Yugi atau Yami
Halo ve~ Aku anak baru yang sudah lama suka Yu Gi Oh tapi baru kesampaian sekarang bikinnya. Cerita ini akan mengambil alur manganya bukan animenya! Tentunya ada beberapa perubahan dan kejutan lainnya~ xD Oh ya si Yugi mungkin akan sedikit OOC di chapter-chapter ke depan! Di sini Atem adalah kembaran Yugi yang sudah lama tidak bertemu. Apa mereka bisa melalui segala rintangan yang mungkin akan mereka lalui? You may enjoy~
Yu gi oh milik Takahasi Kazuki
Cerita "Yugi atau Yami" milik Al Landers
Warning: OOC! Yugi
Chapter 1 Yugi Arrival
/KRIIIIIIIIING/
Matahari dengan malas memulai pekerjaannya ke atas langit, awan-awan asik berlari-lari bak anak kecil di angkasa, burung-burung terbang mencari makan pagi. Namun di dalam sebuah Game Shop cukup ternama di Domino, sang pelaku tiga warna ini masih nyenyak tertidur mencari-cari jam weker-nya untuk dimatikan. Bola mata indigo itu tak sanggup menahan terik matahari pagi yang masuk melewati jendela. Badan kecilnya masih ingin diselimuti oleh hangatnya selimut dan daster yang ia pakai semalam sudah berpindah ke lain tempat karena panasnya malam.
/KRIIIIIIIING/
... Ia melihat jam weker itu sekali lagi sebelum menutup mata. Di dalam kepalanya, ia mencari alasan yang tepat sehingga ia dapat mengistirahatkan kepalanya di atas bantal bulu angsa miliknya yang empuk itu.
/KRIIIIIIIING/
Kedua kalinya ia menatap jam kesayangannya yang masih utuh itu. Kembali ia tutup matanya karena waktunya untuk berangkat masih terpaut cukup lama.
/KRIIIIIIING/
Sudah keempat kalinya ia terbangun karena alarm yang tak henti menjerit untuk membangunkannya. Kali ini ia membuka mata dan menatap jam itu. Dibutuhkan baginya mengolah data yang ia dapat dalam beberapa menit sampai muncul satu kesimpulan kalau ia terlambat.
...
"THE HELL! GUA TELAT! NAPA SIH GAK ADA YANG BANGUNIN! GAK LEVEL AMAT GUA TELAT HARI PERTAMA!" Kata-kata kutukan dan cerca keluar tiada henti dari mulutnya.
"Makanya malam-malam jangan keluyuran main game Yug." Suugoroku terlihat menyeduh air untuk kopi, sedangkan mamanya hanya bisa cekikikan melihat anaknya terlambat.
"Si Mai ngajak main sih... . Pake umpan 'Kalau kamu enggak mau rahasianya bocor'."
"Bukannya karena Yugi gak bisa menolak ajakan wanita?" Mama yang sedang menyapu rumah belum berhenti cekikikan atas penderitaan anaknya sendiri.
"Bukan kok... ." Suaranya mengecil di akhir kalimat seolah tidak menerima kenyataan. "IYA! IYA!"
"Ya sudah sana kamu berangkat Yug. Nanti malah makin telat." Suugoroku tertawa.
Yuugi yang sedang menyesap kopi hitamnya hanya bisa tersenyum pahit. "Aku kan punya alasan masih anak baru... ."
"Oh ya Yug, Mama dapet salam dari Papa, kau ingatkan pas dulu ketemu di Tokyo Tower? Katanya si Atem, sekolah di tempatmu loh!" Mamanya tersenyum.
Yugi hanya bisa terdiam. Siapa Atem? Kenapa aku tidak ingat seperti apa wajahnya, matanya, warna kulitnya, atau hal-hal yang pernah ia lalui bersamanya. Apa ia amnesia ringan sampai-sampai ia melupakan kakak kembaran yang tak pernah ia temui? Atau ... .
Tidak-tidak, kenapa ia harus berpikir sekarang. Target utamanya sekarang adalah pergi ke sekolah secepat mungkin, paling tidak hanya terlambat beberapa menit dari ketentuan masuk. Maka mulailah ia berlari ke sekolah barunya. Memang rumahnya tidak begitu jauh, tetapi kalau berjalan malas-malasan dan di waktu yang tidak tepat sama saja terlambat.
o-o-o
Hari ini adalah hari terindah sepanjang masa bagi Atem. Bagaimana tidak, sebentar lagi ia akan bertemu dengan adik kembar yang berwajah imut bernama Yugi. Ingatannya ketika mereka masih kecil terekam sangat jelas di dalam memori berkapasitas 100 giga itu. Ia pun sangat bersemangat sampai-sampai ingin berlari menuju kelas dan membeberkan semua yang ingin ia katakan. Hal ini membuat setiap siswa hanya berani berdiri di pinggir menatap curiga.
Walau sudah banyak yang melihatnya ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Ah, sekarang Yugi seperti apa ya? Masihkah ia pendek atau sudah tinggi? Apa matanya masih gede seperti shoujo manga atau tidak? Apa dia masih pendiam dan pemalu atau tidak? Benar-benar menyenangkan baginya untuk dipikirkan.
Maka di saat ia masuk di kelas, ia segera menghampiri teman-temannya semasa SMP. Dengan wajah sumringah yang jarang diperlihatkan Atem, semua teman-temannya hanya bisa terpaku terdiam.
"Yo Tem, tumben Elo senyum-senyum sendiri kayak Dia di sebelah Gue." Si Tea tetap asik menatap kuku kebanggaan miliknya yang selalu dirawat dengan baik. Matanya melirik pada Joey yang wajahnya amat sumringah pula.
"GUE ADA KABAR BAGUS!"
"GUE JUGA!"
"KAMU DULUAN YANG NGOMONG!"
"KAMU AJA!"
"KAMU!"
"ELO!"
"ELO B*****T!"
"ELO B*****Y H***L!"
"UDAAAAAH!Paling kalo Elo Joey, pasti tentang para berandal yang mau masuk ke sini kan? Emang mereka cukup pintar?" Tea melempar rambutnya sambil menatap tajam pada Joey. Ia percaya setiap preman itu bodoh. Tentu saja, mengapa mereka memilih berantem dibanding belajar untuk masa depan mereka yang lebih cerah.
"ELO AJA NGGAK PERNAH MAU TAHU B***H!" Joey terkekeh namun hilang begitu Tea memukul kepalanya.
Sesudahnya Tea yang tidak suka pun cuma berbalik badan tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan Joey. Menurutnya kalau mereka pintar kenapa mereka mau buang-buang nyawa! Apalagi sudah diajarkan kalau nyawa manusia itu amat penting dan tidak boleh dibuang-buang. Mana ada preman kalau semua orang pintar-pintar. Mereka akan sibuk mencari pekerjaan yang setara untuk mereka bukan menghancurkan mereka.
"Jadi apa berita bagus Lo Tem," Tristan tidak mengindahkan pertarungan tatap antara Tea dan Joey. Ia membuka ketegangan yang diciptakan sehingga mereka ingat apa kabar bagus dari Atem.
"Adik kembar Gue bakal masuk kelas ini! Nama keluarganya beda karena orang tua kami sudah cerai secara hukum. Namanya Yugi Mutou."
"Mutou... , kayaknya Gue pernah denger nama itu deh!" Joey berusaha berpikir keras. "Dia adalah kabar bagus punya Gue!"
"Kalo punya Lo emang siapa Joey?" Tea melipat tangannya.
"Namanya Yami Mutou, badan dan wajahnya mirip Lo Atem, tapi kulitnya putih pucat kayak orang bule. Menurut gosip, dia sudah diterima masuk SMA ini sejak dia naik kelas 9, tapi dia gak mau dan memilih tetap di Tokyo! Otaknya yang encer dan wajahnya yang tampan juga menjadi ciri khasnya. Sayangnya gak ada yang tahu di mana dia tinggal!" Joey menghela napasnya.
"Trus Elo gay ya? Sampai-sampai suka ama tuh Yami? Gak sekalian aja kamarlo, Elo hiasin pake wajahnya?"
"Si Yami itu! Apa bagusnya sih DIA!" Salah satu blasteran Jepang-Amerika mendatangi mereka, matanya dibingkai kacamata. Di bandingkan anak-anak kelas lainnya, ia termasuk anak terpendek dan paling menyeramkan. Sehingga di mana saja orang-orang tahu namanya, Rebecca. "Kau tahu, Dia itu pemimpinnya preman-preman dan suka banget menggoda wanita!"
Joey yang gusar langsung menyerang Rebecca. "Emangnya Lo pernah lihat Dia apa?"
"Pernah! Dia yang membuat trauma kakak laki-lakiku sampai bunuh diri!" Rebecca mencaci-maki. "Apa itu kurang jelas?"
"Hahaha, paling itu suruhan anak buah yang iri karena kakakmu lebih dekat dengan pemimpin."
"Jadi Atem, Elo tuh kembar dua apa kembar tiga?" Tristan menengahi.
"Gue cuma kembar dua bukan kembar tiga."
"SERIUS LO TEM!"
"Dua ribu rius!"
"Ya sudah. Kita lihat saja siapa yang masuk. Yugi adik dari Atem atau Yami idola Joey dari SMP." Tristan membolak-balik buku yang ia baca.
"Ya sudah! Ayo ganti topik!" Joey berbalik badan menghadap semua teman-temannya. " Lo tau gak tadi malam si Yami muncul lagi di TV! Dia melawan si juara bertahan Game Duel Monster yang nggak pernah kalah, Seto Kaiba sampai malam itu berakhir!"
"Bukannya Dia yang dewa-dewa kartunya punya dia semua?"
Tristan yakin kalau si Seto ini sudah bayar mahal buat setiap kartu dewa yang ia pegang. Bahkan dia berani mencuri kartu-kartu bagus milik duelist lain yang ia kalahkan tanpa negosiasi. Kalau kamu kalah semua kartumu jadi miliknya. Bahkan sudah berdiri banyak haters club hanya untuk dirinya yang malam itu bersorak ria melihat wajahnya ketika ia dihancurkan dengan mudah.
"Nyatanya dia kalah!"
"Iya sih... ."
"Pokoknya kalo Dia ada di kelas ini, Gue bisa meleleh nih!" Si Joey senyum-senyum.
"Kalo bukan, Elo cuma bisa gigit-gigit jari?" Tea duduk di bangkunya sambil mengejek Joey.
"Siapa yang meleleh Joey? Segera kalian duduk di bangku kalian masing-masing!" Guru mereka tak salah tapi tak bukan Bu Chouno.
"Katanya yang masuk kelas ini namanya Yami loh." Kata salah satu murid dari belakang.
"Tapi aku lihat tadi Orangnya imut kok. Wajahnya polos dan kelihatan baik." Kata salah satu gadis yang menyukai pria berwajah imut, Rebecca. Dia adalah salah satu murid pindahan luar yang sangat benci dengan eksistensi Yami Mutou. "Gak mungkin si Yami."
"Tapi bukannya si Yami Mutou?" Salah seorang berbicara lagi
"Bukan, bukan tapi menurut desas-desus Dia sekolah di tempat yang sama dengan Yami." Seorang murid pria menyahut.
"Paling salah satu korban yang kabur kalau bukan Yami." Anak pria lain menyahut, membuat wajah Atem panas.
"Sudah-sudah kalian diam! Atau siapa saja yang berisik Saya DO satu-satu!" Bu Chouno menyeringai menatap tajam anak-anak ajarnya. "Karena Saya sudah kenal Kalian semua, cukup Kamu saja yang perkenalkan diri Yugi. Telat lagi saya DO beneran!"
'Mampus gue.' "Saya Yugi Mutou, pindahan SMA Tokyo, mohon bantuannya." Anak itu sangat sopan dan tampak polos. Apa dia satu-satunya anak bukan berandal keluar SMA Tokyo?
Di saat lain Atem tersenyum menatap Yugi. Dia masih sopan seperti biasa, tubuhnya masih lebih pendek beberapa senti meter, matanya masih besar namun tidak sebesar matanya yang dulu, dan rambutnya persis sama tanpa adanya rambut kuning emas yang melawan hukum gravitasi. Sedangkan Yugi menatap ke sana ke mari mencari kakak kembar yang diberitahu oleh mamanya.
"Atem angkat tanganmu!" Atem langsung mengangkat sebelah tangannya. "Yugi kamu duduk di samping Atem. Atem tolong bantu dia."
"Mohon bantuannya Kakak." Yugi tersenyum simpul duduk di sebelah Atem.
"Adikmu manis juga Tem." Dua orang, Tea dan Rebecca berdecak pada Atem dan mulai saling beradu mata. Hari ini akan jadi hari yang panjang.
"Huh, cowok lemah." Tristan dan Joey menganalisis Yugi.
"Nah mari kita mulai pelajaran. Bagi siapa pun yang tidak bawa buku pelajaran akan Saya DO!"
'Kenapa pelajaran pertama harus DIA!' Banyak murid berdecak menatap guru mereka yang galak.
Ada masukan atau saran please? #yugi eyes attack
Al Landers
