Kau tidak tahu siapa sebenarnya seorang Allen Walker.
Kau tahu bahwa dia adalah seorang Exorcist, namun kau tak tahu bahwa dia seorang buronan Vatikan, dan bahwa dia adalah Noah. Bahwa Neah bersemayam di dalam dirinya, dan tiap saat mencoba menguasai dirinya saat ia lengah. Bahwa Noah pun memburunya layaknya kelinci dalam sarang harimau.
Dan kau tidak tahu bahwa dia mencintaimu.
SNOW IN YOUR VOICE
.
.
A D-Gray Man's Fanfiction
.
Disclaimer : D-Gray Man belongs to Katsura Hoshino-sensei
.
Allen Walker x Readers/You
Warning : OC/OOC/(maybe) fail language!
.
Enjoy!
.
.
.
Pagi muram di London kembali lagi. Dengan telaten, salju halus berwarna kelabu menutupi sebagian atap rumahmu dan keluargamu. Namun itu tak menyurutkan semangat kalian mencari sen demi sen untuk ditukar dengan makan malam kalian.
Maka kau pun bangun dari mimpi burukmu mengenai peperangan yang sedang terjadi di antara Inggris dan para tetangganya. Kau tidak mengetahui siapa yang memulai, tapi kau tahu persis bahwa sosok seorang abadi yang disebut Earl Millenium berada di baliknya. Ya, kau mengetahuinya dari ayahmu yang seorang peneliti, bekerja di Black Order sejak tahunan yang lalu, sejak kau masih belum bisa mengingat. Karenanya, sekarang kau dan adik laki-lakimu satu-satunya bekerja demi menyetor bahan makanan pada ibumu.
Kau menyadari salju yang turun, dan bergegas mengenakan gaun pagimu. Sebelah kakimu yang sudah mengenakan sepatu mendorong pintu kamar hingga terbuka, dan kau mendengar ibu dan adik laki-lakimu yang tertawa-tawa di lantai bawah. Bau bacon goreng, telur mata sapi kesukaanmu dan susu segar memenuhi kamarmu dalam sekejap.
"Kau baru bangun, kak?"
Kalimat pertama adik laki-lakimu yang telah beranjak dewasa menyambutmu. Kau hanya tersenyum mendengarnya, dan menunjukkan padanya amplop coklat tempat teks novel terbarumu yang baru saja kau selesaikan semalam. Mata coklatnya membulat, ia terlihat senang. Kau tahu persis, adik kesayanganmu menyukai novel yang kau tulis dan dengan senang hati mengantarkannya ke kantor penerbit sebelum dia melakukan pekerjaannya sebagai polisi baru.
"Ibu berdoa, semoga kalian mendapat berkah dalam pekerjaan kalian," dan Ibu kalian tersenyum, tangan-tangan rampingnya membawa mangkuk-mangkuk makanan yang kemudian telah berpindah di tangan kalian. Senyum menghiasi wajah bahagia kalian bertiga.
Meski ayah kalian tidak berada bersama kalian, tapi kau merasa itu sudah cukup. Kebahagiaan dan kebersamaan kalian bertiga tak terelakkan, dan mutlak adanya, itu menurutmu. Maka kau merasa begitu aman dan nyaman di rumahmu, meski kau akan pergi sebentar bersama editormu demi mencari ide untuk novel yang baru.
"Ibu, aku akan pergi seharian ini, hanya di sekitaran London, dan mungkin aku tidak akan makan malam," ujarmu akhirnya. Adikmu menepuk dadanya dengan bangga, dan menyahut. "Tenang saja, kak, aku yang sebentar lagi 18 tahun ini akan menjadi penjaga Ibu! Kebetulan aku akan pulang cepat, dan aku berusaha tepat waktu nanti, Bu."
"Pergilah, jalani hari kalian dengan penuh semangat!" Ibu kalian merasa bangga denganmu dan adikmu, dan kalian kembali tersenyum, bertukar berita dan cerita sembari menyantap sarapan kalian. Setelah merasa kenyang, kau segera pamit, mengapit tas tanganmu dan melambai pada adik laki-laki serta ibumu.
Kau tak tahu bahwa itu sarapan terakhirmu bersama mereka.
.
.
Dalam gelapnya malam di kota London, kau melihat dengan jelas api yang menjalar dan melalap apapun yang berada di dekatnya; tak terkecuali rumahmu beserta isinya. Kau menoleh panik, kanan dan kiri, berusaha menemukan dua sosok pertama yang kau temui di pagi hari. Namun mereka tak ada. Kau hanya bisa berlinang air mata tatkala para rekan adikmu menolongmu untuk berdiri dengan benar, sambil mengatakan sesuatu yang mungkin dapat menenangkan hatimu. Tapi kau terlalu sedih untuk mendengar apapun, kecuali satu suara yang berkelebat begitu saja dari seseorang, namun kau tak menemukan siapa.
"Aku bisa menghidupkan kembali ibu dan adikmu. Kau mau mencobanya?"
.
.
Kau tak ingat sejak kapan bulan sabit telah bertengger angkuh di langit malam dan salju lenyap entah kemana. Kau hanya dapat melihat pemandangan dua peti mati berhiaskan bunga di depanmu, dan seorang paman gendut, dengan topi yang sangaaat tinggi, dan cengirannya yang lebar, dan payungnya yang hanya seperempat besar perutnya, dan kakinya yang kecil. Ia memandangmu, dan begitu pula sebaliknya.
Kemudian ia berkata, suaranya yang seperti kakek-kakek menggema di ruangan luas yang kau tahu itu adalah gereja. "Selamat malam, Lady yang manis!" suara cerianya mungkin terdengar aneh, dan kau tanpa alasan merasa takut padanya.
"A-a-a! jangan takut padaku! Aku hanya menawarkan padamu…" si paman gendut melompat ke samping dan memperlihatkanmu model kerangka dengan helm yang aneh. Ia melanjutkan, masih dengan suaranya yang ceria, "…ini adalah boneka penuh sihir buatanku, yang bisa menghidupkan ibu dan adikmu! Yang perlu kau lakukan untuk menghidupkan mereka adalah hanya dengan memanggil nama mereka sekuat tenagamu!"
Ia tersenyum. Namun dalam bayanganmu yang takut tanpa alasan, ia terlihat menyeringai.
"Bagaimana, Lady yang manis?"
Kau melakukannya.
.
.
Teriakanmu menggema, dan kau berlari sekuat tenagamu. Kekuatanmu sebagai gadis berusia 19 tahun membuat gerak refleksmu secepat angin. Dan kau berusaha menyelamatkan diri dari tengkorak-berhelm-aneh yang bertuliskan nama ibu dan adikmu. Kau sadar sedetik kemudian, bahwa itu adalah prototipe yang akan membunuhmu, menjadikanmu AKUMA.
"KYAAA! JANGAN MENDEKAAATTT!"
Teriakanmu kembali menggema, dan kau melempar apapun yang ada di sekitarmu dengan harapan mereka akan berhenti mengejar ketika pecah. Namun yang kau dengar hanya tawa si paman-bersuara-kakek yang terbang dengan payung mininya itu. Kau tahu bahwa ini salah, dan kau telah melakukan kesalahan fatal. Kau berharap ada seseorang yang menolongmu, namun kau tahu bahwa pastor atau apapun yang seharusnya ada di gereja malah meng-absen-kan kehadiran mereka; kau tahu dari mayat yang berceceran ketika kau menyusuri gereja.
Namun kau melihat utusan Tuhan datang.
Kau melihat malaikat.
Seorang pemuda dengan jubahnya yang entah bagaimana sewarna dengan rambutnya, seputih bulan yang bertengger di langit malam, menangkupmu dalam pelukannya dan kalian melompat tinggi menuju kerangka yang mengejarmu. Ia mengayunkan sebelah tangan-berkuku-panjang miliknya, dan kerangka-kerangka itu musnah dalam sekejap, menyisakan gaung teriakan yang kau kenali milik ibu dan adikmu. Dan kau sadar, entah sejak kapan paman-bersuara-kakek tadi menghilang.
Maka di gereja itu hanya kalian berdua, dan ia menatapmu penuh kekhawatiran. Ia menunggu kau menyuarakan pikiranmu, dan hanya suara isak tangis ketakutanmu yang terdengar.
"Tidak apa-apa, semuanya sudah berakhir. Aku tahu, kau pasti begitu sedih ditinggalkan seluruh anggota keluargamu, dan sekarang semuanya baik-baik saja."
Kau mengangguk kecil. Kau terlalu kalut untuk meruntut apa saja yang terjadi selama sehari ini, dan tiba-tiba saja pemuda itu datang menyelamatkanmu bagai pangeran berkuda putih. Masih dengan suara paraumu seusai menangis, kau bertanya, "kau… Exorcist?"
"…Ya," jawabnya pendek dan lama. Perubahan raut wajahnya seperti saat kau menyadari bahwa sekarang kau hanya sendiri. Kau ingin bertanya lebih jauh, seiring dengan sinar matahari yang mulai mengintip dari balik jendela-jendela gereja. Kalian berdua terdiam.
"Ah, matahari terbitnya…indah."
Suara pemuda itu bergaung, memecah keheningan di antara kalian berdua. Kau mengangguk. Kau setuju dengan kalimat yang ia suarakan, dan kau menyukai suaranya yang lembut. Kau menggenggam tangannya yang terlihat ringkih.
Kemudian kau sadar, suaranya tak hanya bergaung dalam ruangan itu, namun juga di hatimu.
"Namamu…?"
"Allen Walker."
"Apa kau…sedang dalam perjalanan?"
"Ng."
"Kau bisa…menginap di cottage-ku jika kau mau, sebagai tanda terima kasihku."
"Benarkah? Terima kasih, sebenarnya sudah seminggu ini aku tidur di jalan. Oh, ya, siapa namamu?"
"Panggil saja sesukamu, Allen Walker."
"Kalau begitu… bagaimana dengan Lady yang manis?"
.
.
Kau tak mengizinkan tubuhmu tidur, atau pun lelah. Kau mungkin melihat bagaimana Allen mendengkur bersama makhluk bulat bersayap berwarna kuning yang ia panggil Timcanpy di kamar tamu, tetapi kau berusaha untuk tidak tidur. Kejadian semalam telah membuatmu begitu takut, dan kau tidak ingin tidur dan mengalihkan perhatianmu dengan mengetik naskah sebanyak mungkin kemudian membuat teh ketika kau menyadari saat itu sudah jam sepuluh pagi.
Kau tak membangunkan siapapun saat itu, dan dengan tenang menata tea set. Kau menoleh cepat, menghadap kamar dimana Allen tertidur akibat mendengar suaranya yang bangun. Mungkin ia lapar, atau ia mendengar suara dentingan cangkir dengan alasnya. Kau merasa bersalah, karenanya kau menyiapkan scone dan selai lebih banyak dari yang biasanya kau siapkan untuk ibu dan adikmu ketika mereka masih hidup.
'Ketika mereka masih hidup'.
Kata-kata itu terngiang di kepalamu. Sekarang kau ingat kau hanya seorang diri, tanpa bisa mengabari ayahmu karena kau tak tahu dimana dia ditugaskan. Kau berspekulasi seorang diri, bahwa mungkin saja dia berada di Inggris, atau Cina, atau Amerika…
Kau tak sadar bahwa Allen telah berdiri di sebelahmu dengan raut wajah yang bahagia, melihat makanan yang ia anggap sangat melimpah; terbukti dari kedua matanya yang berlinang airmata. Kau pun tanpa banyak bicara mempersilahkan dengan senyum dan gestur tangan kedua tamu kalian untuk menikmati morning tea kalian, mendengar hanya suara dentingan garpu dan pisau dengan piring serta cangkir dan teko dengan alasnya. Kau melihat dari sudut matamu seorang Allen Walker. Kau tertarik mempelajari wajah tampannya. Kau melihat matanya yang berkilat ramah. Kau melihat ia tersenyum tatkala Timcanpy menelan bulat-bulat biskuitnya, dan kau menyukai cara ia menarik sudut-sudut bibirnya, membentuk garis lengkung sempurna yang pas dengan porsi wajahnya. Sedikit menaikkan pandanganmu, kau melihat bekas luka berbentuk pentagram di mata kirinya dan bola mata kanannya yang silver penuh kilau layaknya peralatan minum the perakmu sementara bola mata kirinya menyorotkan warna merah darah yang menyala layaknya bara api yang menyala, dan itu sangat kontras bagimu. Kau menyimpulkan, bahwa itu bekas luka yang ia dapat saat melawan Akuma, yang menandakan bahwa pemuda berparas indah di depannya ini sebenarnya memiliki masa lalu yang jauh lebih kelam dari yang bisa ia bayangkan. Kemudian kau memutuskan untuk menutup mulutmu rapat-rapat dari pertanyaan yang mungkin mengingatkannya akan masa lalunya. Kau memutuskan untuk mengenalnya sebagai seorang Exorcist bernama Allen Walker dan peliharaannya yang bernama Timcanpy—sering Allen memanggilnya hanya dengan 'Tim' saja. Kau tak ingin bertanya darimana dia berasal; apakah ia dari Black Order atau seorang independen. Melihat rautnya yang menggelap saat kau menanyakan profesinya saja sudah merupakan jawaban kompleks yang membuatmu menyesal.
Kemudian tanpa sengaja kau menarik pandanganmu pada rambutnya yang acak-acakan, namun mengisyaratkan pada siapapun yang melihat bahwa rambutnya seputih dan selembut salju. Kau tak sadar bahwa saat kau mengagumi rambut putihnya yang malah menurutmu membuatnya terlihat sangat indah, sang Walker menyadari semua perhatianmu padanya, memilih diam dan mengelap Tim yang belepotan selai raspberry buatanmu.
"Teh buatanmu sangat enak, juga semua snack ini," Allen membuka pembicaraan kedua kalian sejak di gereja. Kau menunduk tersipu sebagai ucapan terima kasih, kemudian menawarkan padanya. "Jika kau masih lapar, aku bisa membuatkan sandwich atau cottage pie untuk nanti siang?"
"Aah, terima kasih!" tanpa sungkan ia justru terlihat gembira. Kau langsung menangkap bahwa sebenarnya pemuda di hadapannya ini sungguh banyak makan, dan kau bersyukur bahwa kau baru saja menerima gajimu serta uang santunan dari kepolisian tempat adikmu bekerja yang mungkin memang tidak seberapa untuk membelanjakan dua kali lipat jatah makanmu selama sehari.
Allen Walker terdiam sejenak sebelum menyuarakan pemikirannya untuk membantumu mencari uang tambahan sebagai rasa terima kasihnya, dan kau setuju saja karena kau ingin melihat bagaimana kemampuannya dalam beratraksi yang ia ceritakan kepadamu. Kemudian kalian sepakat membeli beberapa perlengkapan badut sore ini di toko termurah yang kau tahu.
Kau bahagia. Tanpa kau tahu alasannya, kau bahagia bisa bersamanya berjalan menyusuri daerah yang tak kau kenal dengan baik.
Kau bahagia saat bersama Allen.
Tapi kau tak tahu bahwa ia pun bahagia saat melihat senyummu.
.
.
Tujuh hari tinggal bersama Allen. Tujuh hari bersama seorang pemuda yang menyelamatkanmu, yang merebut hatimu, yang dengan senyumnya, membuat harimu terasa begitu ringan, membuat perasaanmu seolah dipenuhi oleh kupu-kupu silver bercorak merah. Tujuh hari yang mungkin hanya dihiasi dengan kegiatan yang biasa.
Di pagi hari, kau terbangun saat matahari terbit. Kemudian kau menyiapkan naskah yang kau butuhkan untuk diketik, memasak air keperluan seharian, dan mulai membersihkan cottage tanpa membangunkan Allen. Kadang kala Tim akan bergabung dengan hanya bertengger di bahumu, kadang ia ikut menarik taplak meja-meja sebelum kau menggantinya dengan yang lain. Saat Allen bangun pada jam tujuh, ia akan membantumu membuat sarapan atau menata peralatan. Sembari mengobrol, kalian akan bertukar cerita mengenai apa-apa saja yang kalian temui saat kalian tidak berada di rumah; kau tidak menyadari bahwa di saat-saat tertentu, saat kau tertidur di tengah malam atau saat kau tak berada dirumah, Allen Walker akan bertarung dengan Neah yang ada di dalam dirinya, tapi tentu saja kau tidak tahu menahu apapun mengenai apa yang terjadi dan apa yang dimiliki Allen. Kau sering mendengar pengalaman Allen yang menceritakan tentang masa kecilnya saat bersama ayah tirinya yang seorang badut sirkus, Mana Walker. Kau sering mendengar tawa lepasnya saat kau mengatakan sesuatu yang menurutnya lucu, seperti saat kau bercerita mengenai kekesalanmu terhadap editormu yang aneh.
Kemudian senyum bahagiamu akan mengembang.
Di satu hari saat kau luang, kau akan mendampingi Allen memberi pertunjukan dan kau menjadi gadis á la Victorian yang mengenakan topi penuh renda, membagi-bagikan permen pada anak kecil untuk kemudian menerima uang dari orangtua mereka yang terkesan dengan pertunjukan sirkus Allen. Dengan penghasilan Allen, kalian akan bergandengan tangan menuju toko sayur untuk membeli keperluan makan malam, kemudian menyuruh Allen membeli jas atau mantel baru mengingat mantelnya yang sudah sangat tidak layak dilihat. Allen tertawa. Akhirnya kalian membeli mantel Allen yang baru, dan kau menjahitnya sekali lagi untuk membuatnya awet selama mungkin, mengingat mungkin setelah ia meneruskan perjalanannya kembali, mungkin dia akan terlibat dengan pertempuran dengan paman-bersuara-kakek yang akhirnya kau tahu bahwa dialah sang Earl Millenium.
Kepalamu terasa terhantam sekejap setelah pemikiranmu.
Kau berpikir cepat atau lambat Allen akan meneruskan perjalanannya.
Kau mengintip dari balik dinding dapurmu saat mempersiapkan makan malam, melihat Allen yang duduk di ruang makan tengah memandangi jendela sementara Tim terbang di sekitarnya. Pandangannya lurus ke depan, namun ia sedang tidak berfokus pada apapun yang ada di depannya. Ia melamun, dengan bola mata yang seolah dipenuhi dengan kekalutan dan perasaan-perasaan yang tak kau kenal. Ia bahkan tak menyadari dirimu yang tengah berdiri di belakangnya dan Tim yang hinggap di bahumu penuh kejinakan.
Kau ingin memanggilnya, dan kau tidak melakukannya. Kau memandanginya lama-lama.
"Allen…jangan bersedih…"
Tubuhmu memutuskan untuk memeluknya.
.
.
.
TBC
.
Author's Note :
haaaaiiiii saya kembali dengan berangan-angan ingin pacaran sama Allen...*kemudian dihantam fanclubnya*
saya terinspirasi ini setelah liat Kuroshitsuji edisi special 'Welcome to the Phantomhive', semoga kalian menyukainya haha. Tenang aja, bad end kok /dihantam
Setting cerita ini adalah tenggat waktu tiga bulan setelah Allen lari dari Central, ini adalah perjalanannya sebelum ditemukan oleh Kanda dan Johny XDa
Tapi saya bingung enaknya Link dimunculin ato nggak berhubung dia itu kan udah tau lokasi Allen dari awal...kayak ninja itu orang =w=)a *dan author di gergaji Link Howard*
Akhir kata, selamat menikmati dan jangan lupa reviewnya atau saya nggak akan melanjutkan ffn ini...ohoho /kabur
-Ashikaga Shu-
