dengan cerita baru. hahaha. pairingnya Shika-Tema. mananih pengagum untuk pasangan ini. jangan lupa dibaca ya. oh ya cerita ini saya buat berdasarkan judul yang sama dari karangan author mana saya lupa namanya. tapi kayaknya dia ngak akan melanjutkan ceritanya. jadi ini saya buat yang versi saya. semoga bisa buat sampai tamat. fighting.
PROLOG
Sabaku Temari, Putri tertua dari klan Sabaku, pemimpin Sunagakure. Dia dijuluki rubi merah Negri Suna. Dia Cantik, Cerdas dan penuh perhitungan. Dia bukan seorang putri yang dibesarkan dengan kipas untuk menari. Dia adalah seorang Putri yang menggunakan kipas sebagai senjata mematikan lawannya.
Tapi seberapa keras pun seorang wanita, dia tetap akan melepaskan logikanya saat jatuh cinta. cinta. dia tidak tau kenapa dia bisa jatuh sampai selevel itu. tapi, sosok Nara Shikamaru benar-benar membuatnya merasakan pertama kali apa itu wanita. Ada sedikit sisi feminim yang sedikit di tonjolkan jika bersama pria jenius itu. pria yang membuat dia mampu menyerah dan mengakui kekalahan dirinya bahwa dia sekali lagi telah jatuh. Jatuh tanpa menolak ke pelukan sang jenius dari klan Nara.
Ironis, tapi pria ini jugalah yang mengajarinya rasa sakit. Sakit yang benar-benar sakit. Dua tahun mereka berhubungan jarak jauh, tidak pernah sekalipun Temari berpikir bahwa seorang Nara Shikamaru, yang menganggap makhluk bernama wanita merepotkan, mampu menjatuhkannya dalam kubangan bernama penderitaan. Sekali lagi, Sabaku Temari tersakiti dengan makhluk yang bernama pria.
.
INFIDELITY
SHIKAMARU-TEMARI
Proudly present
By
Marie-chan
CHAPTER 1
.
Temari memandang datar ke jendela. Pandangan matanya kosong. Air mata tanpa sadar mengalir begitu saja di kedua pipinya. Dia tidak pernah menangis. Baginya, pantang seorang wanita menunjukkan kelemahannya. Dia tidak ingin bernasib tragis seperti ibunya. menangis dan membiarkan dirinya tersakiti hanya untuk kepentingan seorang pria yang dicintainya. Sedang sang Pria, tidak pernah sekalipun memperhatikan dia bahkan putra dan putri yang mereka hasilkan dari pernikahan mereka. Bagi pria itu, mereka tidak cukup penting untuk dirinya, kekuatanna dan juga kekuasaannya.
Dari Ayah yang egois, Ibu yang terlalu lemah, saudara laki-laki yang masih kecil, Temari terpaksa berdiri sendiri dan melakukan apapun tanpa mengeluh atau meminta bantuan orang lain. Dia berhenti menangis, karena baginya tangisan tidak akan menarik simpati dari ayah dan ibunya. dia berhenti membuka dirinya, karena baginya, tidak ada yang akan mengerti dan mendengar dirinya. dia mengubur harapannya, karena dia tau, harapan dan cita-cita hanya akan membuatmu menjadi orang yang bodoh.
sampai pria itu, Shikamaru, kembali membuat harapan itu kembali. harapan bahwa dia bisa bahagia. harapan bahwa ada orang yang bisa dijadikan sandaran yang diyakininya berbeda dengan pria lain, pria yang diyakininya akan selalu menjaga hati dan tubuhnya, pria yang selalu di sematkan dalam setiap doanya. Pria itu lah yang menghancurkan segalanya. menghancurkan segalanya dengan bentuk ketidakfahaman mengenai apa itu cinta.
Berfikir pria itu menyadari kondisinya yang tidak bisa begitu saja meninggalkan negaranya. Dia seorang putri. Ada tanggung jawab yang harus dipikulnya. Jika dia bisa, dia ingin sekali memeluk kekasih hatinya yang terpuruk karena kehilangan sensei tersayangnya. Karena itulah, berharap dengan surat, dia bisa meringgankan beban kekasihnya. 1 bulan berlalu, tidak ada balasan, dan dia cukup bersabar, mungkin sang kekasih benar-benar terpukul. Karena itulah, dia mempercepat semua urusan di Suna, menguras semua tenaganya sampai hampir pingsan, hanya untuk mengunjungi kekasihnya yang dikiranya sedang berduka.
Tapi apa yang dia dapat, dengan dihantar oleh sang sahabat kekasih ke tempat dimana kekasihnya berada, Sang kekasihlah yang terlebih dahulu memberikannya kejutan. dan itu cukup fantastis.
Tidak perlu menjadi terlalu jenius saat mendengar suara lenguhan dan ringkihan yang penuh kenikmatan. Tapi terkadang wanita itu bodoh, sudah tau keadaan akan menjadi lebih sakit, dengan bodohnya Temari memberanikan diri membuka pintu apartemen itu. Masih berharap itu bukanlah kekasihnya. Masih berharap bukan sosok Shikamaru lah dibalik pintu kamar yang saat ini saling berbagi kenikmatan dengan wanita lain.
Shikamaru mengumpulkan pakaiannya yang berserakan di lantai dan memakainya dengan tenang. Di belakangnya Ino yang masih telanjang dengan ditutupi selimut putih, hanya memandang punggung Shikamaru dengan penuh cinta.
"Apa nanti malam kau akan datang?"
"Aku ada sedikit urusan dengan Hokage. Tapi ku usahakan untuk datang," Shikamaru telah siap dengan pakaiannya. Dia memandang Ino dengan datar. Tapi entah kenapa bayangan Temari selalu saja terbayang-bayang dibenaknya setelah percintaanya dengan Ino. Dia selalu menyesal. Tapi sulit baginya untuk menghentikan permainan ini.
Kematian Asuma, guru yang paling dihormatinya, cukup membuatnya terpuruk. Dia membutuhkan sandaran. Dia membutuhkan pengalih kesedihannya. Dengan Ino, dia bisa membagi kesedihannya. Karena mereka sama-sama merasa kehilangan. Karena hanya Ino lah yang saat ini paling mengerti dirinya. Bukan yang lain. Di awali dengan segelas Bir dan diakhiri dengan malam panas yang panjang membuat dia melupakan segalanya. Termasuk kekasihnya Temari, yang menanyakan kabarnya melalui surat yang sampai saat ini tidak disentuhnya.
Sensasi itu membuat dia candu. Membuat dia melupakan segala kesedihannya karena ditinggal. Sehingga satu kali berubah menjadi dua dan terus bertambah. Dia hanya ingin melupakan semuanya. Dan seks dengan Ino di rasa adalah solusi terbaik. Dan itu terbukti. Dia melupakan segalanya. Termasuk Sabaku Temari.
Shikamaru masih menatap Ino dengan datar. Ino yang menyadari diamnya Shikamaru dan megerling nakal. Dengan sengaja dia menurunkan selimut yang membungkus tubuhnya dan memperlihatkan lekuk tubuh yang memukau.
Pandangan Shikamaru langsung dipenuhi kabut nafsu. Kata-kata yang ingin disampaikan hilang terlupakan. Tangannya langsung terangkat untuk menjamah suguhan didepannya, sebelum ketukan pintu dari luar apartemen Ino menghentikan aktifitasnya.
Shikamaru memfokuskan inderanya. "Pakai pakaianmu. Aku keluar sebentar,"
Shikamaru membuka pintu dan menatap Chouji dengan bingung. "Ada apa?"
Chouji tidak bodoh menyadari hubungan yang dilakoni kedua sahabatnya ini. dia sayang Shikamaru maupun Ino. Mereka adalah sahabat sedari kecil. Tapi yang dilakukan mereka itu salah. Bukan maksudnya untuk menyakiti Temari dengan mengungkapkan hal ini didepan Temari. pikirannya sudah buntu untuk menghentikan Shikamaru yang semakin terpuruk. Dia hanya ingin lingkaran ini cepat berakhir. Dia hanya ingin dosa yang dilakukan sahabatnya ini cepat berakhir. Hanya itu.
Chouji menghembuskan nafasnya lelah. "Temari,"
Satu kata itu ditambah ekspresi Chouji, Shikamaru dapat menyimpulkan segalanya. Tubuhnya seketika tersentak dan bergetar hebat.
"Dia ada di apartemenmu,"
Shikamaru berlari seperti orang gila. Otaknya serasa tumpul seketika. Ketakutan kembali menjalar hebat diseluruh tubuhnya. Ada sedikit harapan jika Temari tidak mengetahui tentang perselingkuhannya. Ada sedikit permohonan kecil kepada Kami-Sama, bahwa semua baik-baik saja.
Tapi, tidak. Semua tidak baik-baik saja. di sana duduk kekasihnya yang memandangnya dengan sorot kecewa, marah, benci. Tapi yang lebih menyakitkan lagi, saat melihat bagaimana air mata yang mengering di kedua pipinya. Temari adalah wanita yang kuat. Dia tau itu. banyak kesedihan yang selalu dipikul oleh kekasihnya sehingga membuat dia berjanji untuk sedikit meringankan beban kekasihnya itu.
Shikamaru tidak pernah takut apapun, tapi saat ini, dia sangat takut untuk melangkah mendekati Temari. Jadi yang bisa dilakukan hanya memandang Temari dengan rasa bersalah yang besar dari ambang pintu.
"tidak ingin memberi penjelasan?"
Shikamaru perlahan berjalan mendekati Temari. "Temari. Ku mohon. Aku bisa menjelaskan semuanya?"
"Baiklah. Jelaskan,"
Shikamaru mencoba membuka mulutnya, tapi tidak satupun kata yang keluar dari mulutnya. Bahkan hanya pandangan penyesalan yang bisa diberikan. Dan itu cukup membuat Temari muak. Dia tersenyum miris dan kembali melepas pandangannya dari Shikamaru.
"berfikir bahwa pria sepertimu akan membuatku bahagia. Tapi aku salah. Ternyata yang dikatakan wanita lain itu benar. Semua pria itu sama,"
Shikamaru mendekati Temari. Dia menunduk dan mengamit tangan Temari yang bergetar hebat. Mungkin menahan gejolak dalam tubuhnya. Berharap sentuhannya dapat menenangkan, yang ada hanya memicu amarah dalam diri Temari.
"Jangan pernah menyentuhku dengan tangan kotormu,"
Cukup kalimat panjang itu membuat Shikamaru melepaskan pegangannya dan memandang Temari dengan sakit. Tapi Temari tidak peduli akan hal itu. dia benci pria ini. dia sangat membencinya. Walaupun saat ini pria dihadapannya memandangnya dengan terluka. Tapi dia tidak peduli.
"Kau paling tau apa yang paling ku benci. Perselingkuhan. Karena itulah yang menimpa keluargaku. Ayah yang tidak puas dengan keluarganya, dan ibu yang lebih memilih menangisi hidupnya. Pikirmu, aku akan seperti ibuku?"
"ku mohon Temari. Dengarkan penjelasanku,"
"Penjelasan apa. Kalau kau sangat menikmati tubuh sahabatmu itu. bodoh aku berfikir bahwa kau saat ini sedang menderita. Ternyata,"
Ejekan Temari membuat Shikamaru melupakan penyesalannya. Seperti semua pria, dia juga tidak ingin dipersalahkan. " Kau tidak pernah mengerti Temari. Aku terpuruk. Aku membutuhkan dirimu. Jika saja kau berada disini semua ini tidak akan terjadi,"
Temari memandang datar setelah Shikamaru selesai mengucapkan pembelaannya. Shikamaru yang tadinya menatap Temari dengan kesal, berubah, saat mengetahui apa yang diucapkannya adalah kesalahan. Temari tertawa mengejek," yah kurasa kau benar. Akulah yang salah disini. Akulah yang salah, berfikir kekasihku akan mengerti keadaan ku. Akulah yang salah, berfikir kekasihku akan sedikit terhibur hanya dengan berpuluh surut, yah selalu akulah yang salah disini, bukan begitu Shikamaru?"
Untuk kali pertama, Shikamaru tidak bisa membalas perkataan Temari. Untuk pertama kali dia menangis merasa bahwa tak ada satu alasan logis yang bisa mendukung apa yang dilakukannya. Dan sekali lagi dia mencoba duduk di hadapan Temari dan mengamit pergelangan Temari. Dia mengeraskan penganggannya saat dirasa Temari kembali memberontak.
"Ku mohon Temari. Kami melakukannya untuk pelampiasan. Ku mohon," dia mencium kedua tangan Temari dan bergerak terus keatas, berharap ciumannya dapat meredakan amarah Temari. Berharap dengan sentuhan fisik, semua rasa sakit yang ditimbulkannya akan hilang.
Bukannya senang akan sentuhan Shikamaru seperti biasanya, dia hanya merasa jijik. Dan saat ciumannya sampai ke leher, Temari dengan kasar dia dorong tubuh Shikamaru dengan kuat, Shikamaru yang lengah, membuat punggungnya membentur kuat meja yang berada didekat situ. Shikamaru meringis menahan sakit, tapi Temari tidak peduli.
"Kau fikir, setelah kau bercinta dengan wanita lain, aku akan memaafkanmu begitu saja jika kau menciumku. Kau berfikir, semua masalah akan selesai hanya dengan seks," kembali Temari melemparkan pernyataan yang menyudutkannya. Walaupun masih dengan postur tenang, tapi sangat jelas, setiap bait kata yang dikeluarkan Temari mengandung rasa marah yang besar.
Shikamaru bangkit, penolakan Temari lagi-lagi membuat dia sakit. Saat ini dia memang tidak bisa berfikir terlalu jernih. Semenjak kematian guru Asuma hanya amarah lah yang selalu mendominasi hatinya. Menyalahkan takdir dan orang lain. Seperti yang saat ini dia lakukan. "Jadi kau mau aku melakukan apa hah. Ya aku salah. Aku tahu itu. tapi seharusnya kau lebih mengerti dan memahami. Bukan seperti wanita merepotkan yang selalu ingin dimengerti," Balas Shikamaru tak kalah kerasnya.
Temari memilih diam dan tidak ingin lagi berkata apa-apa. Bukankah manusia memang seperti itu. bersalah tapu tidak rela dipersalahkan. Setengah hatinya berharap bahwa dia harus mempertahankan cintanya pada Shikamaru. Tapi setengah lagi seakan-akan sudah mati. Sepanjang hidup harus menahan perasaan dan mencoba memahami semua orang, membuat hatinya mati dengan serangan terakhir dari pria didepannya. Pria dihadapannya sama seperti ayahnya, menganggap perselingkuhan adalah hal yang biasa. Menganggap bahwa hubunga badan dengan wanita lain tidak masalah, selama bukan hati yang terlibat didalamnya. Lucu sekali bukan. Mana ada hubungan badan yang tidak melibatkan perasaan.
"Kau bertanya aku ingin apa? Baiklah. Sepertinya hubungan ini tidak bisa diteruskan. Aku bukan wanita yang pengertian seperti yang kau minta. Jadi lebih baik kita berjalan dengan jalan yang kita anggap benar,"
Temari tidak menunggu balasan dari Shikamaru, dia lebih memilih meninggalkan Shikamaru yang masih terdiam ditempatnya.
Bagi Temari, tidak ada lagi yang harus dikatakan. semua sudah jelas. dia tidak ingin menjadi bodoh dengan memperpanjang masalah yang hanya menjadi karat dan nanah dihatinya. jika itu sakit, lepaskan secepat mungkin. bukankah itu lebih baik?
.
.
.
TO BE CONTINUED
