-= Memories =-

.

.

.

~ A story by shimizudani ~

.

.

.

"Aku akan menjaga mereka untukmu. Aku berjanji, Hyung."

.

.

.

Kaki itu terlihat ragu untuk melangkah. Di depannya berdiri kokoh sebuah gerbang yang menjadi pembatas antara dirinya dan apa yang ada di balik gerbang itu. Pemuda berambut cokelat itu cukup lama terdiam mematung di sana. Menatap gerbang itu dengan tatapan sendu. Jika dia berbalik, mungkin dia akan dianggap sebagai pengecut karena tidak berani melewati gerbang itu. Dan jika dia meneruskan langkahnya, gerbang itu akan membawanya ke sebuah kompleks pemakaman.

Dia menggigit bibir bawahnya. Tangannya meremas pelan rangkaian bunga di tangannya. Dia memantapkan hatinya dan mulai berjalan melewati gerbang pembatas itu. Terpampang jelas deretan makam yang tertata rapi di sana—di balik gerbang tersebut. Jumlahnya puluhan. Bahkan mungkin ratusan, mengingat area pemakaman itu sangat luas.

Pemuda itu berhenti sejenak. Dia mengedarkan pandangannya mengelilingi area itu. Dia berusaha mengingat sesuatu. Dan juga mencari sesuatu. Dia harus menemukan 'sesuatu' itu—yang menjadi penanda tempat yang akan ditujunya sekarang. Matanya terhenti ketika melihat sebuah pohon besar, tidak jauh dari tempatnya berdiri. Akhirnya dia menemukannya.

Pemuda itu melangkahkan kakinya melewati puluhan makam yang berjejer di samping kanan dan kirinya. Tepat di depan pohon itu—pohon yang ada dalam ingatannya—dia berhenti. Pohon besar itu melindungi beberapa makam di bawahnya dari teriknya sinar matahari. Termasuk juga dirinya dan sebuah makam di sana. Dia menatap makam itu. Sorot matanya menunjukkan kesedihan.

Hembusan angin yang bertiup cukup kencang, membuat rambutnya sedikit berantakan. Tapi dia tetap bergeming. Panasnya matahari di musim panas ini juga tak dipedulikannya. Walaupun sudah memasuki bulan September, namun sepertinya sang mentari masih tetap ingin memancarkan sinarnya.

Perlahan pemuda itu berjalan mendekat kemudian berjongkok di samping makam itu. Ditatanya rangkaian bunga yang sedari tadi dibawanya. Dia begitu hati-hati saat meletakkannya di atas gundukan tanah itu. Dia mengusap nisan yang berada di salah satu ujungnya. Diperhatikannya nisan itu. Ada sebuah nama di sana. Dan juga tanggal kelahiran serta tanggal kematian dari sang pemilik makam. Dia tersenyum getir.

Dia tahu betul siapa pemilik nama yang tertulis pada nisan tersebut. Dan tanggal lahir itu, 21 Agustus adalah milik seseorang yang sangat dikenalnya. Tahun kelahiran sang pemilik makam yang hanya terpaut dua tahun dari pemuda itu, menjadikan mereka sangat dekat sebelumnya. Ya, sebelum dia ada di sini. Dia berharap tanggal kematian itu bukanlah milik orang yang dimaksud olehnya. Namun hal itu hanyalah sebuah harapan. Dia tahu pasti jika harapannya tak akan pernah terwujud.

Dia menghela nafas panjang. Dipejamkannya matanya sejenak. Menyimpan kembali air mata yang sejak tadi ingin menyeruak keluar. Dan seketika itu, wajahnya berubah menjadi cerah.

"Annyeong, Hyung. Aku datang," ujarnya memecah keheningan suasana area pemakaman pada siang hari itu.

.

- Prolog End -

.

Annyeong ~

Aku bawa FF baru lagi nih. Sebenarnya udah tak posting di AO3. Tapi karena kayaknya aku males otak-atik AO3, jadi aku pindah kesini.

Semoga kalian suka ~