My Wife is Hinata.
Chapter 1.
.
.
.
.
cerita yang terinspirasi dari 'My GirlFriend is Guminho' dan saya rombak sedikit *?* ini tercipta dan didedikasihkan *lho?* kepada onii saya yang tidak mau dipanggil Oppa :D hhihi ini untukmu Pa.. XD terimakasih sudah menemani Hika dan mensuport Hika selama ini =) terimakasih juga telah bersabar menghadapi Hika yang kelewat keras kepala ini =) luph u pa! *geplaked*okeh kita mulai saja ya! XD gomenasai cerita hika yang lain ga berlanjut *?* T_T dulu.. *plakk*
.
.
.
.
Disclaimer: Mas Kishi! XD.
Pairing: always Sasuke X Hinata. xD
Genre: Romance/Humor *?*
Rate: T-M hihi! Perdana! *PLAKK*
.
.
.
WARNING: AU, OOC, TYPO, GAJE!, DKK, DLL!
If you not like?
Don't read!.
.
.
.
.
"Mmm! Iya! Iya! Kau benar! Kemarin Shikamaru Nara kalah."
"Apa kau berbohong?"
"A-apa maksudmu, Hime?"
"Baka! Kemarin kan kau tidak ikut melihat pertandingan Shikamaru dengan Temari? Bermain game?"
"Aaa! Benarkah?"
"Baka!"
BLETTAAKK!
Satu jitakan yang lumayan keras Hingga mampu membuat kepala Naruto menjadi benjol sempurna berwarna merah dari Sakura kini telah sukses menjadikan Naruto meringis kesakitan sekarang, saudara-saudara! *GUBRAKK!* penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah Naruto sendiri yang pelupa. Hoho! *dilempar ke kali*.
"Hn, Baka." Sasuke berkomentar pendek. Kemudian pemuda itu membetulkan kembali letak kacamatannya yang Sedikit melorot turun, lalu membaca buku putih yang isinya tentang dunia kedokteran itu lagi. Sepertinya gossip yang beredar dikalangan mahasiswa dan siswi itu benar, 'BAHWA: Si JENIUS SASUKE mengalami KELAINAN LANGKA! Yakni MENGHEMAT KATA!'
Ckckck.
"Sakura-chan.. itaii.." Naruto berkata sambil memegangi kepalannya yang benjol dengan indahnya. Ribuan liter air mata memelas tampak mengalir dengan ironisnya dari mata- biru cerah bak air laut-nya. *ditendang ke Pluto*. "Huee.. kau tega.." katannya kemudian sambil mengerucutkan bibirnnya. Sungguh janganlah engkau meremehkan Sakura. Meski ia seorang Wanita, namun tenagannya mengalahkan puluhan ekor Kuda, ITU FAKTA dan okey, itu berlebihan. *Gubrak!*.
"Salah siapa menjadi pelupa." Kata Sakura tak menyesal dengan perbuatannya. Meski begitu, ia kasihan juga sih.
"Heii.. itu kan wajar dan tidak disengaja?" Naruto membela diri dengan mencomot roti di piring pesanannya-yang ia pesan tadi, kmudian memakannya dengan lahap. Hmm sungguh lezat!
"Tidak wajar kalau setiap hari," kata sakura mengalah, lalu ikut mengambil es cappuchinonnya dan meminumnya pelan. "Sasu, kau tidak mau makan apa-ap-"
"Tidak, terimakasih." Sasuke mengeluarkan suaranya yang sedari tadi tak keluar sepatah katapun *?*. membalik halaman buku yang ia baca, dan membacannya lagi, begitu sampai seterusnya. Tampak sesekali cincin putih yang melingkar di jari kanannya berkilau diterpa cahaya lembut sore itu. Pemuda Uchiha ini tampaknya benar-benar tak berminat untuk berbicara sekarang? Yah, ia terlalu serius membaca.
"Err.. teme, ku dengar ada anak baru yang masuk sama dengan jurusanmu?" Naruto menatap serius Sasuke setelah menghabiskan Roti super jumbonnya. pemuda Rambut pirang itu agaknya bisa juga serius *GUBRAK! Di bunuh Naru Fc*.
"Hm? Aku tidak tertarik," Sasuke menutup buku tebalnya dan menaruhnya kedalam tas berwarna Hitam polosnya. Naruto dan Sakura hanya saling menatap heran. "Sudah jam Empat sore, aku pulang duluan. sampai jumpa." Katannya begitu saja dan langsung meninggalkan Sakura dan Naruto yang kini hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalannya maklum. Sungguh pemuda yang hemat kata! –bahkan untuk berpamitan, pun. Katanya sangat sedikit!
Kafe itu mulai sepi karena hari mulai sore, setelah pulangnya Sasuke, hanya ada Sakura dan Naruto serta beberapa orang lagi disana. Saling berbincang ringan dan untuk beristirahat sejenak. Melepaskan penat yang mendera sekejab, dan untuk menyegarkan badan kembali.
.
.
.
.
Langit sore itu kini perlahan menjadi gelap. Sasuke membuka pintu apartemennya pelan, memasuki ruang utama tempat tinggalnya itu, lalu menutup pintunnya lagi. Sungguh sepi tinggal disini sendirian, apalagi, ia tak mempunyai teman yang bersedia tinggal dengannya. Naruto? Orangtuanya tak akan mengizinkan bila putrannya itu merepotkan oranglain, meski sudah Sasuke jelaskan, dengan lembut Minato masih juga menolaknya. *halah*. Melepas sepatu, Pemuda itu kemudan menaruh sepatu adidas warna putihnya ke dalam rak yang khusus tempat menaruh sepatu yang berada tepat di samping kiri belakang pintu.
"Kau sudah pulang, Sasuke?" Mikoto menyapa putra keduannya, Sasuke Uchiha yang sekarang tengah menatap ayahnya-Fugaku Uchiha yang sedang berdiri dihadapannya.
"Ya, Okaa-san." Jawabnya pada sang ibu yang sedang membereskan dapur di apartemennya, lalu menoleh lagi untuk menatap ayahnya yang sekarang tengah menatapnya tajam.
"Ada apa Tou-san dan Kaa-san datang kemari?" katannya mengintrogasi.
"Kau pasti sudah tau apa maksud ayah," kata Fugaku tak kalah tajam, mengimbangi sang anak.
"Aku tidak mau. Aku masih kuliah, ayah!" suara Sasuke meninggi, membuat Mikoto yang mendengarnya segera melepaskan celemeknya dan ikut nimbrung dengan suami dan anaknya. Wanita paruh baya itu mulai cemas sekarang.
"Sasuke!" Fugaku membentak putra pertamannya. Membuat Sasuke yang belum melepaskan kacamatanya terdiam, namun tetap menatap ayahnya tajam. "Kau sudah dewasa! Harusnya kau bisa berfikir, bodoh! Ayah hampir bangkrut!"suara Fugaku juga mulai meninggi. Menampakkan urat lehernya yang terlihat jelas sekarang. Mikoto-isterinya kini tampak sibuk menenangkan Fugaku dengan mengusap-usap pelan dada suaminya itu sayang, ia berharap agar suaminya itu tidak terserang penyakit jantung karena hal ini.
"Fugaku.. sudah.. tenanglah.." kata Mikoto lembut. Dan cara itu berhasil, Fugaku kini mulai tenang dan mulai mengatur nafasnya yang semula memburu. Pria berusia empat puluh empat tahun itu perlahan duduk di kursi ruang tamu yang ada di apartemen Sasuke, Mikoto menyusul kemudian.
"Sasuke, dengarkan ayah." Katanya pelan sambil menatap putra bungsunnya lembut. "Ayah tak lagi muda, perusahaan kita kini telah terancam bangkrut. Jika kau mau melanjutkan kuliahmu, ayah tak sanggup lagi membiayaimu." Katannya serak-mencoba tegar menghadapi semua ini. Sasuke tampak bergerak pelan-melepaskan kacamata putihnya dan mendengarkan sang ayah dengan menatapnnya serius. "Seperti yang kau tahu, bahwa tidak ada perusahaan lain yang mau memberi kita pinjaman dalam jumlah yang besar, keluarga Yamanaka-teman ayah juga hampir mengalami nasib serupa dengan kita, perusahaan Akimichi juga mulai kekurangan dana di keuangannya." Fugaku terdiam, ia ragu melanjutkan perkataanya, ia tahu Sasuke amat keras kepala, namun bisakah ia menjadi penyelamat untuk sekarang ini saja?
"Aku tahu, ku dengar ayah telah cerita masalah ini pada Perusahaan Hyuuga, bukan?" Sasuke menanyakan, ia tahu betul posisi keluargannya. "Besan ayah." Katannya kemudian.
"Ya, mereka dengan senang hati bersedia membantu kita.. tapi-" Fugaku kembali terdiam, sungguh mengapa hanya untuk mengucapkkan kalimat ini saja rasannya begitu sulit?.
Sasuke menatap cincin putih yang melingkar manis di jari manisnnya, yang disana bertuliskan sebuah nama. Mengambil nafas panjang, kemudian menghembuskan nafasnya pelan. "Syaratnya berat,"
Fugaku berdiri, mendekati anaknya dan langsung duduk bersimpuh dihadapan sang anak. Sasuke terbelalak. "A-ayah!"
"Ayah mohon kali ini saja, Sasuke.. kali ini saja. Bantulah ayah.. jika kau tidak mau melakukannya, kita akan mati kelaparan.. rumah ayah sudah menjadi jaminan bank.." kata Fugaku lirih, bulir-bulir air mata tampak mengalir pelan dari kedua pelupuk matannya. Mikoto hanya bisa membungkam mulutnya dengan keduatangannya dan menagis terisak melihat pemandangan ini, sungguh menyedihkan!
Sasuke menatap kedua orangtuannya sayu, setelah berkutat sebentar dengan fikirannya, Sasuke mengalah. kemudian ia berkata "Baiklah ayah, aku akan melakukan apa yang ayah mau. Tapi berdirilah." Katanya pelan sambil membantu fugaku untuk berdiri, tampak Fugaku tersenyum miris setelah ia berdiri, miris kerena menerima jawaban dari Sasuke.
"Maafkan tou-san," katannya lemah.
.
.
.
.
.
.
.
Sepulang Mikoto dan Fugaku pukul sembilan malam tadi, Kini Sasuke masih sibuk mengerjakan tugas kuliah yang dua hari kemudian harus ia kumpulkan, mata hitam lekatnnya tampak serius memperhatikan Keyboard-laptopnya, memastikan bahwa tak ada kesalahan kata saat ia mengetik. Jemari kekarnya bergerak lincah memencet huruf-huruf yang terpisah di keyboard berwarna hitam kesayangannya. 'sempurna,' katannya setelah selesai mengetik dan mengecek kembali apakah ada kesalahan kata di tugasnya itu. Selesai dengan tugasnya, Sasuke segera meng-save datannya dan akan meng-printnya besok.
Menutup layar laptopnya, Sasuke segera mengambil handphone yang tergeletak begitu saja di meja-samping kiri laptopnya. Mengecek layarnya dan menemukan satu pesan masuk.
Dari: Hinata-H.
Pesan: Sasuke-kun, apakah kau sudah makan? Mengganggukah jika aku mengantarkanmu makanan?
Diterima: pukul 21.30.
Sasuke segera melirik jam tangan di tangan kirinnya, 'Sekarang pukul Sembilan lebih empatpuluh menit, berarti baru sepuluh menit lalu,' kata Sasuke dalam hati. Segera saja jemarinya mengetik balasan sms dari Hinata. Kebetulan tadi ia belum makan, Mikoto tadi ternyata tidak masak untuknya, mungkin karena sedang gugup-gugupnya menguntarakan niatnya pada Sasuke.
Untuk: Hinata-H.
Pesan: Boleh.
Send.
Setelah menunggu selama lima detik, terdapat laporan, 'Terkirim Ke: Hinata-H.'
Sasuke tersenyum tipis, kemudian ia keluar dari kamarnya dan menuju dapur, menunggu Hinata-isterinya.
.
.
.
.
.
"Sasuke-kun?" terdengar suara di depan pintu apartemen Sasuke. Tersenyum, Sasuke segera berjalan agak cepat menuju pintu dan membukannya. Lumayan lama juga kedatangan Hinata, dua puluh menit.
….…. Hinata P.O.V…..….
Pintu besar berwarna Cokelat muda itu terbuka, sungguh aku gugup sekali! Meski aku dan Sasuke telah menikah dua bulan yang lalu, namun Tatap saja,a aku masih merasa canggung! Astaga.. kami-sama.. tolong aku.
"Hinata? Kau sudah sampai? Ayo masuk." Eh-ehh? Dia menarikku masuk? A-apa yang-astaga.. tangannya kuat sekali menarikku? Apa boleh buat, aku hanya bisa nurut. Tanganya sangat kuat menarikku hingga aku tak bisa melawan sama sekali. "Kenapa kau lama sekali?" aku memutar badanku. Dan kini ku lihat ia sedang mengunci pintu apartemennya. Aku hanya bisa merunduk Malu menyembunyikan warna merah wajahku yang entah mengapa selalu muncul saat dihadapan Sasuke.
"Mm.. g-gomen, tadi agak mace-kyaaa!" kurasakan tubuhku terangkat dan seakan melayang. a-apa yang dilakukan Sasuke? Ia menggendongku? "S-sasuke-kun!" jantungku serasa mau lepas dari tempatnya! Apa yang ia lakukan? Aku menyempatkan diri menatap matanya dan ia.. bibirnya-tersenyum? Kyaaa! Apa yang ia lakukan?
Kulihat ia begitu santai menggendongku ala bridal-style. Kyaaaa! Aku mencoba berontak dengan apa yang dilakukannya, sungguh! Ini diluar dugaan!
"Sstt.. jangan berontak," katanya pelan, sambil membawaku menaiki tangga-lantai dua, kamarnya. Astaga! Apa yang akan ia lakukan?
"S-sasuke-kun, ap-apa yang akan kau la-lakukan?" kataku dengan badan yang masih berontak-takut.
"Aku hanya ingin menolong ayahku dan menuruti permintaan ayahmu agar bisa menolong ayahku." Katanya sambil membuka pintu kamarnya pelan, dan mendudukkanku pada pinggir tempat tidurnya yang berwarna putih polos.
"M-maksudmu?" aku tak mengerti. Apa mau tou-san? Setelah menutup pintu kamarnya, ia menghampiriku dan duduk disampingku. "Kau tahu, kan? Alasan kita menikah?" katanya menatap mataku lurus tanpa berkedip. Kyaaaa!
Aku merunduk malu, wajahku merah padam. "B-bisnis?"
"Ya." Katanya pendek, "Perusahaan kami sekarang sedang krisis dan membutuhkan dana yang sangat milyar." Aku memberanikan diri dan menatap wajah tampannya-suamiku. Kyaaaa! Aku bisa gila sendiri! Ini begitu… HOT!
"Kami ingin meminjam uang ayahmu, dia bersedia. Namun ia tidak bisa meminjami banyak, hanya seperempatnya." Kata Sasuke lagi.
DEG!
Tou-san tidak mau membantu? Ta-tapi kan- ini besannya sendiri! Aku kecewa dengan ayah! Sungguh-dia… Mengapa tou-san tak mau membantu menantunya-anaknya sendiri? Aku membuka mulutku, namun sebelum kata yang akan aku katakan keluar..
"Tapi.." tapi? Dia memotong perkataanku, Aku segera menoleh menatap Sasuke lagi.
"Ia akan memberikan kami pinjaman uang-ah akan memberikan kami seratus milyar secara Cuma-Cuma jika-" Kulihat Sasuke-kun mulai mendekati wajahku, a-apa yang akan ia- KYAAA! Jangan!. Ohh belum tentu ia akan menciumku! Astaga.. Hinata, kau gila! Aku meruntuki diriku sendiri, mengapa aku selalu berfikir 'itu' jika didekat Sasuke-ehemm Sasuke-ku ini..
"Jika aku bisa membuatmu hamil dan memberikannya cucu," katanya berbisik menggoda ditelingaku.
DEG!
CUCU?
"UAPAA?" aku terlonjak dari tempat dudukku dan berdiri dihadapan Sasuke dengan wajah yang sangat kaget. Tou-san ingin aku dan Sasuke…?
…Normal P.O.V…..
.
.
.
Sasuke menatap isterinya serius, namun bibirnya tertarik-untuk membentuk seulas senyuman tipis khas Sasuke. Memperhatikan wajah merah padam Hinata atas ulahnya. "Bukankah Kita memang belum melakukannya?" Sasuke semakin menggoda Hinata yang masih mematung di depannya dengan warna merah saus cabai menghiasi wajah Chubby Hinata. "Kurasa inilah saatnya, lagipula.. ini kewajibanmu, bukan?" Sasuke tersenyum menggoda, sedetik kemudian, ia bangkit dari tempat tidurnya, dan berdiri. Melangkah melingkari Hinata yang sekarang masih terlihat shock sebelum akhirnya berhenti tepat di belakang tubuh Hinata.
"Sa-sasuke-kun," Hinata berkata pelan setelah ia lama menjadi patung-plakk! setelah baru saja ia mencium bau wangi Mint yang menguar dari tubuh Sasuke yang sekarang di belakangnya. Sasuke hanya diam tak menanggapi, apa boleh buat, ini demi ayah-dan keluargannya.
Memejamkan mata, Sasuke mengulurkan tangannya dan..
Grepp!
Mata Hinata terbelalak , Sasuke-memeluknya.. dari belakang? Mata Lavender itu membulat Seketika, Nafas Hinata memburu bersama detak jantungnya yang semakin liar, 'Kami-sama..' Hinata memejamkan matanya, apa yang harus ia lakukan.. menolak atau.. menuruti kewajiban? Ohh..
Perlahan tapi pasti.. Sasuke memeluk tubuh Hinata yang semakin memanas dengan lebih erat, lebih.. dan Lebih lagi.. hingga membuat Hinata hampir mati kehabisan nafas.
"Hinata.." Sasuke berkata pelan, lalu memeluk perut Hinata Yang datar. Hinata hanya diam.. sungguh. Ini membuat jantungnya ingin lepas dan berlari dengan riangnya *?* JIKA ITU TERJADI.. tapi sayang ini hanya fanfic yang tidak akan saya lakukan guna menjaga Hinata agar tetap Hidup. Haha! *PLAKK ditendang ke kandang sapi*
"Hinata.." Sasuke mulai mencium lembut pundak Hinata, membuat gadis Indigo itu semkin memejamkan matanya takut.
Sasuke berkata pelan sambil memgusap perut Hinata. "Maukah kau?" katanya sambil masih-sibuk mengecup Pundak Hinata lagi. Hinata merunduk, memikirkan mau tidaknya. Setelah terdiam.. ia lalu memegang tangan Sasuke perlahan. Membuat Sasuke mengerutkan alisnya yang sebelah *?* 'Ia menolak?' Sasuke masih menunggu reaksi Hinata selanjutnya. Sungguh.. 'Hinata, tolonglah aku, demi keluargaku,'
Hinata membalikkan badannya, dan mengusap pipi Sasuke pelan jemari lentiknya mengusap pipi putih Sasuke sayang. Senyum indah tampak menghiasi wajahnya yang masih merona merah akibat ajakan Sasuke tadi yang sangat-begitu… WOW!.
Demi mertuanya, dan Dengan hati yang mantap.. Hinata berkata, "a-a-ayo.. k-kita… Lakukan."
.
.
.
.
.
Pagi itu Sasuke membuka mata Onyxnya, menerawang atap kamarnya yang berwarna putih, lampu di kamar itu masih menyala terang, astaga.. semalam berarti ia belum mematikan lampu seluruh rumah. Mengerjapkan mata, Sasuke mengambil nafas panjang sebelum ia duduk. Ia bergerak pelan. 'Ada apa dengan tubuhku? Berat sekali.. astaga.. seluruh tubuhku pegal sekali! Apa yang aku lakukan kemarin ? ahh mungkin tugas kulia-' Belum sempat Sasuke menyelesaikan 'argumentasi' dengan dirinya sendiri, pemuda yang masih setengah waras *PLAKKK dibuang ke amazon* pemuda yang setengah sadar itu merasakan ada yang menggeliat di sekitar dadanya. Merasa ada yang aneh.. ia segera melihat ke TKP *GUBRAKK!* dan.. tampaklah perkaranya, Sasuke membulatkan matanya dan langsung membekap mulutnya sendiri yang hampir berteriak : "AUUU..OOOO…" *GEPLAKED!*
Mata Onyx itu terbelalak lagi, wajah Sasuke langsung merah padam melihat HINATA yang MASIH TIDUR dengan menaruh KEPALANYA DIDADANYA. OHH! Ditambah lagi.. pemandangan yang begitu HOT! DIMANA Hinata tidur dengan tubuh atasnya yang tak terbalut apapun, membuat Sasuke meneguk air ludahnya secara paksa karena melihat 'pemandangan' yang begitu WAH.
Dan…
Secara pelan tapi pasti, Sasuke merasakan ada yang mengalir dari hidungnya, "Whaaaa!" Dan Sasuke tertidur lagi –pingsan- dengan nosebleednya yang indah! :D.
.
.
.
.
.
*kabur sebelum ditannya kapan update chapter 2* ARIGATOU MINNA UDA BACA ^o^ Hihi gomen ne, hika ga tau kapan update chap fic ini dan yang lain.. soalnya Hika g pnya modem :'( Hiks.. *PLAKK* ini cma made in minjam XD *gubrakk* yang jelas, Hika akan usahakan kok.. Hika akan cpet update chap bagi yang request, harap sabar ya … =)
Yosh sekian dari Hika, sekali lagi.. arigatou.. *bungkuk*
Sampai bertemu di chap depan ) salam hangat..
Hikari No Aoi.
*dadah2# ^_^
