-One-
Yoojin duduk termenung memandangi awan bewarna putih yang mengambang di luar pesawat. Suara pemberitahuan dari pramugari menyadarkannya dari lamunan singkatnya, memberitahukan para penumpang bahwa mereka hampir tiba di tempat tujuan. Haruskah Yoojin pergi sejauh ini? Satu tahun yang dilewatinya di SMA bergengsi di Seoul terasa berlalu begitu cepat. Jujur dia masih merindukan Korea Selatan dan orang-orangnya, tumbuh besar di negeri yang menjadi pusat perkembangan hallyu itu memberikan kenangan yang cukup berkesan baginya.
"Eomma... Apa Yoojin bisa berbaur nantinya?"
" Kamu sudah biasa menghadapi ini kan? Eomma tau kamu pasti bisa. Jangan takut, lagipula ini Jepang, sayang"
Yoojin mengalihkan pandangannya sambil menghela nafas kecil "Justru karena ini Jepang, eomma"
Waktu pendaratan sudah dekat dan Yoojin berusaha menutup matanya sambil mengatur nafasnya pelan. Dia benci getaran yang dihasilkan pesawat ketika lepas landas ataupun mendarat. Hal itu mengingatkannya pada kecelakaan mobil 3 tahun lalu yang merenggut nyawa kakak kandungnya. Masih tergambar jelas diingatannya ketika saudara kembarnya itu panik membuka pintu mobil di sisi Yoojin duduk dan buru-buru mendorong tubuh Yoojin keluar, tepat sebelum mobil itu meledak dan membunuh kakaknya.
" Yoojin. Kita akan punya hidup baru disini"
Yoojin tiba-tiba merindukan teman-temannya disana, dia rindu senyuman Yeri yang selalu bisa membuatnya ikut tertawa, lelucon garing yang sering dilontarkan Jisoo terasa begitu merusak suasana tapi Yoojin suka, dan tingkah konyol Hoseok yang membuatnya lupa waktu ketika bersama mereka.
" Yoojin" suara lembut Eommanya memanggil Yoojin
Yoojin menoleh ke arah Eommanya sambil menyunggingkan senyuman tipis "Nde?"
Eommanya meraih telapak tangan kiri Yoojing sambil mengusapnya perlahan. Yoojin terlihat tidak bersemangat dan kantung di kedua matanya jelas terlihat. Pekerjaan Appa Yoojin, mengharuskan keluarga mereka untuk tumbuh di tempat yang berbeda-beda.
"Everything is going to be okay. We're safe..." Eommanya menjeda ucapannya sejenak lalu menarik tubuh Yoojin kedalam pelukkannya "You are safe, honey"
*I hope so, Eomma...*
0o.o0
Yoojin berdiri di hadapan cermin yang tertempel di pintu lemarinya sambil berusaha merapikan dasi yang sedari tadi tidak bisa dibetulkannya. Ketukan lembut di daun pintu kamarnya menyadarkannya bahwa dia harus segera bergegas jika tidak ingin terlambat di hari pertamanya. Yoojin meraih ransel sekolahnya dan memakai kaos kakinya asal lalu bergegas turun menghampiri Eommanya yang sudah ada di meja makan berkutat dengan sebuah tablet di tangan kanan dan telepon genggam yang menempel di telinga kirinya
" Kamu tanya ke suami saya mau dilepas kapan. Bila perhitungan saya benar akan lebih menguntungkan bila melepasnya ke pasar modal nanti sore"
Yoojin meletakkan tasnya di salah satu bangku kosong "Pagi eomma" ucapnya singkat
" Iya. Pokoknya coba tanyakan saja dulu, oke?" Eommanya mematikan telepon genggamnya dan menyingkirkan tablet dari meja makan lalu tersenyum ke arah Yoojin "Eomma antar atau..."
Yoojin menatap ke atas tampak berpikir sejenak " Antar saja, aku belum terlalu paham dengan sistem kereta api disini"
Jawaban Yoojin disambut oleh senyuman hangat dari Eommanya. Selesai sarapan Eommanya menyempatkan untuk mengantar Yoojin terlebih dahulu sebelum pergi ke kantor cabang perusahaan suaminya di Jepang. Yoojin berusaha sabar ketika Eommanya dengan ceroboh meninggalkan tablet kerjanya di bangku meja makan sehingga mereka harus berbalik kembali dan membuat Yoojin harus terlambat di hari pertamanya.
" Jaga diri ya sayang" Ucap Eommanya mengelus kepala Yoojin
" Oke, have a nice day!" Yoojin melambaikan sebuah salam perpisahan sebelum mobil Chevrolet hitam itu pergi dari depan sekolah barunya.
Yoojin masuk dan mencari nomor loker tempat dia meletakkan sepatunya, tak butuh waktu lama untuk menemukan loker nomor 2B-16 dan mengganti sepasang sepatu yang memang sesuai dengan ukuran kakinya. Yoojin berjalan mencoba mencari kantor guru yang seharusnya sudah didatanginya sejak 15 menit yang lalu. Lorong-lorong sudah tampak mulai sepi karena sebagian besar memang sudah ada dikelasnya masing-masing. Kaki Yoojin membawanya melangkah ke sebuah sudut lorong dengan tangga menuju ke atas. Dan sebuah tarikan di lengan atasnya memaksa tubuhnya berbalik ke arah sebaliknya dia berjalan.
Seorang siswa laki-laki dengan rambut belah tengah dan dicat pirang menatapnya galak. Dia tidak terlalu tinggi, mungkin perbedaan tinggi mereka hanya sekitar 5 senti dan di lengan kanan siswa itu tersemat sebuah tanda yang biasa dipakai oleh seorang pejabat kelas atau osis yang tak asing bagi Yoojin.
" Terlambat eh?" ucapnya dalam bahasa Jepang dan aksen yang aneh "Dan kaos kaki warna salah ?"
Yoojin tergagap bingung, isi otaknya belum bekerja sepenuhnya untuk membalas ucapan siswa laki-laki itu dalam bahasa Jepang karena sejak kemarin dia hanya bicara dengan Eommanya. Sedangkan siswa laki-laki itu tersenyum licik sekaligus senang seakan-akan sudah menemukan mangsa untuk pagi ini.
" Ano..."
"Baiklah, siapa namamu dan dari kelas dan tingkat berapa kau? " Siswa laki-laki itu mengambil pulpen dari saku kanannya seraya menggigit tutup pulpen itu dan mengangkat buku kecil dari tangan kirinya hendak mencatat nama mangsanya pagi ini
" T-tunggu dulu, kau ini memangnya siapa?"
Tutup pulpen yang tersemat diantara barisan gigi yang sedikit tidak rapi itu terjatuh ke lantai. Si pemilik pulpen itu menatap Yoojin dengan wajah aneh tak percaya. Apakah siswi dihadapannya ini sudah kehilangan akal sehatnya? Atau mungkinkah pamornya mulai meredup? Dia hanya bisa terperangah tak percaya sambil menyibak rambutnya dongkol
" Ulangi."
Itu jelas perintah. Siswa dihadapannya itu bahkan tidak menjawab pertanyaan Yoojin dan malah menyuruhnya balik. Yoojin mengernyitkan alisnya, merasa terganggu atas nada penuh perintah yang dilontarkan siswa laki-laki yang muncul entah darimana ini.
" Kau... Ini...Memangnya... Siapa ?" Yoojin mengulang ucapannya perlahan berusaha menikmati wajah kesal siswa dihadapannya. Yoojin tersenyum puas ketika melihat siswa laki-laki itu menggigit pipi bagian dalamnya kesal " Permisi pendek , untuk apa aku memberitahumu hal-hal itu? Kau ingin menjual informasiku? Kepada siapa? Hah? Katakan?"
Siswa laki-laki itu berdecak tak percaya " Dengar nona sok tahu, sudah cepat katakan saja siapa namamu, dan kelas berapa ? Aku yakin kau tidak ingin punya urusan denganku "
Sebuah suara mengintrupsi perseteruan mereka berdua, seorang lelaki paruh bayu yang tampaknya adalah guru disana menghampiri kedua murid itu
" Ada apa ini?"
Yoojin ingin membuka suara untuk menanyakan letak kantor guru tapi lelaki pendek menyebalkan itu mendahului Yoojin dan malah mengadu
" Dia terlambat, sensei. Dan juga melanggar aturan berseragam serta berkeliaran di tempat yang tidak seharusnya"
" Tidak!" Suara Yoojin terdengar defensif dari pada yang dia perkirakan "M-maksudku, dia yang tiba-tiba menarikku, bersikap aneh, menanyai namaku dan kelasku! A-aku bahkan tidak mengenal dia siapa dan kenapa aku harus mengatakan profil pribadiku padanya, sensei ?"
" Well, kau memang harus dan aku punya hak untuk mengetahui informasi tentangmu, nona sok tahu"
" Kau ini memangnya siapa ?!" entah itu pertanyaan atau perintah tantangan
Kedua alis Sensei itu menukik tajam, kebingungan dengan ucapan Yoojin " Maaf sebelumnya tapi... Apa mungkin kau Jung Yoojin?"
" Um... Iya"
" Astaga! Kau seharusnya mendatangiku 15 menit yang lalu, Yoojin. Aku sudah mencarimu kemana-mana, dan aku Wali Kelasmu, panggil saja Takao Sensei" ucap Takao sensei memandangi jam tangannya sambil mendesah maklum
Yoojin secara otomatis menundukkan kepalanya merasa bersalah karena membuat Wali kelasnya menunggu dirinya "M-maafkan aku sensei. Ada sedikit gangguan ketika aku berangkat sehingga aku harus terlambat"
Siswa laki-laki di hadapan Yoojin itu berusaha menahan tawanya melihat tingkah Yoojin yang tiba-tiba menjadi penurut dan menutup mulutnya. Dia termagut-magut ketika melihat sepasang bola mata Yoojin meliriknya kejam dan menuntutnya untuk tidak tertawa
" Aku Ketua Komite Kedisiplinan, kalau kau ingin tau" ucapnya tidak jera membuat kepala Yoojin berdenyut kesal "Dan sudah tugasku untuk mendisiplinkan siswa yang melanggar aturan... Seperti kau ini"
" Baiklah, Yoojin kamu ikut saya. Akan saya antar ke ruang kelasmu, dan untuk pelanggaran hari ini biarkan saja dia bebas, anggap sebagai toleransi bahwa ini hari pertamanya disini" titah Sensei kepada siswa laki-laki itu
0o.o0
Yoojin masuk ke dalam kelas setelah pergantian mata pelajaran kedua dimulai. Dia hanya berharap bahwa kehidupan normalnya kembali seperti dulu. Takao Sensei sudah mendahuluinya masuk ke kelas, sesaat kemudian ketika dia dipersilahkan masuk Yoojin menyempatkan diri menarik nafas dan memasang senyum terbaiknya.
" Ohayou, salam kenal aku Jung Yoojin." Ucapnya singkat
" Whoaaaa" seruan mulai terdengar dari berbagai penjuru kelas
Murid baru memang jarang pindah di pertengahan tahun ajaran, sehingga tampaknya kehadiran Yoojin merupakan sesuatu yang langka. Yoojin hanya bisa tersenyum kikuk sampai sepasang iris coklat miliknya bertemu dengan rambut pirang yang disibak pongah oleh orang yang membuat kepalanya berdenyut kesal tadi pagi.
*Si pendek Ketua komite kedisiplinan itu ternyata sekelas denganku? * Yoojin membatin kesal
" Yoojin, kamu bisa duduk disana" Takao sensei menunjuk tempat kosong disamping Ketua Komite Kedisiplinan yang memang tidak memiliki teman sebangku
Yoojin menatap Takao Sensei dengan pandangan meragukan suruhan Senseinya "D-disana sensei?"
Siswa pendek pirang itu dengan senyuman lebar mengangkat tangannya sambil melambai santai "IYA, DISEBELAHKU"
Yoojin menoleh sambil setengah terperangah. Dia benar-benar ingin menutup mulut di pendek pirang menyebalkan itu secepat mungkin. Sepertinya tidak cukup dengan membuatnya kesal tadi pagi sekarang dia malah membuatnya bertambah penat lagi.
" Hai Yoojin! " ucapnya sambil menunjukkan senyum miringnya
" Yak! Bukankah dia benar-benar seperti gentleman? " ucap salah satu murid berfangirl ria
" Selalu saja begitu, mentang-mentang dia Ketua Komite Kedisiplinan" gerutu salah satu siswa
" Wah, sialan. Padahal murid baru itu benar-benar tipeku" murid lain berujar cukup keras
Yoojin hanya bisa memaksakan sebuah senyuman yang mungkin lebih pantas disebut ringisan sambil mengangguk-angguk membalas sapaan si pendek pirang itu. Selepas teriakan sahutan dari murid-murid lain mulai berhenti, Yoojin dengan setengah hati melangkahkan kakinya menuju bangku kosong disebelah siswa laki-laki itu.
Takao Sensei tersenyum lalu berpamitan dengan Sensei yang akan mengajar mata pelajaran kedua pagi ini. Yoojin menggantung tasnya dengan menahan emosi ketika sebuah senggolan keras di siku kanannya mengalihkan perhatiannya
" Apa !?" tanya Yoojin
" Ya ampun, ternyata selain sok tahu kau juga galak ya?" ucap nya membuat Yoojin memutar bola matanya
" Dan kau menyebalkan, dasar pendek" balas Yoojin
" HEH ! Aku lebih tinggi darimu tau! Aku tidak pendek, kau yang ketinggian"
" Aku memang tinggi, terima kasih pujiannya" Yoojin mengendikkan bahu sambil tersenyum penuh kemenangan
Siswa laki-laki itu berdecak kesal " Hey, bukankah kita seharusnya berkenalan ulang?"
" Kata-katamu tadi pagi memberiku inspirasi sejujurnya, jadi... aku tidak tertarik berurusan dengan mu"
" Sial. Cepat lakukan saja. Sebagai Ketua Komite Kedisipilinan, aku harus tahu siapa kau"
" Well, kau tahu aku sekarang. Aku Yoojin, aku sekelas denganmu, dan aku duduk disampingmu"
Siswa laki-laki itu memutar bola matanya kesal. Merasa kalah dalam adu perdebatan dan juga diabaikan oleh Yoojin yang sedari tadi sibuk mengeluarkan buku miliknya. Dengan paksa dihadapkannya tubuh Yoojin menghadapnya. Sebuah tangan terjulur dan tergantung dihadapan Yoojin. Yoojin menghembuskan nafasnya lelah, dia dengan setengah hati akhirnya menyambut uluran tangan laki-laki itu.
" Jung Yoojin" ucapnya memperkenalkan diri
"Park Jimin. Jangan terpesona denganku ya" Siswa laki-laki itu menaikkan alisnya sambil menyunggingkan senyuman miring yang untuk sesaat Yoojin tampak terdiam mematung " Well, selamat datang nona sok tahu, semoga harimu tidak menyenangkan"
" Senang berkenalan denganmu, pendek pirang menyebalkan"
*Oh Tuhan, perbuatan buruk apa yang kulakukan sehingga pantas mendapat takdir malang seperti ini?*
TBC
Author's note:
Setelah lama ga nulis, ga tau kenapa tiba2 pengen aja nulis ini. Semoga readers bisa memberi saran ataupun kritik yang membangun :)
Chapter-chapter awal belum terlalu banyak yg muncul karakternya, aku akan berusaha keras untuk memunculkan mereka satu persatu dan menjelaskan pelan-pelan bagaimana hubungan mereka semua
FIGHTING!
XOXO blackrystal
