Naruto menguap lebar-lebar, hari ini ia dirundung kantuk yang amat sangat. Bukan salahnya yang dipekerjakan bak mesin oleh Kakashi, atasannya yang terkenal dengan disiplin tingkat tinggi. Ia jadi harus mengerjakan bahan presentasi untuk pagi ini hingga larut malam. Tiga cangkir mochachino favoritnya menemani malam panjangnya.

Tangan kanannya menggenggam tiang supaya ia dapat mempertahankan keseimbangan dalam posisi berdirinya yang berada di dekat pintu masuk gerbong kereta. Kepalanya tertunduk dan tegap berulang kali, desiran kereta yang khas menjadi backsound tidurnya seolah tidak mengganggunya. Ramainya penumpang pagi itu hingga ia harus berdesak-desakan diantara lautan manusia juga tidak membuat rasa kantuknya surut, justru malah semakin menjadi-jadi.

"Naru, Kaa-chan sudah ingin menggendong cucu. Kapan kau akan memberikannya?" entah mengapa, malah ucapan ibunda tercintanya itu terlintas dibenaknya saat ia tengah berjuang antara tidur dan tetap terjaga.

"Secepatnya." Hanya satu kata yang ia berikan jika ada orang yang menanyakan perihal pernikahan. Harapan untuk dirinya segera menikah pupus ketika status lajang yang tengah disandangnya seakan menolak melepas jeratannya. Dia masih betah sendiri dan jodoh pun seolah enggan menghampirinya.

"Semoga kau cepat bertemu jodohmu," do'a salah satu temannya yang telah berhasil melepas status lajang. Ucapan temannya itu memang baik, sayangnya ada satu kekurangan yang cukup fatal. Jodoh yang hanya dipertemukan, bukan untuk saling mengikat janji suci. Bertemu bukan berarti harus menjadi pasangan bukan?

Kelopak matanya perlahan terbuka sepenuhnya ketika dirasa ujung sepatunya menyentuh sesuatu yang bergetar dan bercahaya. Tangan kanannya melepaskan genggamannya pada tiang, ia mengambil benda tipis tersebut. Sebuah handphone berwarna lavender dengan gantungan berbentuk rubah kecil.

Pintu gerbong kereta yang terbuka menarik perhatian semua khalayak yang menjadi penumpang kereta saat itu. Mau tak mau, ia terdorong keluar kereta sebelum berhasil menemukan pemilik smartphone tipis nan elegan tersebut.

Jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul tujuh kurang lima membuatnya terpaksa menghentikan aktivitas pencariannya. Ia memasukannya ke dalam saku celana tanpa menyadari seorang gadis bersurai indigo yang tampak kesulitan mencari smartphonenya yang hilang.

...

Gold Circle

Disclaimer : Mashasi Kishimoto

Rate : T

Pair : Naruto x Hinata

Summary :

Aku tampan, aku mapan, aku berkharisma, sayang aku masih lajang. Dia baik, dia cantik, dia manis , sayang dia sudah ada yang punya.

...

"Wajahmu tampak kusut siang ini, Naruto!" seorang gadis dengan pakaian ala pelayan kafe duduk dihadapannya sembari memeluk nampan. Aroma perpaduan coklat dan kopi menguar dari secangkir mochachino hangat yang tersaji diantar kedua manusia yang tengah melakukan perbincangan hangat tersebut. Naruto membaringkan lehernya disenderan kursi, ia sedikit mendongak ke atas.

"Ah ... kau seperti tidak tau saja," pandangannya kembali kepada mochachino, ia mulai menyeruput kopi itu sebelum bertambah dingin. Kopi memang cocok untuk melepaskan penat, terutama untuk pekerjaan dibalik meja seperti yang dikerjakan Naruto.

"Mungkin kau harus mencari seorang pendamping, ia bisa jadi pelepas penatmu," dia menjentikan jari. "Tentunya selain kopi."

"Pendamping? Kau sendiri masih melajang!" Naruto menatap tajam gadis yang besurai merah muda, Sakura. Teman satu SMAnya dulu yang sudah memiliki pekerjaan sebagai pengelola bisnis kafe kopi ternama serta hobinya yang menjadi seorang desainer interior. Tak heran dengan para pelanggan kafenya yang betah berjam-jam lamanya, kalau bukan karena racikan kopi spesial dan interior ala klasik yang menambah kualitas kenyamanan kafe. Kerap kali ia menikmati pekerjaannya dengan ikut terjun langsung melayani para pelanggan kafenya, seperti yang sedang ia lakukan sekarang ini.

"Itu hanya masalah waktu, aku hanya sedang menikmati masa-masa pembangunan karir kami. Lambat laun, Sasuke dan aku juga akan melangkah ke jenjang selanjutnya. Berbeda denganmu," bela Sakura. Sasuke adalah sahabat terdekat Naruto yang sedang menjalin asmara dengan Sakura. Naruto mengerti bahwa gadis yang menjadi sahabat masa semenjak kecilnya itu tergila-gila dengan pemuda yang memiliki tampang cukup tampan dan watak yang sedingin es.

"Kau menyebalkan –dattebayou!" Naruto menegak kopinya hingga habis, rasa pahit dan manis bersatu padu didalam mulutnya.

Drrtt... Drrrtt...

Naruto merogoh saku kirinya, ia mengeluarkan smartphone putih miliknya. Aneh, bukan smartphonenya yang bergetar, ia juga masih merasakan getarannya. Ia teringat, smartphone yang ia temukan berada di saku lainnya.

"Moshi-moshi, pasti anda pemilik smartphone ini kan?" tanya Naruto, to the point.

"A-ah ... iya, saya pemiliknya, bisakah anda mengembalikannya? Saya sangat membutuhkannya."

"Gomen ne, saat ini saya sedang ada urusan pekerjaan, bagaimana jam lima sore nanti di O kafe?"

"Baiklah, saya Hyuuga Hinata, anda?"

"U-Uzumaki Naruto, saya mengenakan jaket hitam-orange."

"Ya, arigatou, Uzumaki-san!"

Gadis yang bernama Hinata menutup sambungan telepon terlebih dahulu. Naruto memandang nomor telepon yang tertera dilayar sebentar sebelum mengembalikan smartphone tersebut ke sakunya.

"Ehm..."

"Apa menatapku begitu? Menjijikan!" Naruto meletakan sejumlah uang dimeja dengan sedikit sentakan, ia melangkah meninggalkan Sakura yang hendak tertawa. Jarang-jarang seorang Sakura tertawa berlebihan kalau bukan karena aksi malu-malu kucing Naruto dengan pipi yang bersemu merah, jangan lupakan caranya yang terbata-bata dalam menyusun kata.

...

Naruto memandang jam tangannya lekat-lekat, enam belas lewat lima puluh lima menit yang ditunjukan angka digital tersebut. Pandangannya hanya berkutat pada jam tangan dan pintu masuk kafe. Kebetulan Sakura sedang tidak berada di kafenya, seandainya ada ia pasti akan mengundang beberapa teman lainnya untuk menonton drama percintaan yang diperankan sahabat tercinta mereka.

Seorang gadis bersurai indigo dengan scarf merah yang membelit lehernya menjuntai hingga melebihi pinggang. Nuansa dingin yang mengawali musim dinginlah yang membuatnya berpakaian serba menutup seperti itu, mantel berwarna peach dipadu dengan celana dan sepatu berwarna gelap.

Pandangan matanya menyelusuri setiap sudut kafe. Sorot matanya terhenti pada seorang pemuda berpakaian jaket hitam-orange yang duduk di depan kaca jendela kafe. Gadis tersebut menghampiri spot Naruto.

"Uzumaki-san?" Hinata sedikit merendah dihadapan Naruto yang masih memandang keluar jendela. Naruto yang merasa namanya dipanggil menoleh ke arah orang yang memanggil namanya, senyum simpulnya tercipta. Saat ia mendengar namanya disebut, ada desiran aneh dihatinya.

"Hyuga-san yah? Iya, silahkan duduk!" Naruto mempersilahkan Hinata duduk dihadapannya.

"Apa saya terlambat?" tanya Hinata basa-basi.

"Tidak, Hyuga-san. Anda datang tepat waktu." Naruto menyerahkan smartphone yang ia simpan di saku kepada Hinata.

"Arigatou," Hinata mengambilnya dan menyimpannya di dalam saku mantelnya.

Naruto menawarkan pesanan minum kepada Hinata, gadis itu memesan expresso mochiato yang umumnya kurang disukai oleh kaum wanita, sedangkan pesanan dirinya seperti biasa, mochachino.

"Bagaimana bisa benda ini bersamamu, Naruto-san? Ku pikir, smartphoneku sudah terinjak dan terpental keluar kereta akibat tertendang oleh kaki penumpang lainnya."

"Kebetulan smartphonemu mengenai ujung sepatuku, aku hanya reflek mengambilnya. Gomen ne, aku tidak sempat mencari pemiliknya saat itu," ujar Naruto jujur, tak henti-hentinya pandangan Naruto beralih dari mata yang seindah rembulan itu.

Setidaknya ia harus mengakui perasaan itu saat ini, ia telah merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama pada gadis dihadapannya, Hyuga Hinata.

Dua cangkir kopi telah tersaji diantara mereka.

"Salahku yang memainkan smarphone disaat suasana kereta sedang ramai-ramainya begitu, aku benar-benar ceroboh." Naruto hanya tersenyum manis mendengarnya.

"Jika kau tidak menjatuhkan smartphonenya, kita tidak akan bertemu dan aku tidak akan jatuh cinta padamu, Hinata-chan."

TBC~

...

Hai, pururukuru bangikit dari kehiatusan! Coba tebak, berapa lama puru menghilang? 3 bulan? 4 bulan? Mungkin lebih dari itu. Tapi yaa kan yang penting, now i'm here! Puru publish cerita baru! Menelantarkan cerita lama tanpa basa-basi (pengakuan dosa). Puru juga tau rasanya dikacangin berbulan-bulan, a-abis tuh ... hiks ... discontinue *narik tisu* Hiks *SROOOT!*

Q : Kapan update?

A : Yaa ... kalau i-itu, ya ... (mainin jari).

Rencananya ada cerita yang mau puru remake. Ditunggu yah!

Untuk teman-teman author tercinta, update kuy! Sebagai pembaca juga, puru ngarepin author lain update loh!

Selamat hari raya idul fitri! /telat.

18.26

05/08/2016

pururukuru