Time Loop

.

.

.

Aku memberi sinyal dengan senyuman.

Aku merasa bau bunga ini menyumbat pernafasanku.

"Apa kau melihatnya?"

Ku tatap dengan mata yang mengerikan.

Keluarlah dari pikiranku!

"Sekarang waktunya, kembalikan!"

Sesuatu terpikirkan dari dalam pikiranku.

Dunia yang dulunya indah, sekarang menjadi kejam.

Ada sesuatu yang aku benci.

Mereka membuat "sistem" kekejaman mereka yang tidak masuk akal.

Kalau aku ini memang benar, maka masa depan

Memang benar benar tidak ada…

Laki laki dan perempuan, semuanya ayo maju!

Mencari harapan di sejuknya musim ini.

"Kembalikan!"

"Kembalikan!"

Sekarang, tulis kodenya mulai dari angka 0.

Memimpin dunia di luar imajinasi.

Untuk fantasi yang berlebihan.

"Silahkan" kau menjulurkan lidahmu berpura pura tidak mengetahui apa apa dari matamu.

"Hei sekarang giliranku!"

Malam menjadi gelap.

Kesulitan itu hal yang keren, bukan?

Belum bisa tidur? Belum.

Ayo cepat, cepat!

Kami bertemu dengan tatapan kami sendiri.

Dan di saat suara ketukan bergema dengan sentuhan.

Bukankah sudah terlalu terlambat untuk memikirkan hal itu?

Ayo ikut dengan ku saja!

Dan di saat itu alurnya berputar dengan beraturan.

Kau akan melihatnya, ini bukan lelucon.

Di antara kesenjangan dari berakhirnya pemandangan ini.

Jadi apa yang kau pikirkan dari musim ini?

Dan harga diri kami itu yang akan bertemu?

"Ini tidak terlalu buruk, 'kan?"

Di saat kami membuka mata kami, dan menggenggam tangan satu sama lain

Dengan begitu kita, bisa melawannya dengan kata kata.

Dengan cara seperti itu, kita bisa maju ke depan walaupun hanya sedikit.

Keajaiban dari perpisahanmu.

"Kau tahu, tentang dunia yang liar ini. Aku mentertawakannya karena memang sudah menjadi kejam"

"Pegang tanganku!"

"Pegang tanganku!"

Ayo buat ini berakhir. Rencana terbaik dari aksi telah membuka mata kalian

Dari hari hari yang mimpi berlebihan

.

.

.

.

.

Kalian tahu? Hidup di jalan itu bisa menyenangkan dan bisa tidak. Menyenangkan karena kita tidak di atur oleh siapapun, dan tidak karena kita sulit mendapatkan apa yang kita mau. Dunia sudah berperilaku kejam terhadapku. Dan aku benci itu. Semua orang yang berhadapan denganku menggunakan topeng. Topeng itu sangat indah, sampai sampai aku terbuai oleh topeng itu. Percaya?

Topeng yang dikenakan oleh kedua orang tuaku indah sekali. Sampai sampai topeng itu hancur. Aku benci mengatakan ini, aku dibuang oleh kedua orang tuaku karena topeng mereka yang hancur. Saat itu umurku baru 10 tahun, tetapi aku mengerti semuanya. Topeng itu adalah perilakunya.

Tinggal kan masa masa itu!

Aku sudah merasa nyaman hidup di jalan. Setidaknya aku masih hidup. Tiap malam aku selalu berkeliling. Maret, ini sudah memasuki awalnya musim semi. Jujur, aku benci musim ini. Kekebalan tubuhku sangat lemah di musim ini. Tapi anehnya aku dilahirkan di musim ini, huh bodoh bukan?

Aku benci bunga musim semi. Serbuk itu menganggu pernafasanku. Maka dari itu aku lebih suka jalan di malam hari, tentu saja untuk menghindari serbuk serbuk menjijikan itu.

Tuhan sudah membuatkanku skenario. Skenario yang sangat buruk, pada awalnya. Ini semua karena mataku. Aku tidak mengatakan kalau aku benci dengan mataku yang berwarna merah menyala ini. Aku hanya benci karena aku dianggap monster oleh orang orang yang melihat mataku. Bahkan orang tuaku mengaggap kalau aku ini anak monster dan mereka langsung membuangku.

Hey, zaman apa sekarang? Masih ada kah monster di zaman ini? Bodoh sekali.

Aku tidak peduli dengan mata ini dan tatapan orang orang diluar sana. Mata ini membantuku hidup. Dan skenario yang diberikan tuhan membantuku untuk hidup juga.

Di saat pertama kali menjalani hidup sendirian aku sangat lelah. Sampai akhirnya aku menemukan orang yang sama sepertiku, hanya saja dia tidak di buang, bahkan dia sangat di sayangi oleh kedua orangtuanya meski bukan orang tua kandung.

Saat pertama kali bertemu dengannya dia menatapku, mata merah menyala kami pun bertemu. Saat itu aku merasa dunia kembali berputar. Kembali berputar untuk mempermainkan waktu. Aku tidak mengerti tentang ini tapi seseorang telah mempermainkannya.

Kembali ke awal, orang yang kukatakan sebelumnya mengajakku untuk tinggal bersama. Aku menolak dengan alasan aku tidak mau memperburuk keadaan ekonomi keluarga itu, atau bisa dikatakan dengan adanya aku di keluarga itu, orang orang yang mencari nafkah harus membagi lagi sebagian hartanya kepadaku. Dan aku tidak mau hal itu terjadi.

Jadi kuputuskan untuk tetap berhubungan dengan orang itu tapi tidak tinggal bersamanya. Aku tetap memilih hidup di jalanan.

Itulah aku Luhan, namja yang dianggap monster oleh orang orang lalu dibuang. Aku benci musim semi tetapi aku lahir di musim ini. Dan aku akan berhutang budi kepada 'nya' karena dia membantuku untuk hidup lebih baik sampai saat ini meski aku tetap hidup dijalan. Sebut saja dia Sehun. Namja yang memiliki warna mata yang sama denganku.

To Be Continued

Tolong di review ya ^^ terimakasih~