Author Note : Ini fic pertama saya dengan pair MiloxCamus. Saya sudah berusaha untuk membuan se-angst yang saya bisa. Tulisannya juga masih ambur radul, typo bertebaran di mana-mana, saya mohon jangan bash saya T_T
Silahkan membacanya, dan review, jika ada salah kata tegur dan maafkan saya

Surat Untuk Salju Putih Ku

Aku sakit saat kau katakana bahwa kau ingin pergi dari hidup ini.
apakah itu artinya kau akan meninggalkan ku?
14 tahun kita bersahabat, bukan waktu yang sebentar untuk mengenal mu. Kau sosok yang dingin, kau bagaikan sebongkah es, bahkan aku tak tau bagaimana cara mencairkannya. Di sisi lain kau bagaikan mentari di pagi hari, begitu hangat. Kau menghangatkan jiwa ku, kau adalah salju yang hangat.

Menunggu…
Itulah yang selalu ku lakukan. Menunggu dan selalu menunggu mu, untuk mengatakan, "Kau sahabat ku." tapi nyatanya, sampai akhir nafas mu pun, kau tak pernah mengatakannya pada ku. Kecewa? Tentu saja aku kecewa, seenak jidat mu, kau datang ke hidup ku, dan semudah mengedipkan mata, kau berkata, "Aku akan pergi selamanya."

Kau berbeda, sahabatku.
Kau bukan 'Salju' dingin, seperti yang orang – orang katakan, tapi kau adalah 'Salju' yang sudah disinari oleh mentari, yang dingin, tapi hangat di sisi lainnya.

Mereka bertanya pada ku,
"Siapa yang paling dingin?"
Maka aku akan menjawab, "Aquarius Camus."
Lalu mereka bertanya lagi,
"Siapa yang paling hangat?"
Maka aku menjawab, "Aquarius Camus."

Kenangan bersama mu tak akan pernah hilang, karna kau selalu hidup. Kau orang pertama yang mengajari ku tentang kasih sayang, kau inspirasi ku, kau rumah ku. Tapi sekarang kau sudah tak ada, rumah ku sudah terkubur dengan tanah, jika seperti ini aku akan pulang kemana?
Kuil ku? Bukan, kuil Scorpio bukan rumah ku, tetapi sebuah bangunan yang harus aku jaga. Lalu aku harus kemana lagi? Kuil mu? Kuil Aquarius sangat dingin, karna matahari yang menyinarinya sudah pergi ke tempat Athena, aku tidak mau mati konyol karna kedinginan, tidak lucu!

Jadi, kubuat surat ini untuk mu, berharap langit dapat mengirimkan surat ini pada mu. Aku selalu merasa bahwa kau sedang melihat ku, dari atas sana, sahabat ku, Camus. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku bangga menjadi sahabat mu, aku bangga memiliki sahabat seperti mu, yang rela mati demi menegakkan keadilan. Maka dari itu, tetaplah bersama ku, bersama mentari, dan bersama salju yang hidup di dunia, Camus. Dan katakan pada orang – orang bahwa kita adalah sahabat, selamanya!

Milo membawa keluar surat yang tadi dibuatnya, ia menghela nafas, sudah hampir 1 bulan Camus meninggalkannya, dan sudah hampir 1 bulan juga ia hidup tanpa Camus di sisinya. Bayang – bayang masa lalu kini mulai bermain di fikirannya. "Camus.." panggilnya lirih, ia begitu merindukan sosok Camus yang selalu hadir, sudah cukup ia bertahan, sudah cukup ia berusaha tegar selama ini. "Camus dengarkan aku.." kini pertahanannya runtuh sudah, air mata yang tak pernah ia tunjukan bahkan saat kematian Camus sekalipun, kini tumpah dengan derasnya.

"Aku menyayangi mu, Camus.." air matanya semakin deras, ia merasa kecewa, merasa marah pada dirinya, yang tak bisa di sisi Camus, saat orang itu mengembuskan nafas terakhirnya. "Semoga kau dapat membaca surat dari ku." Milo berkata lirih, diterbangkannya surat itu bersama angin yang berhembus kencang. Kini senyum lirih menghiasi wajah tampannya, "Berbahagialan di atas sana, sahabat ku, Aquarius no Camus."

END