Jaebum dan Jinyoung sudah saling mengenal sejak mereka berusia tujuh dan enam tahun, ketika mimpi-mimpi masih berlabuh pada pemadam kebakaran dan pilot dan pramugari. Mereka tumbuh bersama, melaju kencang dengan sepeda ke sekolah, menendang bola sepak hingga mengenai kaca rumah tetangga, bermain kartu yang dibeli murah dari toko seberang rumah.

Mereka tumbuh tidak menyadari garis tipis yang membatasi keduanya dengan dunia luar, garis tipis itu terus ada, hingga saat ini, saat Jaebum berusia tujuh belas tahun dan Jinyoung menginjak enam belas—garis tipis itu menghalangi mereka dengan orang-orang, membuat keduanya tampak tidak dapat diraih. Karenanya, sepanjang umur mereka, keduanya tidak pernah berpacaran.

Ketika ditanya kenapa, Jaebum dan Jinyoung selalu menjawab sama—"Lho, aku kira malah nggak ada yang mau sama aku, nggak ada yang pernah ngode soalnya?"

Padahal garis tipis antara mereka berdualah yang membuat semua orang menjaga jarak, entah bagaimana.

Kini mereka adalah lelaki dengan hormon remaja yang tidak stabil, sekamar di asrama, bersekolah di sebuah sekolah swasta khusus laki-laki.

Jinyoung berhenti menatap nanar buku Naked Lunch di depannya saat mendengar Jaebum mendorong pintu kamar mereka kencang, sebuah botol terselip diam-diam di balik lengannya, senyum lelaki yang lebih tua itu mencurigakan, tapi juga tampan, giginya berbaris rapi selaras senyumannya.

"Pesta di rumah Mark Hyung, pake jaket, kita berangkat lima menit lagi."

Jinyoung membalas senyum Jaebum dengan wajah cerah, ia bergegas mengambil kardigannya.

.

.


.

.

I DO NOT OWN ANYTHING except this plot and story, say no to plagiarism.
warning: trans thing?, underage drinking (pls jangan ditiru)
catatan: hmm you guys know how much i love jjp and fem!jinyoung ;) also, chapter 2 is on the way! please review about your thoughts

.

.


.

.

Suara kicauan burung berlalu dari balik jendela, cahaya matahari perlahan menyelusup di balik tirai tipis kamar Mark, tujuh pemuda berbaring di lantai, posisi mereka kacau balau, satu lelaki memulai gerutu di pagi hari, kepalanya pusing berat, ia tidak mengingat banyak yang terjadi kemarin malam.

"Uh—" ia bersuara, merasakan tenggorokannya parau dan suaranya berubah drastis, ia bangkit dan menumpu tubuhnya pada siku lengannya, matanya berkedip mencerna yang terlihat, suasananya sedikit gelap, meski cahaya matahari mengintip masuk.

Pemuda itu mencoba bangun perlahan, dengan kepala yang masih pusing berat, seperti hendak meledak, ia bahkan tak sempat memikirkan apapun selain kepalanya, pemuda itu berjalan pelan ke saklar lampu, berharap cahayanya dapat membangunkan yang lain.

Klik. Suaranya hanya sepersekian detik, disusul cahaya terang mengisi kotak kamar, keenam lelaki itu menggerutu, beberapa diantaranya hanya membenamkan kepala lebih dalam ke bantal, tetapi ada satu yang mencoba bangun, dan lelaki itu adalah sahabatnya, Jaebum.

Jaebum mendudukkan tubuhnya dan berkedip perlahan, ia tidak terlihat mengalami hangover berat seperti Jinyoung, jadi lelaki yang lebih tua itu hanya mengedipkan matanya sejenak sebelum mata cokelatnya berlari ke arah orang yang menyalakan lampu.

Ketika Jaebum melihatnya, matanya sontak melebar, dagunya terjatuh, dan napasnya terjebak di antara rasa terkejut. Jaebum masih menatap ke arah Jinyoung, lama, sebelum ia bangkit dan jari telunjuknya mengarah pada Jinyoung.

"—Jinyoung...?"

Jinyoung berusaha mengangguk, pusing sekali, "Ya, Hyung?"

Matanya terpana, lalu mendekat pada Jinyoung, kedua bola mata itu seperti menelanjanginya, saat ia hanya berjarak semeter dari Jinyoung, Jaebum berkata lagi, "Mungkin sebaiknya..," ia berkata, "kau memanggilku oppa."

Dengan perasaan bingung, Jinyoung mengernyitkan dahinya, hingga Jaebum mengangkat tangan kiri Jinyoung dan membuat tangannya menyentuh dadanya. Ada yang aneh saat tangan Jinyoung menyentuhnya, seperti... menonjol?

Lalu ia menundukkan kepalanya dan juga menyadari entah bagaimana rambutnya lebih panjang daripada biasanya. Lalu kenapa dadanya terlihat seperti dada perempuan?

Pusing di kepalanya seperti redup seketika, ia tergopoh-gopoh menuju cermin di kamar mandi, dan melihat refleksinya di sana. Meninggalkan Jaebum yang masih dengan mulut menganga.

Jinyoung menjerit melihat seluruh tubuhnya pagi itu.

.

.


.

.

Keenam laki-laki yang lain sudah berkumpul di ruang keluarga Mark. Lelaki bermarga Tuan itu tinggal di Seoul seorang diri dan ia berteman baik dengan Jinyoung dan Jaebum, serta beberapa orang lain yang entah ia temukan di mana, yang jelas, Mark Tuan kaya raya, dan suka membuat pesta hanya dengan tujuh orang sebagai anggotanya. Mereka semua menyukainya, malam harinya mereka akan bersenang-senang dan pagi harinya mereka pulang ke tempat masing-masing, untuk yang masih di bawah umur, mereka berusaha terlihat tidak mencurigakan.

Setidaknya begitu rutinitas mereka ketika ada liburan, hingga hari ini. Mereka terpaku pada entah apa, tapi suasana pagi itu tidak baik dengan tangisan dan jeritan di kamar mandi.

Setelah Jaebum membujuk orang yang berada di kamar mandi itu selama dua puluh menit, pada akhirnya Jinyoung memutuskan keluar dari kamar mandi, dengan rambut panjang sepunggung yang tampak kacau, mata sembap, figur wajah yang lembut, bahu kecil, tingginya menjadi lebih pendek, pinggang yang mungil, dan pinggul lebar khas perempuan.

Lima laki-laki di belakang Jaebum diam seribu bahasa.

Bambam langsung berdiri menghampiri Jinyoung, "Noona—eh, Hyung! Apa yang terjadi?!"

Dengan sesenggukan Jinyoung menjawab, "Nggak tahu.. uh.., kenapa.. harus aku..."

Youngjae yang sedari tadi diam berdiri perlahan lalu mendekati Jinyoung, memegang bahunya lembut dan berkata-kata dengan nada yang menenangkan, Jinyoung menghentikan tangisannya dan menatap Youngjae, Jinyoung sekarang bahkan tampak begitu mungil dibandingkan Youngjae, lelaki dengan tahi lalat di bawah matanya itu nyaris tersedak dan berkata ayo kita rapikan rambutmu, Hyung.

Jinyoung dan Youngjae berlalu meninggalkan yang lainnya saling berpandangan. Yugyeom seperti tahu alasannya kenapa Youngjae bisa selancar itu menenangkan Jinyoung, "Ia, 'kan sangat akrab dengan kakak perempuannya di Mokpo, bukan begitu?"

.

.


.

.

Dengan celana yang kelonggaran dan kaus kebesaran, Jinyoung berusaha keras duduk melingkar di antara yang lainnya, Jinyoung berada tepat di seberang Jaebum, yang lebih muda menatap lelaki dengan bahu lebar itu sendu, tidak tahu harus berbuat bagaimana. Jaebum terhenyak sejenak dan membalas dengan senyum biasa yang ia lemparkan saat Jinyoung khawatir.

Jinyoung merasa sedikit lebih baik.

"Jadi, kita akan membahas sebab tragedi hari ini," lelaki dengan topi hitam berdeham, nama lelaki itu Jackson Wang, Jinyoung dengar ia bertemu dengan Mark di Hong Kong, kembali ke topik, Jackson memandangi Jinyoung, "pertama, kita mulai dari Jinyoung. Kau ingat apa yang terjadi semalam?"

Mencoba berpikir, Jinyoung menatap ke lantai, "Tidak ada bedanya sama kalian, kurasa," ia masih berusaha mengingat-ingat kalau-kalau ada yang terlupakan.

"Kalau begitu kenapa hanya kau yang terkena, ya," Mark bercelutuk selagi matanya menatap lurus lengan Jinyoung yang tampak lebih kurus, "umm, kau minum sesuatu?"

"Aku rasa aku hanya minum sekali, aku bahkan tidak sempat ingat rasanya."

"—dan kau meminum sesuatu dari botol yang Jaebum Hyung bawa, 'kan?" Tiba-tiba Yugyeom yang sedari tadi hanya memperhatikan, berbicara, semua perhatian tertuju padanya, "aku melihatmu meminum satu gelas penuh dari sebuah botol bening dengan gambar matahari."

Jaebum lalu membalas, "Um, yeah, itu botol yang kubawa, sepupuku memberikannya padaku," Jaebum lalu menatap Jinyoung, "sepertinya kita meninggalkan botol itu di kamar Mark, aku akan ambil botol itu."

Selagi Jaebum pergi, Jackson lalu menatap yang lainnya, "Yang lain ada yang merasa meminum minuman dari botol itu semalam? Aku, sih, jujur nggak."

Bambam menggeleng, "Aku melihat Jinyoung Hyung langsung ambruk setelah sekali minum, saat itu, aku kira itu hanya karena Jinyoung Hyung tidak toleran pada alkohol," Jinyoung lalu menatap Bambam seolah ingin membunuhnya karena merendahkan dirinya yang tidak kuat mabuk, "saat itu ia berbaring dengan botol itu di tangannya semalaman."

Mark mengangguk-angguk, "Pantas saja aku bingung kenapa kita hanya berenam saat bermain Tujuh Menit di Surga," Mark lalu tertawa kecil, "kurasa aku sudah cukup mabuk untuk melupakan Jinyoung."

Jaebum kembali pada mereka dengan botol yang sedari tadi jadi bintang pembicaraan, botol itu cukup kecil dan hanya bersisa setengah, setengah dari botol itu setara dengan satu gelas, dengan begini jelas hanya Jinyoung yang meminumnya.

"Lihat apa ada tulisan sesuatu, Hyung." Youngjae menunjuk bagian belakang botol itu.

Lelaki itu memutar botolnya, dan menemukan satu paragraf aksara hangul dengan ukuran kecil.

"Symphoniaminuman yang membawa Anda melanggar garis waras, rasakanlah pengalaman luar biasa dalam hidup Anda. Petunjuk konsumsi: minum hanya satu cup untuk efek selama sehari, tidak dianjurkan untuk mereka yang memiliki penyakit..."

"Berhenti, Hyung," Youngjae menghentikan Jaebum dari membaca terus deskripsi minuman itu. Youngjae menatap wajah Jinyoung yang ditutupi horor.

"Dia bilang satu cup.. satu cup... holy fucking shit I drank a whole fucking glass!" Jinyoung histeris.

Lelaki—atau gadis itu berontak dan ia menendang kakinya ke udara, matanya berair dan ia nyaris mencengkeram wajahnya sendiri, Yugyeom, Jackson, dan Youngjae memegangi Jinyoung yang lepas kendali, entah bagaimana tapi Jinyoung dalam sosok perempuan memang menjadi lebih tidak bertenaga dibanding saat ia bersosok laki-laki.

Jinyoung berusaha lepas, tapi usahanya sia-sia dan ia merasa lemah, air matanya mengalir begitu saja, kenapa ia harus merasakan hal ini? Setelah liburan musim panas ini, ia akan masuk tahun senior, dan lalu selangkah lagi menuju kuliah, ia ingin mengejar mimpinya menjadi sastrawan dan aktor, tapi apa ia akan berhenti karena ini?

Lelaki yang kini terkurung dalam tubuh gadis itu hanya terdiam dan membiarkan air matanya jatuh begitu deras, teman-temannya kelihatan begitu tidak tega, terlebih Jaebum yang berada tepat di depannya.

Jaebum memandang Jinyoung lembut, tidak mengasihani tapi tidak acuh, mata lelaki itu tidak bisa Jinyoung gambarkan karena ia tak pernah bisa menebak Jaebum, sementara Jaebum bisa dengan mudah membaca Jinyoung seolah membaca papan pengumuman.

Perlahan, Jaebum mendekati Jinyoung, tangan kanan lelaki itu terjulur ke dagu Jinyoung, lelaki yang lainnya terkejut dan tidak menduga apa yang akan Jaebum lakukan, semua terjadi begitu cepat, tapi di antara kecepatan itu ada satu detik yang berhenti.

Saat itu, Jaebum mempertemukan bibirnya dengan bibir Jinyoung, menghentikannya dari tangis.

Kelima lelaki lainnya menjerit dan otak Jinyoung seperti berhenti berproses, yang ia tangkap, lelaki yang kini menciumnya terasa bagai sebuah rumah.

Yang melindungi.

"Jinyoung—?"

Yang menjaga.

"Udah,"

Yang menenangkan.

"Jangan nangis, ya?"

Dan—

"Kalau kamu nangis terus, kamu kelihatannya malah manis.. nanti.. nanti aku gakuat pengen—"

Jinyoung menampar Jaebum.