Title: Ije Mak Shijaktwen Iyagi (The Story Has Just Begun) – Hello Again

Genre: Family. Romance.

Rate: Saat ini masih PG-15

Cast: Jung Yunho, Kim Jaejoong, Shim Changmin. Cast lain menyusul

Disclaimer: Saya cuma pinjam nama. Yunho milik Jaejoong dan Jaejoong milik Yunho. Plot is mine.

Pairing: Of course Yunjae.

Warning: AU. OOC. BL. MPREG

Note: Italic = flashback

.

[The Story Has Just Begun – Hello Again]

.

Alunan musik kafe masih menemani dua namja yang belum membuka suara sejak hampir sejam yang lalu mereka datang ke tempat itu.

~yunjae~

"Kim Jaejoong?"

"Ye?"

"Benar kau Kim Jaejoong?"

Namja yang dipanggil "Kim Jaejoong" itu berpikir sebentar.

"Aaaah Jung Yunho?" ujar Jaejoong setelah mengingat siapa namja tampan di hadapannya. Tak lupa ia memberikan deathglare-nya.

"Ne. Kau masih ingat aku ternyata."

Jaejoong mendengus, "Tak usah basa-basi. Ada apa? Aku sibuk, tak ada waktu berurusan denganmu."

"Aku sudah lama mencari-carimu. Akhirnya bisa bertemu, aku tak ingin menyia-nyiakannya. Kau tidak sedang buru-buru kan? Kita bicara sebentar di kafe itu." ujar Yunho sambil menunjuk sebuah kafe yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.

~yunjae~

"Tidak jadi bicara? Baiklah, aku pergi." ujar Jaejoong sambil beranjak.

"Tunggu dulu.."

PLAKK

"Jangan sentuh aku, Jung Yunho!"

Yunho melepaskan genggaman tangannya pada Jaejoong.

"Mianhae. Duduklah."

Jaejoong menghela napas kemudian memutuskan untuk duduk kembali.

"Changmin anak kita, kudengar ia sering ke rumahmu akhir-akhir ini?"

"Aaah anak itu? Ne, sudah 2 bulan ini."

"Dia lucu kan? Benar-benar perpaduanku denganmu."

"Kau meminta ingin bicara hanya ingin mengatakan hal tak penting semacam itu? Kau benar-benar membuang waktuku, tuan Jung."

"Changmin.. sangat merindukanmu."

DEG

Tiba-tiba hati Jaejoong berdesir.

"Dua bulan lalu, aku menunjukkan fotomu pada Changmin dan bilang padanya kalau kau adalah eommanya. Dia selalu bertanya padaku dimana rumahmu tapi aku tidak memberi jawaban karena aku pun tak tau. Tak berapa lama dia mengatakan kalau dia mengikuti seseorang yang mirip denganmu sampai rumah dan ternyata itu benar rumahmu. Saat aku minta alamat rumahmu, dia tak mau memberitahukannya karena dia takut aku menyakitimu. Dia.. anak yang pintar, ne?"

"Huh? Pintar apanya? Merepotkan tau!"

"Benarkah dia merepotkanmu? Kalau begitu akan aku kirim orang untuk mengawasinya."

"Mengirim orang ya?"

"Ye?"

"Apa hanya itu yang bisa keluargamu lakukan? Mengirim orang kepercayaan untuk mengawasi orang lain?"

Yunho terbelalak kaget. Benar kata Jaejoong, keluarganya punya banyak mata-mata untuk mengawasi beberapa teman dekat atau kerabat yang dicurigai akan menusuk keluarga Yunho untuk Jung Corp, perusahaan yang dibangun oleh Jung Ji Hoo – ayah Yunho dan kini sudah menjadi perusahaan ternama yang memiliki cabang dimana-mana dan pasti memiliki aset kekayaan yang jumlahnya fantastis.

Tapi Jaejoong mengatakannya dengan mata yang penuh kilatan amarah. Apa yang ia dan keluarganya sering lakukan itu adalah sesuatu yang salah?

"Ini kartu namaku. Kalau butuh sesuatu, hubungi aku saja."

"Kalau aku menghubungi untuk minta bantuanmu, apa kau akan datang? Atau justru 'orang suruhan'mu yang datang?" tanya Jaejoong dengan menekankan kata 'orang suruhan' pada kalimatnya.

"Aku pergi dulu. Simpan kartu namaku. Siapa tau berguna."

"Apa kau merasa bersalah jadi ingin kabur begitu saja? Harga diri keluarga Jung memang sangat tinggi, tapi berbanding terbalik dengan perbuatan kalian yang rendah."

"Tolong jangan pancing kemarahanku, Kim Jaejoong. Aku harus pergi karena ada urusan mendadak. Aku akan membayar semua makanannya. Aku pergi, ne. Annyeong."

"Cih. Dia yang mengajak bicara, dia juga yang pulang duluan." cibir Jaejoong kemudian berlalu pergi.

"Maaf, nona. Ada sesuatu tertinggal di meja yang Anda tempati." kata salah seorang pelayan pada Jaejoong.

"Aah itu sampah. Buang saja.. "

Jaejoong membalik badannya menghadap sang pelayan. Kemudian memberikan deathglare-nya.

"Dan lagi.. jangan panggil aku nona. Aku ini namja!"

Pelayan itu terbelalak.

"Joseonghabnida." ujar pelayan itu sambil membungkukkan badannya.

~yunjae~

Changmin yang sedari tadi meringkuk di depan pintu rumah Jaejoong langsung mengangkat wajahnya menyadari kedatangan seseorang dan senyum pun terkembang di wajah imutnya saat melihat orang yang datang adalah sang pemilik rumah.

"Eommaaaaa.."

Jaejoong pun mendesah pelan.

'Hhhhh.. lelah baru pulang, malah harus repot mengurus anak satu ini.'

Jaejoong membuka pintu rumahnya, Changmin pun segera melesat masuk ke dalam. Lancang? Tentu tidak, toh itu rumah eommanya sendiri, eomma kandungnya.

"Hhhh.. aku lelah. Tidak ada waktu untuk mengurusmu. Pulanglah."

"Tapi Min kangen eomma."

"Pulanglah sebelum aku emosi."

"Tapi, eomma..."

"YA!"

Dibentak seperti itu tentu membuat Changmin terkejut, tak lama matanya pun berkaca-kaca. Susah payah ia tahan isakannya.

"Neee ne, kau boleh main di sini. Tapi jangan merepotkan arra?"

"Allaceo, eomma... Eomma lelah, ne? Mau mandi? Min ciapkan ail panas ne buat eomma?"

"Anak orang kaya dan manja sepertimu menyiapkan air panas?"

"Min bukan anak manja, eomma. Min anak yang mandili."

"Jinjjayooo?" tanya Jaejoong memastikan dengan tatapan dan nada yang sangat meremehkan.

"Uhm. Eomma lihat cendili, ne?"

Changmin pun melangkahkan kaki-kaki kecilnya dengan cepat menuju kamar mandi.

Satu jam berlalu..

Tidak ada tanda-tanda Changmin selesai dari acara menyiapkan air panasnya. Jaejoong pun memutuskan melihat ke kamar mandi.

"Yaaa.. masih berapa lama lagi aku harus menung.. Ige mwoya?! Kenapa bisa seperti kapal pecah begini?" kesal Jaejoong melihat keadaan kamar mandinya yang sangat kacau.

"Mian, eomma. Min belkali-kali telpelecet. Min janji akan membeleckannya. Eomma duduk caja."

"Sudah sudah, aku saja yang bereskan."

"Eomma macih malah cama Min?" tanya Changmin dengan nada sedih.

"Hhhh, aniya. Walaupun aku tidak menyukaimu, aku tetaplah manusia yang memiliki rasa kemanusiaan. Tidak mungkin aku membiarkan anak kecil sepertimu membereskan ini sendirian. Lagipula seluruh pakaianmu basah. Kau mandilah, biar aku yang bereskan."

"Aciiik, mandi belcama eomma."

"Ya! Aku tak bilang ingin memandikanmu."

"Tapi cetidaknya eomma ada belcama Min caat Min mandi. Min cenang."

Segera Changmin melepas pakaiannya dan mandi dengan wajah yang menunjukkan ekspresi bahagia.

~yunjae~

"Appaaaaaa…" seru Changmin sambil menghampiri appanya yang baru saja pulang, tak lupa tangannya ia angkat ke atas meminta gendong.

Yunho pun menggendong anaknya itu kemudian membelai rambutnya dengan sayang.

"Appa, tadi Min ke lumah eom.."

Merasa akan terjadi suatu hal yang tidak menyenangkan apabila Changmin melanjutkan kalimatnya dengan lengkingan 9 oktafnya, Yunho segera meletakkan jari telunjuknya di depan mulutnya mengisyaratkan anaknya untuk mengecilkan volume suaranya.

"Min tadi ke lumah eomma.." bisik Changmin.

"Ne. Kita mengobrol di kamar appa saja." balas Yunho dengan berbisik pula.

.

Sementara appanya berganti pakaian, Changmin berceloteh

"Appa, tadi Min mandi baleng cama eomma.."

Yunho yang sedang melepas dasi malah tercekik dasi itu saking terkejutnya. Alhasil, Jung tampan itu terbatuk-batuk.

"Appa, gwenchanayo?" tanya Changmin sambil menghampiri appanya lalu menarik-narik celana Yunho.

"Ne. uhuk.. gwenchana. Bagaimana bisa kau mandi bersama eomma?"

"Cepelti biaca Min menunggu eomma di depan lumah. Telnyata eomma belum pulang caat Min campai cana, tumben cekali eomma telat pulang.."

'Jadi Jaejoong tidak memberitahu Changmin kalau dia bertemu denganku.' bathin Yunho di sela-sela cerita Changmin.

"… kalena eomma lelah, Min ingin menyiapkan ail panac untuk eomma mandi tapi caat celecai dan ingin kelual kamal mandi, Min malah telpelecet. Belantakan deh cemuanya. Min coba beleckan tapi teluc caja telpelecet kalena lantainya licin penuh cabun. Eomma datang dan menyuluh Min mandi kalena baju Min bacah cemua dan eomma yang membelesckan kamal mandinya. Walaupun malah-malah, Min bica melacakan pelhatian eomma yang tidak ingin Min macuk angin. Benal kan, appa?" ujar Changmin panjang lebar.

"Ne, Minnie benar." sahut Yunho sambil menghampiri anak semata wayangnya itu.

"Appaa, Min ingin tinggal belcama eomma.."

"Eh? Kenapa tiba-tiba bilang begitu?"

"Min kan anak eomma, maca haluc ada alacan untuk tinggal belcama eomma.."

"Yeah, tapi bersabarlah sebentar lagi, ne?"

"Belcabal untuk apa? Cebental lagi campai kapan, appa?"

"Bersabarlah sebentar lagi sampai kau bisa tinggal bersama eomma.. dan appa."

"Belcama appa juga? Memangnya eomma mau? Bukannya eomma membenci appa? Appa cendili kan yang bilang.."

"Karena itu appa menyuruh Minnie bersabar, appa tidak akan menyakiti eommamu dan berusaha mendapatkan maafnya lalu kita tinggal bersama."

"Apa appa cengaja melayu Min agal Min mau membelitau alamat lumah eomma?" selidik Changmin dengan memberikan tatapan tajam yang justru terlihat lucu bagi Yunho.

"Aniya. Appa benar-benar tulus ingin meminta maaf pada eommamu dan ingin kita bertiga tinggal bersama. Appa benar-benar merindukan eommamu."

"Min juga.. Min celalu lindu eomma." lirih Changmin sambil memeluk Yunho yang duduk di sampingnya.

Yunho balas memeluk Changmin kemudian membelai rambut Changmin dengan sayang.

"Apa lacanya cenyaman ini bila dipeluk eomma?"

Yunho memandang anaknya terkejut. Kemudian mengangguk menjawab pertanyaan Changmin.

"Eomma.." gumam Changmin sambil merapatkan pelukannya pada Yunho.

Yunho yang merasa bajunya basah dan mendengar Changmin yang terisak segera berusaha melepaskan pelukannya pada anaknya itu namun Changmin menahannya.

"Minnie.."

"Jangan dilepac, appa. Hiks. Min.. hiks.. macih ingin dipeluk. Min tidak .. hiks menangic kok." ucap Changmin sambil mengelap air matanya cepat-cepat dengan tangan mungilnya.

"Ne, anak appa tidak menangis karena Changmin adalah anak yang kuat." ujar Yunho sambil mengeratkan pelukannya terhadap Changmin.

TBC