh!"
Dan tanpa perkataan lagi..
Ia pergi begitu saja.
Membuat Menma merespon dengan wajah rengutnya begitu mengerikan.
xXXXx
Pagi hari..
Menma yang selalu pergi lebih pagi ke sekolah dikagetkan oleh seseorang yang duduk memeluk lutut didepan rumahnya. Shinachiku semalaman diluar sana ternyata.
Tak memperdulikan tatapan Shinachiku, Menma tetap berjalan menuju sekolahnya.
Dan seperti dugaannya, Shina akan mengikutinya dan menahan tangannya.
"Kau mau kemana?"
"Sekolah. Dan apa yang kau lakukan disini, alien? Ku kira kau akan kembali ke planetmu."
"Jika maksudmu ke sekolah itu ke akademi, aku ingin kau bolos."
Safir Menma menatap tajam emerald yang memandangnya lurus. "Bukan hak mu memerintahku." Menma ingin pergi, tapi Shina menahannya. "Lepas."
"Aku minta maaf tentang semalam. Aku hanya terkejut jika rupa ayah—ibumu maksudku, sangat serupa dengan wajah ayahku. Dan juga wajah ayahmu.. sangat mirip dengan wajah rival ayahku, Sasuke." Ia melepaskan genggaman tangannya pada Menma. "Ku rasa kau benar, aku mungkin berasal dari planet lain atau apalah.. hingga bertemu dengan orang-orang yang ku kenal namun takdirnya tak seperti takdir orang-orang yang ada dikehidupanku."
Hening..
Menma menatapnya datar dan Shinachiku sejenak berpikir keras. Hingga—
"Orang-orang yang ku kenal namun berbeda takdir... Menma!" kedua tangan itu digenggam erat oleh Shina, wajah mereka bahkan berdekatan hingga Menma merona. "Kau bisa beritahu aku dimana Haruno Sakura?! Aku mohon padamu! Temui aku dengan wanita bernama Haruno Sakura, Menma!"
Terhipnotis tatapan emerald orang yang menggenggam erat tangannya—Menma mengangguk tanpa sadar.
xXXXx
Mereka berada disebuah gedung besar, didalamnya terdapat ratusan rak buku dan puluhan unit komputer. Dan mereka berada disalah satu meja komputer disana.
Menma membuka sebuah situs data pendudukan Jepang. Mengetikan semua nama dikolom 'search' tersebut dan menunggu hasil carian yang memakan waktu beberapa saat.
TRING!
Suara dari speaker itu membuat senyum Menma dan Shina mengembang lebar.
Haruno Sakura
Alamat pemilik nama tersebut pun segera mereka catat ke selembar kertas.
Tak hanya mencatat, mereka pun ternyata juga mencari keberadaan pemilik nama tersebut. Seperti sekarang, mereka berdiri berdampingan distasiun kereta api, menuggu kereta api yang akan mengantarkan mereka kota Kitagawa. Ke alamat tersebut.
Dan ketika kereta api itu datang, mereka langsung masuk dan berdiri diantara penghuni kereta api lainnya. Menma dan Shina berbincang ringan. Shinachiku yang semalam tampak shock pun kini sudah kalem kembali. Mungkin karna nama orang yang tengah ia genggam tersebut, membuat mood Shina naik.
Beberapa menit berdiri lalu duduk ketika mendapat bangku kosong—perjalan mereka menuju Kitagawa pun akhirnya tersampaikan.
Shinachiku yang tak sabar menemui orang bernama Haruno Sakura itu pun segera berlari keluar gerbong kereta hingga Menma sempat kehilangannya.
Tapi tak lama kemudian genggaman tangan erat Shina membuat ia tak lagi kehilangan si pirang yang tampaknya sangat senang sekali hari itu.
Berjalan cukup jauh, berkeliling-keliling menanyakan alamat diselembar kertas, bolak-balik ketempat yang sama, tersesat sementara hingga kembali ke jalan yang benar—akhirnya mereka makin dekat dengan pemilik nama tersebut.
Hingga sore menjelang, mereka akhirnya sampai disebuah apartemen sederhana di utara Kitagawa. Bertanya pada salah satu penghuni apartemen—mereka akhirnya sampai disebuah pintu bercat coklat tua.
Deg
Deg
Deg
Jantung Shinachiku berdegup kencang menunggu saat-saat itu.
Akhirnya.. Untuk kedua kalinya—ia bisa kembali melihat wajah sang ibu yang telah meninggal ketika ia masih kecil dulu.
Menunggu beberapa saat ketika menekan bel apartemen itu—akhirnya pintu coklat dihadapan mereka terbuka. Menampakkan seorang wanita dewasa yang memandang heran mereka.
"Kalian mencari siapa?"
Menma membuka mulut, tapi Shinachiku mengatakannya lebih dulu.
"Aku ingin bertemu Haruno Sakura!"
Wajah ibu itu tampak ragu sebentar memandang mereka yang adalah remaja belasan tahun—tapi setelahnya ia pun menghela nafas dan memanggil nama itu.
"Sakura, ada yang mencarimu."
Sosok bersurai pink dari jauh membuat senyum Shina melebar—akhirnya—akhirnya—ia akan bertemu ibunya kembali.
"Siapa, kaa-chan? Ne.. Kaa-chan.. Siapa kakak-kakak itu?"
Hanya sedetik, harapan itu tiba-tiba hancur seketika.
Orang yang mereka cari, pemilik nama yang ingin mereka temui. Ternyata—
Hanya seorang bocah perempuan berusia 8 tahun.
Senyum Shinachiku runtuh seketika. Dan ia meninggalkan tempat itu tanpa berkata apapun lagi.
"Maaf.. Kami salah menemui orang yang kami cari." Menma menunduk minta maaf, lalu berlari mengejar Shina yang kabur duluan.
Setelah beberapa saat mencari Shinachiku, Menma akhirnya menemukan 'alien' itu disebuah taman dan ia duduk dibangku yang ada disana. Ia tampak begitu frustasi.
Tanpa mengucapkan kata untuk membujuknya—Menma langsung duduk disebelah Shina yang hanya meliriknya sejenak saja.
"Menma.. Apa rasanya mempunyai seorang ibu dengan wujud laki-laki?" ia bertanya tanpa sebab, dan Menma hanya meresponnya dengan tatapan datar sebelum menjawabnya.
"Entahlah.. Jika kubandingkan dengan para wanita yang menjadi ibu teman-temanku, kurasa sama saja. Kaa-san selalu membuatku bekal, memarahi ku jika ku berbuat salah, mengajarkan ku sesuatu yang tak ku mengerti, menjawab setiap pertanyaanku." Jawabnya, safir Menma menatap Shinachiku.
"Pasti menyenangkan mempunyai orangtua lengkap." Gumam Shinachiku, emeraldnya memandang jauh kedepan.
"Memangnya apa yang terjadi pada orangtuamu?" Shina menghela nafas, "Kau tak perlu membicarakannya jika kau tak mau."
"...ibuku meninggal. Uzumaki Sakura..." ia melirik Menma, "Atau sebelumnya bernama Haruno Sakura." Menma menampakkan wajah bingungnya, "Didunia ku—yang kau sebut planet lain—ayahku Uzumaki Naruto menikah dengan Haruno Sakura." Mata Menma melebar, "Ayah ku seorang pemimpin desa, disebut Hokage. Dan semenjak ia diangkat menjadi Hokage, orang-orang mulai mengincar ayahku. Dan ketika aku berusia 7 tahun—orang-orang itu menyerang rumahku, dan didepan mataku sendiri..." bahu Shinachiku bergetar, tangannya bertaut mengepal, menunjukkan kebencian dan juga kesakitan, "—ibuku meninggal. Hanya karna untuk melindungiku."
Menma tak bisa mengatakan apa-apa, pikirannya kosong—ia hanya berfokus pada wajah Shinachiku yang menahan rasa sakit. Tanpa ia sadari, Menma menjulurkan tangannya, mengusap pipi Shina yang telah dijatuhi airmata. Shinachiku yang mendapat perlakuan itu pun menoleh menatap Menma. Wajah jutek Menma yang biasanya dilihat Shina kini berubah lembut, raut wajah yang membuat Shina mengingat bagaimana sang ibu mempertaruhkan nyawa untuknya.
"Hiduplah disini... Bersamaku."
Jantung Shina berdetak cepat.
xXXXx
Menma hanya bisa tertunduk ketika ia masuk kedalam rumah, kedua orangtuanya telah menunggu. Wajah keduanya tak ada yang bersahabat.
"Sekarang sudah jam 10 malam, Uchiha Menma." Naruto menatap anaknya, mencoba mengintimidasi. Walau setengah hati. "Dan... kau kembali kerumah dengan temanmu lagi?"
"Tou-chan aku bisa jelaskan—
"Siapa yang kau panggil 'tou-chan', bocah?" Sasuke bersuara. Nada sinisnya langsung membuat Shinachiku bergidik dan mundur selangkah. "Kau sudah bawa kemana anakku, hn?"
Shinachiku tertawa miris, posisinya saat ini seperti tersangka yang baru ketahuan melarikan anak gadis orang. Oh, Menma andai kau benar-benar seorang gadis—kau akan kubawa lari ke dunia ku!
Pikiran Shinachiku yang sudah kemana-mana dan tak akan membantu posisinya membuat Menma akhirnya mengambil tindakan. "Bisa aku bicara dengan kalian?" katanya.
Dan kedua orangtuanya pun mengangguk.
Kini mereka duduk dimeja makan, Menma berhadapan dengan Sasuke dan Shinachiku berhadapan dengan Naruto.
"Shinachiku, kau bisa mulai." Menma menyenggol lengan Shina dan langsung direspon oleh si pirang dengan gugup.
"Na-Nama ku, Uzumaki Shinachiku. Aku berasal dari Konoha. Ayahku seorang Hokage, Uzumaki Naruto dan ibuku Haruno Sakura."
"Apa?" Naruto mengatakan dengan kening yang mengernyit dalam, sedangkan Sasuke diam memperhatikan bocah yang kini makin gugup.
"Na-Na-Nama ku Shinachiku. Ayahku Uzumaki Naruto da-dan ibuku Uzumaki Sakura. A-Aku anak tunggal Hokage ke-7 di Konoha.."
"Hah?!"
"Tunggu, namamu siapa? Tadi kau bilang apa?" desakan Sasuke dan Naruto yang bingung akhirnya membuat Shinachiku meledak dengan kegugupannya.
"NAMAKU SHINACHIKU! ANAK TUNGGAL HOKAGE KE-7 UZUMAKI NARUTO DAN HARUNO SAKURA-TTEBAYO!"
"Kau dengarkan, DOBE?! Katakan padaku! Apa kau pernah menikah sebelumnya?!"
"A-Apa kau gila?! Aku bahkan harus menghabiskan umur ke-17 ku untuk menikah dengamu, TEME!"
"Benar juga.." hening, Sasuke mencoba menjernihkan pikirannya yang tadi sempat dikendalikan emosi. Dengan menghela nafas ia pun kembali bertanya, "Jadi apa maksud kedatanganmu kesini?"
"A-Aku ingin hidup bersama Menma!"
"HAH?!"
Keadaan diruang makan itu tak bisa dikendalikan lagi...
"OI! ALIEN!"
"A-ANO MAKSUDKU AKU MEMPERTARUHKAN NYAWAKU HANYA UNTUK MENMA!"
"SHINA! A-AKU BENAR-BENAR AKAN MEMBUNUHMU!"
"OH, TUHAN! MENMA KECILKU BARU SAJA DILAMAR LAKI-LAKI LAIN! AKU HARUS BAGAIMANA?!"
"A-A-Apa? DOBE, APA MAKSUD ANAK INI?!" Sasuke kalap, ia menarik Shinachiku dan mengangkatnya hingga remaja pirang itu merasa tercekik, "AKU MENOLAK LAMARANMU, BOCAH!"
"ARGH! TOU-SAN, KAA-SAN! MAKSUDNYA BUKAN BEGITU!"
Menma tau kalau ini akan berbuntut panjang.
xXXXx
BRAK!—"Hokage-sama!"
Naruto yang sedang fokus dengan dokumen didepannya, mendongak menatap para jounin yang berwajah pucat. "Ada apa?"
"Shi-Shinachiku-san!" pemuda dengan rambut coklat panjang mencoba mengatur nafas, "Ditangkap oleh ninja bayaran keluarga Hyuuga!"
Satu kalimat itu cukup untuk Naruto melampiaskan emosinya dengan menghancurkan meja.
"PANGGIL SASUKE KEMBALI!"
.
.
ーつづくー
BERSAMBUNG
Tenang, bakal apdet sampe komplit kok :3 udah selesai diketik kok seluruh chapternya :D
Oh ya, Naruto didunia Menma pakai marga Namikaze :3
Dan—seperti biasa, saya gak ahli buat judul :" jadi kalo judul ama isi ga nyambung, mohon dimaklumi :"
Sampai jumpa :3
/Ryuuki Ukara /11 September 2015/
