Bleach Tite Kubo
"Terpukau" part 1
Rate T :: kemungkinan hanya 2 s/d 3 part
.
Rukia mencuci tangannya di wastafel toilet. Cermin besar di hadapannya menampakan bayangannya. Berniat merapikan anak rambutnya, Rukia menyisir ulang tatanan rambutnya. Ekor matanya melirik melalui cermin besar itu ketika terdengar suara pintu salah satu bilik kamar mandi terbuka.
Pantulan bayangan Orihime melalui cermin terlihat olehnya.
"Rukia.."
Dipanggil oleh rekan kerjanya, Rukia mengukir senyum. "Kamu kenapa, Orihime?" tanya Rukia membalikkan badannya ke arah Orihime yang masih berdiri sembari merapikan roknya. Terlihat wajahnya sedikit gelisah.
"Hari kedua, lagi banyak-banyaknya! Khawatir tembus," jelas Orihime melangkah ke arah wastafel. Mencuci tangan dan merapikan dandanannya.
Rukia hanya mengangguk dan melirik ke arah rok belakang Orihime sekedar memastikan kekhawatiran gadis berambut blonde itu tidak terbukti. "Aman," gumam Rukia.
Orihime mengangguk, "Syukurlah!" Ia membedaki lagi wajah cantiknya dan memoles ulang bibirnya dengan lipstik.
Rukia masih berkutat dengan rambutnya. Bentuk tatanan ini membuatnya susah, terpikir olehnya memotong model pendek agar lebih mudah mengaturnya. Rambut hitamnya terlalu panjang, mencapai punggungnya.
"Rukia..."
"Ya!" jawab Rukia singkat.
"Kamu masih mengingat Ichigo?"
"Tentu! Rekan bisnis kita, kan? Kenapa dengannya?" Rukia bertanya balik.
"Menurutmu, apa aku pantas berdampingan dengannya?"
Jepit rambut Rukia terlepas dari pegangannya dan membuat rambut tercepolnya kembali terurai. Wajah gadis itu tanpa sadar menganga kaget. Segera Rukia mengontrol kerja pikiran, hati beserta emosinya. "Te—terima kasih," gagap Rukia menerima jepit rambutnya yang sengaja dipungut Orihime untuknya.
Orihime menyandarkan punggungnya di tepian wastafel. Ujung sepatu high heelnya dimainkan hingga menciptakan bunyi-bunyian di tengah hening kaget Rukia. "Kamu ingat saat aku bercerita tentang perasaan sukaku pada teman kuliahku?" Orihime memperhatikan Rukia yang serius memandanginya. Gadis Kuchiki mengangguk paham tanpa perduli dengan kondisi rambutnya. Ucapan Orihime ratusan kali menarik minatnya dalam keingintahuan.
"Dia yang aku maksudkan. Ichigo Kurosaki, teman kuliah yang diam-diam aku sukai," jelas Orihime dengan menunduk malu.
"Lalu? Apa terjadi sesuatu?" tanya Rukia penasaran. "Bukankah kamu bilang kalian bertemu kembali setelah wisuda kelulusan baru terjadi sekitar tiga sampai empat bulan yang lalu. Tepatnya saat pertemuan dua perusahaan membahas kesepakatan kerja sama?" Rukia tidak bisa menahan insting wartawannya. Ia terlalu banyak mengajukan pertanyaan yang mengundang senyum kecil di Orihime.
Rukia kikuk dan menyesal, "Maaf, aku terlalu menggebu untuk mengetahui—"
"Tidak apa-apa, Rukia! Kamu satu-satunya teman yang aku ceritakan mengenai cinta diam-diamku ini," Orihime mengatakan semua baik-baik saja Rukia bertanya sebanyak itu.
"Aku senang jika teman baikku menanggapi curhatanku ini. Rasanya memalukan sekali jika orang-orang itu tahu kalau aku tidak memiliki keberanian mengatakan perasaan sukaku dan hanya mampu mengaguminya secara diam-diam," jelas Orihime.
Rukia menepuk bahu Orihime, "Itu bukan masalah, Orihime. Yang mengetahui siapa dirimu ya cuman kamu. Jangan perdulikan omongan orang lain. Acuhkan dan anggap saja angin lalu," Rukia menasehati. "Lalu katakan kenapa kau membahasnya sekarang?"
Orihime sejenak berpikir. Rukia sampai mengerutkan keningnya menunggu gadis itu berbicara.
"Sial, kenapa ia lamban berpikir? Tidak tahu apa, aku juga punya kesabaran terbatas?" Batin Rukia menggerutu.
"Sebelumnya aku bingung harus mulai cerita dari mana. Pada intinya, kakekku dan kakek Ichigo pernah membicarakan mengenai perjodohan. Semacam perjanjian—"
"Tunggu!" Rukia menghentikan ucapan Orihime. Rangkaian otak Rukia merasa ia tidak perlu mendengar lengkap penjelasan Orihime. Ia congkak ingin mengutarakan kesimpulan dari fakta terbatas itu. "Kakekmu dan kakek Ichigo saling kenal. Lalu mereka membuat semacam kesepakatan dengan menjodohkan cucu perempuannya—kamu, dengan cucu laki-laki yang dimaksudkan adalah Ichigo?"
Orihime mengangguk berkali. "Dan kamu tahu? Saat kakak Sora menceritakan semua itu, aku hampir mati karena kaget. Rupanya kami sudah terkait oleh takdir."
Rukia kembali menarik dirinya pada pantulan bayangannya di cermin. Menatap tajam dirinya dengan rambut hitamnya yang terurai kasar. Sesuatu di hatinya berdetak tidak wajar membuat kakinya hampir kehilangan kekuatan untuk menopang tubuhnya. Tapi, ia masih cukup menyadari sikapnya. Kegugupannya ini akan mengundang banyak tanya dari Orihime. Beruntung warna lipstiknya masih setia mengaburkan bibir pucat ketakutannya.
"Kamu pasti senang sekali?" sedikit bergetar Rukia menanyakannya tapi Orihime tidak menyadari perubahan dirinya.
"Aku sampai tidak bisa tidur semalaman karena terus memandangi gambarnya di ponselku," jelas Orihime mengambil ponselnya dari saku roknya dan mengotak-atik sebentar. "Ini, lihat! Foto terbaiknya. Aku sering membayangkan jika dia tahu soal perjodohannya ini, apa yang akan dikatakannya?"
Rukia tersenyum paksa memperhatikan layar ponsel Orihime. Ia mengangguk. "Dia sangat tampan di foto itu," puji Rukia.
"Eits..." Orihime gesit menarik dan menyembunyikan ponselnya. "Jangan kau gebet, Rukia! Dia milikku!" suara Orihime berubah mengancam meski hanya candaan.
Rukia mendelik kaget melihat sikap Orihime. Gebet, dia bilang? Batin Rukia tertawa masam.
"Sudah, ya! Sepertinya kita terlalu lama mengobrol, Bu Nanao pasti akan mengomeliku kelamaan di toilet. Doakan aku, ya Rukia! Semoga kami segera bertunangan," Orihime berpamitan. Ia melambaikan tangannya sembari keluar toilet.
Rukia menatap punggung Orihime sampai menghilang dari pandangannya. Rukia menunduk dalam membiarkan rambutnya terurai menutupi wajahnya. Wajah gelap yang penuh artian.
"Apa dia sudah tahu?" tanya Rukia dalam hati.
.
Rukia mengaduk makan malamnya dengan garpu tanpa berniat memakannnya. Sesekali ia meneguk cepat air putih dengan cepat, mengabaikan tata krama yang dipelajarinya. Berbeda situasi dengan pria yang duduk di hadapannya. Semenjak ia bertemu pandang Rukia kali pertama di restoran beberapa menit yang lalu hingga hidangan utama disajikan, mereka berbicara singkat. Rukia terlihat enggan membuka obrolan dengannya.
"Ichigo?"
Ichigo berhenti memotong daging panggangnya. Wajahnya mendongak ke arah Rukia. "Ada apa?" Ichigo sedang berusaha membentengi dirinya dari semburan emosi tidak stabil Rukia yang masih sulit untuk ditebak sehingga ia belum mampu mencari jalan keluar terbaik dari pengalamannya.
"Berapa lama kita berpacaran?"
"Eh?" Ichigo benar-benar fokus pada Rukia. Pertanyaan aneh mengunggah lilitan aneh di perutnya. "Tanggal 20 nanti, tepat empat bulan," jelasnya. "Kenapa?" Ichigo meraih tangan Rukia, berusaha mengenggamnya berharap ia bisa membaca pikiran Rukia melalui sentuhan lembut itu.
Tapi, Rukia malah menarik tangannya. "Kenapa kamu mau menjalani hubungan backstreet ini?"
"Itu kan permintaanmu," jawab Ichigo mulai bingung dengan arah pertanyaan Rukia. "Apa Rukia meminta putus dengannya?" batin Ichigo mulai berspekulasi.
"Kenapa kamu menyetujuinya?" pertanyaan Rukia mengundang kening berkerut Ichigo.
"Ada apa dengan pertanyaanmu ini, Rukia?! Kenapa kau bertanya hal-hal aneh semacam ini? apa kau berniat untuk—"
"Jawab saja dan jangan bertanya!" Rukia hampir berteriak.
Suara berisik meja mereka mulai menjadi pusat perhatian tamu restoran lainnya.
"Apa salahnya memenuhi permintaan kekasihku sendiri. Kau yang minta. Dan aku pikir jika menurutmu, cara ini membuatmu nyaman, aku oke saja! Meski awalnya aku tidak terima dengan keputusanmu—"
"Kalau begitu, kita umumkan hubungan kita malam ini. Datang dan temui kakek, lalu katakan kau ingin melamarku! Setelahnya aku akan menemui keluargamu," Rukia berucap menggebu. Lugas tanpa basa-basi mengiringi kalimatnya.
Ichigo tercengang mendengar tiap kata terucap Rukia. "Melamar?" tanya Ichigo dalam hati. Mulutnya hampir memuntahkan daging panggang yang ditelannya tadi akibat perutnya mendadak mual dengan semua sikap dan ucapan Rukia.
"Kau tidak berniat melamarku? Apa kau mempermainkanku?"
Pertanyaan Rukia sontak menohok hati Ichigo dalam. Tidak pernah sekali pun ada niatan di hatinya untuk mempermainkan perasaan Rukia. Dia tulus mencintai gadis itu sampai kapan pun. Seribu pikiran bertanya menggelayut di otaknya tentang sikap aneh Rukia hari ini membuatnya lupa dengan jawaban pertanyaan Rukia barusan.
"Rukia... sebenarnya apa yang ada di benakmu hingga kau mengataiku seolah aku tidak pernah serius dengan hubungan kita?"
Rukia menunduk mendengar pertanyaan Ichigo bersama tatapan risau dari iris cokelat ichigo. Rukia merasa sudah kebablasan berbicara hingga membuat Ichigo tersinggung.
"Boleh aku bertanya padamu?" tanya Rukia belum memandang Ichigo. "Menurutmu Orihime itu seperti apa?" lanjut Rukia berucap lirih namun terdengar jelas oleh Ichigo.
"Kenapa dengan Orihime? Dia rekan kerjamu, kan?" Ichigo balik bertanya.
"Jawab saja!" Rukia menggigit bibirnya kesal.
"Dia itu baik."
"Cuman itu?" tanya Rukia tidak percaya dengan jawaban singkat Ichigo.
"Lalu kau mau dengar apa lagi?" Ichigo benar-benar kehilangan nafsu makan malamnya. Sekarang ini, daging panggangnya terlihat menjijikan baginya. Ichigo terlihat menahan marah saat Rukia menyebut sosok gadis lain ketika mereka berdua. Ini terdengar seperti—kecemburuan? tanya Ichigo di hati.
"Bukannya dia teman kuliahmu, harusnya kau lebih mengenalnya dan bisa menilainya dengan lebih banyak variasi jawaban? Tidak hanya 'baik'. Itu standar dan bukan jawaban yang aku inginkan!" Rukia mengoceh kesal, ia menatap Ichigo cemberut.
Bahu Ichigo melemas, menanggapi Rukia malam ini. "Akan aku jabarkan dalam sekali tarikan napas. Dengarkan dengan baik karena aku tidak berniat mengulanginya—"
"–karena hal ini sungguh membuatku kesal, Rukia." Lanjut Ichigo dalam hati.
Rukia mengangguk. Tatapan penasaran membuat Ichigo semakin menahan napas. Bibirnya terlihat berat memenuhi keinginan Rukia. "Cantik, sexy, dan lemot."
Rukia tertegun, terdiam membisu. Dua sifat memuji, sisanya kekurangan nyata dari gadis itu.
"Rukia..." panggil Ichigo berusaha menyadarkan Rukia-nya.
"Kenapa kau berani memuji wanita lain di depan kekasihmu sendiri? Apa kau tidak menganggapku? Hubungan kita?"
Ichigo mengusap wajahnya, frustasi. Dia merasa tercekik dengan ucapan Rukia. "Apa Rukia tertular sebagian sifat menyebalkan Orihime?" Batin Ichigo berpikir keras.
Ichigo beranjak dari duduknya, ia melangkah lambat ke arah Rukia. Bertumpu pada kedua lututnya, ia setengah berdiri di samping kursi Rukia. Perlahan, ia menarik salah satu jemari Rukia dan mengenggamnya lembut. Penuh perhatian dan pengertian.
"Katakan sejujurnya kepadaku, apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Ichigo. Satu telapak tangannya menangkup pipi kanan Rukia, mengusap lembut kulit halus pipi Rukia dengan ibu jarinya.
Rukia luluh. Air matanya mengalir. Tanpa dicegah, Rukia menangis. Ingatannya membayang ke pembicaraannya di toilet siang tadi. Perkataan Orihime menancap kuat di hatinya. Terlalu takut kehilangan Ichigo, ia bahkan tanpa sadar mengungkapkan kekesalannya pada Ichigo.
"Orihime adalah calon tunanganmu."
Respon tidak percaya hanya bisa diberikan Ichigo pada pernyataan Rukia.
.
Usai mengantar Rukia pulang, Ichigo memutuskan untuk mengunjungi keluarganya. Penyebab perubahan sikap Rukia sudah diketahuinya. Adu argumen yang berisi tuduhan Rukia dan sanggahannya terpaksa diselesaikan.
French kiss, membungkam argumen lanjutan debat yang mungkin bisa membahayakan kelangsungan hubungan mereka berdua. Ichigo memutuskan untuk mencari jawabannya dan akan langsung menjelaskannya pada Rukia begitu ia mendapat kebenarannya.
Di sini, ia juga dikejutkan. Rumahnya seperti habis kedatangan tamu.
"Harusnya kau mengunjungi kami beberapa menit yang lalu, karena Sora baru saja pulang."
Suara Masaki, ibunya membuat Ichigo tersadar dari lamunannya. "Sora?" alis Ichigo hampir menaut bingung.
"Sora Inoue. Dia kemari untuk membicarakan mengenai kesepakatan kakekmu dulu," jelas Ishiin merangkul bahu Masaki supaya mereka semakin dempet duduknya.
"Ah, sayang!" rengek Masaki mendorong tubuh Ishiin, memberi jarak. Terlalu malu baginya beromantisan di depan putra mereka. "Kita belum menceritakannya," Masaki teringat.
Ishiin mengangguk.
Cerita sejarah dua keluarga meluncur lancar dari bibir kedua orang tua Ichigo. Ishiin dan Masaki saling menambah dan sambung-menyambung alur cerita hingga Ichigo sanggup menarik kesimpulan semua cerita dan kekhawatiran Rukia benar adanya.
"Perjodohan dengan Orihime Inoue? Adik perempuan Sora denganku?" tanya Ichigo was-was. Mengambil kesimpulan dari cerita ayah dan ibunya.
Pasangan Kurosaki mengangguk semangat, membenarkan.
"Tapi, aku tidak mencintainya," Ichigo melancarkan manuver penolakan. Langkah pertama, secara halus.
"Cinta bisa tumbuh seiring waktu. Mengalir seperti air," Ishiin menjawab kegelisahan Ichigo.
"Tapi—"
"Jangan berpendapat dulu, Ichigo! Selama kuliah, bukannya ia sering main kemari beberapa kali? Kami bisa melihatnya, dia mencintaimu. Dia memendam rasa padamu," jelas Masaki membujuk.
"Tapi aku tidak mencintainya—"
"Jangan berpegang pada kata 'tidak mencintainya'. Semakin kalian dekat dan mengenal, maka sebuah cahaya cinta bisa menerangi hati kalian berdua."
Kata puitis Ishiin mengundang tawa Masaki dan membuat Ichigo memucat.
"Aku tidak mau perjodohan ini," tegas Ichigo melancarkan penolakannya. Langkah kedua diambilnya.
Ishiin dan Masaki terhenyak kaget tidak percaya dengan ucapan putra keduanya.
"Tidak ada penolakan."
"Harus!"
Kalimat itu bergiliran terucap dari Masaki dan Ishiin. Ichigo berubah sikap memohon, merengek berusaha dengan getol meluluhkan hati Masaki terlebih dahulu, ayahnya bisa menyesuaikan.
"Katakan! Kenapa kamu enggan mengenalnya? Kamu seolah sudah mematenkan pada hatimu dengan kalimat 'aku tidak mencintainya'. Alasan masuk akal penolakanmu hanyalah kamu sudah memiliki kekasih?"
Ichigo mengangguk, mendapat cibiran dari Ishiin.
"Aku sudah menduganya, putra kita sudah laku..."
"Ibu?!" Ichigo meringis mendengar ucapan ibunya. Tentu saja dia berhasil meluluhkan hati seorang gadis, mengingat dia keturunan dari yang ibu cantik dan ayah ehm.. lumayan tampan, dia termasuk jajaran pria tampan yang diincar banyak gadis. Kecuali Rukia mungkin, yang tidak menyadari atau mungkin sulit menerima kepopulerannya.
"Besok datanglah bersama gadis itu saat makan siang. Kami ingin menemuinya—"
"Sungguh ibu? Berarti kau menolak perjodohan ini?" Ichigo berisyarat kemenangan.
Masaki menggeleng, "Tidak secepat itu kau bisa menyimpulkannya. Semua tergantung besok sesuai penilaian ibu saat melihat gadis pilihanmu," jelas Masaki beranjak dari duduknya.
Mencegah kalimat protes lagi dari Ichigo, Ishiin mengekor pada Masaki.
"Menginaplah di sini, Ichigo!"
Ichigo pasrah dan ia harus cepat memberitahu Rukia rencana besok.
.
To be continued...
09/06/14
A/N : Eits, ide ceritanya pasaran, ya?! Backstreet kaya'nya udah ga jamannya...
