.

.

.

title: repetition.

[chapter1: prolog.]

disklaimer: happy tree friends (c) mondo media.

[—tidak ada keuntungan material yang diperoleh dalam pembuatan fiksi ini.]

n.p: kyrie eleison - 初音ミク APPEND.

sinopsis: [Human!AU] sebuah penginapan kecil di tengah hiruk-pikuk kota. pertemuan tak terduga antara dua orang yang sama-sama membenci dunia namun memiliki perbedaan signifikan. serupa, tapi tak sama; apakah ada cinta?


Suara lirih dentingan lonceng kembali terdengar, perlahan pintu masuk penginapan kecil yang didirikan oleh dua orang gadis terbuka lebar, membawa masuk angin malam dan seorang pemuda yang memiliki manik mata hijau terang, yang seolah membawa ketenangan luar biasa kepada tiap orang yang menatap langsung bola matanya.

Kedua gadis penjaga kounter menghentikan percakapan kecil mereka, lalu kembali berdiri tegak bersiap melayani tamu yang datang beberapa saat yang lalu. "Ah, selamat datang! Ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu gadis, dengan rambut biru yang digerai, dan bunga merah jambu menghiasi rambutnya.

Pemuda yang memasuki penginapan tersebut langsung melangkah mendekati kedua gadis itu, "Aku memesan satu ruangan, untuk empat hari ke depan." balasnya, "Ada atau tidak?" kedua gadis tersebut membolak-balikkan buku tamu berwarna merah, lalu salah satu dari mereka—dengan rambut berwarna merah panjang dan berantakan.

"Ah, kami memiliki satu ruangan di ujung lorong, kamar nomor 210, sebelah kanan." kata gadis dengan tanda pengenal yang bertuliskan 'Petunia'. "Anda masih mau menyewa kamar tersebut?" tanyanya sopan.

Si pemuda bersurai hijau daun mengangguk cepat, dan gadis berambut merah menyerahkan kunci kamar dengan gantungan kunci bermotif bunga, dan nomor 210 tertera jelas di antara motif bunga itu. "Hati-hati dengan penghuni kamar nomor 209 ya?" kata Petunia, kemudian menunjuk sopan lorong di samping meja kounter tempat mereka berada.

Kata-kata si gadis sempat tak dihiraukan oleh pemuda tersebut. Tapi, sadar tak sadar, pemuda tersebut sedikit mengangguk sebelum berjalan menuju lorong yang telah ditunjukkan oleh Petunia.


.

.

.

Pagi hari di kamar nomor 210, sinar matahari menyeruak masuk melalui celah-celah tirai jendela. Si pemuda dengan surai hijau sedikit menggerutu, sebelum ia memosisikan tubuhnya untuk duduk di sisi tempat tidur, lalu menguap dan mengusap bagian belakang kepalanya.

Suara alarm yang bersumber dari telepon genggam-nya membuat pemuda itu sedikit mengerutkan keningnya. Tangannya meraih telepon genggam miliknya yang berada tak jauh dari jangkauannya, dan segera mematikan alarm yang—baginya—sangat mengganggu.

Ia melihat layar telepon genggam-nya, memasang ekspresi datar saat melihat jam analog pada layar handphone-nya—kala itu menunjukkan pukul delapan kurang sedikit. Sesaat kemudian ia berdiri, dan berjalan menuju kursi kayu yang terletak di depan meja baca, mengambil topi baret tentara miliknya.


Pintu dibelakangnya ia tutup rapat, kemudian ia mengunci rapat kamar yang ia sewa untuk empat—tiga hari ke depan. Lalu ia berjalan menuju kounter—dimana dua orang gadis yang tadi malam menyewakan kamar untuknya sudah tak ada, kini hanya seorang gadis berpita merah besar di kepalanya.

Si gadis menyadari kedatangan pemuda tersebut, lalu segera memandang tubuhnya yang melewati-nya. Suara denting lonceng menandakan pintu depan penginapan terbuka kembali. Dan saat si gadis hendak memberikan ucapan selamat datang pada tamu yang datang—

—tak ada apapun di depan pintu itu.

"Oh, ya! Petunia menyuruhku membersihkan kamar nomor 210 pagi ini." katanya, lalu mengangkat gagang telepon kabel dan memasukkan beberapa deret nomor. "Halo, ehm… Splendid? Kau bisa menjaga kounter sebentar?"

Beberapa detik si gadis terdiam, lalu ia mengeluarkan desahan kecewa, bersamaan ekspresinya yang berubah. "Aw, baiklah, mungkin lain kali saja." katanya, sebelum memutuskan percakapannya dan mengembalikan gagang telepon itu pada tempatnya. "Kalau begitu, mungkin meninggalkan kounter sebentar bukan ide buruk." gumamnya lalu berlalu memasuki lorong disamping kounter.


Ia memang tak bisa menghilangkan rasa bencinya pada lingkungan perkotaan, rupanya.

Kakinya melangkah ke sembarang arah, kadang menendang kerikil-kerikil yang ia temui di jalan. Sesekali juga ia mengangkat kepalanya, menatap langit biru yang terbentang luas diatas kepalanya, sambil merasakan angin yang menyapu wajahnya.

Baginya yang membenci dunia ini, mungkin ia memilih untuk mati di saat seperti ini; tapi, pada kenyataan yang terpantul di retina-nya, ia tak sanggup menghadapi kematiannya dalam kesendirian. Saat pikirannya bersua tentang kematian, hatinya seolah membeku detik itu juga.

Ia takut pada kematian.

(Pikirannya kembali melayang jauh.)

.

.

.

Lalu kakinya menghentikan langkahnya, saat ia merasakan sentuhan pada kedua pundaknya. Sekelebat ingatan mengerikan tentang masa lalu-nya yang kelam membuatnya secara releks mengambil langkah mundur dan berusaha menyingkirkan kedua tangan yang berada di pundaknya.

Pemuda bersurai hijau daun tersebut menatap wajah orang yang baru saja menyentuh pundaknya. Ketakutan tersirat dalam sinar bola matanya yang mengecil.

"Maafkan aku, aku mengagetkanmu, ya?" lawan bicaranya mengucapkan permintaan maaf, lalu melemparkan senyum halus padanya, "Hanya saja, tadi kau terlihat nyaris pingsan." ujarnya, sambil memandang kedua bola mata hijau milik pemuda tersebut.

Pemuda tersebut menghela napas, sedikit lega mengetahui orang dihadapannya tak memiliki niatan jahat padanya. "Kalau begitu… terima kasih ya," katanya lalu pergi melewati orang itu.

"Eh, tunggu dulu!" panggil pemuda bersurai biru langit, membalikkan badan dan menarik tangan pemuda yang baru saja melewatinya, membuat langkah kaki si pemuda terhenti, "Boleh kutahu siapa namamu?" tanyanya dengan sopan.

Tak sopan rasanya tidak memberikan namamu pada orang yang telah membuatmu sadar saat melamun di tengah kota yang rawan. "… Flippy." gumamnya, terdengar oleh yang bertanya, tak terdengar oleh dunia ini.

—Apakah dunia ini mau mendengar suaranya?

"Oh," balas si pemuda yang bertanya, "kalau begitu, aku Splendid." terangnya, kemudian mengulurkan tangannya pada si pemuda bersurai hijau cerah.

(Dan, tangan kanannya disambut balik oleh lawannya—walau dengan sedikit keraguan.)

"Ngomong-ngomong, kau tinggal di mana?" tanya Splendid, lalu menarik tangan Flippy agar berjalan bersama-sama dengannya. "Kuantar pulang deh, wajahmu pucat loh!"

Flippy sedikit protes saat pemuda berambut biru tersebut menggenggam tangannya dengan erat, mengeluh kesakitan. Saat pemuda berpakaian serba biru mendengar sumpah-serapah dari pemuda yang ia seret bersama, ia melepaskan genggaman tangannya, lalu berbalik dan menatap Flippy.

"Jadi, dimana rumahmu?" tanyanya, sekali lagi.

"Aku menginap di penginapan, disekitar sini kok. Tenang saja." balasnya, kemudian melangkah menjauh dari Splendid, dan melambaikan tangannya. "Oh, ya. Pakaianmu itu seperti orang idiot, kau tahu?"

Splendid mengenyit, "Ini pakaian seorang superhero, tahu!"


[bersambung… mungkin?


a/n: review? :'3 ((maapbangetsampeguepecahjadib eberapachapterkarenainiterla lupanjang))