Chapter 1 :

When Art And Music Meet Each Other

.

.

.

"Apa yang harus kulukis?"

.

.

.

Aku masih terbaring di sofa, memikirkan bentuk apa yang akan kugambar lagi di sebuah hamparan canvas yang putih itu. Aah. Belakangan ini aku selalu kehabisan akal. Aku sudah mulai bosan melukis pemandangan. Senja, gunung, padang rumput, dan apalagi itu? Ah, iya, pelangi. Aku rasa sudah cukup dengan pemandangan.

"Oi, Aomine, kau masih belum saja memikirkannnya?" Tanya lelaki berambut merah itu disampingku.

"Apa maksudmu?"

"Pamerannya 'kan 2 minggu lagi, kau masih saja mau bersantai-santai? Jangan salahkan aku kalau kau sampain lupa ya. Ini terakhir kalinya aku mengingatkanmu."

Aah. Iya. Sebentar lagi pameran lukisan itu akan diselenggarakan. Aah! Menyebalkan sekali, aku masih belum menemukan ide yang pas untuk pameran itu! Apa temanya kemarin? Musik? Kenapa bisa-bisanya pameran lukisan bertemakan musik. Panitianya belum pernah merasakan sandal masuk ke hidung kali ya.

"Ah, aku belum dapet ide yang pas, Kagami."

"Cih. Alasan saja. Eh, Kemarin Kuroko mengajakku untuk menonton sebuah pementasan musik klasik di dekat Hokkaido sana. Aku akan pergi kesana, kau mau ikut tidak?"

"Eh? Memangnya ada urusan apa dia nonton pementasan musik itu?"

Aku menggaruk kepalaku, tanda tidak mengerti alasan dari sahabatku yang ingin pergi ke Hokkaido hanya untuk menonton sebuah pementasan musik klasik.

"Katanya sepupunya akan tampil juga disana."

"Heh? Aku tak tahu itu."

"Ya sudah mau ikut atau tidak? Siapa tahu kau bisa mendapat ide yang bagus buat lukisanmu nanti.

Aku rasa pergi sesekali juga tidak masalah. Lagipula yang diucapakan si rambut belang itu benar juga. Mungkin aku akan mendapat refrensi yang bagus nanti.

"Oke. Aku ikut."

.

.

.

.

"Hoi Ryouta."

Ucap pria yang sedang membuka pintu ruangan musikku. Tercium aroma roti panggang dan jus.

"Iya?"

"Bagaimana dengan keadaanmu? Kau sudah siap untuk pementasanmu lusa nanti?" tanyanya, sembari menaruh makanan yang ia bawa di sebelah meja dekatku.

"Aku rasa? Aku masih mencoba untuk menyesuaikan beberapa nada."

"Kalau begitu, selamat berjuang, jangan memaksakan diri ya. Oh iya, aku akan ada di ruanganku untuk menyelesaikan beberapa proyek baruku. Jika ada apa-apa, aku ada di sana, oke?" Katanya sembari menutup pintu ruangan musikku.

"Iya, terima kasih Shougo."

Biarkan aku menggambarkan sedikit perasaan ku ini dengan sebuah alunan musik… sebuah dentaman lagu yang menegangkan, diikuti beberapa melody tinggi yang menyatu dengan chord lainnya. Ah, alunan suara piano itu benar-benar menyenangkan. Terkadang aku ingin sekali melihat bentuk alat musik ini.

Buta sejak lahir mungkin sudah menjadi rumor yang cukup akrab di sekitar kompleks perumahanku ini. Tapi kalau sebuah kebutaan ini dapat membuatku menikmati indahnya alunan musik, aku tak keberatan buta selamanya.

Lagipula, banyak yang bilang, kalau bentuk asli dunia ini kotor 'kan?

.

.

.

.

"Aomine-kun. Sudah kubilang kalau mau ikut, setidaknya gunakanlah kemeja atau jas. Ini 'kan hampir seperti acara resmi. Jangan salahkan aku kalau kau sampai berbeda sendiri dari yang lain."

Aku melihat ke arah pakaian yang aku pakai, sebuah kaos putih di lapisi jaket kulit bewarna hitam, serta sebuah jins panjang berwarna abu-abu. Bukankah ini cukup sopan?

JDUAGH!

Sebuah pukulan mendarat tepat dikepalaku.

"Oi Bakagami! Apa yang kau lakukan?!"

"Kau dengar apa yang tadi Kuroko katakan. Cepat ganti baju, aku tak mau sampai kau mempermalukan kami meskipun kau adalah seniman yang luar biasa, Ahomine!" Kata pria rambut belang itu sambil memberikan sebuah Tuxedo hitam kepadaku.

"Cih, ya sudah." Kataku sembari mengambil Tuxedo yang telah diberikan kagami padaku.

.

.

.

.

Semuanya telah siap. Pakaian resmi yang sudah disiapkan telah melekat di tubuhku. Huaa. Rasanya darah ini mengalir lebih cepat dari biasanya.

"Huaa! Sebentar lagi acaranya akan dimulai. Aku deg-degan!" kataku sembari menyunggingkan sebuah senyuman.

"Hoi! Hati-hati Ryouta, Bagaimana kalau kau sampai terjatuh?!" sahut pria di sebelahku sembari memegang tanganku.

"Tenang-tenang, aku ga bakal kenapa-kenapa kok. Tapi ini pertama kalinya aku tampil di Hokkaido! Bukankah ini menegangkan? Aku harap akan banyak orang yang menikmati ini."

"Hm, haha. Ya, Ya, bawakan sihir untuk mereka semua. Selamat berjuang Ryouta. Nah, kalau begitu kau akan diurus dengan panitianya. Aku akan melihatmu dari bangku penonton. Sampai nanti ya."

"Yep, bye."

Sou. Aku ingin semua orang merasakan perasaanku ini. Sou semuanya. Siap-siaplah wahai dunia!

.

.

.

.

Huoo. Tempat ini gede banget! Ciyus miapah ituh sepupunya Tetsu mau tampil disini?

"Tempat ini luas sekali ya.." sahut Kagami yang dari tadi melonggo kemana-mana.

"Hm? Apa yang kau katakan Kagami-kun? Tempat ini tidak seberapa dengan penampilan sepupuku kemarin di Akihabara."

Hah?! Buset, ada yang lebih gede lagi dong?! Ok. Let's skip this topic.

Kami memasuki sebuah ruangan yang besar sekali, dimana terdapat banyak kursi dan panggung yang sangat luas. Tak beberapa saat kami duduk, lampu pun segera dimatikan. Lalu host dan para juri mengucapkan selamat datang kepada para penonton termasuk kami.

Pementasan tersebut dimulai dari yang bermain Biola, Clarinet, Cello, dan sebagainya. Hingga diakhiri dengan pementasan para pemain Piano.

Ah, sepupu Tetsu maju ke atas panggung. Wah, ternyata sepupunya Tetsu cantik sekali. Kata Tetsu ia memainkan lagu Schubert atau apalah itu. Aku tak mengerti. Dia memainkan dengan sangat hebat, sebuah irama lambat dan lembut lalu semakin lama semakin cepat dan mengikuti dentaman nada lainnya. Aku terkagum melihatnya.

Ada seseorang yang menarik perhatianku.

"Selanjutnya akan kita panggilkan, Kise Ryouta, dengan nomor peserta 54."

Sesosok pria pirang bersurai keemasan memasuki ruangan ini. Kulitnya putih pucat, cantik merupakan kata pertama yang menggambarkan lelaki itu. Anehnya, ia dibantu berjalan oleh seorang perempuan bergaun hitam. Padahal peserta yang lain tidak seperti itu.

Aku terkeshima melihatnya…

Ia memainkan sebuah lagu Beethof—Beehov–Beethoven? Ya apapun itu. Ia memulai dengan sebuah bunyi irama-irama yang lembut menjadi semakin cepat. Lalu menjadi tegas, dan kembali ke awal. Bunyi Chord yang bertabrakan, membuat sensasi klasik semakin melekat..

Ah, penuh senandung riang diliputi penyesalan. Rasanya seperti mengerti perasaannya. Permainannya luarbiasa. Aku seakan-akan masuk ke dalam dunianya.

"Tadi itu benar-benar luar biasa! Iya'kan Aomine?!" Seperti biasa, Kagami selalu saja seperti ini setiap melihat sesuatu yang baru.

"Hm.. Eh Tetsu, Kau lihat pemuda berambut pirang yang dibantu seorang perempuan tadi?"

"Ahh, Yang itu. Memangnya, Kau tak kenal Aomine-kun? Dia 'kan pernah masuk TV minggu lalu."

"Eh? Yang benar? Tapi aku merasa agak asing dengannya."

Tetsu berhenti sebentar, mecoba mencari sebuah kumpulan pilihan kata agar dapat kucerna dengan mudah.

"Dia 'kan seorang pianis yang buta sejak lahir akibat kecelakaan yang dialami Ibunya. Permainannya yang luar biasa membuat ia di terima di sebuah universitas di jerman dengan mudah, meskipun ia memiliki cacat fisik, itu tidak menghentikannya untuk menjadi seorang jenius yang sangat berbakat. Namanya Kise Ryouta."

Hah? Sehebat itukan pemuda pirang itu? Aku jadi ingin bertemu dengannya. Mungkin aku bisa menjadikannya sebagai model dalam lukisanku nanti.

"Ah, Aomine-kun, aku dan Kagami-kun akan menyusul sepupuku untuk mengucapkan selamat atas keberhasilan acaranya yang satu ini, kau mau ikut?"

"Tidak. Ada sesuatu yang harus aku lakukan."

Aku pun pergi menjauh dari mereka untuk menemukan apa yang aku cari.

.

.

.

.

"Kau hebat sekali, Ryouta! Aku sangat bangga padamu! Haha!" lelaki itu menaruh lengannya diantara bahuku.

"Hahaha. Lepaskan Shougo! Aku tak bisa bernapas." Sahutku sambil mencoba untuk melepaskan diriku dari pelukannya.

"Kau luar biasa sekali. Aku bahkan sempat tertegun untuk beberapa saat meskipun aku sering mendengarkan musik yang tadi kau bawakan." Aku bisa merasakan perasaan senangnya d setiap perkataan yang ia ucapkan. Aku rasa ia tersenyum saat ini.

"Hehe, terima kasih Shougo. Boleh kau traktir aku es krim di café terdekat sebagai hadiah suksesnya acara kali ini?" aku tersenyum kecil.

"Haha, oke-oke. Tapi tunggu di sini sebentar, ya. Aku mau ke toilet sebentar. Jangan kemana-mana ya!" katanya sambil mengusap kepalaku, lalu melesat pergi meninggalkanku.

Aku mencari sebuah sandaran, setidaknya untuk menopang tubuhku sebentar saja. Karena dalam posisiku kali ini, akan sulit untuk mencari tempat duduk. Aku berusaha berjalan pelan untuk mencari itu, dengan tanpa sengaja…

Aku menabrak seseorang.

Aah, Bagaimana ini? Aku selalu panik menghadapi orang lain seperti ini! Karena itu aku selalu meminta shougo menemaniku kemana-mana.

"Aah, Kau.. Kise..Ryouta 'kan?"

"Ha, ah, anu, umm.. a—ak—ku… aah.. Maafkan aku! Aku tidak sengaja menabrakmu!" Aaah! Aku tergagap saat mengucapkannya, suaraku bergetar lagi. aku harap dia tidak marah.

Orang itu memegang pundakku.

"Eh?"

"Kau tak apa? Seharusnya aku yang minta maaf. Aku tak melihatmu."

Aku terceggang. Suaranya terdengar lebih hangat dari yang aku kira.

"i-iya. Te-terima kasih…"

"Kau sedang berjalan-jalan? Kau sebaiknya meminta bantuan orang lain. Kalau tidak kau bisa saja terjatuh atau tertabrak orang lain di tengah jalan." Sahutnya menasehatiku.

"Ah, itu. Aku sedang mencari tempat duduk, atau tidak sandaran sambil menunggu temanku yang sedang ke toilet.."

"Ah, disana ada tempat duduk sini kuantarkan."

"Ah, iya, terimakasih.."

Dia memegang pundakku dengan sangat kencang. Seakan-akan aku adalah benda yang mudah pecah. Ukh.. Perasaan apa ini? Jantungku.. berdetak lebih kecang dari biasanya.

.

.

.

Orang ini. Entah mengapa semakin dekat semakin cantik. Kkh rasanya ingin kubawa pulang!

"Ini, silahkan duduk." Aku pun membantunya untuk duduk di tempat duduk tidak jauh dari toilet itu.
"Terima kasih." Jawabnya dengan malu-malu.
"Sama-sama." Aku hanya tersenyum walau tahu dia mungkin tidak tahu.

Tapi, dia membalas senyumanku. Aah aku ingin membawanya pulang.

"Ano, siapa namamu?"
"Aomine Daiki."
"Aah, Aominecchi, sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Kau… seorang pelukis itu 'kan?"

Dia tahu. Bagaimana dia tahu? Aku memang pernah masuk sebuah majalah, tapi, dia 'kan tidak bisa melihat. Lagipula, ada apa dengan panggilan –cchi yg mendadak itu.

"Aku sering mendengarmu di radio lho. Hehe. Sedang apa pelukis seperti mu ada disini?"

Apa? Aku bahkan tak pernah tahu kalau aku masuk radio.

"Akan ada sebuah pameran seni 2 minggu lagi. dan kebetulan, pameran kali ini bertemakan musik. Jadi, aku datang kesini sesuai saran temanku. Katanya kalau aku kesini mungkin aku akan dapat sebuah inspirasi."

"Waah, keren! Jadi? Kau sudah memutuskan apa yang akan kau gambar?"

Orang ini, apa dia terlalu polos?

"Iya. Sudah kuputuskan."

.

.

.

.

.

"Aku akan melukismu. Kise Ryouta."


Author's note : author ga bakal bicara banyak disini, cuma mau minta minna for R&R

Sama satu lagi. mungkin aomine memang ga cocok buat jadi pelukis =w=" biarkan saja ya. Soalnya ini memang di dedikasikan untuk AoKise pair.

Sangkyuu for reading. Please wait again for the next chapter :3