a/n: Assalamu'alaykum.. #hening# Rasanya pingin getok kepala karena terlalu banyak membuat cerita multichapter. Ini aku buat untuk Himeka-ku tersayang, calon adik iparku #dicekek Kazune# Demo, meski mungkin multichapter-nya akan bertambah lagi, kurang lebih 2, aku akan berusaha untuk menyelesaikan semuanya..

m(TT_TT)m


I'll Be There For You


Kamichama Karin © Koge Donbo

I'll Be There For You © Invea


Fic ini special aku buat untukmu, Himeka-chan...^^


.

.

Sudah sejak tingkat 2 junior high school aku menaruh perasaan pada Michiru Nishikiori—seorang pemuda berambut cokelat sebahu. Dia merupakan pemuda yang baik. Dia ramah kepada siapapun. Hampir semua orang mengenalnya. Ayahnya merupakan seorang ilmuwan yang lumayan tersohor. Walau begitu, Michiru tidak pernah sombong. Dia tidak pernah memilih-milih teman dan baik pada siapa saja. Selalu ceria setiap saat. Senyuman selalu terhias di wajahnya dan pandangan matanya selalu memancarkan cahaya. Aku... Aku sangat menyukainya.

Aku merasa senang saat sekelas dengannya di tingkat senior high school. Sikapnya sama sekali tidak berubah. Dia terkadang kekakanak-kanakan. Tapi, di sisi lain, dia terlihat begitu dewasa di banding yang lain. Bahkan lebih dewasa di banding Kazune yang terbiasa menjadi seorang pemimpin.

Tapi, semenjak kami lulus senior high school, aku tidak pernah bertemu dengan Michiru lagi. Aku tidak tahu kabarnya. Bahkan Kazune dan Karin pun tidak diberi kabar. Aku agak khawatir juga. Meskipun begitu, aku percaya bahwa aku akan bertemu dengan Michiru lagi suatu hari nanti.

Tahun ini, aku baru saja menyelesaikan study perawatku. Sudah lebih dari 3 bulan aku bekerja di rumah sakit milik Kazuto Kujo, ayah Kazune. Kazune sudah lebih dulu bekerja di rumah sakit ini. Setahuku, bulan depan ia akan menikah dengan Karin. Karena aku teman Kazune, ayah Kazune menawariku bekerja di tempat ini. Awalnya aku menolak. Aku tidak mau diterima kerja jika bukan karena kemampuanku sendiri. Ayah Kazune kemudian mengetesku sebagaimana dia menguji calon-calon pekerja lainnya dan beruntung sekali aku bisa lulus. Dan pada akhirnya aku mengabdi di rumah sakit ini.

Tapi, sesuatu yang sepertinya sudah ditakdirkan Tuhan terjadi. Hari itu, aku hendak menyerahkan laporan pemeriksaan pada ayah Kazune. Setibanya aku di lorong menuju ruang UGD, ku lihat ada rombongan suster dan dokter yang menangani seorang pria yang terluka. Sepertinya sih terluka karena kecelakaan. Aku hanya menatapnya dari kejauhan. Pria itu dengan segera dibawa masuk ke ruang UGD. Tapi, yang membuatku penasaran, sesaat aku melihat rambut cokelat dari pasien tersebut. Dadaku rasanya mulai berdegup kencang. Mungkinkah itu Michiru?

Aku menepis pikiran itu jauh-jauh. Aku tidak mau pasien itu Michiru. Tentu saja aku tidak mau melihat pria yang sangat ku cintai itu terluka. Sepanjang perjalanan menuju ruang kepala dokter di rumah sakit itu, aku terus berdo'a semoga pasien itu bukan Michiru.

Tok! Tok! Perlahan aku mengetuk pintu ruangan kepala dokter di rumah sakit nomor 1 di Jepang tersebut. Terdengar suara sahutan dari dalam ruangan. Sebuah suara baritone yang sudah lama ku kenal,"Siapa?"

"Ah, Dr. Kazuto, ini aku, suster Himeka," sahutku kemudian.

"Masuklah, suster,"

Setelah dipersilahkan masuk, aku lantas membuka pintu ruangan Dr. Kazuto. Ku lihat di sana ada Kazune juga. Aku kemudian tersenyum lembut ke arah mereka. Mereka pun membalasnya dengan tatapan hangat.

"Ah, Dr. Kazuto, aku kemari untuk menyerahkan laporan pemeriksaan," ujarku kemudian menyerahkan laporan itu pada Dr. Kazuto.

"Terima kasih. Oh ya, kalau tidak salah, kau mengenal Michiru Nishikiori juga bukan?" tanya Dr. Kazuto. Perasaanku rasanya tidak enak saat dokter menanyakan hal itu. Apa ini firasat?

"Tentu saja, dokter. Kami satu angkatan dan dia temanku sejak tingkat 2 junior high school," jawabku kemudian.

"Hm, kalau begitu biar suster Himeka saja," gumam Dr. Kazuto kemudian.

"Aku setuju dengan otou-san," sahut Kazune kemudian. Aku hanya diam mematung—tidak mengerti apa yang sebenarnya tengah mereka bicarakan.

"A—ano, apa Dr. Kazuto hendak memberiku tugas baru?" tanyaku sedikit heran. Kazune terlihat sedikit muram. Dia kemudian menatap lekat kedua bola mataku.

"Tabahkan hatimu, Himeka. Nishikiori mengalami kecelakaan, dia baru saja dibawa ke ruang UGD," terang Kazune. Rasanya aku benar-benar tidak percaya dan tidak mau percaya akan perkataan Kazune. Ja—jadi pasien yang berlumuran darah tadi itu Mi—michiru?

"Ia terluka cukup parah. Kali ini aku akan menanganinya, setelah menjalani operasi, aku minta Dr. Kazune yang akan merawatnya dan suster Himeka juga," perintah Dr. Kazuto.

"Baik, dokter," sahutku dan Kazune bersamaan. Dr. Kazuto kemudian langsung menuju ruang UGD begitu kami keluar dari ruangannya. Mata biru safir Kazune terlihat terus memandangku sedari tadi.

"Kau tidak apa-apa, Himeka?" tanya Kazune kemudian. Aku mengangguk pelan dan mengisyaratkan untuk ditinggal sendiri. Kazune sepertinya mengerti dan lantas meninggalkanku sendiri. Aku lalu berjalan menuju ruang UGD. Pintunya tertutup rapat. Ku intip ke bagian dalam. Dr. Kazuto terlihat begitu serius. Aku hanya bisa menatap Michiru dari kejauhan. Pemuda itu kini terbaring tak berdaya. Tubuhku rasanya bergetar menatap pemuda itu. Kenapa tidak aku saja yang mengalaminya?

Aku kemudian duduk di kursi yang ada di dekat ruang UGD. Di sana aku menunggu dengan harap-harap cemas. Tak henti-hentinya mulut ini bergerak memanjatkan do'a. Aku harap Michiru dapat diselamatkan.

"Suster Himeka,"

Aku langsung menoleh ke arah sumber suara yang memanggilku. Seorang gadis berambut pirang yang memakai seragam yang sama denganku lantas duduk di sampingku. Mata blue sapphirenya menatapku dengan cemas.

"Aku sudah mendengar semuanya dari onii-san. Pasti sangat berat ya," gumamnya kemudian. Aku hanya memaksakan senyumku.

"Katanya, Michiru mengalami kecelakaan lalu lintas. Kendaraannya ditabrak oleh sebuah truk besar. Kedua orang tuanya dikabarkan tewas di tempat saat kejadian itu," lanjut suster tersebut.

"Dari mana kau tahu semendetail itu, suster Kazusa?" tanyaku kemudian.

"Tadi aku menonton beritanya bersama dokter Kazune," jawabnya. Aku menunduk pelan. Suster Kazusa kemudian menepuk punggungku perlahan.

"Tenang saja, dia akan baik-baik saja," ujarnya menghiburku. Aku kembali tersenyum menatapnya. Yup! Aku tidak boleh putus asa begini. Aku harus optimis. Michiru sekarang ditangani oleh Dr. Kazuto. Aku yakin dia juga sedang berjuang. Yosh! Semangat!

Kazusa terlihat menyunggingkan senyumannya melihatku yang sudah kembali ceria. Tepat saat itu, aku melihat Dr. Kazuto membawa Michiru ke kamar biasa. Itu berarti, kondisi Michiru sudah baik. Aku benar-benar bersyukur.

.

.

Cklek! Ku buka pintu kamar tempat Michiru dirawat. Ku lihat sosoknya yang tengah terbaring lemah di tempat tidur. Sebuah selang infus terpasang di tangan kirinya dan sebuah alat membantu pernapasan terpasang di hidungnya.

"Ohayou, Michiru," sapaku seraya menutup pintu kamar. Aku kemudian bergegas menyibakkan tirai yang menutupi jendela kamarnya. Ku buka sedikit jendela tersebut agar ada cahaya dan udara yang masuk. Langkahku kemudian tertuju pada vas bunga yang ada di meja sebelah kanan tempat tidurnya. Dengan cekatan, aku lantas mengganti bunga matahari yang ada di sana dengan bunga mawar yang baru saja aku petik tadi pagi. Setelah itu, aku kemudian mulai memeriksa keadaan tubuhnya. Semuanya baik-baik saja, kecuali—

—satu hal. Ya, satu hal. Michiru sama sekali belum sadar. Sudah tiga hari berlalu sejak kejadian itu. Tapi, pemuda itu belum juga membuka kedua bola matanya. Miris melihat keadaannya. Nyaris sekujur tubuhnya diliputi perban. Bahkan, Dr. Kazuto sampai membuatkan mata buatan untuk Michiru. Kecelakaan itu bukan hanya merenggut nyawa kedua orang tua Michiru, tapi juga telah merenggut sebuah bola mata berwarna ungu miliknya. Bola mata yang selalu bersinar setiap saat.

Cepatlah sadar, Michiru. Aku menunggumu.

Selepas menulis semua keadaan tubuhnya dalam sebuah kertas yang dicapit pada sebuah papan dada, aku kemudian berjalan menuju pintu untuk mengerjakan tugas lainnya. Saat aku hendak membuka pintu, aku mendengar suara seseorang yang sudah tidak asing lagi di telingaku. Suaranya sama sekali tidak pernah berubah, sama seperti dulu.

"Akh... A—Aku—"

.

.

Keep or Delete?

.

.

Review Please?