Walaupun aku mengatakan 'benci' tapi sebenarnya dalam hati, aku tidak pernah membencimu, kaulah satu-satunya orang yang aku cintai, sampai akhir hidupku—

—Sasuke-kun


A Naruto Fict

By Mari-chan

True Love

Rate: T

Pairing: Uchiha Sasuke and Haruno Sakura

Genre: romance and angst

Warning: OOC, AU, typo dan cerita semau Author


Chapter 1

"Kita putus."

Seorang gadis dengan pakaian sailor itu mengatakan hal yang sangat jelas di dengar. Namun, itu tidak berlaku untuk pemuda yang saat ini berdiri di depannya. Telinganya mendadak tuli saat sang gadis mengatakan hal yang sangat tabu tersebut.

"Hn, apa maksudmu?" respon itulah yang diberikan pemuda berambut raven di depannya. Sekilas memang tampak acuh, tapi siapa yang tahu apa yang ada dalam hatinya.

"Aku mengatakannya dengan jelas 'kan, kita putus, Sasuke-kun," ulang gadis berambut soft pink itu.

"Kenapa tiba-tiba kau mengatakan hal itu, Sakura, jangan main-main," ucap Sasuke—sang pemuda berambut raven.

Sakura—nama sang gadis, terlihat menghela nafas sejenak sebelum akhirnya memberanikan diri menatap pemuda tampan yang berdiri di depannya.

"Aku serius, Sasuke-kun," jawabnya dengan nada tegas.

"Katakan apa alasanmu, Saku—"

"—Aku sudah mengatakannya 'kan, kita putus. Apa itu masih kurang jelas. Kau dan aku, sudah tidak ada hubungan lagi."

Jantung sang pemuda bernama Sasuke itu berhenti sejenak saat mendengar gadis yang ia yakini masih mencintainya ini mengatakan hal seperti itu, apa yang terjadi pada gadisnya ini?

"Katakan kenapa tiba-tiba kau bicara seperti itu? Kau pasti punya alasan 'kan, Sakura, Ayo jawab aku!" nada bicara pemuda bermata onyx itu sedikit naik saat mengatakannya. Namun, gadis di depannya tetap bergeming.

"Aku tidak mencintaimu lagi."

Bohong! Itulah yang diteriakkan sang Uchiha dalam kepalanya, bagaimana mungkin. Gadis cantik ini kemarin masih manja-manjaan padanya, kenapa hari ini dia bilang tidak lagi mencintainya. Ini gila.

"Hahahaha… kau ini, Saku. Bercanda saja. Tidak lucu, kau tahu. Hahahaha," entah sadar atau tidak, terselip nada kecewa dalam tawa pemuda bernama lengkap Uchiha Sasuke itu, dan wajahnya juga menyiratkan kegelisahan, kegelisahan yang amat mendalam.

"Aku tidak bercanda, mulai saat ini, hubungan kita berakhir."

Semua terasa hening bagi Sasuke, kalimat gadis di depannya seakan tidak pernah ada dalam pikirannya.

Melihat reaksi pemuda di depannya yang masih kelihatan shock, Sakura memutuskan untuk meninggalkan pemuda yang sudah menjadi 'mantan' nya itu. Namun, baru beberapa langkah, kakinya tertahan, lebih tepatnya, tangannya. Ada yang menggenggam tangannya dengan erat.

"Katakan alasannya, Sakura!" dan, spontan, Sasuke membentaknya. Membentak gadis yang paling berharga baginya tersebut. Sebenarnya, dia tidak akan berani membentak siapapun. Apalagi gadis di depannya ini. Pemuda penggemar tomat itu menunggu sang gadis musim semi untuk bicara.

Sang Haruno muda itupun akhirnya memberanikan diri menatap Uchiha bungsu di depannya, bola mata emeraldnya menatap sang onyx lurus-lurus dan berkata pelan namun tegas.

"Aku benci padamu."

Entahlah, apa yang ada dalam pikiran pemuda yang terkenal cool ini. Jiwanya seakan melayang tak tentu arah dan kemudian jatuh berantakan.

Sakura melepaskan pergelangan tangannya dari genggaman sang 'mantan' pacar. Dan berlari secepatnya meninggalkan sang pemuda yang masih berdiri mematung di depan ruang praktik kimia Konoha High School.

"Sakura."

Dan begitulah, hubungan sepasang kekasih yang sangat unik itu berahir begitu saja tanpa alasan yang jelas. Dan memunculkan tanda tanya besar di kepala sang pemuda, ada apa dengan Sakura-ku?

.

"Au!" sore harinya, rintihan pelan itu kembali terdengar dari kamar dengan pintu coklat bertuliskan 'Sakura's room'. Terlihat seorang wanita berambut oranye berlari menuju ruangan tersebut.

"Sakura-chan, kau baik-baik saja?" Tanya wanita tersebut dengan lembut namun menyiratkan kekhawatiran yang amat besar.

Gadis yang di panggil Sakura tadi masih terdiam, dengan posisi yang masih menyandar pada dinding kamarnya dan juga tengah memegangi perut bagian bawahnya.

"Kaasan," panggilnya pelan, dengan suara serak, suara orang yang sedang menangis. Sang ibu melangkah ke dalam kamar anak perempuan satu-satunya tersebut dan memegang pundaknya. Seakan menguatkan sang putri. Namun, Sakura malah semakin mengalirkan air matanya melewati pipinya yang putih. Dan mulai terdengar isakan pelan dari bibir mungilnya.

Sang nyonya Haruno yang tidak bisa berbuat apapun hanya bisa memeluk putri kesayangannya tersebut. Dan, sore itu menjadi sore paling menyesakkan dalam kehidupan sang gadis bernama lengkap Haruno Sakura.

.

"Yo, Teme, ayo main bola!" teriak seorang pemuda berambut pirang di depan kamar sang sahabat yang masih sibuk berkutat dengan pikirannya. Dia tentu saja masih memikirkan kejadian tadi siang; Sakura, memutuskannya tanpa alasan yang jelas menurutnya.

"Teme… kau mendengarku atau tidak, hei?" teriak pemuda cerewet itu lagi. Dan dengan malas pemuda yang dipanggil Teme itu akhirnya membuka pintu kamarnya dan langsung bertatapan dengan wajah-wajah tanpa dosa milik sahabat sejak kecilnya, pemuda murah cengiran bernama Naruto dan pemuda murah senyuman bernama Sai. Cih, menyebalkan.

Alis milik Naruto mengernyit saat memperhatikan sang sahabat yang baru saja keluar dari alamnya, dengan kaos rumah berwarna biru dan celana pendek berwarna hitam. Memang tidak aneh, tapi wajahnya yang biasa—harus Naruto akui—tampan dan keren itu terlihat sangat kusut, seperti bajunya yang belum disetrika. "Kau kenapa, Teme, baru putus dari pacar? Hahaha…" ledeknya kurang ajar.

Sang jenius Uchiha hanya mendengus dan seolah tidak mau mendengar apa yang pemuda rubah itu katakan, dia balik berkata, "Ayo pergi, kau bilang mau main bola, Dobe."

Mendengar nada bicara yang ketus itu, cukup membuat sang Uzumaki yakin bahwa sahabat baiknya ini baik-baik saja.

Dan ditambah senyuman dari Sai, ketiga pemuda tampan itu melangkahkan kaki mereka menuju taman.

.

"Ajak Miki jalan-jalan, lumayan 'kan daripada di rumah terus," Sakura yang sedang duduk manis di atas sofa ruang keluarganya hanya bisa menghela nafas pelan saat mendengar suara ibu tercinta.

kenapa aku? Tanyanya dalam hati, tapi toh tetap di laksanakan. Dia mengajak Miki—kucing kesayangannya—jalan-jalan. 'Lumayan, mataku sakit daritadi selalu menangis.' Ucapnya dalam hati.

"Oy, Teme, tendang yang benar, ah, payah!" teriak Naruto saat melihat tendangan Sasuke yang melenceng jauh dari sasaran (baca: gawang).

"Apa! Aku sudah benar, kau saja yang lambat," adik dari Uchiha Itachi itu menjawab tak kalah kesalnya.

Seiring langkahnya yang semakin dekat dengan taman, Sakura mendengarnya, suara itu, suara Sasuke, iya tidak salah lagi.

Duk!

Entah ini sengaja atau takdir, bola hasil tendangan melenceng dari Sasuke mengarah ke Sakura. Gadis berusia lima belas tahun itu hanya bisa terdiam memandang bola putih tersebut berhenti tepat di depan kakinya.

"Ambil sana, Teme."

"Ah, payah. Kau saja sana yang mengambilnya, bukankah kau yang menjadi kiper, bodoh," Uchiha Sasuke mengelak dengan kalimatnya yang sangat OOC, memang salah Naruto juga yang tidak bisa menangkap sang bola yang memang melenceng, sehingga bolanya keluar jauh dari lapangan dan malah menuju jalan. Jadi, bukan salah Naruto juga 'kan?

"Sasuke, ambil saja," ucap seorang pemuda lagi yang sedari tadi tak bersuara sedikitpun. Sasuke menolehkan kepalanya menghadap salah seorang sahabatnya yang terlalu murah senyum itu.

"Cih, merepotkan," Gumam pemuda berusia enam belas tahun itu pelan, tapi, tetap saja ia berjalan ke arah jalan di samping taman itu dan menemukan bolanya.

Tapi, langkahnya untuk mendekat tiba-tiba terhenti saat mata hitam kelamnya bertemu pandang dengan bola mata hijau emerald milik gadis yang barusaja (tadi pagi) membuat luka di hatinya.

Tanpa banyak bicara, pemuda emo itu melangkah mendekat dan langsung mengambil bolanya. Dan saat bola itu sudah ada dalam genggaman tangannya, dirinya langsung berbalik arah, memunggungi sang gadis berambut unik tersebut.

Entah, disadari atau tidak, wajah cantik gadis itu terlihat sedikit pucat. Itu jika kau teliti, tapi, bagaimana mau teliti, menatap sang gadis saja kau tidak mau, benar begitu, Tuan Uchiha?

"Kau benci padaku?" Sasuke tersentak saat mendengar nada bicara gadis di belakangnya, tapi, dengan segala sifat cool yang ia miliki, diapun menjawab atau lebih tepat disebut gumamam dan tanpa menoleh sedikitpun, "bukankah kau yang membenciku."

Ucapan pemuda tadi, sangatlah cukup untuk membuat jantung Sakura berdetak lebih cepat, diapun hanya bisa menundukkan kepalanya, hatinya sakit, sangat. Tapi ia tahu, hati pemuda tampan itu jauh lebih sakit, maafkan aku, Sasuke-kun

.

Malam terlihat sama saja, tetap gelap namun selalu tampak indah dengan adanya bulan yang malam ini tidak jelas bentuknya, dan jangan lupakan bintang-bintang yang selalu mengiringi keberadaan sang bulan, seakan melindunginya dari gelapnya malam.

Namun, suasana malam yang terlihat indah itu tidak bisa merubah keadaan kamar bernuansa pink yang nampak suram. Sang pemilik masih terduduk di meja belajarnya, di genggamannya ada sebuah foto dalam figura yang cantik. Dalam foto itu, terlihat dua orang yang terlihat sangat bahagia. Sang pemuda dengan kemeja hitam yang nampak sangat tampan sedang merangkul pundak gadis berjaket pink, sedangkan sang gadis menyenderkan kepalanya di bahu sang pemuda. Terlihat sangat serasi.

Senyum getir nampak singgah di bibir sang gadis bermarga Haruno tersebut, mengingat pemuda bernama Sasuke itu hanya akan menambah luka hatinya, dia hanya bisa berdo'a, semoga pemuda yang masih sangat ia cintai itu segera mendapat penggantinya dan bahagia. Hh, semoga.

Kini tangannya beralih mengambil sebuah amplop coklat yang ada dalam laci mejanya. Kembali air matanya mengalir saat membaca tulisan yang tertera dengan sangat jelas di kertas putih yang berada dalam amplop coklat tersebut.

KANKER HATI STADIUM AKHIR

Matanya seakan tidak percaya akan apa yang tertulis di sana. Ia pasti salah baca, atau surat ini salah, pasti ini milik pasien lain. Iya, pasti salah. Gadis bernama sama dengan bunga khas Jepang itu selalu meneriakkan kata-kata seperti itu, namun yang pasti, kertas dengan tulisan menyakitkan itu nyata, dan sakit yang ia rasakan juga nyata.

Kembali terngiang percakapannya dengan dokter kemarin.

.

Flashback on

"Kanker hati?" kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir tipis itu, sementara orang yang duduk di depannya hanya mengangguk pelan. Sakura hanya bisa tersenyum miris, kenapa nasibnya seperti ini?

"Jadi? Apa aku akan mati?" tanyanya pelan, dia hanya sanggup menundukkan kepalanya. Sang ibu yang memang menemaninya hari ini hanya bisa menahan bobot tubuhnya agar tidak pingsan saat mendengar vonis yang sangat mengerikan yang baru saja di jatuhkan untuk sang putri satu-satunya tersebut. Air matanya mengalir tanpa bisa dia cegah.

Sang dokter yang duduk tepat di depannya hanya bisa terdiam. Sebenarnya, sang dokter bernama Tsunade ini sangat tidak ingin, pasiennya yang sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri ini mengetahuinya, namun, nalurinya sebagai dokter dan sebagai ibu mengatakan, dia harus memberi tahu Sakura tentang semuanya, sebelum terlambat.

Selama ini, yang Tsunade tahu, Sakura tidak pernah mengeluh tentang sakit di bagian perutnya, setiap ke rumah sakit, Sakura hanya mengeluhkan tentang kepalanya yang sering pusing.

"Sakura-chan," dokter mulai berbicara, sangat pelan dan lembut mengalun di telinga gadis cantik itu, namun, Sakura masih enggan mengangkat kepalanya, sang dokter pun melanjutkan, "Hm, kau gadis yang kuat, Sakura-chan. Jangan berwajah seperti itu," hiburnya.

Sakura pun perlahan mengangkat kepalanya, air mata sudah mengaliri wajahnya dan itu semakin membuat Tsunade merasa sangat menyesal karena merasa gagal merawat pasiennya ini.

"Aku akan mati 'kan?" katanya di selingi isakan yang sangat menyayat siapapun yang mendengarnya.

Wanita berambut pirang pucat itupun bangkit dari duduknya dan berjalan pelan ke tempat duduk Sakura, setelah dia sampai, dia berjongkok di samping gadis penggemar manis tersebut, mengelus kepalanya pelan dan memeluknya dengan erat.

Tangis Sakura pecah begitu saja, perlakuan Tsunade-sensei ini sudah lebih dari cukup untuk menjawab pertanyaannya. Sementara sang nyonya Haruno yang duduk di kursi sebelahnya sudah menangis sejak tadi.

"Apa tidak bisa di operasi, Tsunade-sensei?" kali ini, Mebuki yang bicara, Sakura membelalak kaget, kenapa ibunya bicara seperti itu. operasi kanker hati? Itu berarti, dia akan memakai hati orang lain?

"Kami tidak tahu, kanker yang di derita Sakura-chan sudah termasuk parah, kalau dari awal di ketahui pasti—"

"—aku tidak mau di operasi."

Kedua pasang mata berbeda warna itu menoleh ke arah gadis yang barusan bersuara.

"Sakura."

"Sakura-chan, kena—"

"—ini sudah jalanku, Sensei. Aku akan menjalaninya. Aku sudah siap kalau harus pergi," ucapnya dengan nada pelan namun tegas.

"Sakura—"

"Kaasan! Aku mohon, aku tidak mau mengambil hati orang lain, kalaupun ada yang rela mendonorkan hatinya, belum tentu keluarganya menerimanya, aku akan semakin berdosa, Kaasan, aku mohon, aku tidak apa-apa kok," lanjut Sakura dan langsung membungkam paksa sang ibu yang hanya bisa kembali menangis.

"Jadi, Tsunade-sensei, berapa lama waktu yang tersisa untukku?"

Hening

Hening

"Dua minggu."

Deg deg!

Dua minggu? Benarkah waktuku hanya dua minggu? Kami-sama, secepat inikah Kau memanggilku?

Tangis Sakura kembali pecah, mendengar kenyataan yang sangat pahit ini, siapa yang tidak akan shock, jika umurmu hanya bertahan dua minggu lagi?

Setelah menyelesaikan urusan dengan Tsunade-sensei, Sakura dan ibunya keluar dari ruangan dokter cantik tersebut. Sakura masih menunduk, tidak berani mengangkat wajahnya. Baginya, dunianya sudah hancur berkeping-keping dan tidak bisa diperbaiki lagi seperti puzzle yang sering ia mainkan.

"Kaasan," suaranya terdengar parau, sang ibu yang sama shock nya hanya bisa bergumam dan menatap putri tercinta, menunggu kelanjutan kalimat yang akan diucapkannya, "Jangan beritahu Sasuke-kun."

Flashback off

TBC


Haha… Mari-chan tahu, idenya pasaran bangeeet… T.T

Gak tahu deh, kenapa tiba-tiba kepikiran buat fict macam begini, ini fict pertama Mari-chan dengan genre angst loh, pasti gak kerasa feelnya yah *pundung*

Su-sudahlah… bingung mau menulis apa lagi di sini, ish… jadi beginilah angst pertamaku, maaf kalau hasilnya kaya begitu *tutup wajah pake piring*

Tapi, bersediakah memberi review, konkrit atau apalah itu, Mari-chan akan menerimanya, hihi…

See you on the next chapter