Seorang pemuda bersurai senja berdiri di hadapan sebuah pintu kayu. Tangan mungilnya naik ke hadapan permukaan kayu itu, terhenti sebentar karena sebesit keraguan, dan akhirnya ia mengetuk pelan.

"Tobio…?" panggilnya selembut mungkin. Satu tangannya yang tidak naik mencengkeram bagian tengah dadanya sendiri ketika sehembus angin dingin menerpa kulitnya. Tubuhnya bergetar karena dingin yang menembus tulang, serta sekilat aura tak mengenakkan yang terus melayang-layang di sekitar tempatnya berdiri.

Akhirnya, pintu kayu itu terbuka, menampakkan pria berkepala hitam dengan jas laboratorium putih yang memeluk tubuhnya. Sang pemuda refleks tersenyum, seperti saat-saat lain ia menyaksikan wajah tertampan yang pernah dilihatnya itu. Tanpa menunggu lama, ia segera menghambur pada sosok itu untuk memeluknya, merasakan kehangatan tubuh yang selalu ia rindukan setiap saatnya.

"Tobio…" Ia mendesah nyaman, menghirup harum badan pria itu dalam-dalam.

Sementara Tobio, meski mulanya terkejut, perlahan membiarkan dirinya rileks dan balas melingkarkan kedua lengannya di sekitar tubuh sang pemuda. "Shouyou, sudah berapa kali kubilang—kau tidak pergi ke basemen, bodoh…"

Pemuda itu, Shouyou, mengendurkan pelukannya agar ia bisa mendongak dan menatap wajah Tobio. "Aku mimpi buruk. Aku takut tidur sendirian."

Mendengar hal itu, Tobio menunjukkan senyuman samar yang langka. "Tak apa, Shouyou," Ia berbisik selembut mungkin di dekat telinga sang pemuda, "Kau tidak akan pernah sendiri. Aku akan selalu ada di sampingmu."

"Tobio…" Shouyou melebarkan senyumannya. Hatinya dipenuhi kegembiraan tiada tara. Mendengar suara lembut pria itu yang sedang berupaya menenangkannya adalah salah satu hal paling membahagiakan dalam hidupnya. Sebentar kemudian, senyum secerah mentari itu mereda, lalu wajahnya tiba-tiba murung. "Besok… hari peringatan Natsu…"

"Aku tahu," sela Tobio. Rahangnya sedikit mengeras, tapi Shouyou tak melihatnya. "Kita akan pergi ke makamnya besok. Agar dia tidak kesepian." Tobio mendaratkan kecupan ringan pada dahi Shouyou dan menepuk pelan kepala oranye itu. "Sekarang, kau kembali dulu ke kamar. Aku akan selesai sebentar lagi."

Dengan patuh, Shouyou mengangguk, melepaskan kedua tangannya dari sang pria dan menatap punggung kokoh itu. "Ayah?" Ia memanggil sekali lagi sebelum sosok Tobio benar-benar menghilang ditelan kegelapan ruangan itu. "Aku mencintaimu."

Tobio tampak terkejut, tapi selanjutnya ia memaksakan diri untuk menampakkan senyuman lagi—yang sebenarnya bukan keahliannya. "Aku juga. Dan Shouyou bodoh, berhenti memanggilku seperti itu."

Shouyou terzkikik ketika Tobio menutup pintu dengan agak keras. Tentu ia tidak marah. Shouyou telah cukup lama tinggal bersama Tobio untuk tahu bahwa pria itu suka sekali bila ia memanggilnya Ayah.

Kakinya baru saja akan melangkah kembali menuju kamarnya tatkala sebuah suara jeritan terdengar samar-samar dari balik tembok batu basemen, dan sekujur tubuh Shouyou membeku.

"HENTIKAN! AMPUNI AKU!" Demikian jerit suara tersebut. "AKU INGIN HIDUP! HENTI—AAAAH!"

Kini suara gergaji mesin yang dinyalakan juga hadir, dan jeritan itu semakin keras sebelum akhirnya berhenti begitu saja.

Shouyou berusaha untuk tidak memikirkan apapun. Ia tidak mendengar apapun.

Ia berusaha untuk tetap percaya bahwa Tobio tidak akan pernah melakukan hal kejam seperti itu.

After all, ignorance is bliss.


.

.

Last Theater

KageHina

Based on Mad Father game with some differences

Haikyuu! © Furudate Haruichi

Mad Father © Miscreant's Room

Warnings: Dark Theme, Heavy Story, Horror (ga terlalu menonjol IMO), Mystery, Some gore, Kind of Supernatural, Character Deaths, Slight incest (nanti akan paham sendiri), implied lemon, Mad Scientist!Kageyama, Crazy!Kageyama, OOC (karena volleyball idiot yang asli ga segila yang ada di fanfiksi ini :3)

Fanfiksi ini tidak dibeta, dan belum diedit secara serius oleh saya, jadi kemungkinan ada banyak typo.

Tanda 'XOXO' adalah pembatas antara flashback dan waktu sekarang, karena saya rasa menggunakan italic untuk seluruh satu scene itu nggak enak dibaca.

Enjoy!

.

.


Hinata Shouyou terbangun tepat saat jam berdentang dua belas kali. Itu berarti, satu jam sejak ia berusaha untuk menjemput Kageyama agar pria itu menemaninya tidur. Kepalanya tertoleh dan matanya yang masih tebal akan kantuk menyipit untuk mengamati keadaan sekitar. Suasana gelap, sama seperti waktu Hinata baru akan tidur. Hanya saja, ia menyadari sesuatu yang aneh di kamarnya itu.

Satu, jam dinding dalam kamarnya berhenti bergerak. Mungkin ia akan melambaikan tangan dan berasumsi, 'ah, paling baterainya habis' kalau saja ia tidak segera menyadari hal aneh kedua.

Tirai jendela berwarna biru lautnya terbuka begitu saja, membiarkan cahaya rembulan masuk menimpa sebagian lantai kamar. Padahal jendela di belakangnya masih tertutup rapat. Hinata merasakan sebagian bulu kuduknya meremang. Ia tahu dirinya telah menutup tirai itu. Ia pasti menutup tirai itu, karena mana ada orang waras yang tidur malam sambil membuka tirai?

Lantas, siapa? Apakah Kageyama yang melakukan ini? Sedari tadi memang belum ada tanda-tanda kedatangan pria itu, tapi itulah penyebab terlogis yang bisa Hinata pikirkan. Bisa saja Kageyama melakukan ini untuk mengagetkan Hinata, berhubung besok adalah hari peringatan kematian Natsu, adik kecilnya.

Hinata memaksakan dirinya untuk memuntahkan tawa keras. "Oh, jadi Tobio. Benar, pasti ini ulah Tobio. Siapa lagi orang yang menghuni rumah ini selain Tobio, aku, dan Suga-san? Suga-san bukan termasuk opsi karena ia adalah pelayan terbaik yang pernah kulihat, jadi ini pasti Tobio. Dia mencoba menakut-nakutiku, dasar si tampan yang nakal itu—"

"AAAAAARGH!"

Seluruh pergerakan Hinata terhenti. Jantungnya seolah baru saja melompat ke tenggorokan.

Itu.. Tadi itu, tidak salah lagi—itu suara Kageyama!

"Tobio!?" Hinata berteriak cemas. Apa yang terjadi padanya? Dari semua hal yang tak diinginkannya, Hinata paling benci kalau ia harus melihat Kageyama terluka. Tanpa berpikir panjang, ia melompat turun dari tempat tidur, lalu bergegas menuju keluar kamar untuk melihat keadaan pria terkasihnya itu.

Namun, apa yang dilihat Hinata di sepanjang koridor membuat kedua lututnya melemas.

"A… Apa ini?" Iris karamel yang biasanya secerah bintang itu berubah menjadi cokelat gelap karena takut. Di dalam kedua bola itu, terpantul bayangan paling mengerikan yang pernah ia lihat. Jejak kaki warna merah—yang ia yakini sebagai darah—di seluruh dinding. Bau tubuh membusuk. Suara geraman-geraman yang jelas bukan milik manusia. Dan di hadapannya…

Dua makhluk mirip mayat berjalan yang sedang menuju ke arah Hinata.

"T-Tidak!" Hinata menelan ludah, berusaha sebisa mungkin untuk menggerakkan kakinya. Berkat teriakannya, kedua makhluk aneh itu mengarahkan wajah tak beraturan mereka pada Hinata dan bergerak mendekat dalam kecepatan hebat. Hinata memejamkan kedua matanya, meneriakkan sekeras mungkin, "Menjauh dariku!"

Barulah adrenalin Hinata bekerja, menendang seluruh ototnya agar bergerak, dan tanpa harus disuruh, Hinata mengambil langkah seribu menuju kamarnya kembali. Ia berharap pintu kamar dari kayunya bisa cukup untuk menahan mereka.

Memastikan pintu telah terkunci, Hinata terengah sembari merasakan tubuhnya merosot lelah, punggungnya bersandar lemah pada pintu tebal kamarnya. "A… Apa-apaan makhluk itu? Monster? Zombie?" Hinata memegangi kepalanya yang terasa berputar. "Ini pasti mimpi… Aku pasti mengalami mimpi buruk lagi…"

"Sayangnya, ini sama sekali bukan mimpi, Chibi-chan."

…Siapa itu?

Hinata membulatkan mata dan cepat-cepat mendongak, tangannya memegangi gagang pintu dan bersiap untuk melarikan diri. Ia kira akan ada makhluk mengerikan seperti tadi, tapi yang ia lihat adalah seorang pria dengan pakaian serba hitam dan rambut cokelat bergelombang. Senyumnya benar-benar menawan bak seorang idola terkenal. Tapi di saat yang sama, Hinata merasakan beribu rahasia gelap di dalam senyuman itu, dan ia merasakan dingin yang merayapi tubuhnya saat matanya beradu pandang dengan iris pria misterius itu.

"Oh? Kenapa? Kau takut padaku?" Pria itu tertawa kecil. Jaket hitam memeluk tubuhnya dengan begitu sempurna. "Tidak apa-apa. Aku berbeda dengan makhluk-makhluk itu. Ah, aku lupa aku belum memperkenalkan diriku. Pantas saja kau takut dan bingung." Ia membungkukkan tubuhnya dalam-dalam dengan hormat. "Kau bisa memanggilku Oikawa Tooru. Aku adalah orang yang akan menemanimu melalui semua ini."

"Semua ini?" Hinata bisa merasakan beribu pertanyaan yang menyerbu benaknya. Itu dia. Orang misterius ini pasti tahu dari mana monster itu berasal, mengapa waktu berhenti, dan… apa yang terjadi pada Kageyama. "Kau tahu apa yang sedang terjadi? Beritahu aku! Mereka itu makhluk apa!? Di mana… Apa yang terjadi pada Tobio!?"

"Santai saja. Tentu aku tahu. Aku tahu semuanya," kata Oikawa dengan nada begitu tenang. "Makanya, mari kita bicarakan dengan kepala dingin. Aku tidak suka beradu mulut dengan orang yang mudah mendidih."

"Jangan-jangan…" Hinata memandanginya dengan tajam. "Kau yang mengatur semua ini? Kau dalangnya!?"

"Wah, Chibi-chan. Kau membuatku sakit hati." Oikawa memutar kedua matanya dan mengusap matanya seakan-akan ada air mata bercucuran di sana. "Aku memang tahu, tapi bukan berarti aku melakukannya."

"Lalu, siapa?" Hinata menunduk getir, mengingat rupa monster tadi, jejak kaki berdarah-darah tadi, dan suara mengerikan di seisi rumah. "Siapa yang melakukan ini? Siapa yang… berusaha melukai Tobio dan mengubah rumah kita menjadi mengerikan?"

"Kau belum tahu persis keadaan Tobio-chan, tahu." Oikawa menaikkan sebelah alis dengan nada menantang, dan Hinata merasakan segelintir harapan yang membara. Jadi, ada kemungkinan Kageyama masih selamat? "Hm… Dan soal pelakunya… Sayang sekali, aku belum bisa memberitahukannya padamu."

Hinata menggeram kesal. "Jadi, kau memang komplotannya?"

Oikawa mengerucutkan bibir dan menghela nafas. "Sudah kubilang, bukan. Aku mengatakannya tadi, kan? Aku adalah orang yang akan menemanimu melalui semua ini. Jadi, meski aku tak bisa mengatakan bahwa kita adalah rekan, tapi setidaknya kita bukan musuh. Kau bisa mengandalkan bantuanku. Oikawa-san pasti akan sangat berguna, percayalah itu."

Hinata terdiam sejenak, mencoba mencerna setiap kata yang dilontarkan Oikawa. "Menemaniku… melalui semua ini? Apa maksudnya 'semua ini'!? Kau belum menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi!"

"Ah, ini dia bagian paling menyusahkan," gumam Oikawa seperti seorang remaja labil yang sedang ngambek. "Aku tak bisa mengatakannya secara detail, tapi intinya, mansion ini dibawa ke sebuah dunia di antara kenyataan dan mimpi. Mungkin kau bisa menganggapnya sebagai... dunia sebelum kematian." Oikawa menyeringai, sementara Hinata menelan ludah. "Dunia ini dipenuhi oleh spirit yang tidak bisa pergi karena mereka ingin balas dendam. Dan juga, semua hal yang muncul di sini adalah perwujudan dari memori dan kejadian yang berlangsung di sini."

"Tapi, kenapa ada monster…?" tanya Hinata sambil tetap berusaha berpikir. Kalau memang benar segala sesuatu yang ada di sini adalah perwujudan dari peristiwa yang pernah terjadi, kenapa harus makhluk dan pemandangan mengerikan itu yang muncul? Di mana Kageyama, yang merupakan pemilik mansion dan orang yang secara otomatis membuat paling banyak memori di tempat ini berada?

Kenapa dia… berteriak dengan begitu kesakitan? Siapa yang menyakitinya?

"Monster itu juga bagian dari ingatan Tobio-chan, tentunya. Entah memori seperti apa, bukan urusanku untuk menjelaskannya kepadamu." Oikawa menampakkan senyum misterius itu lagi, dan Hinata merasa semakin pening. Ada terlalu banyak hal yang tidak ia mengerti. Seolah dapat merasakan kebingungan Hinata, Oikawa mendudukkan diri di atas tempat tidur dan memutuskan untuk membuka mulut lebih lanjut, suaranya berubah serius.

"Dengar, Chibi-chan. Meskipun kau telah banyak melalui kenangan bahagia bersama orang itu, ada begitu banyak kenyataan yang belum kau ketahui. Mansion ini jauh lebih mengerikan dari yang kau bayangkan," ucapnya memulai penjelasan. "Aku tahu kau menyadarinya, tapi… Tobio telah banyak melakukan perbuatan mengerikan selama ini."

Perbuatan mengerikan. Pikiran Hinata segera mengarah pada jeritan dan dengung gergaji mesin yang terdengar dari kantor Kageyama. Selama ini ia berusaha membohongi dirinya, tapi kelihatannya ia tak bisa melakukannya lagi sekarang.

Jadi, Tobio memang…

"Meski begitu, apa kau masih ingin menyelamatkan pria itu, Hinata Shouyou?"

Kepala Hinata perlahan mendongak. Ia hanya berkedip sekali, kemudian tanpa ragu menjawab, "Tentu saja. Aku mencintai Tobio. Aku ingin menyelamatkannya, apapun yang terjadi."

Oikawa mendengus terhibur. "Huh. Tak kusangka aku akan menyaksikan drama cinta di depan kepalaku sendiri." Hinata berusaha untuk tidak menghiraukannya. "Daripada itu, kembali pada topik serius kita. Kalau kau ingin menyelamatkan Tobio, maka kau harus menjelajahi semua bagian mansion ini, menemukan dan melihat kembali kepingan-kepingan memori yang tersebar di sini, dan aku berani berjanji, setelah kau melihat semua memori itu, kau akan bisa bertemu dengan Tobio."

Hinata baru menyadarinya, tapi Oikawa tak lagi memanggil Kageyama dengan embel-embel '–chan'. Itu membuktikan seberapa serius perkataannya. Dan Hinata mengangguk mantap. "Baiklah. Aku akan melakukannya. Aku akan menemukan semua memori itu dan pergi menyelamatkan Tobio, tak peduli monster macam apa yang menghalangi jalanku."

Oikawa menggumam senang. "Kau akan mendapat bantuanku untuk itu, jadi berterima kasihlah. Nah, sekarang, kalau kau ingin segera menyelamatkan Tobio-chan, segeralah bersiap. Kau sudah cukup memulihkan diri, kan?" Sosok itu pun berdiri, berjalan menuju rak berisi koleksi buku Hinata dan mengamati setiap judulnya dengan pandangan tertarik. "Memangnya, kau ini berapa tahun?"

"…Sembilan belas," jawab Hinata pelan, ragu mengapa Oikawa menanyakan hal seperti itu. Sambil menekan kembali setiap bentuk tremor yang menyerang tubuhnya, Hinata mencoba untuk bangkit dengan menggunakan pintu di belakangnya sebagai pegangan.

"Hm. Masih terlalu muda. Dan kau mau-maunya menikahi paman-paman seperti Tobio yang usianya… berapa? Empat puluh?"

"Dua puluh lima," Hinata mengoreksi. Lalu menambahkan di dalam hati, selama paman-paman itu setampan dan sebaik Kageyama, ia akan selalu rela menjadi istri, suami, bahkan selirnya sekalipun. Ia berjalan menuju almari pakaian untuk memungut sebuah jaket merah dan mengenakannya.

"Ngomong-ngomong, koleksi bukumu menarik juga," timpal Oikawa, senyumannya melebar. "Horus the Trader… Red Eyed Stranger juga… Aku terkejut. Ternyata anak sepertimu membaca sesuatu…" Tampang Oikawa meredup, "…seperti ini."

"Yah, itu… hadiah dari Tobio," ucap Hinata berterus terang, merapikan lipatan-lipatan pada jaket merahnya. Mendengar hal itu, Oikawa entah mengapa menolehkan kepalanya pada Hinata dengan pandangan sulit diartikan.

"Hei. Kapan kau mendapatkan buku-buku ini?"

Hinata menaikkan sebelah alis, berusaha menjawab di tengah kebingungannya. "Aku pertama kali mendapatkannya di ulang tahunku yang ketujuh. Selama ke depannya, hadiah ulang tahun Tobio juga berupa buku serupa. Memangnya kenapa?"

Untuk sebentar, ekspresi Oikawa menggelap sebelum akhirnya kembali seperti semula. "Tidak. Bukan masalah besar. Aku hanya ingin tahu saja."

Hinata menelengkan kepala dengan bingung, tapi Oikawa tak berniat untuk menyinggung hal tersebut lebih jauh karena selanjutnya ia hanya menggumamkan sebuah lagu yang tak Hinata kenal. Ia membuka laci almarinya untuk mencari benda yang diperlukannya untuk penjelajahan, tapi yang ditemukannya di sana adalah bangkai tikus. Di laci lain juga demikian. Ada bangkai burung, kelinci, dan hewan kecil lainnya.

Seingatnya, ia tidak memiliki memori apapun dengan… bangkai hewan. Apa maksudnya ini?

Hinata mendadak merasa pusing. Usai menyambar cepat sebuah senter di sebelah bangkai itu, ia cepat-cepat menutup kembali laci itu, dan memilih untuk bertanya pada Oikawa, "Jadi… kapan aku bisa memulai?"

"Kapanpun saja. Aku akan terus melihatmu, dan memberitahumu kalau sesuatu yang besar bakal terjadi." Oikawa menegakkan kembali tubuhnya dan berbalik menghadap Hinata. "Kau hanya perlu menjelajahi mansion ini. Tapi jangan lupa, akan ada banyak makhluk berbahaya."

"Apapun akan kulakukan demi Tobio," sela Hinata dengan yakin. Setelah mendapat lampu hijau dari Oikawa, Hinata tak membuang lebih banyak waktu dan bergegas menuju pintu kamar. Kali ini, ia menarik nafas dalam-dalam, mempersiapkan diri atas segalanya yang mungkin bisa terjadi sebelum akhirnya melangkah maju.

Sebelum pintu kamarnya kembali tertutup, ia melihat Oikawa melambaikan tangan padanya. "Selamat berjuang, Chibi-chan!"


Makhluk mirip zombie yang tadi berkeliaran di luar kamar Hinata telah menghilang entah ke mana. Itu memang sesuatu yang membuat Hinata lega, tapi ia tahu betul untuk tidak merendahkan penjagaannya. Ia sedang berurusan dengan… spirit, kata Oikawa. Selain memiliki kekuatan yang berkali-kali lipat dibandingkan Hinata, mereka juga bukan makhluk hidup. Bukan hal yang aneh kalau mereka bisa melakukan sesuatu yang tak logis, misalnya meninggalkan jejak kaki darah menaiki tembok, atau membuat benda-benda terlihat melayang dan bergerak sendiri.

Jujur saja, Hinata merasa takut. Kalau saja perasaannya kepada Kageyama tidak sebesar ini, ia pasti lebih takut diserang zombie daripada takut kehilangan Kageyama.

Bagaimanapun juga, keputusan Hinata sudah final—ia akan menyelamatkan Kageyama. Dan tidak ada cara lain untuk mengakhiri kejadian bagai mimpi buruk ini.

Hinata berjalan menyusuri koridor, sebuah senter di tangan. Untung saja otaknya sempat mengingat bahwa keadaan koridor gelap saat makhluk tadi menyerangnya, jadi Hinata tak lupa membawa alat penerangan.

Ia baru saja akan berbelok, mengarahkan senter di hadapannya—

"ANAKKU! DI MANA DIA!? KEMBALIKAN ANAKKU!"

Hinata melompat mundur dengan sebuah teriakan kaget. Wajah wanita yang mengerikan muncul begitu saja di hadapannya, darah mengalir keluar dari pelipisnya dan mata pucatnya penuh dendam.

"ANAKKU! KEMBALIKAN DIAAAAA!"

Jantung Hinata berdegup kencang ketika wanita itu berjalan mendekatinya. Ia melakukan hal yang pasti dilakukan oleh orang waras—ambil langkah seribu. Hinata berlari, berlari, dan terus berlari sambil berusaha menelan kembali teriakannya agar tak menarik monster lain.

Ia tak sadar seberapa lama ia berlari. Tahu-tahu, ia berada di ruangan besar dengan sebuah perapian. Kedua lututnya bergetar, tapi Hinata berusaha tetap berdiri. Diletakkannya kedua tangan di atas lutut sambil mengambil nafas sebanyak mungkin.

"Gila…" Hinata mengusap bibir menggunakan lengannya. "Ini semua gila… Padahal aku belum apa-apa…" Dan kata Oikawa, akan ada hal berbahaya yang tak terduga-duga. Hinata tak ingin membayangkan hal mengerikan macam apa itu.

"Daripada itu, Oikawa bilang bahwa semua yang ada di sini adalah perwujudan dari memori dan kejadian di mansion ini. Tapi, kenapa di mansion ini ada wanita seperti itu? Apakah dia adalah penghuni mansion sebelumnya?" Hinata merengut. "Tidak mungkin. Kageyama bilang bahwa ia sendiri yang membangun mansion ini, tak ada tuan rumah sebelumnya. Lalu, siapa wanita itu…?"

Yang menjadi jawaban Hinata adalah desiran udara dingin yang membuat rambut di bagian tengkuk berdiri. Mata karamelnya melirik sekeliling dengan gugup. "Lebih baik aku melanjutkan berjalan…"

Setelah memastikan dirinya kembali tenang, Hinata memaksakan kedua kakinya untuk berjalan. Matanya menangkap deret foto yang dipajang di atas dinding. "Ah! Foto-foto itu…" Membuang rasa takutnya sejenak, Hinata menghampiri barisan foto itu. Semuanya memuat Kageyama—tentu saja, karena ia adalah pemilik mansion.

Foto pertama menampakkan Kageyama bersama kedua orang tuanya. Meski Kageyama besar jarang sekali tersenyum, bahkan sulit, tapi Kageyama kecil di foto itu menarik kedua ujung bibirnya membentuk senyum terlebar yang ia bisa. Lucu sekali. Entah tragedi apa yang membuat kepribadian Kageyama seburuk ini.

Hinata melihat foto-foto lain, yang kebanyakan adalah foto Kageyama. Kadang bersama orang tua, beberapa sendiri, dan segelintir memuat wajah Sugawara selaku pelayan setia Kageyama sejak kecil. Kemudian, matanya beralih pada foto yang baru-baru ini dipajang. Dan tentu saja, itu adalah foto yang pertama kali memuat Hinata bersaudara di dalamnya.

Hinata melihat gambar di mana dirinya yang masih kecil—berusia lima belas tahun, dan Natsu yang berusia enam tahun sedang berfoto bersama Kageyama yang tampak seperti seorang ayah canggung. Sebuah senyuman hangat tak bisa tertahankan di wajah Hinata.

"Ah, benar. Waktu itu… aku dan Natsu baru saja menjadi anak Tobio."

Sebuah cahaya yang sangat menyilaukan bersinar di sekeliling Hinata.

XOXO

Empat tahun silam.

Dua kepala berwarna oranye terlihat menempati pinggiran jalan itu pada sebuah sore yang lengang. Tak ada yang peduli. Tak ada yang menaruh simpati. Bagi mereka, ada hal yang jauh lebih pantas diurusi daripada dua anak buangan yang belum tentu membawa keberuntungan.

Dua bersaudara itu mengenakan pakaian compang-camping. Itupun mereka dapatkan dari tempat sampah. Mereka hanya dapat memasang wajah tabah sambil menonton orang yang sesekali berlalu-lalang. Meski cacing-cacing dalam perut mereka menangis, tak ada salah satu dari mereka yang merengek. Tidak sang kakak, tidak pula sang adik.

'Aku lapar…' Sang kakak memegangi perutnya yang sangat kurus. 'Sangat, sangat lapar… Apakah Natsu merasakan hal yang sama? Harusnya dia bahagia. Dia tidak pantas mengalami semua ini…'

"Maaf, Natsu," bisik sang kakak yang sedang duduk memeluk lutut. Seluruh tubuhnya kotor dan dekil tertempel debu selama entah berapa hari lamanya. "Aku tidak bisa menemukan makanan. Maaf. Maaf…"

Air matanya berada di sudut mata, sebentar lagi menetes ketika rasa bersalah menyergapnya, tapi sang adik yang tengah berbaring di sebelahnya hanya mendongak, lalu menonjok lemah bahu sang kakak. "Kenapa kau minta maaf? Nii-chan bodoh…" Natsu menggosok-gosok kedua lengannya yang terasa dingin. "Selama ini kau sudah berjuang begitu keras bagiku. Jadi jangan meminta maaf. Kalau bukan karena dirimu, aku pasti sudah lama tiada dari dunia ini. Aku bisa bertahan selama beberapa waktu tanpa makanan, kok! Natsu tidak selemah yang kau kira."

"Natsu…" Sang kakak memaksakan sebuah senyuman. Ia tak bisa mengekspresikan betapa bangga dirinya pada sang adik. Gadis kecil itu adalah malaikat kedua setelah ibunya, dan ia tak bisa digantikan oleh kehadiran wanita cantik manapun. Tanpa Natsu, ia tak mungkin punya kekuatan untuk bertahan hidup sejauh ini.

"Ayo tidur, nii-chan. Aku mulai mengantuk."

Sang kakak mencoba untuk tidak memasang wajah pedih. Saat Natsu ingin segera tidur, itu berarti rasa laparnya begitu besar. Meski ia sama-sama laparnya, tapi ia berharap bisa menemukan makanan apapun sekarang juga untuk diberikannya kepada sang malaikat kecil. Kalau banyak, ia bersyukur karena mereka bisa membaginya menjadi dua. Kalau sedikit, tentu sang kakak akan memberikan semua bagian kepada sang adik dan memaksanya untuk memakannya bagaimanapun juga.

Sang kakak baru saja akan merebahkan diri di atas pinggiran jalan yang dingin itu. Namun, sebuah bayangan yang jatuh menimpa dirinya membuatnya urung. Matanya segera membuka sepenuhnya lantaran panik. Selama mereka hidup di jalanan, telah ada banyak sekali orang asing jahat yang selalu melukai mereka, jadi ia tak bisa melakukan apapun selain menganggap semua orang sebagai musuh. Ia pun mendongak, dan hampir ternganga mendapati bahwa seorang pria tengah berdiri tegap di hadapannya.

Pria itu mengenakan seragam kantoran, rapi sekali. Rambutnya hitam legam. Wajahnya tajam dan galak, tetapi tampan. Dan kedua iris birunya…

Sang kakak tak mampu membawa dirinya untuk berpaling. Ia terpesona pada pria itu.

Pria itu bertanya dengan suara terindah yang pernah ia dengar, "Siapa nama kalian?"

Natsu, yang ternyata juga urung untuk tidur akibat kehadiran pria itu, segera menjawab meski dengan takut, "Hinata Natsu…"

Sang kakak baru tersadar bahwa ia tengah melamun ketika pria itu mengarahkan pertanyaan yang sama kepadanya. Ia terhenyak, menyadari kalau dirinya memang baru saja memandangi wajah pria tampan itu tanpa sadar. Lalu ia tersentak, merasakan wajah yang memanas, sebelum menjawab malu-malu, "Hinata Shouyou."

Sang kakak lebih terkejut lagi tatkala pria itu mengulurkan kedua tangannya ke depan, seolah ia sedang menyambut dirinya dan adiknya. Ia mendongakkan kepala untuk meminta semacam penjelasan, dan pria tersebut mengajak, suaranya yang membuai bagaikan suara merdu siren, "Shouyou. Natsu. Maukah kalian ikut denganku?"

Ia telah berkali-kali memetik pelajaran dari pengalaman buruknya selama masa hidup untuk tidak mudah mempercayai orang lain. Namun pria itu… Ada sesuatu yang mengundangnya untuk mendekati pria itu, untuk datang ke dalam pelukannya.

Tanpa berpikir lebih jauh, ia menyambut uluran tangan itu, dan ia terlalu sibuk tersenyum bahagia hingga tak menyaksikan siratan keraguan pada kedua mata Natsu yang sedikit lebih lama menyambut uluran tangan sang pria.

"Aku Kageyama Tobio. Mulai hari ini, aku adalah ayah kalian."

XOXO

Peristiwa tersebut selesai begitu saja bagaikan kaset yang telah selesai diputar. Hinata telah kembali pada kenyataan yang ada, hanya bisa berdiri tercengang. Jadi ini yang Oikawa maksud dengan melihat memori?

"Tadi itu… Ingatan yang paling sering kupikirkan," Hinata mengakui dengan senyuman tipis. Bagaimanapun juga, tanpa kejadian itu, ia tak akan berakhir seperti sekarang. Ia akan terus berada di jalanan dan kelaparan setiap harinya sambil memakai baju robek-robek yang sama sekali tak mampu melindungi tubuhnya dari cuaca.

Dan kenyataannya Kageyama memang hadir dalam hidupnya. Ia menawarkan Hinata dan adiknya tempat baru untuk tinggal, memberikan mereka makanan dan minuman enak, memakaikan pakaian terbaik, mengajari mereka ilmu-ilmu untuk bertahan hidup, dan membuat mereka merasakan kehangatan seorang ayah yang sebelumnya tak pernah mereka rasakan.

Hinata menghembuskan udara melalui hidungnya, mendaratkan tatapan penuh cintanya pada sosok Kageyama di dalam foto yang tengah memegang pundak Hinata dan Natsu dengan kaku itu. Ia yakin, akan ada banyak memori tragis dan mengejutkan setelah ini, tapi selama kenangannya bersama Kageyama tetap ada bersamanya, Hinata tak merasa terlalu gentar.

"Bertahanlah, Tobio…"

Ia mendaratkan pandangannya untuk yang terakhir kali pada foto itu, sebelum akhirnya melangkah pergi untuk melanjutkan perjalanan menyelamatkan orang terkasihnya.


Perjalanan menuju ke lantai pertama tidaklah menyenangkan.

Sesaat setelah Hinata berjalan menuruni tangga menuju aula tengah di lantai satu, ia melihat makhluk aneh mirip zombie tadi dalam jumlah banyak. Pemandangan itu membuat Hinata melangkah mundur dengan mata melebar. "Mana mungkin aku langsung terjun ke sana… kan?" Hinata menelan ludah, mencari sesuatu yang bisa dilakukannya untuk menghilangkan para zombie itu.

Sesuatu… Sesuatu, apapun…

Matanya tanpa sengaja tertuju pada chandelier yang menggantung megah di atas aula itu, kemudian pada kabelnya yang mulai menipis—pasti mudah sekali mematahkannya. Satu-satunya pekerjaan yang harus Hinata lakukan adalah memusatkan para zombie di bawah chandelier itu. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana?

"Aku harus membuktikan apakah mereka benar-benar hanya peka terhadap suara…" Hinata merogoh sebuah koin dari saku dan melemparkan ke bawah. Koin itu memantul pada lantai dan menimbulkan bunyi pelan. Pergerakan semua zombie terhenti, kepala tertoleh pada tempat di mana koin tadi berada, dan mereka justru berjalan mengikuti koin tadi.

Hinata tersenyum puas. "Bagus sekali."

Dengan begitu, ia merogoh kantong kecil berisi kumpulan uang koin, membukanya, lantas menumpahkannya ke tengah aula itu. Semua zombie berbondong-bondong menuju koin-koin itu, mengerumuninya seperti orang bodoh dan mengiranya sebagai makanan. Hinata memperlebar seringainya.

"Ini adalah yang sering kukatakan pada Tobio, tapi tak kusangka aku akan mengatakannya lagi sekarang." Hinata berjalan mundur, bersiap mengambil ancang-ancang. "Meskipun pendek, aku ini bisa melompat!"

Selanjutnya, Hinata berlari dari tempatnya berada, menumpukan kaki pada pagar yang membatasi lantai dua, dan melompat—Kageyama akan mengatakannya terbang—menuju chandelier. Tangan usil Hinata terus menarik-narik tali dan kabel tipis chandelier itu, mengharapkannya jatuh sebelum para zombie menyebar.

Kemudian, karena tak dapat menahan berat badan dengan tali yang tipis, chandelier itu terjatuh, bersama Hinata di atasnya, menimpa kumpulan zombie itu danmenghancurkan tubuh mereka menjadi seonggok daging berbau tidak enak.

Hinata sendiri terkejut. Entah bagaimana dirinya sendiri berhasil mendarat sambil tetap berpegangan chandelier itu tanpa terluka sedikit pun. Ia berniat untuk menghela nafas lega, tapi suara-suara geraman yang berangsur-angsur mengeras membuat ketakutan mengalir dalam darahnya. Itu benar. Suara keras yang ditimbulkannya barusan pasti menarik perhatian dari monster lain. Ia harus pergi dari sana.

Maka, Hinata meringis sambil berusaha menghindari pecahan kaca dan cipratan daging halus di bawahnya, lalu sambil menahan bau busuk, ia berlari secepat mungkin dan masuk ke dalam pintu terdekat menuju lorong baru.

Terdapat beberapa ruangan di lorong itu. Hinata mengatur nafas selama beberapa saat dan berjalan pelan menuju ruangan pertama, yang ia ketahui sebagai ruang kerja Kageyama. Dengan waspada, ia membuka pintu dan menjulurkan kepalanya ke dalam, tak lupa mengarahkan senter ke segala sudut ruangan. Setelah memastikan tak ada hal aneh di dalam sana, ia melangkah masuk ke dalam ruangan penuh rak buku itu, mendekati deretan buku koleksi Kageyama.

"Egg's Flame?" Mata Hinata berbinar, mengenali sebuah judul buku di salah satu rak. "Ah… Aku menyukai buku ini. Ceritanya seru. Tokoh utamanya berani sekali. Dia membakar semua yang menghalanginya…" Suaranya menghilang dan ia menunduk sedih. "Dulu, aku sering membacakan cerita itu untuk Natsu…"

Hinata menarik nafas dengan gemetar, lalu menggeleng pelan. Ia berpaling dari buku itu dan berjalan menjelajah ruangan itu lebih dalam. Pada rak-rak di baris terakhir, sebagian besar yang terdapat di dalamnya adalah catatan penelitian Kageyama, yang sebenarnya tak terlalu dipahami Hinata. Ia menyempatkan diri untuk mengambil satu, dan mengernyit jijik ketika melihat judul sub materi yang tertera di sana—'cara memotong tubuh manusia dengan baik'.

Tanpa berkata apapun, Hinata mengembalikan buku itu. Bahkan sejak kecil pun, ia selalu tidak suka dengan buku-buku sains Kageyama. Semuanya mengerikan. Dan Kageyama sendiri juga terlihat marah saat tahu bahwa Hinata melihat-lihat isi ruang kerjanya.

Hinata jadi teringat wajah yang konstan mengerut itu, lalu tersenyum. Kageyama pernah marah besar padanya—dan sebagian besar penyebabnya adalah karena Hinata mengganggu privasinya.

XOXO

Empat tahun silam, beberapa minggu setelah Hinata dan Natsu diadopsi Kageyama...

Hinata berjalan pelan di sebuah koridor yang gelap dan lembab. Kepalanya menoleh ke sana kemari, tapi yang bisa dilihatnya hanyalah tembok batu, lantai dari cobble stone, dan obor yang dipasang di kanan dan kirinya. Akhirnya, kedua kakinya berhenti di depan sebuah pintu berkayu yang tebal.

Ini dia… laboratorium misterius Kageyama. Tempat yang selalu dihuni Kageyama setiap kali ia mengklaim bahwa dirinya sedang sibuk. Hinata tahu Kageyama adalah seorang ilmuwan, dan ia hampir selalu mengunci dirinya laboratorium pada basemen, melakukan penelitian entah apa. Hinata merasa begitu kesepian saat itu, dan ia ingin tahu apa yang sebenarnya sang ayah lakukan. Ia pikir, pasti tak ada salahnya kalau Kageyama menunjukkan satu dua hal kepada Hinata.

"A…" Hinata menelan ludah, kemudian mengeraskan suaranya. "Ayah? Kau ada di sana?"

Hinata mendengar bunyi benda-benda terjatuh dari dalam sana. Sebentar kemudian, Kageyama membuka pintu dan menyembulkan wajah, tapi ia… terlihat begitu marah, bahkan sampai Hinata sendiri tanpa sadar melangkah mundur.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Kageyama, nadanya pelan dan mengerikan.

Hinata merasakan kedua matanya memanas, tapi ia berusaha menguatkan diri. "A-Ayah… Aku…"

"Jangan pergi ke basemen! Aku sudah mengatakannya padamu, kan!?" bentak sang ayah dengan sedikit terlalu kasar. "Apa kau tidak dengar perkataanku saat itu!? …Kau ingin kuhukum?"

Hinata menatap kedua kakinya dengan takut. "A-Aku hanya ingin tahu… pekerjaan Ayah…"

Ia hanya ingin tahu apa yang Kageyama lakukan. Apa yang orang tersayangnya lakukan. Hinata hanya ingin mengenal Kageyama lebih dekat, bersamanya ke mana pun, tapi rupanya sang pria tidak terlihat begitu senang dengan ide tersebut.

Kageyama berdecak keras. Ia terlihat seakan-akan ia bisa memukul Hinata kapan saja. "Kau ini… Dasar anak menyusahkan! Kenapa kau harus mengikutiku setiap saat!? Mengganggu sekali!"

"Ma-Maaf… Ayah…" Hinata melompat kecil, tak suka mendengar suara ayahnya yang begitu mengerikan. Terlebih, hatinya berdenyut pedih ketika sang ayah mengatainya secara tidak langsung sebagai pengganggu. "Maaf… Maaf… A-Aku tidak akan mengganggumu lagi… Jadi maafkan aku…"

Seolah menyadari hati kecil anaknya yang ketakutan, Kageyama tersadar, amarahnya berangsur-angsur mereda, dan ia menghembuskan udara sembari memegangi kedua bahu Hinata. "Tidak apa-apa. Maafkan aku juga. Aku hanya… sibuk. Sangat sibuk. Aku ingin mencapai keberhasilan dalam penelitianku, jadi aku tidak ingin ada yang menggangguku."

Hinata tersenyum lemas. "Aku mengerti, Ayah. Ini salahku. Aku pikir Ayah bisa mengajariku sesuatu tentang pekerjaan Ayah… Tapi kalau Ayah tidak menginginkan itu, aku mengerti. Aku… akan pergi sekarang."

Kageyama hanya mendesah lelah, bahkan tak membantah kalimat Hinata. "Aku… Maaf, Shouyou."

Menelan kekecewaan dalam hatinya, Hinata mengangguk patuh dan menunjukkan sebuah cengiran lebar pada Kageyama. "Kalau itu demi Ayah, apapun akan kulakukan."

Selanjutnya, ia lari dari sana begitu saja dengan wajah terbakar, nantinya mengakui kalau kalimat yang dikatakannya saat itu terdengar begitu memalukan.

XOXO

Hinata tersadar kembali. "Kejadian itu…" Ia terdiam sebentar, mengenang masa lalu. "Waktu itu aku baru satu minggu berada di sini, jadi aku masih belum tahu apa-apa. Aku pikir Kageyama akan membiarkanku masuk ke laboratorium, tapi ternyata dia marah sekali… bahkan mengatakan bahwa aku mengganggu. Aku ingat sekali. Saat itu aku takut dan sedih. Aku belum pernah melihat Kageyama semarah itu sebelumnya. Tapi…"

Sebuah senyuman merekah pada bibir Hinata. "Sekasar dan semarah apapun Kageyama, dia tetap punya sisi lembutnya sendiri…"

XOXO

Empat tahun silam...

Hinata dan Kageyama tengah berada di sebuah padang bunga yang terletak tak jauh dari mansionnya. Natsu sedang memetik bunga tak jauh dari mereka, sementara kedua lelaki itu sibuk memandangi bunga sambil sesekali memetik bunga yang indah.

"Sebentar lagi…" Kageyama mengerutkan kening dengan hebat, berkonsentrasi penuh. "Tinggal masukkan ke sini… eratkan, lalu… baiklah, sudah jadi." Sang ilmuwan membalikkan tubuhnya pada Hinata dan memanggil pelan, "Oi, Shouyou bodoh."

Hinata dengan antusias menunjuk sebuah bunga yang berbentuk unik, beda dengan kawanannya. "Hei, Ayah! Lihat, bentuknya lucu seka… li…" Matanya melebar dan suaranya memudar tatkala sebuah benda diletakkan oleh Kageyama di atas surai oranyenya. Hinata terpaku sejenak, lalu meraba-raba benda di atas kepalanya itu. "Ini… mahkota bunga?"

Kageyama memalingkan wajah. "Memangnya apa lagi kalau bukan itu? Sarang burung?"

Hinata tak bisa menahan jeritan senangnya. "Ayah, kau membuatkanku mahkota bunga!? Uwaaah, hebat!" Hinata beranjak dari posisi berjongkoknya, berdiri sambil memutar-mutar badan dan berpose. "Bagaimana penampilanku, Ayah? Apa aku terlihat indah? Apa aku sudah mirip dengan tuan putri di cerita-cerita?"

Sedikit warna merah menghampiri kedua pipi putih itu. Kageyama memalingkan wajah sekali lagi dan mengangguk. Hinata tertawa senang.

"Terima kasih, Tobio!"

XOXO

Hinata membiarkan dirinya tersenyum. Usai melemparkan satu lagi pandangan pada rak buku di hadapannya, memastikan tak ada lagi hal yang dilewatinya, ia berjalan keluar ruangan dan berpindah menuju ruangan selanjutnya.


Ruangan selanjutnya adalah kamar Natsu. Hinata hampir saja menangis sedih karena memori-memori hangat bersama adiknya itu terus menerus kembali setiap kali ia datang ke tempat tersebut. Tapi ia menahan diri dan menguatkan emosinya. Prioritas utamanya sekarang adalah menyelamatkan Kageyama, bukan bersedih dan menangisi seseorang.

Kamar Natsu berwarna cerah. Temboknya dicat kuning dan benda-benda di dalamnya serba biru muda atau pink. Di dalam sana, hanya terdapat kamar tidur, almari, meja belajar, dan kaca besar serta beberapa boneka yang disimpan dalam sebuah boks. Hinata mendekati boks itu dan membukanya. Ia mengambil boneka beruang yang sangat Natsu senangi. Saking seringnya gadis itu bermain dengan boneka beruang itu hingga warnanya usang.

"Natsu…" Sekelebat memori berjalan di pikiran Hinata.

XOXO

"Kemudian, gadis itu berkata 'Akan kubakar semua yang menghalangiku!' Dia mengeluarkan api dari tangannya dan membunuh semua monster."

Natsu mengedip dengan penuh kantuk, pandangan dan pikirannya tak lagi terfokus pertanda kesadarannya mulai terombang-ambing.

"Oh, lihat. Tuan Putri sudah mengantuk!" Hinata tertawa geli. "Mungkin sudah saatnya kau tidur, Natsu."

Natsu cemberut. "Nii-chan… ceritanya belum selesai…"

Hinata tersenyum maklum, menutup bukunya, dan mengecup kening Natsu dengan hangat. "Kita lanjutkan besok lagi, oke?"

Meskipun enggan, Natsu mengangguk. Hinata bangkit dari kursi yang ia posisikan di sebelah ranjang Natsu ketika tangan gadis itu menggapainya, menghentikannya untuk berjalan lebih jauh. Hinata menoleh dan menatap gadis itu dengan bingung sekaligus khawatir. Ia kembali berdiri di sebelah Natsu dan berjongkok untuk memandanginya lekat-lekat. Tangannya mengelus pelan surai Natsu dan ia berbisik lembut, "Ada apa, Natsu?"

Natsu terlihat takut selama sekian detik. Ia mencoba mengatakan sesuatu, tapi terus menerus urung untuk melakukannya.

"Ayo," Hinata membujuknya dengan sebuah senyuman, "katakan padaku. Aku ini kakakmu. Orang yang bertahan dalam kerasnya hidup bersamamu. Katakan saja apa yang membuatmu khawatir, Natsu. Aku akan membantumu sebisa mungkin."

Natsu menarik bibir bawahnya dengan gigi. "Aku… N-Nii-chan nanti marah…"

"Tidak. Aku tidak akan pernah marah terhadap adikku tersayang," ucap Hinata selembut mungkin, tangannya mengusap pelan dahi kecil Natsu.

Mata berwarna serupa dengannya itu memandang Hinata ragu. "Janji nii-chan tidak akan marah?"

Hinata mengangguk, mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Natsu. "Janji."

Natsu menghirup udara sebelum mulai bercerita. "Nii-chan, aku… Aku merasa kalau… sikap Ayah agak aneh."

Kening Hinata mengerut bingung. "Aneh bagaimana?"

Gadis kecil itu melanjutkan dengan suara bergetar. "Aku tidak tahu, tapi… dia sering memandangimu dengan tatapan mengerikan… seakan-akan dia berniat untuk melukaimu. Sejak awal kita bertemu, aku tahu Ayah selalu menatapnya seperti itu. Dan nii-chan selalu tidak pernah sadar akan hal ini. Aku tidak tahu, tapi pokoknya…" Natsu mengeluarkan isakan pelan. "Aku tidak suka caranya memandangimu dengan aneh… Natsu takut… Bagaimana kalau dia melakukan apa-apa padamu? Bagaimana kalau ternyata dia bukan Ayah yang baik?"

Sang pemuda merenung sebentar. Ini adalah hal baru. Belum pernah ia melihat Natsu sekhawatir ini sejak mereka bersama ayah kandung mereka yang… tidak begitu baik. Dan sejak mereka lari, Natsu diberkati dengan kemampuan untuk menilai jati diri seseorang. Ia bisa menebak apakah orang itu baik atau jahat, tak peduli topeng macam apa yang digunakannya.

Kalau Natsu merasa tidak enak terhadap Kageyama… Kalau ia merasa jati diri Kageyama tidaklah baik, maka kemungkinan besar itu juga benar. Hinata tak ingin mengakui ini, tapi ia jadi khawatir. Bukan terhadap dirinya sendiri, tapi lebih terhadap perasaannya pada Kageyama. Ia sudah terlanjur menyayangi keluarga barunya itu, dan ia tak bisa membuang kasih sayangnya ini begitu saja.

"Baiklah, Natsu," ucap Hinata pada akhirnya, wajahnya masih penuh konflik. "Aku akan mengingat baik-baik perkataanmu. Aku akan selalu berhati-hati. Kalau…" Hinata tersendat sebentar. "Kalau Kageyama memang bukan orang baik, kita berdua akan melarikan diri. Oke?"

Natsu mengangguk, air mukanya sedikit lega mendapati sang kakak menerima informasi itu dengan baik. "Janji?"

"Janji," Hinata berbisik lirih. "Nah, sekarang tidurlah. Sudah malam sekali. Besok kita akan berkebun, ingat?"

"Aku tahu, nii-chan…" Natsu menguap pelan, lantas menutup tirai matanya. "Selamat tidur, nii-chan."

"Selamat tidur, Natsu."

Malam itu, Hinata tak bisa tertidur berkat perkataan Natsu yang menghantui pikirannya.

XOXO

Hinata mengusap pelan boneka itu sebelum mengembalikannya ke dalam boks.

Pada nyatanya, mereka berdua tak melarikan diri dari mansion Kageyama. Empat tahun telah berlalu sejak saat itu, dan Hinata masih menemani Kageyama dengan setia. Sementara Natsu… nasibnya tidak terlalu baik. Ia tak hidup selama Hinata.

"Hm?" Hinata menemukan sesuatu di kaki ranjang Natsu. "Apa ini?" Benda itu berkilauan diterpa sinar senter, dan ketika Hinata mengangkatnya, rupanya itu adalah sebuah jepit rambut. Bukan jepit rambut biasa, melainkan milik Natsu.

XOXO

Kageyama memeluk Hinata yang terisak hebat. Tangan rampingnya mengusap pelan punggung Hinata, berharap bisa meringankan sedikit beban emosinya. Ia tak mengatakan apapun selama Hinata menangis, karena memang tak tahu harus berkata apa dan karena ia ingin memberi Hinata waktu untuk menenangkan diri.

"Natsu…" Hinata memegang erat jas hitam yang Kageyama kenakan. "Kenapa semua ini terjadi? Kenapa dia pergi dengan sangat cepat!? Dia… Dia tidak salah apapun… Harusnya aku yang…"

"Shouyou," Kageyama berusaha mengeluarkan nada selembut mungkin. "Jangan mengatakan hal seperti itu. Natsu tidak akan bahagia."

Tak jauh dari mereka, Sugawara sedang berlutut di atas makam yang belum lama muncul di sana. Pada batu nisannya, tertuliskan nama 'Natsu'. Ia meletakkan sebuah bunga di atasnya, menunduk dalam kesedihan, dan tak mengatakan apapun untuk membiarkan Hinata dan Kageyama saling menenangkan diri.

Kejadiannya begitu cepat. Hinata baru saja akan mengajak Natsu berkebun pagi itu ketika ia menemukannya terkapar di tengah koridor. Tubuhnya begitu dingin. Lalu… tak ada nafas yang keluar dari hidungnya.

Hinata menekan jemarinya pada leher Natsu, dan ketika tak ada pergerakan sama sekali di bawah kulitnya, ia menjerit panik dan putus asa.

Agaknya, ia mendengar diagnosa dari Kageyama bahwa Natsu tiada karena serangan jantung yang begitu mendadak. Kemungkinan ia sedang berjalan di koridor ketika serangan jantung itu datang. Ini membuat Hinata semakin sedih. Dari semua penyakit, kenapa harus serangan jantung, yang bisa dengan mudah dan cepat merenggut nyawa Natsu?

"Maaf, Ayah…" Isakan Hinata telah berkurang dan kini ia mengusap air mata pada wajah dengan punggung tangan. "Aku… Terkejut. Sangat. Maksudku, Natsu… Selama ini dia adalah satu-satunya keluarga bagiku, jadi…"

"Aku tahu," sela Kageyama, sekali lagi memeluk tubuh Hinata. "Jangan mengatakan apapun."

Hinata menggumam pelan, membiarkan dirinya terbuai dalam kehangatan Kageyama. "Apakah kau pikir… Natsu bahagia di sana?"

Kageyama tak menjawab. Hinata mengira ia ikut menangisi Natsu atau bagaimana. Karena itu, ia menarik tubuhnya sedikit menjauh untuk bisa menatap Kageyama.

Dan wajah yang Kageyama kenakan saat itu benar-benar… sulit diartikan.

"…Ayah?"

Kageyama tersentak. "Ya… Tentu. Tentu saja dia akan bahagia, Shouyou."

Hinata melipat dahi menyaksikan wajah Kageyama yang berubah aneh. "…Ada apa, Ayah?"

Pria itu, melihat Hinata menatapnya sedemikian rupa, mengeluarkan helaan nafas panjang. "Maaf… Aku juga tidak menyangka ia akan pergi secepat ini."

Oh. Pantas Kageyama bersikap aneh. Mana ada orang tua yang tidak sedih setelah kehilangan anaknya?

Kali ini, giliran Hinata yang berinisiasi memeluk Kageyama. "Tak apa-apa. Kau tidak sendirian melalui semua ini, Ayah. Masih ada aku di sini."

Kageyama hanya menggumam.

XOXO

Hinata tersadar kembali saat sebuah air mata mengalir menuruni pipi. Ia menghapus air mata itu dengan sebuah endusan pelan, kemudian berjalan keluar dan menutup pintu dengan wajah sendu.


Tujuan Hinata selanjutnya cukup membuatnya berdebar—baik akan antisipasi maupun akan kecemasan yang berat.

Hinata membuka perlahan pintu berdaun dua itu, mencoba mengabaikan jantungnya yang berdetak kencang, dan perlahan melangkah masuk. Seperti tempat lainnya pada mansion malam itu, semuanya terbalut dalam bau darah dan daging busuk, begitu pula ruangan tersebut. Tapi, Hinata tetap dapat mencium aroma khas Kageyama yang tertinggal di sana.

Benar, itu adalah kamar Kageyama.

Dan kalau ada yang menanyakan mengapa sepasang kekasih yang sudah menikah seperti mereka memiliki kamar yang terpisah… yah, itu kebijakan Kageyama, jadi Hinata hanya bisa menghormati keputusan itu. Sejak dulu, Kageyama memang cenderung tertutup.

Hinata berjalan mengitari seisi ruangan, mengamati apapun yang ada di dalamnya. Ketika ia sampai pada almari Kageyama, Hinata kira ia akan menemukan berkas-berkas yang memaparkan hasil penelitiannya, tapi yang ia temukan di sana justru sesuatu yang tak terduga.

Bangkai. Sama seperti yang ada di laci dalam kamarnya sendiri.

"A-Apa… ini?" Hinata menelan ludah. Seonggok mayat kucing terbujur kaku di hadapannya. Ia lekas menutup laci almari itu, membuka laci yang lain, tapi—hasilnya sama. Di sana juga terdapat mayat hewan, kali ini burung. Keringat dingin mulai bertaburan pada wajah Hinata. "Kenapa di almari Kageyama ada bangkai? Apa hubungannya dengan ingatan Kageyama?"

Jangan bilang kalau dia memang… menyimpan bangkai di almarinya? Lantas, apakah orang yang meletakkan bangkai di almarinya juga Kageyama?

Hinata menggeleng, lalu menutup kembali laci almari itu. Terlalu cepat untuk menyimpulkan. Hinata mencoba untuk berjalan, tapi ia sadar nafasnya telah meningkat dan jantungnya menggedor-gedor rongga dadanya. Ia menghembuskan nafas dalam-dalam. Lalu, memutuskan untuk menenangkan diri sejenak, ia duduk pada tepi tempat tidur Kageyama yang berukuran besar.

Jemari Hinata menelusuri seprai putih halus itu, di dalam hati bertanya bagaimana Kageyama bisa betah tidur sendirian di ranjang seluas ini, sekalipun ia tidak menolak jika harus tidur bersama Hinata.

XOXO

Sejak Natsu tiada, mansion jadi lebih sepi, dan tak ada lagi yang mengajak Hinata bermain. Itu berarti, Hinata sekarang hanya berdua dengan Kageyama. Entah mengapa, meskipun merasa bersalah juga atas Natsu, Hinata diam-diam merasa senang dengan kesempatan itu. Ia sudah lama memikirkan cara untuk berdekat-dekatan dengan sang ayah yang selalu menjauhkan diri dari keramaian itu.

Makanya, Hinata menggunakan segala kesempatan yang ada untuk menempelkan dirinya pada Kageyama. Saat bersama Kageyama, ia akan sering menggandeng lengan Kageyama, atau bahkan menggenggam tangannya dan menyelipkan jari-jarinya di antara jemari Kageyama. Dan ketika Kageyama kembali dari bekerja, Hinata akan dengan senang hati memberikannya sebuah pelukan.

Di hari tertentu, ia akan memasakkan makanan favorit Kageyama, lalu mengecup pipinya sebelum ia pergi bekerja atau bereksperimen layaknya… benar, layaknya seorang istri. Hinata malu sendiri memikirkan betapa mesranya gestur yang ia lakukan itu.

Setelah kecupan di pipi itu, muncul sentuhan-sentuhan lain yang lebih intim. Lebih berat, lebih mengisyaratkan dosa. Tapi keduanya tetap melakukannya. Awalnya, Hinata pikir ia hanya berdelusi, tapi Kageyama memang sering menginisiasi sentuhan itu.

Rangkulan di bahu. Sentuhan di punggung. Tangan yang membelai lembut kedua pipi. Jemari yang menjejalah di sepanjang kaki. Ibu jari yang mengusap bibir Hinata. Dan akhirnya, sebuah kecupan datar tepat di bibir.

Sentuhan itu bertambah seiring setelah Kageyama pertama kali mencium bibirnya. Hinata merasa… ini adalah hal yang salah. Mereka seharusnya tidak melakukan ini. Mereka adalah ayah dan anak angkat.

Dan Hinata semakin merasa berdosa karena ia justru luar biasa senang akan semua kesalahan ini.

"Shouyou," ucap Kageyama di seberang meja makan. Suaranya lebih serak dan kasar dari biasanya, seolah ia sedang menahan-nahan suatu perasaan yang hendak membuncah. "Malam ini, datanglah ke kamarku."

Hinata hanya bisa mengangguk pelan, jantung berdegup penuh ekspektasi dan dada berdenyut senang.

Maka, malam itu, seperti yang diperintahkan Kageyama, ia membawa dirinya ke kamar sang ayah. Hinata mengetuk pintu perlahan, suara Kageyama mempersilakannya masuk tak lama kemudian.

Hinata merasa jantungnya hendak copot seketika itu. Di atas tempat tidurnya, Kageyama sedang duduk di bagian tepi sambil meluruskan kedua kaki, dan di atas itu semua—ia mengenakan gaun mandi. Hinata menelan ludah, hati nuraninya tergoda. Selama ini Kageyama belum pernah menampakkan diri di hadapan Natsu dan Hinata tanpa busana yang formal, setidaknya semi-formal. Tapi melihatnya seperti ini, dengan kulit lembab dan rambut basah setelah mandi…

Hinata hampir pingsan. Darah mulai mengalir menuju wajahnya. "A-Ada perlu apa, Ayah?" tanya Hinata, berusaha untuk menelan kegugupannya.

Kageyama menyangga tubuh dengan kedua lengan di belakangnya, kepalanya mendongak ke atas sehingga leher jenjangnya terjulur, memberikan Hinata pemandangan menakjubkan secara gratis. Saat ini, Hinata sungguh tak tahu apakah Kageyama sengaja melakukan itu atau tidak.

"Kemarilah, Shouyou," ajak Kageyama tanpa menatap Hinata. Sang anak tentu saja menurut.

Ia baru sebentar duduk di samping Kageyama saat sebuah lengan melingkari pinggangnya, membawanya mendekat pada tubuh indah itu. Hinata melebarkan matanya. "A… Ayah…?"

"Shouyou." Kageyama mendaratkan bibirnya pada rambut Hinata. Kemudian pada dahi, mata, hidung, pipi… dan untuk sesaat, Kageyama menempelkan dahinya dengan dahi Hinata, bibirnya tinggal beberapa senti dari bibir Hinata. "Kau… Apakah kau menyukaiku?"

Hinata berusaha menahan dirinya untuk memajukan wajah dan menempelkan bibir mereka. "Tentu saja… Kau adalah ayahku. Orang yang membuat kehidupanku menjadi lebih baik. Tentu saja aku menyukaimu. Aku menyayangimu, Ayah."

"Bukan itu maksudku," Kageyama memindahkan posisi lengannya hingga ia memegangi belakang kepala Hinata sekarang, membuatnya bisa dengan leluasa mengendalikan Hinata menggunakan mata birunya. "Aku bertanya apakah kau… mencintaiku sebagai seorang kekasih."

Hinata menarik nafas cepat, tajam, dan dengan cukup lama memikirkan kalimat yang tepat untuk menutupi kebenaran. Kedua matanya melebar menyambut ekspresi penuh nafsu pada wajah Kageyama. Dan nafsu itu dengan cepat menular pada dirinya sendiri, karena detik berikutnya, keduanya sama-sama bergerak dan mempertemukan bibir mereka.

Kalau Hinata bisa menjerit senang sekarang, ia akan melakukannya. Ada sesuatu yang telah mengganjal di dalam batinnya selama ini, dan sesuatu tersebut sekarang telah hilang begitu saja.

Ah, jadi begitu. Hinata sudah menginginkan hal seperti ini sejak dulu.

Lidah bertautan. Tangan meraba-raba, mengundang desahan lembut. Dan ketika Hinata berpikir bahwa ia akan pingsan dengan segala emosi ini, Kageyama melepaskan cumbuan panas pertama mereka perlahan. Hinata hampir saja mengejar kembali bibir lezat berwarna merah yang basah akan saliva itu kalau saja Kageyama tak menangkup wajahnya dalam kedua tangan.

"Katakan, Shouyou…" Kageyama berbisik di depan kedua matanya. "Katakan perasaanmu."

Hinata tentu saja menurut, terlena dalam keinginan untuk memadu cinta dengan sosok yang selalu disayanginya itu. "Aku mencintaimu, Ayah…"

Kageyama mendekatkan wajahnya lagi. "Panggil aku Tobio."

"Tobio…" Hinata membelai rahang tegas itu. "Aku mencintaimu. Tobio, aku sangat mencintaimu."

Dan bibir keduanya kembali bertemu dalam sebuah ciuman yang dalam. Hinata dimabuk cinta, ia sudah seperti itu sejak pertama kali memandangi wajah tampan Kageyama, dan ia membiarkan saja Kageyama yang bergerak menanggalkan pakaian mereka.

"Tobio… Tobio, aku mencintaimu… Menyangimu… Mm…"

"Ssh. Diam dan rasakan, Shouyou bodoh."

Keduanya bergerak secara sinkron, saling meraba, menandai tubuh, bercumbu tanpa bosan, dan mengatakan kalimat cinta berkali-kali hingga Hinata merasa mual.

"Aku mencintaimu, Tobio!"

Kageyama membalas pernyataan itu dengan mengecup dahi Hinata, sebelum menumpahkan hasrat yang ia pendam selama ini bersama Hinata.

Hinata mengira Kageyama lebih mementingkan urusan tubuh daripada pernyataan cinta, dan kalaupun itu benar, Hinata menemukan bahwa dirinya tidak keberatan. Kalau Kageyama hanya menganggapnya sebagai wadah pelampiasan, ia juga… tidak akan menolak. Ia begitu mencintai Kageyama, bahkan terlalu mencintainya sampai pada titik di mana ia rela melakukan apapun.

Tapi kemudian, Kageyama mengeluarkan sebuah kotak kecil dari meja di sebelah tempat tidur, dan Hinata hampir menangis terharu.

"Menikahlah denganku, Shouyou."

Pada akhirnya, Hinata benar-benar menangis penuh haru.

XOXO

Sekarang pun, melihat memori itu kembali hampir membuat Hinata menangis. Semua itu mengingatkannya kembali betapa cintanya ia kepada Kageyama, betapa ia rela melakukan apapun demi pria yang menjadi penyelamatnya itu.

"Benar… Tak ada waktu untuk berlama-lama di sini…" Hinata mengusap hidung. "Aku harus melanjutkan… sebelum sesuatu yang buruk terjadi pada Tobio."

Sebelum ia keluar, Hinata merasakan sesuatu di bawah kakinya. "Hm? Apa ini?" Hinata melangkah mundur. Sebuah benda berbentuk bulat yang memantulkan cahaya senternya muncul. "Tunggu, bukankah benda ini…"

Tidak salah lagi, itu cincin pernikahan mereka. Milik Hinata telah tersemat di jari manisnya, jadi itu pasti milik Kageyama.

"Kenapa cincin Kageyama ada di atas lantai? Padahal ia selalu memakainya…" Hinata mulai merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan pada dasar perutnya. Ia memutuskan untuk membawa cincin tersebut. Dibawanya cincin itu ke hadapan wajah agar ia dapat menciumnya lembut. "Izinkan aku menggunakan benda ini sebagai jimat pelindung… Tobio. Semoga kau masih bisa bertahan."

Hinata mengatur nafas dan menatap ke depan, memasukkan cincin itu di dalam sakunya. "Baiklah."


Dari dulu, Hinata tak terlalu suka dengan boneka yang Kageyama beli.

Hinata merinding hebat ketika ia menyaksikan jajaran boneka di dalam sebuah ruangan. Ia tak begitu mengerti ruangan apa itu sebenarnya, berhubung Kageyama selalu menguncinya dari dulu. Hinata baru tahu ada ruangan seperti ini. Ia juga baru tahu kalau Kageyama suka sekali mengoleksi boneka, dan itu adalah… hobi yang agak aneh untuk ukuran seorang pria.

Hinata mendaratkan pandangannya pada salah satu boneka perempuan, dan Hinata ingin menjerit saat itu juga. Sudah ia duga, boneka-boneka di sana aneh.

Mereka terlalu… nyata. Baik kulit, rambut, atau matanya… Itu membuat Hinata luar biasa takut. Mata semua boneka itu berasa sedang memperhatikannya. "L-Lebih baik aku segera keluar dari sini."

Karena tak ada memori yang terulang dalam ruangan itu, Hinata dengan senang hati keluar secepatnya, kemudian berpindah pada ruangan gudang—ruangan kedua yang Kageyama larang keras untuk dimasuki setelah basemen. Agaknya, itu adalah ruang penyimpanan biasa.

Sebuah memori ketika Hinata pertama kali mendatangi gudang ini terputar kembali di benaknya. Itu adalah kedua kalinya Kageyama marah besar, dan sejujurnya ini bukanlah memori yang disukai Hinata.

XOXO

Hinata yang berusia lima belas tahun—itu berarti ia belum menikahi Kageyama—sedang memegangi sebuah benda yang ditemukannya dari gudang. Ia telah membawanya keluar hingga ke halaman belakang dan sedang berlatih cara menggunakan benda itu.

Tentu saja, di luar sepengetahuan Kageyama.

"Hiaa!" Hinata menusukkan benda itu ke udara di depannya. "Zeaaa!"

Mendadak, pintu di belakangnya terbuka. "Hinata, waktunya makan si—tunggu, apa yang sedang kau pegang!?"

Sekujur tubuh Hinata membeku. Ia mencoba untuk menyembunyikan benda di tangannya, tapi terlambat. Kageyama sudah terlebih dulu melihatnya dan merebutnya dari tangan Hinata.

Saat Hinata mendongak, ia gemetar. Kageyama nampak sangat marah saat itu…

"Kenapa kau membawa-bawa gergaji mesin!?" Kageyama bertanya dengan suara kasarnya. Hinata berjengit takut. Dari segala hal, ia paling benci dimarahi Kageyama. "Kau… Dasar bocah bodoh! Kau pasti pergi ke gudang! Benar, kan!?"

Untuk beberapa detik, Hinata diam tanpa menjawab. Kageyama semakin garang. Ia menarik lengan kecil Hinata dengan kasar, membuat remaja itu menjerit kesakitan. Ia lantas membungkuk untuk menatap dalam-dalam mata sewarna madu Hinata, iris birunya sendiri menggelap dengan sangat mengerikan.

"Jawab, Shouyou."

Hinata memekik pelan. "Y-Ya… Aku pergi ke gudang… Ah!" Cengkeraman pada pergelangan tangan Hinata menguat. "M-Maaf, Ayah! Maaf! Maafkan aku…"

"Kenapa kau pergi ke sana?" Kageyama belum mengendurkan genggamannya. Bisa jadi ia berniat mematahkan tangan anak malang itu. "Aku sudah bilang berkali-kali—kau bebas mengunjungi tempat apapun, kecuali basemen, gudang, dan ruang lain yang terkunci! Dasar anak bodoh!"

Hinata tak sadar ia menangis tersedu-sedu. Kageyama meneriakinya dengan suara yang sangat keras sekarang. Bahkan, ia kelihatan lebih marah dari saat Hinata menjelajah basemen…

"Ayah… Maaf… A-Aku tidak akan mengulanginya lagi, jadi—" Genggaman Kageyama kembali mengerat. Kedua mata Hinata terbuka lebar. "S-Sakit! Tanganku sakit, Ayah!"

Pegangan kuat itu masih belum mau melonggar, tapi beberapa saat kemudian, setelah Kageyama menghela nafas panjang, ia akhirnya melepaskan tangan Hinata. "Dari semua barang, kenapa kau mengambil benda ini? Kau membuatku kalap." Kageyama mengangkat benda itu dan mengamatinya dengan pandangan menerawang, lantas ia berbisik, "Terlalu cepat bagimu untuk bersinggungan dengan benda ini…"

Hinata masih sibuk terisak dan memegangi tangannya yang terasa begitu sakit. Tapi tiba-tiba Kageyama telah ada di hadapan wajahnya lagi, raut wajahnya telah melembut. Ia menghapus air mata pada wajah Hinata dengan ibu jari. "Shouyou. Hei. Berhentilah menangis."

Hinata tidak berhenti menangis. Batinnya sangat terguncang melihat sang ayah yang begitu disayanginya mendadak marah besar. "Maaf, Ayah… Maaf… Maafkan aku…"

Biasanya, Kageyama akan terus menghibur Hinata hingga ia berhenti menangis, tapi hari itu Kageyama hanya menggandeng Hinata memasuki rumah, menyuruhnya tidur, dan pergi tanpa mengatakan apapun.

XOXO

Hinata tersenyum getir. Sampai sekarang pun, membayangkan kemurkaan Kageyama waktu itu tetap berhasil membuat batinnya pedih.

Ia menaiki sebuah tangga, mencoba mencari-cari di mana letak gergaji mesin mini yang ia lihat waktu itu, membongkar di setiap sudut gudang. Ia meledakkan senyum lebar ketika ia menemukannya. "Ini tidak bisa kugunakan untuk melawan monster, tapi setidaknya aku bisa menghancurkan benda-benda dengan ini."

Gergaji mesin itu berukuran kira-kira dua kali panjang telapak tangan. Tidak terlalu besar, dan sebenarnya sangat ringan, sehingga ia bisa membawanya tanpa kerepotan. Hinata menemukan tumpukan rantai kecil di dekat sana, lalu dengan rantai itu, ia menggantungkan gergaji mesin pada celananya.

Dengan senjata baru itu, Hinata melanjutkan perjalanan menuju dapur. Tidak seperti di koridor, di dalam ruangan, jumlah monster cenderung lebih sedikit, meski tidak menutup kemungkinan adanya keberadaan mereka. Suasana dapur juga demikian. Gelap, sepi, dan bau. Hinata mendekati deretan kompor dengan ekstra hati-hati, mengarahkan senter ke segala penjuru ruangan untuk memastikan ia tidak melewatkan satu benda aneh pun.

Hinata mengarahkan senternya ke sebuah sudut, dan ia buru-buru menutup mulutnya agar tidak berteriak keras.

Lagi-lagi yang menyambutnya adalah bangkai. Hinata merasa begitu mual. Itu adalah bangkai kelinci yang digantung dari atas rak peralatan makan, tanpa kedua lengan dan kaki. Ia kasihan juga pada si kelinci. Siapa yang berani melakukan hal mengerikan ini di mansion tersebut?

Tapi, tunggu—kelinci? Hinata mengeluarkan suara kaget.

"S… Snowball?" panggilnya lemah. Tidak salah lagi. Hewan itu adalah kelinci putih yang Kageyama berikan kepada Hinata sebagai hadiah. "Snowball… Apakah itu benar-benar dirimu?" Kelinci itu diam saja, terus menggantung kaku di sana. Hinata menjulurkan tangannya untuk memegang kelinci itu, tapi urung karena ia tak sanggup menyaksikan darah kelinci itu menempel pada kedua tangannya. "Siapa yang melakukan hal ini kepadamu, Snowball?"

Hinata jatuh terduduk di atas lantai. Walaupun mulutnya masih tertutup oleh tangan, tapi suara tangisannya masih bisa lolos.

XOXO

"Snowball! Snowbaaaall! Di mana kau?"

Hinata menjejak-jejakkan kakinya yang lelah pada rumput halaman belakang. Sedari tadi, ia tak habis-habis mencari kelinci putih itu ke seluruh penjuru mansion, yang sayangnya memiliki luas yang hebat. Mungkin sudah ada lebih dari satu jam Hinata berlarian mencari kelinci itu, dan ia masih belum dapat menemukannya.

Biasanya Natsu akan membantunya mencari, tapi berhubung sang adik telah tiada…

"Pergi ke mana dia?" Hinata hampir menangis frustasi. "Kakinya juga terluka… Aku belum sempat mengobatinya… Bagaimana kalau dia benar-benar hilang? Atau… m-mati di jalan? Aku jadi tidak enak pada Tobio…"

Dengan segenap tenaga dan semangat yang tersisa, Hinata menangkupkan kedua tangannya di samping mulut dan berteriak sekeras mungkin, "Snowbaaaaaall!"

"Mau berteriak sekeras apapun, dia tidak akan bisa mengenali suaramu, boke."

Hinata membalikkan badannya, baru saja akan memamerkan bibirnya yang manyun pada Kageyama ketika ia melihat benda di dalam gendongan Kageyama. Manik madunya melebar senang. "S-Snowball!"

Ia berlari menghampiri Kageyama dan mengambil kelinci itu dari tangan suaminya. "Uuuuh, dasar anak nakal! Ke mana saja kau selama ini!?" Hinata memeriksa kaki belakang Snowball, yang seharusnya sedang terluka saat itu. Tapi ia tidak menemukan apapun di sana. "Hm? Lukamu sembuh, Snowball?"

"Lain kali jangan biarkan dia terluka lagi, Shouyou bodoh…" Kageyama mendesah berat sambil memijit pening. "Aku ada banyak urusan. Kau harus belajar merawat Snowball sendiri."

"Ah!" Hinata memindahkan tatapan cerahnya pada Kageyama. "Kau yang mengobatinya, ya? Hebat, luka Snowball bisa langsung raib begini! Uwah, Tobio… aku sangat menyayangimu!" Ia berjinjit dan menempelkan bibirnya pada pipi sang suami, efektif membuat warna merah merambat pada wajah sang pria.

"D-Diam, boke! Pokoknya, aku serius—jangan biarkan dia terluka lagi…"

Hinata mengerling genit. "Kalau aku tidak mau?"

Kageyama membiarkan bibirnya membentuk seringai. Ia berisik seduktif pada telinga Hinata. "Mungkin aku harus menghukummu, Shouyou."

"Hmm… Kau tahu, caramu menghukumku justru membuatku senang—dan malah tidak kapok."

Hinata tertawa, dan Kageyama menyusul dengan dengusan geli.

XOXO

"Snowball…" Hinata masih terisak menatap sosok mengenaskan dari binatang kesayangannya itu. Ia lantas mengusap air matanya dengan bergetar, dan perlahan bangkit, mendekati Snowball yang masih tergantung dan memberikan senyuman terakhir untuknya. "Aku tidak tahu siapa yang melakukan ini… tapi aku akan menemukan pelakunya untukmu."

Hinata menghirup nafas, membuangnya pelan, dan melanjutkan perjalanannya.