Author: Athiya064/Kyung064
Title:
A Pretty Boy
Cast: Lee Taeyong, Jung Jaehyun, Johnny Seo, Mark Lee, Ten Chittaphon
Other Cast:
Kim Jaejoong(GS), Jung Yunho(Lee Yunho), Choi Siwon
(Jung Siwon), NCT, SM, YG artists & other.
Genre:
Romance, hurt, androgini themed
Language:
Indonesian.
Desclaimer:
I do not own the characters.
Words:
Contacts:
athiya064 on line/twitter/ig

. . .

"Eomma, pakaian-pakaian ini untuk siapa?"

Sang ibu yang sedang melihat tumpukan pakaian dengan buku sketsa hasil rancangan pegawainya menoleh, putra kecilnya baru saja masuk sekolah dasar, belum terlalu mengerti dengan pekerjaannya sebagai seorang pemilik brand fashion terkenal di Korea Selatan. Mungkin anaknya itu menganggap ibunya hanya seorang penjual biasa, pikiran anak-anak masih sangat sederhana bukan?

Ngomong-ngomong ia bukanlah designer biasa, ia adalah wanita karir yang sudah meluncurkan beberapa produk terkenal. JJ's adalah brand sekaligus nama perusahaan yang ia jalankan bersama suaminya.

Wanita dengan wajah cantik dan rambut yang dipotong sebahu itu berjongkok, "Ini untuk noona-deul yang akan menjadi model eomma, semua ini karya eomma dan immo-deul yang membantu eomma," jelasnya, sang anak hanya mengangguk.

Bocah itu mendekati tumpukan pakaian yang belum digantung di lemari pajang maupun etalase butik, yang berwarna pastel menarik perhatiannya. "Ini cantik sekali kalau eomma yang pakai," tunjuknya polos, "Benarkah Taeyongie?" sang ibu yang bernama Kim Jaejoong—sudah berganti jadi Lee Jaejoong— tertawa kecil.

Seketika ia mengingat sahabatnya Victoria Qian menggunakan pakaian itu bersama anaknya Lalisa, memang pakaian itu dirilis khusus untuk perayaan hari ibu kemarin. Victoria dan anaknya sendiri dipercaya Jaejoong untuk memeragakan busana itu di acara fashion show special hari ibu sekaligus acara amal itu.

Sejatinya, Jaejoong merancang baju itu memang membayangkan seandainya dialah yang mengenakan pakaian tersebut. Bersama anaknya..

Ya, seandainya saja ia punya putri kecil yang lucu dan bisa dipakaikan gaun-gaun cantik hasil karyanya.

Bukan berarti Jaejoong tidak bisa memproduksi pakaian untuk anak laki-lakinya, tapi entah mengapa rasanya ia lebih semangat memproduksi baju perempuan. Mungkin karena pakaian perempuan lebih banyak macamnya seiring jaman. Ia mendambakan anak perempuan sejak awal, meskipun suaminya bilang apapun jenis kelaminnya tidak masalah—malah kalau laki-laki kan bagus bisa melanjutkan perusahaan— tapi jauh di dalam hati ia benar-benar ingin punya putri yang lucu. Tapi yang lahir adalah Taeyong, anak yang mewarisi wajahnya tapi dengan figur yang tegas seperti Yunho—suaminya—.

Tidak, ia bukannya tidak menyayangi Taeyong. Taeyong adalah buah hati kesayangannya, jagoan kecil keluarganya, hanya saja itu berarti Jaejoong tidak akan pernah punya anak perempuan. Karena ia divonis mengalami gangguan di kandungannya, jadi ia hanya bisa punya anak satu kali saja sebelum rahimnya diangkat. Jadi harapan itu ia kubur dalam-dalam, tidak ingin membebani Yunho juga.

Ya, mau bagaimana lagi. Mungkin takdir Tuhan memang yang terbaik, toh orang-orang sepertinya mengagumi Taeyong, semua pegawai di butiknya berebut ingin memeluk bocah lucu itu, ia tidak bisa berjalan lebih dari sepuluh meter tanpa orang-orang yang mengagumi putranya. Jadi.. pasti semua punya sisi positif dan sisi negatif, bukan?

"Taeyongie, berhenti mendengarkan musik. Kau pasti belum makan siang, kan? Apa kata eomma, jangan pernah melupakan makan," Taeyong mematikan mp3 player hadiah ulang tahun ayahnya ketika ia menginjak tujuh tahun. "Hehe," ia nyengir pelan.

Jaejoong menarik tubuh Taeyong ke dalam pelukan, "Lihat badanmu kurus sekali, kau harus tumbuh dengan baik seperti appa, bukannya kurus begini." Jaejoong menoleh ketika salah satu maid keluarganya datang membawa makan siang Taeyong, ia menyuruh Taeyong menyantap makanannya dulu.

"Nyonya, ini baju Lalisa kemarin. Nyonya Qian bilang ia minta maaf karena bajunya terkena noda cokelat, tapi beliau sudah menanggung biaya laundrynya." Salah satu pegawai butiknya menyerahkan pakaian yang sudah dilapisi oleh plastik berlambangkan laundry langganannya. Baju itu memang datang terlambat karena Lalisa yang seumuran dengan Taeyong sudah jatuh tertidur lebih dulu sebelum acara amal selesai, jadi bajunya baru dikembalikan hari ini.

Jaejoong menerima pakaian itu, kemudian mencatatnya di buku catatan. "Soojin, tolong kau rubah statusnya di halaman web menjadi tersedia ya. Ah, lain kali kalau nyonya Qian menawarkan bantuan kau tolak saja. Maksudku biar kita saja yang mengurus laundrynya, dia itu sahabatku dan dia sudah membantu banyak di fashion show. Aku jadi tidak enak sendiri kalau dia sampai bertanggungjawab begini," keluh Jaejoong, "Saya sudah menolaknya, tapi anda tahu sendiri nyonya Qian pasti merajuk, jadi kalah hehe." Jaejoong terkekeh, dasar wanita baik hati.

Matanya kembali menatap sang buah hati yang sekarang sudah menghentikan makannya padahal baru beberapa suap, dan kembali fokus pada pemutar musiknya. Heran, hobi Taeyong terlalu dewasa untuk usianya. "Taeyongie! Astaga, tidak boleh menyia-nyiakan makanan, lihat, bahkan baju untuk Lisa ini mungkin pas kau kenakan. Aish, masa badanmu seukuran perempuan?" omel Jaejoong.

Sontak Taeyong merengut sebal, "Eomma, Lisa kan perempuan, tidak mungkin issh," kesalnya. Jaejoong mengeluarkan pakaian tadi dari pembungkus plastiknya, membandingkan baju itu dengan ukuran badan Taeyong. "Coba saja baju ini kalau tidak percaya," Jaejoong masih tidak mau mengalah, apalagi sang anak. Sekarang tuan muda kecil itu malah menarik-narik tangan Soojin ke ruang ganti.

"Tuan muda yakin mau pakai ini?" tanya Soojin geli, dasar ibu dan anak sama-sama tidak ada yang mau mengalah. Taeyong mengangguk-angguk, jadi Soojin melepaskan sweater ala tuan mudanya dan mengganti pakaiannya dengan gaun berwarna pastel itu. "Pas sekali ternyata," Soojin takjub, ia baru saja selesai mengaitkan resleting yang ada di punggung Taeyong.

Bocah itu berbalik, dan Soojin hampir menjerit karena tuan mudanya tiba-tiba berubah menjadi puluhan kali lebih manis dan lebih imut. Tiba-tiba ide jahil Soojin muncul, ia membongkar-bongkar container peralatan untuk fashion show di ruangan ganti itu. Menemukan wig berukuran mini dengan panjang sepunggung, "Nah, Taeyong. Karena kau sudah memakai baju ini, kenapa kita tidak rubah saja kau seperti putri disney?"

Dan Taeyong tidak berkutik ketika wig disematkan ke rambut hitam cepaknya dengan jepit-jepit kecil.

Sementara itu Jaejoong masih memandangi piring makan siang anaknya yang hampir tidak berkurang banyak, padahal harusnya Taeyong lapar setelah belajar bersama Moon seonsaengnim—guru hoomeschooling Taeyong— tapi makannya malah sedikit sekali. Oh iya, Taeyong memang tidak pergi ke sekolah umum, karena bagi Jaejoong lebih mudah mengawasinya di rumah. Lagipula Taeyong juga tidak belajar sendiri, terkadang bersama Ten—anak Victoria yang pertama— atau bersama Doyoung , jadi ia tidak akan kesusahan berkomunikasi.

Wanita itu mengetikkan sesuatu di ponsel pintarnya, mencari cara yang tepat untuk meningkatkan nafsu makan anaknya. Ia takut Taeyong akan sakit bila asupan gizinya tidak terpenuhi. "Eomma!"

Buru-buru Jaejoong menoleh, ia lupa anaknya tadi pergi bersama Soojin. Namun ketika ia mencari tahu asal suara itu, seketika ia terkejut. Di depannya berdiri seorang anak perempuan cantik dengan gaun pastel dan wig berwarna cokelat gelap sebahu, belum lagi pita berwarna merah muda di ujung poninya menambah kesan manis anak itu. Pipinya merah alami tanpa perona pipi, dan bibirnya mengerucut lucu.

Ya kalau saja anak itu tidak bergerak-gerak heboh karena risih dengan renda gaun di bagian lehernya.

"T—Taeyongie?" Jaejoong sampai terbata-bata. Ia memandang penuh tanda tanya ke pegawainya Soojin, "A—anu nyonya, saya terlalu gemas dengan tuan muda. Dan saya menemukan wig itu j—jadi saya.. maaf, akan saya lepas sekarang juga,"

Tapi Jaejoong mengangkat tangannya mengisyaratkan Soojin untuk berhenti, ia melangkah mendekati Taeyong dan menyentuh rambut—ralat wig— putranya itu. Ia memutar tubuh Taeyong beberapa kali, ramping dengan kaki jenjang, kriteria yang bagus untuk menjadi seorang model. "Eomma kenapa sih? Taeyongie pusing," gerutu Taeyong bingung.

Wanita itu menghela nafas, menepuk pipinya sendiri beberapa kali. Taeyong adalah putranya, putra. Meskipun ia baru sadar ternyata anaknya itu begitu cantik ketika didandani, tapi bagaimanapun ia tetap laki-laki. Tapi.. ini seperti harapannya untuk memiliki anak perempuan terwujudkan begitu saja. "Taeyongie, boleh eomma ambil foto kita berdua?" mendengar permintaan sederhana ibunya, tentu saja Taeyong mengangguk, apa sih yang tidak untuk sang ibu tersayang?

Jaejoong menyerahkan ponselnya pada Soojin, meminta pegawainya itu mengambil foto mereka berdua. Jaejoong memeluk Taeyong dari belakang, sungguh rasanya seperti punya putri kecil yang anggun. Jadi begini rasanya punya anak perempuan?

"Gumawo, eomma akan menyimpan fotonya. Kau sangat cantik ternyata hihi, sudah sekarang ganti bersama bibi Soojin," Jaejoong mencium pipi Taeyong, lalu memperhatikan foto-foto yang diambil pegawainya itu. Benar-benar seperti foto ibu dan putri kesayangannya.

Klining—

"Yeobo, kau tahu kemeja gadingku tidak? Aku membutuhkannya tapi tiba-tiba tidak ada di kantor, atau mungkin kau punya koleksi dengan warna yang sama?" Jaejoong menoleh menatap suaminya yang tiba-tiba nyelonong masuk ke kantornya di siang hari seperti ini, pasti benar-benar penting.

Beberapa pegawai langsung memberi hormat kepada kepala keluarga Lee itu, "Yuri-ya, tolong ambilkan kemeja baru berwarna gading. Iya ada di bagian kemeja laki-laki edisi bulan lalu," titah Jaejoong, Yunho langsung bersyukur. Ada-ada saja acara kantor yang mengharuskan untuk berpakaian dengan warna khusus, untung saja istrinya punya butik sehingga urusan jadi lebih mudah. Yunho baru fokus dengan keadaan dan mendapati sosok asing yang memegang ujung lengan baju istrinya.

Mata Yunho memicing, "Yeobo, anak siapa ini?" tanyanya polos, Jaejoong langsung memukul pundak suaminya. "Ini anakmu, anakmu Lee Taeyong." Buru-buru Yunho mengucek dua matanya terkejut, ternyata memang kalau diperhatikan itu anaknya. Tapi kenapa rambutnya jadi panjang dan pakai pakaian perempuan begitu?

"Cantik ya, aku tadi sengaja menyuruhnya mencoba gaun anak-anak. Kok malah pas seperti ini, aku juga kaget. Ah, bulan depan ada Fashion week, apa aku ajak saja ya Taeyong ke catwalk, pasti orang-orang akan kagum."

Mata Yunho melebar mendengar ide gila istrinya, "Tidak, tidak! Aku saja melindungi wajah Taeyong dari media bahkan tidak memasukkannya ke sekolah umum supaya masa depannya baik-baik saja, masa mau kau pamerkan begitu saja di acara fashion? Dan dia laki-laki, masa kau dandani perempuan? Kau mau dia besar dengan tingkah banci?" protes Yunho.

Jaejoong menggeleng-geleng, "Tentu saja tidak, sesuka-sukanya aku pada anak perempuan aku tidak akan membuatnya menjadi melambai. Ini hanya seperti androgini, kau tahu kan konsep androgini sedang ngetrend sekarang? Lagipula.. dengan make up pasti tidak ada yang tahu Taeyong adalah laki-laki kalau bentuk fisiknya begini, dan karena ia androgini artinya semua itu hanya untuk urusan pekerjaan. Selebihnya dia adalah anak laki-lakiku, pahlawanku,"

Karena diburu waktu Yunho rasa ia tidak perlu meladeni perkataan Jaejoong yang kemana-mana, baginya tetap tidak. Dan ia harus kembali ke kantor sesegera mungkin sebelum acara kantornya dimulai.

Tapi sepertinya.. Jaejoong salah mengartikan diamnya Yunho sebagai iya.

Dan Taeyong, ia hanya anak kecil, tentu ia hanya bisa diam bukan?

. . .

10 years later.

"Seulgi noona, tolong bersihkan semua ya, aku lelah." Dengan santai sosok perempuan itu duduk di kursi dan menutup matanya, membiarkan asisten yang sudah ia anggap sebagai kakak perempuannya itu membersihkan make up yang menempel di wajahnya.

Tunggu, perempuan?

Iya, memang perempuan. Dan memang memanggil Seulgi dengan noona. Bingung?

Tenang, bukan salah ketik kok. Itu memang perempuan tapi bukan perempuan sungguhan, dan bukan perempuan jadi-jadian alias transgender, bukan tentu saja bukan. Sosok itu.. menjadi perempuan hanya di waktu-waktu tertentu. Beda dengan seseorang yang memang mengatasnamakan dirinya banci dan bersikap feminim dari waktu ke waktu, sifatnya masih seperti laki-laki pada umumnya kok.

Hanya saja ia memang jago memasak, cinta bersih-bersih dan berbenah, dan kurang jago olahraga kecuali menari—memangnya menari terhitung olahraga apa?

Bahasa kerennya, sosok itu adalah model androgini. Pengertian awamnya adalah orang yang berdandan menyerupai perempuan untuk hal-hal tertentu, dalam dunia modelling misalnya. Untuk pengertian secara lengkapnya silahkan ketik 'Apa itu Androgini' di mesin pencarian yang kalian tahu.

Seulgi, baru saja naik jadi tingkat dua di Universitas SMtown itu dengan mahir menghapus sisa-sisa make up di wajah orang yang memanggilnya 'noona' itu. Seulgi sendiri memang cinta pada dunia fashion, meski jurusan yang diambilnya adalah musik kontemporer, makanya ia suka-suka saja bekerja di dunia fashion semenjak SMA dan menjadi dekat dengan sang model ini.

Gadis itu menyapukan kapas yang sudah dibasahi dengan make up remover ke seluruh wajah modelnya, menghapus alis yang ditebali dengan pensil alis—padahal menurutnya pribadi alis modelnya itu sudah cukup bagus tanpa harus ditebali lagi—, melepas pembentuk double eyelid dari kelopak mata modelnya dengan hati-hati, membersihkan sampai ke hal paling detail dan menyakinkan kalau sudah tidak ada lagi make up—bahkan sisa foundation— yang menempel di wajahnya. "Sudah bersih Taeyong-ah, kau bisa cuci muka setelah ini." Ucapnya santai.

Iya, Taeyong yang awalnya hanya iseng mencoba pakaian milik model ibunya ketika masih kecil dulu kini benar-benar menjadi model androgini dan menjalani hal itu sebagai pekerjaan sampingannya, sebelum ia nanti harus benar-benar duduk di balik kursi direktur perusahaan menggantikan ayahnya. Ia mengganti identitasnya menjadi Jennie Lee, nama yang cukup singkat—tidak bukannya mau plagiat nama sahabat dekatnya Lalisa, itu Jennie Kim dan dia adalah Jennie Lee, ya walaupun menggemari Jennie adalah salah satu faktor utamanya sih—.

Ia mulai menggunakan nama panggung dua tahun terakhir, setelah penggemarnya membludak dan ingin mengetahui identitas yang selama ini ditutupinya. Awalnya Taeyong ingin menggunakan nama TY, tapi kata ibunya nama itu terlalu manly, takut identitas Taeyong dicurigai. Lagipula dulu sekali Taeyong pernah punya mixtape dengan inisial TY, kan malu ia yang seorang mantan rapper underground jadi model peragaan busana perempuan.

Oh ya, Taeyong sendiri dibebaskan orangtuanya memilih hobi yang ia sukai, asal ketika waktunya tiba ia harus siap menggantikan ayahnya. Jadi ia pernah mencoba banyak hal, termasuk jadi rapper, model, sampai buka toko online. Tapi akhirnya kembali membantu ibunya lagi, karena entah sihir apa setiap baju yang diperagakan Taeyong pasti laku di pasaran.

"Tae, kau lupa tidak shaving ya? Lihat kumismu hampir tumbuh, masa kau yang sudah dandan cantik seperti barbie punya kumis? Tidak takut dilihat masyarakat?" Taeyong membuka matanya, lalu duduk tergesa. Ia meraba bagian di bawah hidungnya, dan dagunya. Memang sudah seperti akan tumbuh sesuatu disana, astaga ia lupa ia kini sudah melewati masa pubertas, sudah bukan anak SD lagi. Hormon laki-lakinya pasti membentuk sesuatu sebagai bukti ia telah mencapai proses kedewasaan.

Seulgi menggeleng-geleng, "Sebentar, aku belikan dulu krim shaving. Jangan asal cukur, harus pelan-pelan supaya tidak kasar dan berantakan. Pastikan cek minimal dua minggu sekali dan datang padaku," peringatnya, Taeyong mengangguk saja. Tak lama kemudian Seulgi datang dengan krim shaving dan alat cukur di tangannya, Taeyong kembali memejamkan mata lagi.

Dua hari lagi ia mulai kuliah di tempat yang sama dengan Seulgi, artinya ia sudah tidak akan homeschooling lagi. Jadi ia harus mempersiapkan tenaga untuk hal-hal yang penting sampai tidak penting seperti menyapa teman-teman baru, hah teman, apa ada teman sungguhan seperti Ten dan Doyoung? Ngomong-ngomong dua temannya itu pasti lebih jago bersosialisasi karena semenjak SMA mereka sudah sekolah umum, tidak seperti Taeyong.

Berkuliah di tempat umum berarti Taeyong harus menyembunyikan identitasnya sebagai model perempuan lebih rapat, apa kata teman-temannya kalau tau pekerjaan sampingannya begitu? Cukup Ten dan Doyoung saja yang shock, yang lain jangan. Bukannya Taeyong tidak risih terus menyamar jadi perempuan, tapi kini ia sudah terbiasa, asal ibunya senang kenapa tidak? Ia juga tahu dari bibi Soojin kalau ibunya itu ingin punya anak perempuan tapi tidak bisa, jadi kalau bisa menjadi dua-duanya untuk sang ibu tercinta kenapa tidak?

"Kau tahu, aku duduk di barisan depan ketika kau memperagakan busana. Sebelahku itu Johnny Seo, ituloh calon direktur muda perusahaan tuan Seo yang bekerja di bidang resort dan tempat wisata. Wangi colognenya benar-benar menenangkan, wangi sekali, wangi yang mahal dan manly. Sepertinya ia tertarik padamu Tae, ia memandangimu tanpa berkedip," Seulgi mengoceh sambil melakukan shaving pada Taeyong.

Lelaki berumur sembilan belas hampir dua puluh itu diam, sebenarnya ia tau itu. Siapa sih yang tidak kenal Johnny? Semua anak muda sepertinya tahu dia deh, sering masuk majalah forbes sebagai sosok muda inspiratif, beberapa kali masuk dalam 100 pria tertampan di Korea Selatan, dan lain-lain. Ya ibarat sosok paling diinginkan oleh seluruh penjuru Korea lah.

Nah, yang tidak orang-orang tahu sebenarnya Taeyong itu bi. Ia malu mengakuinya karena takut ayah dan ibunya ingin menantu cantik dan imut, bukannya cowok tampan yang akan mengantar-jemput Taeyong. Dan Johnny, sudah menjadi idolanya sejak masih di bangku SMA.

Taeyong tahu Johnny itu update tentang fashion, bahkan ia punya halaman khusus di websitenya yang membahas tentang evaluasi mode-mode terupdate, pokoknya pengunjung webnya itu selalu meningkat statistiknya. Jadi heran bagaimana Johnny mengatur waktunya menjadi calon pemimpin perusahaan, menulis di blog, belajar di universitas bisnis, membagi kegiatan sehari-hari di video blognya, datang ke acara charity tiap bulan, dan.. datang di setiap shownya.

Bukannya ia mau sombong atau bagaimana, tapi Johnny selalu duduk di tempat yang sama di manapun acara show diselenggarakan. Posisi favoritnya adalah di bagian kanan panggung, jadi Taeyong secara reflek pasti mencari Johnny setiap kali ia berjalan di catwalk. Apa Johnny datang untuk melihatnya? Begitulah kira-kira pikirannya setiap saat.

Yang tidak berani Taeyong bayangkan adalah bagaimana bila identitasnya terkuak di depan Johnny? Kemudian Johnny menyebarkannya di situs pribadinya, habis sudah Taeyong dilalap api kemarahan penggemar mungkin. Soalnya Johnny itu bukan sekali-dua kali memuji Taeyong di blognya.

"Ya! Kau tidur beneran? Astaga, percuma aku ngoceh panjang lebar dari tadi," protes Seulgi sambil melemparkan handuk bekas air hangat pembilas bekas shaving ke wajah Taeyong, Taeyong mendengus protes. Ia bukannya tidur, tapi memang benar ia tidak memperhatikan. Johnny Seo benar-benar mengalihkan pikiran.

Pemuda itu bangkit lalu menatap pantulan wajahnya di cermin, nah sekarang ia sudah berubah jadi Lee Taeyong, bukannya Jennie Lee lagi. Make up memang sihir paling kuat di dunia, mengalahkan tongkat Harry Potter saja. Pantas saja harganya jauh lebih mahal dari tongkat Harry Potter yang beberapa galleon, bahkan ada produk make up yang harganya seharga ponsel pintar Taeyong. Kok jadi ngelindur? Pasti gara-gara sepupunya Jeno dan Mark yang suka mengoceh mengenai film Harry potter itu padanya, ckck.

Kembali lagi ke make up Sekali sapuan di wajah, cling! Kau berubah menjadi sosok lain. Makanya orang-orang seperti Ponysmakeup itu diidolakan, tidak perlu operasi plastik kau sudah bisa jadi cantik atau tampan.

Sekarang Taeyong mengemasi barang-barang pribadinya, Cuma sebuah dompet, ponsel, dan headset kok. Pakaian yang lain kan dibawakan asisten ibunya. Ia mengenakan kemeja flanel kotak-kotak dan hoodie abu-abu dengan celana ripped jeans yang membalut kaki jenjangnya. Sudah seperti orang lain, oh iya sudah sejak lama pula ia meninggalkan kebiasaan berpakaian seperti tuan muda, ribet, panas, risih. Lagipula menurut evaluasi Johnny, pakaian anak muda yang ngetrend itu yang seperti ini.

Biar diperbolehkan berpakaian sedikit bebas, tetap saja yang namanya Lee Jaejoong tidak mau anaknya berpakaian biasa. Kemeja limited edition hasil rancangannya sendiri, hoodie dari Eropa, celana ripped jeans keluaran terbaru, dan sepatu kets yang memang dibuat khusus untuk Lee Taeyong—hadiah dari sahabat ibunya yang juga perancang busana—. Tapi dasar penampilan Taeyong kelewat sederhana, makanya orang-orang tidak akan tahu barang-barangnya branded semua.

Bagi Taeyong, biarkan saja Jennie Lee yang merasakan bagaimana hidup glamour seperti tuan putri, dan ia akan jadi remaja normal. "Noona, aku pulang dulu ya. Mau pergi ke acara dance bersama Ten, pamitkan pada eomma kalau bertemu." Hanya dibalas Seulgi dengan anggukan, sudah biasa Taeyong yang ngacir tiba-tiba selepas pertunjukan, apalagi kalau pertunjukannya sore begini selesainya.

Taeyong merapatkan tudung hoodienya, berjalan keluar gedung pertunjukan lewat pintu khusus di belakang. Sengaja tidak pergi bersama sopir tapi naik taxi, baru deh sampai rumah Ten naik mobil bocah Thailand itu. Ia berjalan pelan menikmati angin sore dan berniat menaiki taksi dari depan halaman lobi gedung itu.

"Chogiyo!" tiba-tiba seseorang memegang pundaknya, Taeyong menoleh. Mendapati sosok yang lumayan lebih tinggi darinya tampak panik, ia berkeringat, sampai-sampai kemejanya menempel ketat di badannya, terlihat jelas apalagi dengan blazer yang kancingnya terbuka sepenuhnya. "Apa disini tempat diselenggarakan Seoul fashion week?" sebelah alis Taeyong naik, siapa orang ini? Tamu khusus acaranya juga?

Ia mengangguk dua kali, "Iya tuan, tapi acaranya sudah selesai sejam yang lalu." Jelasnya, eh, sejam atau dua jam? "Oh tidak masalah, aku memang tidak diundang. Hanya bertemu kerabat, jangan panggil aku tuan dik. Aku masih kelas 3 SMA,"

Eh? Apa-apa? Taeyong salah dengar tidak? Duh, kayanya kemarin barusan membersihkan telinga. Masa lelaki yang tampang dan badannya sudah mirip presdir muda ini masih kelas 3 SMA? Yang benar saja? Demi squidward yang tidak pakai celana dari episode satu spongebob sampai sekarang! Dan dia panggil apa tadi? Dik? Adik maksudnya? Aduh, Taeyong sudah jadi mahasiswa ya, sembarangan panggil adik.

Baru mau marah tapi Taeyong mendapati Johnny Seo keluar dari lobi dan baru saja berjalan ke tukang vallet yang ada di dekatnya, mampus, Johnny itu teliti sekali. Kalau ia mengenali Taeyong bagaimana?! Demi Pokemon Go yang sekarang sudah tidak viral lagi!

"Ngomong-ngomong apa kau kenal Jennie Lee, aku tidak tahu siapa dia. Tapi kerabatku bilang ia ada di pagelaran menonton Jennie Lee, dan ponselku mati jadi aku tidak bisa menghubunginya, barangkali kau tahu dimana dia? Katanya Jennie ini cantik seperti malaikat ya? Tapi dingin, jangan-jangan dia reinkarnasi Elsa, ituloh yang di film Frozen, kau nonton tidak? Di New York aku nonton film itu sekali sebulan bersama keponakanku,"

Ternyata sosok ini benar-benar bocah.. tontonannya saja Frozen, badan dan wajahnya menipu sekali. Reinkarnasi Elsa? Cuih yang benar saja, Taeyong geli sendiri membayangkan dirinya menyanyi di istana es sambil berputar-putar. seandainya dia tahu yang didepannya ini adalah Jennie Lee.

Tapi masa bodoh dengan semua itu, yang perlu ia lakukan adalah bersembunyi dari sosok Johnny yang semakin mendekat ke arahnya! Mampus! Taeyong merapatkan hoodienya, memasang ancang-ancang untuk kabur. "Kau kedinginan? Kok merapatkan hoodie terus-menerus? Padahal baru juga musim gugur, eh bagaimana kalau aku bertanya dan kau menjawab. Aku tidak suka bicara satu arah, seperti ada tembok tidak kasat mata. Namaku Jung Jaehyun, kau bisa panggil aku Jay dan kau mungkin—"

"Taeyong, namaku Kim Taeyong. Mungkin kau bisa tanya pada security disana, maaf Jaehyun-ssi aku terburu-buru." Ucapnya cepat, entah dapat angin dari mana ia menggunakan marga ibunya, bukannya mengungkap nama aslinya. untung Jaehyun masih bisa mencerna perkataannya.

"Oh iya tak terpikir olehku bertanya pada security, ngomong-ngomong namamu Kim Taeyong? Wah seperti nama penyanyi favoritku, Kim Taeyeon. Jangan-jangan kau saudaranya ya? Eh maaf aku selalu banyak berbicara kalau aku tertarik, hati-hati di jalan dik! Minum cokelat panas supaya tidak kedinginan!" ia melambaikan tangannya, tentu saja Taeyong tidak membalas.

Ingin rasanya Taeyong mengumpat dengan kata bahasa inggris empat huruf berawalan f dan berakhiran k sekeras-kerasnya. Sialan, sudah dipanggil dik, disamakan dengan Kim Taeyeon, dibandingkan dengan Elsa. Orang itu benar-benar freak! Ya sudah, lebih baik dia lari sebelum Johnny menatapnya, ia lega menemukan sebuah taksi langsung berhenti di hadapannya.

. . .

Sementara itu..

"Jaehyun! Kenapa kau baru datang? Aku sudah pesankan tiket untukmu padahal,"

Jaehyun yang belum sempat bertanya pada security bersyukur saudaranya menemukannya, "Pesawatku delay, jadi aku terlambat sampai sini. Ponselku mati pula, untung kau menemukanku. Bagaimana pagelarannya hyung?"

Sosok di depannya nyengir lebar, persis seperti orang jatuh cinta. "Begitulah, selalu sesuai ekspektasi." Jawabnya sambil tersenyum, "Jennie benar-benar idolamu ya ternyata. Aku menyesal tidak datang tepat waktu, padahal kau bilang pagelarannya paling cepat sebulan sekali,"

Tangan kakak sepupu Jaehyun mengacak rambut adik sepupunya itu, "Ya. Kau fokus saja sekolah, nanti aku ajak kau nonton lagi kapan-kapan. Kau pasti akan menyukai Jennie. Oh iya Ayahmu itu, aneh sekali menyuruhmu kembali ke Korea di tingkat akhir begini."

Mereka berjalan bersisian masuk mobil begitu petugas vallet mengantarkan mobil kakak sepupunya, "Iya aku juga curiga pada ayah. Hm, mungkin. Aku sih tidak terlalu tertarik pada model hyung, dadanya rata. Padahal ada dari mereka yang memeragakan pakaian dalam seperti model victoria's secret, tapi datar. Tidak menarik sama sekali, sudah begitu mukanya tanpa ekspresi,"

"Kau masih seperti Jay yang berumur tujuh tahun, suka menceritakan segala hal." Komentar kakaknya, "Eyy aku ini sudah dewasa hyung," kakaknya mencibir, "Aku tahu kau sebenarnya tertarik pada lelaki imut kan? Kau bilang tidak suka yang dadanya datar tapi kau lari begitu digoda tante-tante di club ketika kita mengadakan pesta penyambutan kau yang sudah legal dulu. Dan malah suka pada laki-laki yang jelas tidak punya dada wanita,"

Jaehyun terkekeh, "Kau selalu tahu bagaimana aku, Johnny hyung."

TBC

WKWKWK gimana ffnya, kok aku geli sih X'D yasudah lah, percobaan kalau sepi tidak aku lanjut hehe. Ini kuketik dua jam aja tanpa edit/baca ulang lagi maafin kalau typo:'( aaakkkk anak nct kurang aja syekali sudah di victory, bajak acc nct pula ya Allah mengapa cobaan begitu berat dikala mau uas;A; apalagi jaeyongmark lucyuuu syekaliii aduh my 3 favs ya Allah main filter hikshiks kaya anak TK kalian tuhhh, mas johnny juga kayanya bahagia banget udah debut aaa pusing kepala aku wkwk. taudah mau belajar beneran dan kembali setelah tanggal 13, see you guys^^

Review?