Disclaimer : Gintama © Sorachi Hideaki. Story © Ayuha chaan.
Warning : Semi-Cannon. [typo, miss, dll], Alur Ambureghul emeseyu bahrelway barelway.
Don't Like? Don't Read!
==000==
Bibir merah itu mengeluarkan asapnya.
Sesekali, bulu kuduknya mendadak meninggi, akibat suasana pagi hari di Kabuki cho sedang dilanda salju.
Seperti biasa, eksistensinya pada jalanan hanya untuk tugas patroli.
Tapak kakinya mencetak jelas salju yang dipijaknya, membuatnya tampak benar-benar nyata. Maniknya bergulir kesana-kemari hanya untuk menyaksikan keributan anak-anak yang terkena dampak euforia akibat turunnya salju. Heh, anak-anak.
Seakan syaraf perasa mereka tak berfungsi, mereka asyik memainkan bola putih dingin itu hanya untuk kesenangan mereka. Pemuda tadi hanya mendengus melihatnya.
Tatapannya beralih pada ujung jalan yang menampilkan seorang yang tampak melambai-lambai?
Tak menggubrisnya, arah pandang sang wakil ketua itu mengarah pada kaki yang tengah tega memijak berbutir salju tak berdosa di sana. Namun, ia makin mendengar dengan jelas bahwa suara tapak kaki kian mendekatinya.
Tak perlu basa-basi, ia pun kembali melanjutkan perjalanan—patroli—nya. Senyuman pemuda yang berjarak masih jauh darinya itu membuat dirinya enggan menatap matanya, apalagi suasana sangat dingin. Ia mencoba meraih syal yang tengah nyaman di lehernya.
Ah sial, ia melupakan kain panjang yang hangat itu di markas.
Lupakan soal kain, ia lebih butuh kehangatan sekarang. Dirogohnya saku celananya demi mendapatkan sebuah mancis yang akan menghidupi rokok mayoboro miliknya.
Ceklek, sial tak mau hidup.
Sekali lagi ceklek, masih enggan keluar sang jago merah.
Baiklah untuk terakhir kalinya. Ah, sang mayoboro yang kini enggan berkompromi. Pasalnya, rokok tercintanya itu sudah kebasahan akibat salju yang masih setia menghujani kota.
Oke dia menyerah. Kembali ia sakukan rokok beserta mancis .
Maniknya pun kembali memandang arah depan. Ah, pemuda sialan itu masih setia di sana.
Tak perlu menggubrisnya, tak perlu menggubrisnya. Kau tak perlu was-was, kau hanya perlu jalan dan kemudian melewatinya.
Kaki berbalut celana seragam Shinsengumi itu pun kembali terlangkah. Astaga, kaki pemuda itu ikut melangkah ke arahnya.
Senyuman kalem terpancar dari pemuda bersurai keriting alami di sana. Dan tak perlu waktu lama, keduanya kini saling menatap dengan jarak satu kaki.
Hijikata mendengus kalah.
Gintoki hanya menyunggingkan senyuman dan meletakkan syal merahnya pada leher Hijikata yang membeku.
Kini sang wakil ketua itu bingung. Apa yang dilakukan pemuda tadi? Saat ia ingin bertanya, eksistensi pemuda itu sudah mulai menjauhinya. Gintoki kembali berjalan menjauhi Hijikata sembari melambaikan tangannya.
Ia tolehkan sejenak wajahnya. "Jangan sampai terkena flu," ujarnya dengan melapisi senyuman hangat. Baiklah, kini dada Hijikata mengeluarkan bunyi kyaa dan tanpa disadarinya, kehangatan timbul begitu saja. Bagaimana tidak? Jantungnya berdegup kencang.
Malu akan suasana aneh tadi, Hijikata kembali berbalik. Ia pegang syal tadi dan menaikkannya agar menutupi area hidung hingga leher. Begitu menikmati rongga penciumannya.
Selang beberapa detik berlalu. Euforia merasuki tubuhnya. Apakah ia boleh mendadak mencapai puncak kesenangan yang teramat dalam? Hanya karena sebuah syal yang diberikan?
Mungkin boleh, Tuhan 'kan adil.
Ia kembali melangkah untuk melanjutkan patrolinya yang terjeda sejenak. Irisnya kembali merasakan kesegaran. Tak ada lagi salju yang dapat mendinginkannya.
Syal pemberian itu, akan ia treasure-kan.
"Kau bodoh yang jangan sampai terkena flu."
==FIN==
A/N
Hhh. Cukup singkat yah? Hahahahaa maafkan, idenya hanya kepentok nyampe segitu.
Buku : Oi, kau masih harus UKK!
Ayuha : Bodo amat. Gua lagi mau menggairahkan ide pujosi gua :'3
Baiklah, mungkin sekian yang dapat saya sampaikan(?)
Seperti biasa, minta review~~~~
