Lost In Love
Devotion [Sequell]
Author : Kiela Yue
Genre : Boys love. Romance Angst
Cast : Luhan, Sehun, Baekhyun, Chanyeol, Kris, D.O, EXO members.
Rating : T
Length : 1/?
Disclaimer : Semua cast milik Tuhan YME, kecuali OC. Cerita ini benar – benar murni dari otak saya yang selalu di penuhi oleh makhluk planet EXO. NO PLAGIAT! Thanks.
Yang plagiat jadikan jadikan ajah makanan Hiu. Greenland Shark. Hiu ganas itu! :P
.
.
Sebelumnya Kiela bilang kalau FF ini udah pernah dipublish. Tapi kemarin Kiela gabung dengan Devotion. Jadi sekarang sequel nya dipisah karena ini sequel berchapter. Hohoho~
.
.
Chapter 1
Tiga bulan sudah berlalu sejak Sehun memutuskan untuk meninggalkan Luhan. Tidak bisa dipungkiri kalau rasa bersalah selalu menyusup ke dalam hatinya. Namun Sehun berusaha mengabaikannya. Rasanya sudah tidak terhitung lagi berapa banyak perasaan orang yang dia hancurkan seperti itu. Tapi ini berbeda, karena dia memang bisa merasakan kalau dia mencintai namja itu.
"Otte? Cantik tidak?" sebuah suara membuyarkan lamunan Sehun. Dia pun memasang senyumannya yang membuat yeoja didepannya bertekuk lutut.
"Cantik," ujarnya singkat.
"Kalau begitu, kita pesan yang ini saja?"
Sehun mengangguk. Dia langsung meraih tangan yeoja itu dan menciumnya. "Kau sangat cantik Sulli, pengantinku."
Rona merah kini menghiasi pipi yeoja bernama Sulli itu. Akhirnya keinginannya terwujud juga. Sejak kedatangan Sehun ke Jepang, dia sudah jatuh cinta pada sosok Sehun yang memang terlalu memukau. Lalu dia pun menggunakan kekuasaan appanya untuk mendapatkan namja itu. Dan mereka pun bertunangan dua bulan yang lalu, dan pernikahan mereka tinggal dua minggu lagi.
"Apa tidak ingin melihat yang lain lagi?" Tanya Sulli lagi. Dia masih ingin mencoba berbagai gaun yang akan dia pakai saat pernikahannya nanti dan pastinya akan memilih yang terbaik. Namun sayangnya Sehun malah menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju.
"Arasseo," ucap Sulli. Lalu dia mencium pipi Sehun dan kembali mengganti pakaiannya.
Begitu Sulli pergi, Sehun memegang pipinya yang baru saja dicium calon istrinya itu. Entah kenapa bayangan namja yang terakhir dia tinggalkan selalu menghantuinya. Namja yang selalu memberinya ciuman pipi yang lembut.
Kini Sehun dan Sulli telah bersatu dalam sebuah ikatan suci yang sudah disaksikan langit dan bumi. Mereka berdua memasang senyuman termanis yang mereka miliki untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa mereka berbahagia. Para hadirin juga ikut berbahagia, mereka memberikan tepuk tangan yang meriah bagi pasangan baru itu. Mereka berbahagia, kecuali… Luhan.
Luhan langsung terduduk lemas begitu dia melihat sosok makhluk menyeramkan muncul dihadapannya. Makhluk itu memakai jubah warna hitam yang sudah compang camping tidak karuan. Tubuhnya melayang meski tidak memiliki sayap. Dari tubuhnya juga tercium aroma busuk yang menyengat. Tangan kanannya dilipat di perut dan tangan kirinya dibiarkan terjatuh begitu saja. Tubuhnya kurus kering mirip tengkorak.
"Ka,, kamu siapa?" tanya Luhan takut.
"Aku, Chen." Makhluk itu berkata dengan suaranya yang serak dan kering.
"A,, apa yang kau lakukan disini?"
"Aku, Chen. Jiwa terakhir yang tersesat karena kehilangan arahku, Xiumin. Aku datang untuk menjemput Luhan, jiwa baru yang tersesat karena kehilangan arahnya, Sehun."
Langit serasa runtuh saat Luhan mendengar perkataan makhluk itu. Kalau dia sudah muncul, berarti Sehun memang sudah benar – benar meninggalkannya. Air mata Luhan kembali mengaliri pipinya yang kurus. Menangis, untuk saat ini hanya itu yang bisa dia lakukan. Inikah saatnya dia pergi?
Luhan melihat makhluk didepannya dengan tatapan kabur karena pipinya telah basah dibanjiri air matanya. Dia tidak bisa menebak penderitaan sebesar apa yang sudah dialami Chen, makhluk itu. Sama sekali tidak ada aura kehidupan yang terpancar darinya. Menyakitkan. Kenapa hukumannya harus sebesar ini? Ditinggalkan orang yang dicintai dan harus menjadi jiwa tersesat. Tapi Luhan sadar kalau hukuman itu setimpal untuk mereka yang mencoba melawan takdirnya. Tidak menerima kehidupan mereka yang sudah ditentukan. Inilah hukumannya. Dia harus menerimanya karena memang sudah tidak ada jalan lain lagi.
Untuk terakhir kalinya Luhan tersenyum. Menyunggingkan senyuman termanis yang dia miliki. Memberikan senyuman untuk para angel yang saat ini mungkin sedang melihatnya dari atas langit sana. Memberikan senyuman untuk dunia yang kejam, meski sempat memberinya sedikit kebahagiaan. Memberikan senyuman itu untuk Sehun, orang saat ini pasti sudah mengikat janji dengan orang lain, orang yang tanpa salah telah membuatnya jadi seperti ini, orang yang selalu ada dihati Luhan, orang yang dia cintai..
"Petunjuk arahmu sudah hilang, kamu akan tersesat selamanya." Begitu selesai bicara, makhluk Chen langsung menghilang. Dan kini Luhan benar – benar sendiri. Dengan susah payah, Luhan mencoba untuk berdiri. Dia dapat merasakan jiwanya sudah mulai berpisah dengan raganya. Luhan pun menutup matanya sambil merentangkan tangannya.
Pemandangan yang gelap dan kelam sudah mulai terlihat. Itulah dunia yang akan dia masuki untuk selamanya. Tidak ada langit biru yang indah, tidak ada tanah untuk berpijak, tidak ada matahari yang bersinar, tidak ada keindahan dan kehangatan, tidak ada suara apapun, dan… tidak ada Sehun.
Begitu jiwa Luhan pergi meninggalkan raganya, raganya yang indah langsung hancur menjadi butiran- butiran kristal yang berkilauan. Meski jiwanya sudah tersesat, namun raganya tetaplah raga angel yang suci. Tidak akan pernah rusak dan membusuk. Walau bagaimanapun, dia pernah memberikan kebahagiaan yang bersinar untuk orang – orang disekitarnya.
Kini dia telah pergi meninggalkan semuanya. Meninggalkan para angel yang menangisinya di langit yang jauh. Juga meninggalkan Sehun yang sudah lebih dulu meninggalkannya.
DEG.
Angin yang muncul entah darimana bertiup lembut menyapa semua tamu di pernikahan Sehun. Saat angin itu terasa sedingin es saat menerpa wajah tampan Sehun, ia merasa ada aura aneh yang menyelimutinya. Untuk sesaat Sehun merasa tubuhnya membeku, aliran darahnya terhenti, seluruh dunia terasa hancur dan hatinya sakit dan pedih seperti disayat! Tapi hanya sebentar, hanya sepersekian detik. Tiba – tiba bayangan wajah Luhan yang menangis sambil tersenyum terlihat sekilas dikepalanya. Wajah mantan kekasihnya itu terlihat sangat berantakan. Setelah itu semua kembali normal. Sehun mengusap wajahnya dengan kasar untuk meyakinkan kalau itu hanya halusinasinya saja. Bisa saja ia merasakan itu karena merasa bersalah terhadap Luhan. Sehun kembali tersenyum kepada mereka yang menghadiri pernikahannya dan untung saja sepertinya tidak ada yang melihat perubahan ekspresinya tadi.
Sebulan setelah acara pernikahannya, Sehun kembali ke Korea untuk menjumpai appanya. Appanya kini sudah sembuh dan kembali memimpin perusahaan mereka yang di Korea. Mereka sudah berbaikan, appanya sudah minta maaf untuk kesalahannya yang dulu meninggalkan Sehun. Sekarang ini hubungan keduanya sudah kembali normal layaknya ayah dan anak. Tidak lagi seperti dulu saat Sehun selalu membangkang dan tidak segan untuk memaki appanya sendiri. Sekarang semuanya sudah membaik, kecuali perasaan Sehun!
Begitu tiba di Korea, Sehun bukannya langsung pergi ke rumah appanya, tapi dia malah pergi ke apartemen yang dulu dia beli untuk tinggal dengan Luhan. Selama diperjalanan ia sangat was – was. Seperti apa wajah Luhan sekarang? Dan kenapa tidak sekalipun Luhan mengangkat teleponnya? Bahkan D.O sahabat Luhan pun tidak tahu kemana Luhan pergi.
Sehun sudah memencet bel berkali – kali, namun tetap tidak ada jawaban. Mungkinkah Luhan sudah pindah? Tapi itu tidak mungkin. Luhan itu bukan tipe namja pemberani untuk bepergian seorang diri. Lagipula dia tidak punya tempat tujuan lain. Sehun jadi kesal dan langsung berbalik untuk pulang. Namun hatinya, bukan tapi perasaannya menyuruhnya untuk masuk. Dengan perasaan aneh, ia pun mencoba masuk dengan memasukkan password yang yang lama. Sehun terkejut karena ternyata passwordnya masih tetap sama. Dia semakin yakin kalau namja yang tinggal bersamanya ditempat ini memang sangat mencintainya.
"Permisi…" Sehun melangkah dengan hati – hati. Kenapa juga aku harus seperti ini? Aku kan bukan pencuri, lagipula dulunya aku memang tinggal disini. Batin Sehun. Lalu diapun kembali menarik nafas untuk menormalkan perasaannya yang tidak karuan.
Sehun memperhatikan ruang tamu, tidak ada perubahan. Rasanya semuanya masih tetap sama dengan dulu sebelum dia meninggalkan rumah ini. Sehun memicingkan matanya, ternyata ruangan yang dia masuki kini penuh debu. Sama sekali tidak ada tanda – tanda ditinggali.
"Luhan?" Sehun bertanya dengan hati – hati, namun tidak ada jawaban.
Lalu dia pun berkeliling rumah untuk mencari sosok yang dia cari. Namun hasilnya nihil. Terakhir, dia memasuki kamar yang dulunya mereka pakai bersama. Keadaannya sama saja dengan ruangan lain, penuh debu. Sehun memperhatikan sekeliling, matanya menangkap sebuah benda berwarna kuning kemerahan yang terletak diatas meja kecil disamping tempat tidur. Rasanya hanya itu satu – satunya benda yang tidak berdebu dirumah ini.
Begitu Sehun mendekat, dia bisa melihat kalau benda itu ternyata sebuah buku harian. Saat Sehun menyentuhnya, dari dalam buku itu memancar sinar berwarna lembut yang sangat mempesona. Tidak hanya itu, buku itu juga mengeluarkan suara indah yang mengalun dengan lembut. Sehun merasa kalau dia pernah mendengar suara menenangkan itu, namun ia lupa kapan dan dimana ia mendengarnya. Rasanya seperti pernah mendengarnya dalam mimpi indah. Sebuah senyuman kini terpampang di wajah Sehun. Bukan senyuman penuh dusta seperti selama ini, tapi senyuman yang benar – benar tulus. Entah kenapa nada indah yang ia dengarkan seolah memberinya kehangatan. Sejenak ia melupakan semuanya, yang ada hanya kedamaian.
Tiba – tiba seluruh ruangan kini diselimuti kabut tipis. Sehun memperhatikan dengan seksama, dan matanya membulat sempurna saat sebuah pemandangan yang diluar logika kini terpampang dihadapannya.
Kamar itu tidak lagi dibatasi oleh dinding, akan tetapi sudah tembus ke dunia lain. Dunia yang benar – benar indah. Sehun merasa saat ini dia berada diatas awan. Langitnya berwarna ungu cerah, batang pepohonan terlihat penuh warna. Disebelah kiri, Sehun melihat ada sebuah air terjun yang tidak terlalu tinggi dan sungai yang mengair indah dibawahnya. Air sungainya terlihat berkilauan tertimpa cahaya. Dan.. astaga, semua makhluk yang dia lihat memiliki sayap berwarna putih bersih. Wajah mereka semua menampilkan kebahagiaan. Tiba – tiba sesosok manusia bersayap menghampirinya dan menampilkan senyuman yang menawan.
Saat sosok itu dekat dengan Sehun, senyuman diwajahnya langsung memudar berubah menjadi raut kesedihan yang sangat dalam. Sehun heran dengan perubahan sikap makhluk itu. Belum sempat Sehun bicara, kini semuanya menghilang dan kembali normal. Tidak ada lagi pemandangan dunia yang indah memukau dan keadaan kamar kembali seperti semula.
Perlahan, awan yang tadinya berwarna putih mulai berubah warna menjadi kuning kemerah merahan. Matahari sudah mulai merangkak menuju peraduannya yang damai. Meninggalkan siang yang sebentar lagi akan berubah menjadi malam. Angin sepoi – sepoi terus bertiup dengan lembut bagai alunan musik yang memberi ketenangan. Mereka para angel sangat menyukai suasana senja yang indah seperti ini. Mereka suka bernyanyi bersama saat senja mulai menampakkan pesonanya. Namun, yang menikmatinya tidaklah semua angel.
Dipinggir sungai terlihat satu angel yang duduk sambil menekuk lututnya. Sayapnya yang putih terlipat rapi dipunggungnya. Wajahnya terlihat begitu sendu, berbanding terbalik dengan air sungai di depannya yang berkilauan. Ia sama sekali tidak tertarik untuk bergabung dengan angel lain yang tengah bersenandung ria meskipun suaranya sangat indah dan tidak kalah merdu dengan mereka yang sedang bernyanyi seperti sekarang.
"Baekhyun-ah, gwenchana?" merasa dipanggil, angel bernama Baekhyun itu menoleh. Begitu melihat siapa yang menegurnya, dia cuma menggeleng pelan. Dia memang tidak sedang baik – baik saja. Untuk apa berbohong dan pura – pura kalau keadaannya memang buruk. Ia merasakan kehilangan yang besar sejak Luhan meninggalkan mereka. Luhan, sahabatnya yang paling dekat dan mereka selalu bersama sejak masih kecil. Tidak sekalipun Luhan memarahinya meski dia selalu menjahili angel lain. Rasanya Luhan memang tidak memiliki celah yang buruk, selain mencintai seorang manusia.
"Arasseo, aku tahu perasaanmu Baekhyun-ah, karena aku juga merasakannya." Ujar angel yang daru datang itu dan mengusap lembut punggung Baekhyun. Baekhyun kembali menangis. Sungguh, ini benar – benar menyakitkan.
"Chanyeol-ah,"
"Ne?" kini Chanyeol ikut duduk diatas rumput disamping Baekhyun.
"Aku merindukannya," ujar Baekhyun pelan.
"Aku juga Baekhyun-ah, siapa angel yang tidak merindukan angel sebaik Luhan? Aku baru tahu kalau ternyata semua angel yang mengenal Luhan ikut menangisi kepergiannya. Semuanya Baekhyun-ah, bahkan sampai angel yang berada di gumpalan awan lain juga ikut menangis."
Baekhyun mengangguk. "Kau tahu Chanyeol? Seandainya aku memiliki rasa benci dan dendam, orang pertama yang akan kubenci adalah Sehun. Kenapa dia sangat jahat dan tidak melihat orang yang menyayanginya dengan sepenuh hati seperti Luhan. Sayangnya angel tidak memilikinya, jadi aku tidak bisa membenci Sehun walaupun dia yang menyebabkan teman baikku jadi jiwa yang tersesat."
Chanyeol bisa melihat cairan bening yang mulai membasahi pipi Baekhyun. Baekhyun bukanlah angel sentimental yang mudah terbawa suasana. Dia angel yang selalu ceria dan senantiasa tersenyum, julukannya juga angel mood maker. Sekarang dia menangis sampai bibirnya bergetar. Ini pertama kalinya Chanyeol melihat Baekhyun seperti itu.
"Gwenchana Baekhyun-ah," Chanyeol menepuk pundak Baekhyun untuk menenangkan angel yang dia cintai itu. Padahal tadinya dia ingin mengungkapkan perasaannya pada Baekhyun. Tapi melihat keadaan Baekhyun yang masih bersedih, Chanyeol mengurungkan niatnya.
Kini mereka berdua duduk dalam diam dan tenggelam dalam pikirannya masing – masing. Mencoba untuk menikmati suara nyanyian angel yang terbawa oleh angin. Seharusnya saat ini ada Luhan disamping mereka yang akan bersenandung indah. Namun kini Luhan telah pergi ketempat yang tidak bisa lagi melantunkan nyanyian indah.
Selang beberapa lama, suara nyanyian itu pun menghilang seiring dengan keindahan senja yang mulai memudar. Meninggalkan mereka yang masih duduk terdiam memandangi air sungai yang mengalir. Malam pun mulai menjelang, dan bintang – bintang menunjukkan sinarnya yang berkelap – kelip indah. Meski udara sudah dingin, Chanyeol dan Baekhyun masih betah duduk ditempatnya. Chanyeol merentangkan sayapnya untuk memberi kehangatan bagi mereka berdua.
Sehun melihat sekeliling kamarnya dengan pandangan bingung. Yang tadi itu rasanya benar – benar nyata dan sama sekali tidak terlihat seperti halusinasi. Dia pun melihat buku harian yang tadi dia sentuh. Disampulnya terdapat hiasan – hiasan yang indah, dan sebuah tulisan yang membuat Sehun semakin ingin membacanya, Luhan's Diary.
Mata Sehun terbelalak sempurna saat melihat halaman pertama yang diary itu. Disitu terpasang foto Luhan yang sedang duduk diatas padang rumput yang luas. Pemandangan yang sama sekali belum pernah dilihat Sehun. Luhan memakai baju putih panjang dan ikat pinggang panjang dari kain berwarna orange. Bagian leher bajunya diberi hiasan berupa sulaman motif sulur tanaman berwarna senada dengan ikat pinggangnya. Di atas kepala Luhan juga terdapat mahkota kecil yang terbuat dari rerumputan. Tidak hanya itu, Luhan duduk dikelilingi berbagai jenis kupu – kupu dengan warna yang sangat indah. Dan yang paling membuat Sehun terkejut adalah,, Luhan memiliki sayap! Sama seperti makhluk yang tadi dia lihat sekilas saat pemandangan aneh itu muncul.
Drrt..drrrt Lamunan Sehun buyar saat dia mendengar getaran ponselnya.
"Yoboseyo?"
"Sehun-ah, kamu dimana? Kenapa belum sampai juga? Appa sudah menunggumu dari tadi."
Ah, Sehun baru ingat kalau dia harus segera pergi ke rumah appanya. "Ne, appa, aku akan segera kesana."
"Memangnya kamu dimana?"
"Pokoknya aku segera kesana, tunggu saja."
Dia langsung memutuskan sambungan dan mengambil diary itu dan berlari keluar. Langkah Sehun terhenti saat dia menginjak sesuatu yang aneh, seperti pasir. Karena penasaran, Sehun pun berjongkok dan melihat benda apa yang dia pijak.
"Apa lagi ini?"
Lagi – lagi dia kaget, bagaimana mungkin didalam rumahnya yang penuh debu ada tumpukan Kristal bening yang berkilauan. Sehun mencoba menggenggam tumpukan Kristal yang dia temukan. Tidak tahu kenapa dia begitu sedih melihat Kristal itu.
"Ada apa denganku? Luhan, kamu dimana?" perasaan tidak enak langsung menghinggapi Sehun. Dia pun mengambil ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Luhan, namun sayangnya nomor Luhan tidak aktif. Kemana dia pergi?
Drrt drrt.. ponsel Sehun kembali bordering. Kali ini sebuah pesan masuk. Sehun-ah, cepat kemari. Apa kamu membiarkan appa dan istrimu menunggumu?Aish, Sehun mengacak rambutnya. Dia masih pening memikirkan keberadaan Luhan yang seolah menghilang, ditambah lagi appanya dan istrinya yang tidak penting itu menyuruhnya untuk segera pulang. Menyebalkan sekali. Namun akhirnya dia pergi juga dan membawa diary Luhan.
Entah kenapa malam ini Sehun sama sekali tidak bisa tidur. Dia masih terus memikirkan keberadaan Luhan. Orang yang dia cintai itu benar – benar menghilang seolah ditelan bumi. Dia sudah bertanya pada D.O, satu – satunya teman Luhan di toko kue tempat dia bekerja. Namun namja itu bilang dia tidak tahu. Terakhir kali dia melihat Luhan sekitar empat bulan yang lalu. Saat itu dia memang terlihat kurang sehat. Begitu selesai bicara dengan D.O, Sehun pun kembali ke apartemen tempat tinggalnya dulu dengan Luhan. Dia memeriksa semua isi apartemennya, yang mengherankan semua pakaian dan barang – barang milik Luhan tetap disitu. Sehun semakin kalut karena tidak bisa menemukan Luhan meski sudah meminta bantuan polisi.
Pikiran – pikiran negatif mulai merasuki pikirannya. Bagaimana kalau ternyata Luhan nekat bunuh diri? Tidak, itu tidak mungkin, Sehun menggelengkan kepalanya. Tapi itu bisa saja terjadi. Mengingat Luhan sangat mencintai Sehun dan tidak memiliki siapa pun di dunia ini selain Sehun. Sehun paling tahu bagaimana kehidupan Luhan. Dia itu namja yatim piatu yang tinggal dipanti asuhan sejak kecil. Dan setelah menjalin kasih dengan Sehun, panti asuhan tempat tinggalnya dulu tiba – tiba saja terbakar. Luhan sudah pasti sendirian dan tidak punya tempat lain untuk pergi.
"Luhan-ah, kamu dimana? Aku sangat merindukanmu. Apa kamu tidak tahu kalau aku hampir gila mencarimu?" Sehun bergumam pelan membuat Sulli yang tidur disebelahnya menggeliat tidak nyaman.
Perlahan, Sehun keluar dari kamarnya dan membawa diary Luhan untuk dibaca. Sekarang dia duduk di taman belakang rumahnya. Siapa tahu di dalam diary Luhan ada tertulis apa yang akan dia lakukan.
Dengan perasaan deg degan, Sehun kembali membuka diary misterius milik Luhan. Diary yang mengeluarkan sesuatu yang aneh saat pertama kali Sehun menyentuhnya. Namun saat Sehun membukanya sekarang, tidak ada sesuatu yang lain terjadi. Sama saja dengan diary pada umumnya, yang menampilkan foto pemilik di halaman pertama. Berapa kalipun dilihat, foto Luhan yang bersayap membuat Sehun merasa ada 'sesuatu' tentang Luhan yang tidak dia ketahui. Rasanya itu bukan sayap yang sering digunakan untuk kostun angel, sayapnya terlihat begitu menyatu dengan tubuh mungil Luhan. Tempatnya juga, terlihat sangat nyata dan bukan hasil editan.
Karena penasaran apa isinya, Sehun pun mengabaikan foto itu dan membaca halaman selanjutnya.
"Ini pertama kalinya aku punya diary, salam kenal ya, mulai sekarang kita akan terus bersama."
Sehun tersenyum kecil saat membacanya, Luhannya benar – benar manis. Luhannya? Masih pantaskah dia menyebut Luhan itu miliknya?
"Dear diary, kamu belum tahu aku siapa kan? Sekarang akan kukatakan, aku angel" Sehun berhenti sejenak karena kaget. Angel? Tidak mungkin. Luhan pasti bercanda.
"Aku angel yang tinggal diatas awan yang indah. Memiliki sepasang sayap berwarna putih dan sangat indah. Rambutku coklat, dan semua angel yang mengenalku bilang kalau aku cantik, padahal aku namja, . Tapi tidak apa, mungkin karena aku sangat tampan, jadi mereka tidak punya kata yang tepat untuk mengungkapkannya, hehehe.."
Sehun pun melanjutkan membaca diary itu. Disitu memang jelas – jelas tertulis kalau Luhan memang angel. Apa saja yang dia lakukan, seperti turun ke bumi untuk membantu manusia atau menyanyi bersama diiringi musik harpa saat senja, bercengkerama dengan teman – temannya sesama angel, juga persahabatannya dengan King of Angel. Kalau dia memang angel, kenapa dia jadi manusia dan menjadi kekasih Sehun? Sehun pun membolak balik diary itu dan mencari tulisan Luhan tentangnya. Tidak berapa lama, diapun, menemukannya.
"Akhirnya aku merasakan jatuh cinta, tapi sayangnya dia manusia,
namanya Oh Sehun."
Lagi – lagi Sehun terkejut. Angel jatuh cinta padanya?
"Kau tahu? Dia sangat tampan. Awalnya kupikir dia angel yang bertugas sama sepertiku. Aku tidak menyangka ada manusia setampan itu. Aku benar – benar jatuh cinta padanya saat pertama kali melihat wajahnya yang begitu mempesona. Bagaimana ini? Padahal dia adalah manusia yang harus aku lindungi sebagai guardian angel atas permintaan appanya. Apapun alasannya angel dilarang jatuh cinta pada manusia, tapi perasaanku ini tidak bisa lagi aku tahan, ottokke?"
"Diary, akhirnya aku tahu kalau dia bukan namja baik-baik. Dia sangat senang mempermainkan perasaan manusia yang mencintainya. Bahkan ada manusia yang bunuh diri karena dia tinggalkan. Mengerikan bukan? Tapi aku tahu, karena itulah appanya meminta angel untuk menjaga anaknya."
"Meski aku tahu dia sejahat itu, perasaanku padanya sama sekali tidak berubah. Aku malah semakin mencintainya. Karena aku tahu jauh dilubuk hatinya, dia orang yang penyayang. Dan aku berharap akulah yang akan merubahnya menjadi namja yang baik, bukan sebagai guardian angel, tapi sebagai kekasihnya."
Tanpa Sehun sadari, air matanya mengalir begitu saja. Tangannya yang memegang diary Luhan bergetar dengan sangat hebat. Ini semua terlalu tidak mungkin. Tapi mengingat hal aneh yang terjadi saat dia pertama kali dia memegang diary itu, bisa jadi kalau itu semua memang nyata. Kalau ternyata Luhan mencintainya dan berubah jadi manusia demi dirinya, berarti dia benar – benar bodoh. Sehun merasa menyesal karena sudah meninggalkan Luhan tanpa sebab yang jelas. Padahal dia memang sangat mencintai namja itu. Saat ini Sehun begitu merindukan Luhan. Sentuhannya, senyumannya yang manis, tatapan matanya yang teduh, pipirnya yang pink menggoda, tubuhnya yang mungil, ah Sehun merindukan semua tentang Luhan.
"Luhan, kamu dimana sekarang?" Sehun bertanya dalam keheningan malam dan tidak ada yang menjawabnya.
"Aku senang diary. Ini pelanggaran pertama yang kulakukan. Pelanggaran yang menyenangkan. Aku merubah wujudku jadi manusia dan kami berkencan!"
"Sehun-ah, apa yang kamu lakukan?" Sehun tersentak saat mendengar suara dibelakangnya.
"Ani, aku cuma ingin duduk saja. Kenapa kamu tidak tidur Sulli-ah?"
Sulli tersenyum, "Tadinya aku sudah tidur. Tapi terbangun saat aku sadar kamu tidak ada disampingku. Itu apa?" Tanya Sulli sambil menunjuk buku ditangan Sehun.
"Oh, ini? Ini buku lama dan aku ingin membacanya."
"Membaca? Disini?"
Sehun mengangguk.
"Oppa, bagaimana mungkin kamu membaca disini hanya ditemani lampu taman yang remang – remang?"
Sehun tersadar. Benar, bagaimana mungkin dia membaca dalam keadaan seperti ini? Itu berarti,,, diary Luhan bercahaya! Makanya dia tidak kesulitan membacanya meski dalam keadaan gelap. Ja,,jadi, Luhan itu memang angel?"
"Oppa, wae?" Sulli kaget melihat wajah Sehun yang tiba – tiba pucat.
"Ani, kajja, kita tidur!" Sehun langsung menarik Sulli dan masuk ke dalam rumah. Pikirannya terasa kacau dan dipenuhi oleh Luhan. Dia masih penasaran dengan kelanjutan isi diary itu, tapi dia menjaga agar jangan sampai ketahuan orang lain. Karena itulah dia mengajak Sulli untuk masuk.
Keesokan harinya, Sehun dan Sulli kembali ke Jepang dan diapun disibukkan oleh pekerjaannya yang menumpuk sampai dia tidak punya waktu untuk membaca diary Luhan. Dia benar – benar tidak punya waktu meski dia penasaran setengah mati.
Sulli kaget saat dia menemukan sebuah diary di laci meja kerja Sehun. Diary tebal itu sepenuhnya kosong. Hanya satu halaman yang berisi "Sehun Love Luhan". Dilembar itu juga Sulli melihat selembar foto Sehun yang sedang dipeluk seseorang yang amat sangat cantik dari belakang. Sulli tidak tahu, yang memeluk Sehun namja atau yeoja. Wajahnya cantik seperti yeoja, namun rambutnya pendek seperti namja. Di foto itu Sehun tersenyum bahagia, senyuman yang belum pernah dia lihat meski Sehun itu sekarang suaminya. Sulli mengepalkan tangannya karena marah. Jadi Sehun masih mencintai mantan kekasihnya? Sulli pun langsung mengambil diary itu dan melamparnya ke tempat sampah. Biar saja Sehun marah, toh dia punya hak untuk melenyapkan siapapun yang mencoba untuk mendekati Sehun karena dia itu istri Sehun. Sulli semakin semangat mengacak isi kamar kerja Sehun untuk mencari tahu suaminya itu selingkuh atau tidak. Namun akhirnya dia merasa lega, karena dia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan selain diary itu. Dia pun keluar dari kamar Sehun dengan senyum yang mengembang karena berhasil menyingkirkan sesuatu yang bisa membuatnya berpisah dengan Sehun.
Setelah sekian lama berkutat dengan pekerjaannya yang menumpuk, akhirnya Sehun punya waktu untuk istirahat. Dia pun menggunakan waktunya untuk membaca diary milik Luhan. Sehun kaget bukan main saat tahu diary itu tidak lagi berada ditempatnya. Dia mengacak seluruh ruangan, namun hasilnya tetap nihil. Apa jangan – jangan Sulli masuk dan menemukannya? Oh My God. Dia bisa gila kalau seandainya Sulli telah menghancurkan diary itu. Sehun pun langsung berlari keluar mencari istrinya itu.
Saat itu Sulli dan teman – temannya sedang berkumpul diruang tengah. Mereka bergosip ria sambil sesekali tertawa.
"Sulli!"
Sulli kaget saat mendengar Sehun yang notabene suaminya memanggilnya dengan kasar.
"Waeyo oppa? Oh iya, kenalkan, ini temanku dari Korea, mereka…"
Perkataan Sulli terputus saat Sehun menariknya dengan kasar.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan.." Sulli merasa malu karena Sehun memperlakukannya begitu di depan temannya.
Sehun tidak mengindahkan perkataan Sulli, dia terus menyeret yeoja itu ke ruang kerjanya. Begitu mereka masuk, Sehun langsung mengunci pintu dan menghempaskan tubuh Sulli ke dinding.
"Ukh,,,apa yang?" Sulli merasa sakit di punggungnya, namun Sehun sudah tidak peduli.
"Neo!" Sehun menunjuk Sulli. Kilatan kemarahan terpancar jelas dimatanya. "Dimana kau letakkan diary yang ada di laciku?"
Sulli menelan ludahnya dengan paksa. Ini pertama kalinya dia melihat Sehun marah. Tapi Sehun tidak bisa memarahinya hanya karena masalah sepele. Dia itu istri Sehun, meski kadang dia meragukan apakah Sehun mencintainya atau tidak.
"Oh, maksudmu diary kosong dan hanya berisi fotomu dengan yeoja jalang itu?"
"APAA?!"
"Diary menyebalkan yang hanya berisi fotomu dengan seorang yeoja atau namja jalang! Apa masih kurang jelas?"
Sebuah tamparan yang cukup keras mendarat dengan mulus di pipi Sulli hingga membuat yeoja itu terhuyung.
"Katakan, dimana kau letakkan?"
Sulli berusaha berdiri. Dia tidak menyangka Sehun akan semarah ini padanya hanya karena sebuah diary. Tapi ini membuktikan kalau Sehun memang masih mencintai orang yang ada di foto itu.
"Sudah kubuang!"
"Ka,, kau membuangnya?" tanya Sehun dengan suara bergetar.
"Ne, aku membuangnya karena aku benci kamu masih menyimpan benda pemberian mantan kekasih mu!"
Sebuah tamparan kembali Sehun layangkan ke pipi mulus Sulli. Yeoja itu masih ingin melawan, namun tidak bisa karena tiba – tiba saja Sehun sudah mencekiknya.
"Katakan, dimana kau membuangnya? Kapan?"
"Di,,tem..pat sammpaaah… ti,,tiga haa ri yang la..lu, uhuk,"
Sehun langsung melepas tangannya dan berlari untuk mencari diary Luhan. Dia tidak mempedulikan Sulli yang lemas dan hampir mati karena cekikannya yang kuat.
"Luha.. luha,,, mianhe, Luhan.. mianhe…." hanya kata itu yang terus keluar dari bibir indah Sehun. Dia langsung berlari menuju halaman belakang rumahnya, berharap semoga sampahnya belum diangkut. Tatapan heran dari teman Sulli tidak dia pedulikan lagi. Saat tiba dibelakang rumah, Sehun melihat pelayan yang sedang membereskan sampah karena truk sampah sedang berhenti di situ.
"Tunggu!" Sehun berteriak.
"Kenapa tuan?" tanya pelayan itu.
"Jangan dibuang dulu, ada yang mau kucari," ujar Sehun dengan nafas yang memburu. "Suruh saja truknya pergi."
Pelayan itupun mengangguk dan pergi meninggalkan Sehun yang mulai membongkar tempat sampah. Ketakutan kini melandanya jika seandainya diary itu hilang. Itu berarti dia kehilangan kesempatan untuk bisa mengetahui tentang Luhan, kekasihnya yang menghilang semenjak mereka berpisah.
Sehun terus mengorek sampah tanpa peduli tubuhnya menjadi bau. Pelayannya menatap dengan heran. Tidak biasanya tuannya yang begitu perfeksionis melakukan hal yang seperti itu. Tapi sepertinya tuannya memang mencari dokumen penting, diapun mencoba untuk membantu.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?"
Sehun tidak menjawab, dia terlalu sibuk mencari.
"Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan itu lagi dengan suara yang sedikit keras agar tuannya mendengar.
"Tidak perlu! Pergi saja!"
Lalu pelayan itupun pergi. Air matanya tiba – tiba keluar tanpa bisa dia bendung. Sangat memalukan jika ada yang melihatnya mengais sampah sambil menangis seperti ini. Tapi untunglah, tidak lama kemudian Sehun menemukannya, diary Luhan. Dia langsung memeluk diary itu yang bahkan tidak kotor sedikitpun meski berada ditempat sampah.
.
.
.
Te Be Ce
.
.
.
(sorry for typo)
.
.
Jreng – jreng jreng.. Sesuai janji, Kiela is back dengan Sequell FF yang menyedihkan ini. SEQUELL BERCHAPTER!
Bagaimana menurut readers? Apakah ceritanya bisa dimengerti? Kiela adalah penggemar berat cerita Fantasy dan segala sesuatu yang berbau Kerajaan. Jadi yah.. makanya FF Kiela banyak yang seputar cerita ini.
Pas liat repiu kalian wahai readers-ku yang BAIK HATI, aku tertawa bahagia karena kalian bisa menangis. Jahat ya? Orang menangis aku tertawa? Tapi yah, namanya aku senang. setidaknya kalian menangis berarti Angst nya berhasil. Hehehe… (^/\^)
Soalnya pada awalnya Kiela pikir ceritanya bakalan garing. Tapi aku seneng banyak yang suka dan meminta sequel.
.
Big THANK'S TO :
KimMinJi, ICE BLOCK, fyeahkaisoo, lisnana1, Oh Hyunsung, paprikapumpkin, Guest, Jo alivia rahyan, jengsora, rinie hun, Guest, Shizuluhan, , KaiItemDekilCintaSooBabySeksey, hunhanaaa, 0312luLuEXOticS, milkyhannie, Han Ri Rin, KimMinJi, fieeloving13, Latitude1420EXOtic, putriii, Chlie hanariunnse, Baby Panda Zi TaoRis EXOtics, lina exotics, chyshinji0204, Reina, black A
.
.
Repiu lagi yo.
;)
.
.
.Sekian.
Mind to RnR?
.
.
