Nothing.

Main Cast: Park Chanyeol & Byun Baekhyun.

Other cast: Kim Taeyeon, Kim Minseok, Kim Jongdae, Kim Jongin, Park Miyoung (OC as Chanyeol young sister), Kris Wu, Do Kyungsoo, Jaejoong, Im Yoona, Yunho.

Genre: Romance, School life, and more.

Summary: Dalam pernikahan ini, tidak ada cinta. Tidak ada lama-lama menjadi cinta, karena harga diri semua menjadi, terlambat.

Warning! Yaoi, OOC DLDR! RnR~

.

.

ParkVeLin present.

.

.

.

Matahari kini tepat berada di atas kepala silau cahaya sang Mentari tak menggentarkan semangat pemuda ini untuk tetap berlari ke arah tujuannya. Tak menggubris tatapan orang lain memandangnya heran. Tentu, siapa yang tidak heran melihat anak sekolah di jam sekolah berlari bagai di kejar setan di pinggir jalan? Pemuda itu, Byun Baekhyun, tetap berlari tujuannya satu, Rumah Sakit. Ia menerobos masuk menuju ruang adiknya di rawat, ia berpikir bahwa kakinya kini sudah lepas dari engsel persendiannya karena terlalu cepat berayun. Ia sampai di ruang adiknya, bertepatan dengan dokter yang menangani adiknya keluar dari ruang rawat.

"Suho hyung! Kyungsoo kenapa?" tanya Baekhyun to the point. Suho hanya menghembuskan nafas dan tersenyum miris.

"Dia koma lagi, aku tak menutup kemungkinan operasi kedua akan di lakukan. Baekhyun-ah ku mohon, bawa dia kemari! Bahkan sampai dia sekarat kini pun kau tak membiarkan mereka bertemu?"

Baekhyun berdecih dan memalingkan muka menghadap ruang tempat Kyungsoo di rawat yang di tutup kaca, seakan kaca itu mengejek Baekhyun yang memandang miris keadaan adiknya terbaring lemah di atas ranjang persakitan itu.

"Dia tak pantas untuknya, hyung! Bertemu dengannya juga tak membawa perubahan!" sentak Baekhyun. Suho tetap tak gentar dan menatap Baekhyun pandangan tak suka.

"Ini bukan dirimu Byun Baekhyun yang dulu. Kau berbeda,"

"Ya! Aku berbeda, hyung! Aku bukan si Baekhyun kecil yang akan menangis meraung-raung lagi! Aku bukan si Byun Baekhyun yang akan di bohongi lagi! Juga, aku bukan Byun Baekhyun yang akan jatuh pada orang lain lagi." Emosi Baekhyun memuncak, wajahnya memerah menahan amarah. Ia berlari ke taman belakang sekedar menenangkan hati. Tak menggubris tatapan terkejut dan gerutuan para suster yang ia lewati.

-0o0-

"Hey, kotak! Dimana Baekhyun?" seru Taeyeon –kekasih Baekhyun-dari belakang, yang dipanggill hanya menggendikan bahu seakan mengatakan kau tak tahu aku pun juga tak tahu.

"Tadi di kelas dia seperti mendapat telefon penting. Entah apa yang di bicarakan sepertinya membuat dirinya tegang dan langsung keluar kelas dengan membawa tasnya." Ucap Minseok dengan pandangan focus ke ponselnya sesekali memakan tteokpokki yang mulai mendingin.

"Tumben dia tak memberi kabar padaku," lirih Taeyeon sembari mengaduk Jusnya dengan tatapan kosong. Bisik-bisik para gadis di belakangnya mengalihkan perhatian Taeyeon, oh jangan kira dia akan ikut menggosip, dia bukan perempuan tukang gosip yang akan menyebarkan berbagai kabar burung.

"Psst! Kau tau? Aku tadi bertemu Ibu Baekhyun, calon mertuaku!" calon mertua pantat mu! Umpat Taeyeon dalam hati.

"Hey! Jangan bicara terlalu keras, kau akan mendapat tendangan telak darinya! Itu menyakitkan!" Oh! Anak pintar! Taeyeon tersenyum miring, tentu bangga karena ditakuti murid seangkatannya.

"Ya, aku hanya bercanda! Tadi ku lihat Ibu Baekhyun datang ke ruang kesiswaan, kau tahu apa yang ku dengar?" Taeyeon mencoba bersabar sembari memejamkan mata dan menajamkan pendengarannya.

"Baekhyun besok pindah ke Seoul! Hari ini hari terakhirnya! Hah, tapi aku tak melihat Baekhyun Oppa dimana mana! Lihat, Taeyeon saja duduk sendiri! Apa dia hari ini tidak masuk?" seketika sekujur tubuh Taeyeon menegang, sejenak ia merasa shock berat. Taeyeon segera berdiri dan melenggang keluar kantin sekolah dengan tergesa-gesa menghiraukan panggilan Jongdae dan Minseok.

-0o0-

"Ibu! Kau sungguh tidak adli!" sentak Baekhyun dengan raut super jengkel. Baekhyun mengerucutkan bibirnya dan berkomat-kamit ingin menyumpah serapah tapi dia ingat kalau itu tidak baik, secara diakan anak baik sopan dan manis.

"Baekhyun, dengarkan Ibu! Perusahaan kita tidak akan bertahan lagi untuk 5 bulan lagi. Pengeluaran kita entah mengapa sangat besar. Ku harap kau mau mendengarkan Ibu," tegas Ibu Baekhyun dengan raut datar dan angkuh.

"Ibu! Aku punya kekasih! Mana mungkin aku dijodohkan?" jerit Baekhyun frustasi, cintanya pada Taeyeon memang biasa saja, namun mana mungkin dia mempermainkan hati Taeyeon? Ia tahu Taeyeon menyukai nya sejak mereka pertama kali bertemu dan Baekhyun itu lelaki baik-baik bukan lelaki brengsek yang tega memutuskan hubungan lalu meninggalkan sang perempuan dengan tangisan.

"Akhiri hubungan kalian, bereskan barang mu, malam ini kita berangkat." Final sang Ibu tanpa bisa di ganggu gugat. Ibu Baekhyun melangkah pergi, meninggalkan Baekhyun sendiri di taman belakang Rumah Sakit.

"Argh!" teriak Baekhyun kesal, walau tidak terlalu keras namun cukup mengalihkan perhatian orang di sekitar lalu mendapat beberapa protes dari pasien dan beberapa suster yang ada disana. Baekhyun berdiri dan membungkuk meminta maaf. Rasanya ia ingin menenggelamkan diri sekarang, masalahnya tiada berakhir. Satu belum selesai muncul lagi, lagi, dan lagi. Dosa apa dia tertimpa berbagai masalah, ia merogoh kantongnya mencari ponselnya namun nihil, ponselnya tidak ada di kantong maupun sakunya.

"Sial! Tertinggal pula!" Bagus, mau kembali ke sekolah? Oh no, dia sudah keluar hari ini dan kembali kesekolah bisa di serang ikan piranha-perumpamaan yang cukup sempurna-. Baekhyun memutuskan untuk pulang dan mengistirahatkan pikirannya, sejenak menatap ruangan Kyungsoo dengan pandangan sendu.

"Bertahanlah, Kyung! Wait me back. Na ganda."

-0o0-

"Kim Jongin!"

"Hadir."

"Kim Yongguk!"

"Here!"

"Park Chanyeol!"

Tidak ada jawaban.

"Park Miyoung? Mana kakak mu?" Yang di tanya hanya mencibikan bibirnya. Selalu, kakaknya selalu absen atau datang terlambat, jadi kenapa para guru selalu bertanya? Kenapa juga tanya pada dirinya?

"Saya bukan penjaga 24 jamnya, bu. Kenapa tanya lagi dia dimana?" jawab Miyoung acuh, sebal sekali dia, sudah absen terus tapi nilai tetap bagus. Makan porsi selalu sama, susu juga sama, kenapa dia tumbuh sebegitu pesatnya? Otaknya di buat berbeda dengan dirinya jangan-jangan?

"Jongin kau ta- Jongin bangun!" teriak guru itu tiba-tiba. Baru saja ia mengabsen, sudah ada saja yang tidur. Bagaimana kalu mengajar?

"Ibu tak kasihan padaku? Lihatlah lingkaran hitam ini, aku kelelahan dan butuh tidur, Bu." Jongin menunjuk-tunjuk lingkaran hitam yang mengelilingi matanya.

"Kau melakukan apa saja semalam?" tanya guru itu sengit. Jongin tentu malas menjawab pertanyaan sang guru, buat apa di beri tahu?

"Apalagi kalau tidak melihat kumpulan video porno, Bu. Atau jangan jangan dia sudah melakukan dengan jalang pesanannya," tuduh Miyoung seenaknya dengan raut wajah tak bersalah, sedari dulu mereka terkenal paling tidak akur. Sikap angkuh bertanding dengan sikap egois, bagai air dengan minyak, tidak bisa mencampur.

"Jangan asal bicara ya, kau! Tahu apa kau tentang aku, hah?" bentak Jongin tak terima, dasarnya mereka memang tidak terima harga diri di injak-injak, adu mulut terjadi.

"Itu kenyataan! KE-NYA-TA-AN!"

"Enak saja! Aku tidak pernah melakukan sex dengan perempuan jalang!"

"Heh! Mengaku saja! Atau kau melakukan sex dengan pria? Ck, tak kusangka kau gay!" Dan ini akan berakhir dengan-

BRAK

Pertengkaran.

"Diam! Tahu apa kau tentang aku, bitch!" Jongin berdiri dan menggebrak meja dengan tatapan nyalang kepada Miyoung yang di balas tatapan membunuh.

"Sudah! Diam kalian!" teriak sang guru frustasi. Namun yang terjadi adalah pengacuhan terhadap perkataan sang guru.

"Siapa yang kau bilang 'bitch' hah?! Dasar GAY!" Miyoung mengeraskan rahangnya setelah memberikan penekanan dalam kalimatnya. Jongin mendekat dengan tatapan membara, yang di tatap hanya memberikan tatapan menantang.

"Aku tidak Gay! Catat dalam otak minim mu itu!" hardiknya penuh penekanan.

"Lalu, Do Kyungsoo, lelaki manis bermata bulat yang sekarang tengah berbaring di rumah sakit itu siapanya kau, Kim Jongin?" ujar Miyoung dengan nada sinis.

Jongin terdiam, nama Kyungsoo terus terngiang. "Kau tahu darimana?" suara Jongin mendingin dan menjadi sedikit pelan, tatapannya memancarkan sorot kesedihan dan tajam di saaat yang bersamaan. Semua siswa pendukung Jongin berdecak dan terpaksa mengocek uang saku mereka karena taruhan bodoh yang mereka buat dan menguntungkan untuk para siswa atau siswi pendukung Miyoung. Miyoung berdiri dan mendekatkan bibirnya di telinga Jongin. Bisikan itu membuatnya menegang dan berkeringat dingin.

"If you wanna meet him, you must meet he's brother first, right? Oh, you can meet he's brother tomorrow, by the way.Namun aku tetap tidak percaya dia akan memberitahumu."

-0o0-

Dugh Dugh Dugh!

Ting Tong! Ting Tong! Ting Tong!

"Baekhyun! Kau di dalam?!" teriak seorang gadis di depan rumah Baekhyun. Ya, itu Taeyeon. Baekhyun yang di dalam bergerak gelisah, setelah dia membuka pintu apakah dia langsung memutuskan hubungan mereka? Sebrengsek itukah dia?

"Baekhyun, aku tau kau di dalam! Buka pintunya, kita perlu bicara!" Baekhyun menghembuskan nafasnya dan membuka pintu. Nampak wajah acak-acakan Taeyeon. Kalau begini dia susah, rasa kasihannya pada Taeyeon begitu besar, dia tidak tega. Ia mengambil sapu tangan di sakunya dan membersihkan bekas-bekas air mata di pipi Taeyeon.

"Kita perlu bicara, Baek!" Baekhyun mengangguk paham lalu menggandeng tangan Taeyeon dan menariknya ke taman. Seusai mendudukan diri di bangku taman, Baekhyun menghembuskan nafasnya panjang.

"Kita akhiri semuanya, Tae. Aku akan pergi pindah ke Seoul dan akan dijodohkan, ku harap kau mengerti." Ujar Baekhyun dengan mata menatap langit. Gendang telinganya menangkap suara tangisan.

"Tega kau memutuskan hubungan kita! Hiks, kau jahat Baek! Kenapa harus sekarang?" ujar Taeyeon dengan suara khas orang menangis.

"We will be friend, Tae-ya." Hibur Baekhyun, ia benci air mata turun karena dirinya.

"Baiklah, aku sudah duga ini akan terjadi. Selamat tinggal,"

"Na ganda"

'Aku akan menyusulmu, nanti.'

-0o0-

"Kris! Kau melihat si Idiot itu sudah keluar? Kenapa dia tidak keluar-keluar! Tolong panggilkan dia," sungut Miyoung dengan mimik sebal setengah hidup. Pasalnya ini sudah 2 jam dia menunggu kakaknya, Park Chanyeol yang sedang diruang guru melatih ketahanan gendang telinganya.

"Aku masih sayang telinga dan tubuhku, Young-ah. Bersabarlah aku menemanimu disini." Ujar Kris seraya mengelus-elus bahu Miyoung. Sedangkan yang tengah sebal hanya mencebikan bibirnya sesekali menggerutu kesal. Terkadang Kris berpikir bahwa adik kawannya memiliki Alter Ego, kadang marah besar, kadang bersifat kekanakan, kadang juga bisa menjadi ibu-ibu ketika sedang pre-menstruasi.

"Sudah ku bilang sampai bibirku ingin robek rasanya! Jangan membolos di jam Fisika! Tahu sendiri guru fisika itu kepala sekolah!" ujar Miyoung dengan sebal. Bibir itu tidak berhenti bergerak sejak sejam yang lalu, dan itu membuat gemas sendiri.

"Kan sekarang yang susah aku harus menung-hmpt!" Kris menutup bibir Miyoung dengan telapak tangannya yang besar. Miyoung memberontak minta di lepaskan.

"Diam atau aku mengganti telapak ini dengan bibirku?" Miyoung sontak menggigit kulit telapak dalam Kris, yang digigit mengerang kesakitan.

"Byuntae. Kita tidak sedang berada di America lagi Kris Wu-ssi. Dan kau-bukan-siapa-siapaku-lagi, kau tak berhak merasakan bibir ini lagi!" Telak mengenai hati. Ya, dia bukan siapa-siapa lagi, kini hanya sebatan 'sahabat kakanya' sudah, titik.

"Perkataanmu pedas sekali, anak muda." Goda Kris dengan mengganti suara seperti pria tua yang menasehati anak muda yang tidak tahu aturan.

"Suara mu menijikan, tuan! Dan- Oh oppa!" Miyoung mengalihkan pembicaraan ketika melihat kakaknya yang keluar dari gerbang dengan wajah kesal sembari mengusap telinganya yang terus berdengung. Miyoung datang dengan tangan kanan berada 45 derajat dengan kepalanya. Chanyeol memandang adiknya bingung.

"Kau meminta pelukan nona?" Miyoung menggeleng dan mempoutkan bibirnya sedetik kemudian seringaian tercipta, tanda bahaya.

PLAK

Ouch, itu pasti sakit, berani jamin!

"Dasar kebo! Membuka mata dan menggerakan tangan untuk menjawab panggilanku saja tidak mau! Sana kalau mandi di kubangan saja bersama para kerbau saudara-saudaramu itu!" bentak Miyoung dengan suara cempreng khasnya. Chanyeol yang telinganya sudah mulai reda dari dengungan kembali berdengung.

"Astaga, kecilkan suaramu! Kau mau aku tuli?"

"Kau bahkan sudah tuli saat tidur."

"Kurang ajar!" Untung kau saudaraku, untung kau adikku sugesti Chanyeol dalam hati.

"Ayo pulang! Kris, kau pulang saja dulu, sampai jumpa besok!" Kris hanya mengangguk dan memutar badan menuju rumahnya. Miyoung menggeret kakaknya yang berbadan 2 kali lebih besar dari badan mungilnya, namun jangan ragukan tarikannya, itu dapat membuatmu jungkir balik. Strong girl.

"Oppa-" Miyoung melirik ke arah Chanyeol yang tengah fokus menyetir.

"Hn?" jawab Chanyeol dengan deheman. Miyoung menggerakan matanya gelisah, jarinya yang bertaut juga ikut bergerak tak menentu.

"I-itu, kemarin, em itu ng, A-appa dan d-daddy telepon k-katanya mereka akan kembali, d-dan emh men-menjodohkanmu nanti," ujar Miyoung terbata-bata namun didengar sempuna oleh Chanyeol. Mendadak ia menginjak remnya di tepi jalan.

CKITT

"W-what?!" teriak Chanyeol spontan tidak terima, abad berapa ini? Kenapa ada jodoh-jodohkan segala?

"Pasangan gay itu! Kurang ajar!" ujrnya dengan teriak tidak sopan. Pasangan gay? Hey, meski gay, itu tetap orang tuanya.

"Oppa! Berhenti mengatakan mereka pasangan gay! Mereka tetap orang tua kita!" hardik Miyoung tidak terima. Meskipun ini kakaknya sendiri, ia tetap tidak terima.

"Lihat saja! Kalau sampai aku di jodohkan dengan lelaki, aku tidak terima!"

"Ya sudah aku saja yang menikah dengannya kalau begitu!"

"Tidak boleh!"

"Kau bilang tidak mau, kan?"

"Tapi kau tidak boleh menikah dengannya! Kau harus kuliah dahulu! Bagaimana kalau ternyata dia tidak cocok denganmu? Bagaimana kalau dia ternyata penyiksa? Ba-"

"Kau mengidap brother complex huh?"

"Persetan! Pokoknya kau tidak boleh di jodohkan seperti itu juga, aku tahu kau mempunyai seseorang kau cintai, Young-ah!"

"Tidak!" elaknya.

"Lalu, kau kira aku tidak tahu hubunganmu dengan Kris saat kau di America, hah?"

"Penguntit."

"Terserah!"

-0o0-

"Eomma," suara rengekan terdengar terus menerus demi meluluhkan hati sang Ibu agar tidak menyuruhnya membawa kakaknya Byun Baekbeom juga. Itu menyebalkan, sepanjang perjalanan ia pasti jadi bahan bully kakaknya.

"Kau akan menikah, mereka harus tahu seluruh anggota keluarga kita!" Baekhyun mencebikan bibirnya kesal.

"Kalau begitu pisahkan mobil kita berdua!"

"Tidak! Kau kenapa, sih?" Sang Ibu menyerit heran melihat tingkah anaknya yang minta menjauh dari kakaknya. Memang, dari dulu mereka selalu saling ejek apalagi kakakya yang paling usil itu.

"Ancam saja dia! Pokoknya dia tidak boleh mengataiku! Argh, dia menyebalkan, bu!" rengek Baekhyun sembari bergelayut di tangan Ibunya yang tengah merapikan bajunya.

"Baiklah! Sekarang kau ganti bajumu, Ibu dan kakak tunggu di bawah." Baekhyun tersenyum kecil, mengingat tak lama ia melepas masa lajang walau dia belum lulus sekolah. Ia memasuki kamarnya dan menatap jas yang akan di pakainya dengan nanar.

"Demi Ibu, untuk ayah juga. Mereka sudah berjuang kini aku juga harus membantu mereka!" yakin Baekhyun. Ia mengambil jasnya dan meletakannya ke kasur dan mulai mengganti bajunya. Ia menatap pantulannya di cermin besar yang menempel di dinding kamarnya.

"Aku memang tampan."

"Baekhyun cepat!" teriak Ibunya dari bawah menggelegar hingga ke kamarnya. Buru-buru Baekhyun merapikan jas putihnya dan keluar menemui ibunya.

"Wow, aku baru tahu kau begitu cantik, Baek." Seru sang kakak ketika Baekhyun sampai ke bawah. Yang mendengar itu hanya memutar bola matanya malas.

"Aku tampan, hyung."

"Baiklah, ngomong-ngomong selamat ya! Sebentar lagi kau akan melepas status lajang-mu dan meninggalkan Taeyeon sendirian, hahahah!" tawa Baekbeom menggelegar, Baekhyun kesal bukan main sedari awal bertemu Taeyeon kakaknya ini memang tidak menyukai sifat Taeyeon yang terkesan overprotective dan egois.

"Diamlah! Kenapa kau harus menikah duluan, hah? Yang kena jadinya aku kan!" Baekbeom memutar bola matanya malas. Tak mau berlama-lama ia menarik tangan Baekhyun keluar rumah dan masuk ke dalam mobil, menemui sang Ibu yang sudah menunggu di dalam mobil.

"Jangan tarik tarik!" hardik Baekhyun ketika di depan pintu mobil.

"Kau terlalu lama seperti siput!"

"Yach!" Kaca mobil depan tiba tiba terbuka menampakan wajah horror sang Ibu.

"Ce-pat ma-suk!" hanya 4 kosakata itu dapat membuat mereka diam dan menurut. Selama perjalanan tidak terjadi percakapan panjang mengingat Baekbeom diancam akan di jauhkan dari istrinya bila bertengkar dengan Baekhyun lagi dan itu membuat Baekhyun tak tahan untuk tidak tertawa keras, Ibunya yang terbaik. Namun belum selesai, si Ibu mengancam Baekhyun akan di kembalikan ke America lagi bila menggagalkan pernikahan ini-karena itu sudah masuk daftar list yang akan di lakukan Baekhyun malam ini-, coret untuk kalimat 'Ibunya yang terbaik' ganti menjadi 'Ibunya memang kejam'.

"Ayo, masuk. Ini rumah calon kamu, Baekhyun." Yang di panggil hanya membuka mulutnya membentuk 'o' kecil. Besar, bahkan bila rumahnya di pindah ke tanah ini bisa di bangun kurang lebih 3 rumahlagi.

"Baekhyun." Tegur sang Ibu membuat Baekhyun tersadar dari lamunannya. Baekbeom tertawa keras melihat wajah bodoh-linglung- Baekhyun.

"Ouch, sial!" umpatnya membuat tawa Baekbeom semakin keras.

"Jangan bercanda terus! Cepat masuk dan beri kesan yang baik! Bila gagal aku benar-benar akan mengembalikan mu ke Amerika dan kau-Baekbeom- istrimu akan ku seret ikut ke Eropa nanti!"

Tuhkan Ibu memang kejam!

"Yoona!" teriak seseorang dari pintu masuk. Ia berlari memeluk Yoona-Ibu Baekbeom dan Baekhyun- dengan erat seperti baru bertemu setelah berpuluh-puluh tahun.

"Jae! Kita baru bertemu 2 hari yang lalu! Kau merindukanku?"

"Sangat! Oh, apakah itu kedua anakmu?" Jaejoong menatap Baekhyun dan Baekbeom dengan mata berbinar.

"Ya, yang memakai jas hitam Byun Baekbeom dan yang jas putih Byun Baekhyun, calon menantu mu, Joongie," ujar Yoona seraya bergelayut di tangan Jaejoong.

Tante genit, hih.

"Aigoo, kau cantik sekali!" Jaejoong menangkup kedua pipi Baekhyun dengan kedua telapak tangannya. Baekhyun mendadak muram, apalagi mendengar suara tawa kakaknya.

"Aku tampan, paman."

"Ouch! Panggil aku appa! Ya, kau sangat tampan! Ya, kalau kau bertukar wajah dengan kakakmu!" Jaejoong membuat suasana menjadi hangat dengan berbagai candaan yang ia buat, sampai ia teringat kalau masih berada di halaman depan.

"Ah, iya! Ayo masuk! Suamiku sudah di dalam!" ajak Jaejoong membuat 2 insan kakak-beradik menyerit heran.

"Suami?" gumam mereka bersamaan. Jaejoong tidak mendengar karena ia sudah di depan pintu, Ibu mereka yang mendengar langsung menatap tajam keduanya.

"Mereka gay! Sudah jangan membuat suasana tidak enak! Nanti juga kau seperti itu, Baek." Bisik Yoona membuat Baekhyun menyerit heran. 'Nanti kau juga seperti itu' apa maksudnya? Mereka masuk dan di sambut oleh seorang perempuan yang membuat mata Baekhyun membulat sempurna.

"Venice?"

"Baek oppa? Ah! Aku merindukanmu!" Venice atau Park Miyoung langsung memeluk sahabatnya, Baekhyun membalas pelukan Miyoung dengan tak kalah erat.

"Venice? Di nama aslinya Park Miyoung, Baekhyun-ssi." Suara baritone mengejutkan mereka berdua.

"Ah, kau Park Chanyeol kan?" Baekhyun tersenyum-untuk menghormati saja-.

"Ish! Oppa kau tau kan namaku di Amerika itu Venice! Maklum Baekhyun oppa kan kenal aku di America!" Miyoung mencebikan bibir bawahnya dan bersendekap dada. Chanyeol yang melihat itu gemas dan mengusap rambut Miyoung.

Sejenak pikiran Baekhyun melayang, bila Venice salah satunya perempuan di keluarga ini, maka ia akan di nikahkan dengan Venice? Ia tersenyum samar akan permikirannya.

"Mari masuk."

-0o0-

PUFF UHUK

"Apa?!" jerit Baekhyun histeris. Semua yang di meja makan keramat itu hanya melanjutkan makanannya dengan tenang, sudah di duga. Nyonya Byun menatap anaknya tajam seolah pandangan itu bisa menguliti anaknya, Baekhyun.

"Yang so-pan! Kan sudah mama bilang nanti kau seperti mereka, orang tua mereka!" bisik sang Ibu dengan nada menusuk. Baekhyun menelan ludahnya dan berdiri dari tempat duduknya dan menunduk meminta maaf. Berbeda dengan yang satu lagi, ia mengeraskan rahangnya.

"Aku selesai, permisi." Dentingan antara sendok garpu dengan piring beradu tersebut menggema di seluruh ruangan. Baekhyun entah kenapa merasa menjadi tidak enak. Tuan Park menghela nafas panjang melihat punggung anak sulungnya melenggang pergi, sedangkan 'suaminya' mencoba menenangkan Tuan Park agar tidak terpancing emosi.

"B-biar aku yang menyusulnya." Baekhyun berdiri dan membungkuk sebentar lalu mengejar Chanyeol yang berada di halaman belakang.

"C-chanyeol?" Panggil Baekhyun lirih yang dipanggil tidak merespon. Baekhyun menelan ludah gugup merasakan atmosfer di sekitar terasa dingin.

"Maaf, kalau saja perusahaan ayahku tidak mengalami penurunan dan membutuhkan bantuan 'Appa' mu pasti kau tidak di nikahkan. Apalagi… aku laki-laki." Baekhyun menghela nafas sebentar dan mendudukan dirinya di bangku panjang yang di duduki Chanyeol sembari menatap langit yang bertabur bintang.

Chanyeol menoleh ke arah Baekhyun yang terlihat menikmati udara malam dengan memejamkan matanya. Entah apa yang merasuki pikirannya, sempatnya ia berpikir bahwa Baekhyun itu cantik, bahkan sangat cantik. Kulit putih susunya, mata indahnya, hidung mungilnya, bibir tipisnya yang er… tampak menggoda?

Singkirkan pikiran mesummu Park Chanyeol!

Chanyeol menggeleng-gelengkan kepalanya dan menyerit bingung karena mendadak ia seperti terkena penyakit jantung? Entah kenapa jantungnya berdetak 2 kali lebih cepat dari biasanya. Mendadak ia takut terkena komplikasi jantung. Baekhyun tak jauh berbeda, bila halaman ini tidak remang-remang maka terlihat jelas rona merah di sekitar pipinya. Siapa yang tidak salting huh bila di tatap intens begitu?

Love at first sight, huh?

Baekhyun segera tersadar lalu beranjak berdiri dan menarik tangan Chanyeol.

"Let's back, dude!" Baekhyun tersenyum manis dan akhirnya si jakung mau berdiri dan di geret kembali ke meja makan. Seluruh penghuni di meja makan seketika sedikit riuh ketika seorang Baekhyun dapat menggeret Chanyeol kembali ketempat semula.

Golden moment

"Aw, oppa kau hebat! Bahkan aku adiknya saja kalah untuk menggeret Yoda ini."

"Diam anak kecil!"

"Yacch!"

"Jangan memulai pertengkaran!" intrupsi Tuan Park membuat suasana kembali hening. Sedangkan Baekhyun sibuk menghilangkan rona merahnya. Bila kakaknya belum pulang karena istrinya kembali mengidam maka ia akan mengejek ia sekarang.

"Oh ya! Baekhyun besok kau akan satu sekolah dan sekelas dengan Chanyeol! Dan besok siang kau bawa barang-barangmu dan pindah ke rumah ini, ya? Kau tidak keberatan kan Yoona?"

"Tentu!"

"Apa?!"

To Be Continue

Any one like this fanfict? Sorry if this so bad for newbie, haha. I know I'm not good for this. Please comment what do you think about this fanfict? Bad? Unattractive? Haha just comment something. I need your comment guys!

-Ve. August 5th, 2016.