Title : Bestfriend

Author : Arhazhar Arha

Genre : Friendship

Lenght : TwoShoot (Part1 of 2)

Cast : No Minwoo

Jo Kwangmin

Jo Youngmin

Kim Taehee (OC)

Choi Rara (OC)

Kim Donghyun

HAPPY READING

CUUUUUUUUUEEEEEEE!

"Bestfriend? I hope I have one too,"

*BESTFRIEND*

Minwoo POV

Aku berjalan sendirian ke sekolah. Hari ini hari pertamaku masuk di sekolah yang baru. Di sekolahku yang lama, aku selalu saja di bully. Karena itu, eomma memaksaku untuk pindah ke sekolah yang baru. Ini bukan kali pertama aku pindah sekolah karena alasan yang sama. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku sering di bully. Apa aku terlalu lemah?

"Hei kau, cepat kemari!" kudengar suara seseorang berteriak. Aku yang sedari tadi menundukkan kepalaku sedikit mendongkak. Seorang namja dengan seragam yang sama denganku. Sunbae-ku kah?

"Kau tak juga kemari? Hah, dasar idiot! Kau tak mendengarku hah?" teriaknya lagi. Aku menengok ke kanan dan ke kiri. Tidak ada siapapun kecuali aku. Ini memang masih terlalu pagi.

Pletak

Seseorang memukul kepalaku keras. Dia adalah orang yang berteriak sejak tadi. Jadi dia memanggilku? Ah, ada apa lagi. Pagi ini sungguh tidak menyenangkan. Apa aku akan menjadi korban bullying lagi?

"Bodoh! Kau tak mendengarku?" ucapnya tepat di depan wajahku. Aku menutup mataku, takut. Ah, kenapa aku begitu penakut sih?

"Kau punya uang?" tanyanya. Aku merogoh saku celanaku. Ku berikan beberapa lembar uang yang seharusnya jadi uang sakuku selama seminggu ke depan.

"Cih, sedikit sekali. Baiklah. Mana bekalmu? Aku yakin anak kecil sepertimu pasti membawa bekal ke sekolah," ia menadahkan tangannya. Aku membuka ranselku pelan. Ah, aku benar-benar tidak diperbolehkan untuk makan siang. Padahal tadi aku belum sarapan.

"Jo Kwangmin!" seru seseorang. Ku lihat wajah namja ini tegang. Aku memiringkan kepalaku. Mencoba melihat siapa yang berteriak –memangil namja ini, kurasa- dari balik tubuh namja ini. Seseorang dengan wajah sama persis dengan namja yang baru saja memalakku.

"Bodoh! Kenapa kau selalu melakukan ini hah?" namja itu mendekat lalu menarik telinga namja dihadapanku.

"Ya hyung! Appo!" Ia memukul-mukul tangan namja yang ia panggil hyung itu.

"Kembalikan bekalnya!" titah namja bernambut pirang itu lalu melepaskan tarikan pada telinganya.

"Andwe! Ini sarapanku hyung! Aku lupa bawa tadi," tolaknya seraya menyembunyikan kotak bekalku. Kenapa namja ini tiba-tiba manja seperti itu?

"Aku sudah bawa kotak bekalmu. Sekarang kembalikan kotak bekalnya dan uangnya juga," serunya. Dengan raut wajah kesal, namja yang di panggil Jo Kwangmin itu memberikan kotak bekal dan uangku.

"Jeongseonghamnida. Maafkan dongsaengku ya? Dia memang kadang suka bersikap kekanakan seperti ini," ucap namja itu seraya membungkuk.

"Kau, minta maaf!" titahnya.

"Maaf," ketusnya.

"Yang sopan!"

"Jeongseonghamnida!" ucapnya lagi seraya membungkukkan badannya. Meski terpaksa karena lengan hyung-nya yang mendorong kepalanya untuk membungkuk padaku.

"Ne, gwenchana," ucapku akhirnya.

Mereka lalu pergi meninggalkanku. Aku kembali berjalan. Ku lihat sudah mulai banyak orang di sekitarku. Aku mencari-cari letak kelas XI-1 -kelasku yang baru- melalui peta sekolah yang terpasang di dinding. Ternyata ada di lantai 3.

XI-1

Aku mengintip dari balik jendela. Kelas baru diisi oleh beberapa siswa. Aku segera masuk dan berjalan menuju kursi paling belakang.

"Hei kau!" panggil seseorang. Aku berbalik.

"Jangan duduk disana!" serunya.

"Wae?"

"Kursi itu milik Kwangmin. Kau bisa mati jika mendudukinya," ucapnya. Kwangmin? Namja tadikah? Ku rasa dia benar-benar berpengaruh di sekolah ini. Tapi, kenapa dia menurut sekali pada hyungnya?

"Begitu yah? Kalau begitu, maukah beritahu kursi mana yang masih kosong?"

"Kau duduk di sampingku saja. Aku duduk sendiri,"

Aku menghampirinya lalu duduk di sebelahnya. Beberapa namja menatapku intens. Kenapa?

"Taehee. Kim Taehee," ia mengulurkan tangannya. Aku balas mengulurkan tanganku, menjabat tangannya.

"No Minwoo. Kau bisa memanggilku Minwoo," aku menyunggingkan senyumku. Teman pertama yang aku punya.

"Hey, kau suka mickey mouse? Aku juga. Aku punya banyak bonekanya di rumah. Ah, aku akan memanggilmu Mickey saja. Boleh?" ucapnya antusias ketika melihat banyak gantungan Mickey Mouse menggantung di tasku. Aku lalu mengangguk. Terserah kau memanggilku apa selama kau mau menjadi temanku, Taehee.

"Apa aku harus memanggilmu Minnie juga? haha" candaku.

"Ya, kau boleh memanggilku Minnie, Mickey!" serunya. Hey, aku hanya bercanda. Tapi, tidak apa-apa. Thanks, Minnie!

Tok tok tok

Aku mengetuk pintu ruangan kesiswaan. Aku ingin menyerahkan formulir pendaftaran ekskulku pada ketua kesiswaan. Aku mencoba untuk mengambil ekskul dance karena aku menyukainya. Dan tadi Taehee juga bilang kalau dia ada di club yang sama.

Tok tok tok

Lagi. Aku mengetuk pintunya. Tak ada jawaban. Apa ruangan ini kosong? Tapi tadi aku melihat seseorang masuk ruangan ini.

Cklek

Aku membuka pintunya perlahan. Aku memasuki ruangan yang cukup pengap ini. Jendela yang tertutup tirai dan ventilasi yang kecil.

Kulihat seseorang sedang menelungkupkan wajahnya diantara dua lengannya di atas meja. Apa dia sakit? Kenapa tidak ke UKS saja? Aku mencoba menepuk pelan bahunya. Tak ada respon. Ia tidur atau pingsan?

"Hei! Apa kau tidur?" aku menepuk lagi pundaknya.

"hmm... Lima menit lagi," lirihnya. Ah, dia tertidur.

Aku menunggunya sambil duduk di kursi didepan mejanya. Sudah 30 menit. Tapi dia belum bangun juga. Apa aku bangunkan lagi saja? Tapi kasihan sepertinya ia sangat lelah. Mungkin menunggunya sebentar lagi.

Jarum jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 4. Sudah dua jam sejak dia bilang 'lima menit lagi'. Ibuku juga sudah dua kali menelpon karena aku yang tak kunjung pulang. Apa aku serahkan besok saja? Tapi aku sudah menunggu selama dua jam. Ottoke?

"Hooaamm," ku lihat dia menguap. Rasanya aku kenal dengan orang ini.

"Eh? Jam berapa sekarang?" ia sibuk mencari kebaradaan jam diatas meja. Padahal jelas sekali kalau jam itu melingkar di pergelangan tangannya.

"Jam 5," ucapku.

"Hah? Oh ya, terima kasih. Mwo? Jam lima?" ia tersentak kaget setelah sadar kalau sekarang sudah pukul lima sore.

"Hey! Bagaimana kau bisa disini?" tanyanya ketika menyadari kehadiranku.

"Aku sudah tiga jam menunggumu bangun. Padahal kau berjanji hanya tidur lima menit," jawabku.

"Begitu ya? Maaf. Aku mengantuk sekali. Lagipula, kenapa tidak membangunkanku?"

"Ku lihat kau tidur nyenyak sekali. Jadi aku tidak tega,"

"Lalu ada apa kau menungguku?"

"Ini. Aku ingin menyerahkan ini," aku menyodorkan kertas pendaftaranku.

"Sekali lagi maafkan aku," Ia membungkuk. "Aku Jo Youngmin, ketua kesiswaan disini. Kau No Minwoo ya,"

Akhirnya aku pulang ke rumah setelah berbincang sebentar dengan Youngmin. Ternyata dia adalah kembaran Jo Kwangmin, namja yang tadi sempat memalakku. Pantas saja wajahnya begitu mirip. Tapi kenapa perilaku mereka berbeda sekali? Tadi, begitu Kwangmin tahu aku sekelas dengannya, ia langsung memberikan berbagai peringatan dan mengambil kotak bekalku. Padahal aku melihat ia membawa kotak bekal bergambar pikachu. Beruntung, uang sakuku tidak diambilnya juga karena saat itu Taehee segera menyeretku keluar kelas.

Aku membaringkan tubuhku di tempat tidur. Apa di semua sekolah ada penindasan seperti ini? Aku kan juga ingin hidup tenang seperti yang lainnya. Rara noona contohnya. Ia hidup tenang di setiap sekolah yang ia datangi. Dan beruntungnya, ia selalu jadi siswa populer. Seandainya dia tidak sekolah di sekolah khusus wanita, aku pasti memilih untuk satu sekolah dengannya, menghindari penindasan dari sunbae-ku atau yang lainnya.

"Minwoo!" ku dengar suara Rara noona memanggilku. Ah, itu pasti hanya perasaanku saja. Dia mana mungkin ada disini. Dia kan tinggal di asrama.

"Bogoshippo!" suaranya nampak lebih jelas setelah kurasa sesuatu yang berat menimpa tubuhku yang sedang terlentang.

"Jadi noona akan pindah ke sekolahku?" tanyaku pada Rara noona.

Kami sedang ada di ruang keluarga sekarang. Setelah menindihku dengan tubuhnya yang berat itu dan juga kecupannya di kedua pipiku, Rara noona segera menarikku untuk bangkit dari tempat tidurku. Ia dengan seenaknya memintaku untuk membawakan barang-barangnya dari dalam mobil. Usai melakukan itu semua, disinilah aku sekarang. Menerima kenyataan pahit kalau noona-ku yang pabo itu sedang mencubit-cubit kedua pipi mulusku.

"Aigoo Minwoo, kau lucu sekali," serunya girang. Bukannya menjawab pertanyaanku.

"Noona, jadi benar kau akan pindah?" tanyaku lagi.

Ia menghentikan aktivitasnya mencubit-cubit tubuhku dan menyandarkan tubuhnya di sofa. Ia menghembuskan nafasnya pelan.

"Ne. Aku akan sekolah di tempatmu. Ahjumma bilang kau selalu di bully di sekolahmu yang lama. Jadi ahjumma memintaku untuk menjagamu," jawabnya panjang lebah. Huh. Kebiasaannya muncul lagi. Cerewet.

"Aku kan namja. Mana aja namja dijaga seorang yeoja," ketusku. Ku sandarkan tubuhku di sofa dan menyandarkan kepalaku pada bahu Rara noona.

"Kau benar. Aku bilang seperti itu pada ahjumma. Tapi aku juga tak tega bocah seimut kau ditindas," lirihnya.

"Saengie-ya, kenapa kau tak pernah cerita padaku?" tambahnya lalu menyandarkan kepalanya diatas kepalaku.

"Aku kan malu, noona. Lagipula aku sudah biasa kok,"

"Sudahlah, besok aku sudah ada di sekolahmu. Jadi kau tidak perlu khawatir!" serunya lalu mengalungkan lengannya di lenganku. Hah, dia pasti tidur setelah ini.

"Lihat! Itu bukannya Rara eonni? Apa dia akan sekolah disini? Ah, senangnya!"

"Itu Rara noona! Hey, dia pakai seragam yang sama dengan kita!"

"Itu Rara dari sekolah wanita itu kan? Yang menang lomba menari itu?"

"Benar, itu Rara pemain teater sekolah wanita. Aku pernah melihatnya bermain teater bersama Donghyun sunbae. Ah, dia pindah kesini!"

Ku dengar pernyataan seperti itu selama aku berjalan di lorong sekolah. Apa Rara noona seterkenal itu? Aku saja sepupunya tidak tahu apa-apa. Aku tahu sih kalau Rara noona bisa menari. Tapi aku tidak tahu kalau dia seterkenal itu sampai semua siswa memandanginya saat ia melintas.

"Rara!" ku dengar seseorang memanggil nama Rara noona. Aku dan Rara noona berbalik melihat siapa yang memanggilnya.

Seorang namja -yang cukup tampan- berlari seraya melambaikan tangan kearah kami. Rara noona melambaikan tangannya, membalas lambaian namja itu. Dengan napas yang masih terengah, namja itu sampai dihadapan kami.

"Kau tak perlu berlari seperti itu chagiya!" ucap Rara noona.

Mwo? Chagiya? Apa ini namjachingu-nya Rara noona?

"Noona, kau tak pernah bilang kalau kau punya namjachingu," bisikku pada Rara noona yang tengah mengusap peluh namja itu dengan sapu tangannya.

"Aku cerita tahu! Kau saja yang tertidur saat aku cerita," ketusnya.

Aku mengingat tentang cerita Rara noona semalam. Memang sih waktu Rara noona sedang cerita aku mengantuk. Jadi tidak menyimak semuanya. Habisnya cerita Rara noona seperti dongeng tidur untukku.

"Hehe. Mian noona," ucapku akhirnya.

"Dongsaengmu?" tanya namja yang belum ku tahu namanya itu.

"Ne. No Minwoo imnida," jawabku seraya memperkenalkan diri.

"Donghyun. Kim Donghyun imnida," ia balas memperkenalkan diri dan menjabat tanganku.

"Sudah-sudah perkenalannya. Kita harus cepat ke kelas. Kelasmu dimana chagi?" tanya Rara noona padaku. Aku menunjuk ke atas.

"Lantai berapa? Ck. Aku sudah harus olahraga pagi-pagi," ia mendengus kesal lalu menarik tanganku, meninggalkan Donghyun hyung yang masih berdiri di tempatnya.

"Kau belajar yang rajin, ne?!" nasihat Rara noona sebelum aku masuk kelas. Tak lupa ia mengacak rambutku dan tentu saja, mencubit pipiku yang halus ini. Aku hanya mengangguk lalu masuk ke kelasku.

Taehee mengangguk-anggukkan kepalanya setelah mendengar cerita kepindahanku ke sekolah ini dan juga Rara noona. Mungkin ia akan menganggapku lemah dan meninggalkanku setelah ini. Gwenchana. Dia teman pertamaku dan aku tak mau berbohong padanya.

"Tenang saja Mickey. Beritahu aku kalau kau ada masalah atau ditindas oleh orang. Aku akan membantumu," serunya.

"Gomawo!" ucapku. Ah, aku kalah dengan dua anak perempuan. Kenapa aku begitu penakut?!

"Hei kau anak baru!" seseorang menyentuh pundakku.

"Annyeong!" sapaku seraya membungkukkan badanku. Dia, Jo Kwangmin.

"Apa aku belum bilang padamu kemarin? Jauhi Taehee! Ah, satu lagi Jangan berdekatan dengan Rara noona! Kau mengerti?"

Aku mengangguk. Sungguh aku tak berani menatapnya. Kau tahu? Tatapannya itu seolah akan menerkamku saat itu juga.

"Ada lagi. Jangan bicara apapun pada hyungku. Atau kau akan tahu sendiri akibatnya," ia meremas bahuku kuat.

Ia pergi meninggalkanku yang masih berdiri mematung. Remasannya pada bahuku terasa sakit sekali. Tapi di bagian lain, entah dimana lebih terasa sakit. Ketika dia bilang kalau aku tidak boleh mendekati noona dan Taehee. Memangnya kenapa? Apa Kwangmin menyukai Taehee? Tapi kenapa Rara noona juga?

Tok tok tok

Pintu kamarku diketuk. Aku yakin itu pasti Rara noona. Di rumah ini kami hanya berdua. Eomma sedang pergi bekerja begitu juga appa. Mereka kembali pada saat weekend. Itupun tidak setiap akhir pekan. Jika ada waktu senggang saja. Seperti kemarin, tiba-tiba saja eomma ada di rumah.

Aku membukakan pintu untuk Rara noona.

"Chagi, ayo makan!" serunya.

"Ya! Bahumu kenapa?" tanyanya histeris sambil menunjuk ke arah bahuku. Aku memang hanya memakai kaos polos tanpa lengan saat ini.

"Gwenchana noona," jawabku.

"Gwenchana apanya? Bahumu merah begitu. Kau berkelahi?" tanyanya lagi. Sepertinya Rara noona lupa kalau aku adalah korban penindasan di sekolah.

"Tidak noona. Tadi aku membantu halmoni yang membawa belanjaan. Karena berat aku bawa saja di pundakku," ucapku memberi alasan.

"Ah, begitu. Ya sudah. Ayo makan!" ia menarikku. Noona ini suka sekali menarikku.

Aku makan dengan lahap. Makan malam kali ini Rara noona yang buat. Masakannya enak sekali. Benar-benar keturunan koki. Apa aku sudah bilang? Appanya Rara noona adalah seorang koki lho?!

"Noona, apa aku boleh meminta sesuatu?" tanyaku.

"Apa?"

"Pura-pura tidak mengenalku yah di sekolah?"

"Wae?"

"Aku hanya ingin punya teman yang benar-benar mau berteman denganku. Bukan karenamu,"

"Hmm, baiklah. Saeng noona sudah dewasa ternyata,"

"Bilang juga pada Donghyun hyung," tambahku.

"Ne,"

Aku mendudukan tubuhku di kursi yang masih kosong di belakang. Aku tidak mau berurusan dengan Kwangmin meskipun harus kehilangan Taehee. Aku akan jelaskan padanya nanti sepulang sekolah. Semoga dia mau mengerti.

Selama pelajaran aku tak bisa konsentrasi. Kwangmin yang duduk di belakangku tak hentinya menendang-nendang punggungku. Sakit sekali. Aku juga tidak bisa berteriak dan minta bantuan. Ah, kenapa aku begitu lemah sih? Harusnya aku melawan kan?

Aku berjalan menuju atap sekolah karena ku kira ini satu-satunya tempat yang tak mungkin di jangkau Kwangmin. Aku duduk dan menyandar pada dinding pembatas. Disini tenang sekali.

"Kau makan siang disini juga?" tanya seseorang. Aku menengok ke asal suara. Jo Youngmin, ketua kesiswaan yang juga menjabat menjadi saudara kembar Jo Kwangmin, si preman sekolah.

"Ne," aku mengangguk.

"Ku dengar kau sekelas dengan adikku. Apa dia menindasmu?" tanyanya lagi.

"Ani. Dia baik sekali padaku," bohongku.

"Ck. Kau tak perlu berbohong seperti itu Minwoo. Aku melihatmu dan Kwangmin sepulang sekolah kemarin," ucapnya.

"Mianhe," lirihku. Aku tak selera makan lagi sekarang.

"Kau tak perlu minta maaf. Harusnya adikku yang minta maaf padamu," ucapnya. Ia lalu mendekatkan posisi duduknya denganku.

"Aku harap kau mau memaafkannya. Dia hanya ketakutan Minwoo-ya. Dia hanya tak mau orang-orang yang ia sayangi pergi meninggalkannya," tambahnya.

"Bukankah jika ia melakukan ini ia akan dijauhi?" tanyaku.

"Kau benar. Kita mungkin beranggapan seperti itu. Tapi, dia lain. Selama dia masih memiliki aku dan orang-orang yang ia sayangi, ia tak peduli jika harus kehilangan orang lain," jawabnya. Jadi seperti itu ya?! Aku merasa menjadi orang yang egois disini. Aku meningggalkan satu-satunya temanku hanya untuk menghindari bullying di sekolah. Juga menghindari sepupuku sendiri karena takut Kwangmin benar-benar marah. Harusnya aku tak peduli dengannya kan? Aku hanya harus mempertahankan orang-orang yang kusayangi. Bukan berusaha menjauhinya.

"Hey! Kenapa melamun?" Youngmin mengibaskan tangannya di depan wajahku.

"Gwenchana. Aku hanya sedikit iri pada Kwangmin," ucapku.

"Wae? Kenapa kau iri padanya?"

"Karena Kwangmin punya keberanian untuk mempertahankan orang-orang yang dia sayang. Tidak seperti aku yang selalu lari. Aku bahkan tidak bisa mempertahankan harga diriku,"

Aku menyuapkan makanan dari kotak bekal milikku. Meskipun aku malas makan saat ini. Mungkin ini bisa mengalihkan kecanggunganku. Seandainya aku punya hyung seperti dia juga. Atau setidaknya keberanian seperti Kwangmin.

"Jika dia berbuat jahat padamu, bicara saja padaku, ok?" serunya seraya menepuk pundakku.

"Aww!" teriakku refleks.

"Wae? Apa kau sedang sakit?" tanyanya. Raut wajahnya terlihat khawatir.

"Aniya. Gwenchana," bohongku lagi. Aku tidak mungkin bilang kan kalau adiknya baru saja menendang punggungku dan meremas bahuku.

"Coba ku lihat," ia menarik paksa blazer sekolahku. Membuka bajuku.

"Minwoo-ya, bahumu merah. Punggungmu juga. Apa ini perbuatan Kwangmin?"

Akhirnya ku anggukan kepalaku. Aku tidak mungkin berbohong lagi padanya kan? Dia sudah tahu semuanya dari awal. Percuma saja jika aku terus mengelak.

"Kita obati lukamu di UKS saja. Ayo!"

Seperti tadi pagi, aku pulang sekolah juga sendiri. Rara noona pulang bersama Donghyun hyung dengan mobilnya. Aku juga diajak sih. Tapi aku menolaknya halus. Aku tidak mau mengganggu acara mereka.

Bruk

Seseorang mendorong tubuhku hingga aku terjatuh.

Brak...

TBC