PROLOG

"Tidak mungkin!" Bentak gadis bersurai kuning pada pria dihadapannya.

Matanya memerah, nafasnya ter-enggal, air mata sudah menumpuk dimatanya tanpa disadari. Perasaan sesak menjalar ke hatinya, ini lebih sakit dari apapun.

"Tapi, tuan putri, ini benar. Kyuubi-sama yang memerintahkan saya untuk memberitahu pada tuan putri" Senggal pria bermata hitam ini.

Naruto terisak, air matanya tumpah, tubuhnya lemas dan ia pun ambruk diatas bangku hitam yang menjadi temannya setiap hari.

Ini seperti mimpi. Ini tidak mungkin terjadi, ini terlalu cepat. Bahkan Naruto sendiri belum sempat memenuhi janjinya. Tidak! Naruto yakin ini hanya permainan Kyuubi.

Perasaan bersalah langsung menghinggapi Naruto, harusnya tadi malam ia sempatkan untuk menuruti kemauannya. Andai saja Naruto tau ini adalah permintaan terakhir, ia pasti akan menurutinya walau sesibuk atau selelah apapun ia.

"Naru-chan sedang sibuk? Bisa ke rumah sakit sebentar tidak?"

"Oh, baiklah, Naru. Jangan telat makan ya, kamu mudah terserang maag. Obatmu juga jangan lupa diminum, I-"

"Hmm, baiklah. Sayonara, Naru-chan"

Kalimat itu. Kalimat yang membuat Naruto bertambah sesak dan benar-benar membuatnya menyesal.

Ia tak pernah menyangka bahwa itu adalah sayonara terakhir dari orang yang begitu dicintainya. Yang begitu mengerti dirinya dengan sempurna. Yang menjadi sahabat, keluarga, tempat mengadu, tempat debat dan tempat menumpahkan segala yang ia rasa.

Ini benar-benar terasa seperti mimpi.

"Tuan putri?" Pria bernama Asuma itu memanggil lirih.

Dua puluh satu tahun bekerja pada keluarga Namikaze membuatnya merasa seperti keluarga sendiri. Bahkan mengurus dan melihat Kyuubi dan Naruto seperti sekarang membuatnya bangga. Ia sudah menganggap dua Namikaze itu sebagai anaknya sendiri.

"Tinggalin Naru sendiri." Jawab Naruto disela isak tangisnya. Kedua tangannya meremas surai kuning indah miliknya.

Hati Asuma serasa tertusuk melihat Naruto yang selalu ceria menjadi seperti ini. Ini kah ekspresi kesedihan Naruto yang selalu ia sembunyikan selama belasan tahun?

Asuma menurut, lalu keluar dari ruang kerja Naruto. Ia tidak kuat jika berada lebih lama didalam dan melihat ekspresi kesedihan Naruto yang begitu menusuk hati.

Sedangkan Naruto didalam, tetap meremas rambutnya. Demi apapun, ini lebih sakit dari kehilangan seorang kekasih atau kehilangan benda tersayang.

Naruto masih yakin, ini adalah permainan Kyuubi. Kyuubi pasti merasa senang dan puas melihat Naruto terpuruk seperti sekarang ini.

Naruto lalu mengambil benda persegi panjang berwarna putih yang tak jauh darinya. Tangannya dengan cepat membuka kontak dan mencari nama Kyuubi disana.

Kyuubidoo-bidoo

klik. call.

Naruto menempelkan handphone ditelinga kanannya.

"..."

"Stop, Kyuu-nii. Naru kalah. Kyuu-nii menang"

"..."

"Naru kalah, Kyuu-nii menang"

"..."

"NARU KALAH, KYUU-NII MENANG! STOP PERMAINAN INI, KYUU-NII. NARU NGGAK KUAT"

"..."

"Kyuu-nii stop! Naru mohon, Kyuu-nii pasti tau apa yang Naru maksud"

"..."

"Ya, itu semua permainan Kyuu-nii kan? Naru mohon hentikan"

"..."

"Jangan bohong! Naru tau kalau Kyuu-nii-"

"Datang ke rumah sakit sekarang!"

"Ap-apa..."

Tuut. Tuut. Tuut.

Kyuubi memutuskan telephone nya. Meninggalkan Naruto yang diam mematung, dan lupa bagaimana caranya bernafas.

Jika memang ini permainan Kyuubi, mana mungkin ia menyuruh Naruto datang kerumah sakit?

Ini berarti serius.

Kyuubi tidak mempermainkan Naruto lagi.

Ini bagaikan kiamat bagi Naruto.

hulla! panda balik lagi bawa cerita yang bahasanya ga nyambung. mau nyoba baku tapi tetep aja gaberhasil yang ada malah aneh kan? huehehe. ini baru prolog kok, kalo penasaran makanya komen:v

di percakapan NaruKyuu ditelpon tadi sengaja gak panda kasi tau Kyuubi ngomong apa, nanti kalo uda partnya pasti dikasi tau kok (?)

yasyudahh, beri kritik&saran ya, dan lanjut or no?