One Piece © Eichiro Oda.
Gadis Bertopi Hitam © Hikanzakura.
Warning:
AU, OOC, Gejeh, flat, plotless, EyD amburadul dan typo, dll.
A birthday fic for Baka Daigo.
Don't like? Don't read.
.
.
Jarum jam di dinding menunjukkan angka 15.04 saat seorang pemuda berambut hijau tengah berjalan keluar dari kamar mandi menuju sofa dengan titik-titik air yang menetes dari ujung rambutnya saat ia melangkah. Menenggerkan handuk kecil di tengkuk, ia mengempaskan tubuhnya di bangku panjang nan empuk yang berwarna seputih gading diiringi desah berat.
"Hahh.." lantas ditutupnya mata, dan pemuda itu merogoh saku celana untuk mengambil ponsel lalu sibuk mengotak atik benda canggih itu setelahnya.
Drrtt.. drrtt.. drr- klik.
From: 085712937xxx
Oi! Nanti malam jangan lupa ya! Semua sudah siap 'kan? Makanannya jangan kau habiskan duluan, oke. Hahaha, tunggu kami! ;D
"Ck, merepotkan," umpatnya pelan seraya mengetikkan sesuatu. Setelah menekan tombol send, ia menyumbat telinganya dengan sepasang headset hitam sambil kembali sibuk pada kegiatan yang sama. Bosan mendengar lagu yang diputar, pemuda itu memutuskan untuk mendengarkan siaran radio langganannya.
.
Konnichiwa! Kembali lagi dengan gue, Aisa, yang bakal nemenin sobat Radio 184,7 FM sampai setengah jam ke depan. Yak, seperti biasanya, sore ini gue akan ngebacain surat-surat yang dikirim oleh para pendengar. Di tangan gue sudah ada 3 surat dan yang akan gue baca pertama adalah surat dari.. hmm..
.
Suara gadis bernama Aisa itu masih terdengar jelas di telinganya saat ia beranjak menuju empuk kasur miliknya. Menumpukan kepalanya dengan kedua tangan, pemuda itu kembali menutup matanya tanpa berniat mengganti channel siaran karena satu hal yang ia suka dari siaran ini adalah, setiap penyiarnya memiliki suara yang berbeda namun unik yang dapat menghanyutkan setiap orang yang mendengarnya.
.
Oke, kita mulai dari surat kiriman.. Black Hat. Hm..? Unik sekali namanya. Aku berani bertaruh kalau isi surat ini adalah pernyataan cinta, haha!
.
Demi saus tar-tar, pemuda itu berjengit dan refleks membuka matanya ketika mendengar nama si pengirim surat. Nani? Black Hat? ...Tunggu. Ia rasa ia pernah mendengar nama samaran itu. Tapi.. di mana?
.
Aku ingin menyampaikan surat ini untuk seorang manusia bodoh yang mungkin saat ini juga tengah mendengar si penyiar membaca suratku. Uhm, hei kamu, masih ingat tidak, saat aku memanggilmu si Hijau Bodoh?
.
Demi dewa Neptunus, kedua alisnya kini benar-benar saling bertaut dalam. Ia bingung dan otaknya kembali berpikir keras di mana ia pernah mendengar ejekan itu dan siapa yang melontarkannya.
.
Aku masih ingat jelas saat-saat di mana kamu terkunci dan menggedor-gedor pintu gudang sekolah selama hampir sejam diikuti teriakan minta tolong yang keluar dari mulutmu-
.
Ingatan demi ingatan berputar-putar bagai angin puyuh dalam benaknya. Berpusar tanpa kendali. Terkunci di gudang? Hell, kapan terakhir kali ia melakukan hal bodoh selain tidak sengaja menabrak dinding sekolah yang baru saja dicat hingga meninggalkan 'bekas' di wajah kerennya saat ia berada di bangku SD? Wait.. wait.
.
Dengan wajahmu yang penuh dengan cat putih saat aku melihatmu keluar dari dalam ketika aku membukakan pintu gudang yang terkunci dan ekspresi bingung langsung terpeta jelas di wajahmu tetapi akhirnya kamu mengucapkan terima kasih padaku dan kembali memasang wajah stoic-mu lalu berlalu begitu saja yang sungguh, aku benar-benar akan kembali tergelak jika mengingatnya.
.
Pemuda itu ingat jelas saat pertama kalinya ia melakukan hal bodoh dengan mengumpat di gudang sekolah untuk menghindari kejaran belasan gadis-gadis yang tergila-gila padanya dengan berbagai benda entah coklat, kado, bahkan sampai bunga di masing-masing genggaman. Ia ingat saat ia mendekam di dalam ruangan yang gelap nan sumpek itu sampai beberapa saat hingga terdengar suara klek dari arah lubang kunci. Ia ingat saat pertama kalinya ia menahan isakan sambil menggedor-gedor pintu, meminta siapapun membuka pintu yang terkunci untuknya. Ia ingat saat melihat sesosok gadis mungil berambut hitam itu yang kembali ia temui saat ia melangkahkan kakinya ke atap sekolah.
.
Saat pertama kamu mengatakan mengapa kamu bisa terkunci di gudang itu dan menumpahkan segala kekesalanmu terhadap fans-fansmu. Saat-saat di mana aku ingat untuk kali pertama aku menyaksikan hanabi tidak seorang diri. Saat-saat pertama di mana kamu bertanya mengapa aku selalu memakai topi hitam. Dan saat-saat kali pertama-
.
Pemuda itu meneguk ludah dan setetes keringat pun turun dari pelipis padahal suhu di kamarnya tidak bisa dibilang panas. Pikirannya masih terus menggali ingatan yang membuatnya penasaran dengan cerita si Gadis Black Hat itu. Tapi satu hal yang ia tahu pasti, ia yakin bahwa kamu yang dimaksud Gadis Black Hat itu adalah dirinya sendiri. Tapi masalahnya, siapa dia?
.
Aku menyesali diriku sendiri karena tidak pernah bisa mengatakan hal yang seharusnya kuucapkan lima tahun lalu, saat berada di atap malam itu. Aku menyesali keberanianku yang hanya bisa mengatakannya lewat surat ini, bukan menatapmu langsung. Aku tahu kalau aku memang pengecut, tapi sungguh, aku hanya ingin mengatakan-
.
.
.
selamat ulang tahun untukmu, Zoro.
Pfiuuuuuhh.. selesai juga. *lap keringet
Yak, ini cuma fic iseng untuk teman lamaku, Daigo, yang hari ini berulang tahun. Happy 15th, dude!
Untuk Daigo, jangan sombong-sombong ya, dan semoga baca hadiah kecil ini dari aku. Semoga kamu berubah, semoga kamu diberi yang terbaik. Amin.
Any comment? Flame? Or concrit? Ditunggu di review box :D
Tangerang, 15 April 2012.
Hikanzakura.
