Kantin sekolah yang biasa dipenuhi para makhluk kelaparan berlabel siswa nampak lebih sesak siang ini. Beberapa dari mereka berkumpul di suatu titik, membentuk sebuah lingkaran yang di pusatnya berdiri seorang pemuda pirang bersama sang primadona sekolah.
Sang primadona—Megurine Luka—hanya menatap sang pemuda pirang—Kagamine Len—yang ada di depannya dengan tatapan dinginnya.
Meski dihujam tatapan mematikan yang mampu membekukan jiwa, hal itu tidak menyurutkan keberanian Len untuk mengatakan sesuatu yang telah lama ingin ia ungkapkan pada Luka.
Dagu perempuan itu naik, kedua manik sewarna langitnya menatap Len—sengit. Ia mendengus meremehkan. "Elo mau apa? Waktu gue gak banyak."
"Aku… menyukaimu, Kak Luka. Jadilah pacarku!" seru Len, akhirnya.
Semua yang berada di kantin terdiam. Menyaksikan pernyataan cinta yang disiarkan secara langsung dan eksklusif dari kantin sekolah. Len menunduk dalam, menyembunyikan rona kemerahan yang kini menjalar di wajahnya. Tak berani melihat wajah cantik kakak kelasnya itu.
Luka menyilangkan kedua tangannya di dada, sebelum akhirnya ia mendengus dan berkata, "Punya apa elo berani nembak gue?"
"Um… a-aku…" ucap Len, terbata. Dia bingung harus bilang apa pada kakak kelasnya itu. 'Masa' gue harus bilang, keberanian gue dateng dari Mbah Surip? Eh, bentar… gue bahkan gak tau siapa itu Mbah Surip!' jeritnya dalam hati.
'Atau… keberanian ini datang gara-gara kemaren gue makan kulit manggis!'
Entah mengapa Len jadi teringat trending topic di twittah kemarin dan berencana menggunakannya sebagai alasan. Ah, mungkin kalau pernyataan cinta Len diterima karena makan kulit manggis, dia rela teriak depan kepala sekolah: 'Heei ada kabar gembira untuk kita semuaa! Kulit manggis kini ada ekstraknyaa!'
'Ta-tapi… nggak. Nggak mungkin! Nggak mungkin gue bakalan ngomong kayak gitu di depan Kak Luka. Bisa-bisa… dia makah ngira kalo gue itu aneh gara-gara makan kulit manggis yang dikasih sama Mbah Surip!'
Len masih berkutat bersama pikirannya, tak melihat para makhluk di sekitarnya sudah mengarahkan tatapan bosan padanya.
Len semakin panik, dan semakin tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Hoy! Cepetan, dong! Kita udah laper, nih!" seru seseorang dari belakang Len.
"Ih! Elo gak tau apa! Kini kulit manggis ada ekstraknya!" bentak Len, spontan. Membuatnya langsung menutup mulutnya. Seisi kantin langsung hening, lalu terbahak setelah beberapa detik. Luka yang ada di hadapannya juga ikut tertawa kecil.
"Gue akui, elo lucu. Tapi elo bukan tipe gue. Gue suka cowok yang tinggi,"
Len sadar dia gak tinggi.
"Pinter,"
Iya, iya. Len emang gak pernah jauh dari peringkat akhir seangkatan
"Tajir,"
Fine, Len emang belum mampu lebih kendaraan sendiri. Lagian dia belum cukup umur
"Dan gak makan kulit manggis."
Jleb.
Len merasakan ada sesuatu yang menusuk di bagian dadanya. Tangannya ia gerakkan ke arah dada dan mencengkeram baju seragamnya sendiri.
"Gue tau. Sakitnya tuh, di sini," ucap Luka sambil menyentuh dadanya sendiri. "Tapi gue yakin elo bisa dapetin cewek yang lebih pantes buat elo dibandingkan gue," ujarnya lagi, disertai senyuman.
Luka pun berbalik dan meninggalkan Len. Begitu pula dengan para manusia yang mengerumuni mereka tadi berhubung bel masuk baru saja berbunyi. Namun Len tak beranjak dari tempatnya. Ia menghela napas lelah, kemudian memejamkan mata. 'Ah, gue ditolak lagi,' batin Len, pedih.
.
.
Billa: Hola minna! Kembali lagi bersama saya Bill- *disekap*
Kyoura: Ciaossu~ abaikan saja orang aneh itu. Selamat siang, semuaa! Kyoura Kagamine di sini, membawakan cerita collab bersama...
Billa + Kyoura: Billa Neko! *applause*
Billa: Tadinya kita udah ada rencana buat upload disalah satu akun aja... Eh, akhirnya kita memutuskan untuk buat akun baru dan dinyatakan sah! Untuk menjadi partner satu sama lain~
Kyoura: Ini cerita pertama sih... Kami berharap semuanya suka! Saya yang bacakan disclaimer ya!
.
By: Billa Neko & Kyoura Kagamine
Disclaimer: Vocaloids are not Kyoura Kagamine's nor Billa Neko's. Vocaloids belongs to YAMAHA CORPORATION
Warnings: ghost!Rin, highschool!AU, pake bahasa gahoel, hati-hati keselek kulit manggis. Fanfic ini dibuat untuk hiburan semata, bukan untuk mencari keuntungan komersil.
.
Chapter 1 : Hantu Pohon Manggis
.
Billa: Maaf, ceritanya sempat terpotong karena percakapan ga jelas ini *bungkuk dalam-dalam*
Kyoura: Pokoknya... enjoy!
.
.
"Kenapa sih nasib gue apes mulu. Padahal, apa yang kurang dari gue? Muka gue kece, meskipun gue gak tajir, gak pinter, gak tinggi…" ia menghentikan celotehnya lalu menghitung sesuatu dengan jari-jarinya. "Bujuk! Ternyata kurangnya gue banyak! Pantesan gue ditolak mulu!" ucapnya lagi sambil menelusuri lorong sekolah.
"Ah, gue males masuk kelas. Mending ke halaman sekolah aja deh. Tidur di bawah pohon sakura." Len lalu berlari menuju halaman belakang.
"Eh! Tapi 'kan di sini gak ada pohon sakura. Ini 'kan di Indonesia," Len menghentikan langkahnya. "Tidur di bawah pohon manggis kayaknya asik."
"Kali aja kalau tidur di bawah pohon manggis gue bisa dapet berkah, karena ekstrak kulit manggisnya banyak—tunggu dulu. Kenapa jadi ngomongin kulit manggis? Ah, bodolah. Intinya gue kesana mau tiduran!" Len berlari lagi untuk melanjutkan perjalanannya.
Tak perlu waktu lama bagi Len untuk sampai di halaman belakang sekolah berhubung tempatnya agak dekat dekat dengan kantin. Sesampainya di sana, kedua mata Len dimanjakan dengan hamparan pohon manggis yang ditanam rapi.
'Taman Manggis'.
Begitulah para makhluk berlabel siswa menyebutnya.
"Um… cap, cip, cup, mana yang beruntung, untungnya gue ganteng," telunjuk Len berhenti di salah satu pohon manggis—dekat bukit. Oh ya, untuk memperjelas, sekolah Len terletak di lereng gunung. Jadi, tempatnya kayak ada bukit-bukitnya gitu.
Len pun melangkahkan kedua kakinya, mendekati pohon manggis itu, kemudian merebahkan diri di sana. Ah, damai sekali di sini. Tenang, damai. Cocok buat tidur siang.
"Nah, gini nih nyaman…" ucap Len sambil menyilangkan tangan di belakang kepala.
Sepertinya Len sudah melupakan pernyataan cintanya tadi pada Luka. Buktinya, sekarang dia tenang-tenang saja, tanpa ada tanda-tanda mau bunuh diri karena depresi. Siapa tahu dia datang ke pohon manggis untuk gantung diri?
Kedua matanya terpejam, tenang. Bersiap tenggelam ke alam mimpi dalam bayang-bayang pohon manggis.
"Kulit manggis, kini ada ekstraknya," terdengar sebuah suara yang amat asing di telinga Len.
"Mastin hadir, dan merawat tubuh kita," sambung Len, ikut bernyanyi. Tak menaruh curiga pada apapun.
"Lalalalaa," suara itu terus bernyanyi.
"Uh-um. Yap! Bener tuh—eh, kok 'lalalala'?" Len mulai kebingungan. "EH?! WAT DE PAK?! Apaan, siapa, dan di mana elo?!" seru Len, mulai panik hingga bangkit dari tidurnya.
Mungkin perlu dimaklumi karena sebenarnya, Len kurang percaya akan makhluk yang orang-orang sebut sebagai hantu. Dia sendiri juga belum pernah mendengar atau melihat rupa hantu itu seperti apa.
Dulu, teman-temannya pernah bilang, 'Kalau ada yang nyautin kamu tapi gak ada orangnya, berarti dia hantu!'
Dan sekarang, terdengar ada yang bernyanyi—atau apalah itu, tapi tidak ada sosok penyanyinya—tidak ada orangnya.
"Eeh? Kamu bisa denger suaraku?" suara itu terdengar lagi. Len bangkit dari posisi rebahannya, hendak memasang pose bertarung yang ia lihat di anime.
"Aw!"
Namun nampaknya itu percuma karena begitu bangkit, kepalanya terantuk sesuatu.
"ELO NGAPAIN GELANTUNGAN DI POHON MANGGIS?!"
"Umm… ngapain, ya? Gak ngapa-ngapain, sih. Abis enak aja gitu gelantungan," ucap sesosok makhluk yang tengah bergelantungan—posisi kepalanya di bawah dan kedua kakinya bertumpu pada dahan pohon manggis.
"Udah kayak monyet aja," komentar Len, pelan—nyaris tak terdengar.
"Hah?! Elo bilang gue apa? Kayak monyet?!" protes makhluk tersebut sambil menerjang Len, melompat dari dahan tempatnya gelantungan tadi.
"Cantik gini elo bilang kayak monyet?!" jeritnya sambil mencekik Len, membuatnya sesak napas.
"Oke! Fine! Elo cantik! Puas?!" seru Len, susah payah. Berbicara ketika dicekik itu sulit rupanya.
"Oke," balas makhluk itu sambil tersenyum, lalu melepas cekikannya dari leher Len. Len langsung menyentuh lehernya dan mengusapnya pelan. "Gue Rin. Salam kenal," ucap makhluk tersebut yang ternyata bernama Rin.
"Gue Len." Len menjawab seperlunya. Masih meratapi nasib lehernya yang sakit karena dicekik tadi.
"Ngomong-ngomong, ngapain elo di sini?" Rin bertanya.
"Lah? Harusnya itu pertanyaan gue! Ngapain elo gelantungan di pohon kayak gitu?" tanya Len balik sambil bangkit duduk, lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana. "Mana elo pake gaun, lagi. Emangnya elo apaan? Hantu?" Len memulai interogasinya. Dalam hati menertawakan dirinya sendiri karena menanyakan hal yang tidak masuk akal karena hantu itu tidak ada!
"Gue emang hantu, kok. Gue udah mati taun kemaren."
"Oh," ucap Len, santai.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"HAH?! UDAH MATI? DARI TAUN KEMAREN?!" teriak Len setelah beberapa detik berlalu, Rin langsung menutup telinganya.
"HANTU ITU GAK ADA! HANTU ITU GAK ADA! HANTU ITU—"
"ELO BERISIK BANGET, SIH?! BISA BUDEK NIH KUPING GUE!" balas Rin yang suaranya tak kalah kencang dari Len. Sekarang berganti Len yang menutup telinganya.
"Buktinya, elo liat gue 'kan? Udah deh, ubah tuh prinsip elo jadi 'hantu itu ada'!" bentak Rin, mulai kesal dengan Len.
"Hantu. Itu. Gak. Ada. Ini pasti halusinasi. Gue cuma kurang tidur, gue cuma stress gara-gara tadi ditolak Kak Luka, gue cuma kurang tidur—" Len terus mengucap kalimat tersebut. Bagaikan membaca mantra, Len mengucapkannya berulang-ulang. Rin hanya menghela napas lelah.
"Terus… apa yang bisa bikin elo percaya kalo gue ini hantu? Biasanya hantu ngapain aja? Biar orang yang liat mereka ketakutan dan langsung percaya gitu..." gumam Rin. Dagunya bertumpu pada jemari tangannya yang dilipat.
"Biasanya sih mereka bisa ngilang gitu. Terus mukanya serem banget, berdarah-darah. Gak kayak elo yang lumayan bersih. Terus biasanya mereka gelantungannya di pohon beringin! Bukan di pohon manggis!"
"Oh? Berdarah-darah, ya? Hm, sayangnya gue gak mati setragis itu. Yaudah deh, muka seremnya aja kali, ya?" gumam Rin sambil berbalik membelakangi Len. Len hanya mendengus pelan.
"Hihihi…" Rin tertawa pelan, nadanya yang monoton ala kuntilanak berhasil membuat Len merinding saat itu juga.
"E-eh! Elo gak bener-bener bikin muka elo jadi sere—" Len kehilangan kata-kata. Wajahnya kini pucat seakan tak memiliki cairan yang biasa disebut darah ketika ia melihat Rin yang kini ada di hadapannya dengan mulut lebar seperti Kuuchisake-onna, berhawa dingin bagai Yuki-onna, bahkan rambut pirang madu yang tadinya rapi sekarang jadi kusut bak jadi kembarannya Sadako dan Hanako.
"Aw!" pekik Len, mengaduh kesakitan karena kepalanya terbentur batang pohon manggis.
"Nah, sekarang elo percaya 'kan, kalo gue itu hantu?" ucap Rin, memastikan. "Ato masih belum bercaya? Apa perlu gue sayat-sayat badan gue, terus gue keluarin organ-organ pencernaan gue, pamerin usus yang terburai, terus—"
"UDAH! STOP! KOKORO INI GAK KUAT!" seru Len, menghentikan ucapan Rin yang menjurus ke hal-hal menjijikkan yang biasanya ada di fanfic-fanfic gore.
"Udah, ya! Udah! Gue udah muak dengernya! Elo gak mau 'kan, liat gue muntah-muntah sampe usus gue terburai di sini?" bentak Len. Dibalas gelengan dari Rin. "Ng… gak. Makasih."
"Bagus. Jadi? Ada perlu apa makhluk gak idup macem elo keluar siang-siang begini? Biasanya 'kan hantu keluarnya malem-malem gitu! Elo ganggu acara bokep gue tau gak!" cerocos Len, gak nyantai.
"Hah?! Bokep?!"
"Iya bokep." Len membalas santai. Tangan Rin sudah siap di udara untuk menghajarnya. Melihat itu, Len buru-buru menambahkan. "Bobo cakep maksudnya! Ah, otak elo ngeres sih isinya! Jadi mikirinnya yang anu-anu mulu!"
Dua detik berikutnya, luka memar kebiruan sudah menghiasi pipi Len, menodai wajah Len yang—katanya—kece.
"Wanjer! Gue heran, elo hantu, tapi kok bisa gampar gue, sih?!" Len berteriak. "Aduduh, pipi gue, muka ganteng gue…" ratapnya sambil mengelus pipinya yang kini bengkak, hasil karya makhluk tidak hidup di hadapannya.
"Gue hebat, 'kaaan?" Rin memuji diri sambil pasang tampang keren. "Eh, iya. Tadi elo nanya kenapa gue bisa ada di sini, 'kan?" Rin bertanya, dibalas anggukan dari Len. "Gue bisa ada di sini, karena suatu kejadian."
"Kejadian apa?"
"Tahun kemaren, gue jadi korban bully senior yang ngotot banget pengen gue comblangin sama cowok idaman mereka. Tapi gue nolak. Gue gak mau ladenin mereka. Terus gue diiket di sini sama mereka. Gue dipaksa minum kalium sianida yang mereka colong dari lab. IPA. Akhirnya gue mati. Di pohon manggis ini.
"Tapi gue belom bisa tenang soalnya masih ada janji yang belom gue laksanain" jelas Rin panjang dan lebar.
"Waw. Tragis amat. Oh! Jangan-jangan… elo tuh hantu dari cerita murid-murid di sini, ya? Gue masih inget tuh waktu MOS, diceritain sama OSIS yang ngurus kelas gue. Banyak juga yang ngomong kejadian itu. Terus katanya, kakak kelas yang nge-bully elo itu langsung drop out dari sekolah. Sebelumnya sih dibiarin aja sama anak-anak sekolah. Sama guru juga didiemin gitu," jelas Len, Rin hanya manggut-manggut.
"Kalo boleh tau… janji apa? Terus… sama siapa?" tanya Len, hati-hati. Agak takut Rin tersinggung, terus Rin mengikatnya di pohon manggis, lalu memaksanya meminum kalium sianida.
"Semasa hidup, gue ini mak comblang terbaik yang pernah ada. Semua yang gue comblangin, pasti jadian. Gue ada janji sama beberapa klien yang udah gue setujuin buat gue comblangin, sayangnya gue udah mati duluan sebelum bisa bantu mereka. Dan karena gak ada yang bisa liat gue, gimana gue bisa nyomblangin mereka?" ujar Rin, lirih.
Kedua manik samuderanya menatap Len penuh harap. Len menaikkan sebelah alisnya. "Ya terus?"
"Gue mau elo bantu gue," kata Rin sambil menepuk pelan pundak Len.
"WHAT?! Oh my to the god oh my no oh my waw!" ucap Len. "E-eh! Gue gak punya keahlian kayak begitu! Gue nembak orang aja ditolak mulu! Gimana bisa bantu comblangin orang?" Len protes.
"Kalo elo gak mau bantuin gue sih ya gak apa-apa. Paling-paling gue bakalan terus menghantui elo sampe elo mati. Gue bakalan gentayangan di hidup elo, dan bawa temen-temen sesama hantu gue ke rumah elo tiap malem Jumat," seringai keji muncul di bibir Rin.
Len merinding seketika. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. Len meneguk ludah berkali-kali, lalu mengambil napas panjang untuk menenangkan diri. "O-oke. Fine. Tapi yang pertama, mak comblang yang kayak gimana? Harus ngapain aja?" tanya Len.
"Ehem!" Rin pura-pura batuk. "Jadi mak comblang itu kayak sales. Mak comblang itu harus jago ngomong, dan bisa manipulasi pikiran orang tanpa hipnotis."
"Eh? Tapi gue gak jago ngomong! Debat aja gue kalah terus! Dan lagi… tanpa hipnotis? Gimana gue bisa manipulasi pikiran mereka? Gimana gue ngomongnya? Gue 'kan orangnya jarang bersosialisasi. Yaa gaulnya sih introvert gitu lah. Meskipun gue keren," protes Len, diakhiri dengan pamer.
Rin mendengus geli. "Nah, elo udah dapet nilai plus sendiri, elo kece—elo keren. Supaya elo bisa jago ngomong, elo harus pede. Supaya elo bisa pede, elo harus punya sesuatu yang lebih, yang bisa elo banggain."
"Apa yang mau dibanggain dari seorang gue—Kagamine Len? Meskipun gue kece, tapi gue itu… bego, gak tajir, terus pendek juga," keluh Len. Rasa percaya dirinya semakin ciut, terutama ketika ia menyebutkan kekurangannya—yang tadi dijabarkan oleh Kak Luka ketika menolaknya.
Tiba-tiba Len merasakan ada yang menepuk puncak kepalanya. "Tenang aja. Berhubung semasa hidup gue ini pinter dan sering jadi juara umum, gue bakalan bantu elo belajar!" hibur Rin. Senyum menenangkan terbentuk di bibirnya.
"Serius?" tanya Len, tidak percaya.
Anggukan dari Rin sudah cukup untuk membuat kedua manik Len berbinar cerah. Akhirnya dia punya kesempatan untuk jadi juara umum! Semoga saja makhluk bernama Rin ini sungguh-sungguh bisa membantunya dalam belajar.
"Oke. Gue bantu elo," ucap Len sambil tersenyum—yang entah bagaimana caranya membuat perasaan Rin menjadi hangat.
"Oke! Makasih. Tapi… bukannya hari ini elo masih ada pelajaran, ya? Elo mau di sini sampe anak-anak pulang?" tanya Rin, sukses menyuramkan wajah Len.
"OH IYA! GUE LUPA!" dalam kecepatan maksimum yang hampir setara kecepatan mobil F1, Len melesat ke kelasnya. Rin yang melihatnya hanya tersenyum dan tertawa kecil.
Len berlari menuju kelasnya secepat yang ia bisa. Mengabaikan tatapan heran dari para guru yang kebetulan berpapasan dengannya.
Brak!
Pintu kelas dibuka kasar olehnya. Seluruh mata penghuni kelas itu tertuju padanya.
"Kenapa kamu telat? Istirahat sudah selesai satu jam yang lalu!" tegur guru yang ada di ruang kelasnya.
Sial! Len lupa kalau sekarang dia ada ulangan!
"Umm… anu, itu… Pak, Ah! Tadi saya 'kan abis dari kantin, terus ke halaman sekolah, Pak! Nah, saya denger ada yang nyanyiin lagu kulit manggis, karena kebetulan di halaman sekolah isinya pohon manggis semua! Terus, um… kayaknya saya sempet pingsan gara-gara dihipnotis pake lagu kulit manggis, eh taunya cuma denger nyanyiannya aja udah bikin seger, Pak! Beneran langsung seger tanpa harus beli ekstraknya!" penjelasan absurd Len berhasil membuat seluruh teman-teman sekelasnya terdiam, speechless.
Pak Al—guru di kelasnya Len—mengernyitkan alis, bingung dengan ungkapan absurd muridnya yang satu ini. "Kayaknya kamu keracunan kulit manggis, Nak. Sana ke UKS. Soal ulangan, nanti aja di pertemuan berikutnya," ucap Pak Al. Kedua tangannya bergerak-gerak—pose mengusir.
"Ya elah, Bapak! Saya 'kan pengen ikut ulangan! Saya gak mau ulangan sendiri, Pak! Gak kenak. Gak bisa nyontek. Saya jujur, loh!" Len berkata. Tatapannya memelas, di akhir perkataannya berubah jadi tatapan yang meyakinkan—disertai dua jari yang teracung.
Tatapan mematikan Pak Al arahkan pada Len. "Alah, percuma! Nanti
juga kamu ikut remedial. Buang-buang kertas. Udah sana! Syuh! Syuh!"
"Ish! Bapak gak ngerti banget, sih. Huh! Ya udah, deh," akhirnya Len berbalik, menutup pintu ruang kelasnya lalu berjalan gontai menuju UKS.
"Sial banget, sih! Kalo gini caranya gimana gue bisa jadi juara?" tanya Len pada dirinya sendiri. "Ya bisa, lah! Elo diusir dari kelas waktu anak-anak lain lagi ulangan, itu artinya Pak Al ngasih elo kesempatan buat belajar lagi!" sebuah suara terdengar tepat di belakang Len.
"Wanjer!" Len yang terkejut langsung berbalik dan terjatuh. Ternyata Rin mengikutinya sampai kelas!
Len segera bangkit untuk melanjutkan perjalanannya. "Haah, tapi percuma aja gue belajar. Lagian gak pernah masuk ke otak. Gak compatible sama otak gue," keluh Len setelah sampai di depan pintu UKS.
Diketuknya pelan pintu ruang kesehatan tersebut.
"Permisi…"
Tak ada jawaban. Mungkin dokter di UKS sedang keluar, makan di kantin, atau mojok sama pacarnya. Akhirnya, Len mencoba masuk. Ternyata pintunya tidak dikunci. Tak ada siapapun selain dirinya—dan hantu bernama Rin—di ruang UKS. Len memilih kasur di dekat jendela untuk berbaring.
"Kalo elo gak mau belajar, mana bisa elo jadi pinter? Dan kalo elo gak pinter, mana bisa elo ngedapetin hati senior yang elo suka itu? Terus lagi, kalo elo gak pinter, elo gak mungkin juara. Kalo elo gak juara, elo gak punya hal yang bisa dibanggain. Kalo elo gak punya hal yang bisa dibanggain, elo gak mungkin bisa pede. Dan kalo elo gak pede, elo gak bakalan bisa jago ngomong, gak mungkin jadi mak comblang—ato mungkin pak comblang buat elo—. Kalo elo gak jadi mak comblang, gue bakalan bisa tenang dan bakalan menghantui elo sampe mati, termasuk ngundang temen-temen hantu gue tiap malem Jumat."
"Hn! Iya, iya! Cerewet banget, sih," keluh Len sambil menghela napas. "Ngomong-ngomong, siapa aja klien elo yang bakalan gue comblangin?" tanya Len. Pandangannya mengarah ke langit-langit ruang UKS—tempat Rin berada sekarang.
"Semuanya senior. Klien yang pertama…"
.
.
Chapter 2 on!
.
.
Kyoura: Yup! Sampai sini dulu chapter 1! Oh, iya. Sop iler dikit, di fanfic ini bakalan ada banyakbanyakbanyak pair. Boleh request, looh. Siapa tau pair kesukaan kalian bakalan dicomblangin sama Rin-Len biar jadiaan
Billa: Biar ceritanya lanjut, mohon reviewnya minna!
Kyoura + Billa: Mind to Review? .w.
