MINE

Cuih!

Aku tidak akan pernah mau untuk dinikahkan dengan orang itu. Yixing? WTF, kenal saja tidak, orang tuaku sudah ingin menjodohkanku dengannya, lalu bagaimana nasibku setelah menikah dengan orang itu nanti?. Aku memang gay, tapi aku bisa memilih calon ku sendiri. Tapi ini? Ibuku memang gila, menjodohkanku dengan orang yang sama sekali tidak aku kenal.

"Luhan, dia ini orang yang sangat baik. Dia pantas denganmu yang sikapnya seperti anak kecil." Begitulah ibuku memulai apa yang tidak ingin aku dengar.

"Terserah, aku tidak kenal dia, mom. Tega sekali kau menjodohkanku dengan orang asing." Gerutuku.

"Mom yakin kau akan menyukainya, dia bersikap sangat dewasa meskipun umurnya memang setahun lebih muda darimu." Ucap ibuku sambil tersenyum tanpa dosa.

"What?! Setahun lebih muda? Mom, apa mom ingin menjodohkanku dengan anak kecil?"

"kita akan bertemu dia malam ini, no comment. Kita akan pergi ke restaurant. Bersiaplah dan bersikap baiklah." Ibuku bangkit dari tempat duduk menuju kamarnya, meninggalkanku yang sama sekali ingin muntah mendengar ucapannya.

Aku, Xi Luhan. Seorang model terkenal yang banyak digemari pria dan wanita diseluruh dunia, aku juga seorang penyanyi terkenal, siapa yang tidak mengenalku? Semua orang kenal padaku. Tapi kali ini nasibku sial, ibuku akan menjodohkanku dengan seorang pria yang sama sekali tidak ku kenal. Bagaimana jika dia adalah seorang sasaeng fans yang ingin memburuku? Oh tidak. Ini tidak bisa dibiarkan.

Malampun datang, dengan malas aku sudah berpakaian rapi. Ya, ibuku memintaku untuk memakai tuxedo putih. Ini bukan acara pernikahan kan? Kenapa aku harus memakai baju ini?. Aku juga menyisir rambutku dengan rapi berharap agar orang itu akan terpesona padaku, bagaimanapun aku harus terlihat ramah dan tampan dihadapan siapapun karna aku tetap harus menjaga imageku. Benar kan?

Aku keluar kamarku dan mendapati ibuku sudah rapi dengan dress warna coklat muda dan berdandan sangat elegan. Aku tahu ibuku memang wanita yang sempurna. Tapi saying ayahku meninggalkannya untuk wanita busuk yang menggodanya.

Baiklah, singkat cerita aku sudah sampai di sebuah restaurant mewah bernama Moonlight Reastaurant. Restaurant paling elegan di kota ini. Ibuku ternyata sudah memesan tempat duduk. Tempat duduk paling ujung dilantai dua yang menghadap ke luar dengan view sinar perkotaan dan panggung disebelah kiri dengan piano diatasnya. Panggung klasik dan seperti ruangan romantis. Jujur aku terkesan dengan restaurant pilihan ibuku. Belum ada tanda-tanda seseorang naik ke atas selain pelayan yang menawarkan menu. Kami memesan tiga gelas anggur termewah di restaurant ini. Aku keluarga kaya, apapun bisa aku pesan kan?.

Kulihat ibuku sedang berbicara dengan seseorang di telepon, aku mencoba menguping pembicaraannya walaupun tatapan mataku tetap ke arah luar.

"Oh baik Yixing, tidak apa-apa, aku dan Luhan bisa menunggu. Hanya sepuluh menit tidak masalah, kota memang selalu macet pada jam segini. Baik Yixing, sampai jumpa."

Nah, sepertinya orang itu akan terlambat. Ibuku dan aku benci orang yang tidak tepat waktu. Aku menyeringai sedikit. Ibuku akan langsung menolak perjodohan ini mengingat ibuku tidak suka pada orang yang tidak disiplin waktu.

Namun dugaanku salah, beberapa waktu kemudian ibuku tersenyum ke arah belakangku. Aku yakin orang itu sudah datang. Aku tidak ingin menegok sedikitpun kearahnya.

"Maaf saya terlambat.." ucap suara yang aku yakini itu adalah suara Yixing. Oh god. Suaranya sangat menarik. Tapi aku tetap diam dan hanya meneguk sedikit anggurku.

"Tidak apa-apa Yixing, mari silahkan duduk." Ibuku meminta Yixing untuk duduk tepat didepanku.

Aku hampir saja memuntahkan anggurku karna ketika aku melihat seseorang yang duduk di depanku. Wajah yang sangat tampan ini duduk tersenyum dan sedikit menundukkan kepalanya memberi hormat kepada ibuku dan kemudian matanya menatapku dan membukkan sedikit kepalanya sambil tersenyum kepadaku.

Rambut hitamnya dengan poninya yang sedikit kedepan, badan yang tegap, matanya yang lembut, suaranya yang indah dan bibirnya yang sangat kissable itu. Oh tidak. Aku tidak bisa membiarkan imageku jatu dihadapan ibuku dan orang ini.

Kami mengobrol beberapa waktu dan makan bersama. Ibuku banyak menanyakan beberapa hal kepadanya. Dia adalah seorang pianist dan seorang composer lagu, dia juga terkadang menari karna itu hobbynya dan dia juga bisa bernyanyi. Dia sudah beberapa kali membuatkan lagu untuk grup terkenal seperti EXO. Sempurna. Dia memang terlihat sangat sempurna, dengan senyumnya yang menawan dan etikanya yang baik.

Aku lebih banyak diam dan tersenyum ataupun menjawab pertanyaan ibuku atupun Yixing. Mataku terkadang mencuri pandang kearahnya dan satu ketika mata kami bertemu, Yixing tersenyum dan aku langsung mengalihan pandanganku kearah yang lain.

Beberapa jam akhirnya berlalu, kami akhirnya memutuskan untuk pulang. Ibuku tersenyum sambil melingkarkan tangannya pada tangan Yixing.

"Yixing, bisa kau antar Luhan untuk pulang? Aku ada beberapa urusan dan aku sepertinya tidak akan pulang malam ini. Bisa?"

"Apa?!" Seruku sambil menatap kearah ibuku. Aku harus pulang dengan orang asing ini? Bagaimana jika dia membawaku kabur dan menculikku? Bagaimana dengan karirku nanti?

"Aku harus pergi ke rumah . yixing bisa mengantarmu. Sampai besok saying…" Ibuku mengecup pipiku, "Yixing, terima kasih." Yixing sedikit membungkuk kemudian sedikit membungkukkan kepalanya kepada ibuku, kemudian ibukupun menaiki mobilnya.

Kami terdiam beberapa saat sampai akhirnya Yixing mengahadap kearahku dan tersenyum.

"Kita pulang?." Tanyanya. Aku mengangguk dan kemudian masuk kedalam mobilnya. Aku sedikit gelisah karna aku takut sesuatu terjadi kepadaku. Bagaimana jika dia benar-benar sasaeng fans?.

Sepanjang perjalanan aku hanya diam dan tidak berkata apapun kepadanya. Menatap lurus kedepan dengan sesekali melirik kearahnya yang focus menyetir.

"Jadi…., lewat mana tempat tinggalmu?" Tanya Yixing sebelum mobilnya keluar dari jalur utama. Aku menatap kearahnya. Dia tidak tahu dimana aku tinggal? Semua fansku tahu dimana aku tinggal.

"Aku tinggal di Apartment xx, dekat dengan Seoul convertion centre di Cheongdamdong." Ucapku singkat.

"Oh aku tahu, ayo pulang."

Hujanpun turun dengan derasnya dan kami baru saja sampai di depan pintu apartmentku. Aku memasukkan security password untuk membuka pintu. Aku baru saja akan masuk keltika Yixing memanggilku.

"Ya?" Ucapku.

Yixing tersenyum. "Terima kasih Luhan, senang bertemu denganmu. Kita akan bertemu lagi nanti?" Tanyanya. Aku sedikit tercengang dengan ucapannya. Karna kau tidak memperlihatkan sikap terbuka untuknya ataupun berusaha bersikap ramah dengannya.

"Ya, mungkin.." dan tiba-tiba petirpun menyambar dengan kerasnya. Aku tercengang dan reflex berteriak dan berjongkok sambil menutup telingaku. Aku memang takut terhadap ketinggian dan petir.

Tak lama aku merasakan sepasang tangan menyentuh tanganku yang masih berada di telingaku. Aku membuka mataku perlahan dan melihat Yixing berjongkok dihadapanku dan menatapku dengan tatapan khawatir.

"Kau…baik-baik saja?" Yixing bertanya sedikit ragu kepadaku. Aku hanya terdiam menatapnya dan tak terasa air mata jatuh dari mataku.

"T-tolong…" Kami masih berjongkok di depan pintu. Yixing mengajakku berdiri dan menuntunku masuk kedalam rumah.

Kami berdua duduk diatas sofa sambil terdiam. Bdanku masih gemetar sambil memeluk bantal sofa. Yixing masih menatapku dengan pandangan khawatir. Dia tidak mengerti apa yang harus dia lakukan.

Yixing menarik napas berat dan kemudian menghampiriku dan berjongkok dihadapanku. Aku masih ketakutan dan gemetar akan petir yang terus saja menyambar. Dan ketika petir besar menyambar, seketika itu pula aku merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirku. Ya, itulah dimana aku pertama kali merasakan seseorang menciumku tepat dibibirku dengan lembut.

Dan akupun lupa akan petir yang masih saja menyambar diluar sana.