My Fandom

Story By: MagnaEviL a.k.a Fusae Deguchi

Collab with Nurama Nurmala (kakak saya di FB)

Genre: Romance, Friendship, Humor, etc.

Rate: PG 13

Cast: Our Fandom

Main Pairing: CassiopeiaXELF slight: CassiopeiaXSone, ShawolXAffxtion, VIPXWonderful, B2utyXKissMe and more.

Warning: Shonen-ai/BL, typo, abal, gaje, dll dsb.

Disclaimer: Our fandom © Our Idol ^^

A/N: Saya tidak tahu apakah fandom ini tepat untuk FF saya ini. Karena dalam cast, saya menggunakan nama fandom BB dan GB Korea. Semoga saya nga salah tempat. ^^

Don't Like Don't Read

ENJOY

Seorang pemuda kini tengah asik menikmati kesendiriannya. Dibawah pohon rindang, ia duduk bersandar dengan nyamannya sambil membaca sebuah novel karangan dari pengarang yang sudah terkenal. Pemuda ini memilik rambut berwarna hitam dengan tinggi sekitar 179 sentimeter dengan mata berwarna senada dengan rambutnya.

Sebut saja namanya ELF, seorang mahasiswa yang kuliah di Kyunghee University yang cukup terkenal itu. Pemuda ini sering kali mewakili sekolahnya untuk ikut dalam lomba cerdas cermat. Tak jarang ia terus saja mendapatkan juara pertama dalam perlombaan tersebut. Karena kepandaiannya itulah, ia bisa kuliah di Kyunghee University dengan bantuan beasiswa.

Saat ini ia menjadi mahasiswa semester lima. Dalam jangka waktu setahun lagi, ia akan lulus dari universitas ini. Ia juga mempunyai adik yang bernama Shawol. Sama sepertinya, Shawol kuliah di Kyunghee University dengan bantuan beasiswa. Karena bisa dibilang otaknya setara dengan kakaknya—ELF dalam hal kecerdasan.

"Hei, ELF," teriak seorang pemuda lagi. Mata ELF yang berwarna hitam itu menoleh ke arah pemuda yang memanggilnya.

"Apa?" sahut ELF nyaring. Pemuda yang memanggilnya itu berada beberapa meter dengannya.

Sang pemuda berteriak lagi. "Kau tidak ke kantin untuk makan siang?"

Si pemuda bernama ELF ini menutup novel yang dibacanya. Sebelum menutup, ia memberi pembatas halaman buku di novelnya sebagai tanda bahwa ia telah membaca sampai halaman sekian. Pemuda ini berdiri dari duduknya. Ia menepuk-nepuk sebentar celananya yang kotor.

"Ya, aku akan ke sana."

"Cepatlah!" kata pemuda yang memanggilnya dengan tak sabaran, "aku dan VIP sudah kelaparan."

Si ELF tersenyum. "Iya iya, B2uty. Dasar!" dengusnya.

ELF berjalan menuju ke arah B2uty, sahabatnya. Tak hanya B2uty, VIP yang sempat diucapkan oleh B2uty tadi adalah sahabatnya juga. Mereka mulai bersahabat semenjak mereka menjadi mahasiswa di Kyunghee University ini.

Di antara mereka, hanya dirinyalah yang kini belum mempunyai kekasih. Sementara kedua sahabatnya sudah mempunyai kekasih masing-masing. Percaya atau tidak, sahabatnya yang baru saja memanggilnya tadi mempunyai kekasih yang bergender sama dengan dirinya maupun kedua sahabatnya itu, yaitu laki-laki. Yah, memang hubungan sesama jenis itu tidak dilarang di kota Seoul ini.

B2uty menjalin hubungan dengan pemuda yang bernama Kiss Me. Awalnya saja B2uty adalah seorang playboy. Ia sudah pernah memacari beberapa orang gadis dan juga beberapa pemuda. Bisa dibilang ia adalah biseksual. Namun pada akhirnya ia tertarik dengan seorang mahasiswa baru yang bernama Kiss Me itu yang sudah delapan bulan ini sudah berkuliah di Kyunghe University. Dan B2uty ini bisa dikatakan bahwa ia yang memegang kendali, atau istilahnya adalah seme.

Sedang sahabatnya yang lainnya adalah VIP. Pemuda pendiam yang kadang-kadang bertingkah konyol juga kini telah menjalin hubungan dengan seorang gadis yang cukup popular di kalangan mahasiswa bernama Wonderful. Awalnya VIP tidak yakin ia bisa diterima cintanya oleh Wonderful. Tapi, setelah ia menembak gadis itu tiga bulan yang lalu di halaman depan universitas ini, ia diterima dengan mudahnya. Ia juga baru tau kalau selama ini Wonderful juga menaruh hati padanya.

Ketika ELF hampir mendekati B2uty yang jaraknya tinggal satu meter lagi, ia mendengar suara keributan dari arah belakangnya. Alisnya terangkat bingung. Begitu ia menoleh ke belakang, ia bisa melihat kerumunan gadis-gadis tengah mengelilingi seorang pemuda yang tentu saja sudah sangat dikenal oleh pemuda yang bernama ELF ini. Sebut saja pemuda itu adalah Cassiopeia.

Ia menggeleng-geleng kepalanya heran. Kejadian seperti ini sudah menjadi tradisi umum di Kyunghee University. Mengingat pemuda yang bernama Cassiopeia itu adalah seorang penyanyi yang cukup populer di kota Seoul karena keindahan suaranya. Tak hanya itu, ia juga berbakat dalam hal menari. Selain itu ia memiliki rupa yang menawan yang menjadi nilai plusnya.

Ketika ELF berbalik dan melangkah menuju sahabatnya itu, ia bisa mendengar seseorang memanggil namanya.

"ELF."

Suara itu, tentu saja ia mengenalnya. Siapa lagi kalau bukan si penyanyi yang terkenal itu yang kini tengah dikerumuni gadis-gadis. ELF berbalik lagi menghadap pemuda itu yang berjarak kurang lebih lima meter darinya. Ia bisa melihat pemuda bernama Cassiopeia atau lebih akrab dipanggil Cassie itu tersenyum kepada gadis-gadis penggemarnya. Sontak para gadis-gadis berhenti berteriak karena terpaku pada senyuman seorang Cassie.

Si Cassie itu berjalan menuju dirinya. Pemuda dengan tinggi 183 sentimeter itu berjalan dengan gestur bak seperti model. Para gadis yang kebetulan melewatinya hanya terkikik pelan melihatnya. Kini pemuda itu telah berada tepat di depannya.

"ELF."

ELF memandang wajah rupawan Cassie itu. "Ada apa memanggilku?" sahut ELF.

Cassie tersenyum. "ELF, maukah kau menjadi kekasihku?"

Hening. Tak ada satu suara pun yang mengisi kekosongan mereka. Sampai pada akhirnya sebuah suara milik seorang gadis yang berada di belakangnya memecah keheningan.

"APA?" diikuti dengan suara keributan lainnya.

ELF mendengus. "Apa?" nadanya terdengar tak percaya. "Apa kau bilang?" ulangnya.

Cassie tersenyum lagi. "Aku bilang, maukah kau jadi kekasihku?"

Nafas ELF tercekat. Ia tak mungkin salah dengar kan? Kalimat pertama yang didengarnya itu sama dengan kalimat kedua yang diucapkan oleh pemuda berambut coklat yang ada di hadapannya ini.

Ia tak percaya.

Ia pun tertawa di tengah suara keributan yang berasal dari gadis-gadis yang berada di belakang Cassie.

"Kau bercanda 'kan?" katanya masih tak percaya. Ia masih tertawa meskipun berusaha untuk menahannya.

"Aku tidak sedang bercanda." Ujarnya dengan nada serius. "Apa aku terlihat seperti mengumbar lelucon sampai kau tertawa seperti itu?" sambungnya.

ELF berhenti tertawa. Ia memandang mata hitam Cassie lekat-lekat. Ya, pemuda itu terlihat serius padanya. Dalam mata itupun ELF bisa melihat ada kesungguhan yang terpampang jelas di sana.

"Tidak."

"Kini kau tau aku tidak main-main."

ELF tidak tahu harus menjawab apa. Dirinya memang mengagumi sosok pemuda bernama Cassiopeia. Namun dirinya yakin seratus persen bahwa ia masih normal. Tidak seperti sahabatnya—B2uty yang mengalami kelainan dalam hal seksual. Bahkan, hei! Ia masih menyukai wanita.

"Dengar, Cassie," ELF mulai berkata, "aku bukan seperti sahabatku yang mengalami kelainan seksual. Yeah, aku tau kau itu keren dan banyak disukai gadis-gadis…" Cassie tersenyum, "tapi aku ti—"

Perkataan itu terpotong dengan satu telunjuk jari milik Cassie yang menekan bibirnya. Menyuruhnya diam.

"Aku tidak butuh jawaban itu sekarang."

Tanpa diduga seorang pemuda bernama Cassie ini melakukan sesuatu yang sanggup membuat para gadis-gadis pemuja menjerit dan bahkan ada yang menangis. Perbuatan Cassie itu pun sanggup membuat mata ELF terbelalak. Cassie memeluknya dengan erat.

"Kau bisa menjawabnya nanti-nanti setelah kau memikirkan semuanya." Cassie berbisik di telinganya dengan suara pelan. Dan itu membuat efek suara jejeritan para gadis-gadis di belakangnya makin meninggi. Ada yang menjerit karena senang, sudah dipastikan itu adalah kaum fujoshi. Dan ada jeritan frustasi dari para penggemar setianya.

Cassie melepas pelukkannya. Ia memegang bahu pemuda itu sambil menatap tepat pada mata hitamnya.

"Kau harus memikirkannya matang-matang, ELF." Setelah itu ia tersenyum.

ELF membatu tak bergerak. Ia bingung harus berkata apa sekarang. Ia tak sanggup berpikir jernih. Bahkan menggerakkan tangannya saja ia tak bisa karena situasi ini.

Cassie menepuk bahu ELF pelan. "Sepertinya aku harus pergi dari sini." Ia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Ia terkejut dengan situasi sekitarnya. "Aku tidak tahu bahwa para gadis-gadis di sini banyak yang pingsan."

ELF menoleh ke sekitarnya. Dan benar saja apa yang dikatakan Cassie itu. Matanya kembali terbelalak. Para gadis-gadis banyak yang pingsan. Bahkan ada yang sampai kejang-kejang. Ada yang meraung-raung frustasi. Dan ada juga yang sibuk memotret dirinya bersama pemuda Cassie ini sambil cekikikan ketawa. Oh, tak perlu disebutkan siapa yang tengah tertawa melihat hasil foto itu.

Cassie melepaskan pegangan tangannya pada pundak ELF. "Aku pergi dulu. Sampai nanti." Cassie melangkah pergi menjauhinya sambil melambaikan tangannya.

ELF tetap berdiri membeku di tempatnya. Ia tetap memandang Cassie yang kini telah menghilang dari pandangannya. Ia seperti orang autis disini. Diam tak bergerak dengan mata yang masih terbelalak. Sampai pada tepukkan pelan di bahunya menyadarkannya.

Kepalanya menoleh kepada pemuda yang telah menepuknya. Pemuda itu adalah sahabatnya—B2uty. Ia tengah menyeringai sekarang. Di samping pemuda itu, ada sahabatnya yang lain, VIP.

"Kau sepertinya akan berakhir sama sepertiku," ujar B2uty masih cekikikan. Dan diapun mendapat sikutan kasar dari VIP.

VIP pun menoleh kepada sahabatnya. Ia terlihat khawatir. "Kau ok?" tanyanya.

ELF memandang VIP lama. "Aku tidak tahu," ujarnya lirih. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Para gadis penggemar Cassie kini menatap tajam ke arahnya. "Aku merasa setelah ini hidupku terasa sulit."

"Tenang saja!" Kini B2uty yang ambil suara. Ia tersenyum lembut kepada sahabatnya itu. "Kami berdua ada di sini membantumu. Kau jangan merasa sungkan untuk berterima kasih kepada kami," katanya bijak.

"Itu benar," VIP menimpali perkataan B2uty, "kami ada di sini untuk selalu membantumu. Kita bertiga itu kan sahabat."

Pada akhirnya ELF pun tersenyum kepada kedua sahabatnya ia merasa terharu sekarang. "Terima kasih, B2uty, VIP. Aku beruntung memiliki kalian berdua."

"Tak masalah." B2uty tersenyum lebar kepada ELF. Ia pun melirik jam yang ada di pergelangan tangan kirinya. "Gawat! Sebentar lagi ada jam kuliah! Kita ke kantin yuk, aku sudah menahan lapar daritadi."

VIP memutar bola matanya. "Kau ini!"

Jadilah B2uty menyeret kedua sahabatnya ke kantin. Diiringi dengan gerutuan pelan dari keduanya.

xoxoxoxox

Sementara itu di sisi lain. Dua orang gadis sedang berjalan-jalan di koridor Kyunghee University. Tubuh yang putih dan bersih yang kini banyak menarik perhatian para pemuda-pemuda di sekitarnya. Belum lagi wajah yang cantik disertai rambutnya yang halus dan panjang menjadi nilai plusnya.

Dua orang gadis ini cukup terkenal di kalangan pemuda yang ada di Kyunghee University ini. Gadis pertama berjalan tanpa memedulikan keadaan sekitar. Sedangkan yang satunya sedang asik membaca sebuah novel di tangannya. Lalu tak seberapa lama ia menutup novelnya setelah memberi pembatas sebelumnya.

Gadis ini pun mengedarkan pandangan ke sekitarnya. Lalu tak sengaja matanya menangkap sebuah pemandangan yang menarik perhatiannya.

"Hei, Sone."

Gadis yang berjalan tanpa mempedulikan sekitarnya itu kini menoleh kepada temannya. "Ada apa, Af?" sahutnya kepada Af, atau lebih lengkapnya Affxtion.

"Lihat ke sana," tunjuk gadis itu ke arah halaman kampus. "Bukankah itu Cassiopeia?" lanjutnya.

Gadis yang bernama Sone ini pun mengikuti arah pandang sesuai yang ditunjuk Affxtion. Ketika matanya menangkap sesosok pemuda tampan yang akrab dipanggil Cassie itu, ia tersenyum.

"Ah, pemuda itu semakin lama semakin tampan saja," pujinya. Ia sungguh mengagumi paras tampan pemuda itu. Ia juga sudah lama menaruh perasaan kepada pemuda itu sejak lama. Hingga sering kali ia mendekati pemuda itu. "Bagaimana kalau kita ke sana?"

"Ke sana?" alis Affxtion terangkat heran. "Kau tidak lihat dia sedang dikerumuni oleh para pemujanya itu?"

Sone mendesah kecewa. "Benar juga." Ia melemparkan tatapan tak suka. "Aku tak mau seperti mereka yang begitu pecicilan mendekati Cassie."

Affxtion tertawa. "Bukankah kamu sama saja?"

Sone melotot protes kepada Affxtion. "Hei! Aku berbeda!"

"Ah, sudahlah. Malas berdebat denganmu," ujar Affxtion mengalah. Lalu matanya menatap sebuah pemandangan ganjil. "Sone, coba lihat!" tunjuk Affxtion lagi ke arah Cassie. "Bukankah itu ELF? Kenapa dia mendekati pemuda bernama ELF itu?"

Sone memicingkan matanya. "Ah, iya itu ELF. Kenapa Cassie mendekati pemuda miskin itu?" ujarnya tak suka.

"Hei! Aku tak suka dengan ucapanmu itu. Walau bagaimanapun, adik ELF adalah orang yang kusukai."

Tatapan rendah ia berikan kepada Affxtion. "Kamu suka dengan Shawol? Pemuda junior kita jurusan Sosial Politik itu?"

Affxtion hanya tersenyum hambar. "Ya, memangnya kenapa?"

"Seleramu benar-benar rendah," ujarnya sombong. Lalu ia kembali memperhatikan pemuda tampan yang kini berhadapan dengan ELF. "Mau apa dia?" lalu dia pun menajamkan pendengarannya.

"ELF, maukah kau menjadi kekasihku?"

Perkataan itu sanggup membuat napasnya tercekat. Ia tak percaya apa yang didengarnya. Matanya pun terbelalak. Nalarnya menolak semua yang terjadi beberapa detik yang tadi.

Ia juga bisa mendengar para gadis-gadis pemuja pemuda itu berteriak histeris tak terima. Sama seperti dirinya yang juga tak terima. Tapi ia tak mau bertingkah lebay seperti gadis-gadis itu.

"Apa?" Pemuda itu terlihat tak percaya. "Apa kau bilang?" ia mendengar pemuda itu berbicara. Lalu Cassie itupun mengulang perkataannya dan sanggup membuat gadis bernama Sone ini menjadi galau mendadak.

ELF pun tertawa. Ia tak percaya sama seperti dirinya. Lagipula setahunya, Pemuda bernama Cassie itu adalah orang yang tak memiliki masalah dalam seksualitasnya. Tapi sekarang… ELF yang bergender sama seperti dirinya itu memintanya untuk jadi pacarnya? Ini tidak mungkin.

Mereka berbicara lagi. Affxtion yang berdiri di sebelahnya pun mengambil suara. "Cassie meminta pemuda jenius itu menjadi pacarnya? Apa ia bercanda?" ujarnya terperangah.

"Sepertinya dia serius, Af. Lihat saja dari cara ia memandang ELF. Ia tidak main-main," ujar Sone membalas perkataan Affxtion.

Sone dan Affxtion tetap fokus apa yang dibicarakan dan dilakukan oleh kedua pemuda yang menjadi pusat perhatian oleh penghuni Kyunghee University. Dan selanjutnya…

"ANDWAE!" teriak Sone histeris. Kini pemuda pujaannya malah memeluk pemuda miskin itu! Ia tak salah lihat 'kan? Ia mengerjapkan matanya berkali-kali, kalau saja pengelihatannya bermasalah. Dan kini ia yakin matanya normal-normal saja saat pemandangan itu tetap jelas di matanya.

"Affxtion," panggil Sone kepada temannya.

"Apa?" sahut Affxtion.

"Cubit lenganku."

"Apa?"

"Cubit lenganku!" ujar Sone kesal.

Tanpa banyak bicara Affxtion mencubit lengan Sone. Sone menjerit kesakitan. Ia menggosok lengannya yang memerah bekas cubitan tadi.

"AWW! Sakit, Bodoh!" umpatnya keras.

"Kau yang menyuruhku untuk mencubitmu, jadi jangan salahkan aku," kata Affxtion membela diri.

Sone memberikan tatapan tajam kepada Affxtion—sahabatnya itu. Lalu perhatiannya kembali kepada dua pemuda yang kini saling berhadapan itu setelah berpelukkan. Emosi mulai merasuki dirinya. Ia merasa kesal dan kalah. Setelah bertahun-tahun mengejar Cassie, hanya dalam satu hari ia sudah kalah oleh seorang pemuda miskin yang jenius itu. Ia tak terima.

Cassie meninggalkan ELF yang mematung. Disekitarnya banyak sekali gadis-gadis pingsan berjamaah secara tak elit. Sungguh mengenaskan. Bahkan Sone pun hanya memutar kedua bola matanya ketika ada yang cekikikan mendapatkan foto Cassie dan ELF berdua. Dasar fujoshi!

Affxtion merangkul temannya. "Aku bisa memprediksikan kalau ELF itu akan menerima Cassie sebagai kekasihnya."

Sone memberikan tatapan tak percaya. "Kau mendukungnya?" ia mendengus.

"Kalau menurutmu begitu."

Sone langsung melepaskan rangkulan dari Affxtion. "Kau benar-benar tidak membantu."

"Terserah."

Sone menatap pemuda berambut hitam itu. Ia memicingkan matanya tanda tak suka. Ia harus mengatur rencana agar Cassie tak bisa bersama pemuda bernama ELF itu. Ya, ia harus menjauhkan mereka bagaimanapun caranya.

xoxoxoxox

ELF memandang heran kepada sahabatnya yang mantan playboy itu. Saat ini mereka telah berada di kantin. Tadinya mereka ada bertiga saja di kantin. Tetapi, ketika mereka melewati kelas mereka, tak sengaja B2uty bertemu dengan Kiss Me yang sedang berbicara dengan 4nia dan Black Jack.

Awalnyanya Kiss Me menolak ajakan B2uty untuk makan siang di kantin. Tapi, pada akhirnya Kiss Me diseret-seret secara paksa oleh B2uty. Dan jadilah sekarang. Kiss Me tak mau makan sedikitpun meskipun B2uty tengah menyodor-nyodorkan roti isi kepada Kiss Me yang ia beli di kantin.

"Sayang, ayolah dimakan. Kau tidak lapar?" rayu B2uty yang masih tetap keukeh menyodorkan makanan kepada Kiss Me.

"Tidak." Jawab Kiss Me ketus. Ia kini tengah membaca. B2uty dan Kiss Me duduk bersebrangan dengan ELF dan VIP.

"Dasar pasangan aneh," gumam VIP. Ia meneruskan mengunyah snacknya sambil memperhatikan pasangan di depannya.

"Biarkan sajalah. Lagipula aku heran dengan Kiss Me, mau saja ia menerima B2uty yang playboy itu." Ia membalikkan halaman novel yang ia baca. Kemudian menyeruput orange juice di hadapannya.

VIP mengendikkan bahunya. Lalu tak sengaja matanya menemukan Wonderful yang sedang berbicara dengan teman-teman. VIP memperhatikan Wonderful sambil tersenyum. Dan Wonderful juga mengarahkan matanya ke kantin. Dan mata mereka bertemu pandang. Wonderful tersenyum kepada kekasihnya itu. Dan VIP hanya mengangkat tangannya, sebagai bentuk sapaan.

ELF yang melirik VIP itu hanya memutar bola matanya. Ia kemudian mendengus. Pemuda ini kembali membalikkan halaman novelnya itu. Dan setelahnya ia memijit pangkal hidungnya. Ia terlihat lelah. Wajar saja, novel yang setebal tiga sentimeter itu baru ia baca setengahnya.

Pemuda ini mengedarkan pandangannya ke seluruh kantin. Ia bisa melihat orang-orang yang berada di kantin khususnya para gadis tengah membicarakannya. Ini pasti tentang perbuatan Cassie itu, pikirnya. Ia tak habis pikir. Kenapa pemuda bernama Cassie itu menyatakan cinta padanya. Apakah dirinya istimewa? Rasanya ia ingin membenturkan kepalanya ke tembok.

B2uty memandang heran kepada sahabatnya—ELF. Ia telah berhasil membujuk Kiss Me memakan roti pemberiannya.

"Kau kenapa, ELF?"

ELF mendongak memandang B2uty. Lalu ia tersenyum hampa. "Tak apa. Aku hanya lelah membaca novel yang tebal ini," ujarnya sambil mengangkat novel setebal tiga sentimeter itu di tangan kanannya.

B2uty mengerutkan alisnya. "Kau bohong. Sebelumnya kau tak pernah mengeluh membaca novel setebal apapun. Dulu kau membaca novel yang tebalnya melebihi itu tapi tak pernah lelah untuk membacanya," telak B2uty kepada ELF. "Apa ini mengenai pernyataan Cassie itu?" tebaknya dan sanggup membuat ELF mengangguk.

"Dia membuat para gadis memusuhiku," ujarnya pasrah.

B2uty pun melirik sekitarnya. Dan benar saja. Para gadis yang ada di kantin itu melirik tajam kepada ELF. Dan ada juga yang berbisik-bisik sambil melirik sahabatnya itu.

"Sudahlah. Masih ada aku dan VIP di sini." B2uty menasehati ELF. Ia merangkul Kiss Me di pundaknya. Dan kini ia mendapatkan getokkan dari Kiss Me di kepalanya. Sungguh uke yang ganas. "Aduuh~ Sakit sayang…" ia berkata sambil mengusap kepalanya yang terkena getokkan.

"Rasakan."

"Ehm…" B2uty mendehem, "lagipula si Cassie itu cukup menarik." B2uty mengusap dagunya. "Andai dulu itu aku nembak dia, apa ia akan menerimanya? Tapi kalau dilihat-lihat, ia berwajah seme. Dan aku tak mau jadi uke." Ia kembali mendapatkan jitakkan dahsyat dari Kiss Me. Ia berkata secara tidak sadar kalau di sampingnya kini ada kekasihnya.

"Kalau saja waktu itu aku tak menerimamu," perkataan yang berasal dari Kiss Me sanggup menohok B2uty. B2uty langsung bersujud minta maaf.

Bukan hanya mendapatkan jitakkan dari sang kekasih, ia juga mendapat tatapan tajam dari ELF. "Dengar, B2uty. Aku bukan seseorang yang mengalami kelainan seksual sepertimu," ujarnya tajam. Membuat B2uty merengut seketika.

"Tapi, ELF," B2uty berujar lagi, "aku penasaran. Apa kau akan menerima Cassie? Apa kau lihat tadi? Aku tahu kau ingin menolaknya, tapi… Cassie mencegahmu mengatakan itu. Sepertinya ia tak ingin ada kata penolakkan darimu."

ELF mendesah. "Kau benar. Aku tadi ingin menolaknya, tapi ia tak mengizinkanku melanjutkannya."

VIP menatap ELF. Kemudian ia mangambil suara. "ELF, aku tau kau normal. Tapi, kalau kau mempunyai perasaan walaupun itu sedikit saja, apa kau akan memberikan harapan padanya? Kami tau kalau kau diam-diam mengagumi dia kan?"

"Entahlah, VIP. Aku bingung dengan semua ini. Aku akan memikirkannya lagi. Semua ini membuatku pusing."

VIP menepuk pundak. "Apapun keputusanmu, kami akan mendukung," katanya dengan diiringi senyum manis.

"Ya, tentu saja." B2uty berkata lagi. "Aku harap kau akan menjadi sepertiku," ucapnya sambil cekikikan. Dan langsung mendapatkan lemparan novel setebal tiga sentimeter dari ELF. Untung saja ia menangkap novel itu dengan sempurna dengan cengiran di wajahnya. Tapi ia bernasib sial lagi. Kiss Me memukul kepalanya dengan buku yang dipegangnya. Kali ini ELF dan VIP yang tertawa terbahak-bahak.

Xoxoxoxox

ELF mengikuti jam mata kuliahnya dengan gelisah. Dari belakang ia bisa mendengar bisikan yang tak mengenakan mengenai dirinya. Apalagi ini berhubungan dengan Cassie. Kalau saja Cassie itu bukan orang yang terkenal, mungkin ia akan tenang-tenang saja.

Baru saja ia mendudukkan diri di kursinya, ia mendapatkan sebuah surat ancaman. Ia membacanya diikuti B2uty dan VIP. Setelah membaca semuanya, tiba-tiba B2uty menjadi geram sendiri. Ia pun berteriak siapa yang menuliskan surat ancaman itu pada ELF. Ia juga menyatakan dirinya, kalau ia akan menjadi pelindung ELF. ELF yang mendengarnya hanya menundukkan wajahnya.

ELF beruntung mempunyai sahabat seperti B2uty dan VIP. Mereka bersedia melakukan apapun demi persahabatan mereka. Saling membantu satu sama lain.

Tiba-tiba dosen di hadapannya mengatakan kalau jam kuliah sudah berakhir. ELF merapikan peralatan tulisnya dan memasukkannya ke dalam tasnya. Sahabatnya—VIP yang duduk di sampingnya ikut merapikan buku-bukunya.

Tiba-tiba B2uty, yang duduk di depan ELF menolehkan kepalanya ke belakang, menghadap sahabat-sahabatnya. "Eh, kita jadi 'kan pulang bareng?"

ELF mengangguk. Begitu juga VIP.

B2uty cepat-cepat memasukkan peralatan tulisnya secara asal-asalan ke dalam tas selempangnya. "Ayo!"

Mereka keluar dari ruangan itu sama-sama. Dan lagi pemandangan tak mengenakkan menyambut mereka. Seperti biasa, ELF kembali mendapatkan tatapan tajam dari para gadis penggemar Cassie. Sungguh ia tak ingin mempunyai kekasih yang mempunyai banyak penggemar seperti Cassie.

VIP merangkul ELF untuk menenangkannya. "Tenang saja. Kita punya satpam di sini." Ia menunjuk B2uty dengan matanya. ELF tersenyum melihat B2uty yang berjalan di depannya sambil memberikan pelototan tajam kepada siapa saja yang mengusik ELF.

Tak lama mereka berjalan, tiba-tiba ada segerombolan gadis-gadis yang mendekati mereka dengan senyuman yang lebar. B2uty memasang posisi siaga. ELF dan VIP memasang tampang heran dengan alis yang terangkat.

"Kalian mau apa?" tanya B2uty penuh selidik.

Para gadis-gadis itu tersenyum misterius. Satu di antara mereka, yang diyakini sebagai ketuanya maju satu langkah ke depan.

"Satu… dua… tiga… ELF-SHII POKOKNYA KAMU HARUS MENERIMA CINTANYA CASSIOPEIA-SHII!" teriak para gadis itu dan setelahnya mereka membubarkan diri tanpa ada pertanggung jawaban sedikitpun. Mereka hanya menyengir ria dari kejauhan.

B2uty cengo. ELF sok. VIP terkejut. Berbagai ekspresi mereka tampilkan. Namun setelah itu mereka sadar bahwa itu tidak penting. Mereka menghela nafas berjama'ah.

"Aku kira perempuan-perempuan ababil itu akan mengganggumu," ucapnya sambil menolehkan kepalanya kepada ELF.

"Aku kira begitu. Kau taulah mereka siapa," ujar ELF kembali menghela nafas.

"Dasar fujoshi! Tapi kita bersyukur dengan adanya mereka. Setidaknya ada pendukung bagi kaum yaoi." Ia melirik B2uty.

Ketika mereka akan pergi melangkah untuk pulang, lagi-lagi mereka dikejutkan oleh sesuatu. Sebuah mobil Jazz merah menahan mereka untuk melangkah pergi. Ketiga sahabat itu takjub akan kemewahan mobil yang terhenti di hadapan mereka. Di kaca mobil itu, bayangan mereka memantul seolah-olah itu adalah cermin yang biasa dipajang di kamar mereka.

Lalu, kaca mobil itu terbuka. Menampilkan sesosok pemuda yang mereka kenal betul. Pemuda yang merubah hidup ELF 180 derajat hanya dalam beberapa jam.

"Cassie…"

Cassie tersenyum, yang sanggup membuat para gadis yang lewat di sekitarnya meleleh mendadak. "Hai," sapa Cassie kepada mereka lebih tepatnya kepada ELF.

"H-hai," sapa ELF balik gugup. Ia menggaruk belakang kepalanya salah tingkah.

"Mau pulang 'kan? Ikut aku, biar kuantar." Lalu matanya memandang sahabat-sahabat ELF yang berdiri di samping kanan kiri ELF. "Temanmu boleh ikut."

"Ahh, ti-tidak usah. Kami bi—"

Ucapan ELF terpotong oleh perkataan B2uty. "AH! Aku lupa kalau aku ada janji dengan Kiss Me, kenapa bisa jadi lupa begini?" ia melirik ELF, "maaf, aku tidak bisa pulang denganmu. Lain kali aja ya?"

"Tapi—"

Terlambat. B2uty sudah meninggalkan ELF dan VIP sambil berlari-lari. Sebelumnya ia melambaikan tangannya terlebih dahulu.

VIP kemudian menepuk bahu ELF pelan. "Sepertinya aku juga lupa kalau Wonderful memintaku untuk menemaninya untuk ke toko."

ELF memberinya tatapan seolah berkata 'jangan tinggalkan aku sendiri' sambil meremas kemeja yang dipakai VIP. VIP hanya tersenyum bersalah. "Maafkan aku. Aku harus pergi." Ia melepaskan remasan ELF pada kemejanya dengan senyuman bersalah.

"Sepertinya teman-temanmu meninggalkanmu dan kau tinggal sendiri," Cassie menatap ELF, "jadi?"

ELF menjadi ragu apakah ia akan ikut Cassie atau tidak. Tapi tanpa teman-temannya, perjalanan pulang ke tempatnya akan menjadi hampa. Ia tahu, sahabat-sahabatnya itu membohonginya dengan ada janji bersama kekasih masing-masing. Ia kemudian menatap Cassie.

"Aku akan ikut denganmu."

Cassie tersenyum. Ia pun membukakan pintu mobil untuk ELF. ELF tersenyum secara terpaksa untuk menyenangkan hati penyanyi itu. "Terima kasih." ELF pun duduk dalam diam.

Cassie menatap ELF kemudian ia mencondongkan badannya ke arah ELF. ELF menjadi gugup. Dadanya berdetak kencang akibat perlakuan Cassie. Dan ia menghembuskan nafas lega saat tahu bahwa Cassie hanya memasang sabuk pengaman yang memang belum terpasang. Ia sedikit salah tingkah.

"Kita berangkat sekarang?" tanyanya lembut.

"Ah, y-ya." ELF terbata-bata dalam menjawab pertanyaan Cassie.

Cassie pun memasang kacamata hitamnya yang membuatnya tampak lebih keren bagi siapa saja yang melihatnya termasuk ELF. Cassie menghidupkan mobilnya dan meninggalkan area kampus itu dengan ELF yang berada di samping. Tapi, sebelum meninggalkan area itu, ELF bisa melihat kedua sahabatnya dari jendela mobil yang terbuka tengah melambaikan tangan kepadanya. Bisa dilihat dari pergerakkan itu mereka seolah mengatakan 'semoga berhasil'. ELF berjanji akan membalas perbuatan mereka suatu hari nanti.

Sementara itu di tempat lain. Seorang gadis tengah berdecak ria. Ia jadi sibuk sendiri memaki-maki dengan geramnya. Dan seorang gadis di sampingnya hanya menatapnya heran.

"Kau kenapa, Sone?" tanya Affxtion bingung.

Sone menatap tajam kepada Affxtion. "Kau tidak lihat tadi? Cassie mengajaknya masuk ke dalam mobilnya dan mengantarnya pulang!" serunya kesal.

"Maksudmu mengajak'nya'?" Affxtion bingung dengan perkataan Sone.

Sone mendengus. "Si pemuda miskin bernama ELF itu. Cassie mengajaknya pulang. Tidak pernah sebelumnya Cassie mengajak satu orang pun masuk ke dalam mobilnya. Aku curiga kalau ELF telah mengguna-guna Cassie."

Affxtion tertawa keras mendengar perkataan Sone. Ia kemudian menepuk-nepuk punggung Sone. Sone semakin jengkel dibuatnya. "Kenapa tertawa? Ada yang lucu?" ia memicingkan matanya.

"Guna-guna? Memangnya jaman sekarang guna-guna masih berlaku? Ya ampun!" ia mengusap titik air mata di sudut matanya.

"Bisa saja itu terjadi 'kan?"

Affxtion memutar bola matanya. "ELF tidak mungkin melakukan hal serendah itu. Ia terlalu pintar untuk itu."

Sone hanya diam saja tak membalas perkataan Affxtion. Ia menggigit ujung jempolnya mencari rencana agar memisahkan Cassie dengan ELF.

Kembali pada situasi yang berada dalam mobil Jazz milik Cassie.

"Jadi, dimana rumahmu?" tanya Cassie. Saat ini mereka sedang berhenti karena lampu merah.

ELF terkesiap dengan pertanyaan Cassie. Buru-buru ia pun menjawab; "Rumahku di jalan Super Junior nomor 13."

"Oh, di sana rupanya." Kemudian Cassie tersenyum tipis.

Dalam perjalanan pulang mereka hanya saling berdiam diri. Tak ada yang memulai pembicaraan. Mereka saling menyibukkan diri dengan aktifitas masing-masing.

ELF penasaran kenapa Cassie menyukainya. Apalagi ini terlalu mendadak. Sebelumnya ia maupun Cassie tak pernah ada komunikasi satu sama lain. Sekelas dalam kuliah pun tak ada. Cassie mengambil jurusan dalam bidang kesenian music. Sedangkan ia dalam bidang jurusan hokum. Dan… ia juga penasaran kenapa pemuda ini bisa tahu namanya. Ia memperhatikan Cassie diam-diam.

"Ada apa?" Cassie tersadar kalau ia diperhatikan oleh ELF. ELF membelalakkan matanya terkejut karena ketahuan tengah memperhatikan dirinya. Ia kembali ke posisinya semula dengan rasa gugup yang besar. "Kau ingin menanyakan sesuatu?" tebaknya tepat sasaran.

ELF menatap Cassie sekali lagi walau hanya sekilas. "Sebenarnya ya…"

"Kalau begitu tanyakan saja."

ELF tidak tahu apakah ini ide yang bagus untuk bertanya pada situasi ini. Bagaimana kalau Cassie menganggap kalau ini hanyalah lelucon yang dibuat Cassie untuk menghebohkan dunia keartisan saja? Tapi… pada saat ELF menatap mata Cassie tadi… ia benar-benar serius. Seolah-olah kata lelucon begitu tidak tepat.

"Err… soal tadi siang. Apa kau benar-benar serius? Atau hanya ini lelucon?"

Cassie tertawa pelan. "Lelucon ya?"

"Eh? Jadi itu benar lelucon?" tanyanya dengan bernada kaget.

"Siapa bilang ini semua lelucon?" Cassie menatap ELF kemudian ia kembali fokus terhadap mobil yang ia kendarai.

"Jadi… itu semua—"

"Ya, itu semua benar adanya. Aku memang benar-benar menyukaimu." Cassie memotong perkataan ELF. Ia memutar roda kendali mobilnya belok ke arah kanan.

"Apa alasanmu menyukaiku?" tanya ELF lagi. Kali ini ia penasaran jawaban apa yang diberikan Cassie kepadanya.

"Tak ada alasan khusus untuk menyukaimu."

"Eh?" ELF mengerjap-ngerjapkan matanya.

"Bukankah menyukai seseorang itu tidak perlu adanya sebuah alasan? Kalaupun ada, itu bukan menyukai namanya tapi bisa disebut mengagumi?"

ELF dibuat tak berkutik dengan jawaban Cassie. Ia bingung harus menjawab apa untuk membalas perkataan Cassie. Jawaban itu sungguh membuatnya diam di tempat. 'Alasan, eh?'

Mereka kembali hening. Lagipula sebentar lagi mereka akan sampai di rumah ELF. Hanya tinggal beberapa blok saja.

"Jadi… ini tempat tinggalmu?" tanya Cassie begitu ia sampai di depan rumah ELF yang bisa dibilang cukup sederhana itu. Namun terkesan nyaman. Apalagi di tempat itu area halamannya cukup bersih dan rapi.

"Ya, aku tinggal di sini." ELF keluar dari mobil Jazz merah itu. "Terima kasih sudah mau mengantarku. Err… mau mampir?"

Cassie mengangkat tangannya sebagai bentuk penolakkan. "Nanti saja." Ia melirik arloji yang berada di pergelangan tangannya. "Setelah ini aku ada pemotretan."

"Oh, begitu." ELF hanya mengangguk paham akan kesibukan pemuda ini.

"Kau punya nomor ponsel?" tanya Cassie.

"Ponsel?" lalu ELF tertawa renyah. "Ah, tidak-tidak. Aku tidak punya ponsel. Hanya punya telpon rumah saja."

"Oh, begitu." Cassie tengah merogoh sesuatu ke dalam saku celananya. Ketika menemukannya, ia langsung melemparkannya kepada ELF. ELF dengan sigap menangkap apa yang dilempar Cassie itu.

"Apa ini?"

"Itu ponsel milikku. Dan itu untukmu sekarang."

Mata ELF terbelalak lebar. Tak menyangka akan diberi barang mewah seperti ini yang bahkan orang tuanya pun tak sanggup membelikannya.

"Tapi ini pasti mahal sekali. Aku tak bisa menerimanya." ELF kembali menyerahkan ponsel yang sudah diberikan kepadanya itu kepada pemilik aslinya.

"Sudahlah. Terima saja. Anggap itu hadiah dariku untukmu."

"Ta-tapi—"

"Aku pergi dulu." Tanpa sempat ELF melanjutkan perkataannya, Cassie sudah pergi berdahulu meninggalkannya.

ELF menghela nafasnya. Sebuah ponsel yang diketahui ELF bermerek Black Berry keluaran terbaru yang hanya bisa ia lihat di televise kini berada di genggamannya. Ia memang ingin memliki ponsel seperti ini. Tapi ia tak bisa menerima barang semewah ini dari orang lain.

"Besok, akan aku kembalikan padanya."

xoxoxoxox

Pagi ini ELF bangun dengan wajah yang kusut dan berkeringat. Maklum saja, ia habis bermimpi yang menyeram tadi malam. Ia bermimpi, seluruh gadis yang berada di kampusnya tengah mengejarnya sambil membawa pisau dapur yang besar yang biasa digunakan untuk memotong daging. Mereka mengancam ELF agar ia tidak menerima cinta dari Cassie. Sungguh, pernyataan Cassie berdampak buruk baginya. Ia mengusap keringat yang mengalir di keningnya.

Pemuda ini melirik jam dinding yang melekat di kamarnya. Menunjukkan pukul enam lebih tiga puluh menit. Sekitar sejam setengah lagi ia ada jam kuliah. Maka dengan segera ia membereskan kamarnya dan bersiap-siap untuk mandi dan pergi kuliah.

Penampilannya sudah jauh lebih baik sekarang. Kaos lengan panjang berwarna putih dengan dilapisi kemeja warna biru dan jeans berwarna senada terpasang di tubuhnya. Tak lupa sedikit wewangian ia tambahkan di bajunya agar tampak harum.

Tiba-tiba saja ponsel yang diberikan oleh Cassie berbunyi. ELF gelagapan mencari ponsel itu di tas yang biasanya ia pakai untuk kuliah. Setelah ketemu, ia buru-buru menerima panggilan itu.

"Halo?" sahut ELF terlebih dahulu.

"Halo, ELF. Ini aku." Jawab dari seberang sana.

ELF meneguk ludahnya. Ia tahu suara siapa itu. "Ca-Cassie?"

"Ternyata kau mengenalku," ada suara tawa pelan dari Cassie, "kau ada jam kuliah kan? Biar aku yang mengantarmu ke kampus."

ELF terbelalak. Ia mulai berkeringat lagi pagi ini. Padahal cuacanya sedang dingin sekarang. "Aa—tidak usah. Aku bisa berangkat sendiri."

"Kau tidak bisa menolaknya. Kini aku sudah di depan rumahmu."

Pernyataan dari ELF sanggup membuatnya gelagapan. "A-apa?" ia pun melangkah mendekat ke jendela kamarnya dan menyibak sedikit tirai yang melapisinya. Dan benar saja. Ada mobil merah yang serupa dengan mobil yang mengantarkannya kemarin telah terparkir di depan rumahnya. ELF meneguk ludahnya lagi.

"Keluarlah, aku menunggu di sini."

"O-oke."

ELF buru-buru menyimpan ponsel mewah itu ke dalam tasnya. Ia melangkah cepat menuju ke halaman depan. Kalau saja ia tak ditegur ibunya, mungkin ia lupa pada sarapannya.

ELF terburu-buru memakan roti selainya sambil tersedak. Ia meminum segelas susu putih yang tergeletak di meja dapur itu dan menghabiskan semua rotinya.

"Umma, aku berangkat dulu!" serunya.

Sang umma mengernyitkan alis. "Buru-buru sekali. Memangnya ada apa?" tanya ummanya. Ia pun mendekati anaknya itu.

ELF tersenyum kepada umma ketika ia memasang sepatunya. "Tidak apa-apa. Temanku sudah menunggu di luar."

Setelah mengatakan itu, ELF buru-buru keluar setelah berpamitan terlebih dahulu kepada ibunya. Ibunya penasaran siapa teman anaknya yang menjemputnya kuliah ini. Ia pun menyusul ELF di depan.

Ia bisa melihat ada mobil berwarna merah terang terparkir di depan rumahnya. Sementara itu anaknya—ELF tengah berbicara kepada seseorang yang entah mengapa terasa familiar di matanya itu.

Tak seberapa menit kemudian, ibunya terbelalak setelah mengetahui siapa seseorang yang kini bersama anaknya itu.

"Itu Cassiopeia 'kan?" tebak sang ibu.

Cassiopeia menatap seorang wanita yang sudah berumur itu. "Dia ibumu?" tanyanya kepada ELF.

ELF menoleh ke arah ibunya. "Ne, dia ibuku."

Tiba-tiba Cassie tersenyum. Ia pun mendatangi ibu dari calon kekasihnya itu. "Annyeong, ahjumma," sapanya lembut.

Sang ibu hampir saja terjatuh gara-gara tersandung batu ketika ia mendatangi Cassie. Untung saja pemuda itu dengan sigap menolong sang ibu.

"Kau benar-benar Cassiopeia?"

Cassie pun tersenyum lembut. "Ne."

Sang ibu mencoba menggapai wajah Cassie. Namun apa daya tangan tak sampai karena Cassie sendiri bertubuh lebih tinggi daripada ibunya ELF. Ia merendahkan sedikit tubuhnya agar ibu itu bisa memegang wajahnya. Kini tangan ibu yang sudah keriput itu bisa menyentuh wajah pemuda itu.

"Oh, astaga! Artis yang aku idam-idamkan kini berada di depanku. Aku tidak percaya ini. "

"Benarkah? Aku turut senang, ahjumma."

"Kalian akan pergi ke Kyunghee sama-sama kan?" tanya sang ibu sambil melirik anaknya itu.

Cassie mengangguk.

"Oh, cepatlah kalian berangkat. Aku titip anakku ya, Nak?" pinta sang ibu.

Sang anak memberikan tatapan protes dari kejauhan. Namun, sang ibu hanya terkekeh pelan.

"Baiklah, ahjumma. Kami berangkat dulu," pamit Cassie. Ia pun mendatangi ELF yang berdiri di samping mobil Jazz merahnya.

ELF melambai kepada ibunya sebagai tanda pamit. Lalu ia pun memasuki mobil merah itu menyusul Cassie yang sudah terlebih dahulu memasuki mobilnya. Sang ibu melambai ketika mobil itu meninggalkan area halaman rumahnya.

"Haahh~ sudah lama aku tidak merasakan perasaan ini," ucap Cassie memulai pembiacaraan. Jalanan kota Seoul ini mulai ramai tidak seperti saat dia menjemput ELF tadi.

ELF mengernyitkan alisnya heran. "Maksudmu?"

"Perasaan saat aku dipeluk ibumu tadi. Entah kenapa terasa nyaman sekali. Aku begitu merindukan ibuku sekarang." Cassie tetap fokus menyetir mobilnya.

ELF memandang Cassie lalu berkata; "Ibumu sekarang dimana?"

"Ibuku sudah tidak ada di sini. Ia pergi meninggalkan aku dan ayahku ketika aku lulus SMA." Pandangan Cassie tiba-tiba berubah sendu.

Ada rasa kasihan yang menyelimuti diri ELF. Ia tak menyangka, Cassie yang bisa dibilang sempurna ini bisa menunjukkan kerapuhannya. Padahal mereka baru berinteraksi sejak kemarin.

"Mianhe." Hanya itu yang bisa diucapkan ELF. "Aku turut menyesal." Ia pun menundukkan kepalanya.

Cassie melirik ELF sejenak. "It's ok," ucapnya sambil tersenyum, "kejadian itu sudah lewat hampir empat tahun yang lalu," lanjutnya lagi.

ELF menganggukkan kepalanya paham. Ia tak berkata-kata lagi. lalu ia teringat ada sesuatu yang harus ia kembalikan pada pemuda yang duduk di sampingnya ini.

"Oh ya," ia merogoh tasnya mengambil ponsel milik Cassie yang sebenarnya sudah menjadi miliknya, "ini ponselmu. Mianhe, aku tak bisa menerima barang sebagus ini." Ia menyodorkannya kepada Cassie.

Cassie menolaknya. "Tidak. Itu sudah menjadi milikmu. Aku tidak ada hak lagi atas ponsel itu."

"Tapi bagaimana denganmu?" tanya ELF cemas.

"Di apartemenku, aku masih punya tiga di sana."

ELF kembali menarik tangannya lagi. Ia menggenggam ponsel itu. "Kalau begitu… kamsahamnida," ucapnya sambil menundukkan kepalanya sedikit.

"Tak masalah." Cassie menjawab dengan tenang.

Membutuhkan waktu hampir setengah jam lamanya barulah mereka sampai di Kyunghee university. Memang jarak antara rumah tempat tinggal ELF dengan Kyunghee University tidaklah dekat. Dan biasanya juga ELF selalu menggunakan bus untuk segera sampai ke universitasnya itu.

Entah kenapa halaman Kyunghee University tiba-tiba menjadi penuh akan gadis-gadis yang sedang meributkan sesuatu. ELF menolehkan kepalanya kesana kemari untuk mencari jawaban tapi nihil.

"Ada apa ini sebenarnya?" Cassie tengah kebingungan untuk memasuki halaman Kyunghee university itu. Semua penuh akan gadis-gadis yang berdiri di halaman Kyunghee University. Mereka masih tetap berada di dalam mobil Cassie.

Cassie membuka jendela kaca mobilnya. Ia menoba bertanya kepada salah satu gadis yang kini berada tepat di samping mobilnya.

"Maaf, permisi. Kalau boleh tau, sebenarnya ada apa ini?"

Gadis itu tidak sadar kalau yang bertanya ini adalah Cassiopeia. "Oh, mereka meributkan sesuatu yang menurutku tidak penting sekali."

"Meributkan sesuatu?" Cassie mengernyitkan alisnya.

"Ya, meributkan sesuatu. Mereka—kaum fujoshi dan para penggemar Cassiopeia, tengah memperebutkan apakah ELF menerima pernyataan cinta Cassie atau tidak. Kaum fujoshi mendukung agar ELF menerima pernyataan cinta itu sedangkan penggemar Cassie menolak semua itu."

Cassie tersenyum mendengar penjelasan yang panjang lebar dari gadis itu. "Menarik sekali." Ia memasang kacamatanya kemudian. "Terima kasih ya?"

"Sama-sa—eh?" sang gadis baru sadar ketika ia menatap siapa yang bertanya kepadanya itu. matanya pun melebar ketika menatap pemuda itu. "Kau—Cassie? Dan—" gadis itu melirik pemuda yang duduk di samping Cassie, "ELF?"

Cassie tersenyum, lalu ia menutup kaca jendela mobilnya. Cassie memandang pemuda di sebelahnya yang kini diam tak bergerak. Mungkin ia tengah syok mendengar penjelasan dari gadis tadi.

"ITU CASSIE DAN ELF!" teriak gadis yang ditanyai oleh Cassie tadi. Otomatis semua—ralat hampir semua gadis yang berdiri di halaman Kyunghee University menolehkan kepala mereka ke arah mobil merah mencolok milik Cassie. ELF semakin gugup. Ia bagaikan patung sekarang. Keringat dingin mengalir dari kening ke pipinya. Matanya masih melebar karena terkejut.

"ELF?" Cassie mencoba menyadarkan. Tapi ELF tetap tak bergerak sedikitpun.

"ELF?" ulang Cassie. Kini ia menepuk pundak ELF pelan.

ELF tersadar dari keterkejutannya. Ia terlonjak dari tempat duduknya. "Y-ya?" sahutnya gugup. Wajahnya memucat.

"Kau ok?" tanya Cassie khawatir. Kini ia sadar kalau perbuatannya kemarin membuat efek yang tidak baik pada ELF.

"A-aku tidak tahu," ucapnya bergetar. Menatap ratusan gadis yang ada di sini membuatnya hampir kehilangan nafasnya.

"Tenang saja. Aku ada di sini." Cassie menenangkan ELF. ELF hanya mengangguk lemah.

Para gadis yang tadi rebut pun menutup rapat mulut mereka. Masing-masing dari mereka mulai menepikan diri agar mobil merah itu bisa memasuki halaman Kyunghee University dengan aman.

Berbagai tatapan telah dilayangkan ke arah mobil merah itu. Membuat ELF semakin tegang memasuki area itu. Ia seolah-olah menghadapi perang yang akan dimulai sebentar lagi. ia tidak siap sekarang.

"Cassie… coba kau lihat ke depan, ke arah spanduk itu…" ELF berkata sambil mencengkram jeans yang dipakainya.

Cassie menatap ke depan. Ia bisa melihat isi dari spanduk itu. Ketika membacanya, ia malah tertawa.

"Kenapa kau tertawa?" ELF menautkan kedua alisnya.

"Isi tulisan itu membuatku tak bisa menahan tawa."

Penasaran akan isi tulisan itu?

'CASSIELF, KAMI MENDUKUNGMU! CEPATLAH JADIAN!' –kaum Fujoshi.

'ELF HARUS DIMUSNAHKAN! IA TAK BOLEH JADIAN DENGAN CASSIOPEIA!'—penggemar Cassie.

'ELF, KAU HARUS MENERIMA CINTA CASSIOPEIA!'—Fujoshi.

'CASSIE, KAU TAK BOLEH JADIAN DENGAN ELF. KAMI TIDAK RELA!'—penggemar Cassie.

'ANTI SNSD! TURUNKAN NURDIN HALID!' (loh?)

'TURUNKAN HARGA MAKANAN KANTIN!' (semakin ngaco)

'B2UTY KISSME, JADILAH MODEL TOPLES KAMI!' (maksud?)

'TURUNKAN HARGA BB! 2PM HARUS KONSER DI INDO!' (Ini di Korea apa Indonesia?)

Dan kegajean-kegajean lainnya. Mohon jangan terlalu percaya dengan tulisan-tulisan spanduk di atas.

Dan ELF kini tidak tahu apa yang seharusnya ia lakukan setelah ini.

TBC

Humornya kerasa nga? Maaf kalau terkesan garing, saya baru belajar bikin fic humor.^^

Oh ya, bayangkan saja fisik dan sifat fandom-fandom yang jadi cast fic ini sesuai idolnya. Sebagai contoh, aku membayangkan Cassiopeia itu adalah Yunho. Dan yang lainnya terserah kalian ^^

Ini first fic collab with Nurama Nurmala neesan. Baru kali ini kesampaian collab fic. Dari kemarin-kemarin mau collab nga jadi terus.

Feel free to give me ur comment about this fic. I will approve that. Don't flame, please?

Neesan! Aku tunggu chapter duanya! ^^