Halo minna-san, saya mau publish fic baru nih...
Tapi sebelumnya saya mohon banget ya bagi yang mau baca tolong download dulu lagu A thousand years-nya christina perry. Atau bagi yang udah punya silahkan segera dipasang di winamp ya. Tapi jangan dulu diputar.
Please... ya... ya... ya...
Jadi niatnya di sepanjang fic ini saya pingin bikin ada soundtrack nya gitu deh biar feelnya kerasa ya...
.
.
Prolog 1 : Boys Life
Saat rasa itu datang kau takkan bisa menolaknya, karena pada hakikatnya manusia hanya bisa merasa bukan memilih.
.
.
.
Life Isn't Like Fairytale by Thyz-thyz Verbazend
Naruto by Masashi Kisimoto
Warning : Geje, abal, yaoi, yuri, and normal relation inside (penjelasan dibawah)
Happy reading!
.
.
.
Seorang pemuda tengah asyik berselancar di ketinggian ombak yang landai di tengah laut. Pemuda itu merentangkan tangannya menikmati hembusan angin yang terarah sembari meliuk-likukan badannya agar tetap berdiri kokoh seimbang di atas papannya. Percikan air tak henti-hentinya berhamburan membuat kulit putih dan rambut merahnya basah, siapa saja yang memandangnya pasti akan terpesona dan tergoda untuk menyentuh tubuh kekarnya itu. Dia kini sedang berenang menuju ke arah bibir pantai lalu berlari-lari kecil di atas hamparan pasir putih yang berkilauan menuju ke tempat seorang pemuda berambut coklat panjang yang sedang berjemur menikmati hangatnya matahari pagi di atas sebuah dipan kayu berwarna putih. Pemuda itu hanya memakai celana boxer saja dan memamerkan dadanya yang bidang sedangkan di wajahnya bertengger sebuah kacamata hitam menutupi matanya yang sedang terpejam.
"Neji, kenapa kau hanya berjemur saja?" Tanya sosok berambut merah begitu langkahnya semakin dekat dengan tempat pemuda satu lagi. Lalu sosok yang dipanggil Neji itu memalingkan wajahnya sedikit dan membuka kacamatanya seraya tersenyum.
"Aku sedang malas Sasori-kun, lebih baik kita menikmati hangatnya matahari disini." Jawabnya lembut. Pemuda berambut merah tadi lalu merebahkan dirinya pada dipan yang berada di sebelah pemuda berambut coklat.
"Ombaknya sedang besar sekali loh, sayang sekali kalau kita melewatkan ini." Sasori kembali berceloteh dengan nada agak sedikit manja pada pemuda di sebelahnya.
"Liburan kita kan tinggal sebentar lagi, lagipula dari kemarin kerjaanmu hanya berselancar dan berenang. Bersantailah sedikit, nikmati kebersamaan kita." Neji kembali tersenyum dan mengambil minuman yang tergeletak di meja antara dia dan Sasori.
"Gak mau pokoknya hari ini kita haru berenang." Sasori beranjak dari posisinya dan meraih tangan Neji paksa. Setelah itu dia bergelayut manja berusaha untuk mengajak Neji mengikutinya ke pantai, "Ayo dong, please ya... ya... ya..." Ajaknya sambil memasang muka sepolos mungkin tapi tetap manis dilihat.
"Hahaha... oke anak manis, kau ini dasar." Neji akhirnya berdiri dan mencubit pipi Sasori gemas.
"Asyik hehehe..." Mereka pun berjalan bersama-sama menuju ke arah pantai. Beberapa pasang mata milik wanita yang sedang berjemur melirik dua lelaki tampan yang lewat di hadapan mereka. Mereka berbisik-bisik karena merasa mengenali salah satu dari mereka.
"Eh, itu Akasuna No Sasori kan? Artis yang main di film 'My Doll is My Life'." Ujar salah satu dari mereka.
"Iya benar, wah dia manis sekali yaaaa!" Sahut yang lainnya terpesona akan ketampanan Sasori.
"Eh tapi, siapa itu lelaki berambut panjang yang berjalan bersamanya?" Wanita lainnya bertanya pada temannya.
"Itu kalau tidak salah teman baiknya sejak kecil, Neji Hyuuga namanya. Aku pernah dengar ceritanya di infontainment beberapa waktu yang lalu." Jawab wanita pertama.
"Ooh, aku baru tahu. Tapi siapa pun dia, lelaki itu benar-benar menawan, hihihi..." Wanita yang bertanya tadi cekikikan. Mereka terus melanjutkan obrolan seputar dua lelaki itu sementara yang menjadi bahan pembicaraan sekarang sedang menceburkan dirinya menikmati segarnya air laut.
Sasori berenang kesana kemari dengan begitu gembira dan tertawa-tawa, Neji hanya tersenyum memperhatikannya.
Jika dilihat sekilas Sasori merupakan sosok pemuda yang ceria, sedikit manja dan penuh dengan semangat jiwa muda sedangkan Neji adalah sosok yang dewasa dan penuh perhatian. Sekarang Sasori berenang agak jauh ke tengah sementara Neji masih bersantai di tempatnya.
"Neji-kun, ayo kejar aku!" Teriak Sasori dari kejauhan. Neji yang dipanggil tersenyum sekilas lalu mulai berenang menyelami air laut dan dengan cepatnya sudah mendekati tempat Sasori berada. Begitu badannya semakin mendekat dia menyembulkan kepalanya dari dalam air untuk mencari sosok Sasori, tapi yang didapatnya adalah semburan air yang dicipratkan Sasori ke araah tubuhnya, mereka pun terlibat dalam perang air yang dipenuhi dengan tawa selama beberapa saat. Sasori terus memundurkan tubuhnya berusaha menjauh dari serangan Neji, tapi karena terlalu ceroboh dia terpeleset oleh sesuatu di kedalaman air. Neji dengan sigap lalu meraih tubuhnya dan menahannya agar tetap berada di atas air. Neji dan Sasori bertahan dalam posisi tersebut selama beberapa saat.
Mata mereka berpandangan, Neji memajukan wajahnya mendekati wajah Sasori dan mendaratkan sebuah ciuman lembut di bibir mungilnya. Dengan sadar Sasori segera membalas ciuman lembut dari Neji dan segera terbuai dalam pelukan lelaki berambut coklat itu.
Untunglah kejadian menghebohkan itu tidak dilihat oleh khalayak umum, karena kebetulan pantai pada saat itu sedang dalam keadaan sepi, hanya terdapat beberapa remaja dan keluarga yang sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Bisa dibayangkan jika hal itu sampai terpotret oleh kamera salah satu pengunjung, maka habislah hidup mereka berdua ini. Kemungkinan besar headline yang aka tercetak oleh majalah besok adalah 'ARTIS TAMPAN SASORI TERNYATA SEORANG GAY!'.
Neji segera mengakhiri ciumannya begitu menyadari tempat dimana mereka berada dan menegakkan kembali posisinya dan badan Sasori. Sasori yang merasa belum puas segera bertanya pada pasangannya itu.
"Mengapa berhenti Neji-kun?" Bibirnya sedikit mengerucut menunjukan tanda kekecewaannya.
"Kau lupa dimana kita sekarang Sasori?" Dia berkata halus pada pria di hadapannya, "Kau tak ingin kan karirmu hancur gara-gara ada seseorang yang melihat perbuatan kita," Neji memegang dagu sasori lembut dan menyapukan ibu jarinya di bibir mungil Sasori. Tapi pemuda berambut merah itu masih cemberut.
"Huh, tapi kan sedang tidak ada orang." Dia menggerutu manja.
"Hahaha... kau ini..." Neji tersenyum dengan tingkah kekanakan Sasori lalu mengacak rambut merahnya pelan. "Ayo kita kembali," ajak Neji pada Sasori. Sasori hanya mengangguk dan tak menjawab perkataan Neji, tapi dia tetap mengikuti Neji berjalan menyusuri air laut untuk kembali ke pantai.
Mereka kembali duduk bersantai di dipan masing-masing sambil menikmati hidangan yang tersaji disana. Neji melirik sekilas ke arah langit dan menyadari bahwa waktu sudah menunjukan sekitar pukul 3 sekarang. Dia pun mengajak Sasori untuk kembali ke hotel mereka.
"Sasori-kun, sudah sore, ayo kita kembali ke hotel." Neji berkata pada Sasori yang sedang menyeruput minumannya.
"Hn." Hanya gumaman singkat yang keluar dari mulutnya, tapi itu cukup bagi Neji untuk mengartikan bahwa Sasori setuju. Mereka berdua pun berdiri dan mengambil handuk baju yang sedari tadi tersampir di dipan mereka lalu memakainya sebelum berjalan menjauh dari pantai menuju ke hotel mereka.
Begitu memasuki pelataran hotel, beberapa pelayan dan tamu lain tersenyum kepada dua orang tersebut mengingat mereka bukanlah orang sembarangan, pastilah banyak dari penghuni hotel tersebut yang mengenal mereka. Sejenak mereka berhenti untuk berbincang dan membalas sapaan dari beberapa tamu yang lewat lalu mereka melanjutkan kembali perjalanan menuju ke kamar hotel masing-masing. Sebenarnya mereka tinggal di satu kamar yang sama hanya saja mereka memesan dua kamar agar tidak menimbulkan kecurigaan diantara pegawai dan tamu lainnya. Masa dua orang lelaki dewasa tidur di satu kamar yang sama, apa lagi mereka berasal dari kalangan atas, tidak lucu kan jika alasan mereka adalah demi penghematan.
Di dalam kamar Sasori langsung merebahkan dirinya di sofa dan menyalakan tv sedangkan Neji berjalan memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket oleh air laut. Tak lama berselang Neji sudah selesai dan begitu keluar dia melihat Sasori sedang tertidur di sofa dengan posisi meringkuk. Neji berjalan ke arahnya dan menggoyangkan badannya pelan.
"Sas, kau mandi dulu sana," Ucapnya lembut sambil membangunkan Sasori.
"Mmh," hanya lenguhan singkat yang keluar dari mulut Sasori, tangannya mengucek-ucek matanya pelan sambil menguap, "Huahh, aku ngantuk sekali, pengen digendong dong ke kamar mandinya." Sasori tersenyum jahil dengan mata yang masih merem-melek.
"Gak mau, badanmu pasti lengket sekali, ayo cepat mandi sana," Neji mendorong badan Sasori ke arah kamar mandi. Dengan ogah-ogahan dia pun masuk juga ke kamar mandi dan memulai ritual mandinya.
Neji memencet-mencet tombol saluran tv dan mencari acara yang bagus untuk ditonton tapi tak ada satu pun yang menarik perhatiannya. Tiba-tiba dia menyeringaikan senyum menandakan bahwa suatu ide telah terlintas di pikirannya. Dia lalu meraih telepon di seberang meja dan memencet beberapa tombol. Setelah nada tunggu berakhir terdengarlah suara lembut seorang wanita.
"Halo dengan Roosevelt Hotel, selamat malam, ada yang bisa saya bantu." Suara merdu khas seorang resepsionis.
"Halo, saya penghuni kamar nomor 204..." Neji berbicara pada resepsionis itu dengan suara yang lamat-lamat semakin lama semakin tidak terdengar. Lalu scene pun sedikit demi sedikit menjadi berubah menggelap.
(#ceritanya yang diomongin Neji rahasia gitu, wakakak)
.
.
.
Sasori keluar dari kamar mandi dengan perasaan dan badan yang lebih segar, tapi dirinya bingung ketika mendapati seisi kamar hotel yang telah berubah menjadi gelap. Badannya mulai bersiaga takut-takut jika terjadi sesuatu, walaupun kelakuannya seperti anak kecil dan manja, Sasori ini adalah juara karate sewaktu SMA nya loh. Dia berjalan menyusuri lorong kamar dengan berhati-hari tapi tidak menemukan siapa pun, 'dimana Neji' pikirnya.
"Neji? Kau dimana? Kenapa seisi kamar menjadi gelap?" Sasori mulai merinding sendiri karena tidak ada jawaban satu pun. Dia terus menyusuri kamar sampai akhirnya terlihat secercah cahaya seperti cahaya lilin dari arah balkon utama. Dia berjalan mendekati balkon itu, dan benar saja ternyata puluhan lilin berwarna merah telah mengelilingi seisi balkon dengan cahayanya yang remang-remang, di tengah balkon itu terdapat satu buah meja dengan taplak putih dan dua kursi di pinggirnya. Selain itu Dia atas meja tersebut telah tersedia berbagai hidangan dan sebotol wine lengkap dengan gelasnya. Neji sendiri berdiri di tepi balkon menghadap kepadanya seraya tersenyum.
(Nah sekarang bisa diputer deh lagunya, plis yah diputer yah, bagi yang belum pasang pun mohon segera dipasang. Biar feelnya lebih kerasa... #maksamodeon)
Heartbeats fast
Colors and promises
"Kau suka?" Neji bertanya pada Sasori yang masih mengagumi interior yang dirancang Neji, sederhana tapi benar-benar menimbulkan kesan romantis yang hangat. Apalagi ditambah bengan pemandangan balkon yang langsung mengarah ke pantai yang dihiasi langit malam bertabur bintang.
How to be brave
How can I love when I'm afraid to fall
"Kau bercanda? A-ku-su-ka-se-ka-li..." Sasori mengungkapkannya dengan bersungguh-sungguh sambil terus menatap Neji mesra yang kini berjalan ke arahnya. Mereka sejenak bertatapan satu sama lain, Neji mendekatkan kepalanya perlahan sampai bibirnya bertemu dengan bibir Sasori. Mereka terbius dalam kehangatan ciuman lembut selama beberapa detik.
But watching you stand alone
All of my doubt suddenly goes away somehow
One step closer
Setelah itu, mereka berdua menikmati makan malam yang telah Neji siapkan sambil mengobrol asyik diiringi oleh alunan musik romantis. Musik yang indah itu adalah lagu yang dinyanyikan oleh Christina Perry berjudul A Thousand Years. Malam yang sangat sempurna sekali dalam benak Sasori, Neji yang sudah menjadi kekasihnya selama 3 tahun ini memang dia kenal pendiam tetapi ketika bersamanya entah mengapa sosok yang cool itu dapat berubah menjadi makhluk yang romantis dan perhatian. Deburan lagu ombak, hamparan lukisan bintang, pencahayaan sederhana dari nyala api lilin dan lagu yang mengalun ini benar-benar telah membuai mereka berdua dalam kehangatan cinta kasih yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
I have died everyday waiting for you
Darling don't be afraid I have loved you
For a thousand years
I love you for a thousand more
Ketika mereka masih menikmati makan malamnya, tiba-tiba Neji beranjak dari kursinya dan menyodorkan tangannya ke hadapan Sasori untuk mengajaknya berdansa perlahan mengikuti alunan musik. Sasori termangu sejenak lalu meraih uluran tangan itu dengan wajah dihiasi senyum kebahagiaan. Tak ada yang lebih mengerti dirinya selain Neji. Mereka menggerakkan kaki teratur sesuai iringan biola dan piano yang menjadi instrumennya.
Time stands still
Beauty in all she is
I will be brave
I will not let anything take away
Neji memposisikan tangan kanannya pada pinggang Sasori sedangkan tangan lainnya membentuk jalinanerat bersama jari-jari tangan Sasori. Sasori pun menggerakkan tangannya yang bebas untuk memeluk pinggang Neji erat.
What's standing in front of me
Every breath
Every hour has come to this
One step closer
Mereka bergerak berputar dengan kaki yang melangkah kie kiri dan ke kanan, sambil dengan mata yang terus terpaku satu sama lain. Merah rubi bertemu dengan kilau mutiara.
I have died everyday waiting for you
Darling don't be afraid I have loved you
For a thousand years
I love you for a thousand more
Sasori menurunkan kepalanya perlahan sampai bersandar pada dada dan bahu Neji tanpa menghentikan pergerakan kakinya. Matanya menutup merasakan lembutnya hembusan nafas Neji, lembutnya sentuhan Neji, lembutnya dada Neji yang ia sandari. Neji pun menempelkan dagunya pada puncak kepala Sasori.
And all along I believed I would find you
Neji menghentikan langkahnya mengikuti alunan musik. Sasori mengangkat kepalanya dengan ekspresi bertanya, tapi segera ditepis oleh Neji dengan cara memberikan ciuman lembut dan lama yang membuai mereka semakin dalam dalam pagutan yang lembut itu. Lidah mereka berputar dan saling menjawab satu sama lain, saling berbicara isi hari mereka.
Time has brought your heart to me
I have loved you for a thousand years
I love you for a thousand more
Dan malam itu pun berlanjut hingga mereka tak sadar dan terbangun keesokan harinya di atas tempat tidur.
One step closer
One step closer
.
.
.
Asyik prolog 1 selesai,
Nah kenapa ini dinamakan prolog 1, karena nanti akan ada prolog 2 nya. Jadi aku kasih spoiler ya buat fic ini. Di prolog dua nanti adalah prolog dari pasangan yuri nya... hehehe
Fic ini bercerita tentang pasangan yuri dan yaoi yang berpura-pura menikah untuk menutupi identitas mereka. Sorry ya kalo idenya pasaran. Tadinya mau ngelanjutin fic yg masih belum rampung tapi entah kenapa malah ide fic ini yang keluar. Terus seperti kata saya di awal saya ingin para readers merasakan hal sama kaya saya dengan mendengarkan soundtrack2 yg saya siapkan, so, jangan pernah ragu ya buat siapin soundtrack di winamp nya hhee...
Oya, nama pasangan yuri nya adalah x dan y, nah mengapa x dan y karena saya masih belum nemu siapa chara yang cocok. Saya ingin readers sendiri yg menentukan chara-nya. Tapi chara yg jarang muncul dan pas untuk dipasangkan bersama pasangan yaoi ini. Tapi kalo misalnya menurut readers pasangan yaoi nya kurang cocok boleh kok request yg lebih cocok, chara masih bisa berubah, kan masih prolog hehe.
Pokoknya diminta reviewnya ya readers, mau itu concrit, flame, ide atau apapun saya akan terima dengan suka rela.
Bye readers...
