Fanfic ini kami buat bukan untuk ditiru tingkah laku para chara disini, jadi kami harap kalian hanya mengambil hikmah yang terdapat di dalam fanfic ini nantinya. Jangan tiru scene jeleknya ya … ^_^
Ai to Uragiri
Rated : Semi M
Pairing : Sai .S. x Ino .Y. x Naruto .N.
Naruto © Masashi Kishimoto
Cover Image © Kireina Yume
Genre : Romance, Angst, Friendship
Warning : AU, GaJe, Aneh, Abal, Alur Kecepetan, Bad Languange, OOC, OC, Typo yang bertebaran, Bad Deskrip, dan sederet kesalahan lainnya. Miyu dan Rai tidak menerima FLAME tetapi CONCRIT!
DON'T LIKE?, DON'T READ!, NO FLAME! But, If you like, REVIEW please!
Fic collab with Raito Kunazawa.
.
.
Enjoy…
-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-
Chapter 1 : Perkenalan.
-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-
Siang itu di sebuah jembatan di tengah kota Konoha terlihat dua orang pemuda yang sedang asyik melihat aktivitas orang-orang yang berlalu lalang di hadapan mereka. Kedua pemuda itu hanya berdiam sembari meneguk pelan minuman keras yang berasal dari botol yang ada di tangan mereka.
Setelah keheningan yang cukup lama terjadi akibat tak adanya suara yang timbul dari pita suara kedua orang tersebut, salah satu dari mereka mulai membuka suara –merasa bosan setelah melihat aktivitas monoton yang terpantul dari sepasang mata crimson-nya, "Hai Sai ... pindah tempat yuk? gue bosan nih."
Seorang lelaki berambut hitam klimis itu menoleh sesaat setelah indera pendengarannya menangkap sebuah suara yang berasal dari pita suara temannya. Mata onyx milik Sai segera memancang kearah sahabat karibnya itu, menatap lurus mata crimson milik pemuda tampan berambut coklat tersebut.
"Hn, kalau mau pindah, habiskan dulu minumanmu itu. Lagian mau pindah kemana sih?" Jawab Sai malas. Lelaki berkulit pucat itu menyandarkan tubuhnya ke tepian jembatan, memposisikan diri senyaman mungkin di atas besi jembatan yang kini sedang disandarinya. Sedangkan lelaki berambut coklat itu segera menghabiskan minumannya dengan sekali teguk –minuman itu memang hanya tersisa sedikit.
"Ke KSHS, kudengar dari Karin, sekarang dia sedang ada latihan volly dengan teman se-club-nya. Siapa tahu kau bisa punya pacar tambahan. Memang kau belum bosan pada Ikumi-chan, eh? Tumben sekali kau bisa bertahan dengan 3 wanita itu dalam dua minggu ini? Hahaha." Rai tertawa kencang di akhir kalimat. Baginya sudah biasa jika temannya itu bisa memiliki lebih dari 3 wanita sekaligus. Dan waktu dua minggu itu sudah sangat hebat baginya –Rai- karena biasanya temannya itu hanya akan bersama dengan wanita-wanita itu selama beberapa hari. Setelah itu? Dibuang seperti sampah. Kejam memang, tapi itu sudah terlalu biasa bagi keduanya.
"Ehem, mungkin gak terlalu buruk. Okelah, kita ke KSHS, tapi … kau belum mabuk kan, Rai?" Sai menjawab setelah beberapa lama terdiam, lelaki itu menolehkan wajahnya pada Rai –memastikan jika temannya itu belum mabuk setelah meneguk habis sebotol minuman yang ada di tangannya.
Rai mengangkat sebelah alisnya sebelum menjawab perkataan Sai dengan nada sedikit menghina, "Heh? Kau pikir aku bisa K.O cuma dengan sebotol vodka, huh? Mati saja." Rai menyerigai sebelum melemparkan botol malang itu ke bawah jembatan, membuat botol itu terombang-ambing dalam aliran air yang mengalir di sungai tersebut.
"Cih, ternyata kau masih waras. Ya sudah, ayo berangkat."
Sai menyalakan motor sportnya setelah memasukkan kunci motor tersebut. Rai pun berlari ke arah motor merahnya sambil mengumpat kecil. Setelah menyalakan motornya, Rai-pun dengan cepat menyusul Sai yang sudah terlebih dahulu melesat menembus keramaian kota.
-xXx-
Seorang siswi yang mempunyai mahkota berwarna merah terlihat sedang asyik mengobrol dengan teman-temannya. Gadis cantik itu dengan terpaksa menghentikan obrolannya dengan teman-temannya ketika mata ruby-nya melihat 2 buah motor sport memasuki gerbang KSHS. Dan salah satu dari dua pengendara motor itu adalah kekasihnya.
"Emmm … Shion, kutinggal sebentar ya." Kata gadis berambut merah tersebut pada temannya yang memiliki rambut berwarna pirang. Shion menatap gadis berambut merah itu dengan pandangan curiga, mata violet-nya memancang menatap sepasang mata ruby milik Karin dengan tajam.
"Kau kenal dengan mereka, eh?" Shion menatap Karin lurus-lurus.
"Emmm … sebenarnya-" Sebelum Karin sempat menjawab pertanyaan dari salah satu teman se-club-nya itu, ucapannya sudah terpotong oleh salah satu temannya yang juga memiliki mahkota berwarna pirang.
"Apa itu pacar barumu yang kemarin kau bilang padaku Karin?"
Mendadak Karin merasa gugup ketika dirinya menemukan semua pasang mata sudah terpancang ke dirinya akibat ucapan salah satu temannya tersebut. Semua memandang Karin dengan curiga, sejak kapan Karin punya pacar baru? Begitulah kira-kira isi pikiran mereka.
"E-eh, Ino sayang ... memang kemarin aku bilang apa padamu? Bukannya aku gak bilang apa-apa?" Ucap Karin dengan tampang selugu mungkin, gadis berambut merah itu sudah bermandikan keringat dingin saat dirinya sudah dihujani tatapan curiga oleh teman-temannya.
"He? Kau sudah pikun ya Karin-sama? Bukannya kemarin kau bilang sendiri jika kau memiliki pacar baru, eh?" Sindir Ino –gadis berambut pirang tadi- tajam. Gadis itu meletakkan sepasang tangan putihnya di depan dada, mata aquamarine-nya memandang Karin dengan nyalang, memaksa sepasang iris ruby itu untuk berterus terang.
"Wah wah, nona besar kita sudah ada yang punya nih. Hem … berarti nanti sepulang latihan akan ada pesta di apartment-mu ya? Hehehe." Seorang gadis berambut coklat dicepol dua segera berbicara setelah beberapa lama Karin membisu –menolak memberikan konfirmasi atas ucapan yang tadi dilontarkan oleh Ino.
"Pacarmu yang mana? Yang rambut hitam atau yang mirip besi karatan itu, eh?" Lagi-lagi salah satu temannya yang berambut pink segera mengajukan pertanyaan sebelum Karin sempat menjawab pertanyaan dari kedua temannya sebelumnya.
"Bukannya besi karatan Sakura sayang, itu coklat muda. Dan hati-hati pada ucapanmu nona muda, dia itu pacarku, huh." Karin melengos setelah menjawab pertanyaan Sakura dengan nada yang kelewat ketus. Gadis berambut merah itu segera berjalan menghampiri kedua lelaki tampan yang sedari tadi masih berada di atas motor sportnya.
Setelah berjalan lumayan cepat, Karin-pun langsung memeluk lengan Raito dengan gaya lebaynya –mengacuhkan seorang pemuda tampan di sebelah kekasihnya yang saat ini sedang memutar mata onyx-nya bosan ketika melihat tingkah kekasih temannya itu.
"Ehem," Sai berdehem pelan –merasa bosan menatap kedua insan itu bermesraan tanpa peduli pada situasi. "lebih baik kalian cari tempat sana, jangan bermesraan disini. Membuat mata sakit saja." Sai berucap ketus. Mood-nya memang sedang buruk saat ini. Mata crimson Raito segera menyorot pada Sai, sepasang mata merah itu memancarkan sebuah perasaan bersalah ketika menyadari dirinya sudah mengacuhkan sahabatnya sedari tadi. Raito segera mengenalkan Sai pada Karin –tak mau membuat Sai lebih bosan lagi saat menatap dirinya yang sedang asyik bermesraan dengan kekasih barunya itu.
"Karin, perkenalkan, dia Sai yang kemarin kubilang padamu sedang mencari pacar. Dan Sai, dia Karin, pacarku." Ucap Raito sambil menarik lengan Karin yang sedari tadi bergelayutan dengan manja di lengannya.
"Ehem … perkenalkan, aku Karin Ayugawa." Ucap Karin dengan senyum mengembang, sedangkan Sai hanya memandangnya dengan senyuman miring.
"Sai Shimura." Balas Sai pendek. Lelaki bermata onyx itu sudah mati kebosanan saat ini.
"Emmm … Sai-san, apa kau benar gak punya pacar, eh?" Karin memandang Sai curiga, dia sedikit tak percaya ketika mendengar info itu, pasalnya, Sai adalah pemuda yang cukup tampan, tidak mungkin dia tidak mempunyai kekasih. Karin cukup yakin jika dengan bermodalkan wajah seperti itu, Sai pasti akan dengan mudah memikat wanita untuk jatuh ke pelukannya.
"Hn, aku tak punya pacar. Baru putus seminggu yang lalu." Dustanya. Tentu saja, siapa yang putus? Sai bahkan saat ini sudah memiliki 3 orang kekasih.
"Yakin? Ya sudah kalau begitu. Ayo ikut aku, kukenalkan pada teman-temanku. Mungkin kau akan tertarik." Karin segera berjalan meninggalkan Sai, sedangkan Raito dengan pasrah diseret oleh kekasihnya itu kearah teman-temannya.
"Guys, nih, kenalin. Pacarku, Raito," Kata Karin sambil menarik tangan Raito, "dan yang di sebelahnya itu Sai. Dia sedang cari pacar tuh, silahkan kenalan sendiri-sendiri ya, aku masih ada sedikit 'urusan' dengan Rai-kun hehehe." Karin tertawa kecil sambil menarik tangan Raito menuju ke arah toilet sekolah. Teman-temannya dan Sai hanya memandang mereka dengan malas, bagi mereka itu sudah biasa.
"Bolehkah aku tahu siapa nama-nama malaikat ini, eh?" Sai segera memasang wajah malaikatnya, sebuah senyuman menawan terukir di bibir tipisnya, membuat beberapa gadis disana tersipu malu melihat ketampanan pemuda tersebut.
"Perkenalkan, aku Ino. Ino Yamanaka," Ino menjabat tangan Sai dengan wajah bersemu merah, gadis berambut pirang pony tail itu menunjuk teman-temannya sambil menyebutkan namanya satu persatu. "yang berambut pink itu Sakura, kalau yang dicepol dua itu namanya Tenten, yang rambut indigo panjang itu Hinata, sedangkan itu Shion, Tayuya, Haku, dan Kin." Ino memperkenalkan teman-temannya satu persatu, sedangkan Sai hanya mengembangkan senyum menawannya.
"Salam kenal ya cantik." Kata Sai sambil mempertahankan senyumnya.
"Salam kenal juga Sai-san." Kata Sakura, Tenten, Hinata, Shion, Tayuya, Haku, dan Kin bersamaan. Tak lama setelah itu, beberapa anak laki-laki datang menghampiri mereka, seorang lelaki berambut raven segera mendekati Sakura -yang membuat Sai berasumsi jika lelaki itu adalah kekasih Sakura. Lelaki itu juga sempat memberikan Sai pandangan mata tajam –pandangan mata yang memiliki arti jika Sai tidak boleh mendekati kekasihnya seujung kukupun.
"Ino-pig, tadi Sasuke-kun bilang, Naruto-kun tidak bisa mengantarmu pulang." Bisik Sakura pada Ino. Ino mengangguk pelan, tanda mengerti.
Beberapa saat setelah itu, beberapa gadis seperti Sakura, Tenten, dan Hinata segera meninggalkan tempat tersebut bersama pasangannya masing-masing. Sedangkan Haku, Shion, Tayuya, dan Kin sudah ngacir entah kemana. Menyisakan Ino bersama Sai di pinggir lapangan.
"Hem … ano, apa kau tak pulang Ino-chan? Apa kau sedang menunggu jemputan?" Kata Sai tiba-tiba. Lelaki berambut hitam itu menatap Ino dengan pandangan mata penuh tanya.
"Emmm … mungkin sebentar lagi aku pulang. Lagipula tak ada yang menjemputku kok." Jawab Ino sambil tersenyum manis.
'Hem … tak ada salahnya kuantar dia pulang.' Inner Sai. Lelaki bermata onyx tajam itu segera mengajukan penawaran pada Ino.
"Apa kau mau ku antar pulang?" Tawar Sai sambil tersenyum manis. Ino segera menolehkan wajahnya kearah Sai, menyebabkan rambut pirang panjangnya terkibas dengan reflek.
"Eh? Apa tidak akan merepotkan?" Tanya Ino yang masih kaget. Gadis itu menatap Sai yang sampai saat ini masih tersenyum sambil memandangnya.
"Kurasa tidak. Mungkin sebentar lagi Raito dan temanmu itu akan ke rumah Raito dan pergi meninggalkanku sendirian. Jadi tak masalah jika aku pergi mengantarkanmu pulang." Sai kembali tersenyum. Ino balas tersenyum, gadis itu menganggukkan kepalanya pelan, menyebabkan rambut pirangnya bergoyang pelan.
-xXx-
"Alamat rumahmu dimana Ino-chan?" Tanya Sai sembari menstater motor sportnya. Lelaki itu mengangsurkan sebuah helm putih pada Ino, sedangkan dia sendiri sudah mengenakan helm hitamnya.
"Di Himawari Street." Jawab Ino sambil menaiki boncengan di motor Sai, setelah memposisikan dirinya senyaman mungkin di atas boncengan, gadis itu segera mengenakan helm putih pemberian Sai.
"Bagus. Itu searah dengan rumahku." Kata Sai singkat. Ino yang rupanya tak dapat menahan rasa ingin tahunya segera bertanya pada Sai, "Memang rumahmu dimana Sai-kun?"
"Hanya 4 blok dari rumahmu kok." Jawab Sai sambil menjalankan motornya dengan kecepatan diatas rata-rata. Dan itu menyebabkan Ino mengeratkan pelukan tangannya pada pinggang Sai. Baik Ino maupun Sai, selama perjalanan keduanya sibuk tersenyum aneh, mengabaikan suasana sunyi yang mendadak muncul di antara keduanya.
"Ah di depan nanti berhenti ya Sai-kun. Itu, yang berpagar biru." Ino menunjuk-nunjuk sebuah rumah berpagar biru yang berjarak 500 meter dari tempatnya dan Sai sekarang.
Ckiitt …
"Nah, sudah sampai. Arigatou gozaimasu atas tumpangannya, Sai-kun." Ino mengangsurkan helm putih milik Sai ketika dirinya sudah berada di depan pagar rumahnya. Setelah memastikan Ino turun dari boncengan, Sai segera menarik tangan Ino pelan, menyebabkan pemilik mata aquamarine itu menatapnya dengan kebingungan.
"Gomen, apakah aku boleh meminta nomor handphone-mu?"
Ino yang kaget mendengar permintaan Sai yang begitu mendadak itu hanya bisa membatu, menyebabkan Sai harus turut diam.
1 detik.
3 detik.
5 menit.
"Ino-chan … halloooo~" Sai melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Ino, menyebabkan Ino terbangun dari lamunannya.
"E-eh, ma-maaf, me-memang buat apa kau meminta nomor handphone-ku?" Tanya Ino balik. Gadis itu masih tak percaya jika Sai –yang notabene adalah orang yang baru saja dikenalnya beberapa jam yang lalu kini sedang berdiri di depannya dan meminta nomor handphone-nya! 'Astaga! Mimpi apa aku semalam?' Pikir Ino norak.
"Emmm, aku cuma mau mengenalmu lebih dekat. Jadi … boleh, kan?" Tanya Sai dengan sedikit kikuk, lelaki itu kini sedang menatap Ino dengan pandangan mata penuh harap. Berharap Ino mau memberikan nomor handphone-nya.
"Emmm … tentu, nomorku, +8162****." Jemari Sai dengan lincah menyentuh layar handphone -nya. Setelah mengetik nomor handphone Ino, Sai segera menyentuh ringan icon berwarna hijau yang ada di layar handphone-nya. Tak butuh waktu lama sampai handphone Ino berdering, membuktikan jika panggilan Sai telah masuk kedalam log-nya.
"Itu nomorku, nanti kuhubungi. Jaa ne Utsukushī." Sai mengecup singkat dahi Ino sebelum meng-gas motor sportnya, meninggalkan Himawari Street.
Dan tanpa mereka berdua sadari, ada sepasang mata yang mengawasi semua gerak-gerik Ino dan Sai sedari tadi. Tangan orang itu mengepal kuat, menyebabkan buku-buku jarinya memutih.
"Ternyata anak genk Crow. Cih." Dengus pemilik sepasang mata itu dingin. Sesaat setelah itu, pemilik mata itu segera pergi dari tempatnya bersembunyi tadi. Melajukan motornya keluar dari Himawari Street.
-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-TBC-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-
Miyu : Aloha Readers … salam kenal ya, Miyu anak baru di pair SaIno ini, tapi kali ini Miyu gak sendirian, ini fic collab Miyu ama Rai #nunjukRai. Miyu dan Rai masih pemula, un. Mohon bantuannya ya, jangan kasih flame dulu, kasih kami concrit aja … #pasang puppy eyes.
Rai : Hwaaa … ngapain nunjuk-nunjuk? Naksir yaaa … #pasang tampang PD akut *dihajar orang sekampung.
Ehem, ya, bener kata Miyu, kami masih pemula … jangan dikasih flame dulu ya … walaupun ngasih jangan yang pedas kayak gini #nunjuk mangkuk mie yang kosong. Hahahaha XD
Miyu : Oh iya, disini ada OC ya, tapi tenang aja, kata Rai, dia gak bakal sering muncul kok (-_-). Sedikit info, ini fanfic plotnya semua dari Rai, aku cuma nambahin diskrip ama ngebeta-beta yang salah-salah. Dan alasan kenapa ini fanfic gak di-publish di account-nya Rai –padahal story dia sendiri gak ada :3-. Silahkan tanyakan sendiri ke orangnya. Miyu gak ikut-ikutan #run.
Rai : Hemmm … gimana ya … alasannya sih itu … itu … #nunjuk-nunjuk leppy yang hangus kebakar di pojok kamar (_ _)
Miyu : ckckckck, kau apakan saja lah laptopmu itu #sweatdrop. okelah, ini cuma sekedar prolog ya, cerita sebenarnya bakal muncul di chapter 2 #senyum manis *digampar readers.
Rei : eh iya, inget ya, apapun yang dilakuin chara-chara di fanfic ini, jangan pernah kalian tiru, itu gak baikkk #ngibas-ngibasin jari telunjuk.
Rai dan Miyu : R.E.V.I.E.W ya minna~ #tebar confetti
Miyu : #nyelundup. Numpang promosi fic aku yang lain ya ^_^
Baby Bearer Of Love (SasuTenSai)
Love Begins With a Collision (GaaHina)
My Woman, My Love, and My Live (GaaTen)
Minta review-nya ya minna~ #kittyeyes
Salam,
.
.
.
Miyu & Rai
07-14-12
13:01 W.I.B
