Dia datang dari desa..

Dia datang dengan keluh kesah

Dia pergi untuk mengambil resiko dan menuruti ambisi

Dia hanya pria yang memperihatinkan yang mencoba menggenggam mimpi

Dia Kim Jongin

BAB 1 : Kim Jongin's target.

Dua orang pria, mereka bernama Kim Jongin dan Byun Baekhyun. Kedua pria yang tengah menikmati udara segar pagi hari di kota Seoul. Tepatnya disebuah universitas ternama yaitu Seoul Internasional University. Hal yang biasa mereka lakukan duduk didekat air mancur kebanggan tempat mereka menuntut ilmu. Menuggu kelas yang 30 menit lagi dimulai.

"Heh! kau serius yang benar saja."Kata Baekhyun setengah mencela sahabat baiknya ini.

"Tapikan kau yang memberi ide, bagaimana sih!" Jongin mendengus kesal memainkan jemarinya random.

"Tapikan aku cuman bercanda Jong! Ini lain cerita jika yang kau incar itu Oh Sehun. Coba kau bayangkan? Aku membayangkanya sudah tak sanggup."Baekhyun gelang - gelang kepala lalu mengadah kelangit melepas penat. Menarik nafas berat, Kim Jongin apa yang kau fikirkan dengan Oh Sehun, hal yang gila bahkan untuk menjadi mimpi.

"Memang Sehun kaya sekali yah Baek?" Baekhyun tertawa keras, menertawakan pertanyaan bodoh Jongin. Jika Sehun hanya seorang anak tukang mie dia tidak akan menyebut kemustahilan

"Sangat, Jong! Dia anak tunggal dan karena kedua orang tuanya sudah meninggal maka warisan akan segera paten menjadi miliknya saat dia menyelesaikan Study disini, yang artinya itu sebentar lagi." Mata Jongin membulat. Benarkah? Dia tidak perduli.

"Wahhh debaek! Aku harus segera antri sebelum dikalahkan orang lain. Pokoknya aku harus dapat jatah." Baekhyun mendengus. bukanya mikir malah semakin antusias.

"Sebegitu inginya yah hidup mewah."tanya Baekhyun memperhatikan wajah polos Jongin.

"Sangat Baek. Waktu aku mendengar kata - katamu waktu itu. Fikiranku mendadak cerah. Dan aku berfikir kenapa sekali saja dalam hidupku aku bahagia dengan uang banyak. Kapan lagi."

"Akukan hanya bercanda Jong. Nanti saat kau sukses kau pasti bahagia."

"Itu yang aku ragukan, berapa lama aku harus menunggu? apa 1 tahun 3 tahun atau 10 tahun. Diumurku yang genap 20 ini aku merasa tidak pernah bahagia dan dimanja dengan harta. Ingin rasanya seperti orang lain pergi ke mall, travel makan dilestoran naik mobil mewah. Tidak usah khawatir tentang tungakan sekolah atau uang sewa, biaya makan juga berkerja." Jongin mendesah menatap awan yang cerah. Baekhyun memandangi wajah Jongin yang nampak lelah. Kim Jongin pria yang malang memang. Baekhyun bertemu denganya di awal semester penampilanya yang udik membuat Baekhyun tergerak untuk membantu Jongin besosialisasi. Akhirnya Jongin lebih baik dari yang dulu dan menjadi teman baiknya di Club menari dan semakin akrab dari hari kehari. Bagi Jongin hidupnya hanya ia gunakan untuk berkerja, makan dan belajar. Jongin anak yang jujur dan polos itulah yang menurut Baekhyun adalah kekurangan Jongin pria ini juga mudah terpengaruh oleh lingkuangan. Buktinya saja hanya dalam waktu 1 tahun Jongin sudah menjadi pria Seoul yang punya banyak mimpi yang tak masuk akal. Bagaimanapun Jongin akan selalu menjadi adik kesayanganya.

"Kau akan patah hati nanti. Kalau ingin menangis jangan datang padaku." Gerutu Baekhyun,

"Akukan ingin uangnya saja. Kenapa harus menangis. Paling aku hanya akan bilang Hey Baek Uangku UangKu UANGhhmmmmf"Baekhyun menatap tajam Jongin. Jongin mengap - mengap kehabisan nafas. Ya ampun Jongin tidak bisa bernafas.

"kau gila. Kalau ada yang dengar kau bisa mati!" Jongin hanya cengegesan.

"Sehun!"Seseorang berteriak. Ketika nama itu terdengar sontak saja Jongin dan Baekhyun menatap kearah suara. Satu Lelaki tampan dan pria manis tengah terlibat dalam obrolan. Beberapa langkah dihadapan mereka.

"Malam ada waktu?"

"Maaf Kyung. Malam aku akan pergi."Balas Sehun lalu menatap jam digitanya. "Aku pergi. Ada hal penting." Sehun pergi begitu saja dengan wajah pokerface.

"Tapi Sehun."cegah Kyungsoo, tapi Sehun berlalu, pria manis itu menunduk lalu berjalan melawan arah dengan Sehun.

Jongin hanya menatap kepergian dua orang itu. Lalu mengalihkan pandanganya pada Baekhyun.

"Baek? apa Sehun seperti itu bahkan pada pacarnya sendiri?"

"Pacar pantatmu! Dia Do Kyungsoo. Anak dekan. Sudah lama suka Sehun makhlum orang - orang kaya ini memiliki ruang khusus untuk kalangan atas yang berpengaruh disini, jadi D.o bisa dekat dengan Sehun. Dan kau harus jauh - jauh dari Kyungsoo atau beasiswamu akan dicabut. Kemana saja sih kau masa hal seperti ini saja kau tak tau." Jongin cemberut.

"Molla. lagi pula yang aku lakukan tak jauh dari makan belajar nongkrong dikedai ramen dan minum soju bersama Lay, Xiumin and with you!" Jelasnya dengan bahasa inggris pas - pasan diakhir kalimat.

"Aku mual dengan aksen inggrismu"

"Dont do that Baekhyunieeee" Baekhyun tersenyum mengejek.

"So what you think about that?"

"Nice day."

"Sudahlah."Baekhyun tau Jongin tidak akan mengerti dasar payah.

"Bisa kau terjemahkan."

"Jadi apa yang kau fikirkan tentang hal ini. Kau masih mau mengejar mimpi! maksudku si Oh itu."

"Kau yang mendorongku. Kau bilang 'Kau harus bersenang - senang lain kali temukan yang menantang. Kaukan bisa cari pria kaya. Kau akan bahagia walau sehari.' kau ingat kata - katamu itu hah!" Kata Jongin bete.

"Hey! bilapun benar aku bilang begitu setidaknya cari yang jelek jadi kau laku. Sigendut Minje atau si culun Sukja atau apapun itu kecuali dia. Kau akan menghabiskan waktu kalau mengejarnya! menyerahkan harga diripun belum tentu laku."

"Yakkkkk! masa aku sama yang seperti itu. walau aku belum pernah punya pacar orang kaya, setidaknya pengalamanku harus dengan yang menarik. Bukan siapa itulah yang jelek! Ku jual saja harga diri ini. Kalau harganya pas."

"Kau fikir kau menarik dan tidak jelek."

"Seumur hidup aku bercermin aku hanya kurang aku sedikit manis. Lumayan buat modal awal."Jongin tertawa gila. Dasar bocah gila.

"Kau dan Sehun itu seperti planet Bumi dan Pluto. Bumi adalah planet yang sempurna dan Pluto adalah planet yang ditendang dari galaxi. Jauhlah untuk kau raih."

"Oh begitunya. Engga apakan kalau aku coba. Iya Baek dukung aku."

"Kauuuu masih! ya aku menyesal memberikan ide bodoh itu! harusnya kukatakan padamu lebih baik kau hidup susah tapi masih bisa tersenyum. Untuk apa harta." Kata Baekhyun galak Jongin tak terima.

" Kau bilang kau yang bilang harta untuk bersenang - senang."balas Jongin kesal.

Ketika kedua sahabat itu tengah beradu argumen seorang pria blaster menghampiri mereka. Wajahnya terlihat tertekuk. Lalu tiba - tiba argumen itu terhenti oleh suasana beku. Pria itu memeluk Jongin. Hey! bangunkan Jongin ada apa ini.

"Bantu aku okey! aku kalah taruhan. Aku harus memeluk seorang pria jika kalah padahal akukan inginya memeluk wanita seksi. Kau liat pria disana. Ketua kedisiplinan itu." Pria itu menunjuk seorang pria manis yang melambai kearah mereka dari jarak cukup jauh. Terlihat berusaha menyembuntikan tawanya.

"Suho Sumbae?" jawab Jongin. Tentu saja Jongin kenal karena reputasinya yang cukup gemilang sebagai ketua kedisiplinan.

"Iya aku bertaruh tidak akan ketauan merokok sayangnya aku ketauhan. Masih ada 72 pria lagi yang harus kupeluk."

"Hukuman yang aneh..."

"Dia sudah kehabisan ide menghukumku."Pria itu tertawa sangat menyenangkan untuk didengar.

"Ahh kau juga sini kupeluk."suaranya terdengar berat dan manly. Tatapan tajam wajahnya dan rahangnya yang tegas tidak bisa melukiskan bahwa pria ini adalah tipe pria ramah dan humoris. Baekhyun juga nampak gugup dan bersemu merah.

"Nah sudah 15 detik. Geomao junior - junior." Lalu pria itu pergi menuju seorang pria yang akhirnya tertawa terbahak - bahak. Meninggalkan Baekhyun dan Jongin yang masih melamun.

"Jongin. Apa hari ini aku memberikan sedikit hartaku untuk orang tidak mampu?" kata Baekhyun masih menatap pria itu dengan binar kagum. Jongin menyirit.

"Setauku. Sepanjang perjalanan kesini, tidak. Kau hanya memberiku Kopi."Jawab Jongin.

"Iya itu Jongin! karena aku memberikan itu. Jadi aku dapan pelukan dari Kris! kau tau tidak sembarang orang bisa dekat dengannya." ujarnya mengebu - gebu seperti wanita yang dimabuk kasmaran. Atau anak anjing yang menggongong diberi tulang.

"Jadi maksudmu aku orang miskin yang kau beri sedekah. Dia bilang 72 lagi. Sudahlah kau dan dia seperti planet Bumi dan Pluto. Bumi-"

"Jangan fotocopy ucapanku. Kim Jongin sii. Ayo kita pergi ada kelas yang menunggu."Baekhyun berdiri mendahului Jongin yang terkekeh. Jongin menyusul pria mungil itu lalu merangkulnya. Memang enak diceramahi seperti itu. Jongin juga tadi gatal mendengar ceramah planet planet tidak bermutu itu.

Keringat mulai mengering, Jongin merapihkan beberapa pakaian dan cadangan sepatu lusuhnya, sepatu yang susah payah dia dapatkan untuk latihan menari. Hari sudah semakin gelap. Kampus sudah mulai terlihat lengang, Setelah beres mengemasi barang - barangnya, Jongin segera melangkah pergi tak lupa mengunci pintu ruang dancenya. Baginya hari ini masih panjang masih ada 2 perkerjaan yang harus dia selesaikan, kegiatan rutin yang tidak bisa di hindari.

"Baekhyun pasti sudah pulang."gumanya sambil menatap langit muram.

Jongin mengeratkan peganganya pada rensel yang dia gendong satu tangan, kakinya melangkah menuju halte. waktu menunjukan pukul 07:07. Jongin menghembuskan nafas lalu meneruskan perjalananya. Sepanjang jalan yang dia lihat adalah mobil - mobil mewah. Segerombolan gadis yang cekikikan dengan barang belanjaan mereka. Dan restauran mahal yang didalamnya terdapat wanita dan pria tengah menikmati lezatnya sebuah makanan. Sedangkan dia hanya berjalan dan berjalan.

"Punya banyak uang itu memang enak, Baek!"Gumanya menatap jalan.

"Sehummmf"Desah seseorang terdengar jelas ditelinga Jongin saat melewati sebuah gang, membuatnya penasaran.

Disana seorang pria dan wanita tengah bercumbu. Pria itu terlihat dingin menerima cumbuan wanita itu tanpa perlawanan. Jongin bersemu malu lalu segera meninggalkan tempat itu nafasnya tidak teratur. Sungguh apa yang baru dilihatnya benar – benar membuatnya seperti perawan yang malu malu kucing.

"Inikah yang dia bilang tentang urusan penting sungguh parah. Sehun itu tipenya yang cantik dan seksinya. Tapi semua pria memang seperti itukan. Lagi pula dia memang sempurna." Gumanya kecil sambil berjalan dengan pelan.

"Apa menurutmu mengintip seseorang itu sopan."Remang. Jongin merasakan tubuhnya meremang mendengarkan suara maskulin memasuki gendang telingnya. Perutnya mendadak melilit. Jongin membalikan tubuhnya.

"Ah, Kamchagiya. kau mengagetku."Pria itu menatapnya tajam membuat Jongin mati kutu.

"Mianhe, aku hanya penasaran."

"Kadang rasa penasaran bisa membunuhmu."

"Ohnya mumpung kau ada disini aku ingin bilang aku suka kau." Jongin menangkap reaksi Sehun yang hanya diam. Jongin mendadak kikuk. Dia apa - apaan sih. Dia hanya merasa gila sekarang,

"Eh apaan tuh yang kubilang. Maksudku aku suka kau jika melepaskanku. Aku harus berkerja."

"Sebaiknya kau pergi. Dan jangan pernah mengatakan hal aneh padaku. Sebelum kau berkaca."Jongin mendengus lalu menatap Sehun sengit. Walau tatapan Sehun lebih mengerikan darinya tapi dia tidak terima dihina seperti ini. Jadi memberikan pelukan yang pasti akan membuat Sehun mati sebal adalah hal yang Jongin fikirkan saat itu, tak perduli resiko, rule atau apapun.

"Aku sudah bersamamu. Rasakan pesonaku hehe."Ujar Jongin beberapa detik kemudian Jongin bisa merasakan tubuh Sehun menegang dengan tangan terkepal. Sebelum terjadi sesuatu Jongin segera berlari sekencang - kencang meninggalkan Sehun yang masih terdiam tanpa melakukan hal yang tidak berarti. Menatap kearah Jongin menghilang dengan dingin.

Desir angin berhembus, udara dingin menjadi teman yang menjengkelkan langkah Jongin yang kala itu hanya berbalut jaket kusam dan sehelai sal. Semua orang berjalan dengan cepat berusaha menghalau udara dingin dipagi hari yang entah berapa derajat. Jongin mengusap tanganya, sekali - kali meniupkan udara hangat dari panas tubuh melalui mulut. Menunggu simerah berubah menjadi hijau, bersama yang lain.

"Aku benci dingin. Ini bahkan bukan musim salju."gerutu Jongin kesal. Jongin menatap lampu lalulintas dengan gemas. Lalu harum dan hangat. Jongin menemukan secangkir kopi hangat dalam sebuah cup. Berada disebelahnya bertenger manis dalam genggaman orang lain. Tiba - tiba seseorang yang mengenggam kopi hangat itu memberikan satu cup kopi padanya. Dengan cepat Jongin mendongkak melihat siapa sipelaku yang baik hati itu.

"Kau melihat kopiku hingga meneteskan liur."ujar pria itu bergurau. Tapi Jongin tetap memeriksa bibirnya dengan gerakan mengelap yang Jongin temukan adalah kering. Syukurlah dia tak sememalukan itu.

"Bibirku tidak meneteskan liur kau pembohong. Kris sumbae."Tuduh Jongin.

"Ambil ini. Dan ayo menyebrang."Jongin mengambilnya. Tidak perduli dengan tanggapan Kris nantinya. Mereka akhirnya melewati penyebrangan bersama yang lain laju lalu lintas kembali menjadi padat oleh kendaraan. Jongin menyesap kopinya sedikit demi sedikit. Dan berusaha mencari tempat yang nyaman menikmati secangkir kopi gratis enak ini.

"Kau sedang mencari sesuatu?"ujar Kris melihat Jongin celingukan.

"Tempat duduk. Aku tidak biasa menikmati kopi sambil jalan. Lebih enak saat duduk dan menatap apapun itu."

"Disana."Tunjuk Kris menunjuk sebuah kursi dibawah pohon yang mengarah kesungai. Jongin mengangguk sambil berlalu meninggalkan Kris yang tersenyum kecil.

"Kau suka kopi."ujar kris memecah keheningan. Karena sedari tadi Jongin hanya fokus pada Kopinya dibandingkan pria tampan seperti Kris. Jongin mendongkak menatap Kris lalu kembali pada kopi yang digenggamnya.

"Aku suka wangi kopi. Menenangkan fikiran. Terimakasih sudah repot - repot membelikanku Kopi."Kata Jongin pede lalu menyesap kopinya Kris tertawa renyah, sebelumnya belum pernah menemui seseorang seperti Jongin. Apa adanya.

"Wangi kopi memang menyenangkan. Itu sebenarnya bukan untukmu tapi untuk temanku Sehun. Kau terlalu percaya diri jika berfikir ini untukmu,"Jongin membulatkan matanya.

"Apa dia akan marah jika tau kopinya kuminum? Aku berfikir kau beri ini untuk ucapan terima kasih padaku karena waktu itu mengijinkanmu memelukku. Memeluku itu tidak gratis asal kau tau."

"Hey! semua orang ingin kupeluk. Hanya kau yang mengeluh."

"Karena aku bukan semua orang aku adalah aku Kim Jongin. Lalu kopi ini otte?"

"Biar kuurus. Besok turnamenku,"ujar Kris lagi. Jongin kebingungan.

"Lalu?"

"Asssh jangan berpura - pura aku tau kau suka melihatku beraksi dilapangkan? Mengaku!"

"Pede sekali kau Sumbae. Itu Baekhyun yang memaksaku. Katanya saat di dipeluk beberapa minggu yang lalu dia seperti terikat denganmu jadi dia selalu memaksaku untuk menonton pertandingan basket membosankan itu." Jelas Jongin. Kris mendengus.

"Bayar Kopiku saat kita sampai dikampus."katanya marah.

"Ah maksudku pertandingan basket yang menyenangkan itu."Kris masih menampilan tatapan dingin Jongin kehabisan ide. Harusnya bibirnya dikunci rapat untuk tidak berkata blak - blakan.

"Aku tidak punya uang, jangan sakiti aku."

"Hahaha... Apa - apaan sih mukamu. Sudah sana pergi. Aku mau beli kopi dulu."

"Ahhh aku temani,"

"Tidak!"

"Kau pasti malunya membawaku. Aku ikut ne,"

"Bukan begitu. Aku takut kau minta dibelikan ini itu. Uangku pas - pasan."Kata Kris. Membuat Jongin merengek. Masa iya pria ini tidak punya uang diakan termasuk Konglomerat Class yang isinya hanya orang - orang sangat kaya. Masa tidak mampu belikanya makanan.

"Memang aku belum sarapan." Balas Jongin memegang erat tangan Kris.

"Diberi hati minta jantung,"Jongin melepas kasar tangan Kris lalu menatap Kris dengan sorot terluka. Orang kaya semuanya sama. Lalu berbalik pergi. Tapi sebuah lengan melingkar di pundaknya.

"Kau anak siapa sih. Baru kujaili sedikit marah. Memang kau Yeoja."Kata Kris.

"Aku namja tulen. Tapi hatiku sakit nih."

"Yasudah aku sembuhkan. Kau mau apa, cake, sup, atau-'

"Waffle!" jerit Jongin. Lalu mereka tertawa dengan lengan Kris yang masih merangkulnya.

"Kris."Datar. Dingin. Tidak bersahabat. Itulah suara yang didengar Jongin sesaat suasan menjadi hening. Kris melepaskan rangkulanya. Jongin menunduk tidak berani menatap objek yang memanggil nama Kris.

"Iya Sehun."Balas Kris santai.

"Ada yang ingin kubicarakan denganmu."Kris diam beberapa detik. Lalu mengambil keputusan.

"Jongin maaf. Ini beli sendiri dan jangan banyak makan. Aku pergi." Kata Kris memberikan uang pada Jongin.

"Geomao."balas Jongin.

"Kenapa kau memberinya uang Kris?"Kata Sehun terdengar tak suka. Jongin menatap Sehun dari balik punggung Kris, Sehun ternyata tengah menatapnya juga.

"Bukan apa - apa. Ayo pergi." kata Kris menghindar, tapi Sehun masih menatap Jongin tajam.

"Kenapa? tidak boleh?"Jengkel Jongin ditatap Sehun seperti itu membuatnya naik darah.

"Jongin! pergilah."kata Kris setengah memohon. Sepertinya Sehun pemimpinya buktinya Kris sampai mengusirnya begitu. Okey dia mengalah sekarang tapi Jongin semakin penasaran dengan pangeran Oh Sehun ini.

"Arra! terima kasih Chagyia." Kata Jongin manja lalu cepat - cepat pergi. jangan hiraukan Oh Sehun yang penting uang.

Seorang pria mungil berlari kecil kearah Jongin yang tengah menikmati sepotong roti. "Aku mencarimu, dari mana? biasanya kau datang satu jam lebih awal."Jongin menegguk air mineralnya lalu membalas pertanyaan Barkhyun.

"Mengemis." Katanya padat.

"Oh akhirnya kau jadi gelandangan juga."

"Tidak apa kalau yang memberikan gelandangan ini, tampan dan kaya."Lalu Jongin melahap kembali roti yang sebelumnya iya tawari pada Baekhyun, dan dibalas gelangan oleh Baekhyun.

"Memang ada yang tampan dan kaya sudi memberimu?"

"Ada ini semua dari Kris hyung."

"Wah debaek." Jongin tersenyum mendapatkan dua jempol Baekhyun

"Hebatkan aku."

"Hebat kau menipuku, Mana mungkin Kris," Barkhyun cemberut merasa lelucon Jongin tidak lucu. Kria adalah pria yang tidak akan melakukan hal itu. Berdekatan denganya saja susah. Masa Kris mendekati Jongin dengan cuma - cuma.

"Yasudah tidak percaya tidak apa - apa. Orang seperti aku sih memang sudah terbiasa dianggap pembual dan pemimpi."

"Jangan mulai deh Jong! kata - katamu yang so memperihatikan itu membuat gendang telingaku sakit."

"Baekhyun kau. berubah. jahat. akhir - akhir ini. Apa kau bukan Byunku? Siapa kau mengaku."Kata Jongin tiba - tiba mengoncang2kan tubuh Baekhyun sehingga simungil murka.

"Hentikan!"teriak Baekhyun membuat Jongin tertawa renyah.

"Serius kai dapat ini dari mana?"

"Kris."

"Serius."

"Demi apapun Baek. Serius."

"Peluang bagus. Ya sudah kau tidak usah memikirkan Sehun sudah ada Kris."Kata Baekhyun menggebu - gebu. Jongin menggelang.

"Tidak sudah sangat berambisi mendapatkan Sehun. Aku harus menaklukan manusia sombong laknat seperti dia. Beraninya dia membuat Kris yang baik hati itu tidak berkutik."

"Semuanya yang beada disana." Baekhyun menunjuk bangunan yang berdiri tegak tepatnya pada lantai 7 universitas mereka.

"Tidak berani pada Sehun."

"Kenapa? apa dia jahat. pemarah, suka bertidak sesuka hati tau dia-"

"Stop stop! semua karena uangnya! Sehun sangat kaya maka dari itu mereka segan padanya." Jongin menghembuskan nafas lega.

"Kufikir dia jahat, pemarah dan lain - lain."

"Aku tidak tau. Biasa jadi Sehun seperti itu bisa jadi tidak. Sudah Kris pilihan terbaik."

"Kris matamu. Sehun sepertinya tidak menyukaiku! dia pasti melarang Kris untuk suka padaku. Sial! Bagaimana aku membayar uang sewa dan tungakan kuliahku. Kemarin aku baru kehilangan perkerjaan ke 2 aku. Aku hanya punya dua perkerjaan. Bagaimana aku hidup?"

"Lalu intinya?" Kata Baekhyun berusaha mencerna maksud tersembunyi Jongin.

"Pinjam uangmu."

"Seharusnya kau tidak usah bertele - tele." Baekhyun melipat tanganya. Jongin tersenyum lalu memakan sisa rotinya.

"Setidaknya aku harus basa basi dulu agar terlihat sopan." kata Jongin.

"Habiskan saja rotimu. Kim!"

Pagi hari udara dingin dan malam hari udara tetap dingin, Jongin menghembuskan nafas lelah, ini adalah sampah terakhir yang mesti dia angkut perkerjaan sudah selesai, waktunya pulang lalu makan lalu tidur lalu bangun lagi lalu kuliah kerja makan tidur dan seperti itulah sirklus hidupnya. Adakah sehari saja dia bisa bersenang - senang tanpa banyak fikiran. Dia ingin juga bisa hidup senang. Semenjak bulan lalu semenjak tungakan biaya kuliahnya mulai membengkak walaupun sudah di bantu beasiswa hidupnya seakan sekarang selalu terasa berat. Apapun perkerjaan apapun Jongin lakukan dan hal gila apapun Jongin akan coba tempuh asal dia bisa selesaikan studynya tidak masalah. Tidak punya keluarga, tidak ada yang menghibur saat pulang tidak ada tempat hangat bahkan didalam rumah sewa bututnya.

"Ahh berapa laginya persediaan ramyeonku." gumanya. "Lumayan tadi Song ajusshi memberiku sayuran."lanjutnya. Jongin kembali memperhatikan kanan kiri jalanan. Ini sudah cukup malam. Namun Seoul memang kota yang tidak pernah tidur. Jongin mengambil beberapa krikil lalu melemparkan satu persatu dari atas jembatan pada luasnya sungai han. Satu demi persatu Jongin lemparkan pada sungai dengan sekuat tenaga seakan - akan ia tengah melemparkan bebanya. Batu terakhir dia lempar nafasnya terengah - engah akhirnya kristal itu turun jua membasahi kedua pipinya.

"Aku lelah"Lirihnya memandang semua objek yang tertangkap binernya.

..

.

.

Sehun memandang langit hitam Seoul yang dipenuhi bintang malam ini seperti biasa, uang wanita dan minuman. Sudah cukup membuatnya tenang, lagipula apa yang dia bisa harafkan sesuatu yang istimewa atau spesial datang tidak! tidak ada yang mengusik hatinya yang tengah dizona aman, yang harus dia fikirkan hanya menyelesaikan studynya lalu mendapatkan hak paten warisan dari kedua orang tuanya. Sudah begitu saja dulu. Soal yang lain bisa dia atur. Malam ini dia akan tidur lelap. Mobil Sehun memasuki daerah yang lumayan lengang karena waktu telah menunjukan pukul 00:29, namun keadaan itu tidak bisa membuatnya menghindar dari seseorang yang menyebrang dengan semberono. Sial. Dengan kesal Sehun membanting pintu mobilnya lalu menghampiri seseorang yang tengah merintih kesakitan. Sehun bernafas lega karena tidak ada pertumpahan darah, yang artinya hanya cedera ringan. Korban yang merintih itu lalu mendongkak pada Sehun. Sehun terdiam hanya memperhatikan apa yang akan dilakukan dia. Iya dia Kim Jongin.

"Sebegitu bencinya kau padaku sampai menabrakku begini?"Tuduh pria itu lalu berusaha bangun. Bagi Jongin hal yang menyakitkan adalah saat seseorang melihatnya lemah dan menyedihkan. Sehun masih tak bergeming, namun saat Jongin terlihat tidak seimbang akhirnya Sehun menggapainya lalu merengkuh Jongin pada pelukan hangat. Jongin tidak menolak dia mempererat pelukan Sehun lalu menangis. Menangis karena nasibnya yang sial, hatinya yang iri pada keberuntungan orang lain dan bukan pada kakinya yang terkilir.

Akhirnya, Jongin berada dalam mobil mewah Sehun. Aromanya wangi dan kursi nyaman. Jongin menatap jalanan dengan tertarik. Jadi seperti ini rasanya duduk nyaman didalam mobil memandangi jalan bukan berjalan yang seperti dia lakukan setiap hari. Melelahkan.

"Jadi dimana rumahmu? Kita sudah 1 jam berkeliling."kata Sehun. Membuyarkan imajinasi Jongin dari kesenangan.

"Kau tidak mau bertanggung jawab dengan ini." Jongin menunjuk kakinya yang cedera. Sehun menatap kaki Jongin malas. Itu bukan salahnya Sehun jelas tahu itu kesalahan Jongin.

"Apa yang kau inginkan."Jongin ingin sekali menjawab jika dia ingin uang, aduh kenapanya fikiranya uang melulu akhir – akhir ini, ekonomi sialan. Tapi dia pasti akan mendapatkan kesan yang buruk.

"Kau dari mana? Sepertinya"Jongin memperhatikan penampilan Sehun. "Habis bersenang - senang."Sehun mengangguk kecil.

"Apa kau suka tidur dengan wanita dan pria?" kata Jongin antusias. Sehun mengangguk kecil lagi tanpa menoleh pada Jongin. "Wah pasti sering." guman Jongin lebih pada dirinya sendiri.

"Seminggu sekali. Mungkin," Jongin mengelang tak percaya. Beruntung jadi Sehun.

"Berapa harganya kau menyewa mereka. Apa mereka secantik Suzi atau semanis Kyungsoo."lanjut Jongin. Sehun mengalihkan tatapanya pada Jongin. Menyerigai.

"Dua kali lipat dari mereka. Kau ingin tahu harganya?"Ujar Sehun. Jongin mengangguk.

"Iya! kalau aku punya kesempatan aku-"Perkataan Jongin terpotong dan yang dia dengar dari mulut Sehun membuatnya hampir pingsan.

"Satu semester biaya kuliahmu di SIU."

"Aku! Aku! aku ingin menjual tubuhku!."kata Jongin bersemangat. Sehun tak mengubris. Jongin mendesah. Parah dia tidak laku!

"Yasudah aku jual saja pada Kris sumbae. Apa dia akan membayarku semahal itu atau mungkin setenganya?"ujar Jongin bertanya - tanya.

"Akukan kubunuh Kris jika dia membelimu."Jongin mendelik kaget mendengar komentar Sehun ditelinganya. Hawa dingin membekukan terasa menguar.

"Ak aku hanya bercanda." kata Jongin gugup. Dia bahkan tak berani menatap Sehun dan hanya menunduk.

"Aku juga."balas Sehun datar. Membuat Jongin keki. Bercanda apanya dia sedang mengancamnya. Jongin merasa terancam bukan dijaili. Setelah itu tidak ada percakapan. Karena suasana sudah terlihat cangung dan menegangkan, raut wajah Sehun terlihat tidak bersahabat. Tidak seperti beberapa menit yang lalu. Terlihat fokus pada jalanan. Jadi Jongin tidak berani bertanya dan memutuskan menikmati pemandangan Seoul dimalam hari sebelum dia kehabisan ide untuk bertahan dan ditendang Sehun pergi dari mobilnya yang nyaman ini. Lagipula alasan dia tidak memberi tahukan tempat tinggalnya karena hanya ingin merasakan nyamanya mobil Sehun. Sudah itu saja.

.Nyaman. Jongin tersenyum merasakan tubuhnya seperti berada diatas tumpukan kapas. Apa dia sedang disurga sekarang. Jongin kembali menengelamkan dirinya. Tapi cahaya matahari tidak bisa iya halau lagi dan harum roti panggang membuatnya terpaksa membuka mata. Satu kata yang bisa keluar dari mulutnya. Luar biasa. Semua terlihat mewah dan modern. Jongin bahkan tidak sanggup membayangkan berapa jumlah uang untuk mendekorasi ruangan ini. Saking terkesimanya Jongin bahkan tidak sadar dengan sosok yang memperhatikanya bersandar tepat disisi Jongin. Sehun seperti biasa terlihat menawan. Boleh tidak Jongin berfantasi bisa hidup seperti ini setiap hari. Bangun dari kasur empuk. menatap indahnya pemandangan dari jendela. Menyesap wangi ruangan. lalu sarapan pagi yang kaya akan vitamin dan lezat.

"Mandi dan keluar."ujar Sebuah suara membuat Jongin tersadar. Dengan spontan mengalihkan tatapanya ke sumber suara. Sehun! jadi dia ada di apartement Sehun? Pria yang memberi perintah itu pergi berlalu begitu saja. Hey tadi itu bukan bayang itu benar Sehun

"Chakaman! Kakiku keram. Sakit," Sehun berbalik memeriksa kaki Jongin yang sudah diberi gips.

"Saat tidur kau tidak bisa diam. Sepertinya sedikit merubah uratmu. Tahan." jelas Sehun. Jongin membulatkan mata tahu apa yang akan dilakukan Sehun.

"Jangan lakukan itu!"

Kreek

Jongin mengigit bibirnya keras. Hingga sedikit berdarah. Karena dengan kurang ajar Sehun tanpa meminta pendapatnya langsung memutarkan pergelangan kakinya yang cedera.

"Kenapa kau gigit bibirmu."Marah Sehun. "Kau bisa berteriak!"bentaknya.

"Ini reflek! lagi pula aku pria masa tidak bisa menahan hal sekecil ini."

"Bukan itu inti masalahnya."geram Sehun.

"Yasudah aku minta maaf. Jangan membuang semua masalah padaku. Karena aku sudah muak jadi tersangka!"ujarnya cemberut.

"Mandilah."desah Sehun sambil berdiri.

"Tidak!"

"Alasanya."

"Sakit."Sehun membalikan tubuh tegap dan wanginya tanpa berkata - kata membuat posisi mengendong.

"Nah kalau ini aku mau."

"Kau jangan mengharap apapun. Kulakukan ini semata - mata hanya bertanggung jawab. Kau cukup pintarkan untuk mengerti."

"Baekhyun bilang aku bodoh. Jadi kurasa aku tidak mengerti. Boleh aku menyukaimu." Uangmu maksudku.

"Aku punya kaca besar dikamar mandi."

"Kenapa kau jahat?"

"Setelah mandi keluar dan sarapan. Jangan membuat masalah."Jongin mendengus. Setelah Sehun pergi. Jongin segera merendam diri pada betabe. Menyesap wangi aroma mawar yang menguar.

"Aku ingin kaya aku benar - benar ingin kaya. Tapi Sehun tidak menyukaiku. Mendekati yang lain pasti akan sulit jika Sehun tidak mengijinkanya , Aissah. Sudahlah nikmati ini dulu baru fikirkan yang lain."

.

.

.

Jongin berjalan terseret - seret menuju halte bus dekat dengan apartemen Sehun. Dia usap keringat kecil dengan tanganya. Jarak sedekat ini jadi bisa sangat melelahkan jika sedang terluka. Jongin menunggu bis datang, tapi sial dia selalu kalah cepat dengan yang lain. Maklum ini masih terlalu pagi jadi semua orang berebut mendapat tempat. Ini bis yang ketiga dan semuanya sudah penuh terisi. Gara - gara berebut dengan yang lain dengan keadaan seperti ini Jongin hampir celaka.

"Hey!"Jongin memerkik kaget saat sebuah tangan menariknya.

"Kau bodoh! Menghilang begitu saja."kata pria yang tak lain adalah Sehun.

"Tadikan ada pacarmu, lagian aku malu kau beri uang didepan pacarmu. Dia bisa salah sangka dan berfikir aku pria murahan penjual tubuh padahal tidak aku masih disegel." jelas Jongin panjang lebar. Iya Jongin sebenarnya hanya tidak enak mengganggu Sehun yang kedatangan tamu cantik bernama Hyerin itu. Dan juga merasa sungkan menerima uang banyak hanya belum terbiasa. Uang itu Sehun berikan untuk konpensasi atas kecerobohanya. Iya seperti itu yang Sehun bilang. Jongin tentu menolak agar telihat tidak murahan. Tapi Sehun menaruhnya di jaket Jongin. Jadi saat ada peluang Jongin memilih kabur.

"Kau orangnya pedulian yah." goda Jongin. Sehun menatapnya tajam, oke ini bukan timing yang tepat untuk bercanda. Jongin heran sekali dengan sikap Sehun yang menyebalkan pemarah, yang sialnya tampan kaya ini. Untung Jongin tidak tertarik padanya selain pada uangnya. Bisa runyam urusanya kalau dia suka pria ini.

"Umm,"Jongin mengusap tengkuknya. Cangung ditatap seperti itu.

"Setelah kakimu sembuh kau dan aku bukan siapa - siapa. Naik!"

"Shiro! aku mau jalan kaki. Kau sedang marah aku takut kau menembaku saat dimobil. Kaukan benci lihat orang sepertiku aku tahu ini hanya tentang rasa tanggung jawabmu yang tinggi."

"Masuk!"

"Okey aku naik."

Pagi itu semua orang menatapnya tak percaya, sinis atau iri, karena mungkin dia sekarang berada didalam mobil Sehun. Hebat hanya duduk didalam mobil Sehun bisa membuatnya berada dalam masalah. Ada apa dengan orang - orang ini. Sehun memasukan kedaraanya pada daerah parkir. Mereka berdua keluar secara bersamaan.

"Oh tidak!"ujar Jongin pucat pasi.

"Kenapa?"

"Mr. Lee, aku lupa akan ada pertunjukan menari dan aku ditunjuk menjadi leader diteam tariku. Aku harus belajar ballet. Dan jika aku menolak aku akan kehilang Beasiswaku, aku akan hancur!" kata Jongin tak melepaskan pamdanganya dari seorang Dosen yang baru saja melewatinya.

"Biar kuurus."Jongin mengalihkan tatapanya pada Sehun.

"Yang benar saja. Ini Mr. Lee tidak ada yang bisa membantahnya."

"Hajar aku jika kau dikeluarkan karena hal sepele ini."Jongin menjilat bibirnya. Dia lupa dengan siapa dia sedang berbicara.

"Ne tuan 1 semester di SIU. aku lupa bayaran wanitamu sudah semahal itu. Ini pasti tidak ada artinyakan bagimu. Beruntung sekali tuan muda."Sehun menatap Jongin lalu pada kakinya. Tidak menggubris perkataan Jongin.

"Oh! Jongin aku mencarimu kemana - mana. Kris sumbae juga menayakanmu. Dia bilang ingin mentraktirmu. Kau itu pasti membuat masalah lagi kenapa kakimu bisa sampai seperti ini! Aweeuuhh aweuuhh pentasmu Jongin! kau tamat hari ini. Kau akan jadi gelandangan!" cerocos Baekhyun.

"yaaak! Bacon kau tidak lihat tuan muda Oh ini. Hah! kau ngomong terus dengan suara cemprengmu ini!" Baekyun terbelalak kaget mata sipitnya terlihat belo.

"Sehun Sumbae, mianhae. Aku khawatir dengan Jongin sampai tidak melihat keberadaanmu."Jongin melongo dengan perubahan sikap sopan Baekhyun. Dia baru pertama kali melihatnya tidak bar - bar seperti biasa.

"Tidak masalah. Kau tau dimana Kris?"kata Sehun.

"Ah benar dimana Kris sumbae, aku juga ingin menemuinya." ujar Jongin. Memandang antusias Baekhyun.

"Adahal penting yang harus kubicarakan dengan Kris sebaiknya kau pergi dan periksa kakimu."Jongin mendesah mendengar perkataan Sehun.

"Ahh apa yang Sehun sumbae katakan benar Jong. Sehun sumbae tadi Kris sumbae bilang akan menunggu di air mancur kau mungkin bisa menemukanya disana." Sehun menggangguk lalu mengalihkan tatapan matanya pada Jongin yang terlihat kecewa, menatap Jongin sebentar lalu pergi setelah mengucapkan terima kasih pada Baekhyun.

"Heh! kenapa kau bisa, yang tadi itu benar Sehunkan! ahh apa tadi aku sedang mimipinya?"kata Baekhyun kembali pada dirinya yang biasa, cerewet.

"Hem!"balas Jongin tidak berminat.

"Jawaban apa itu. Kau beneran sakit?"

"Aku baru ditabrak semalam." Baekhyun membulatkan mata. "Pelakunya orang yang tadi kau ramah tamahi."lanjut Jongin.

"Apa Sehun! kurang ajar. Pasti ini kaukan yang salah."

"Heuh! kok kau tahu sih. Iya aku yang salah tapi sebelum aku dimarahi. Aku langsung tuduh saja Sehun. Lalu akhirnya aku diapartemenya."

"APA! Kim kau sungguh tidak masuk akal! untung kau tidak kenapa - napa. Sehun bukanlah pria yang mudah dimanipulasi, apa lagi oleh orang sepertimu. Dia adalah orang yang cepat tanggap, jenius dan penuh penilaian. Dan fakta yang mengejutkan kau tidur diapartemenya."

"Itulah yang namanya pesona Kim Jongin atau mungkin keberuntungan. Jika kau belum tahu Sehun adalah orang yang mengenggam penuh tanggung jawab. Sebenarnya dari mana sih kau tahu hal - hal semacam itu."ujarnya santai padahal Baekhyun sudah gembar gembor heboh sendiri.

"Kim! Kim! makanya ganti handphone bututmu dengan android. Di internet ada majalah university yang ditanggung jawabi oleh club jurnalis sekolah disana ada berbagai informasi tentang SIU. Mulai dari kegiatan SIU sampai berbagai gosip. Kebanyakan gosip sih."

"Oh iya disitu apa ada gosip tentangku."Baekhyun menggangguk.

"Ada gosip tentang pertunjukanmu dan tari balet. Disana juga ada fotomu sedang bersandar dengan keringan dan bibir tebalmu. Sepertinya editor tidak mengedit fotomu dulu disana kau terlihat gelap."

"Wah sialan. Seharusnya dia edit fotoku dengan kamera 390."

"360 jongin." Jongin memutar mata. Paling males kalau perkataanya yang sedikit salah dikoreksi orang. Biarin aja kenapa.

"Jadi ini alasanmu bisa bersama Sehun. Kau masih dengan rencanamu?"

"Tidak tau juga. Tapi Baek dia kaya sekali. Kau akan melongo melihat isi apartemenya. Semalam saja disana rasanya bahagia."

"Kris juga punya apartemen yang bagus."

"kau pernah masuk?"

"Gosip."

"Kau lapar. Aku traktir."tanya Jongin.

"Apa kau-"

"Stttt coba lihat saku jaketku. money Sehun here. heheh"

"Wah debaek."

"Singkirkan semua analisa tentang Sehun diinternet itu. Tentang dia yang begini begitu karena di hadapan Kim Jongin itu tidak berlaku."

"Kena batu baru tau rasa. Cepat traktir aku." Baekhyun merangkul Jongin dan menyeretnya.

"Yaaak Byun Baek sakiiiiiitttt kakikuuuuu"

"Hahahahh."

.

Satu minggu dua minggu berlalu begitu cepat. Penyembuhan kakinya berjalan pesat karena pengobatan yang rutin dia jalani. Sehun telah membayar semua pengobatanya, sehingga Jongin bisa cepat sembuh. Setelah Jongin sembuh semuanya hilang diharus mulai berkerja seperti biasa, dua minggu yang lalu dia bahkan bisa tidur seharian karena uang Sehun membuatnya bisa hidup nyaman. Hari ini uang itu sudah habis. Setelah sembuh Sehun tidak aktiv lagi memeriksa keadaanya. Biasanya Sehun akan bertanya sehari sekali tentang keadan kakinya lalu memberikan uang untuk membeli obat yang akan Jongin habiskan untuk membeli soju dan mentraktir Baekhyun, Lay dan Xiumin. Tapi setelah kakinya sembuh Sehun kembali seperti dulu tidak mengenalnya, mengabaikan dan mengacuhkanya. Sialan menyebalkan! Belum lagi kecemburuan Kyungsoo yang berimbas padanya. Dia dibully, dihakimi dan dideskriminasi. Jongin tidak pernah menyangka pria imut itu bejat sekali kelakuanya. Bukan salahnya jika waktu itu Sehun lebih perduli Jongin dibanding dirinya. Jongin sudah jelaskan berapa kali bahwa Sehun bertingkah baik hanya untuk bertanggung jawab bukan untuk keganjelan. Iya walau ada niat tersembunyi tapikan gagal jadi tidak usah dihitung. Tetap saja Kyungsoo menjahatinya. Dasar kejam yang berduit memang selalu punya kesempatan.

"Jong! kau ok?"

"Kau tidak liat mataku Baek."

"Kantung mata hitam dan matamu positif memerah. si D.O itu parah sekali sih cemburu sampai bawa komplotan untuk menjatuhkanmu. Apa di pria jadi - jadianya tidak ada perkasa - perkasanya sama sekali sama dengan si Chen temanya dan si Tao."

"Yang aku kesalkan adalah kemana semua keberuntunganku pergi."

"Akukan sudah katakan jangan berharap lebih pada hal yang jelas mustahilnya. Kau tau sendiri Sehun dalam kuasamu adalah mitos. Dan Kris dia hanya angin sepoi - sepoi yang melintas. Dan sekarang hanya ada masalah disekelilingmu."

"Aaaaaaagggrh apa aku ditakdirkan semenyedihkan ini. Sudah aku pergi mau belajar biar cepat kaya."

"Jongin sayang fighting."kata Baekhyun so imut. Jongin mengeram kesal. Saat Jongin akan pergi.

"Kim Jongin Sii." teriak seseorang menghampirinya.

"Ne? Suzi?" wajah Jongin tiba - tiba bersemu merah. Siapa yang tidak terpesona dengan wanita ini.

"Ah ini aku ingin berikan jadwal baru untukmu dari Kyungsoo."mata Jongin membulat. Merebut selembar kertas yang diberikan Suzi.

"DO KYUNGSOO!"teriak Jongin murka. Suzi segera undur diri sementara Baekhyun menepuk - nepuk punggung Jongin. Sekarang hidup Jongin benar - benar hancur.

"Baek aku hancur."

"Aku tau."

"Jadwalku hampir semua jadi di shif malam. Dikelas malam." desah Jongin ngeri

"Setidaknya kau jadi bisa berkerja di pagi hari."

"Dan itu artinya aku harus mencari perkerjaan baru. Bunuh aku" ujar Jongin seraya meninggalkan Baekhyun.

"Oyy mau kemana?"

"Melarikan diri."

"Bukankah kau mau belajar supaya cepat kaya?"teriak Baekhyun karena jarak mereka yang mulai saling berjauhan.

"Masih ada malam hari. Sampai jumpa sayang."balas Jongin sambil tersenyum.

"Dasar menyedihkan. Masih bisa tersenyum eoh. Padahal aku tau kau pasti sedang bersedih. Jongin malang." guman Baekhyun sedih sambil memperhatikan kepergian Jongin hingga menghilang dari penglihatanya.

.

.

Sudah tiga hari dan dia belum menemukan perkerjaan baru. Sepulang kuliah seperti biasa Jongin berdiam diri di supermarket kecil, membuat mie cup dan membaca koran, melingkari beberapa lowongan kerja disana. Besok dia akan mendatangi satu - persatu tempat itu semogga saja dia bisa mendapatkanya. Dengan cepat Jongin menyeruput mienya, setelah selesai dia bergegas pergi. Namun seseorang menabrak bahunya membuat Jongi oleng, namun tidak terjatuh. Belajaan orang yang bertabrakan dengan Jongin terjatuh, dengan segera Jongin membantu memungutnya. Kondom?Roko?

"Berapa lama kau akan menatapnya?"Jongin tersentak kikuk lalu memberikan barang itu. Pria yang tidak diketahui identitasnya itu pergi begitu saja setelah mengucapkan terima kasih. Jongin menggedikan bahu. Seperti biasa perkerjaan orang kaya hanya ngesex,minum dan bersenang - senang, anehnya mereka tidak jatuh miskin.

Jongin memasukan kedua lenganya pada mantel coklat tuanya. Lalu berjalan dengan cepat. Tiba - tiba tetes demi tetes mulai berjatuhan Jongin mendesah kesal tempat pemberhentian bus masih jauh. Jadi dia harus berlari karena hujan semakin tak bersahabat.

Cratttt

Geusekki! baju kotor dan wajahnya terkena cipratan hujan yang jatuh ketanah. Kesialan apa lagi karena orang dimobil itu malah tersenyum dan bercumbu dimobil. Aishh sialan bagaimana orang itu bisa menyetir sambil berbuat seperti itu sih. Tapi orang itu pria yang berada di supermarket?

Jongin berdiri disebuah tempat yang bisa menampungnya untuk berteduh. Lebih baik menunggu hujan reda. Lagi pula Jongin benci dingin dan lumayan takut dengan suara petir. Ditempat ini setidaknya dia bisa lebih aman.

"Jongin!"

"Baekhyun?"

"Aku baru tiga hari tidak bertemu denganmu kau sudah percis gelandangan. Kenapa bajumu kotor."Jongin meringis.

"Kau juga tiga hari tak bertemu kau sudah seperti germo. Lihat yang dimatamu itu."Baekhyun meninju bahu Jongin.

"Ini kugunakan biar mataku terlihat lebih menawan."

"Tapi itu untuk wanita."

"Sudahlah yang penting aku lebih menarik untuk mendapatkan uang."

"Apa yang kau lakukan disini Byun?"

"Berkerja Kim!"

"Wah wah menjajahkan dirikah."

"Jahat sekali ucapanmu Kim! aku pelayan, malam ini kau akan bersenang - senang. Ikut aku kedalam." Jongin menyirit. Baekhyun bicara apa sih. Emang pelayan bisa bersenang - senang.

"Kedalam sini. Serius saja Baekhyun aku bisa diusir." Jongin mendadak takut, bagaimana tidak Baekhyun membawanya ketempat yang sangat beda jauh dari luar penampilanya. Dia fikir ini hanya restauran biasa tapi didalamnya sangat elegant sekali. Bahkan hanya untuk sebuah club malam.

"Tenang saja. Kau bersyukur bisa masuk kesini. Ini tempat favorite dompet - dompet tebal menghabiskan uangnya. Penghasilanku bertambah pesat setelah berkerja disini padahal hanya diajak mengobrol apalagi kalau menjual diri. Bisa kaya mendadak"

"Aahh sudah bawa aku berganti baju. Dingin sekali."

"Baik pelangan." Jongin tertawa terbahak - bahak melihat Baekhyun memperlakukanya seperti tamu kelas eksekutif.

"Pilih baju yang kau suka." Baekhyun menunjukan beberapa baju.

"Huh? baju siapa?"

"Baju tamu yang tertinggal."

"Tapi."

"Pakai saja."

"Bukan begitu kenapa bajunya bolong - bolong transparan begini. Shiro! aku tidak suka."

"Ini menurutku paling normal."

"Terlalu lebar dibagian lehernya. Dadaku terekspos."

"Ni ni nih gunakan kardigan ini. Sekarang berhenti bicara. Ikut aku kita bersenang - senang."Jongin memilih patuh seharusnya dia memang bersyukur ada Baekhyun disini membantunya setidaknya dia tidak usah merasakan pegal dan kedinginan menunggu diluar. Jongin dengan cepat berganti baju lalu membersihkan mukanya.

Dentuman musik terdengar nyaring, orang - orang memenuhi ruangan menari dengan bebas, tertawa terbahak - bahak. Jongin memilih mengasingkan diri dan menikmati dari sudut ruangan. Baekhyun beberapa menit lalu telah menghilang dari pandanganya. Seorang Bartender menghampirinya, menawarinya berbagai minuman disana.

"Ada susu. Euh maksudku sesuatu yang hangat seperti susu." Heol Kim Jongin kau fikir ini ditempat penitipan bayi menayakan susu. Bartender itu tersenyum maklum, lalu memberikan segelas minuman.

"Semua minuman disini beralkohol. Tapi minuman itu yang paling sedikit kandungan alkoholnya. Kau baru disini."

"Ahh Geomao. Aku teman Baekhyun."

"Oh Baekhyun. Kalau begitu nikmati malamu Ok." Jongin menggangguk kecil lalu menengak minumanya. Semakin malam semakin panas ruangan ini, bahkan banyak orang yang tak segan - segan berciuman didepan umum. Entah karena terbiasa atau pengaruh alkohol. Segelas minuman yang nikmat fikir Jongin. Tapi sudah membuatnya setengah K.O

"Mark, seperti biasa." Jongin mengalihkan fokusnya saat sebuah suara berat terdengar ditelinganya. Pria itu mendudukan dirinya disamping Jongin. Menyalakan rokok dan menghembuskanya pelan. Merasa diperhatikan pria itupun menoleh kearah Jongin menyirit bingung karena Jongin terus melihatnya. Pria itu akhirnya menyodorkan rokoknya namun dibalas gelangan Jongin.

"Ini pesananmu."

"Thanks Mark." ujar pria itu. "Adakah yang aneh dari penampilanku?" Lanjut pria itu bertanya pada Jongin.

"Kau tidak ingat aku?"

"Maaf kurasa tidak. Aku bertemu banyak orang hari ini." Jongin mendengus sebal.

"Kau terlihat kesal jadi siapa kau?" ujar Pria itu sambil menegak intens Jongin. Sedang si tan hanya melipat tangan semakin jengkel.

"Aku hanya pria miskin yang kau tabrak disupermarket dan memungut kondom dan rokokmu, Belum puas sampai disitu kau juga mencipratkan air hujan yang kotor dengan mobilmu lalu mengenai wajah kucelku hingga aku terjebak disini dan selamat dari kedinginan. itulah aku orang yang tidak diingat." Pria itu terkekeh

"Wow Wow. Tenang itu hanya insiden aku tidak bermaksud. Keadaanya tadi mendesak."ujar pria itu lagi.

"Karena apa?"Kata Jongin meminta alasan yang mungkin bisa dia pahami. Pria itu mendekat pada Jongin wangi tubuhnya menguar lalu berbisik ditelinga Jongin sangat pelan. Suaranya terdengar serak.

"Horny berat."bisiknya lalu menjauh dari Jongin. Sedangkan Jongin membulatkan mata, lalu menatap tajam pria itu yang sibuk dengan minumanya.

"Ehey. Kenapa tidak minta maaf saja sih."gerutu Jongin.

"Aku tidak pernah melakukanya dengan mudah." Jongin geleng - geleng kepala. Sombong juga orang ini.

"Park Chanyeol Let's start the partty!"teriak seseorang. Pria itu menyahut.

"Im coming." jawabnya. lalu kembali melarikan fokusnya pada Jongin.

"Jika kau butuh aku. Aku ada disana. Kau boleh minta apapun padaku. Jika kau butuh sesuatu."kata pria yang diketahui bernama Chanyeol.

"Permintaan maaf secara tidak langsung heum,"

"Terserah opinimu." Chanyeol meninggalkan Jongin yang menatapnya bergabung bersama teman - temanya lalu menghilang ditelan lautan manusia yang semakin mengila.

"Kau harus berhati - hati bung."Jongin menatap bartender itu yang tengah menuangkan segelas minuman pada gelasnya Jongin meneguknya cepat.

"Siapa yang ingin berurusan dengan."

"Tapi dia terlihat tertarik padamu. Dia jarang sekali memulai percakapan pada orang baru. Apalagi perkataanya tadi. Coba lihat wanita itu."Mark menunjuk seorang wanita yang lihat mabuk berat.

"Wahh cantik apa aku boleh mendekatinya?"

"Aissh kalau kau gila kau boleh dekati mantan satu menit Chanyeol."

"Mantan?"

"Iya aku melihat Chanyeol memutuskanya sebelum memesan minuman padahal baru dua hari yang lalu aku melihat mereka bermesraan."

"Separah itu?"Mark menggangguk.

"Hati - hati kalau dengan Chanyeol kecuali jika kau hanya ingin menjajahkan badanmu. Ku fikir Chanyeol adalah tempat yang tepat."

"Sudahlah berikan aku minuman enak itu lagi dan jangan bahas tahi kucing Chanyeol!"Mark menggelang sambil tersenyum...

Waktu berlalu begitu cepat Jongin bahkan tak ingat berapa gelas yang iya teguk yang pasti otaknya mulai tidak berfungsi dengan semestinya. Jongin melangkahkan kaki dengan sedikit terseret - seret menuju lantai dansa tidak perduli dengan beberapa orang yang merasa terganggu. Jongin tetap menari dengan lincah, sambil tertawa senang. Musik semakin terdengar kencang beberapa tangan mulai bergeririla tubuhnya tapi Jongin tidak perduli dia tetap tidak perduli hingga tatapanya beradu dengan seseorang yang dia kenali. Jongin menghampiri pria itu yang tengah duduk dengan banyak wanita yang diantanya sedang bergelanyut manja pada tangan kokoh itu. Jongin tersenyum miring kini dia berada dihadapan sosok itu yang tengah menikmati minumanya dan belum tersadar akan kehadiranya.

"Sehun."sosok itu mendongkak menatap pria yang memanggilnya. Tatapanya yang semula datar berubah menjadi tajam dan menusuk. Seakan- akan apa yang kini ada dihadapannya ini adalah sesuatu yang harus segera dimusnahkan.

"Hahaha Sehun?"Katanya lagi sambil tertawa kearah Sehun yang masih memandangnya. Begitu juga dengan beberapa orang yang berada disana memperhatikanya.

"Jahat. Kau mengabaikanku. Tidak mengganggapku. Lalu meninggalkanku. Kau tau aku benci diseperti itukan."Parau Jongin sambil menunduk dan tertawa kemudian .

"Pulang."ujar Sehun pendek.

"Shiro!"bentak Jongin. Lalu menatap Sehun yang meminum minumanya. Pandangan Jongin beralih pada wanita - wanita cantik dikanan dan kiri Sehun tersenyum menghina.

"Walaupum aku tidak seCANTIK!"Jongin menunjukan jari telunjuknya. menunjuk asal wanita - wanita yang berada disana. "Tapi! aku juga berhak punya rasa suka padaMU!" Sehun hanya menatap Jongin lalu mengalihkan pandangannya pada seorang pria berbadan kekar memberi perintah dengan isyarat. Pria kekar itu langsung menarik Jongin yang masih merancau dan tertawa - tawa.

"Ehhh sakit sakit Sakit! Yaaa Sehuuuuun bantu aku jeballl!"Jongin terdorong mudur secara paksa dia menjerit - jerit.

Settttttt

"Aku fikir kau akan mencariku hmmm."Seorang pria melepas tangan penjaga itu lalu memeluk Jongin dari belakang menenggelamkan wajahnya pada leher Jongin dan mengecupnya kecil. Jongin tertawa.

"Lepaskan dia Chanyeol." pria itu mundur dengan tangan diatas seperti seorang penjahat yang tengah ditodong senjata. Lalu berdiri disamping Jongin.

"Oh Kondom haha Roko? Bercumbu dimobil yey!" Jongin menunjuk Chanyeol semangat. Lalu bertepuk tangan sementara Chanyeol tertawa. Tanpa mengetahui tangan terkepal Sehun.

"Waw Jongin bagaimana kau bisa ada disini. You look so damn!"Kata pria lain yang tak lain adalah Kris baru tiba lalu merangkul Jongin dan mencium pipinya. Bau alkohol menguar dari mulut pria itu.

"Kris!"Sehun membentak. Kris memandang Sehun yang tengah berdiri angkuh dihadapanya. Oh Shit dia tidak melihat Sehun.

"Ugh sepertinya aku mabuk."ujar Kris menjauhi Jongin.

"Pulanglah Jongin." Jongin mengentak - hentakan kakinya mendengar perkataan Sehun.

"Kau mengusirku. Habiskan malam denganku yuk! Aku suka padamuuuu. Ayo Sehun. Jangan membuangku, kumohon. Pungut aku hik hik." Otak Jongin sepertinya sudah tak waras beginilah dia kalau sedang mabuk.

"Aku akan bertanggung jawab denganmu. Ayo kita pergi kita punya hal yang harus diselesaikan."Kata Chanyeol. Seraya memeluk lagi Jongin.

"Singkirkan tanganmu!"geram Sehun.

"Wae? bukanya kau sudah tak membutuhkanya. Biasanya juga tidak apa - apakan bila kugunakan. Kenapa marah." kata Chanyeol menantang.

"Lepaskan selagi aku berkata dengan baik." Chanyeol malah mengeratkan pelukanya.

"Sialan!" Sehun maju namun Kris lebih dulu menyingkirkan Chanyeol. Dengan segera Sehun menyeret Jongin yang masih linglung. Membuat orang - orang menatap kepergian mereka dengan kerutan didahi. Pasalnya Chanyeol dan Sehun bukan tipe pria yang mendebatkan seseorang seperti tadi apa lagi untuk pria seperti pria yang Sehun seret paksa. Sehun dan Chanyeol adalah kedua pria yang dipuja - puja dan mereka bisa dapatkan siapapun yang mereka inginkan.

"Dimana temanku si hitam itu, Mark?" kata Baekyun setelah kembali dari berkerjanya dilantai 2. Matanya begeliria memperhatikan hiruk piuk keramaian.

"Temanmu baru saja membuat kehebohan."

"Duh kau buat dia mabuknya! Dia bisa mengila kau tau."Baekhyun terkekeh.

"Iya dan temanmu itu hampir membuat Chanyeol dan Sehun berkelahi."

"APA Mark! Chanyeol? Lalu dimana dia sekarang?"

"Pergi diseret Sehun." Wah kacau sekali itu si Jongin.

Jongin tidak ingat apa yang terjadi, matanya masih mengerejap bingung. Satu hal yang dia tangkap dan tidak dia nyakini, bahwa dirinya berada didalam pelukan Oh Sehun. Satu hal itulah yang membuatnya kini masih terdiam kaku diatas tempat tidur berseprai grey ini. Memandangi wajah menawan Sehun yang masih terlelap. Otaknya berfikir cepat bahwa mungkin semua ini hanya kayalan belaka karena yeah efek alkohol yang masih menempel.

Cup

"Pagi."

"Huh?"

"Apa kau masih merasa pusing?"

"Sepertinya."

Sehun tersenyum mendengar perkataan Jongin, pria tan itu terlihat masih bingung dengan keadaanya. Jadi Sehun hanya mengeratkan pelukanya pada Jongin. Dan membuat pria tan itu lagi - lagi membeku.

"Sehun?"

"Hemm?

"Sehun?"ulangnya setengah berbisik. Sehun mengalihkan tatapanya pada Jongin lalu mengelus pipi Jongin pelan.

"Sepertinya aku masih mabuk. Aku melihat kau terlihat aneh. Otakku jadi aneh atau mataku."

Cup.

"Kau mengecup bibirku. Apa kau terbentur sesuatu?"kata Jongin kaget. Meraba bibirnya yang sedikit basah.

"Kenapa, kau pacarku dan kau milikku."Jongin tersentak kaget menatap Sehun seolah meminta penjelasan.

"Kau tidak ingat? Semalam kau memaksaku. Bahkan mengancam akan membunuhku."wajah Jongin mendadak pucat pasi. Mungkin karena dia takut jika ada hal yang lebih buruk dia katakan pada Sehun. Seperti menginginkan hartanya. Semogga dia tidak mengatakan hal itu.

"Mian. Ak aku ti- tidak bermaksud."Jongin berkata dengan terbata - bata. Sehun kembali tersenyum lalu menenggelamkan Jongin pada pelukanya. Ini kali kedua melihat Sehun tersenyum bahkan memeluknya. Tapi yang terpenting Sehun tidak marah padanya.

"Pacarku manis sekali."Wait. Pacar? Jadi dia benar - benar pacar. Hah Jongin dan Sehun. Jongin langsung melepas pelukanya dengan Sehun agar bisa menatap wajah Sehun dan menyakini bahwa ini bukan mimpi.

"Sehun dan Jongin! kita pacaran? Kau kau kekasihku!"Sehun mengganggukkan kepala. Jongin langsung menghantam Sehun dengan pelukan eratnya. Menenggelamkan wajahnya di ceruk Sehun. Menyesapi wangi tubuhnya. Kehangatan dan keberadaanya yang benar - benar nyata. Tidak perduli bagaimana semua ini bisa terjadi yang terpenting Jongin berhasil mendapatkan Oh Sehun. Tak perduli juga dengan perasaan Sehun yang murni atau sekedar main - main yang terpenting hari ini dia bisa merubah hidupnya. Bahkan jika kebahagiaan ini bertahan 1 atau 2 bulan saja jikalau hanya 1 minggupun dia bisa mendapatkan kebahagiaan dari uang Sehun Jongin tak perduli. Jongin hanya berharap Sehun tak cepat bosan denganya. Itu saja.

"Kau memelukku terlalu erat, Sayang."Kata - kata yang manis dipagi hari Jongin tidak akan melupalanya.

COUNTINUE