In Sorrow

.

.

A fiction by dearestnoona

.

ChanBaek


"Happily ever after, or even just together ever after. Its not cheesy."

"It's the noblest, like, the most courageous thing two people can shoot for."


:::

.

Sudah menjadi rutinitas bagi Baekhyun untuk segera bergegas menuju corner dari para Riser. Di sana, bisa dilihat banyak Riser yang tengah menyeleksi keberadaan mahluk di alam sana. Mata mereka tak henti-hentinya memandang taber yang mereka pegang.

Tak hanya untuk sekedar menyeleksi, di sana, mereka biasa untuk berekreasi. Sesungguhnya peraturan semacam itu sudah dihapuskan, mengingat kebutuhan para Rester yang membeludak. Dan juga kebutuhan pendidikan, menjadi alasan dibukanya corner tersebut dibuka untuk umum.

Sedari tadi jemari lentiknya tak henti-hentinya bergerak. Mengepal, melambai, dan kegiatan abstraknya, hampir menjadi pusat perhatian. Tingkahnya yang agak di luar akal, memang sangat sulit untuk dicegah.

Jari-jari lentik itu, sontak menyentuh layar berkilau dari taber. Bibir mungil miliknya hampir mengeluarkan cairan merah. Dikarenakan, gigi putih itu tak henti-hentinya menggigit bibir bagian bawah.

"Seharusnya dia tidak harus memaksakan diri pergi ke sekolah," Ia bermonolog ria. Setengah berbisik, Baekhyun mengerucutkan bibir tipisnya.

Dari sana, sepasang mata itu tak henti-hentinya menatap kegiatan seorang lelaki. Layaknya penguntit, ia bahkan tidak merelakan diri untuk melepaskan pandangannya dari sana.

Penguntit yang tidak pernah berada di sekitarnya. Lebih tepatnya, Baekhyun hanya menguntit layaknya penggemar di media sosial.

Bahkan melihatnya langsung saja tidak pernah. Bagaimana berharap berjodoh dengannya. Bodoh.

Mengingat hal tersebut, rasanya sistem saraf di otak telah memberhentikan pikiran semacam itu. Bukannya tidak suka, hanya saja memikirkan hal tersebut membuatnya menjadi pesimis. Putus asa, sebagaimana ia akan menggantungkan diri di jurang neraka.

Memikirkan neraka, rasanya, Riser sepertinya tidak pernah melihat tempat semacam itu. Apalagi untuk menempati, atau mungkin bunuh diri di sana. Mengerikan.

Byun Baekhyun! Kapan kau akan pulang, huh? Kau ingin digantung oleh Raja Orang Mati?

Sontak Baekhyun memejamkan matanya. Suara yang melengking, bagai frekuensi dari getaran bunyi yang menggemparkan. Telinganya serasa akan putus.

Hyrophonos. Benda yang sengaja dipasangkan di telinga bagian dalam para bayi oleh Ibu di alamnya. Benda tersebut bahkan bisa menerima panggilan jika saja jaraknya ratusan juta kilometer.

Hyrophonos memang bersifat kekal. Tidak bisa dihilangkan, dilepas, dan lain sebagainya. Terkecuali, jika ada seseorang yang bersedia telinganya dipotong. Atau mungkin mati bunuh diri, karena frustasi dengan kirimin suara dari si sender. Maaf saja, tapi Baekhyun tidak ingin mati, atau dipotong telinganya hanya karena suara sang Ibu dari Hyrophonos-nya.

Ia bahkan belum bisa bertemu langsung dengan sang pujaan hati. Bagaimana mau mati.

Sesungguhnya ia harus mengembalikan taber ke tempat pengembalian, namun mengingat ia harus segera bergegas, maka diambilnya untuk dibawa ke rumah. Walaupun harus membayar dengan masa tenggang kartu izin untuk masuk ke corner lagi.

Diambilnya cepat, lalu diletakkan ke sisi tubuh. Dengan penyangga khusus, taber itu bahkan telah tersimpan dengan rapi, tanpa khawatir harus terjatuh. Setelah bersiap, ia meluncurkan lift khusus ke rumahnya. Kaki mungil itu melangkah masuk, namun sebelumnya, seringaian kecil terpatri di sudut bibirnya.

Hari ini kau tidak akan lepas dari pandanganku, Park Chanyeol

:::

Belum sempat mendudukkan diri, sepasang mata masih mengawasinya. Helaan nafas kasar kembali terdengar, "Bu, ada apa lagi, sih? Aku 'kan sudah menuruti Ibu untuk pulang ke rumah," sahut Baekhyun tanpa menghilangkan raut masamnya.

Sang Ibu yang tadinya mengawasi gerak-gerik anak sulungnya, hanya bisa mendecih. "Kau ke corner lagi? Untuk apa?" Tatapan menyeramkan sang Ibu memang tidak pernah bisa diragukan lagi. Suasanya yang menyelimuti pun berubah menjadi horror.

"Tentu saja untuk melihat, Bu. Apalagi?"

"Melihat apanya, anak nakal? Ini sudah genap setahun kau pergi ke sana, tapi tidak membuahkan hasil. Sebenarnya yang kau lakukan itu apa, sih? Atau jangan-jangan kau berbohong pada Ibu?" pertanyaan bertubi-tubi keluar seketika tanpa jeda. Rasanya mengerikan. Berhadapan dengan pertanyaan aneh, dan tatapan mengerikan seorang Ibu. Lebih baik Baekhyun ditempatkan ke neraka saja, atau mungkin di neraka lebih buruk dari ini?

"Aku bersungguh-sungguh, Bu. Untuk apa aku bohong?" Baekhyun menarik nafasnya cepat, "Jika Ibu tidak percaya, Ibu bisa periksa sendiri ke daftar pengunjung, dan lihat sendiri apa aku ada di dalam daftar itu." Tutur Baekhyun singkat.

Walau begitu, tatapan mengerikan sang Ibu membuat Baekhyun menghela nafasnya kembali. Sebenarnya Ibu percaya tidak sih, dengan anaknya sendiri? Baekhyun membatin.

Posisi Nyonya Byun yang tadinya berdiri, langsung terduduk. Ia menatap lesu si sulung, "Baek," Ia merubah raut wajahnya. Raut itu terlihat sendu, bahkan seperti putus asa.

"Kau tahu bukan, jika Ayahmu adalah seorang yang dihormati di kalangan Riser? Dirinya bahkan telah menjabat sebagai wakil dari State Riser. Kuharap kau mengerti, Baek."

Baekhyun menghela nafasnya. Ia bahkan sudah mengira-ngira jika akan berakhir seperti ini. "Bu, secepat mungkin, aku pasti akan mendapatkan Humonis," sahut Baekhyun kemudian. Sepasang mata dari sang Ibu ternyata tak bisa berbohong. Pancaran harapan masih menunggu di dalam sana, menanti jawaban pasti.

"Tapi, aku tidak berjanji akan secepat apa yang Ibu pikirkan..," lirihnya yang tanpa sadar didengar oleh Ibunya. Ia meringis, menyadari kesalahan yang cukup fatal baginya. Pancaran mata itu kembali berubah. Bagai kabut hitam yang menjadi hunian gemuruh di siang hari.

"Byun..," mati kau, Baek.

"Jika kau tidak benar-benar mendapatkan Humonis dalam seminggu terakhir, maka kau akan Ibu nikahkan dengan pangeran neraka. Ingat itu!" Glup. Membayangkan harus bertemu saja, tidak. Apalagi menikahi pangeran neraka? Mimpi buruk di siang bolong.

"Oke, oke, oke! Kita sepakat!" sela Baekhyun cepat. Seringaian kemenangan terpatri jelas di sudut bibir sang Ibu. Kali ini kau kalah, Baek.

"Tapi, satu hal. Jangan pernah mengucapkan kata pernikahan dalam pembicaraan di antara kita. Apalagi dengan pangeran neraka, ya Tuhan!"

Baekhyun merengek dalam hati. Bagaimana caranya mendapatkan Humonis dalam waktu seminggu? Mati saja, kau Baek. Ia berpikir keras, sekeras batu Remons sang lambang keabadian.

Dilihatnya si singa betina yang mulai menampilkan raut kepergiannya. Segera, diraihnya satu toples penuh gula-gula yang telah dibentuk menjadi beraneka warna dan bentuk. Seperti makanan manusia, mahluk semacam Baekhyun memang telah terbiasa memakan makanan seperti manusia. Mengingat tugas para riser yang selalu berkaitan dengan Humonis yang mana juga manusia.

Tapi tetap saja, yang paling nomor satu adalah bacon. Memikirkannya saja membuat air liur Baekhyun menetes. Sungguh menakjubkan.

"Sisakan beberapa untuk adikmu—hey, Byun Baekhyun!" Tanpa menggubris perkataan Ibunya, Baekhyun memilih untuk berlari menuju kamar di lantai atas. Lebih tepatnya kamar yang berada di atap. Biasa, mengikuti tren di dunia manusia sana.

"Tenang, Bu! Akan kugantikan dengan segudang cokelat batang! Tapi, kapan-kapan ya..," seru Baekhyun dari kejauhan. Tanpa disadari raut wajah sang Ibu terlihat kesal. Bisa-bisanya dia melakukan hal itu pada Ibunya sendiri, gerutu sang Ibu membatin.

Tanpa mempedulikan sekesal apapun Ibunya, Baekhyun malah cekikikan. Apalagi jika mengingat wajah Ibunya ketika memerah. Semerah iblis di neraka, menggelikan.

Sepasang kaki pendeknya, digunakan untuk mendorong pintu agar menutup. Ketika dirasa cukup, digerakkan kaki-kaki tersebut ke atas dan ke bawah secara tak teratur. Hingga alas kakinya terlepas dari kaki bagian bawah.

Apa yang dikatakan Ibu memang selalu benar. Dan benar saja, ternyata Baekhyun bahkan lebih malas jika dilihat dari kebiasaan buruknya. Jika saja Ibunya tahu, habis sudah. Mungkin akses bebasnya akan dicabut paksa.

Tapi yang terpenting Ibunya sedang tidak mengawasinya. Dan yang lebih penting adalah kegiatan menguntitnya yang sempat tertunda sejak tadi. Memikirkannya saja, Baekhyun serasa sudah tidak menguntit si sasaran selama berabad-abad lamanya.

Senyuman kecil sejak tadi terulas di bibir tipisnya. Ia bahkan tidak bisa berhenti untuk tersenyum. Baekhyun benar-benar dibuat gila dengan perasaannya.

Tanpa menunggu lama, diraihnya taber yang sudah dilemparkannya ke atas ranjang sejak tadi. Jemari lentiknya mengusap layar berlapiskan kristal terbaik di negrinya. Tak berselang lama kemudian, terpampang lah sesosok lelaki jangkung yang kini berdiri dengan wajah bodohnya. Melihat hal tersebut, rasa penasarannya seakan meluap bagai genangan air yang berubah menjadi danau besar.

Apa aku melewatkan sesuatu? Baekhyun bertanya dalam hati. Sepasang mata sipitnya tak berhenti memandang layar. Seolah-olah benda tersebut sangatlah sayang untuk dilewatkan.

Dari layar sana, terlihat jelas sepasang lelaki yang tampak dekat satu sama lain. Mereka bahkan terlihat begitu mesra. Siapapun yang melihatnya pasti akan merasa iri. Termasuk lelaki jangkung yang masih setia berdiri, seraya memandang kebersamaan sepasang insan yang bahkan tidak perlu diketahui hubungannya.

Matanya menatap kosong sang objek. Tatapan itu terlihat sendu, sesendu perasaannya.

Baekhyun masih setia menonton pemandangan dari layarnya. Ia bahkan tetap setia memandang wajah sang pujaan dari balik layar.

Apa dia…., sedang patah hati?

Bagai jutaan batu yang menghantam, rasa sakitnya bahkan tidak seberapa. Layaknya bersender di pohon mangga, maka siapapun yang menyender akan terkena getahnya. Termasuk Baekhyun. Yang dirasakan lelaki itu bahkan menular sampai ke dalam-dalamnya.

Bagaimana rasanya melihat orang yang kau sukai patah hati?

Walau rasa itu tidak berlaku untuknya, setidaknya, biarkan Baekhyun memperbaiki patahan hati yang telah terbelah.

Bahkan jika pada akhirnya tidak semua cerita akan berakhir bahagia.

:::

Semua yang tengah berkumpul di sana sontak terkejut setelah kalimat yang dilontarkan oleh Baekhyun. Ada yang terkejut, datar, dan bahagia. Saking bahagianya, sampai meneteskan air mata.

Baekhyun melihat keanehan yang terjadi. Keluarganya memang aneh. Mungkin jika ada angket keluarga, keluarganya akan masuk nominasi keluarga teraneh.

Baekhyun mendelik geli, "Apa? Ada yang salah?"

Si bungsu yang tadinya memasang wajah terkejut, kini mengubah sedikit rautnya. Setidaknya untuk mempertahankan image tampannya. "Kau…, serius, Kak?" tanya Sehun yang masih dirundung pertanyaan. Pikirannya seakan mencuat kemana-mana, mengingat keputusan yang sudah lama dinanti keluarganya, akhirnya telah diputuskan juga.

"Tentu saja. Apa aku terlihat sedang bercanda?" balas Baekhyun yang disambung dengan dengusan jenaka. Respon adiknya bahkan membuat Baekhyun merasa aneh. Bukankah ini yang mereka inginkan? Tanya Baekhyun membatin.

Matanya kini menangkap raut kebahagiaan sang Ibu. Bisa dilihat dari kedua mata yang agak berbinar. Walau tanpa ulasan senyuman di sana.

"Kau serius 'kan, Baek?" sahut Nyonya Byun sambil menelan separuh makanannya. Baekhyun mengangguk jelas.

"Sungguh, Ibu tidak akan memaksamu untuk pergi. Jika tidak ingin, lebih baik tidak usah," Tutur sang Ibu dengan nada pelan. Baekhyun bisa mendengar jelas penuturan Ibunya. Sejujurnya, ia juga tidak ingin. Namun, inilah pilihannya. Bagaimana 'pun juga, ia harus mewujudkannya.

Dari keduanya, sang kepala keluarga malah memilih diam. Wajahnya bahkan terlihat datar-datar saja. "Ayah, apa kau setuju dengan keputusan Kak Baekhyun?" tanya si bungsu. Ayahnya menatap dalam Baekhyun. Beliau bahkan hanya menganggukkan kepalanya perlahan, namun penuh perhitungan.

"Sudah seharusnya anak sulung sepertinya melakukan hal seperti ini, 'kan? Kalian tidak perlu terkejut." Sahut tenang sang Ayah. Baekhyun menatap Ayahnya gugup. Tak lupa mengangguk perlahan, seakan memberi jawaban yang sama.

"Kau yakin bisa, Baek?" Rasa penasaran para Ibu memang tidak bisa diragukan lagi. Jika mereka bertanya sekali, maka akan terus bertanya. Sungguh memusingkan.

"Ya, dan pasti. Jangan pernah meremehkanku, oke? Aku bukan anak kecil lagi. Aku juga ingin menjadi Riser yang berguna. Setidaknya membantu masalah Humonis nantinya." Baekhyun berkata dengan keteguhan yang tetap, kemudian diikuti anggukan mantap dari sang Ayah.

"Dan kau juga Sehun. Tahun depan, kau harus masuk uji coba. Pastikan nilaimu di atas rata-rata," Suasana penuh haru itu berubah menjadi helaan nafas pelan dari mereka. Baekhyun terkekeh pelan. "Tidak sulit. Kau hanya disuruh untuk tidur bersama ribuan serangga dari dunia manusia,"

Raut wajahnya semakin menegang, mendengar Baekhyun yang membicarakan kebenciannya. "Enyah saja kau, Byun!" Sehun mendesis dalam kalimatnya. Wajahnya bahkan menjadi merah semerah bokong monjes di kebun binatang sana. Melihatnya, malah membuat Baekhyun tertawa. Tawanya bahkan menjadi-jadi ketika lontaran kalimat dari sang Ayah.

"Di sana juga tidak diperbolehkan membawa doukley, atau semacamnya. Dan ingat, kabarnya para feros sering menghantui camp riser," Baekhyun bahkan harus memegang perutnya karena tak kuat menahan syaraf yang terus memerintahkan dirinya untuk mengeluarkan tawa lantangnya.

Sehun memberenggut. Ia merasa telah kalah total dalam peraduan di antara Ayah dan kakak. Jika saja Ibunya ikut, mungkin akan lebih heboh. Terlebih Sehun adalah anak bungsu. Otomatis pula akan menjadi bahan bully-an satu keluarga.

Merasa sudah selesai ditertawakan, akhirnya Sehun memberanikan diri membuka mulut. "Siapa yang akan menjadi Humonis-mu?"

Baekhyun melirik sebentar. Ia mengendikkan bahunya, "Perlu apa kau tahu?"

Desisan khas yang menggetarkan, menjadi iringan balasan dari kalimat yang baru saja dilontarkan. Jika saja Baekhyun bukan Kakaknya, mungkin saja dirinya sudah mencabuti bulu mata menyebalkan itu, Sehun mulai berpikir jahat. Sejahat raut wajah yang rasanya ingin dijadikan alas kaki.

"Kudoakan agar kau gagal. Sungguh sialnya sang Humonis yang malang. Kuharap engkau diberkati," Sehun berujar seraya menelungkupkan kedua jemarinya, kemudian memejamkan mata. Sebagaimana orang tengah memohon.

Baekhyun mendelik jenaka. Adiknya yang satu ini memang mudah terbawa perasaan. "Dan aku juga mendoakan agar para feros setia melakukan rutinitas mereka setiap malam," sahut Baekhyun tak mau kalah. Sahutannya membuat sang adik kembali menempatkan ujung lidahnya tepat di belakang gigi, hingga menimbulkan desisan kecil.

Merasa sudah berlama-lama, Baekhyun melirik timernya. Bahkan sang dewa telah menetapkan perbedaan panjang antara jarum pendek dengan yang panjang. Ia benar-benar sadar jika waktunya tidak banyak lagi.

"Sepertinya aku harus pergi," Seluruh mata yang melihatnya malah menatap heran. "Ini sudah jamnya. Aku tidak mau kehilangan guide tampan di sana," candanya yang kemudian diikuti pandangan malas Sehun.

"Mau Ayah antar?"

"Tidak usah, aku bisa sendiri," ia mengerjap, "Bu, aku pamit, ya. Dalam waktu dekat, aku akan kembali lagi. Jangan merindukanku, ya?" kekehan pelan menghiasi bibir tipisnya. Sang Ibu hanya mengangguk tipis. Berharap tiang janji yang telah dibangun, tidak akan rapuh, apalagi runtuh.

"Jaga diri baik-baik. Jangan sampai mengecewakannya. Ingat itu baik-baik, Baek." Kata Nyonya Byun yang tak kuasa menahan bayang-bayang kejadian di sana.

"Hun, berjanjilah padaku. Jika nantinya kau lolos, jangan pernah berani mengintip, atau sampai berpikir untuk menguntit apapun yang ada dari taber-mu. Lebih baik kau meminta saran dari guide, atau mungkin Ayah. Mengerti?" Sehun mengangguk patuh.

"Aku pergi, ya. Jaga diri kalian baik-baik. Aku mencintai kalian."

Kalimat terakhir yang diucapkan, seakan membuka pintu harapan di sana. Membuat penyokong kuat, namun bisa rapuh dan hancur.

Seandainya pintu tersebut tidak terutup, tiang penyokong yang masih kokoh; layaknya alunan kalimat yang terngiang. Berharap alunan tersebut tidak berhenti.

Setidaknya, biarkan janji itu terpenuhi. Hanya untuk Baekhyun.

:::

Tak ada cahaya di sana. Hanya secercah sinar lemah dari sang rembulan. Awan-awan malam memang agak berkabut, menutupi cahaya sang dewi malam. Bintang-bintang berkilauan dari jauh, menjadi penghias langit malam yang indah.

Malam yang indah di dalam kamar yang mencekam. Definisi dari keadaan dimana Chanyeol terus bertahan untuk mendekam di kamarnya.

Dia bukanlah yang terakhir. Seharusnya Chanyeol tahu itu.

Belum tentu dialah si takdir. Seharusnya Chanyeol juga tahu itu.

Karena dialah yang pertama. Dan dialah yang diinginkan Chanyeol menjadi si takdir. Maka Chanyeol sadar jika keseharusannya akan lenyap. Tetapi, kembali lagi pada keseharusannya. Rasa gundah bercampur gulana, menjadi iringan malam yang mencekam.

Tidak ada kesan horror. Hanya saja, aroma kematian bisa tercium dari sana. Tidak, tidak. Chanyeol bukanlah tipe lelaki yang mudah berputus asa. Apalagi memutuskan untuk bunuh diri.

Tapi tetap saja, lelaki seperti Chanyeol juga bisa merasakan kegundahan. Rasanya menyakitkan sekaligus menyebalkan. Mana ada obatnya untuk mencegah?

Mungkin salah satunya ialah berdoa. Berharap amnesia, atau mungkin ia terbangun tanpa perasaan apapun. Jika bisa, ia ingin melupakannya. Bisakah itu?

Jawabannya, tidak mungkin. Amnesia? Opsi yang cukup baik, namun ia harus bertaruh nyawa untuk itu. Dan melupakan ketika pagi menjelang, apa Chanyeol ingin mengidap Anterograde? Tidak, tidak. Penyakit yang bahkan sangat membuat si pengidap menjadi orang termalang di dunia.

Chanyeol juga masih menginginkan kebahagiaan. Andai saja ada utusan dari Tuhan yang bisa membantunya…

Woosh!

Angin kencang yang membuat ranting-ranting pohon bergesekan dengan jendela; membuat tanda jika angin tersebut bukanlah angin biasa. Tapi tidak mungkin ada angin topan di musim seperti ini, 'kan?

Keadaan kamar yang gelap, membuat Chanyeol kesulitan melihat apa yang terjadi di luar sana. Perlahan, dilangkahkannya sepasang kaki panjang menuju arah jendela. Hendak menutup, Chanyeol malah dikejutkan oleh seekor burung merpati putih yang mati di dekat jendelanya. Mulutnya agak terbuka melihat kejadian tersebut.

Pertanda apa ini?

Mungkinkah seekor merpati tersebut adalah utusan Tuhan? Dan takdir tidak mengijinkan merpati itu membantu Chanyeol? Sungguh malangnya nasib sang merpati.

Jadi, ini salah Chanyeol, atau takdir? Chanyeol lah yang bedoa agar Tuhan mengirim utusan padanya. Dan takdirlah yang membuat sang utusan mati mengenaskan.

Baru saja ia ingin meraih merpati tersebut, dirasanya sepasang jemarinya yang tengah menahan lengan kekarnya. Chanyeol bergidik ngeri.

"Siapa kau?" terdengar tegukan air liur yang sedikit kasar. "Jika kau ada untuk menggangguku, lebih baik kau pergi saja. Selagi aku belum membacakan doa-doa pada Tuhan!"

Kini tegukan kasar terdengar dari arah sosok di belakangnya. Sepasang jemari itu tetap bertahan menggenggam erat lengan kekar Chanyeol. "A-aku tidak bermaksud untuk mengganggu. Malah aku mau membantumu, Chan..," lirihan pelan terdengar merdu di telinga Chanyeol.

Merasa yakin sudah aman, Chanyeol membangkitkan setengah tubuh atasnya. Ia berdiri, bagai tiang yang menjulang hingga menyentuh langit. Lelaki jangkung semacam Chanyeol memanglah terlihat bagai raksasa. Tapi apa ada raksasa tampan sepertinya? Chanyeol sempat berpikir saat itu jika dirinya memang tampan untuk ukuran seorang raksasa jelek berwarna hijau.

Kakinya mencoba mensejajarkan dengan sesosok tubuh yang sempat membuatnya bergidik ngeri. Keadaan kamarnya memang sangat gelap, terlebih pada malam hari. Chanyeol bisa merasakan seberapa tinggi sosok penuh rahasia itu. Sepasang jemarinya mencoba menyentuh sisi tubuh si tersangka. Dirabanya perlahan, namun menimbulkan aliran listrik yang membuat tubuh si tersangka menjadi teguncang perlahan.

Ketika ujung jemarinya bisa merasakan rambut-rambut halus, yang mana ia pikir adalah bagian kepala. Dengan memegang kepalanya saja, Chanyeol sudah tahu. Seberapa pendeknya si tersangka. Apa dia mahluk kecil seperti yang ada di dongeng?

"A-apa yang kau lakukan?" Seketika, tubuhnya terasa menegang. Akibat sentuhan tak pasti dari lelaki jangkung di hadapannya. Bisa dipastikan, wajahnya merah merona.

"Sayang sekali, kupikir kau si penjahat kecil. Bisa-bisanya berbuat kejahatan di malam hari, anak kecil?" Chanyeol bergumam dari arah depan ke atas. Semilir angin, membuat suara berat milik Chanyeol lebih terasa sensasinya.

"Aku bukan anak kecil! Ini karena faktor tinggi badan saja," si tersangka memberenggut. Dengusan kasar menghiasi ruangan, "Masih mengelak, huh? Kau ini pandai membuat alasan, ya..,"

"Siapa namamu?"

Hening. Mahluk di hadapannya bahkan memilih bungkam.

Sekujur tubuhnya terasa panas dan ngilu. Mengingat keberadaannya yang sangat dekat dengan sang pujaan. "Kau tidak punya nama, ya?" sambung Chanyeol dengan nada mencibir.

Seakan tidak memiliki pilihan lagi, ia pun memilih untuk membuka suara.

"Baekhyun. Byun Baekhyun," sahutnya cepat. Chanyeol masih menimang-nimang. Pikirannya serasa tertuju untuk ribuan pertanyaan yang meliputi setiap saraf di otaknya.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

"Membantumu,"

"Siapa kau? Memang kau itu Tuhan, mau membantu. Kau bisa apa—"

"Apa kau percaya mahluk setingkat malaikat?" Baekhyun memotong ucapan Chanyeol. Ia pikir inilah saatnya mengatakan hal yang sebenarnya. Lelaki itu tampak mengernyitkan dahinya di bawah kegelapan malam.

Omong kosong macam apa ini?

"Riser. Semacam helper yang ditugaskan untuk membantu segala permasalah yang ada. Kaumku adalah Riser. Jika kau bingung, panggil saja dengan nama," jelasnya, sebelum kemudian diikuti kekehan pelan dari si lelaki jangkung.

"Apa yang lucu?"

"Kau,"

"Apa?"

"Ya, kau," Chanyeol tersenyum jenaka, "Apa ini negri dongeng? Ini bumi. Di mana peradaban semacam kekuatan magis sudah tidak dipercaya lagi. Kau ini hidup di tahun berapa, sih?"

Baekhyun menghela nafasnya kembali. Sesungguhnya bukan ini yang diinginkannya. Ia hanya ingin cepat menyelesaikan tugasnya, lalu pulang ke rumah. Menguntit Chanyeol dari balik layarnya.

Setidaknya menjaga harga diri itu tidak salah, bukan?

"Jika kau tidak percaya, aku bisa membuktikan sesuatu," Baekhyun berucap seyakin-yakinnya. Ia hanya tidak ingin semua gagal, hanya karena ketidakpercayaan Chanyeol pada dunianya.

Lagi, lagi, Chanyeol tampak menimang sesuatu. Sesungguhnya ia juga tidak punya hal yang perlu dipermasalahkan lagi, hanya saja, rumitnya kisah cinta yang tengah dialami, mampu membuatnya harus berpikir untuk memberi tugas mahluk yang mengaku seorang Riser.

"Baik..," Ia menggantungkan kalimatnya, "Buat orang yang aku sukai, jadi menyukaiku. Seolah-seolah hanya ada aku di matanya. Kau bisa?" Chanyeol bertanya kurang yakin. Terlebih melihat raut wajah Baekhyun yang agak terdiam kaku, tanpa bisa membalas.

Chanyeol menghela nafasnya kasar. Ia tahu jika keajaiban memang tidak akan pernah ada.

"Sudah kubilang kau—"

"Aku bisa," sergah Baekhyun. "Dalam jangka waktu tertentu, akan kubuat dia bertekuk lutut di hadapanmu." Chanyeol hampir membelalakkan matanya, namun segera ditahan agar tidak out of character.

"Kau bersungguh-sungguh?"

"Ya,"

"Serius?"

"Tentu saja. Aku tidak pernah seyakin ini,"

"Jika kau gagal dalam melakukan tugasmu?"

"Berikan aku hukuman," Chanyeol menggeleng pelan. Baekhyun menatapnya penuh tanya. "Aku manusia, dan kau mahluk halus. Jika aku menghukummu dengan cara manusia, rasanya tidak adil..,"

"Bagaimana jika memakai cara menghukum ala mahluk sepertimu?" Chanyeol bersedekap. Jemari tegasnya dimasukkan ke saku jaket. Menunggu jawaban, Chanyeol memainkan ujung kakinya di atas lantai.

"Tidak ada, ya? baiklah—"

"Ada," Baekhyun berucap pelan. Sesungguhnya ia tidak ingin mengatakan hal itu sebelumnya, karena sudah menjadi rahasia para kaum Riser yang telah menjaga tradisi leluhur. Ada satu hukuman yang sangat ditakuti seluruh Riser. Termasuk dirinya.

Kematian. Riser itu alami, natural, dan abadi. Mereka akan mati jika tidak dibutuhkan lagi. Untuk Rester, mereka akan mati beberapa hari kemudian setelah sang kepala keluarga mati. Rester ada karena pernikahan abadi mereka.

Cara melenyapkan Riser, sangat mudah. Hanya dengan mengucapkan kalimat, dengan keteguhan, dan keyakinan, maka, kematian abadi akan menghampiri para Riser.

"Hukuman sejenis vanishing ialah hukuman yang hanya diperlukan ketika seorang Riser telah lelah menjalani tugasnya. Namun hukuman tersebut bisa juga dilakukan oleh Humonis sang Riser," Dahi Chanyeol mengkerut, pertanda ia membutuhkan penjelasan yang lebih.

"Humonis. Manusia yang telah dipilih oleh Riser untuk memecahkan segala masalah Humonis," Anggukan pelan terlihat jelas dari sedikit pergerakan di sana. Baekhyun menarik nafasnya, kemudian membuangnya perlahan. "Kau sudah mengerti?"

Chanyeol mengangguk paham. "Jadi aku adalah Humonis-mu?" Sekarang Baekhyun yang mengangguk, "Ya. Dan aku berjanji akan menyelesaikan masalahmu."

Kali ini, Chayeol lah yang terdiam. Ia tampak berpikir. Memikirkan apa saja yang akan terjadi nantinya, termasuk konsekuensi menjadi Humonis. Ia menegakkan tubuhnya, lalu berjalan menuju dinding kamarnya. Jemarinya tampak meraba-raba sesuatu.

Klik. Kegelapan pun sirna. Tergantikan sinar terang dari cahaya buatan yang terbentuk karena aliran listrik yang tertutup.

Didukung dengan kenampakkan langsung dari mahluk yang sempat membuatnya ngeri. Mahluk itu mempunyai tubuh yang sama seperti manusia. Sepasang telinga, satu hidung, sepasang mata, bibir, dan pipi chubby. Wajahnya bahkan benar-benar seperti bocah kecil yang belum memasuki usia pubertas. Lucu sekali.

Tak jauh dari sana, Baekhyun pun merasakan hal yang berbeda. Tubuhnya agak menegang kaku. Baru kali ini ia melihat sang pujaan dari jarang sedekat itu. Rasanya Baekhyun ingin pingsan di tempat.

"Kukira akan ada kurcaci dengan wajah yang menyeramkan seperti yang ada di dalam dongeng," Chanyeol masih memandang wujud Baekhyun di sana. "Ternyata yang kulihat adalah sesosok bocah kecil. Lucu sekali." Dengusan geli meredam keheningan di sana. Baekhyun tampak mengerucutkan bibir. Ia bahkan tahu jika wajahnya tidak pantas dibilang sebagai lelaki dewasa.

Wajahnya terlihat sangat cantik, dan…., imut, kali ini Chanyeol membatin. Kesan pertama yang diciptakan memang agak luar biasa. Ia saja tidak menyangka jika ada mahluk dengan wujud seperti itu.

Baekhyun masih terdiam. Ia bahkan tidak bergeming dari tempatnya sejak Chanyeol berpindah. Jangankan bergerak, menarik nafas saja sudah kesulitan.

Sepasang bola mata coklat, ikut menghiasi wajah cantik Baekhyun. Pandangan yang teduh, membuat siapa saja yang menatap akan meleleh hatinya. Tapi, mungkin Chanyeol bisa dikecualikan. Bukannya terkagum, pandangan lucu terlihat dari sepasang mata coklat milik lelaki jangkung itu.

"Apa?" Baekhyun mulai membuka suara, merasa pandangan aneh yang tak seharusnya digunakan. Chanyeol mendengus geli, "Lupakan,"

"Mulai besok, kau bisa ikut aku ke sekolah. Dan jangan berbuat macam-macam."

Chanyeol pergi ke ranjangnya. Meninggalkan pandangan penuh tanya dari lelaki mungil di sana.

Akankah semuanya berjalan dengan baik?


To be continued...


Mini-dictionary

Corner : Pusatnya para Riser untuk sekadar bertugas, atau hanya berkeliling saja.

Riser : Mahluk yang hidupnya ditugaskan untuk memenuhi permintaan manusia malang

Humonis : Manusia malang yang akan dibantu oleh Riser

Hyroponos : Semacam alat pendengar (seperti earphone) guna menghubungkan antara Riser dengan Riser yang lainnya

Taber : alat pemantau jarak jauh. Biasanya digunakan oleh para Riser untuk mengamati siapa-siapa saja calon Humonisnya.

Feros : semacam hantu di kalangan Riser. Mereka dipercaya akan mendatangkan nasib buruk.


A/N

Hi fellas!1!1!1!1! so, for yall who have been visiting my stories, would know this fic so well. And according to the last readers who want me to make it yaoi, so alright. I just did it.

Jadi, ini cerita yang sebenernya udah di-post lebih dari setengah tahun yang lalu. Tepatnya 30 Juni 2015, dan akan di-repost setelah melihat beberapa hal yang nantinya menjadi pendukung kuat atas pemostingan fanfic ini.

Dan maafkan atas beberapa bahasa yang nampaknya sulit untuk dimengerti (ya?) karena aku sendiri emang punya habit buat bingungin orang. Jadi, tolong maklumin, ya. Oh, ya! Untuk fanfic ini bakal di-post secara berkala setiap minggunya, bc of I just finished all the chapters (lololololol).

Back then, kindly submit your review for appreciate this fanfic more! I would be so thankful to you guys who's been submitted your own thoughts about this fanfiction.

Thank you!

Love,

dearestnoona