TWINS
disclaimer : Fujisaki Tadatoshi-sensei ssu ^o^ kalau ceritanya asli punya saya

warn : OOC, Abal, Gaje, Typo, ganti – ganti POV, Newbie.

Happy Reading-ssu

PART I
*Tetsuya POV

Namaku Akashi Tetsuya. Aku memiliki seorang saudara kembar, ia bernama Akashi Seijuurou. Sejak kecil kami selalu bersama kemanapun dan dimanapun. Hidupku dan hidup Seijuurou tentram tanpa adanya masalah atau apapun. Namun semua berubah ketika kami masuk ke sekolah menengah Pertama.
Siang itu sepulang sekolah, aku dan Seijuurou berjalan beriringan ke rumah seperti kebiasaan kami. Di sepanjang jalan kami hanya bercerita dan bersenda gurau, hingga tak terasa rumah kami telah di depan mata. Satu persatu kami masuk ke dalam rumah. Hari itu seperti biasa rumah amat sepi.
Orang tua kami jarang ada di rumah. Mereka pergi bersama kami dan pulang setelah kami tidur. Jadi kami sudah terbiasa hidup mandiri tanpa orang tua dan bisa melakukan pekerjaan rumah. Aku sangat menyayangi Seijuurou dan sebaliknya.
Di suatu malam, aku terbangun dari tidurku karena ingin ke kamar mandi. Tak sengaja ku dengarkan kedua orangtuaku mengobrol.
"Ayah, kalau dilihat dari prestasi Seijuurou lebih unggul dari Tetsuya. Apa lebih baik kita pisahkan saja Seijuurou dari Tetsuya? Kalau mereka berdekatan ada kemungkinan Seijuurou akan mengalami penurunan terpengaruh oleh Tetsuya." Usul ibuku pada ayah. Namun ayah nampak terdiam berfikir.
"mungkin itu ada baiknya juga bu. Tetsuya bisa kita titipkan di tempat Adikku di Tokyo. Dan kita pilihkan Seijuurou Fakultas yang bagus. Ia akan semakin maju." Sambut ayahku.
Aku terdiam. Mematung. Ternyata orang tuaku juga tak peduli padaku. Semua hanya Seijuurou dan Seijuurou kenapa mereka tak pernah menatapku? Aku juga anak mereka. Sejak hari itu aku benar-benarmembenci Ayah, Ibu dan Seijuurou. Aku sangat benci mereka.

Mentari pagi telah memancarkan sinarnya. Kami semua telah selesai melakukan persiapan dan akan melakukan sarapan pagi. Tapi aku tidak ikut bergabung dengan mereka. Seijuurou yang melihatku langsung berlalu tidak tahan untuk tidak mengintrogasiku.

"Tetsuya? Kamu buru-buru sekali. Sarapanlah dulu." Kata Seijuurou sambil mengunyah roti di mulutnya.

Aku hanya menatap mereka satu per satu. Lalu kembali melanjutkan langkahku keluar rumah. Dalam hati aku hanya menggerutu kesal di sepanjang jalan aku sudah sangat membenci mereka. Aku seorang anak yang tidak di anggap. Menyebalkan sekali. Kalau mereka tak inginkan aku lebih baik aku pergi saja.

Tanpa sadar aku sudah sampai di sekolah. Sesampainya di kelas. Aku duduk di bangku ku. Hari itu aku benar benar kesal dan marah akutak tahu harus bagaimana agar amarahku berhenti dan mereda. Namun aku tak bisa menemukan solusi untuk masalahku.

Tanpa fikir panjang aku keluar ruangan dan mencari daerah yang cukup sepi. Taman belakang sekolah menjadi pilihanku. Aku berdiri di bawah pohon lalu meninjunya dengan keras hingga beberapa kelopak bunga sakura jatuh berguguran menimpaku. Tiba-tiba terdengar suara orang yang sudah sangat akrab di telingaku dan juga suara yang tidak ingin aku dengar.

"Tetsuya? Kamu kenapa? Sepertinya sejak pagi suasana hatimu sedang buruk? Apa kamu mau..."
"pergi bodoh! Aku tak mau mendengar suaramu atau bahkan melihat wajahmu. Pergi !" bentakku. Seijuurou tersentak kaget.
"Tetsuya... kamu marah padaku.? Ada apa sebenarnya ini Tetsuya?" tanya Seijuurou.
"aku bilang pergi ya pergi. Sana aku tak mau melihat wajahmu lagi!"
Setelah itu Seijuurou pergi. Aku merasa beban di pundakku serasa ringan seperti kapas. Aku tak akan lagi perduli pada mereka.

*****

Setelah kejadian itu, aku dan Seijuurou tak pernah dekat lagi. Rasanya aku semakin membenci mereka. Dan akupun menjauhi mereka dan selama itu juga aku tak meminta apapun lagi dari kedua orang tuaku.

Aku memilih bekerja sambilan. dan orang tuaku maupun Seijuurou tidak mengetahui hal itu. Aku bekerja di sebuah cafe yang arahnya cukup jauh dari sekolahku. Aku sengaja memilih tempat yang jauh agar tak ada yang tahu kalau aku bekerja. Selain karena gengsi, aku tak mau semakin di anggap sebagai anak yang merepotkan. Hingga pada akhirnya aku sering di marahi karena pulang telat. Tapi aku tak pernah menggubris kata-kata mereka. Seperti pada malam ini.

"Tetsuya?! Kamu dari mana? Setiap hari pulang malam. Ayah dan ibu malu kamu sering pulang malam. Tetangga sering menyangkal hal yang tidak-tidak soal kamu, Tetsuya!" Bentak ayah. Aku hanya diam. Kemudian meninggalkan mereka.
Dapat ku lihat Seijuurou yang menghela nafas, aku sudah tak mau peduli lagi pada Seijuurou maupun Ayah dan ibuku.

Di dalam kamar aku membuka buku pelajaranku dan aku mengerjakan pekerjaan rumahku setelah mengganti pakaianku. Seijuurou masuk ke kamarku dengan membawakanku makan malam. Aku tak menggubrisnya.

"Tetsuya. Aku bawakan makan malam." kata Seijuurou. Aku terdiam. "Tetsuya... aku sebenarnya ingin mengbrol denganmu. Sudah lama kita tidak mengobrol dan bercanda lagi seperti dulu" lanjut Seijuurou
"aku rasa tidak perlu" jawabku singkat
"kenapa Tetsuya? Kamu jadi berubah sekarang? Kamu jadi dingin begini. Tidak seperti Tetsuya yang pernah aku kenal dulu"
"karena Tetsuya tidak pernah lahir. Ia hanya menjadi bayangan. Menjadi copi an. Aku tidak di butuhkan! Keluarlah Seijuurou atau aku yang akan menendangmu keluar dari sini" bentakku
"TETSUYA! Beraninya kamu berbicara kasar pada kakakmu. Kalau kamu tak suka pada kakakmu, kamu bisa keluar dari rumah ini !" bentak ayah. Aku kaget. Dan langsung bangkit dari dudukku
"baiklah, kalau itu mau ayah aku akan pergi dari sini" tantangku
"Tetsuya. Jangan pergi" kata Seijuurou
Aku tak perduli, ku ambil baju-bajuku dari dalam lemari dan akhirnya pergi keluar. Walau masih terdengar suara Seijuurou yang terus mengiinkan aku kembali.

*****
Malam itu, aku berjalan menyusuri jalan bersalju di sudut kota tokyo yang dingin. Aku berjalan mencari apartemen di sekitar cafe tempat aku bekerja. Dan mencari sekolah yang baru.

Tabunganku masih ada 3 Juta lagi. Setidaknya itu lebih cukup untuk membiayai hidupku selama 1 Tahun di apartemen. Beruntunglah saat aku sedang berjalan aku bertemu dengan Kise. Ia adalah temanku di cafe. Ia orang yang baik dan menyenangkan. ia membawaku ke sebuah cafe yang buka malam dan disanalah aku bercerita tentang hal yang terjadi padaku.

"jadi itu yang terjadi padamu? Yah, aku jadi simpati padamu. Apa kakakmu tahu kalau orangtuamu merencanakan itu padamu?" tanya Kise
"aku tak tahu. Yang pasti aku sangat membenci mereka." Jawabku
"baiklah, Tetsuya. Aku rasa aku bisa membantumu mencarikan apartemen yang bagus dan murah buatmu. Kebetulan aku juga tinggal di sana."
"benar? Wah aku beruntung. Kalau begitu kau bisa antarkan aku kesana?" tanyaku bersemangat
"ya. Tentu saja. Ayo pergi"

Setelah kami sampai di sana. Aku langsung beres-beres rumah dan beristirahat. Aku menentukan sekolah yang ku inginkan. Semua berjalanlancar seperti yang aku harapkan. Waktu berlalu dengan lambannya dan semua berlalu begitu saja.

Tak terasa aku sudah 5 tahun tinggal di apartemen. Kini aku bersekolah di Universitas Indonesia semester 1 jurusan Kedokteran. Menyenangkan rasanya. Siang ini, aku bekerja di cafe Wind, tempatku bekerja sebelumnya. Aku bekerja sebagai waiter di sana. Gajinya tidak terlalu besar, tapi cukup untuk membiayai makan dan kuliahku.

"Tetsuya, lemonade sama pie anggurnya ke meja no 4 ya" pinta Midorima, ia seorang koki di cafe ini.
"baiklah" sambutku

Ya inilah keseharianku selama ini, aku punya banyak teman di cafe. Dan disinipula. Aku mencari uang untuk melanjutkan hidupku. Walaupu hanya menjadi waiter, aku sangat menyukai pekerjaan ini. Dan akupun tak pernah bolos bekerja hingga pak Murasakibara menjadikanku karyawan teladan di cafe.

Pukul 6 sore. Cafe sudah tutup, namun aku, Kise dan Daiki masih harus tinggal di cafe untuk membereskan cafe. Namun tak seperti biasanya hari itu kepalaku terasa sangat pusing dan sakit

"Tetsuya, kamu baik-baik saja?" tanya Kise. Aku hanya bersandar memegangi kepalaku.
"kamu sakit? Lebih baik kamu pulang dan besok kamu tidak usah kerja dulu saja" usul Daiki
"tidak usah, aku Cuma pusing aja. Tak usah hiraukan aku... ayo kita lanjut kerja" sambutku lesu

Tapi makin lama, kepalaku makin sakit aku tak kuat menahan sakit kepala ini aku tak kuat dan akhirnya aku kehilangan keseimbangan juga kesadaranku. Gelap.

*****
Beberapa lama kemudian, aku berhasil membuka mataku. Namun semuanya putih dan makin lama makin jelas objek di hadapanku. Sebuah lampu putih, langit-langit putih dan bau obat yang menyengat. Ku lihat Aki duduk cemas di sampingku.

"Ki... se?" tanyaku terbata-bata
"Tetsuya? Syukurlah kamu sadar aku dan yang lainnya khawatir akan kondisi kamu" sambut Kise
"aku... dimana?"
"kamu di rumah sakit. Kami membawa kamu ke sini karena kamu pinsan di cafe kemarin"
"kemarin? Sekarang jam berapa?" tanyaku panik
"ehm pukul 4 pagi. Kamu pinsan cukup lama, tadinya kami kira kamu mati ternyata kamu masih hidup aku bersyukur." Jelas Kise. Aku hanya tersenyum "ngomong-omong Pak Murasakibara yang membayar pengobatan kamu. Dan yang membuat aku marah. Kenapa kamu ngga bilang kalau kamu punya riwayat kanker otak kami jadi cemas karena memikirkan kamu" lanjut Kise. Aku hanya terdiam.

Benar itulah rahasia terbesarku. Setelah itu aku tak pernah diizinkan bekerja berat lagi

To Be Contiuned

Doumo minna-san. ^w^

Author baru mau numpang bikin cerita perdana bertemakan keluarga :3

Maaf banget kalau agak berantakan :'( aku belum begitu mahir bikin ff. mohon reviewnya senpai tachi

See you di chapter 2 ^o^)/

Ttd

Tsuki