Sudah bertahun-tahun aku disini.
Selalu diam di tempat tidur.
Tak ada yang mengizinkanku keluar hanya dengan beberapa alasan aneh.
Aku berdoa pada Tuhan, agar penyakitku ini sembuh.
Tetapi...
Tuhan tak mengabulkannya...
Summary: Elizaveta Hedervary adalah orang yang mudah terkena penyakit. Orang tuanya telah tiada. Karena lumpuh, akhirnya dia dirawat oleh Roderich Edelstein, sahabatnya. -Warning di sini- Review...?
Warning: OC? OOC? OOT? Ada Typo(s)? Human name. Awalnya bosan. Straight, AustriaxHungary walau gak kerasa. Di sini Eli-nya rapuh (mudah kena penyakit), tapi tetap Fujoshi...
Hetalia: Hidekaz Himaruya.
Penyakit: Milik Yang Maha Kuasa.
Don't like? Do not read. Kalau maksa, ya baca aja!
Hetalia: The Life of the Winding by Aiko no Nyo to Clover Project
Chapter 1: My Illness...
Di kediaman Roderich Edelstein, Austria...
"Eliza?" tanya Roderich membuka pintu kamar Elizaveta Herdervary, membawa sarapan gadis itu.
Dilihatnya gadis berambut coklat itu sedang menatap jendela dan menengok kearahnya, "ya?"
"Ini sarapanmu." kata Roderich meletakkan sarapan Elizaveta di meja sebelah kanan tempat tidur gadis itu.
"Terima kasih, Roderich." kata Elizaveta tersenyum pada Roderich dan mengambil sarapannya.
"Apakah kamu sudah baikan?" tanya Roderich menduduki kursi di sebelah tempat tidur Elizaveta.
"Hn? Ya, sudah agak baikan. Tapi..." Elizaveta menggantungkan kalimatnya dan memegang telinganya, "pendengaranku semakin memburuk..." lanjutnya.
Roderich menghela nafas, "tapi, kamu masih bisa mendengar, 'kan?" tanyanya.
"Tentu saja! Meski begitu, rasanya agak kecil... dan agak samar." jawab Elizaveta. "aku bingung kenapa setelah lumpuh, gangguan pendengaran konduktif menyerangku... padahal tak terasa ada infeksi atau kelainan pada telingaku." katanya lagi.
"Itu karena ada kelainan pada telinga bagian tengahmu. Infeksi pun menyerang telinga tengahmu." kata Roderich.
"..." Elizaveta melahap sarapannya yang hanya berisi roti dan secangkir teh itu.
Setelah sarapannya habis, Roderich membawa piring itu ke dapur. Roderich membuka pintu, lalu menutupnya.
Elizaveta mengambil cangkir teh, lalu meminumnya. Setelahnya, cangkir diletakkan lagi di meja.
Elizaveta menghela nafas.
"Hah... coba aku bisa jalan. Pasti bisa pergi-pergi." ujarnya.
Elizaveta melirik ke arah meja di sebelah kirinya. Di atas meja itu ada sebuah wajan penggorengan, atau Frying-pan [1]. Melihat Frying-pan itu, Elizaveta tersenyum, mengingat masa-masa itu. Dia selalu bentrok dengan Gilbert Beilschmidt, sahabatnya dulu. Gilbert selalu menjadi korban langganan Frying-pannya.
Elizaveta mengambil sebuah buku yang cukup tebal di lemari meja sebelah kanan (laci)[2]. Dibukanya, terdapat foto-foto Yaoi kesukaannya. Dia pun tersenyum lagi. Mengingat bagaimana caranya untuk membuntuti para pasangan yaoi lalu mempotretnya. Bahkan, dia pernah tak sengaja mengintip Roderich yang sedang ganti baju. Untungnya Roderich tak menyadari itu. Setelah melihat-lihat buku itu, Elizaveta meletakkannya kembali ke tempatnya.
Masa lalu, sekarang, dan masa depan...
Itu semua mengingatkannya, dengan kecelakaan yang menimpanya hingga ia lumpuh. Sakit, itu yang dia rasakan. Semua otot di kakinya tak berfungsi. Sedih menyelimutinya saat mengetahui bahwa ia telah lumpuh.
Dulu, aku sehat. Sekarang, aku sakit. Bagaimana dengan masa depan? Apakah lebih parah? Batin Elizaveta.
Hanya pada saat Hari Sabtu-Minggu saja Elizaveta diperbolehkan keluar rumah dengan kursi rodanya. Itu pun terkadang. Elizaveta merasa dirinya dikurung di rumah ini.
"Pasti memikirkan masa depanmu, 'kan?" suara yang familiar bagi Elizaveta.
Elizaveta melirik ke arah sumber suara. "Roderich..." ujarnya.
"Ka-kapan kamu masuk?" kata Elizaveta lagi.
"Baru saja. Sudahlah, lupakan pikiran itu. Jangan lihat belakang lagi, dan pikirkan hal positif untuk masa depanmu. Jangan hal negatif lagi." kata Roderich menepuk kepala Elizaveta.
"Iya, iya..." jawab Elizaveta malas.
"Oh, iya, ini ada paket." kata Roderich memberikan sebuah bungkusan kepada Elizaveta.
Elizaveta langsung membukanya. Ada sebuah buku album yang cukup tebal dan surat. Elizaveta pun membuka surat itu.
Yo! Ini Oresama yang selalu AWESOME!
Aku yang AWESOME ini pun bisa khawatir juga, toh.
Karena aku tahu hobimu, aku berikan buku album ini, deh!
Kapan-kapan, aku akan menjengukmu!
Pakai album ini, lho! Atau kucuri Frying-pan-mu yang tidak AWESOME itu!
Dengan ke-AWESOME-an sejagat raya,
Gilbert Beilschmidt
Oh... dari Gilbert, toh... kata Elizaveta dalam hati. Ia tak menyangka, bahwa sahabatnya-Gilbert Beilschmidt, akan memberinya buku album. Hadiah kecil saja, tidak pernah. Yang ada, dia mengganggu. Elizaveta pun tersenyum, saat tahu bahwa Gilbert kapan-kapan akan menjenguknya. Sudah 4 tahun mereka tak bertemu [3]. Jadi, wajar saja kangen. Masih sempat-sempatnya bernarsis-ria pula... Batin Elizaveta.
"Dari siapa?" tanya Roderich.
"Dari Gilbert." jawab Elizaveta.
Roderich sedikit menaikan alisnya, tapi berusaha tetap bersikap biasa.
"Hei, masih kesal, ya?" tanya Elizaveta melirik Roderich.
Roderich tersentak, lalu menghela nafas. "Sejujurnya... iya." jawabnya.
"Sudahlah! Lupakah saja masa lalu itu. 'Kan sudah lama." kata Elizaveta menenangkan Roderich sebelum amarahnya melunjak.
"Iya, sudah kucoba... tapi mau bagaimana lagi? Kami 'kan bermusuhan sejak dulu..." kata Roderich.
"Iya juga, sih..." ujar Elizaveta.
Permusuhan antara Roderich dan Gilbert terjadi saat mereka sekelas di kelas 3 SD. Gilbert-lah yang memulai pertengkaran. Dan disela-sela mereka-pasti ada Elizaveta dengan Frying-pan-nya. Elizaveta sendiri-dari TK-sering menghajar Roderich-namun berhenti saat kelas 3 SD itu. Tak sengaja, mereka bertiga-Roderich, Elizaveta, dan Gilbert sekelas. Saat kelas 1 dan 2, mereka bertiga tidak sekelas. Dan disaat itulah-Elizaveta merasa tertarik pada Roderich. Begitu pula Roderich-yang tertarik-pada Elizaveta. Tetapi-Gilbert pun-tertarik-pada-Elizaveta. Jadilah cinta segitiga antara Roderich-Elizaveta-Gilbert.
"Aku pergi dulu, ya." kata Roderich keluar dari kamar Elizaveta.
Elizaveta hanya melambaikan tangannya. Setelah suara kaki Roderich sudah tak terdengar, buku album yang masih berada di kasur dibuka. Elizaveta mengambil beberapa foto dari album sebelumnya dan memasukkannya ke buku album tersebut. Foto-foto itu adalah foto masa kecil dan masa remaja. Elizaveta lalu meletakkannya di lemari meja (laci) sebelah kanan.
Ah, jam 08.00! Batin Elizaveta. Ia segera mengambil remot TV dan menyalakannya. Elizaveta segera memindahkan Channel ke Channel 3. Ada acara kesukaannya, yaitu 'Top Artist in the World'. Karena Elizaveta seorang perempuan-meski Fujoshi, ia suka acara seperti ini. Kegiatannya selanjutnya mengambil buku dari laci meja sebelah kanan dan membacanya, mengambil laptop dan memainkannya sampai puas [4] (bermain internet, game, dan mencari gambar), dan dipotong makan siang. Sekarang makan siang, dan karena Roderich sedang pergi (Roderich punya acara yang padat), akhirnya makanannnya diantarkan oleh pelayan. Saat sedang melahap makanannya, Elizaveta merasakan telinganya aneh.
-NGIING
Eh? Elizaveta merasa telinganya agak aneh lagi.
...
Eh? Tak ada apa-apa, kok? Lalu?
Elizaveta menghiraukannya, dan melanjutkan makannya. Setelah selesai, ia meletakkannya di meja. Tak lama, seorang pelayan datang mengambil piring bekas makan Elizaveta tadi, lalu pergi.
Elizaveta mengambil sebuah buku dan membacanya. Setelahnya, karena bosan, Elizaveta tidur (siang), sampai jam 16.00 (4 sore). Saat itu, Roderich sudah pulang. Elizaveta terbangun, dan menemukan Roderich sudah duduk di sebelah ranjang-nya.
"Tidur nyenyak?" tanya Roderich.
"Lumayan." jawab Elizaveta.
"Nih. Aku tahu kamu bosan, jadi kubawakan ini." kata Roderich memberikan sebuah hedset. Elizaveta segera mengambil lalu memakainya, dan menyalakan lagunya. Lumayan, jadi tidak begitu bosan. Batinnya. Tak lama, Elizaveta melepas hedset itu. Roderich mengambilnya.
Aneh. Telingaku aneh lagi. Kata Elizaveta dalam hati.
-NGIIIINGG
Eh? Elizaveta merasakan pendengarannya semakin samar (kabur).
-NGIIIIIIIIING
-NGIIIIIIIIIIIING
PAAATSS!
Elizaveta merasa telinganya seperti meledak. Semua suara di sekitarnya terasa hampa. Tak ada suara.
"Roderich..." kata Elizaveta.
"Apa?" jawab Roderich. Elizaveta tak mendengarnya.
"Roderich... a... aku..." Elizaveta tergagap.
"Ada apa?" tanya Roderich. Percuma, Elizaveta tak dapat mendengarnya.
"Aku telah... aku telah..."
"Telah apa?"
"Aku telah... TULIIIII!"
To be Continued...
Next Chapter: My Destiny (Warning: Spoiler)
BRAAAAAAAAKKKKK! Pintu didobrak oleh seorang pemuda Albino. "ELIZAAAAAAAAAA!" teriaknya, Gilbert Beilschmidt.
"Percuma... dia tak dapat mendengarnya..."
~And...~
"Secepat itu?"
"Aku 'kan ngebut! Udah, ah, Aku mau lihat Eli-"
Apakah Elizaveta benar-benar tuli?
[1] Saat pindah, Elizaveta membawa semua barang berharganya, Frying-pan, album Yaoi, kamera, dll.
[2] Meja kecil, atau laci. Semacam itu. Dari kasur, bisa diambil, kok.
[3] Mereka berpisah pas umur 17. Sekarang, mereka umur 21.
[4] Kayak dirumah sakit. Ada meja di kasurnya, nah, kayak di Hell Girl macam gitu. Yang penting di rumah sakit.
Notes: Meski kata-kata Roderich ramah-dia gak senyum. Kalau Eli sih senyum!
Aiko: Chapter 1 the end. Awalnya garing, tapi akhirnya... BUWAKAHKAH! Ini 'kan fic pertama di hetalia, maaf aneh.
Kazumi: Kalau gak tahan awalnya, lewat aja. Tinggal ke to the point.
Aiko: Aku dapet ide pas terdengar -NGGIIING di telingaku. Sebenarnya, aku gak tahu gimana proses tuli, tapi ya namanya juga Fic. Jadi kalau ada kesalahan... MAAFKAN KAMI! Terus, soal OOC... saya sih bilang 'iya'. Dan maafkan kami yang 2 cerita belum udah buat yang baru. Nanti (bkn spoiler) bakal ada lagi... Yang CanonxOC (Hetalia)! HUWAA MAAF MAAF!
Kazumi: Kalau ada Typo, ke-OOC-an, OOT, dll silahkan konfirmasi di review.
.
.
Saran, kritik, dan flame dalam kesabaran masih diizinkan masuk. Review? Re-vi-ew...?
