My Editor
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Main Cast : U. Naruto & U. Sasuke (NaruxSasu)
Rate: M
Genre: Romance, Humor
Warnings: shounen-ai/ Yaoi, OOC, typo bertebaran.
Sumarry: Uzumaki Naruto seorang penulis novel icha-icha paradise series sering membuat ulah dan pusing sang pimpinan redaksi serta kepala editor dari tempat percetakan karna memecat editor pilihan dengan alasan yang konyol. Bisakah pihak percetakan menemukan editor yang sesuai dengan selera sang penulis?
Dont like dont reading
And klik close in your dekstop or tab...
Please enjoy in my story..
Happy reading minna-san
Chapter: 1
Jari-jari tan menari dengan lincah diatas keyboard, menciptakan kata demi kata yang indah. Tanpa memperdulikan sekitarnya, sang pemilik jari-jari tan tersebut tetap merangkai kata-kata untuk dijadikan sebuah karya yang sangat ditunggu-tunggu para penggemarnya. Mata berwarna blue shappire yang terlihat fokus pada layar laptop, bibir tipis menggoda yang sesekali terlihat menampilkan senyum erotis atau kalian bisa menyebutnya senyum mesum, rambut pirang yang dikucir belakang agar tak mengganggu mata indah itu untuk menatap layar menjadi pemandangan yang sangat indah di siang hari yang panas. Walaupun disekeliling sang pemuda terlihat sangat berantakan, tapi tak mengurangi sedikitpun keindahan dari ciptaan sang dewa. Pahatan dewa tersebut bernama Uzumaki Naruto, sang penulis novel yang terkenal dengan keerotisannya. Icha-Icha Paradise series itu adalah buku yang digarapnya sejak 1 tahun yang lalu. Selama 1 tahun itulah novel dan sang penulis menjadi sorotan dunia. Bukan karna tulisan sang penulis dan sang penulis sendiri yang menjadi alasannya tapi tema dari buku tersebut juga menjadi sorotan dunia. Novel tersebut mengangkat tema yang cukup tabu, yaitu GAY. Tapi anehnya justru tema tersebut banyak digandrungi oleh masyarakat dunia, menurut mereka meskipun bertemakan gay dan terdapat banyak adegan bedscane-nya, tidak membuat masyarakat muak ataupun mual. Dan menurut mereka juga kata-kata yang terangkai terlampau manis hingga para pembaca lupa telah membaca novel dengan tema gay.
Kembali lagi ke sang novelis yang sampai saat ini pun masih berada didunianya sendiri. Keheningan tersebut tetap terasa sampai sang perusak pun datang ti-
BRRRAAKKK
"Uzumaki-sensei!"
Bruukkk
-ba-tiba
Lengkingan dan debuman pintu adalah bencana pertama sang novelis, lalu terjungkal adalah bencana kedua yang datang pada hari ini, mungkin masih ada bencana ketiga, keempat. Who's know?
"Ouh.. Sensei? Dimana dia? Kata maid tadi ada didalam? SEENNSS-..."
'DIAMMMLAH YAMANAKA INO. KAU MAU BUAT AKU MATI JANTUNGAN, HUH?"
Teriakan menggelegar dari balik meja disertai munculnya sang penulis membuat teriakan yamanaka ino terhenti seketika.
"Apa yang kau lakukan disana Uzumaki-sensei?" tanya Ino tanpa memperdulikan tatapan sang shappire yang seakan-akan ingin mencabik-cabik tubuh wanita itu. Naruto hanya diam dan duduk kembali di kursinya dengan dengusan napas kasar tanpa memperdulikan pertanyaan dan tatapan polos dari sang editor. Melihat sang novelis duduk tanpa sungkan sang editor juga duduk di kursi berseberangan dengan sang novelis dibatasi oleh meja yang berantakan.
"Lain kali bersihkan dulu mejanya Naruto baru mengejar deadline." Omel Ino melupakan embel-embel sopan untuk sang novelis. Naruto kembali menghela napas kasar dan menutup laptopnya dengan malas.
"Urusai! Kau merusak siang yang tenang dan juga mood ku pig! Ada masalah apa kau kesini sampai-sampai harus teriak seperti orang gila diruanganku?" Tanya Naruto dengan nada ogah-ogahan disertai kalimat penghinaan yang jelas-jelas bisa membuat orang yang dimaksud menggeram marah.
CTTAAKK CTTAAKK
Dua perempatan muncul dikening Ino, ingin rasanya dia melayangkan tangannya untuk menggeplak kepala kuning tersebut kalau saja dia tidak memikirkan orang yang didepannya kini adalah sahabat dan orang yang dihormatinya. Jadi ia hanya menghela napas pelan untuk meredam emosi yang menuju ubun-ubunnya.
"Kenapa?" Pertanyaan absurd keluar dari mulut wanita bermata aquamarine yang sedang memijit pangkal hidungnya sambil menatap pemuda didepannya yang sedang menaikkan alis kanannya tanda ia tak mengerti apa maksud dari pertanyaan sang editor.
"hah? Apa maksudmu Ino?"
"Aku bertanya kenapa? Apa alasanmu?" Lagi-lagi pertanyaan absurd terlontar membuat Naruto mengerutkan kedua alisnya tanda ia semakin kesal.
"Ayolah Ino, jangan kau keluarkan pertanyaan absurd yang buat aku pus-"
"1 jam yang lalu kau mengirim email padaku, yang isinya membuatku ingin menenggelamkanmu dilaut lepas. Kenapa kau membuangku sebagai editormu? Apa alasanmu Naruto? Apa selama ini perkerjaanku amburadul, tapi seingatku aku tidak pernah buat kesala-"
"Karna mulutmu." Jawaban Naruto yang absurd nan datar menghentikan celotehan Ino.
"hah? Apa maksudmu 'karna mulutmu'? memang apa yang salah deng-"
"Karna mulutmu yang tidak bisa diam membuatku pusing." Lagi-lagi perkataan datar dari Naruto memotong protesan yang akan disemburkan oleh wanita itu. Ino mengerutkan alisnya tanda ia tak suka atas sikap Naruto yang seenaknya saja memotong dan menghina aset berharganya (read:mulut).
"oh.. ayolah Naruto itu hanya masalah sepele. Apa salahnya kalau aku... jangan potong ucapanku lagi Naruto!" teriak Ino tiba-tiba setelah melihat adanya gerak-gerik bibir Naruto yang ingin memotong ucapannya-lagi-. "apa salahnya jika aku cerewet, lagian aku seorang wanita wajar kalau aku cerewet, kan. Aku cerewet juga karna kerjaanmu selalu membuatku repot, entah itu ruanganmu ataupun naskahmu yang selalu melewati deadline. Kau mau menuruti deadline setelah iming-iming video erotis untuk refrensi novelmu. Do you know, Uzumaki Naruto-san? Menghadapi pihak percetakan itu sangat melelahkan, seharusnya kau beruntung karna memiliki seorang editor yang cerewet tapi mempesona sepertiku. Setidaknya pihak percetakan langsung bungkam saat aku memberikan alasan yang pas saat kau melewati deadlinemu. Tapi setelah dipikir-pikir hanya aku editor pribadimu yang bertahan sampai lewat 1 bulan, benarkan Uzumaki-san? " Kata-kata tersebut keluar dengan sangat mulus setelah membungkam mulut Naruto dengan teriakannya. Senyuman-seringai- Ino perlahan-lahan terkembang setelah melihat tidak ada respon sama sekali dari Naruto. Yah, sepertinya ucapan panjang kali lebar kali tinggi tersebut bisa mempengaruhi sang novelis untuk merubah pikiranya. Setelah beberapa menit berlalu, belum ada tanda-tanda Naruto akan merespon ucapan dari wanita yang ada didepannya tersebut.
"ahh!" tiba-tiba Naruto tersadar dari ucapan Ino."Memang hampir 100% ucapanmu itu ada benarnya, Ino-san. Tapi sebenarnya alasan utamaku memecatmu bukan karna mulutmu yang selalu ngoceh tapi karna kau bukan tipe editor pribadiku." Ucapan yang terlontar dari mulut Naruto melunturkan senyuman-seringai- Ino.
"Tipe? Tipe apa maksudmu? Iruka-san tak pernah menyinggung ini sebelumnya." Protes Ino
"Memang takkan pernah. Karna hanya aku dan mantan-mantan editorku saja yang tau masalah ini. Dan jangan tanyakan seperti apa tipe editor yang aku inginkan, karna aku takkan pernah memberitahukannya padamu dan juga kau tak akan pernah bisa berubah menjadi tipe -san, sekarang lebih baik kau keluar dari ruanganku. Lagi pula walaupun aku memecatmu sebagai editor pribadiku, kau tak akan dikeluarkan dari perusahaan. Jadi kau tenang saja. Nah Ino-san, kalau kau sudah paham pintu keluarnya disebelah sana. Aku mau mengejar deadline-ku. Terima kasih untuk kunjungannya nona Yamanaka Ino." Jelas Naruto panjang lebar yang diakhiri dengan pengusiran secara halus olehnya.
"aish..dasar kau, aku heran kenapa kau bisa dipuja-puja hanya karna wajahmu dan kata-kata yang manis yang kau buat di novelmu itu. Jika mereka tau seperti apa kau aslinya, aku jamin para penggemarmu itu sudah kabur semua. Sudahlah. Semoga kau mendapatkan tipe editor pribadi yang kau inginkan. Terima kasih juga untuk jamuannya tuan Uzumaki Naruto." Ketus Ino seraya membungkukkan badan sopan-yah, walaupun kau lagi kesal setidaknya jangan lupa sopan santun- dan berjalan dengan menghentakan kakinya dengan kasar dilantai, Ino keluar dari ruangan sang novelis dengan suara pintu yang dibanting Naruto hanya bisa menghela napas kasar melihat salah satu editor –atau sekarang kita bisa sebut dia mantan editor- yang kesal karna dia pecat dengan alasan konyol -itu menurut pimpinan redaksinya-.
Yah, pimpinan redaksi sertakepala editor dari percetakan sebenarnya tahu betul alasan Naruto selalu memecat editor pribadi yang dikirim oleh perusahaan. Tapi mau bagaimana lagi, dia sudah punya tipe tersendiri untuk editor pribadinya. Cuma dia yang tau tipe editor idamannya seperti apa. Hanya mata biru shappirenya lah yang bisa menilai. Hm... terserahlah, masalah editor biar dia sendiri saja yang mengurusnya. Walaupun dia tak akan menolak editor-editor yang akan dikirim oleh mereka.
"Aishh... Sudahlah, lebih baik aku melanjutkan untuk deadline 3 hari lagi. Cepat selesai bukankah lebih baik, setidaknya nanti aku punya waktu untuk pergi ke onsen..kkkhhhee" celoteh Naruto seraya membayangkan hangatnya air panas yang menerpa permukaan kulit tan sexi-nya nanti. Setelah merasa cukup untuk fantasi konyolnya tentang onsen ia merenggangkan otot-ototnya seraya membuka laptop dan mencari file yang tadi ia ketik. Naruto mengerutkan alisnya karna tidak menemukan file yang ia cari.
"Tunggu dulu, perasaan tadi filenya disini. Kenapa sekarang tidak ada? Aku tidak mungkin tidak menyimpan it-." Kata-kata Naruto terhenti setelah otaknya dipaksa untuk memutar apa yang terjadi beberapa menit yang lalu. Setelah Ino mendobrak ruangannya dan membuat ia jatuh dan kesal lalu dia.. lagi-lagi semuanya berhenti, setelah ia ingat apa terjadi.
"oohhh.. Tidak ..tidak ." Ucapan Naruto terdengar lemah, ia hanya menatap nanar laptop didepannya. Terlihat air menggenang dipelupuk matanya. Ia menjatuhkan kepala kuningnya di atas meja.
"oohh..demi dewa jashin yang dianut tukang kebunku, kenapa aku harus seceroboh itu. Hilang sudah angan-anganku mandi onsen." Ratap Naruto lirih.
"ini semua karna nenek lampir itu. YAMANAKA INO AKAN KUBUNUH KAU!" Teriakan menggelegar terdengar dari ruangan Naruto membuat para maid yang lewat didepan ruangannya memilih menyingkir dari sana.
"Apa ini adalah bencana ketiga yang datang hari ini? Demi kolor hijau dewa jashin apakah tidak ada bencana keempat yang datang pada hari ini?" Erang Naruto sambil mengusak rambut pirang.
well you only need the light when it's burning low
(Passenger- Let Her Go)
Naruto tersentak karna nada dering dari handphonenya yang tak jauh dari tangan tan tersebut tiba-tiba terdengar. Dengan ogah-ogahan dia mengangkat panggilan tanpa melihat dari siapa.
"Moshi-moshi." Ucapan salam dari Naruto terdengar sangat lirih terkesan ogah-ogan.
"Ahh..moshi-moshi Naruto-kun. Ini aku kakashi hatake-desu"
"hmm..ada apa kakashi-san?" tanya Naruto basa-basi kepada pimpinan redaksi percetakannya.
"Begini, aku mau minta konfirmasi darimu. Apa benar kau memecat Ino-sani pagi tadi?" tanya kakashi dengan nada yang dibuat santai.
"Yah.. benar kakashi-san, aku memecatnya. Ahh.. gomen aku memecatnya tanpa persetujuan dari kepala editor dan darimu. Sebenarnya aku ingin mengatakannya langsung padamu tadi, tapi karna ada insiden yang membuatku lupa dan juga sepertinya Ino-san sudah memberitahukannya pada kekasihmu lebih dulu." jelas Naruto dengan menekankan kata _kekasih_ diakhir kalimatnya.
"hm.. Tidak apa-apa Naruto-kun, aku tahu bagaimana pusingnya menjadi seorang penulis besar sepertimu." Ucap Kakashi santai."Ahh.. Apakah alasan kali ini sama seperti editor yang sebelumnya?" tanyanya.
"Yah.. Seperti biasa kakashi-san kau selalu tau alasanku memecat mereka semua." Jawab Naruto tanpa minat.
"Bagaimana aku tidak tahu kalau selama 1 tahun ini kau telah memecat 23 editor pilihan dariku dan Iruka-san langsung. Tapi setelah kupikir-pikir Ino-san mendapat predikat editor terlama daripada editormu yang lama, ya kan?"
"Hm.. Kau benar. Aku mempertahankannya selama 1 bulan ini karna dia adalah sahabatku dari sekolah menengah. Aku hanya tidak tega memecatnya secepat itu, tapi aku juga tak bisa mempertahankannya selama itu." Selama 1 tahun ini editor yang dikirim oleh Kakashi dan Iruka hanya bertahan selama 2 minggu tidak lebih, sungguh miris nasib para editor-editor yang pernah bekerja untuk mengurusi sang novelis. Padahal semua editor yang pernah dikirim adalah editor-editor senior dan handal dibidangnya, tapi ntahlah novelis yang satu ini memang sangat sulit untuk ditaklukan oleh editor-editor tersebut.
"Hahahaa.. Baiklah baiklah Naruto-kun, aku dan Iruka-san akan mencari editor baru untukmu. Akan kami carikan yang tidak membuatmu pusing dengan karna celotehan tak penting. Ahhh.. Aku tutup dulu ya Naruto-kun, aku punya urusan mendesak dengan Iruka-san."
"Kalau urusan yang kau katakan itu adalah mengeluarkan sperma dari lubang urinalmu, aku rasa tanpa bantuan Iruka-san pun kau bisa. Tapi kalau sudah membawa nama Iruka-san, aku yakin 100% kau akan mengeluarkannya didalam hole atau mulut kekasihmu itu." Ucap Naruto vulgar tanpa rasa bersalah sedikitpun. Well, setelah berkecimpung dengan kata-kata vulgar selama 1 tahun Naruto sudah terbiasa, sangat malahan. Karna kata-kata vulgar seperti itu adalah makanannya sehari-hari.
"Hahahaa... Seperti biasa kata-kata vulgarmu itu selalu tepat Naruto-kun." Gelak kakashi tidak marah sedikitpun dengan kata-kata Naruto yang vulgar.
"Terkadang aku bertanya-tanya kakashi-san, apakah hole kekasihmu itu tidak melar karna kau masuki setiap saat?" Tanya Naruto dengan nada penasaran yang sangat kentara.
"Well, kalau kau mau tau jawabannya kau harus punya pacar lelaki sendiri. Dan lakukan kegiatan yang selalu kau tuliskan di novel-novelmu itu setiap hari. Nanti kau bisa mendapatkan jawaban serta kenikmatannya Naruto-kun. Kkhhee." Ucap Kakashi santai di akhiri dengan kekehan nakal, yang terdengar mengerikan ditelinga Naruto.
"Tidak, terima kasih Kakashi-san. Aku bukan gay, aku masih normal." Tolak Naruto seraya menggeleng-gelengkan kepalanya untuk memperkuat tolakannya, yang pastinya tidak bisa dilihat oleh Kakashi.
"Yah, katakan itu pada orang yang selalu menghasilkan novel gay yang berkualitas." Balas Kakashi dengan jengkel. "Kau tau seluruh orang yang pernah membaca novelmu pasti berpikir bahwa kau itu gay, Naruto-kun."
"Hey..Kau sendiri juga tahukan bah..."
"Ya ya ya.. Aku tahu apa yang akan aku katakan Naruto-ku." Balas Kakashi memotong ucapan Naruto. "Sudahlah Naruto-kun, kita sudahi saja pembicaraan ini. Kau membuang waktuku dan membuat batangku sakit. Bye Naruto-kun, dan untuk editormu yang baru aku pastikan dia akan datang besok atau lusa. Oke."
"Oke.. Oke." Jawab Naruto seadanya. Lalu sambunganpun terputus dengan cepat, sepertinya Kakashi memang sudah tak tahan lagi menahan sakit di batangnya.
Duakk
"Arghhh.. Sudah berapa kali aku katakan pada mereka kalau aku masih normal. Aku 100% straigh man." Protes Naruto karna dianggap menyimpang oleh pimpinan redaksinya. "Sial, kenapa bencananya harus datang secara bersamaan. Hilang sudah harapanku untuk bersantai." Erang Naruto sambil menghantukkan kepalanya dimeja. "Lebih baik, aku keluar mencari udara segar ditempat biasa. Lama-lama diruangan ini hanya membuat mood hancur. Cih KUSSOOO!" Naruto kembali mengerang, membuat takut para maidnya.
Setelah puas mengerang Naruto beranjak dari duduknya untuk mencari udara segar. Berjalan keluar ruangan dengan langkah gontai, tak memperdulikan sapaan dari setiap maid yang melewatinya. Naruto mempunyai selera yang tinggi untuk tempat tinggalnya. Setelah 6 bulan dari rilisnya novel Icha-Icha Paradise the series, Naruto mampu membeli sebuah masion dipinggiran kota tempat tinggalnya serta memiliki beberapa maid untuk mengurus masionnya. Sekitar 10 orang maid dan sekuriti yang mengurus rumahnya. Ia sengaja memperkerjakan banyak orang agar masion besar itu tidak sepi, karna demi apapun Naruto sangat benci suasana yang sunyi. Naruto berlajan keluar gerbang masionnya masih dengan langkah gontai. Ia menyusuri jalan ke tempat biasa ia menenangkan diri dengan aura suram, hingga membuat beberapa orang memilih mengindari Naruto. Setelah berjalan sekitar 20 menit akhirnya Naruto sampai ditempat tujuannya. Tanpa pikir panjang lagi Naruto langsung menuju ke pinggiran danau untuk menyentuh permukaan air yang tampak sejuk itu. Yup, tempat ini adalah tempat favorit Naruto , karna disini ia bisa menghirup udara segar sekalian mendengarkan nyanyian alam. Sungguh menenangkan, dan sepertinya tempat ini hanya segelintir orang yang tahu.
Sebenarnya danau ini adalah alasannya kenapa ia membeli masion yang katanya angker itu, karena masion itu dekat dengan tempat bersejarah dalam hidupnya. Tempat ini tak sengaja ia temukan ketika bermain dengan sahabat masa kecilnya yang sangat berharga. Tapi sayangnya Naruto tidak mengingat seperti apa rupa sang sahabat karna suatu insiden yang membuat Naruto melupakan wajahnya, dan hanya kenangan danau itu saja yang tertinggal diingatan masa kecilnya. Tak terasa tangan Naruto hampir menyentuh permukaan air, ternyata memikirkan tentang masa kecilnya membuat ia melupakan sekitarnya. Disaat ia benar-benar akan menyentuh permukaan air, pandangannya teralihkan oleh seonggok benda yang berada tak jauh dari tempatnya berjongkok.
Deg deg deg deg deg
Untuk beberapa lama Naruto menikmati suara dari jantungnya yang berdetak tak normal, dan matanya tak bisa teralihkan dari benda- atau kita sebut saja tubuh- yang diam tak bergerak. Wajah damai itu menghipnotis naruto untuk tetap meamandangnya.
'Oh tuhan, mengapa engkau turunkan malaikatmu dihadapanku? Apakah ini adalah hadiah dari kerja kerasku selama setahun ini? Kalau iya, kau memang sungguh bermurah hati pada hambamu ini tuhan.' Inner Naruto dengan penuh percaya diri. Naruto benar-benar melupakan niatnya untuk menyentuh permukaan air yang membuat ia tenang, karna hanya dengan menatap sang malaikat sudah membuatnya lebih dari kata tenang.
Kulit putihnya terlihat bersinar karna terkena bias sinar matahari yang menembus dedaunan pohon sakura diatasnya, rambut hitam kebiruan melambai mengikuti arus angin yang meniupnya. Sang malaikat -menurut Naruto- berbaring diantara akar pepohonan sakura dengan tenang, menghiraukan kotoran yang akan menempel pada kemejanya. Dengan hembusan napas yang teratur, kelopak mata yang tertutup dan pastinya menyembunyikan warna mata yang indah didalamnya, bibir berwarna pink alami yang sangat menggoda, hidung mancung menambah kesan perfect sang malaikat. Didukung dengan kemeja hitam dan celana dasar ngepas untuk kaki jenjangnya dan sepatu pantofel yang membaluti tubuhnya, benar-benar membuat seorang Uzumaki Naruto lupa dimana ia berada.
'Aku merasa seperti berada di Nirwana.' Innernya kembali berbicara.
Sang malaikat tiba-tiba bergerak dan kelopak mata yang tadinya tertutup perlahan terbuka menampilkan warna mata yang kembali membuat Naruto terhipnotis.
Deg
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Haiii...
Selamat datang dicerita Ken yang baru...
Ken tau seharusnya Ken melanjutkan yang The sign, tapi otak Ken lagi buntu, dan kebetulan Ken menemukan harta karun, Tulisan yang sempat Ken lupakan akhirnya telah ditemukan kembali.. jadi Ken pikir nggak masalah untuk publish cerita ini...hehehehehe
Dan untuk chap depan ada adegan ena-ena nya... meskipun sedikit...
Terima kasih sudah mau membaca cerita Ken...
Voment Please
Arigatou Gozaimasu...
