I don't own Beelzebub. It's Ryūhei Tamura's.
Warning(s) : might be OOC, Alternate Timeline
Pairing: Oga x Hilda
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Angelica A. Chloereve Presents
.::.
_チョコレートケーキ_
(Chocolate Cake)
.::.
—A Beelzebub fan fiction—
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
xxXXXxx
"Hilda-chan! Kau tahu besok itu hari apa?"
"Umm…, hari… Kamis?"
"Bukan! Maksudku—ya, hari Kamis. Namun, apa kau tahu hari tersebut merupakan hari apa?"
"Apa memangnya?"
"Kau tidak tahu? Besok adalah Hari Kasih Sayang! Valentine! Hari di mana kita memberikan cokelat dan berbagi kasih dengan orang tersayang dan terkasih kita!"
"Uh… mm… lalu… apa aku juga harus ikut melakukannya?"
"Um, ya! Maksudku—YA! TENTU SAJA! Dan kupikir, bagaimana kalau kau merayakan hari spesial itu dengan…"
.
Derap langkah Hilda di atas trotoar terus terdengar. Sembari tangan kirinya menggenggam gagang payung pink-nya yang setia menemaninya—serta melindunginya dari pancaran sinar matahari siang, pandangan matanya tak lepas dari secarik kertas kecil yang berada di genggaman tangan kanannya. Derap langkahnya pun berhenti begitu ia telah sampai di salah satu toko yang menjual khusus bahan-bahan untuk cake dan pastry.
Dengan cepat, gadis itu pun langsung masuk ke dalam toko tersebut.
"Humm… baking… baking—apa tadi itu namanya? Ah, ya—baking powder. Oh, ini dia." Hilda pun memasukkan baking powderyang sudah ia temukan ke keranjang belanjaannya yang sudah ia isi sebelumnya dengan sekantung tepung terigu, sekotak cokelat bubuk, dan beberapa telur. Setelahnya, ia beralih ke bagian toko tersebut yang di raknya terdapat emulsifier.
"Terima kasih atas kunjungannya," penjaga kasir dari toko tersebut berkata saat Hilda sudah membayar belanjaannya. Gadis berambut pirang itu pun hanya mengangguk pelan sebagai respon. Kakinya pun mengambil langkah keluar dari toko yang tadi ia kunjungi dan melesat pulang menuju kediaman Oga.
Brak!
Hilda menutup kembali pintu rumah kediaman Oga yang telah ia buka. Hanya keheningan yang menyambut gadis itu. Ya, tidak ada satu pun orang di dalam sana, terkecuali dirinya. Hari ini hari Kamis, Tatsumi Oga pastinya sedang berada di sekolah bersama bayi iblis itu—Berubo, sedangkan Misaki Oga beserta orangtuanya tengah keluar mengurus keperluan masing-masing.
Setelah melepas sepatu dan meletakkan kembali payungnya, ia menaruh belanjaan yang ia beli tadi di atas kabinet dapur. Di samping belanjaan yang sudah ia letakkan, tersampir sebuah buku berukuran sedang tipis terbuka tepat di halaman kelima buku tersebut. Beberapa detik setelahnya, buku itu pun kini sudah berada di tangan Hilda.
Bola mata emerald-nya bergerak kiri-kanan seiring bergantinya baris pada kalimat yang ia baca di buku itu—yang rupanya adalah buku resep kue karena terpampang foto kue cokelat di halamannya. "…cokelat bubuk… sudah, telur… sudah…, tepung juga sudah," gumamnya. "Yak, semua sudah. Ah—mentega dan gula pasir…"—matanya melirik sekilas ke kabinet dapur—"…ada. Berarti, semua sudah ada. Tidak ada yang kurang." Ditutupnya kembali buku resep yang telah ia baca. Celemek pun sudah terpasang manis di tubuh Hilda setelah sebelumnya celemek tadi ia sambar dari laci dapur.
"Mungkin sekarang aku sudah dapat memulai membuatnya."
.
"…dengan membuat kue cokelat!"
"Eh…?"
.
Hilda menepuk-nepuk kedua belah tangannya yang ternodai oleh tepung. Setelah berjam-jam lamanya berulang kali memasukkan, mencampur, dan mengaduk ini-itu, akhirnya adonan pun sudah jadi. Meski pada awalnya Hilda mengalami cukup banyak kesulitan—sehingga ia pun terpaksa mengulang membuat adonannya kembali, pada akhirnya ia pun berhasil membuat adonan untuk kue cokelatnya. Ia menghela nafas lega setelah menuangkan adonan kuenya ke loyang kue. Dilapnya peluh yang keluar dari pelipisnya menggunakan punggung tangannya. Kemudian, ia pun membuka oven yang sudah ia panaskan sebelumnya pada suhu 180 derajat, dan menutup kembali oven tersebut setelah ia masukkan loyang berisi adonan kuenya.
"Oke. Sekarang aku hanya tinggal menunggu kuenya matang selama tiga puluh menit," gumam Hilda dengan harapan hasil akhir yang memuaskan dan layak untuk dimakan.
.
"Tunggu—tapi, setelah aku membuat kuenya, kuenya akan kuberikan pada siapa?"
"Untuk orang terkasih-mu! Kau tentu saja punya kan?"
"E-entahlah… aku tidak tahu. Sepertinya tidak ada…"
"Araaa…? Hontōni? Heee… kalau begitu, berikan kuenya pada…"
.
"Astaga! Bau gosong apa ini?" gumam Hilda heran, tangannya menutup hidungnya berusaha melindungi indra penciumnya itu dari bau gosong yang menusuk. Ia pun beranjak dari duduknya di sofa, bergegas menuju tempat asalnya bau gosong yang menguar itu.
"Uh, aku lupa mengeluarkan kuenya! Tanpa kusadari kue ini mendapat waktu tambahan lima menit di oven ini." Gadis itu menghela nafas berat. Mata emerald-nya itu sempat membelalak saat ia melihat bagaimana jadinya hasil adonannya itu menjadi kue yang atasnya berwarna hitam dan mengeluarkan bau gosong. Yak, kuenya hangus. "Apa kue ini masih bisa dimakan?" pikirnya tanpa melepas pandangannya dari kue berkondisi mengenaskan itu.
Sesaat, Hilda nampak sedikit gelisah dan ragu-ragu untuk mengambil keputusan yang baik terhadap kuenya. Tetap dihidangkan saja atau kubuang dan kubuat ulang lagi? begitu pikirnya. Pilihan kedua tadi adalah pilihannya—walau sebenarnya ia masih saja ragu akan pilihannya itu. Karena tidak mau menghabiskan banyak waktu lagi, ia membulatkan tekad untuk melaksanakan pilihan kedua tadi.
Baru saja Hilda hendak mengenakan celemeknya untuk kembali membuat kue yang baru—tanpa membuang kue yang hangus itu pada akhirnya, pintu rumah kediaman Oga menjeblak terbuka. Dari pintu yang sudah terbuka itu, menampakkan sosok yang sangat Hilda kenal. Dan sosok itu adalah—
—Tatsumi Oga.
Serta Berubo yang berada di bahunya.
Hilda hanya mematung mendapati kedatangan pemuda itu, tanpa ada kata-kata yang terucap. Begitupula dengan Oga. Dahinya mengernyit dengan memberikan pandangan heran pada gadis itu. Hening beberapa saat.
"Dabuh?" gumam Berubo seolah bertanya apa yang terjadi pada 'papa-dan-mama-belum-resmi'-nya itu.
Oga masih saja memberikan tatapan heran pada Hilda. Mata hitamnya melirik ke kue hangus buatan Hilda yang ada di atas kabinet dapur. Lalu, "Itu kue?"
"Kalau sudah tahu, kenapa bertanya lagi? Dasar cowok bodoh," jawab Hilda ketus seperti biasanya ia lakukan pada Oga.
"Kau beli di mana kue yang hangus dan jelek itu? Kau tidak memberikan keluhan pada toko yang menjual kuenya itu apa? Hah—kau memang cewek bodoh," balas Oga dengan nada merendahkan. Pandangannya nampak menilai kue yang aslinya buatan Hilda itu.
Jujur, Hilda benci melihat tatapan Oga pada kuenya. Rasanya, Hilda ingin menghabisi pemuda itu sekarang ini juga, tapi ia menahannya. Jadi, sebagai pelampiasan rasa kesalnya, ia melempar sebuah sendok ke arah Oga. Dan pemuda itu meringis saat sendok itu tepat mengenai kepalanya.
"Dasar kurang ajar. Aku tidak membeli kuenya, aku sendiri yang membuatnya," ujar Hilda kesal. Tangannya pun mengambil kue cokelat hangusnya dan kakinya melangkah mendekati Oga.
"Ini." Hilda menyodorkan kue hangusnya itu pada Oga.
Dahinya mengernyit. "Apa maksudmu?"
"Ini. Aku sengaja membuat kue cokelat ini karena hari ini Valentine. Jadi, kuberikan kue ini untuk—"
.
"…Tatsumi! Ya! Berikan kuenya pada Tatsumi, Hilda-chan!"
"Eh…? Ke-kenapa harus dia?"
"Ayolah, tidak ada salahnya kan, kau mencoba memberikan makanan hasil tanganmu selain kroket pada adikku yang bodoh itu? Dia pasti menyukainya!"
"A-aku tidak yakin soal itu. Lagi pula, apa maksud 'orang terkasih' yang tadi kau katakan?"
"Ngg… itu… Ah, sudahlah! Yang penting berikan saja kuenya ke dia! Katakan padanya kau sengaja membuat kuenya karena hari Valentine! Dia pasti akan menerimanya!" /
.
"—mu."
Oga terdiam.
Beberapa saat setelahnya, akhirnya tawanya meledak. Tawa yang begitu terbahak-bahak.
Dan sungguh, tawaannya benar-benar membuat Hilda jengkel.
"Jangan tertawa! Tidak ada yang lucu, Bodoh!" Amarah Hilda memuncak. "Berhenti tertawa atau kubunuh kau!" ancamnya kemudian. Aura kehitaman menguar dari dirinya, menandakan ia begitu marah mendapat responkurang menyenangkan dari Oga.
Tidak lama setelahnya, tawa Oga pun berhenti. Saking begitu lepasnya tertawa, perutnya sampai sakit—ia merintih—dan nyaris saja Berubo jatuh dari bahunya kalau saja ia tidak memanjat kembali ke bahu Oga. Tangannya pun menyeka air mata yang keluar dari matanya. Dapat ia lihat, gadis di hadapannya memandang tajam ke arahnya dengan kilatan amarah di matanya.
"Berikan alasanmu kenapa kau tertawa seperti itu, Keparat." Tangan Hilda yang masih memegang kuenya bergetar, giginya bergemertak kesal.
Dengan enteng, Oga menjawab, "Tentu saja karena kuemu itu."
"Memangnya ada apa dengan kue yang kubuat ini, hah?!"
"Tidak kusangka manusia—iblis amatiran sepertimu bisa membuat kue. Khh… hfft… hmpfh…"
"Tertawa lagi, akan benar-benar kubunuh kau." Rupanya, amarah Hilda masih belum menyusut. Ia masih merasa jengkel karena tawaan Oga yang begitu membahana masuk di telinganya. "Jangan merendahkanku. Lagi pula, kalau bukan karena kakakmu, aku juga pasti tidak akan membuatnya—dan memberikannya padamu," ia mendengus.
Kedua matanya membelalak, terkejut. "Hah, dia lagi! Memangnya, apa yang dia katakan padamu? Sampai kau bisa-bisanya memberikanku kue yang lebih mirip sampah bakar itu?" Oga jadi curiga pada kakaknya apa yang gadis itu katakan pada pengasuh Berubo ini.
"Dia kemarin memberitahuku hari ini adalah hari Valentine—aku juga masih agak bingung artinya apa. Lalu, dia pikir, aku pun juga bisa merayakannya dengan membuat kue cokelat untukmu. Makanya, aku pun membuat kue ini sebelum kau datang."
Mendengar pernyataan tadi, dapat Oga rasakan wajahnya menghangat, semburat merah tipis muncul di wajahnya. Hilda yang melihatnya hanya memiringkan kepalanya, merasa aneh dan heran. Ini adalah pertama kalinya Hilda melihat Oga menunjukkan wajah bersemu seperti itu.
"Kenapa diam? Kau sakit?"
"Tidak. Maksudku—berhentilah mendengar hal konyol seperti itu dari Misaki nee-chan! Dia itu menyesatkan!" Oga jadi heboh sendiri, tangannya menjambak rambutnya. Apa-apaan nee-chan itu?! Kenapa senang sekali sih, menggodaku seperti itu? Memasang-masangkan aku dengan jalang satu ini? Tch, yang benar saja! batinnya dalam hati. Ia berjanji, begitu kakaknya kembali dari urusannya, ia akan menghajar gadis itu.
"Da!" tiba-tiba Berubo berseru. Lalu, "Aih…?" Dahinya mengernyit begitu melihat Oga yang tampak seperti orang frustrasi.
"Sudahlah, reaksimu itu terlalu berlebihan. Lagi pula, Misaki hanya berusaha memberitahukan hal-hal yang belum kuketahui mengenai apa yang para manusia lakukan agar aku terbiasa dengan mereka dan makhluk hina sepertimu," ujar Hilda membuang muka. "Sekarang, bagaimana kalau kau mencoba kueku? Bersama Bocchama juga." Tangannya yang memegang sebilah pisau memulai gerakan memotong kuenya yang sudah diletakkan di atas meja makan.
Lagi-lagi dahi pemuda itu mengernyit. "Jangan konyol! Yang benar saja?! Masa aku dan Berubo harus memakan kuemu yang mirip sampah itu? Kuemu itu hangus," dengusnya, menatap miris kue cokelat yang hangus itu. "Buang saja sana."
Deg!
Entah kenapa, mendengar kalimat terakhir Oga tadi membuat hati Hilda terhentak, sepeti ada sesuatu yang menyengatnya sehingga nyaris saja hatinya melompat keluar. Ia sendiri tidak tahu apa maksud perasaan yang ia rasakan itu. Yang jelas, kini hatinya terasa sedikit sakit, seperti tersayat pisau.
"Hei, kau kenapa?" Satu alis Oga terangkat begitu dilihatnya Hilda hanya diam di tempat dengan tangannya yang bergetar mengepal gagang pisau di atas meja. "Hei, ayolah! Tunggu apa lagi sih? Cepat buang sana!"
"Tch!" Geliginya bergemertak kesal. Ia mengangkat tangannya, lalu, dalam hitungan detik, pisau yang tadinya masih di genggamannya sudah terlempar melesat ke arah Oga. Meski kedua matanya tertutup oleh helaian poni pirangnya, Hilda tahu pisau yang ia lempar tadi tepat sasaran. Tentu saja, karena pemuda brengsek itu mengeluarkan ringisannya.
"Argh! Dasar cewek gila! Bisa tahan dulu tidak sih, hasratmu untuk membunuhku itu?!" Tangannya meremas lengan kanannya yang mengeluarkan darah. "Untung saja pisaunya tidak melukai Berubo! Kalau tidak—matikau!" lanjutnya masih dengan rasa shock akibat pisau yang tahu-tahu saja melesat ke arahnya. Kedua mata Berubo pun bahkan berkaca-kaca—menunjukkan ia juga shock dan takut—melihat kondisi saat ini antara 'papa'dan 'mama'-nya.
Hilda bergeming sebagai responnya. Mengikuti ucapan Oga sebelumnya pada dirinya, ia pun mengambil kue hangusnya dan melangkahkan kakinya menuju tempat sampah bersiap membuang kuenya yang susah payah ia buat.
"Hah?" Tahu-tahu Oga tersentak. Matanya melotot begitu dilihatnya Hilda yang memulai untuk membuang kuenya. "H-hei! T-tunggu dulu! Jangan dibuang! Aku baru berpikir, sepertinya itu masih bisa dimakan! Jadi, tidak usah dibuang—hei, kau mendengarku nggak sih?!" seru Oga sedikit kesal saat Hilda masih belum menghentikan gerakannya. Sudah tuli rupanya gadis beriris emerald ini, sampai-sampai menolak untuk melakukan apa yang barusan pemuda di belakangnya teriakkan.
"Aaihh…!" dan Berubo berseru begitu matanya menangkap apa yang terjadi selanjutnya.
.
"Dasar merepotkan," pemuda itu mendengus. "Kalau kubilang jangan dibuang, ya jangan dibuang. Kau tuli apa, hah?!"
"Tapi tadi kau menyuruhku untuk membuangnya, Bodoh!" sanggah si gadis. "Lain kali, yang jelas kalau berbicara itu! Tidak, ya tidak! Iya, ya iya!" lanjutnya kesal.
"Aih!" Senyuman senang terukir di wajah tembam Berubo. Ia terkekeh senang melihat kondisi yang sekarang berada di depan matanya. Kini 'papa'-nya—yang bahunya sudah diperban sebelumnya akibat tusukan bekas pisau tadi—dan 'mama'-nya itu masing-masing sudah terduduk di kursi meja makan dengan kue hangus buatan Hilda yang berada di atas meja.
Untung saja kue cokelat hangusnya itu terselamatkan. Kalau saja pemuda bernama kecil Tatsumi itu tidak cepat-cepat mencegah si Pengasuh Iblis itu—dengan cepat-cepat menyambar kue tersebut dari tangan si gadis, sudah dipastikan kuenya itu akan benar-benar jatuh ke dalam sana—tempat sampah.
"Kau hanya perlu mengikis lapisan atas yang hangus itu. Lihat, nggak semuanya hangus, kan?" ujar Oga pada Hilda begitu dilihatnya gadis itu melakukan apa yang ia perintahkan; mengikis bagian atas kue yang hangus.
"Ini." Hilda menyodorkan sebuah piring kecil yang sudah ia letakkan sepotong kue buatannya pada Oga. "Kenapa? Kau masih belum yakin dengan rasanya akan bagaimana?" tanyanya ketus begitu ia lihat pemuda di seberangnya mengerutkan keningnya, menatap ragu pada potongan kue nyaris gagal itu.
"Kalau memang kau tidak mau memakannya, ya sudah! Aku buang saja," ucap Hilda setelah beberapa menit lamanya terlewati tanpa Oga menyentuh kuenya—walau sudah berulang kali Berubo merengek pada Oga untuk memakan kuenya, tetap saja pemuda itu masih tidak menyentuhnya. Amarah gadis itu mulai sampai pada puncaknya.
"Aih…!" jerit Berubo nyaris ingin menangis. Jemari 'mama'-nya itu rupanya sudah mulai menunjukkan tanda-tanda akan mengambil kembali kue itu—dan membuangnya tentu saja.
"E-eh?! Apa-apaan kau?!" seru Oga kaget setelah beberapa menit ini tatapannya mengosong. "Jangan! Memangnya siapa yang menyuruhmu untuk membuangnya, hah?!" jengitnya kesal. Tangannya dengan kasar merebut kuenya dari tangan Hilda.
Hilda terkejut. Keningnya mengernyit. Awalnya ia merasa aneh pada manusia di hadapannya ini; plin-plan; tidak konsisten. Ia bahkan berseru, "Dasar aneh!" pada Oga. Namun kemudian, ia menghela nafas, lega. Setidaknya adik dari Misaki Oga itu masih mau mempertahankan kue buatannya agar tidak ia buang—walau ia sendiri tidak bisa menjamin apakah pemuda itu akan memakannya atau tidak. "Kalau begitu, coba kau makan."
Kening Oga masih mengernyit. "Aku tidak mau tahu—kalau saat aku makan kue ini aku langsung pingsan atau bahkan mati, kau harus bertanggungjawab, Iblis!" Mendengar pernyataan 'terakhir' Oga tadi (bisa saja makhluk bodoh itu benar-benar mati saat memakan kuenya), membuat kepala Hilda berkedut kesal. "Huft, baiklah. Kau siap, Berubo?" tanya Oga pada Berubo yang juga 'peserta' dari kue itu.
"Aih, da!" respon bayi iblis itu senang; tanpa ada keraguan untuk mencoba memakan kue buatan pengasuhnya.
Iblis-berwujud-gadis-manusia itu mengeratkan kepalan tangannya yang berada di pangkuannya. Ia berharap-harap cemas dengan kening mengerut saat Oga mulai memotong kue itu, menancapkan garpunya pada potongannya, dan memasukkannya ke dalam mulutnya—oh, saat itu juga Hilda tidak berani melihatnya, menerka apa yang terjadi selanjutnya pun apalagi.
Mata Oga dan Berubo membelalak saat kue cokelat itu masuk melewati kerongkongannya. Dan—
"Huweeeeee…!"
"Aaaaarrghh…!"
—kediaman Oga itu sekali lagi kembali gempar.
"Ah! A-ada apa?!" tanya Hilda terkejut mendapati Oga dan Berubo yang tahu-tahu berteriak keras.
"Kau! Kau memasukkan apa sih, ke kuenya?! Pedas sekali tahu!" Telunjuk Oga menuding Hilda. Wajah kedunya, ia dan Berubo, sama-sama memerah. Begitupula dengan bibir mereka.
"Ah, itu." Tiba-tiba Hilda mengingat sesuatu. "Mm…, ya. Aku memang memasukkan cabai bubuk pada adonannya. Kupikir kalau Bocchama memakannya, Bocchama akan menyukainya," jawab Hilda datar dengan wajah tanpa dosa.
"Hhhh! Menyebalkan!" rengut Oga sembari mengambil air putih, lalu menenggaknya; meredam rasa pedas yang masih mendiami mulutnya. Sama halnya seperti Berubo. Ia pun kembali duduk di kursi meja makan.
Setelah dua menit keheningan menyelimuti mereka, Hilda pun tanpa keraguan mulai memecah bongkahan keheningan ini, "Jadi, bagaimana?"
Oga melirik tajam gadis itu. "Bagaimana apanya? Kuenya?" tanyanya agak ketus.
"Iya. Memangnya kaupikir apa?!" jawab Hilda sama-sama agak ketus.
Tangan Oga tahu-tahu sudah bertengger di rambutnya. "Yah,"—ia menghela nafas—"sebenarnya sih, tidak buruk." Semburat merah muda tiba-tiba muncul di wajahnya. "Hanya saja, bubuk cabai yang kaupakai itu makin membuat buruk rasanya!" tudingnya tiba-tiba dengan intonasi yang tinggi setengah menyalahkan Hilda.
Hilda speechless mendengarnya. Reaksinya datar, meski matanya tidak demikian; membelalak. Belum sempat ia merespon jawaban Oga tadi, pemuda itu sudah lebih dulu kembali bersua.
"Hah, baiklah. S-sebenarnya, kuemu itu enak. Manis. Hanya saja…"—ia meninggikan suaranya—"itu pedas sekali!" serunya lagi seperti sebelumnya. Berubo mengangguk setuju pada pernyataan Oga. "Lalu…" Ia kembali tenang. "Kau membuatnya sendiri?" tanyanya, sedikit malu.
"Bukannya dari awal aku sudah bilang kalau aku sendiri yang buat?!" jawab Hilda agak ketus. "Asal kau tahu saja. Berjam-jam lamanya aku membuat kuenya itu." Kedua tangannya melipat di depan dadanya.
Mau tak mau, mendengar penyataan Hilda tadi, mata Oga membelalak. Ia terdiam. Selang satu menit, ia menengadahkan kepalanya, memasang wajah cuek nan datarnya yang biasa ia tunjukan pada para gadis. "Hahh…, kuemu itu sebenarnya enak. Mungkin kau bisa membuatkannya lagi?" Tanpa sadar, rona merah menjalar di wajah Hilda. "Tanpa memakai cabai bubuk tapinya!" tandasnya menuntut.
Oga menujukan pandangannya pada Hilda. Dapat ia lihat senyuman merekah di wajah meremehkan si gadis—menurut Oga. Ia tidak mengartikan apa-apa pada senyuman Hilda, menganggap senyuman itu sebagai senyum bahagia si gadis pun tidak. Jadi, ia hanya mengangkat kedua bahunya saja.
Namun kenyataannya, senyum yang merekah di wajah Hilda adalah wujud kelegaannya—dan kebahagiannya.
"Baiklah. Kalau kau berkata begitu dan Bocchama menyetujui dan menyukainya, aku akan membuatkannya lagi," jawab Hilda, mengulas senyum tipisnya. Sekuat tenaga ia tahan agar senyumnya itu tidak merekah terlalu lebar.
Karena ia tidak mau rasa senang—yang entah kenapa muncul tiba-tiba—yang ia dapat dari perkataan pemuda brengsek itu dilihat oleh pemuda itu sendiri. Jantungnya yang berdebar sedikit kencang dan perut yang terasa digelitik kupu-kupu saja apalagi; tidak mau ia tunjukkan.
"Y-ya…," gumam Oga sedikit tidak jelas. "Ngomong-ngomong…,"—ia mengalihkan pandangannya dengan mulut didekap oleh tangannya—"terima kasih," ujarnya.
"Eh?" Raut keterkejutan menyelimuti wajah Hilda. Lamunannya pun membuyar. "Tadi kau bilang apa?" tanyanya, tidak sadar apa yang barusan Oga katakan—meski hanya samar-samar saja ia mendengarnya.
"Iie! Tidak ada siaran ulang!" jawab Oga tegas. Ia bangkit dari duduknya, lalu bergegas berjalan menuju kamarnya. "Oh iya. Kuenya jangan kaubuang. Siapa tahu nanti kaa-san, tou-san, dan nee-san berminat untuk mencobanya. Hehe, walau mereka harus kepedesan juga sih," imbuhnya dengan cengiran evil-nya saat ia sudah menaiki seperempat anak tangga. "Dan mungkin aku akan memakannya lagi?"—kepalanya memandang langit-langit rumah—"Hah, entahlah," gumamnya sambil mengangkat bahu. Dengan cepat, ia kembali menaiki anak tangga rumahnya.
Hilda hanya bisa tersenyum melihatnya. Pertama kalinya ia sudi mengulas senyumnya karena pemuda yang tidak disukainya itu. Ia pikir Oga akan memberikan respon yang begitu manis pada dirinya atas kue yang ia buat seperti drama-drama romansa TV yang sering ia lihat. Tapi nyatanya? Berbeda sekali. Yah, pemuda berandal itu memang terlalu cuek untuk urusan 'cinta' dan 'cewek'.
Yah, walau respon yang ia inginkan dari Oga tidak seperti apa yang ia inginkan,
itu sudah cukup baginya.
Dan cukup membuat Hilda semakin menyukai dunia manusia.
Serta cukup membuat hati Hilda tertanam bibit-bibit 'cinta' yang belum pernah ia rasakan.
.
"Dasar bodoh," kekeh Hilda pelan, seraya memandang kue cokelatnya dan piring kotor bekas Oga tadi. "Tentu saja aku akan membuatnya lagi! Tanpa cabai bubuk!"
.
.
xxXXXxx
_OWARI_
