"Jung Sanghyuk..."

Sanghyuk menilik takut takut pada ayahnya yang di sebelahnya. Memegang stir dengan erat layaknya siap untuk mencekik seseorang.

Dihitung ini jam 23.51. Tengah malam.

Jalanan sepi, tak banyak kendaraan yang berlalu lalang. Orang-orang sudah seharusnya beranjak pada kamarnya dan berlanjut terjun pada dunia malamnya. Seharusnya begitu.

Tapi kali ini mungkin tidak bagi dua orang di dalam mobil SRV dengan suasana tegang di dalamnya

Lampu merah.

Mobil berhenti

Desah napas kasar langsung terdengar dari kursi pemudi. Sanghyuk sontak menoleh, menatap ayahnya memijit pelipisnya pusing.

"Sanghyuk... Kau tahu ayah tidak pernah membesarkanmu untuk menjadi seperti ini"

Taekwoon memulai. Ia menghela napasnya lagi.

"Ayah sama sekali tidak keberatan tentang masalah pergaulanmu, pergi ke klub, mabuk, balapan, ayah tak keberatan. Dulu pun ayah seperti itu, well, lebih parah sebenarnya"

Counter masih menunjukkan angka 63...

Masih ada waktu untuk berbicara banyak, Taekwoon pikir. Mengambil napas lagi lalu melanjutkan. Kali ini bersitatap dengan sang anak.

"Maafkan ayah karena ayah tidak bisa bersamamu sepanjang waktu sejak... kepergian ibumu itu, mungkin harusnya aku ada disana, menenangkanmu, menjadi sosok ayah yang layak. Tapi... yang ayah lakukan adalah melarikan diri dengan dalih ingin menghidupimu seorang diri. Ayah terlalu berambisi, ayah tahu itu, sangat tahu itu...

Jadi ayah begitu menyesal saat memergoki kau dengan Hongbin ssi di klub tadi—"

"AYAH TAK TAHU YANG SEBENARNYA!!"

Taekwoon merematkan pegangan pada roda kemudinya, berusaha untuk tidak terlihat terkejut. Di matanya Sanghyuk terlihat sangat sangat terganggu tentang apa yang ia ucapkan. Wajahnya memerah padam, mata coklat yang biasa terlihat lembut berbalik menatapnya tajam. Bak bukan seorang Jung Sanghyuk yang Taekwoon kenal.

Lalu tak butuh beberapa lama untuk logika Sanghyuk berjalan kembali, pandangannya kembali melunak.

"Ayah tak tahu yang sebenarnya.." Sanghyuk mengulang, kali ini dengan oktaf lebih rendah, "A-Ayah tak tahu mengapa aku meminta Binnie hyung untuk membantuku, aku—"

"Lalu sebenarnya mengapa kau melakukan itu Sanghyuk ssi?! Mengapa?! Hah?!"

Ini kontradiksi

Lidah Sanghyuk seketika kelu dihadapkan dengan pertanyaan itu. Dihadapkan pada ayahnya yang akan menangis kapan saja.

Ini tidak boleh, tidak boleh sama sekali...

Pikirannya kosong, tak bisa merangkai kata, ataupun mengambil jalan untuk menyelesaikan masalah yang tepat.

Jika ia berbohong, maka semua ini akan menjadi lebih rumit, hubungannya dengan ayahnya akan semakin renggang

Dan ia sama sekali tak mau itu.

Tapi jika ia berkata yang sebenarnya...

Rasanya...

Tidak, tidak, memang itu harus dilakukannya cepat atau lambat.

"Aku ingin... melampiaskan perasaanku yang tak terbalas pada seseorang," Sanghyuk berkata dengan satu hela napas, " dan kukira Binnie hyung adalah orang yang tepat untuk membantuku. Aku hanya tak bisa mengeluarkan orang itu dalam kepalaku, jadi aku meminta Binnie hyung untuk... membuat orang itu marah padaku, ternyata dia melakukannya seperti itu..."

Sanghyuk menilik sedikit pada mata kelam ayahnya, tersenyum yang sedikit lain, "Dan sepertinya berhasil..."

Entah kenapa ada rasa lega yang membuncah dalam diri Taekwoon, hingga ia melonggarkan pegangan kemudinya. "Kau menyukai seseorang, Sanghyuk? Astaga... soal asmara rupanya." Taekwoon berdecak.

Ah, Taekwoon melupakannya, Sanghyuk kecilnya telah dewasa. Dia sudah mengenal cinta dan sebagainya... dan tak bisa disangkal juga bahwa hormonnya mungkin sedikit berlebih. Kadang Taekwoon juga takut membayangkan sebenarnya, rasanya waktu berlalu begitu cepat

"Memangnya siapa orang yang kau sukai sampai sebegitunya, Sanghyuk?"

Sanghyuk diam sebentar sebelum menggumam pelan. Taekwoon memajukan tubuhnya, ingin semakin jelas mendengar perkataan anaknya yang pelan.

"Ayah tak dengar, bisa—"

Tiba-tiba semua mendadak cepat bagi Taekwoon

Waktu

Udara

Panas

Semuanya

Taekwoon mendelik kaget menyadari posisinya saat ini. Kondisinya saat ini.

Hangat dari bibir seseorang menyapa bibirnya yang selama ini dingin. Tengkuknya kembali dielus, sekaligus dengan beberapa helai rambutnya. Menyalurkan hangat buatan kembali dalam dirinya. Diperlakukan hati hati dengan afeksi yang melimpah ruah.

Ia telah dicium.

Oleh darah dagingnya sendiri.

Oh God have mercy on me...

Tak butuh lama hingga menjadikan pagutan itu semakin dalam, hingga mempertemukan lidah, nyaris membuat Taekwoon merasa seperti akan pingsan. Sekilas saja karena sialnya lampu hijau sudah menyala, klakson mobil di belakang menyalak-nyalak.

Taekwoon segera menarik dirinya, mengatur napasnya buru-buru dan langsung menginjak pedal gas.

Pikiran kacau bukan main

Semua terasa bagaikan ilusi

Hangat ini. Perasaan basah ini.

Sanghyuk memandang jendela sepanjang sisa perjalanan, tak memandang ayahnya sama sekali. Sesekali mengusak kasar rambutnya dengan erangan frustasi.

Sedang Taekwoon mengatur napasnya terus menerus, sesekali mengusap-ngusap bibirnya yang basah dan sedikit memerah. Terus berusaha untuk menyetir dengan benar

Sepanjang perjalanan itu...

Debar jantung keduanya semakin berirama

Pun rasanya dosa mereka juga telah semakin bertambah

Taekwoon pada akhirnya mampu membuka satu lembaran rahasia milik Sanghyuk yang tersembunyi rapat.

Sayang, sepertinya adalah keputusan yang salah telah membukanya.