Musim dingin sudah menyelimuti Kyoto dengan tirai-tirai putihnya yang sedingin es dan seburam kaca tua. Butiran-butiran salju yang besar dan putih bertumpuk di sekeliling rumah bak istana kerajaan itu, dan lapisan-lapisan kristal salju melapisi di setiap jendela-jendelanya. Tangan gadis kecil itu terus mengetuk-ketuk kaca jendela di hadapannya.

"Rukia-chan? Apa yang kau lakukan di sana?" ucap wanita yang sedang duduk di dekat perapian.
Buku yang sedari tadi dibacanya ditutup untuk melihat adik kecilnya yang berada di dekat jendela memandangi butiran-butiran salju yang turun.

"Nee-san? Aku bosan!" Kini gadis kecil itu menghentikan kegiatannya–mengetuk-ketuk jendela dan menghadap kakaknya.

"Hmn ... Bagaimana kalau kita bermain?" tanya kakaknya dengan antusias. Dia mendekati adiknya dan menarik tangannya lembut meninggalkan ruangan perapian.

"Bermain? Maksud nee-san bermain piano? Kali ini lagu apa yang akan kita mainkan?" jawab adiknya tak kalah antusias.

"Kau akan mengetahuinya nanti peri kecil!" Kini mereka berdua sudah berada di depan sebuah ruangan yang bisa dibilang cukup luas – untuk ukuran kamar tidur. Tangan sang kakak terulur untuk menghidupkan lampu ruangan itu.
"Baiklah ... Kali ini kau yang akan beryanyi peri kecil."

Begitu lampu menerangi keseluruhan dari ruangan itu, dapat terlihat berbagai macam alat musik tertata rapi di tempatnya. Seperti Biola, Gitar, Harpa, Piano, Cello, Saxophone, Flute, dan lainnya. Ruangan itu juga dilengkapi dengan beberapa rak yang terisi dengan berbagai CD/album serta piringan hitam.

Kedua kakak beradik itu berjalan mendekati piano, membukanya, dan mengelus tutsnya seakan akan sedang menyentuh bayi yang baru lahir.

"Twinkle-Twinkle Little Star! Itu lagu yang akan kita mainkan, bagaimana Rukia-chan?"

"Baik! Akan kunyanyikan, nee-san buatlah piano itu bernyanyi seindah mungkin ok?"

Alunan melodi yang indah pun mengalun. Begitu juga dengan suara yang mengiringinya.

Twinkle, twinkle, little star,
How I wonder what you are!
Up above the world so high,
Like a diamond in the sky! ...

Setelah beberapa menit, mereka selesai bermain. Keduanya saling tersenyum manis atas permainan yang telah mereka lakukan. Melihat adiknya tersenyum riang dan terus memuji permainan pianonya, tiba-tiba sorot mata sang kakak menyendu.

"Nee-san? Kau baik-baik saja?"

"Rukia-chan ... Boleh nee-san bertanya?"

"Nee-san ... Aku ini adikmu! Kau boleh menanyakan apa saja."

Sang kakak tersenyum getir mendengar pernyataan adiknya. Lalu mengusap puncak kepala sang adik dengan penuh kasih sayang. "Kenapa kau begitu menyukai musik?"

"Nee-san sudah tahu alasannya kan?"

"Nee-san ingin mendengarnya lagi peri kecil!"

"Karena dengan bermain musik, aku merasa nee-san selalu berada di sampingku! Nee-san adalah seorang pianist yang sangat aku idolakan! Aku harap bisa bermain sehebat nee-san dan bermain di atas panggung yang sama," tukas Rukia.

Tatapan sang kakak pun semakin menyendu ketika mendengar ucapan adiknya yang sangat bersemangat. Dia tak tega harus menghancurkan harapan adiknya, dia takut kalau suatu saat nanti adiknya terluka akibat dari semua ini. "Kau pasti bisa Rukia-chan! Bahkan kemampuanmu nantinya akan melampaui kemampuan nee-san."

"Eeehh? ... Bagaimana bisa? Bahkan kemampuanku bermain piano saat ini begitu buruk nee-san."

"Tidak ... Rukia-chan kau salah, kemampuanmu sudah sangat hebat untuk anak seumuranmu dalam memainkan piano."

"Benarkah?!"

"Hmm ... oleh karena itu, teruslah bermain piano dan tingkatkan kemampuanmu Rukia-chan!, nahh selanjutnya lagu apa yang akan kita mainkan?"

.

.

.

.

~...::The Last Petals of Cherry Blossoms::...~

Disclaimer : I do not own Bleach, Bleach belong to Kubo Tite

WARNING!
AU, OOC, typo(s), Misstypos, Jalan cerita semau Author, Ide pasaran dan klise (maybe?), Author newbie, D.L.L, D.S.B


Chapter 1 : The Bad Memories


.

.

.

.

If you don't like, don't read! Simple as that ^.^

"... ia!"
"Rukia!"

Gadis itu tersentak ketika namanya dipanggil. Mengerjapkan matanya beberapa kali untuk mengumpulkan kesadarannya yang masih tercecer di alam bawah sadar. Setelah dirasanya cukup, dia melirik ke arah orang yang membangunkannya, wajah orang itu terlihat sangat khawatir. Di tangannya tergenggam sehelai kertas–yang entah apa isinya.

"Hinamori? Ada apa?" suaranya terdengar berat dan sedikit parau tanda orang yang baru saja bangun tidur.

"Kau baik-baik saja kan?"

"Aku? Ahh sangat baik kok."

"Kau tidak terlihat baik-baik saja Rukia, kau ... Menangis, dalam tidurmu."

Mendengar itu Rukia langsung menyentuh wajahnya. Dan benar, ia merasakan tangannya sedikit basah oleh air mata.

"Mimpi itu lagi ya? Rukia, cobalah melihat ke depan, jangan buat dirimu seperti ini."

"Iya aku tahu, itu hanyalah masa lalu. Tunggu! Kenapa kau berada di dalam kamarku?"

"Ahh itu ... Jadi kau tidak menyadarinya? Maaf kalau tidak sopan, aku masuk ke kamarmu tanpa izin. Tadi Abarai-san bilang melalui telepon kalau dia ingin bertemu denganmu. Karena pintu kamarmu tidak dikunci, jadi aku langsung masuk," jelas Hinamori.

"Ada perlu apa lagi dia? Ughh ... Jam berapa sekarang?" Rukia mengerang frustrasi, sudah berapa kali dia bertemu orang itu dan selalu mengajukan pertanyaan yang selalu sama. Rukia mengacak-acak rambutnya yang memang sudah berantakan berusaha untuk menghalau rasa amarahnya.

"Jam 9 pagi Rukia."

"Jam 9 hmm ... apa?! Jam 9?!"

Seakan ada benda berat yang baru saja menghantam kepalanya, Rukia langsung bangkit dari tempat tidur dan menuju kamar mandi tanpa menghiraukan Hinamori yang terkejut atas tindakannya. Sungguh sikap yang tidak boleh ditiru jika kau adalah seorang keturunan bangsawan.


.

.

.

-O0O-

Dia menyesap minumannya pelan dan memandang ke luar jendela. Salju mulai turun lagi. Dirinya menatap butiran-butiran salju yang luruh di luar jendela cafe itu. Butiran salju yang melayang-melayang diterpa angin musim dingin dan kemudian jatuh ke tanah dan menyatu dengan hamparan putih yang sudah lebih dulu menyelimuti jalan.

Ada yang hilang.

Keningnya berkerut samar. Tentu saja ada yang hilang. Ia tahu benar ada sesuatu yang hilang.
Dia menarik napas dalam-dalam. Yahh ... itu hanyalah masa lalu.

Dia berputar membelakangi jendela dan memandang ke sekeliling ruangan. Cafe besar ini mulai ramai. Orang-orang terlihat gembira, saling tersenyum, dan tertawa, menikmati minuman hangat mereka.

Tepat pada saat itulah dia melihatnya, Renji baru memasuki cafe.

"Yo! Sudah lama menunggu? Maaf aku terlambat," sapa orang itu dan langsung mengambil duduk tepat di depannya.

"Kau terlambat selama 1 jam! Kau tahu kan? Aku sangat benci menunggu."

"Ya ampun, aku sudah minta maaf kan Rukia? Jalanan macet, akibat timbunan salju. Oh ... Ayolah jangan menatapku seperti itu, kau seperti akan membunuhku!"

"Memang! Aku berharap itu bisa membunuhmu Renji! Aku tak ingin membuang waktuku di sini, katakan! Apa yang ingin kau bicarakan?!"


.

.

.

-O0O-

Cuaca pagi ini gelap dan berangin ditambah salju turun. Mulanya, pria itu bertanya-tanya apa yang akan dilakukannya di hari seperti ini. Dia merasakan kecapekan dan kurang tidur setelah pulang larut malam dari makan malam di rumah temannya.

Di sana, dia harus membantu membuang sampah, membereskan meja makan, serta pekerjaan lainnya yang membuat tubuhnya kini terasa kaku untuk digerakkan.

Dan parahnya, di rumah itu tak ada satu pun buku untuk dibaca sekedar untuk menghilangkan rasa jenuh.

Rasa lelah yang teramat sangat dan rasa takut yang mencekam bercampur jadi satu, menggumpal dan menyumbat niatnya untuk memberitahu keberadaannya kepada keluarganya.

apa yang harus dilakukannya? Dia pergi dari rumah tanpa seizin dari keluarganya sudah pasti membuat keluarganya khawatir dan kecewa. Tidak, bukan berarti dia tidak menyukai keluarganya. Ayahnya yang kelewat enerjik, ibunya yang begitu lembut, dan kedua adiknya yang membuat keluarga terasa lebih ramai. Dia menyukai semua itu.

Akan tetapi, masalahnya bersama pacarnya, atau bisa disebut mantan sekarang, membuatnya pergi dari hiruk pikuk ibu kota untuk menenangkan pikirannya yang sedang kacau balau.

Di dalam kamar hotel inilah kini dia berada. Di tatapnya sekeliling ruangan itu. Sunyi dan hanya terdengar samar-samar suara orang yang berlalu-lalang di koridor hotel. Namun bagaimanapun, kondisi ini lebih baik daripada harus berurusan dengan gadis itu.

"Ini jauh lebih baik, aku akan pulang dalam beberapa minggu ke depan, aku rasa itu tidak masalah?"


.

.

.

-O0O-

"Renji! Kau ini tuli atau apa? Sudah berapa kali kubilang, aku tak akan melakukannya!" Rukia uring-uringan menghadapi orang yang berada di depannnya ini. Cukup, ini sudah mencapai batasnya. Lebih baik dia keluar dari cafe ini dan bersantai di dalam rumah. Bukankah dia sudah menolak berkali-kali? Kenapa orang yang satu ini begitu keras kepala?

"Rukia kumohon! Kau tak mengerti. Kami sangat membutuhkanmu dalam hal ini. Kumohon pertimbangkan dulu," balas Renji tak mau kalah.

Rukia yang tadinya sudah berdiri dan berencana meninggalkan cafe, tapi tangannya digenggam terlalu erat dan sekarang dapat dirasakan tangannya mulai sakit karena digenggam seperti itu. Akhirnya Rukia kembali melirik Renji dengan wajah sinis, bengis, dengan tatapan mata yang mengancam siap memangsa.

Melihat dirinya diancam dengan tatapan seperti itu, Renji sedikit melonggarkan genggaman tangannya dan menunggu Rukia bicara.

"Dengar baik-baik! Abarai Renji! Aku sudah sangat lama meninggalkan dunia musik, aku juga tidak yakin apakah kemampuanku masih sama seperti dulu. Jadi, carilah orang yang lebih baik dari aku, jangan pernah libatkan aku dalam dunia musik lagi! Permisi!"

Kali ini Rukia sudah tak menghiraukan lagi apa yang terjadi, terserah saja, mau orang itu bunuh diri, menjadi gila, itu bukan urusannya. Yang terpenting adalah ke luar dari cafe tersebut. Entah kenapa udara di dalamnya terasa sangat panas seakan membakar dirinya padahal ini adalah musim dingin. Renji terus meneriaki namanya dari kejauhan. Suasana cafe menjadi sedikit heboh akibat perdebatan kecil yang dilakukan Rukia dan Renji. Ahh ... Apa pedulinya tentang semua itu, toh dia tidak memiliki hubungan apa-apa dengan orang-orang yang berada di cafe itu.

Rukia pun keluar dari dalam cafe yang dianggapnya sebagai neraka dunia. Dia tak mau lagi terseret ke dalam lubang hitam yang pernah menjeratnya. Di sana gelap, hampa, dan sunyi. Dia tak bisa mendengar apa-apa, dan itu sangat menyiksa batinnya.

Kenapa takdir begitu kejam padanya?

Kenapa tak ada satupun yang memihaknya?

Kenapa semua yang dimilikinya hilang begitu saja?

Kenapa harus musik? Yang dulunya membawa kebahagiaan padanya kini menghujaninya dengan ribuan jarum yang berkarat, sakit. Musik membawanya kepada kenangan buruk itu lagi.

"Nee-san katakan padaku! Apakah ini hukuman untukku? Kenapa harus seberat ini? Aku tak sanggup menahan semuanya, musik merebutmu dariku. Nee-san kumohon ... Kirimkan aku bantuan," guman Rukia.

Rukia menengadahkan kepalanya menatap horizon langit. Ruang luas yang terbentang di atas bumi, tempat beradanya matahari, bulan, bintang itu kini menghujani dirinya dengan butirang-butiran salju yang dingin.

Apakah nasibnya sekarang sama seperti salju yang turun itu? jatuh dari tempat yang sangat tinggi dan mencair saat jatuh di atas dataran bumi.

"Mustahilkah? Mustahilkah … Jika aku berangan-angan kalau nee-san masih berada di sampingku dan bermain di atas panggung yang sama? Hahh … Aku rasa itu memang mustahil."

.

.

.

.

~To Be Continued~

.

.

.

.


A/N :

Tolong sayaaa! Tolonglah Author yang sangat Newbie ini dalam dunia FanFic.
saya tahu kok, di Fic yang saya buat ini masih banyak banget kekurangannya. Entah itu tata cara penulisan saya, EYD, dan lain-lain. Mohon bantuannya, jika ada yang salah mohon tulis di kotak review. saya mengharapkannya, untuk memperbaiki Fic ini dan mencoba yang terbaik. Hanya bermodalkan keberanian untuk mempublish ini.

Oh iya, sebenarnya saya gak terlalu tahu tentang dunia Pianist. Hanya melakukan riset kecil-kecilan bersama Mbah Google. Kalau ada yang salah, silahkan ingatkan saya.

akhir kata, boleh minta saran dan kritikannya? ^.^

Sign,
Classie