Reader's POV

Sesungguhnya, aku hanya ingin menjalani sebuah kehidupan normal.

Aku tidak pernah berniat untuk berbeda dari mereka. Aku tidak ingin memiliki kelainan ini. Aku tidak ingin untuk menjadi sosok yang bisa menerka masa depan, aku tidak mau untuk membebani hidupku untuk hal-hal tidak berguna. Terlebih lagi, aku tidak ingin mengetahui masa depan seseorang yang tidak kukenal. Sungguh, aku muak dengan ini semua.

Aku sangat membenci diriku sendiri. Terutama mata ini.

Semua fakta yang ada membuatku muak.

Bisakah seseorang membunuhku? Apakah ada manusia yang rela meluangkan waktu hanya untuk memenuhi permintaan terakhirku?

Tidak. Sudah jelas, 'kan?

Aku berbeda dari mereka semua. Mereka menganggap diriku adalah sesuatu yang aneh. Kelainan yang ada di dalam diriku adalah kutukan.

Karena menurut mereka, bila sekedar ingin mendekati atau pun berbicara padaku; maka semua yang mengenai kehidupan masa lalu maupun takdir dari masa depan akan terlihat.

Mereka tidak menginginkan itu. Mereka percaya bahwa bila semua itu terbaca olehku, maka segala sesuatu yang diinginkan di masa depan tidak akan terjadi.

Karena semua akan gagal. Semuanya akan hancur bila aku membacanya.

Mata ini … bisakah aku membuangnya saja? Bolehkah aku mencongkelnya dan membuat kutukan ini sirna dari dunia?

Setiap aku melangkah, cemoohan itu tidak akan terlupakan. Mereka menyindirku sebagai anak terkutuk. Mereka mengatakan bahwa diriku tidak normal. Mereka berkata aku sama sekali tidak pantas untuk dihidupkan. Mereka menganggap semua kerabat yang berhubungan dengan diriku adalah iblis. Mereka berkata kalau orang tuaku sangat salah karena sudah melahirkan diriku. Setiap hari, aku menangis. Aku berteriak. Aku menganggap bahwa semua yang ada di dalam diriku adalah sesuatu yang salah.

Bolehkah aku menyalahkan Tuhan?

Hingga di detik yang sudah berada di akhir kehidupanku, aku menemukan sebuah fakta lain yang ada di belahan dunia. Kembali, aku merasa jantungku ditusuk oleh sebuah tombak yang sangat tajam.

Sejujurnya, aku sama sekali tidak berniat untuk mengikuti kegiatan apapun. Terutama, olahraga. Aku benci itu semua. Aku tidak pernah menyukai kegiatan manapun. Bagiku, itu merepotkan. Menurutku, hal tersebut sama sekali tidak berguna untuk memperbaiki diriku yang sudah berada di ambang kehancuran.

Namun kala itu, entah bagaimana, aku menonton tim sekolahku bermain.

Turnamen Musim Panas Inter High tingkat SMP.

Aku tidak suka keramaian. Karena manusia yang berada di seluruh lokasi gedung olahraga ini memiliki kepribadian yang sama. Selalu menyindir para pemain dengan bodohnya. Apa mereka tidak sadar bagaimana idiotnya tingkah mereka itu? Apakah bila mereka yang bermain, mereka akan sebaik orang-orang yang turun ke lapangan? Sungguh munafik dan arogan. Aku membenci mereka semua.

Hingga saat itu, aku tidak sengaja melihat papan digital yang terpampang besar di pusat panggung.

11-111.

Seketika, manikku membulat. Tidak sengaja, irisku membaca sebuah fakta.

Dan di saat itu pula, aku merasa tertekan oleh satu hal.

Bagiku, basket hanyalah sebuah olahraga yang diiringi dengan irama tangan serta kegesitan dalam memantulkan bola. Aku sama sekali tidak pernah berpikir bahwa permainan basket bisa disamakan dengan persiapan menuju perang dunia. Suasana yang begitu berat, hawa tidak biasa mampu merusaki anggota tubuhku yang lemah.

Maksudku, apa-apaan dengan ketidaknormalan ini?

Aku melangkah lebih dekat hingga pagar pembatas dan melirik ke bawah. Terdapat satu perhatian yang menarik atensiku. Sekolah lawan, SMP Teikou, menang telak. Dengan skor di atas seratus, mereka mampu membungkam tim sekolahku dengan sebuah kemenangan mutlak.

Aku mengerjap.

Ada beberapa orang yang berhasil membuatku heran.

Pertama, rambut mereka. Entah hal tersebut mengingatkanku akan sebuah fenomena alam selepas hujan. Kedua, mereka memiliki aura intimidasi yang luar biasa. Namun sekali lagi, aku kembali membaca sebuah fakta; mereka bermain dengan tidak serius dan terkesan bermain-main. Meski begitu, mereka tetaplah hebat. Aku tidak tahu posisi atau pun cara dasar dalam permainan, tapi hanya dalam sekali melihatnya, aku tahu bahwa mereka, para pemain Teikou, bermain dengan kurang dari setengah kemampuan mereka. Apa kami kurang kuat untuk sekedar memancing permainan mereka yang sebenarnya?

Ah, tidak.

"…Ku—roko…"

Teikou yang terlalu kuat. Mereka mampu membungkam mulut kami semua dengan sebuah fakta menyakitkan.

Salah satu dari pemain SMP Meikou, Ogiwara Shigehiro, bungkam.

Aku bisa melihatnya dengan jelas menggunakan mata ini.

Karena yang dapat kutatap di masa lalu hanyalah permainan sepihak. Tidak ada usaha keras untuk melawan. Meski begitu, yang kalah terus berjuang untuk mendapatkan angka—meski semuanya tetaplah sia-sia.

Kompetisi macam apa ini?

Setahuku, Ogiwara-kun adalah pemain bintang. Kami memang sama sekali tidak pernah saling sapa atau pun bertatapan, tapi menurutku dia adalah salah satu pemain hebat yang kami punya. Hanya saja, melihat ekspresi menyedihkan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya, aku tidak berani menebak perasaan apa yang saat ini dia rasakan.

Kekalahan yang terasa mutlak. Sebuah kekalahan yang terasa wajar namun menyakitkan. Itulah yang saat itu kurasakan kala melihat Ogiwara-kun menangis dengan keras di bangku cadangan.

Belum sempat aku memikirkannya lagi, sebuah hawa lain membuatku tersentak. Aku melirik seseorang. Seorang pemuda dari tim lawan dengan rambut sehangat langit musim panas, tengah terdiam di pinggir lapangan dengan kepala diperban.

Aku terdiam seketika.

Mereka menang, bukan?

Lalu, kenapa?

Aku bisa melihat lelaki itu sama sekali tidak bahagia. Ia tidak tertawa, ia tidak merasakan arti dari kemenangan itu. Menurutku, teman-temannya pun sama sekali tidak bersorak atau pun sekedar tersenyum. Mereka biasa-biasa saja, menganggap bahwa semua ini adalah hal yang wajar.

Namun kulihat, yang berbeda hanyalah dia.

Pemuda berambut biru muda yang masih terdiam dengan mata yang dihiasi oleh tangisan.

Hingga detik itu, ada satu pertanyaan yang muncul di benakku.

Sebenarnya, kemenangan itu apa?

Apakah pertanyaan itu yang menganggumu selama ini? Apa itu yang kau rasakan hingga raut wajahmu sama sekali tidak merasakan kesenangan dari kemenangan itu sendiri? Hei, orang yang tidak kukenal, aku bertanya padamu.

Pertandingan telah selesai beberapa menit yang lalu. Para penonton perlahan mulai keluar dan meninggalkan tempat. Namun aku, manusia awam yang tidak tahu apa-apa, malah terus terdiam di tempat seperti ini sembari melihat tim lawan yang bersiap-siap untuk meninggalkan lapangan. Mataku terus tertuju pada sosok biru muda yang terdiam dengan lemasnya. Namun yang bisa kulihat, dia sama sekali tidak dipedulikan, hanya perempuan berambut merah muda yang menegurnya agar segera mengikuti teman-teman yang lain untuk segera pulang.

Lalu, manikku berpindah ke lokasi lain. Aku melirik mereka yang hari ini diturunkan sebagai pemain dari tim inti.

Hijau, biru tua, kuning cerah, ungu, dan merah.

Merah?

Jantungku seolah berhenti berdetak. Mata kiriku berdenyut seketika. Aku melihatnya.

Sebuah manik merah darah serta pasangannya, kuning emas.

Pemuda nomor punggung empat, berambut merah dengan tinggi yang tidak seberapa itu memiliki mata yang sama denganku. Manik beda warna dengan paduan kuning emas. Aku terdiam.

Tidak mungkin, 'kan?

Tetapi, aku sangat yakin bahwa dirinya sama sekali tidak terpuruk sepertiku. Menurutku, dia menganggap mata itu adalah sebuah anugerah terindah. Itu bisa kudapatkan dari tingkah orang-orang di sekitarnya yang terlihat segan dan sangat hormat padanya. Tunggu sebentar, apa dia pemimpin dari tim lawan?

Kapten mereka … adalah seorang pemuda dengan mata heteromatika?

.

.

dirinya, sang terpuruk yang mampu melihat masa lalu maupun masa depan seseorang sesuka hatinya—

.

.

APPEAL

Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi

Appeal by stillewolfie

Kuroko T. & Reader/OC

OOC, alternate reality, seirin-era, typo, etc.

.

.

bertemu dengan sang bayangan yang akan menuntunnya untuk menjalani sebuah kehidupan.

.

.

BAGIAN SATU

(Mata Nubuat)

.

.

Sore hari, musim gugur.

Suasana sekolah sudah berakhir. Aku berjalan pelan menuju loker untuk mengganti sepatuku dan berjalan untuk mengakhiri kehidupanku yang buruk pada hari ini. Aku sengaja terus membaca hingga bel berbunyi tanpa persiapan untuk segera pergi dari tempat ini. Aku menunggu manusia-manusia itu pergi dan suasana akan tenang kembali. Aku abaikan bisikan aneh yang berkata bahwa diriku yang berbeda ini ternyata sangat cacat di mata mereka. Diam-diam aku menghela napas.

Tidak membutuhkan waktu lama, mereka semua sudah pergi dan aku bisa menghela napas untuk mengusir ketegangan.

Segera aku membereskan semuanya dan turun ke lantai dasar. Hari sudah sangat sore dan cahaya matahari terbenam mampu memasuki jendela serta pintu sekolah yang masih terbuka.

Syukurlah suasana tidak ramai dan mengerikan seperti biasanya. Mungkin aku bisa pulang tanpa harus kehilangan sepatu atau lemparan telur di salah satu bagian tubuhku.

Aku membuka pintu loker dengan cepat. Mengabaikan coretan-coretan menyakitkan yang berada di dinding loker, segera aku mengganti sepatuku dan berniat untuk segera pulang. Hanya saja, manik hetero terkutuk ini sama sekali tidak berniat untuk membebaskanku sedetik saja. Aku terdiam dan menoleh ke sebelah kanan, mendapati seorang pemuda tinggi berambut cokelat yang sedang mengganti sepatunya.

Ogiwara Shigehiro.

Tanpa perlu bertanya pun, aku sudah tahu bagaimana suasana hatinya saat ini.

Ia masih terpukul dengan hasil pertandingan beberapa minggu yang lalu.

Aku menghela napas. Suasananya sangatlah berat.

"Hei, kenapa menatapku seperti itu?"

Aku mendongak. Ah, aku ketahuan.

"M-Maaf, sudah menatapmu sembarangan." Aku bukanlah orang yang mudah akrab dengan siapa saja. Rasanya tidak sopan bila aku menatapnya tanpa izin terlebih dahulu. Oleh sebab itu, aku membungkuk pelan dan merutuki sikapku yang tidak memiliki rasa santun sedikit pun.

"Ah, tidak usah formal begitu. Kau dari 2-C, 'kan?" Ia merentangkan tangan, berniat untuk berjabat dan saling menyapa. Aku terdiam. "Aku Ogiwara Shigehiro, kelas—eh?"

Eh?

"Matamu—" Seketika, rasa gugup itu langsung ada. Jantungku berpacu cepat. "—berbeda? Maksudku, warnanya—"

"Maaf, a-aku harus segera pulang. Maaf sudah menganggu waktumu."

"Tunggu! Tunggu seben—hei, jangan lari!"

Kenapa? Kenapa kesan yang pertama dia lihat adalah mataku? Kenapa dia tidak bertanya siapa namaku atau pun yang lain? Apa mata ini sangat menarik sehingga dia bertanya soal kecacatan ini? Asal bukan mataku, aku tidak keberatan. Aku—

Hawa lain menusuk perasaan. Satu kehidupan berhasil membuatku menghentikan langkahku yang lemah. Rasanya kuingin menangis saja.

Menghentikan lariku yang pelan, aku terdiam dan mendongak pada seseorang yang berhasil menghalangi jalanku untuk pulang. Ogiwara Shigehiro mengejarku. Aku terdiam dan menunda tangisan yang sempat ingin keluar dari kelopak.

"Aku memang sempat mendengar rumor—" Mencoba untuk menetralkan napasnya yang tidak beraturan, ia langsung menatap kedua mataku—menusukku dengan sebuah fakta. "—dan ternyata itu benar, ya? Meikou memiliki seseorang dengan mata berbeda?"

"A-Aku—"

Aku tidak mampu menjawabnya. Benar, itu sangat benar. Itu adalah sebuah fakta. SMP Meikou, sekolah tempatku menuntut ilmu, berhasil menampungku tanpa melihat kekurangan atau pun kelainan yang ada dalam diriku. Aku tahu, aku sangatlah berbeda dari kalian. Aku tidak tahu mengapa diriku berhasil menginjakkan kaki untuk ke sekolah seperti remaja lainnya tanpa memikirkan resiko besar atas kelainan yang kumiliki. Sungguh, kalau saja aku adalah noda yang sangat beracun, tolong menjauhlah dariku, Ogiwara-kun. Bagiku, kau sangat baik. Kau berani menegurku, kau berani menggenggam tanganku, kau berani menatap langsung kedua mataku, kau berani untuk berbicara normal padaku tanpa mengatakan hal jahat sedikit pun. Aku sangat bersyukur akan hal itu. Tapi, kumohon—

"Ternyata itu kau?"

Aku tidak berani untuk sekedar menjawab. Perasaan terhina pun dapat kurasakan.

Kami terdiam beberapa detik. Ia terus berada di depanku dan memandangi wajahku. Aku yakin dalam keadaan begini aku bisa kabur darinya, tapi aku tidak yakin dia mengizinkan diriku pergi begitu saja. Oleh sebab itu, aku tidak mampu menggerakkan bagian tubuhku. Aku tidak berani untuk memancing dirinya untuk bertanya lagi.

"Dua minggu yang lalu, aku mengikuti turnamen basket."

Ah, ya. Meski pertandingan telah berakhir, aku masih sempat menonton performa milikmu, Ogiawara-kun.

"Dari situ, aku bertemu dengan seseorang—ia memiliki mata yang serupa namun berbeda dari milikmu."

Otakku berdenyut. Perasaan langsung tertuju pada anggota tim lawan berambut merah.

"Dia memiliki mata yang tajam dan mengerikan," Ia terkekeh sarkas, "Bahkan aku sempat takut padanya, ia memiliki aura intimidasi yang bisa menusukku kapan saja." Perlahan, aku tertarik untuk mendengar ceritanya. "Mungkin kalau aku macam-macam, aku akan dibunuh olehnya saat itu juga. Terlepas aku adalah lawannya atau bukan."

Aku mengerjap.

Apa dia semengerikan itu?

"Tapi, kau berbeda." Mataku membulat. Melihat ekspresiku ini, Ogiwara-kun tertawa pelan. "Kau sangat berbeda dengannya, meski kalian sama-sama punya mata belang seperti itu."

Sejujurnya, sejak pertandingan itu, aku memang memiliki perasaan bahwa orang itu sama sekali tidak bisa dibilang baik. Ia memiliki hawa mengerikan yang dapat mengartikan bahwa dirinya adalah seseorang yang dapat menggerakkan dunia. Maksudku, Ogiwara-kun sama sekali tidak salah dalam mendeskripsikan orang itu—sangat benar malah. Tetapi, maksudku, mengapa dia menjadi seperti itu? Apa mata itu telah ia dapatkan sejak lahir seperti diriku? Atau karena ada suatu peristiwa yang membuatnya mendapatkan mata itu?

Dapat kurasakan sebuah kejanggalan, itu membuat jantungku berdebar tak karuan.

"Mungkin ini pertemuan kita yang pertama dan terakhir,"

Pikiranku putus begitu saja kala mendengar ucapan Ogiwara-kun.

"Eh?" Aku tidak mengerti, "M-Maksudnya—"

"Mulai minggu depan, aku akan berhenti bermain basket—" Aku terdiam, bibirku mengatup tidak percaya. "—aku bahkan akan pindah sekolah."

Ia tersenyum hangat layaknya seorang teman. Ia menepuk puncak kepalaku dan berpesan agar segera pulang. Langit semakin menggelap, ia berbalik tanpa mengucapkan salam perpisahan. Angin menerbangkan helai kami. Itu adalah percakapan pertamaku setelah sekian lama. Karena di detik itu juga aku sempat berpikir bahwa diriku akan mendapatkan seorang teman. Tapi ketika mendengar bahwa orang itu akan segera pergi meninggalkan kota, diriku menyadari sebuah fakta yang mengatakan bahwa aku memang diciptakan untuk selalu sendirian.

Perasaan sakit dapat kurasakan. Mata kiriku kembali berdenyut. Seketika, kilas masa depan Ogiwara-kun terlihat. Ia memang terpuruk. Perkataannya tidak main-main. Ogiwara-kun akan berhenti bermain basket. Ia tidak lagi mengikuti kegiatan rutinnya itu. Bahkan saat menginjakkan kaki di sekolah barunya, Ogiwara Shigehiro akan mengubah pandangannya tentang basket.

Aku … tidak tahu lagi.

Mengabaikan hari yang sudah benar-benar gelap, diriku menangis keras akan masa depan yang kulihat.

.

.

- appeal -

.

.

Tahun berganti. Pagi hari, musim semi.

Aku menghentikan langkah, menatap gerbang yang di dalamnya telah terdapat banyak orang serta para senior yang siap akan promosi dengan klub mereka. Aku terdiam dan menghela napas. Sebelum menyakinkan diri untuk memulai hidupku sebagai seorang murid SMA, aku menyentuh permukaan penutup mata yang telah kusiapkan beberapa hari sebelumnya. Tidak apa-apa mereka akan penasaran dengan penampilan baruku ini. Karena yang kuinginkan hanyalah sebuah kenyataan yang ada akan terus tersimpan tanpa meracuni pikiran-pikiran mereka yang dasarnya telah memiliki niat jahat pada diriku yang berbeda.

Aku tidak ingin menggunakan kemampuan mata ini dengan sembarangan. Aku sudah mencoba untuk mengubah dan mengendalikan diriku di sebuah langkah awal.

Hingga kala itu, angin musim semi menerbangkan helai mahkota yang kupunya. Manik yang tersisa melirik seseorang yang melewatiku begitu saja.

Seorang laki-laki dengan helai secerah langit musim panas, melangkah melewatiku sembari membaca sebuah novel tua.

Aku terdiam tanpa berkata apa-apa.

Kenangan masa lalu kembali terulang. Kilasan menyakitkan yang berupa hasil dari sebuah pertandingan olahraga. Perjalanan dari awal yang terkesan keras, awal pertemanan yang sangat indah, hingga suatu kejadian yang mengubah semua kebahagiaan itu menjadi malapetaka.

Satu nama terlintas.

Mataku bisa membaca semuanya.

Kuroko Tetsuya, mantan pemain inti dari tim basket terkenal, seorang pendukung yang sangat membantu teman-temannya di balik layar. Namun perlahan, ia terjun ke dalam dunia yang gelap—ia ditinggalkan oleh mereka yang sudah jauh lebih kuat.

Aku mengerjap.

Semuanya terbaca.

Mata ini mengatakan semuanya.

Melihat punggung Kuroko Tetsuya yang berjalan dan mendahuluiku memasuki gerbang, aku terus memandanginya hingga ia menghilang di balik kerumunan. Perlahan namun pasti, aku mengikutinya.

Ini sungguh di luar ekspetasi.

Di SMA Seirin, kami pun bertemu kembali.

.

.

- appeal -

.

.

Aku menatapnya dari kejauhan.

Ia terlihat terdiam di sana, memperhatikan senior yang sibuk mengoceh tanpa menyadari Kuroko Tetsuya memang ada di sana, di hadapan mereka berdua. Aku mengedip bingung. Segala sesuatu yang terlihat terlalu alami bila aku berkata senior kami yang duduk bersebelahan itu pura-pura tidak menyadari keberadaannya. Sembari memeluk tas di dada, aku terus memperhatikan—memandangi Kuroko Tetsuya yang hanya bisa mematung tanpa berbuat apa-apa.

Hingga Kuroko Tetsuya memutuskan untuk menyerah dan meletakkan formulir pendaftaran di meja dan pergi meninggalkan mereka.

Tunggu sebentar, aku dapat merasakan sebuah kejanggalan.

Kenapa Kuroko Tetsuya seperti tidak disadari keberadaannya?

Ia berjalan santai dan menghindari segala tabrakan karena saat ini, para senior sibuk untuk membujuk kami agar bergabung dengan klub ekstrakulikuler sekolah. SMA Seirin adalah sekolah yang baru dua tahun berdiri, masih terlihat segar, karena itulah mereka semua berbondong-bondong agar bisa menarik perhatian junior mereka sebisa mungkin.

Aku melangkah ke depan, berjalan menuju meja yang diisi oleh satu laki-laki berkacamata dan satu perempuan berambut cokelat sebahu. Ragu-ragu, aku mencoba untuk menginterupsi omongan mereka yang terkesan heboh.

"A-Ano…"

Manik cokelat tua langsung menyadari kala merasakan hawa lain selain dirinya dan laki-laki berkacamata. Ia tersenyum menghadapku. Dari sikap serta suaranya, aku langsung tahu kalau dia memang salah satu kakak kelas di sekolah ini. "Ya? Eh, kau ingin bergabung dengan klub basket? Aduh maaf ya, ini khusus untuk putra. Mungkin kalau di putri kau bisa mencarinya di—"

"Eh, b-bukan, aku tidak bermaksud untuk bergabung kok," Aku mengerjap. Satu nama langsung terlintas di pikiran tanpa harus kuminta. Aida Riko, seorang anak tunggal dari mantan pebasket tim nasional. Aku mendorong kertas formulir yang Kuroko Tetsuya letakkan di atas meja. Otomatis, pandangan para senior langsung tertuju pada benda itu. "S-Senpai melupakannya. Ada satu lagi yang ingin bergabung dengan kalian."

Senior laki-laki berkacamata yang mengambil alih kertas tersebut. Ia terdiam. "Kuroko … Tetsuya?"

Kuroko Tetsuya. Mata ini memang tidak pernah salah.

"Tunggu sebentar! Jadi dari tadi dia ada di sini!?"

Ragu-ragu, aku mengangguk.

"Hyuuga bodoh! Kenapa kau tidak menyadarinya? Seharusnya kita menyambutnya dengan kesan hangat!"

"Kenapa kau menyalahkanku? T-Tapi sejujurnya … aku bahkan tidak tahu ada orang yang mendaftar sebelum anak ini datang kemari, tahu!"

Aku hanya terkekeh canggung. Apakah Kuroko Tetsuya setipis itu?

"Pelatih! Ini ada satu orang yang ingin bergabung!"

Ketika mendengar suara lain yang ada di belakangku, aku menoleh pelan. Mendapati dua orang laki-laki yang berjalan menuju ke arah kami. Mengabaikan laki-laki bertampang kucing yang sibuk berbicara dengan Aida Riko, aku menatap laki-laki satunya yang berbadan besar serta memiliki rambut merah gelap.

Aku berkedip tidak percaya.

Dia … tinggi sekali.

"Siapa kau? Kenapa memandangiku seperti itu?" Satu pasang manik merah memicing ke arahku. "Dan apa-apaan penutup matamu itu? Terlihat konyol."

"M-Maaf," Segera aku menyingkir dari sana, meninggalkan Kagami Taiga yang memandangiku dengan wajah anehnya. Mengabaikan sapaan Aida Riko pada Kagami Taiga, aku segera pergi dari sana dan terlupakan. Tidak apa-apa, aku juga tidak berniat untuk berurusan dengan anggota klub basket.

Mencoba untuk mengabaikan ajakan senior yang menyuruhku agar segera bergabung dengan klub mereka, aku mendongakkan kepala.

Hari ini begitu cerah, sangat baik untuk memulai langkah awal dalam kehidupan. Aku tersenyum kecil, berdoa dalam hati agar kiranya aku tidak memilih jalan yang salah setelah memasuki sekolah ini. Angin musim semi membuat rambut dan rokku bergerak-bergerak, daun bunga sakura terlihat terbang dan menghilang di balik udara.

Ketika menatap wajah Kagami Taiga, ada satu masa depan yang bisa kubaca. Ia ternyata pria yang sangat jago dalam memainkan bola basket. Ia terlihat berpengalaman dibandingkan yang lain, bahkan lebih baik dibandingkan Kuroko Tetsuya. Aku tidak tahu mengapa diriku dengan yakin bisa mengatakan ini semua, tapi ada satu hal yang dapat kujamin setelah mengamati mereka berdua.

Mereka akan bertemu sebagai pasangan, layaknya sebuah cahaya yang akan menghasilkan bayang-bayang.

Aku tertawa pelan, mengatakan dalam hati betapa bodohnya kiasan yang kubuat.

Memasuki kelas, aku mengambil deretan bangku dekat jendela.

Meski sudah dua tahun berlalu, aku masih tidak bisa menyingkirkan masa lalu yang tidak ada kaitannya denganku itu. Membayangkan betapa kecewanya Ogiwara-kun, permainan yang dilakukan secara sepihak, manik heteromatika yang masih membuatku penasaran, serta tangisan bersalah dari Kuroko Tetsuya.

Segalanya bisa kuingat dengan baik. Mata ini tidak pernah salah dalam mengumpulkan informasi mengenai masa lalu seseorang. Aku bisa mengetahui betapa sakitnya Ogiwara-kun yang saat itu merasakan kekalahan mutlak yang mampu membungkam mulutnya.

Dan kenyataan sekarang aku telah berada di lingkup salah satunya, yaitu Kuroko Tetsuya.

Menghela napas sebagai awal permulaan, aku mencoba untuk meneguhkan pikiran.

Aku hanya bisa berharap agar tidak berurusan dengannya.

.

.

- appeal -

.

.

Beberapa hari telah berlalu.

Sungguh, tim basket Seirin benar-benar lucu dan memiliki cara sendiri untuk mengenalkan anggotanya pada kami. Maksudku, beberapa hari lalu saat upacara bendera akan diadakan, aku bisa melihat dari kejauhan bahwa mereka pergi menaiki atap dan mengenalkan diri mereka sebagai tim basket Seirin dengan suara lantang mereka. Kagami Taiga, pemuda besar yang kembali menarik perhatianku, akan berkata bahwa ia akan mengalahkan Generasi Keajaiban atau semacamnya. Aku tidak tahu apa itu Generasi Keajaiban, mungkin sekedar julukan? Tapi, mengapa harus mengalahkannya?

"Hei, ini dia! Si mata sebelah!"

Aku berhenti melangkah. Terkejut ketika melihat orang-orang yang tidak kukenal datang dengan seringai aneh padaku.

"Kau dari 1-D, 'kan?" Aku mengerutkan alis, siapa mereka? "Ternyata benar, kau menutupi sebelah matamu itu. Sebenarnya kami penasaran—oops!"

Mereka berniat untuk menyentuh wajahku, terutama penutup mataku. Dengan sigap aku menghindar dan menghempaskan jemari laki-laki itu. Tidak akan kubiarkan mereka berbuat lebih jauh.

"Hei, kami 'kan hanya penasaran, jangan galak begitu dong."

"Oi, kau terlalu berlebihan. Jangan menyentuhnya juga 'kan—"

"Tidak apa tidak apa," Aku memundurkan langkah. Dengan sebelah mata aku mencoba untuk mengedarkan pandangan agar bisa meminta bantuan. Namun bukan ada rasa simpati yang ada, mereka yang berada di sepanjang lorong hanya terdiam dengan ekspresi beraneka sembari memperhatikan kami. Tiba-tiba jantungku berdegup tidak enak. "Kau cukup cantik, tapi kenapa harus memakai penutup bodoh itu? Jadi terlihat aneh lho!"

"M-Maaf, aku harus segera ke kelas, j-jadi—"

"Hei hei hei, jangan terburu-buru. Kami tidak bermaksud buruk kok, kami hanya bertanya kenapa sebelah matamu ditutupi seperti itu? Ah, jangan-jangan sebelah matamu itu cacat? Atau berbeda warna? Eeeh, kau punya kelainan? Astaga, aku tidak menyangka!"

Aku terdiam. Aku tidak bisa berkata apa-apa.

Perlahan, tawaan itu dapat terdengar. Dia yang tidak kutahu namanya serta teman-temannya terkikik pelan. Dan tawaan itu semakin keras ketika diikuti oleh mereka yang kebetulan berada di lorong kelas.

Tubuhku gemetar. Perasaan takut akan tidak diterima kembali muncul di permukaan. Aku mencoba untuk mundur dan lari dari kenyataan. Kembali, orang-orang munafik muncul di sekitarku. Mereka tertawa dan mengejekku. Mereka berkata mengapa aku ini berbeda. Mereka berbisik bahwa aku aneh hanya karena memakai penutup mata.

Kenapa? Aku hanya bermaksud untuk melindungi kalian. Aku tidak ingin melihat masa depan kalian dengan sembarangan. Aku tidak bermaksud untuk berbeda. Aku tidak mau kalian celaka hanya karena aku mampu membaca masa depan kalian secara sempurna. Aku tidak ingin membaca segala karma yang akan terjadi di hidup kalian—

Kumohon, berhentilah tertawa!

Tangisan tak dapat dibendung. Aku terisak. Tekanan yang kurasakan saat di sekolah menengah kembali menghantuiku. Aku tidak tahu lagi—

"Apa-apaan kalian? Mengganggu seorang gadis dengan cara seperti itu?"

Dunia hening mendadak, aku menatap seorang pemuda yang dengan kerasnya mencengkram kepala pria yang mengejekku tadi. Mataku membulat tidak percaya. Kagami Taiga dengan wajah seramnya, memelototi mereka yang seketika terdiam ketakutan.

"K-Kagami! Aduh! Hei, lepaskan tanganmu itu! Kau membuatku—argh!"

"Dengar ya, Sialan—" Suaranya begitu menakutkan, mereka ber-'hiii' pelan. "—kau menakutinya. Memang kenapa kalau matanya tertutup sebelah? Itu tidak merugikanmu, 'kan? Dasar brengsek."

Aku tidak peduli dengan mereka yang akhirnya melepaskanku dan pergi meninggalkan kami. Pelototan Kagami Taiga tentu berpengaruh pada semuanya. Perlahan namun pasti, orang-orang itu tidak lagi menujukan perhatiannya padaku. Aku lepas dari cemoohan mereka.

Kagami Taiga bersama dengan pelototan mautnya. Aku tersenyum bahagia atas perbuatannya.

"Kau tidak apa?" Ia menunduk hanya sekedar melihatku. Ah, diriku terlalu kecil bila bersandingan dengannya. "Seharusnya kau langsung lari atau melawan, bukan diam seperti curut begitu."

"Uh … maaf, aku hanya terkejut dengan kedatangan mereka." Aku mengusap air mata, mencoba untuk bersikap sebaik mungkin padanya. "Terima kasih, Kagami-kun. Aku berhutang budi padamu."

"Berhutang? Huh, kau terlalu sopan," Kulihat, ia menggaruk belakang kepalanya, terlihat sungkan. "Tidak apa, lain kali kalau diganggu begitu mending langsung lari saja."

Aku akan mengikuti saranmu. Pasti. Terima kasih.

Perlahan, manikku bergulir pada seseorang yang dari tadi ada di belakang Kagami Taiga. Ia menatapku dengan tatapan datarnya. Aku tersenyum dan membungkuk, mencoba untuk menyapanya dengan baik.

"Doumo, Kuroko-kun."

Ia terdiam. Lalu mengangguk, membalas sapaanku. "Doumo."

"Huh, Kuroko—ARGH! Sejak kapan kau ada di sana!?" Kagami Taiga terlihat terkejut. Tunggu, kukira dia sudah sadar sebelum aku? "Lain kali jangan muncul tiba-tiba dong, Teme!"

"Aku sudah di belakangmu dari tadi, Kagami-kun."

"Bisakah kau tidak menggunakan mis—apalah itu sehari saja? Lama-lama aku bisa mati berdiri hanya karena kau menggunakan kemampuanmu itu."

Aku tertawa kecil melihat tingkah konyol Kagami-kun. Ah, meski tubuhnya besar ternyata ia takut pada Kuroko-kun? Lucu sekali. Hingga saat itu aku menyadari ada sesuatu yang mengganjal di sini. Kuroko Tetsuya tidak menjawab omelan Kagami-kun, melainkan ia terus menatap diriku dengan tatapan kosongnya itu.

Kami saling memandang.

Aku tersenyum padanya, mencoba untuk tidak gugup dan mengendalikan diri agar tidak membaca jalan pikirannya.

Sedangkan dia, hanya berfokus pada satu titik—ia menatap penutup mata kiriku. Ia terus seperti itu, berharap dengan begitu ia akan menembus secara langsung dan mengetahui di balik kain kecil ini.

Segera aku mengabaikan tatapan itu dan melewati mereka berdua, tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih kembali.

Manik biru yang sama dengan rambutnya, berwarna biru cerah layaknya langit bersih di musim panas. Dalam sekali lihat, aku tahu Kuroko Tetsuya adalah orang baik. Ia tidak kasar atau pun memiliki aura intimidasi seperti orang-orang yang pernah kulihat dua tahun yang lalu. Sepasang biru muda miliknya masih tersirat kelembutan. Aku bisa melihatnya hanya dalam sekali pandang.

Yang bisa kulakukan saat itu hanyalah tersenyum.

Masa depan yang terlintas saat melihat mereka berdua hanyalah satu.

Dalam waktu dekat, mereka akan mendapati kemenangan yang akan mengundang kemenangan lainnya.

Semoga berhasil, ya.

.

.

Normal POV

"Kagami-kun,"

"Huh?"

Malam hari, musim semi. Kagami Taiga merasa bersyukur karena ia sudah berlatih dan terbiasa dengan kemampuan Kuroko Tetsuya yang selalu menghilang dan muncul mendadak. Maji Burger merupakan tempat nongkrong yang cocok bagi mereka berdua. Kuroko Tetsuya dengan vanilla shake, serta Kagami Taiga bersama dengan setumpuk burger keju yang porsinya luar biasa besar.

"Apa misdirection-ku mulai menipis? Maksudku, apa sekarang aku tidak terlihat lagi?"

Kagami memandang Kuroko sembari mengunyah dengan tampang bodohnya. Ia berbisik sinis, "Tidak. Kau selalu membuatku kaget dengan jurusmu itu setiap saat, Kuroko. Jadi, melemah bagaimana?"

"Gadis itu bisa melihatku."

"Siapa?"

"Yang kau tolong tadi siang," Kuroko Tetsuya menusuk sepasang manik membara milik Kagami Taiga. "Ia sudah menyadari kalau aku berada di sana, di belakangmu, Kagami-kun."

Kagami Taiga menelan makanannya. Ia menaikkan alis kala melihat pasangannya, Kuroko Tetsuya, terdiam dengan wajah cemas—meski itu sama sekali tidak terlihat, Kagami hanya menebak-nebak dengan bodohnya—pemuda kecil berambut biru muda kembali menegak cairan putih yang ada di dalam botol plastik di genggamannya.

"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Tapi mungkin memang benar, dia bisa melihatmu." Kagami Taiga menaikkan bahu tidak peduli. "Memang ada yang salah dengan hal itu?"

"Tentu tidak, Kagami-kun. Misdirection-ku tidak akan mempan pada orang yang tak biasa. Maksudku, orang yang memiliki jarak pandang yang luas. Kau ingat kata pelatih, 'kan?" Ragu, Kagami mengangguk. Kuroko yakin Kagami masih belum mengerti apa yang dia bicarakan.

Kuroko menoleh ke samping, mendapati hari yang sudah gelap.

Entah mengapa, ketika melihat perempuan itu, Kuroko terasa dikembalikan pada pahitnya masa lalu.

.

.

- appeal -

.

.

Suatu pagi, Kuroko Tetsuya berhasil menemukannya.

Di pintu kelas milik perempuan itu berada, Kuroko kembali bertemu dengannya.

"Kuroko-kun?" Suara pelan miliknya membuat Kuroko terhenyak sejenak. Ia memiliki suara lembut layaknya seorang perempuan. Tunggu, dia memang perempuan, 'kan? "Ada apa?"

"Ohayou gozaimasu," Dengan sopan, Kuroko berhasil menyapanya. Meski hatinya masih merasakan adanya suatu kejanggalan, ia memilih untuk mengabaikannya. "Sebenarnya, aku kemari karena ingin meminta tolong padamu."

Kebingungan tersirat pada wajahnya. Namun hal itu segera diganti dengan senyuman lembut, siap untuk membantu.

"Tentu, aku akan membantumu sebisaku, Kuroko-kun. Jadi, ada apa?"

Kuroko Tetsuya menatap langsung pada salah satu pasang mata yang berwarna gelap.

Mereka bertatapan, angin pagi menerbangkan helai mereka akibat cerahnya musim semi yang terjadi pada tahun ini.

"Kumohon dengan sangat," Kuroko Tetsuya membungkuk 90 derajat, menutup kedua mata dengan penuh keyakinan. "Jadilah manajer tim basket Seirin."

Kuroko Tetsuya sama sekali tidak sadar, bahwa permohonannya yang satu itu membuat perempuan di hadapannya membulatkan mata, menatap tubuhnya yang menunduk dengan penuh ketidakpastian.

.

.

bagian satu; selesai

.

.

catatan aneh si penulis:

halo! stillewolfie kembali membawa fanfik chara/reader baru; era seirin. karena ancestry akan segera tamat, saya kembali membawa kisah baru. semoga suka ya, teman-teman! kali ini reader jadi sosok yang sama kayak akashi /dirajam gunting/ reader punya mata heterokom—sama seperti Akashi Seijuurou, lho!

iya, saya tahu—imajinasi yang di luar batas, memang. kalau mata Akashi disebut emperor eye, punya kamu apa ya?

sampai jumpa di bagian selanjutnya!

.

.

terima kasih sudah membaca, sampai jumpa!