Detective Conan © Aoyama Gosho

Warning: AU, OOC, typo(s), bloody amatira, case murder amatira, dan segala amatiran lainnya

Bagian pertama : Rahasia yang terungkap?

Selamat membaca…

.

.

Menjaga sebuah rahasia itu merepotkan bin menyebalkan. Terlalu banyak yang harus disembunyikan. Pura-pura tidak tahu dan tidak peduli. Mulut yang berbicara bertolak belakang dengan hati, memang pepatah yang sesuai. Saat keluar dari persembunyian, kewaspadaan menjadi meningkat. Bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Berharap tidak ada orang yang mengenal diluar keseharian.

Orang akan mengatakan 'hidupmu terlalu monoton' atau 'ayolah sesekali keluar dan menikmati dunia luar'. Keh... Mereka tidak tahu. Sama sekali tidak tahu. Wajah polos ini hanya topeng, topeng kepolosan demi menjaga sebuah identitas rahasia yang tidak boleh bocor.

Banyak drama dengan skenario unggul nan epik yang harus diperankan. Hingga tidak akan ada yang mampu mengungkapnya. Sekalipun itu orang terhebat di muka bumi ini.

Namun, tidak selamanya. Terkadang kecerobohan kecil tak terlihat mampu mengubah seluruh kehidupan yang telah tertata dengan rapi. Persiapkan dirimu mulai sekarang.

Shinichi menatap benda persegi panjang yang tergeletak di dalam lokernya. Warnanya merah muda, mirip kelopak-kelopak Sakura yang bermekaran. Amplop. Pandangan matanya beralih pada lubang-lubang tipis persegi panjang dipintu lokernya. Tatapan sengit ia layangkan pada ventilasi loker.

Tangan kirinya terulur mengambil amplop tersebut. Aroma Sakura menyapu indera penciumannya. Shinchi membolak-balikkannya. Tidak ada coretan atau apapun yang berhubungan dengan si pengirim. Dapat dipastikan, surat ini dari fansnya. Narsis sedikit boleh dong. Derita orang tampan.

Tapi, masih jamankah surat-suratan seperti ini? Disaat sudah banyak alat komunikasi canggih. Salah satunya handphone yang terdapat fitur berbalas pesan atau email. Lah ini Surat? Kertas yang ditulisi sesuai dengan si penulis, memasukkannya ke dalam amplop. Kalau jauh tujuannya, perlu perangko. Kalau hanya dekat, ya seperti yang Shinichi dapatkan di dalam lokernya. Surat misterius dari mulai membuka kepala amplop. Terbuak dengan mudah. Tidak diberi lem. Menarik kertas di dalamnya yang seukuran sigaret untuk merokok dengan tembakau, namun lebih tebal. Tidak ada tulisan. Ia membalik kertas itu. Tidak ada tulisan juga. Kedua alisnya bertaut. Otaknya mulai berpikir apakah ini hanya sebuah lelucon atau bukan. Kertas itu Shinichi terawang. Ada sesuatu yang berkilat. Ibu jarinya meraba kertas itu. Ada bagian yang licin dan ada bagian yang agak kasar. Mungkinkah?

"Hei," sebuah suara lembut sedikit membuat Shinichi berjengit kaget.

Shinichi berbalik, mendapati seorang gadis menatapnya heran. "Ran."

"Maaf mengagetkanmu. Ayo pulang," ucap Ran. Matanya menatap selembar kertas yang ada ditangan Shinichi, lengkap dengan amplop merah muda. "Surat cinta."

Shinichi menatap Ran yang bersuara sendu. Surat cinta apa? Oh. Surat misterius ini. Ya, memang seperti surat cinta, karena warna amplopnya. Shinichi memasukan amplop dan kertas itu ke dalam saku celana seragam abu-abunya.

"Bukan.""Benarkah?"

"Sudahlah. Ayo pulang."

.

.

Sesampainya di rumah, Shinichi memasuki kamarnya dan mengunci pintu. Melepas blazer seragam SMA Teitan dan tak lupa dasi yang sedari tadi seperti mencekik lehernya untuk bernapas. Selama perjalanan pulang dengan Ran, Shinichi sudah merencanakan apa yang akan dilakukannya setelah sampai di rumah.

Shinichi menarik rak di meja belajarnya. Mengeluarkan asbak, korek api dan sebatang lilin. Menyulut sumbu lilin dengan korek api, menundukkan ujung yang menyala ke dalam asbak. Beberapa tetes lilin yang mencair sedikit menggenang di dalam asbak. Lalu menegakkan lilin itu dan menempelkan ujung satunya ke dalam asbak agar tetap berdiri. / Lantas ia merogoh kertas dan amplop dari dalam saku celananya. Shinichi mendekatkan kertas itu ke lilin yang menyala.

-simbol bintang segi lima- Hai Detektif, mari bermain.

Peraturannya mudah. "Bertahanlah hingga akhir, maka kau akan hidup."

Satu titik akan menghilang malam ini.

7-1, 4-2, 2-1, 6-2, 8-1, 6-3, 6-1

Bertahanlah hingga akhir, maka kau akan hidup. Shinichi menyimpulkan bahwa ini berkaitan dengan nyawa. Nyawanya sendiri yang menjadi taruhannya. Lalu apa yang akan terjadi bila ia tidak mengikuti permainan konyol ini? Apakah ia akan mati sekarang juga?

Shinichi mengamati kembali deretan huruf yang membentuk kata tersebut. Tulisannya berasal dari ketikan komputer yang kemudian diprint, kecuali simbol bintang. Simbol bintang itu hasil coretan tangan, bisa dilihat karena agak kurang rapi. Membuat satu titik kemudian menariknya menjadi garis lalu membentuk bintang segi lima dan berakhir pada titik awal, yang tidak berbentuk rapi namun masih bisa dikenali bahwa itu adalah simbol bintang. Dan angka-angka.

Angka? Mungkinkah? Kode?

Astaga, Shinichi melupakan bagian ini. Otak detektifnya mulai bekerja. Angka-angka ini tidak asing dengan pola yang tidak asing pula.

"Ini," gumamnya.

Shinichi merogoh kantong celana lainnya dan menarik ponsel flip hitamnya.

Membuka ponsel itu hingga menampilkan layar dan keypadnya. Kemudian mengetikkan angka-angka yang tertera pada kertas dikeypad ponsel, satu persatu. Angka 7 pada keypad ia tekan satu kali, muncul huruf P. Angka 4 ia tekan dua kali, huruf H. Angka 2 ia tekan satu kali, huruf A. Angka 6 ia tekan dua kali, huruf N. Angka 8 ia tekan satu kali, huruf T. Angka 6 ia tekan tiga kali, huruf O. Terakhir, angka 6 ia tekan satu kali, huruf M. Phantom. Ternyata memang memang benar, sandi ponsel T9.

Jadi nama pengirimnya Phantom. Terlalu biasa.

Apa yang diinginkan oleh Phantom? Mengapa orang ini mengajaknya bermain permainan konyol ini.

Shinichi menarik kursi dan mendudukinya. Kertas itu ia letakkan di meja tepat dihadapannya. Memandang tanpa kedip surat aneh itu. Tidak menyadari bahwa aura disekitarnya mulai berubah. Angin mulai menampakkan giginya. Hembusan yang perlahan lalu menjadi tidak terkendali. Bertiup keras namun lembut menusuk.

Shinichi membelalakkan matanya. "Darimana orang ini tahu aku seorang detektif?"

Disebuah gedunga tua bekas pabrik tas lantai teratas. Seorang, tidak, ada dua orang disana. Seorang gadis dengan seragam SMA biru perlahan melangkah mundur dengan menyeret kaki-kakinya. Tubuhnya bergetar, air mata mengalir deras dari kedua bola matanya, dan kedua tangannya menutup mulutnya agar tak mengeluarkan suara isakan. Gadis berambut cokelat seleher ini tidak menyangka sama sekali akan berada dalam situasi yang tidak menguntungkan ini. Ia terpojok.

Seseorang dengan topeng putih yang bagian mulutnya melebar kebawah, berbaju hitam sampai lutut juga celana panjang hitam lengkap dengan sepatu hitam, sarung tangan hitam dan pisau disalah satu tangannya. Dia mulai mendekat perlahan ke arah gadis berambut cokelat itu.

"Apa kabar Sonoko?" sapa orang bertopeng itu.

Sonoko, gadis itu mematung sejenak. Matanya bahkan sedikit membola. Suara itu, suara yang sangat ia kenal. Tapi siapa pemilik suara itu Sonoko masih berusaha mencari tahu ditengaj kelinglungan dan juga ketakutannya.

Orang bertopeng itu semakin mendekat ke arah Sonoko. Pisau ditangannya ia mainkan dengan cara memutar-mutar. "Ma-mau apa kau?"

"Tentu saja membunuhmu. Memang apalagi?"

Lagi, suara nyaring itu terdengar digendang telinganya. Suara itu menyentakkan kesadaran Sonoko. "A-apa salahku?"

"Kau terlalu banyak tahu Sonoko Suzuki," ucap orang bertopeng itu. "dasar detektif amatiran."

Kedua mata Sonoko membulat sempurna. Siapa orang gila ini?

Sonoko melangkahkan kakinya yang terasa berat. Sial. Bagaimana mungkin ia bisa berlari sampai sejauh ini dan memilih gedung tua sebagai tempat persembunyian yang aman. Orang bertopeng gila ini mengejarnya saat dibelokan menuju rumahnya. Bukannya lari ke rumah malah ambil jalan yang semenyesatkan seperti ini. Sonoko merutuk keras dalam hati.

Langkah kakinya berakhir karena pundaknya membentur pagar besi. Pagar besi tua yang sudah terkoyak dan berkarat. Sempurna. Kepalanya menengok ke belakang, melihat betapa tingginya gedung yang sedang ia pijak ini.

Sonoko merasakan ada sebuah benda menancap dibagian bahu kanan depannya, juga dorongan kedua bahunya.

Angin malam menerbangkan rambut hitam orang bertopeng itu.

Saat Sonoko terjatuh, kedua matanya yang berair menatap ke atas, ke arah si pelaku. Topeng itu terbuka, menampakan wajah seseorang yang sangat dikenalnya. Sonoko hanya berharap ia sedang bermimpi, mimpi yang sangat buruk. Kemudian kedua mata yang berair itu perlahan menutup.

"Ternyata kau," cicit Sonoko.

Bunyi debaman dan gemertak tulang patah terdengar, tubuh Sonoko tergeletak tak berdaya di atas tanah. Semua anggota badannya remuk tak berasa apapun. Darah segar mengalir dari hidung, mulut, telinga dan kepala yang bagian belakang yang pecah. Perlahan kesadaran Sonoko lenyap. Tubuh itu kini hanya tinggal tubuh saja tanpa nyawa. Malam ini, malam terakhir Sonoko menghirup udara. Malam selanjutnya, tidak ada lagi Sonoko Suzuki. Yang ada hanyalah kenangan-kenangan dan misteri.


Kuro No Soshiki atau Black Organization, BO, atau lebih dikenal dengan Organisasi Hitam. Kenapa dinamakan demikian? itu karena para anggotanya wajib mengenakan pakaian serba hitam dan memang sindikikat yang berjalan di jalan hitam. Seperti perampokan, pemerasan, penjualan narkotika dan senjata api, penjualan organ vital manusia, pembunuh bayaran, penjualan dan pembelian minuman keras, dan semua hal yang tak dapat terpikirkan sekalipun. Sang Big Boss yang tak diketahui rupa dan sosoknya, namun ada sebagai pendiri Organisasi ini. Segelintir orang memanggilnya dengan Anokata yang berarti orang itu. Sungguh misterius.

Semua yang masuk organisasi mempunyai sebuah codename yang berdasar pada minuman beralkohol. Ada beberapa yang hanya dipanggil dengan julukan yang diberikan sang Big Boss. Semua anggotanya direkrut sendiri oleh Anokata melalui bawahan yang dapat dipercaya. Tidak ada yang mendaftarkan diri secara suka rela.

Gin, sang Komandan BO tengah duduk santai di sofa bersama kekasihnya -Vermouth. Di depannya, meja diatasnya berserakan makanan dan beberapa botol minuman yang mulai kosong. Televisi menyala menyiarkan tontonan hiburan yang sedikit membuat Vermouth terkikik bahkan tak sadar tertawa. Gin menarik kekasihnya ke dalam pelukannya.

"Ada apa?" tanya Vermouth. Ia melingkarkan kedua tangannya di sekitar pinggang Gin.

"Tidak, hanya kangen," ungkap Gin. Vermouth tersenyum menatap mata sang kekasih. Tangan kirinya mengelus dada telanjang Gin, memberi ketenangan. Gin semakin mengeratkan pelukannya pada kekasih tercintanya.

"Bagaimana dengan New?"

Gin menyeringai. "Lumayan. Dia sudah melaksanakan tugas dengan baik."

"Jangan bilang, kau akan menugaskan dia untuk yang satu ini."

"Dia yang paling cocok untuk ini." Vermouth memutar bola matanya.

Setelah berbincang sedikit, Gin dan Vermouth kembali memadu kasih. Sudah seminggu lamanya kedua sejoli ini tidak bertemu. Kangen.


Heiji menaikkan salah satu alisnya saat mendapati sebuah amplop cokelat di depan pintu apartemennya. Matanya melirik ke kiri dan kanan, tidak ada orang. Mengedikkan bahunya, ia memungut amplop tersebut. Merogoh kartu masuk dan menggesekannya ke mesin dekat pintu. Memutar gagang pintu dan memasuki rumahnya. Amplop itu ia letakkan di meja ruang tamu dan ia berlalu menuju dapur untuk minum.


"New."

"Akan ku lakukan."

"Cih."

Kini New sedang berada di gudang persenjataan milik Chianti. New sedang memilih senapan mana yang akan ia gunakan untuk tugasnya kali ini. Pisau sudah ia gunakan untuk yang waktu itu. Ia sedikit tersenyum saat membayangkan pisaunya berlumuran darah.

Chianti hanya memandangnya dari balik meja, ia sibuk dengan senjata api andalan miliknya. Chianti merupakan salah satu sniper kebanggaan BO.

Tangan New menyentuh pistol dengan peredam suara tembakan. Mengangkat pistol itu dan mengarahkannya pada Chianti yang memandangnya sengit. "Dor."


Heiji hampir saja menyemburkan minuman di dalam mulutnya takkala melihat isi amplop. Foto berserakan di lantai dan ada sebuah memo. Foto yang tidak asing untuknya. Mengernyitkan alisnya, ia memandangi dengan seksama foto itu.

"So-Sonoko."

Ya. Itu adalah foto Sonoko. Di dalam foto-foto itu Sonoko terbaring di tanah dengan darah di sekujur tubuhnya. Heiji membalik foto itu.

Die. 2 Mei 2015.

Kedua bola mata Heiji membola. Ia mengeluarkan ponsel, menekan menu dan mencari aplikasi kalender. Lagi. Kedua bola mata itu membola. Sekarang tanggal 5 Mei. Tiga hari yang lalu Sonoko mati. Tetapi, mengapa ia tidak tahu. Rekannya mati. Tidak ada jejak.

Keringat dingin mulai muncul disekitar pelipisnya. Matanya tak berkedip menatap sekumpulan foto-foto mengenaskan Sonoko. Otaknya bahkan membeku, tangannya mulai gemetar dengan degup jantung yang tidak beraturan. Heiji bahkan hanya bisa mendengarkan detak jantungnya daripada detikan jam dinding yang menempel di dinding dekat ruang tamu.

Ponselnya bergetar, ada panggilan masuk.

"Y-ya," ucapnya gugup. "ki-kita perlu bicara. Tempat biasa. Sekarang!"

Hanya itu yang dapat mulut Heiji ucapkan saat mendapat panggilan telepon. Si penelepon bahkan belum sempat mengutarakan maksudnya. Mata Heiji menangkap memo yang tertulis sesuatu.

1. Sonoko Suzuki -nama Sonoko digaris Horizontal-

2. ?

3. ?

4. ?

5. ?

Heiji meremas rambutnya frustasi.

-TBC-

a/n:

semoga ini nggak keluar dari prompt dan segala peraturan yang ada u.u

bagian kedua ending, puyeng bikin casenya XDD

ripiu?

salam bingung,

Juli Alio