[February 05, 2017, 11:00:15 PM]

HIERARCHY

Chansoo.

Park Chanyeol – Do (Kim) Kyungsoo.

Slight: HunHan and other's.

Gender Switch

Lien.

.

..()..


.

ATTENTION!

"YANG TIDAK SUKA/TIDAK BISA MENIKMATI FF CRACK COUPLE, JANGAN MEMAKSA UNTUK MEMBACA"

.

.().

PROLOGUE

Ch1. The Butler.

Dalam kehidupan, manusia cenderung mengklasifikasikan diri dalam posisi sosial, yang menyebabkan masyarakat terbagi dalam berbagai lapisan yang terbentuk berdasarkan kriteria tertentu, kriteria yang dipengaruhi oleh adat istiadat, latar belakang, stratifikasi sosial, dan status sosial, semuanya berfungsi untuk menilai dan menempatkan orang–orang atau kelompok ke dalam beberapa strata, yang kemudian dibagi dalam kasta sosial tertinggi, menengah, dan bawah.

Seseorang dengan kasta sosial yang tinggi atau individu dominan digambarkan dengan hal-hal yang bersifat materi atau simbolik, mereka memiliki kekuasaan politik atau otoritas, memiliki kekayaan atau status tinggi. Mereka adalah orang-orang yang percaya bahwa kehidupan terbagi ke dalam struktur; yaitu yang di atas dan yang di bawah. Mereka memegang ideologi yang mempertahankan dan memperkuat strata sosialnya, sehingga menginginkan kekuasaan lebih dan cenderung melakukan hal-hal manipulatif. Mereka yang berada di dalam suatu strata sosial yang sama saling memandang sebagai yang setara, dan dalam interaksi pada umumnya lebih melibatkan diri dengan yang sederajat. Strata sosial merupakan realitas, bukan sekadar suatu konsep teorisasi.

Harta, prestis, kekuasaan; preferensi ketidaksetaraan secara konseptual, itu lah sistem hierarki. Dunia dimana Kyungsoo terjebak ke dalam manipulasi mempertahankan status sosial keluarga ke dalam bentuk pertunangan yang sudah ditentukan, dengan keluarga yang berada dalam hierarki lebih tinggi—dengan seorang pria yang tidak ia cintai.

. . .

Musim panas ketika terik matahari berada di atas kepala, langit biru terlentang, awan seputih salju beriak seperti ombak digiring angin semarai, Kyungsoo melepaskan anak panah dengan seluruh kekuatan tangan yang tersisa. Panah melaju pesat, Kyungsoo menatap penuh harap, lalu hanya ketika sedikit lagi mencapai papan, panah itu menukik ke bawah dan tergeletak begitu saja di atas rumput. Helaan napas putus asa terdengar, ia sudah berada di ambang batas, tapi tak ada ampun untuk kata menyerah, bahkan ketika ia sudah berlatih sepanjang hari, menyerah hanya akan membuat dirinya mendapat hukuman dari Ayahnya.

"Nona sebaiknya istirahat sebentar." Pinta pelayan perempuan yang dengan sabar menunggu di sampingnya.

"Jika hari ini aku tidak berhasil, aku akan mengalami yang lebih buruk, Luhan." Respon Kyungsoo selagi memposisikan anak panah ke dalam busur. Helaan napas berat kembali terdengar; "Tapi apa yang sebenarnya diinginkan Ayah? Sejak beberapa waktu lalu dia mendesakku belajar menjahit, menyulam, lalu memintaku belajar memasak, kemudian memintaku belajar berkebun dan menghafal jenis-jenis bunga, dan sekarang dia memintaku belajar berkuda, memanah, bermain anggar, bahkan menembak dan berjudi." Gerutunya frustrasi, tangan memegang busur terkulai lemas, anak panah terselip dari busur dan jatuh ke tanah.

"Bukankah sudah jelas Tuan Kim ingin nona menjadi calon istri yang sempurna jika nanti tinggal di kediaman keluarga suami nona." Ujar Luhan sembari mengambil anak panah dan memberikannya pada Kyungsoo.

"Kau yakin? Kau yakin Ayah bukan ingin menjadikan aku sebagai pelayan sempurna untuk keluarga calon suamiku? Atau justru ingin menjadikanku sebagai pemimpin gangster? Ingat? Ayah menyuruhku untuk belajar menembak dan memainkan anggar, yang lebih mengherankan dia menyuruhku untuk menguasai permainan judi." Intonasi suara terdengar diliputi emosi putus asa, ekspresi memelas seakan ia hampir menangis selama menatap tangannya yang mulai memerah dan lecet.

Luhan justru tertawa, yang direspon decakan kesal oleh Kyungsoo. "Itu artinya Ayah anda ingin anda menjadi seseorang yang sempurna di mata keluarga calon suami anda, nona." Tegasnya lagi.

"Tapi ini benar-benar berlebihan." Gumam Kyungsoo selagi mengusap keringat di keningnya dengan punggung tangan. Lalu kembali mengambil posisi sembari mengatur busurnya, meregangkan tangan, memegang erat bagian belakang anak panah selama ia fokus membidik sasaran, dalam hitungan tiga ia melepaskannya, panah melesat cepat, hanya dalam seperempat jalan sebelum kembali menukik ke tanah. Lagi lagi.

Tiba-tiba terdengar tawa dari arah belakang, tawa seorang pria, yang mengusik, dan membuat Kyungsoo kesal, karena baginya hanya Luhan yang boleh menertawainya. Ia menoleh, dan terkejut mendapati seorang pria tinggi tegap menggunakan pakaian pelayan berdiri di belakangnya sembari memegang sebuah pot bunga.

"Sebenarnya apa yang anda lakukan, nona?" Tanya pria itu, eskpresi geli masih terlihat meskipun pria itu berusaha menyembunyikannya.

Kyungsoo tak menjawab, melainkan menoleh pada Luhan, meminta penjelasan, namun Luhan terlihat sama bingungnya dengan dirinya.

"Oh, maaf, saya lupa memperkenalkan diri." Ujar pria itu kembali menarik perhatian Kyungsoo dan Luhan setelah menyadari kebingungan ke dua perempuan di hadapannya, lantas pria tinggi itu meletakkan pot bunga yang dibawanya di atas tanah, "Nama saya Chanyeol, saya pelayan baru yang bekerja di sini." Lalu dengan satu tangan di atas perut, pelayan itu membungkuk memberi salam.

"Pelayan baru yang berani menertawakan tuannya, huh?" Kyungsoo menuntut dengan intonasi suara arogan, memberikan busur yang dipegangnya pada Luhan, lalu beranjak mendekat pada pelayan itu.

Saat Kyungsoo berdiri tepat di hadapannya, Chanyeol menegakkan tubuhnya lalu menatap langsung ke dalam mata Kyungsoo. "Maafkan kelancangan saya, nona." Ujarnya, senyum tipis terukir di bibir penuhnya; "Tapi anda benar-benar lucu, dan..." Kalimatnya menggantung selama memperhatikan penampilan Kyungsoo dari ujung kaki hingga kepala dengan menilai; "Dan konyol." Lanjutnya, raut wajahnya lagi lagi terlihat seakan menahan tawa.

Kyungsoo menggigit bibir dalamnya, menahan amarah yang tersulut, berusaha bersikap elegan, sikap gegabah dan emosional bukan tindakan yang dibenarkan dalam setiap ajaran keluarga besarnya.

Kyungsoo kembali mendekat, sangat dekat hingga dada hampir bersentuhan, menatap Chanyeol tajam dengan makna menantang setelah berani menatap tubuhnya kemudian dengan lancang menilainya. "Sebaiknya kau tarik kembali sikapmu atau kau akan dipulangkan kembali ke rumahmu saat ini juga." Ancamnya.

"Kenapa?" Tanya Chanyeol bak bocah polos, "Saya mengatakan yang sesungguhnya." Elaknya santai, tak terpengaruh gertakan Kyungsoo.

"Kau—"

"Nona," Sela Luhan segera ketika Kyungsoo tampak semakin emosi. "Sebaiknya nona istirahat sebentar lalu nona bisa melanjutkannya setelah itu." Luhan mengalihkan pembicaraan, berharap Kyungsoo lebih tenang.

Kyungsoo menghela napas lalu menghembuskannya cepat, kemudian menatap tajam dan lekat pada pelayan yang berani menghinanya, "Jangan berani-berani menunjukkan wajahmu di depanku." Tegasnya sebelum berbalik dan beranjak menjauh,

"Tapi, nona," Cegat Chanyeol, membuat Kyungsoo berhenti melangkah meski tak menoleh. "Jika saya boleh memberikan saran, sebaiknya anda tidak menggunakan gaun dan sepatu hak tinggi ketika berlatih memanah." Ujarnya sembari memperhatikan gaun vintage krem dan high heel warna senada yang digunakan Kyungsoo. "Lalu, posisi, gerakan dan cara anda memegang busur semuanya salah, sebaiknya anda membayar seseorang yang ahli untuk mengajari nona, jika tidak, nona bukan hanya akan terlihat konyol tetapi juga bisa terluka dan cedera." Lanjutnya, masih terlihat menahan tawa seakan tak bisa menahannya setiap kali melihat Kyungsoo.

Ribuan kali ia sudah diajari bagaimana menghadapi sebuah penghinaan dengan cara yang anggun dan cerdas, ia sudah dilatih bagaimana menjadi seorang yang tidak emosional dalam keadaan apapun, menyembunyikan segala gejolak perasaan yang dirasakan dibalik topeng tanpa emosi, karena perasaan emosional adalah suatu kelemahan yang bisa digunakan sebagai senjata untuk menjatuhkan seseorang. Ia sudah menerapkan semua yang diajarkan di dalam keluarganya dengan baik selama ini, sehingga bukan hal sulit baginya untuk memainkan emosi, mengendalikan dan mengintimidasi psikologis seseorang yang menghina dan meremehkan dirinya, kemudian membuat mereka kalah dan takluk. Baginya yang seorang putri bangsawan dari salah satu keluarga terpandang, dalam kelompok hierarki tinggi, sudah seharusnya mereka yang tak sederajat harus patuh, karena memang seperti itu lah sistem kasta itu berlaku. Tapi tidak dengan pelayan pria itu, dia berani mengangkat wajah dan menatap langsung pada dirinya, berani menertawainya, dan berani meremehkannya. Harga diri Kyungsoo terluka, untuk pertama kalinya sejak ia dilahirkan, dan jika Ayahnya mengetahui bahwa seseorang tidak menghormati dirinya dan ia bahkan tak bisa menunjukkan siapa sang tuan pada mereka yang berada di posisi sosial lebih rendah darinya, maka itu adalah kegagalan dirinya menjadi putri keluarga Kim, tetapi sayangnya, tak ada kata gagal dalam kamus keluarganya.

Karena itu, ia tak dapat menerima bagaimana sikap pelayan itu terhadap dirinya. Tangan terkepal menahan diri untuk tak menampar wajah pelayan itu, ia hanya perlu menghadapinya seperti biasa, seperti menghadapi para orang-orang yang berasal dari sosial yang rendah. Mata terpejam berusaha menekan amarah, namun tepat ketika ia berbalik, Luhan bersuara;

"Tuan Kim sudah membayar seseorang untuk melatih nona Kyungsoo, tetapi pelatihan akan dimulai besok, dan yang dilakukan nona sekarang adalah berusaha berlatih sendiri dasar-dasarnya sehingga besok nona tidak banyak mengalami kesulitan, jadi ku mohon jaga sikap dan bicaramu, ketahui di mana posisimu." Tegas Luhan pada Chanyeol, membuat Kyungsoo tertegun pada bagaimana tajamnya lidah perempuan yang selama ini melayani dirinya dengan sifat lembutnya.

"Mari, nona, istirahat sebentar." Kemudian Luhan menghampiri Kyungsoo, berdiri di sisinya sembari menunggu.

Kyungsoo menatap datar pada Chanyeol, namun pria itu membalasnya dengan senyum tipis selagi melipat tangan kiri di atas perut kemudian membungkuk. Mata mendelik tajam sebelum dengan acuh Kyungsoo berbalik beranjak meninggalkan pelayan itu.

"Maafkan kelancangan saya, nona." Ujar Luhan ketika mereka berjalan di lorong panjang menuju kediaman utama.

"Luhan, aku sudah sering bilang saat hanya ada kita berdua kau harus memanggilku Kyungsoo, bukankah kau bilang kau bersedia menjadi temanku?" Nada suara terdengar dingin, Luhan tak berani menatap Kyungsoo dalam suasana hati Kyungsoo saat ini, karena Luhan tahu bahwa Kyungsoo sedang terluka. "Lagi pula kau juga lebih tua dariku," Ketika suara Kyungsoo terdengar jenaka, Luhan menatap Kyungsoo dan melihat senyumnya seakan sudah melupakan kejadian di taman, kemudian Luhan juga tersenyum.

"Kau yang paling tahu bahwa di rumah ini banyak telinganya, dinding pun bisa mendengar pembicaraan kita." Bisik Luhan, membalas gurauan Kyungsoo.

"Apa sembaiknya aku mengadu pada dinding agar memberitahu Ayah kalau dia sangat menakutkan?" Sahut Kyungsoo.

Kemudian Luhan dan Kyungsoo tertawa, menertawakan kekonyolan mereka sendiri, namun sesaat kemudian keduanya berhenti melangkah ketika melihat Sehun, putra tertua keluarga Kim, berjalan ke arah mereka.

"Kau akan pergi?" Sapa Kyungsoo ketika melihat pelayan di belakang Sehun membawa tas pakaian. Sementara Luhan membungkuk sejenak memberi salam.

"Ayah menyuruhku untuk menyelesaikan masalah di luar kota, aku akan pergi selama beberapa hari." Jawab Sehun sembari memegang pundak Kyungsoo, kemudian menoleh pada Luhan yang sedang memandang ke bawah, "Jaga Kyungsoo baik-baik." Perintahnya, yang dijawab Luhan dengan anggukan sembari membungkuk patuh. "Aku akan pergi." Ujar Sehun pada Kyungsoo.

Kyungsoo mengangguk, tersenyum pada kakak laki-lakinya. Lalu saat Sehun melewati Luhan, meskipun hanya terlihat sekilas, tetapi Kyungsoo menyadari ketika tangan Sehun sesaat memegang tangan Luhan selagi menyelipkan sesuatu ke dalam telapak tangan pelayan perempuan itu, yang kemudian benda itu digenggam erat oleh Luhan. Kyungsoo berpura-pura tidak melihat apapun—kenyataannya, selama ini Kyungsoo sudah banyak berpura-pura tidak melihat dan mengetahui apapun yang ia ketahui tentang apa yang terjadi di antara kakak laki-lakinya dengan pelayan perempuannya.

Sembari menatap punggung Sehun, Kyungsoo berkata; "Sementara kakak bertanggung jawab pada kemajuan bisnis, aku bertanggung jawab membesarkan nama keluarga dengan pernikahan, tapi pada akhirnya kakak juga akan menjalani pernikahan yang sudah diatur keluarga. Adat istiadat yang kaya dengan yang kaya, bangsawan dengan bangsawan, bukankah itu terdengar memuakkan?" Kyungsoo mengalihkan tatapannya pada Luhan ketika bertanya, namun pelayan perempuan itu hanya tertunduk diam, akan tetapi Kyungsoo tersenyum. "Tapi kakakku bukan tipe pria yang mudah diatur dan diperintah, dia adalah pria pemberani, bahkan berhadapan dengan Ayah sekalipun. Satu-satunya yang bisa membuatnya patuh hanya lah Ibu, dan beruntungnya Ibu selalu mengutamakan kebaikan kakak." Jelasnya, tak luput ketika menangkap senyum tipis di bibir Luhan yang hanya terlihat sejenak. Diam-diam Kyungsoo menahan tawanya menyaksikan bagaimana begitu jujurnya setiap perubahan ekpsresi Luhan. Jika dirinya selalu menyembunyikan semuanya di balik topeng, Luhan adalah perempuan yang ekspresif.

Tak lama kemudian, seorang pelayan perempuan menghampiri Kyungsoo dan memberitahunya bahwa Ayahnya memanggil dirinya ke ruang kerjanya. Jika yang memanggil adalah Ayahnya, maka ia harus bergegas, karena membuat Ayahnya menunggu hanya akan membuatnya marah.

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipi, menyengat hingga memerah. Ia tidak membuat Ayahnya menunggu lama, tapi apa penyebab tamparan itu? Ia tak mengerti. Kyungsoo tertunduk di hadapan Ayahnya, pria berkepribadian tegas dan keras, kepala keluarga Kim, Kim Chen.

Pria yang masih terlihat muda dari umurnya itu, berjalan mengitari meja lalu duduk di kursi kerjanya, menatap Kyungsoo tajam dan datar. "Kau bahkan tidak bisa mempertahankan harga dirimu di depan seorang pelayan." Ujarnya, karisma dari suaranya yang mengintimidasi membuat Kyungsoo sulit untuk mengangkat wajah dan menatap Ayahnya.

"Dengan tidak tahu malu kau berlindung di balik pelayan perempuan yang membelamu." Lanjutnya, sengit. "Membiarkan dirimu sendiri diremehkan sama saja dengan membiarkan keluargamu dihina, apa kau ingin terus bergantung dan membiarkan seorang pelayan melindungi harga dirimu?"

Kini Kyungsoo mengerti apa yang membuat Ayahnya marah. Meskipun ia tidak tahu dari mana Ayahnya mengetahui semua itu, tetapi apa yang dikatakan Luhan tidak diragukan lagi; dinding pun bertelinga, dan mungkin bahkan dapat melihat.

"Bagaimana kau menjelaskan ini, putriku?" Tuntut pria yang sarat dengan aura wibawanya yang mendominasi.

Kyungsoo terdiam. Untuk kali ini ia tidak dapat membela diri, karena membiarkan dirinya ditertawakan oleh seorang pelayan lalu kemudian dilindungi oleh seorang pelayan pula, adalah mutlak karena ketidak mampuannya dalam mempertahankan harga dirinya. Tidak ada alasan yang bisa membenarkan kekurangannya kali ini di depan Ayahnya.

"Tanamkan dalam pikiranmu, putriku, dunia di luar sana jauh lebih keras dari yang kau hadapi saat ini. Merengek pada orang lain akan percuma, karena tidak ada seorang pun yang bisa kau andalkan selain dirimu sendiri." Ujarnya, suara terdengar tegas, memandang datar pada Kyungsoo.

. . .

Ia menutup pintu ruang kerja Ayahnya, dengan perasaan berkecamuk ia menghela napas, memandang telapak tangannya yang berkeringat dingin, mencerminkan bagaimana ia begitu takut pada Ayahnya. Ia bertanya-tanya, bagaimana Sehun, kakaknya, selalu menatap dengan berani pada Ayahnya ketika keduanya berbicara?

"Kyungsoo,"

Ia terlonjak mendengar seseorang memanggil namanya, namun yang lebih mengejutkan adalah siapa yang telah menegurnya. Tunangannya, Suho Kim, berdiri di hadapannya sembari tersenyum. Kyungsoo sedikit membungkuk, merasa canggung karena baru ke dua kalinya ia bertemu lagi dengan pria yang berstatus sebagai tunangannya.

"Halo, Tuan Kim." Sapa Kyungsoo, menunduk sopan.

Tak ada jawaban. Kyungsoo ragu untuk mengangkat kepalanya namun ia lakukan juga. Matanya bertemu dengan tatapan bingung Kim Suho.

"Meskipun kita baru dua kali bertemu, ku rasa tidak masalah jika kita tidak harus bersikap formal." Ujarnya. Kini Kyungsoo yang terdiam bingung. "Maksudku kau cukup memanggilku Suho." Jelas Suho kemudian.

"Ah," Kyungsoo semakin bingung—

—meskipun keluarganya dan keluarga Kim dari Suho berada dalam kategori setara dalam strata, namun keluarga Suho memiliki kekuasaan dan prestis yang berada di atas keluarganya. Perbedaan latar belakang keluarga, dimana keluarga Suho Kim memang berasal dari keluarga bangsawan terpandang, dengan keluarganya sendiri yang menaiki posisi sosial tinggi karena bekerja keras dan memulainya dari tingkat bawah, menjadi tolak ukur perbandingan di mana posisi hierarki di antara ke dua keluarga. Jadi, bersikap tidak formal ketika mereka belum saling mengenal baik, itu hanya akan dianggap sebagai etika yang buruk.

Karena itu Kyungsoo memilih aman dengan tidak menjawabnya.

"Ayahmu di dalam?" Tanya Suho, memecah keheningan Kyungsoo.

"Ya." Jawab Kyungsoo. "Anda ingin bertemu dengannya?"

Sesaat Suho tak segera menjawab ketika mendengar Kyungsoo masih memanggilnya dengan 'Anda'. "Aku ada janji bertemu dengan Ayahmu untuk membicarakan sesuatu."

Sejenak Kyungsoo berpikir tentang apa yang ingin mereka bicarakan, namun firasatnya menebak bahwa itu tidak akan jauh dari tentang pernikahan. Mengingat hal itu membuat hati Kyungsoo sesak, dengan bagaimana masa depannya sudah diatur rapi oleh keluarganya, seperti boneka, seperti alat.

Kyungsoo tersenyum, senyum yang sangat jelas terlihat dipaksakan, namun ia tak peduli sekalipun Suho menyadarinya. "Kalau begitu silahkan masuk." Ujarnya. "Permisi, Tuan Kim."

Ia beranjak meninggalkan Suho, mengacuhkan tunangannya yang terlihat bingung. Kyungsoo berjalan di koridor dengan langkah cepat, lalu menuruni tangga, dan keluar dari pintu utama. Rasanya dadanya sesak, ia merasa terhimpit meskipun di rumah besar yang begitu megah, sehingga ia ingin udara segar untuk melepaskan tekanan.

"Apa dia tunangan anda?"

Kyungsoo terlonjak sembari memegangi dadanya, jantungnya berdetak cepat dan wajah berubah pucat pasi karena terkejut, ia menoleh ke belakang dan mendapati Chanyeol berdiri dengan ekspresi datar. Ada apa dengan hari ini, kenapa semua orang mengejutkannya? Kyungoo tak habis pikir.

Ia menghela napas, menenangkan diri. Lalu menatap tajam pada Chanyeol, "Lakukan saja tugasmu sebagai seorang pelayan, jangan mengurusi urusan pribadi majikanmu." Tegasnya, lalu beranjak menjauh.

Namun Chanyeol mengikutinya, dan tanpa peduli tentang etika, pria itu berjalan di samping Kyungsoo yang mengacuhkannya. "Bukankah pelayan harus mengetahui hal itu? Agar bisa menyambut tunangan tuannya dengan baik."

"Kalau begitu pergi dan sambut dia dengan baik." Balas Kyungsoo tajam.

Kening Chanyeol bertaut. "Kau terdengar seperti tidak menyukainya. Apakah karena dia calon tunangan dari pilihan ke dua?"

Langkah Kyungsoo terhenti tiba-tiba, lalu menatap Chanyeol di sampingnya yang juga menghentikan langkahnya. "Apa maksudmu?" Tuntutnya.

Satu alis Chanyeol terangkat, "Semua pelayan di rumah ini membicarakannya." Jawab Chanyeol santai, "Nona muda keluarga Kim yang gagal bertunangan dengan seorang pria dari keluarga aristokrat paling berpengaruh, kemudian bertunangan dengan seorang pria pilihan ke dua dari keluarga bangsawan terpandang—"

PLAK!

Amarah tak terkontrol akhirnya terlepas, telapak tangan Kyungsoo terasa panas bergesekan dengan pipi Chanyeol. Kata-kata Chanyeol yang menggambarkan dirinya seakan ia adalah wanita murahan yang mencari pria bangsawan kaya, membuatnya lepas kendali. Air mata menggenang di pelupuk akibat menahan emosi yang besar, namun Kyungsoo menahannya, karena bila ia sampai menangis, maka ia akan terlihat seperti wanita rapuh. Setidaknya, meskipun yang dikatakan pria itu adalah kebenaran, Kyungsoo tidak ingin ada orang yang benar-benar menyebut dirinya seperti itu secara langsung, terlebih oleh seorang pelayan yang derajatnya jauh lebih rendah, karena kenyataannya, bukan dirinya, bukan dirinya yang menginginkan semua itu.

Halaman luas di mana hanya ada mereka yang berdiri di sana, menjadi sunyi selama waktu ke dua sepasang mata saling menatap. Tatapan pria itu datar dan terkesan dingin namun detik kemudian Kyungsoo terkejut ketika mata pria itu berubah menatap takjub pada dirinya. Lalu tanpa mengucapkan sepatah kata, Kyungsoo mendengus kesal kemudian beranjak.

"Hei, nona." Seru Chanyeol. Dan meskipun tak ingin menoleh, Kyungsoo refleks berbalik. "Wajah ingin menangis yang kau tahan itu sangat menggemaskan, apa kau tahu?"

Mata Kyungsoo membulat lebar, melihat pria tinggi tegap itu menyeringai bak predator dengan wajahnya yang berubah sensual, suara terdengar berkarismatik, aura mengintimidasi, memberi kesan seperti seorang superior yang sangat berwibawa, membuat Kyungsoo merasa kecil di hadapannya. Ia seperti melihat pria yang berbeda.

.

..()..


.

Paviliun tempat tinggal para pelayan laki-laki menjadi sedikit riuh pada malam hari ketika Chen Kim duduk di ruang tamu, berhadapan dengan Chanyeol yang menunggu dengan heran, karena kepala keluarga Kim itu hanya berdiam sembari menatap lekat pada dirinya setelah memanggilnya sejak sepuluh menit lalu.

"Ikut dengan ku." Perintah Tuan Chen selagi berdiri dari sofa lalu beranjak ke arah ruang kerja kepala pelayan. Chanyeol mengikutinya hingga masuk ke dalam ruangan.

"Sebenarnya apa yang kau lakukan di sini?" Tuan Chen yang duduk di kursi kerja kepala pelayan, bertanya.

Kening Chanyeol bertaut, tak menjawab.

"Apa yang kau inginkan? Putriku?" Suara Tuan Chen terdengar semakin menuntut.

"Apa yang anda katakan, Tuan?" Chanyeol balik mengajukan pertanyaan.

Tuan Chen diam, menatap ke arah leher Chanyeol. "Cincin Sapphire blue yang kau sembunyikan di balik pakaianmu itu tidak bisa menyembunyikan identitasmu yang sebenarnya—" Tuan Chen menjeda selagi menatap Chanyeol datar, "—Tuan muda, Park."

Bak topeng yang telah dilepaskan, seringai yang mengintimidasi terlukis di wajahnya selagi mengeluarkan cincin yang diselipkan menjadi liontin kalung yang disembunyikan di balik pakaiannya. Cincin yang menjadi ciri identitas dirinya.

.


TO BE CONTINUE

[February 08, 2017, 11:21:04 PM]


.

Halooo...

Seperti yang saya janjikan saya membuat ff Chansoo, tp saya buat jadi GS, mwehehee

Karena ini cerita tentang Hierarki, jadi banyak ketimpangan karakter dan peran dalam fanfict ini, ada yang jadi tuan ada yg jadi maid/butler, semoga dipahami kalo posisi biasnya saya nistakan perannya karena ini kebutuhan cerita.

Terimakasih bagi yang membaca, yang review, yang follow yang favorite. Jika ada saran dan kritik silahkan sampaikan dengan leluasa^^. Thank you very much...

LIEN

.