Oh, My Gay Moms!

WonCoups Couple

Wonwoo x Scoups

Meanie Couple

Mingyu x Wonwoo

Wonhui Couple

Wonwoo x Jun

! Don't try to take other people's work without permission

! Budayakan meninggalkan jejak setelah membaca

! Rated M keras, untuk yang under rate please close tab xD

! Main fokus Woncoups Couple

! Want to request ff? DM me

Enjoy it

.

.

"Apa?!" Pekikkan dari suara pemuda itu menguar memenuhi setiap sudut ruang tamu. Mingyu, pemuda berkulit kecoklatan itu masih tampak menjatuhkan rahang tegasnya. "Berhentilah bersikap berlebihan seperti itu, Mingyu." Ia mendecih, memandang pria berumur yang berada di seberang bangkunya dari ekor matanya.

"Aku tidak setuju!" Protesnya keras. Memperbaiki kembali letak duduknya yang sempat berubah karena pernyataan dari sang ayah. Seungcheol kembali menyesap teh miliknya, menyandarkan punggung lebarnya pada bantalan sofa. "Kau senang melihat ayah kesepian ya?" Tukasnya, sukses membuat Mingyu terdiam sesaat.

"Bukan seperti itu, hanya saja kenapa harus pria?" Ujar pemuda berusia 19 tahun itu. Ia masih menatap sang ayah dari balik kilatan matanya yang tampak menyelidik. "Lagi pula kami tidak mengenal siapa itu Jeon Wonwoo." Tukasnya kembali. Pria berumur itu menghela nafasnya panjang, sesaat mencondongkan tubuhnya guna meraih ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja yang menjadi pembatas untuknya dengan kedua putranya.

Jemarinya bergerak pada permukaan layar ponselnya, setelahnya menunjukkan gambar dari seorang pria yang kembali menjatuhkan rahang putra termudanya itu. "Dia Jeon Wonwoo yang ayah maksudkan." Ucap Seungcheol dengan nada begitu tegas dalam katanya. "Bukan 'kah dia salah seorang bartender yang bekerja di pub milik ayah?"

Pemuda bersurai blonde itu akhirnya memutuskan untuk angkat bicara setelah sebelumnya hanya menjadi penonton perseteruan antara sang adik dan ayahnya itu. Junhui, putra pertama Seungcheol yang kini tengah mengejar study hukumnya menatap sang ayah lekat. Kepribadiannya yang tampak begitu tenang sangat berbanding terbalik dengan sang adik, Mingyu yang cenderung menggebu dan sulit untuk di kontrol.

"Ternyata kau mengenalnya. Dia memang karyawan di pub milik ayah dan ayah cukup mengenal baik Wonwoo karena itu ayah memutuskan untuk memilih dia sebagai pengganti dari ibu kalian." Ujar pria itu panjang. Jun kembali terdiam, masih menatap lekat sang ayah. "Oh ya Tuhan! Aku yakin ibu di surga sana pasti akan benar-benar menyumpahi ayah jika mengetahui hal ini." Mingyu tampak memijat keningnya. Pemuda itu hanya merasa tidak habis fikir dengan keputusan sepihak sang ayah untuk menikah lagi. Ini bukan mengenai pernikahannya, hanya saja mengenai seseorang yang akan di nikahinya.

"Ayah, bukan 'kah lebih baik untuk mempertimbangkan hal ini kembali?" Jun berujar pelan, berusaha untuk menjaga sopannya dihadapan sang ayah. Sejujurnya ia juga merasa sedikit jengkel dengan keputusan sang ayah mengenai pernikahaan yang ingin kembali di jalani pria itu. Jun sedikit banyak mengetahui seorang Jeon Wonwoo. Pemuda yang seingatnya berada satu line kelahiran dengannya.

Pemuda itu tidak mempermasalahkan dengan siapa sang ayah akan kembali menikah, perempuan ataupun laki-laki itu adalah hak untuk pria itu baginya, hanya saja ia tidak bisa mencerna mengapa harus pemuda yang berusia sama dengannya. Perbedaan usiannya dengan sang ayah terbilang cukup jauh, nyaris 20 tahun dan hal itu sungguh mengganggu fikiran Jun.

Ia hanya mengkhawatirkan jika pemuda yang ingin di nikahi oleh sang ayah memiliki maksud lain dan hal itu lah yang sebenarnya sungguh di khawatirkan oleh Junhui. "Ayah sudah memikirkannya baik-baik dan ayah rasa tidak ada hal lain lagi yang harus ayah pertimbangkan atas keinginan ini."

Mingyu mendesah frustasi, mengusap wajahnya gusar. "Berhenti 'lah seperti anak kecil ayah!" Ucapnya cukup keras. Ia kembali menatap sang ayah dengan pandangan begitu jengkel. Mingyu merasa belum siap dengan cemoohan yang akan dilayangkan padanya dari setiap teman kampusnya nanti jika mengetahui ayahnya menikah dengan seorang pria. Pasalnya, Seungcheol tidak pernah menunjukkan sedikit pun kelainan dalam orientasi seksualnya.

Ibunya dulu, Jeonghan adalah seorang model unggulan dari sebuah majalah ternama di Paris, wanita anggun yang wajahnya selalu menjadi sampul pertama majalah itu dan hal itu begitu membuat Mingyu merasa seakan di tampar keras saat mengetahui keinginan ayahnya saat ini sangat berbanding terbalik. "Mingyu harus berapa kali ayah katakan untuk tidak bersikap ber.."

"Ayah yang bersikap berlebihan! Aku ingin bertanya pada ayah sebenarnya apa tujuan ayah menikah dengan orang yang juga memiliki gender yang sama dengan ayah?! Ayah merasa frustasi karena kematian ibu?!" Dan hening mengukung ketiganya. Jun menatap pada sang adik yang masih terlihat memandang sang ayah dengan kedua alis bertaut. Setelahnya membuang nafasnya. Keadaan sedikit di luar kendali baginya saat ini. Ucapan Mingyu seakan sukses membungkam Seungcheol.

Pria itu masih terdiam, setelahnya kurva jelas melintang pada garis bibirnya. Ia kembali menyandarkan punggung tegapnya pada bantalan sofa. Pria itu, Seungcheol masih tampak begitu muda dan gagah di umurnya yang sudah memasuki kepala 4. "Aku tidak merasa frustasi karena kematian ibu kalian."

"Lalu apa alasannya?" Ujar Mingyu kembali, pemuda itu begitu merasa kepalanya nyaris pecah kerana menahan rasa kesal yang sejak tadi bergemuruh hebat dalam dadanya. Pria yang di tatap tajam masih tampak tenang, menatap balik sang anak dari pandangannya yang selalu tampah sayu. "Karena aku begitu mencintai kalian berdua."

Mingyu terdiam, dan ucapan itu membawa pandangan Jun yang semula menatap pada ujung sepatunya beralih pada sang ayah. Kedua pemuda itu terdiam sempurna, mencoba mencerna maksud dari pernyataan sang ayah. "Aku hanya khawatir jika aku menikah dengan seorang wanita dan kembali memiliki anak kasih sayangku terhadap kalian akan terlihat begitu timpang. Dan hal itu akan sangat membuat aku merasa bersalah dengan ibu kalian."

Mingyu seakan tertohok oleh pertanyaannya sendiri. Ia tidak menyangka bahwa pola fikir sang ayah begitu berbeda dari prasangkanya. Pemuda itu tertunduk lemas, menatap pada ujung sepatunya. Memutuskan untuk tidak lagi mencerca sang ayah dengan semua pertanyaan menjatuhkan yang seakan mengatakan bahwa pria dihadapannya kini begitu menjijikan.

"Jadi, apa kalian mengizinkan ayah untuk kembali menikah?" Keheningan yang sebelumnya mengukung pecah begitu saja saat nada suara pelan namun tegas dari Seungcheol menguar. Jun terdiam, masih memikirkan jawaban miliknya sementara Mingyu masih tampak mencari jawaban yang tepat diantara kecamuk yang kini memenuhi kepalanya. Sesungguhnya ke dua pemuda itu begitu menyayangi sang ayah dan berharap untuk kebahagiaannya hanya saja mengenai pernikahan yang ingin kembali di jalani oleh Seungcheol seakan memiliki begitu banyak kontra di dalamnya.

Helaan nafas panjang menguar kembali dari bibir Seungcheol. Pria itu masih menatap lekat kedua putranya yang perlahan tumbuh menjadi seorang pria. Ia menyadari betul kekhawatiran yang menghinggapi kedua putranya tersebut namun rasa kesepian yang terus mengikatnya setelah kematian Jeonghan seakan berusaha menelannya dalam rasa bersalah yang begitu dalam.

"Ayah akan memperkenalkannya pada kalian saat makan malam esok, mungkin dengan begitu kalian bisa menilai sendiri seorang Jeon Wonwoo sehingga ke khawatiran yang kini kalian takutkan bisa sedikit berkurang." Ia beranjak setelahnya, memutuskan untuk kembali menuju kamar miliknya, meninggalkan kedua pemuda yang masih terkukung oleh hening.

Mingyu mengerang frustasi, mengusap wajahnya kasar. Memutuskan untuk menjatuhkan pandangannya pada sang kakak yang masih tampak terdiam disisinya. "Kau menyutujuinya, kak?" Jun tak bergeming, masih berkutat dengan fikirannya. Sementara Mingyu masih tampak menunggu jawaban dari pertanyaannya. "Entah 'lah, mungkin setelah makan malam esok aku baru bisa memutuskan." Dan pemuda itu juga memutuskan untuk beranjak mengistirahatkan fikirannya yang tampak begitu semerawut. Berharap esok akan jauh terasa lebih baik.

.

.

Mingyu masih terdiam, menatap dengan wajah melongo pada pemuda yang kini terduduk di seberang bangkunya. Mencoba memastikan bahwa kini ia sungguh-sungguh berada dalam dunia nyata bukan mimpi. Pemuda itu, Jeon Wonwoo seseorang yang kelak pasti akan di nikahi ayahnya masih tampak begitu muda. Mingyu menebak jika pemuda itu tidak berada jauh dari umurnya atau Jun.

"Dia orang yang ayah bicarakan kemarin. Jun mungkin sudah pernah melihatnya beberapa kali, namun sepertinya Mingyu tidak pernah bertemu dengannya, bukan?" Seungcheol menoleh, melempar senyuman yang tampak begitu bijaksana pada pemuda disisinya itu. Membuahkan kurva samar yang juga tercetak pada garis bibir Wonwoo. "Aku rasa aku juga belum pernah bertemu dengannya." Ujar Wonwoo pelan.

"Hey, berapa usia mu?" Pemuda berkulit kecoklatan itu bertanya telak, membuahkan tatapan bingung sesaat dari Wonwoo. "Oh, aku. Dua puluh dua tahun." Dan Mingyu merasa langit seakan runtuh menimpa tubuhnya kini. Calon ibu barunya berusia sama dengan kakaknya, kurang konyol apa lagi dunia ini bagi Mingyu. "Ayah, aku mohon kau sungguh-sungguh menghina ibu kalau seperti ini." Mingyu merengek, menatap sang ayah dengan tatapan belas kasih. "Mingyu, jaga ucap…"

"Dia bahkan seumuran dengan Jun, ayah!" Pekikan Mingyu nyaris membuat Wonwoo terjungkal dari kursinya. Pemuda itu menatap Mingyu dengan kedua mata sipitnya yang membelalak. "Kenapa kau setega ini pada kami, yah?" Ujar Mingyu kembali. Sementara Jun, pemuda itu hanya menatap datar pada Wonwoo yang kini balik menatapnya dengan pandangan takut.

.

"Aku fikir, kedua anak mu tidak mengigin'kan aku untuk menjadi ibu bagi mereka." Wonwoo menatap pada ujung kemejanya. Menarik nafasnya dalam. Semilir angin terasa membelai kulit putihnya, meninggalkan rasa begitu segar disana. "Hanya butuh proses. Mingyu memang seperti itu dia sedikit berlebihan dalam menanggapi sesuatu."

Wonwoo terkekeh, namun nadanya terdengar bahwa sebuah rasa khawatir bersemayam disana. Sejenak hening mengukung. Seungcheol masih menjatuhkan tatapannya pada pemuda yang kini masih setia merunduk. Memainkan ujung-ujung dari kemejanya. "Apa… kita putuskan untuk tidak melanjutkannya saja, Seungcheol?"

Dan perkataan yang menguar pada udara disisi pria itu menarik kurva kembali yang sebelumnya melintang pada bibirnya. Seungcheol terdiam, menatap balik kedua iris mata tajam yang kini memandangnya. "Kau ingin menyerah begitu saja?" Wonwoo menelan air liurnya sulit. Sejujurnya ia tidak menginginkan hal itu. Sebut Wonwoo gila karena jatuh cinta pada pria yang terpaut umur begitu jauh dengannya. Namun seperti yang begitu banyak orang katakan bahwa love is blind. Bahwa cinta tidak mengenal siapa ia, maupun batasan usia.

Wonwoo begitu mengagumi sosok Seungcheol sejak pertama kali pemuda itu mengetahui pria yang menjadi pemilik dari pub tempatnya bekerja. Terlebih saat mengetahui bahwa Seungcheol begitu kukuh pada pendiriannya untuk tidak menikah kembali selama nyaris 10 tahun lamanya setelah kematian sang istri. Bahwa Seungcheol begitu memilih untuk fokus memberikan kasih sayang pada kedua anaknya dan mengenyampingkan kebutuhan dirinya sendiri. Dan Wonwoo, pemuda itu jatuh pada pria yang seharusnya di panggil dengan sebutan ayah olehnya itu.

"Dengar Wonwoo, Jun dan Mingyu hanya membutuhkan waktu sedikit untuk bisa beradaptasi dengan dirimu. Mereka bukan anak pembangkang terlebih Mingyu meski anak itu tampak begitu keras kepala namun Mingyu tidak akan bersikap begitu terang-terangan membenci mu. Aku mengenal kedua putra ku dengan baik dan aku fikir kau akan mampu untuk mengambil hati mereka." Wonwoo terdiam, mencerna perkataan Seungcheol. Ia merasa dirinya seakan berada pada dua batas jurang dimana ia harus memilih untuk memasuki salah satunya. "Ku mohon, tetap bersama ku. Aku pastikan mereka akan bisa menerima mu."

Dan ucapan Seungcheol seakan membawa angin segar untuknya. Ia mengenal betul pria itu, bahwa Seungcheol selalu menepati apa yang menjadi janjinya. Wonwoo melemparkan senyumnya paksa, menarik pria yang berada dihadapannya itu hanya untuk di rengkuh. Ia percaya, dan akan terus berusaha mempercayainya.

.

.

Itu adalah hari pertama dimana Wonwoo secara resmi menjadi bagian dari keluarga Seungcheol. Pernikahan sederhana yang di selenggarakan di gereja tempat dimana Wonwoo dibesarkan dulu menjadi jalan dirinya memasuki dunia baru. Wonwoo menggeliat, mencoba merenggangkan seluruh persendiannya yang terasa begitu kaku. Tersenyum saat kedua iris matanya mendapati wajah damai pria yang masih tampak begitu muda di usia yang sudah terbilang cukup matang itu masih terlelap disisinya. Mendaratkan kecupan singkat pada bibir pria itu yang membawa kedua iris matanya terbuka perlahan.

"Oh, aku membangunkan mu?" Ujarnya memberikan cengiran awkward mendapati tatapan mata sayu itu menatapnya kini. "Tidak, aku sudah terjaga sejak tadi hanya mengunggu mu terbangun saja." Dan decihan itu menguar dari sela bibir Wonwoo. Ia menghela nafasnya panjang, masih menatap kedua iris yang belum ingin berpindah dari dirinya. "Aku tidak percaya kita benar-benar sudah menikah."

Ucapan itu mengundang tawa kecil di bibir Seungcheol. Pria itu begitu mengenal baik seorang pemuda yang seharusnya lebih pantas menjadi anaknya itu. Menarik ujung dari hidung pemuda yang terbaring menghadapnya. "Sakit tidak?" Wonwoo mengangguk samar, ia tidak terlalu mengerti dengan maksud pertanyaan tiba-tiba Seungcheol. "Itu artinya kau sudah terbangun dan ini bukan mimpi."

Senyuman hangat milik Seungcheol membawa pemuda itu turut menarik kedua sudut bibirnya. Ia mengangguk samar. Dan keduanya kembali jatuh pada tatapan masing-masing, menyelami seberapa dalam perasaan lawannya dari pandangan yang kini bertumbukan. Wonwoo terdiam saat Seungcheol mencoba menghapus jarak yang begitu sempit di antara keduanya.

Pemuda itu menahan nafasnya saat mendapati bahwa bibir pria yang begitu di kaguminya selama ini berada tepat diatas permukaan bibirnya. Ia tidak menampik bahwa ini bukanlah ciuman pertama dari keduanya, namun Wonwoo merasa seakan mendapati ciuman pertamanya. Debarannya, kegugupannya dan perasaannya seakan berbeda dari apa yang biasa mereka lakukan.

Pagi ini bagi Wonwoo Seungcheol begitu berbeda, bahwa ciumannya yang biasa ia rasakan seribu kali terasa lebih lembut. Seungcheol mendorong pelan bahu pemuda yang berada dihadapannya, memposisikan dirinya untuk berada diatas pemuda itu. Bertumpu pada kedua sikunya hanya untuk memberikan Wonwoo setidaknya ruang untuk bernafas meski ia tahu bahwa pemuda itu tetap akan kesulitan untuk bernafas. Hal sama yang juga di rasakannya kini.

Itu hanya sebuah ciuman ringan, lembut namun perlahan Seungcheol menuntut. Menuntut pemuda di bawahnya kini untuk menaikkan levelnya setingkat. Menyesap permukaan bibir itu, menyisakan saliva yang terasa begitu licin diantara keduanya. Dan Wonwoo bukan lagi anak kecil yang harus menunggu perintah Seugcheol dalam hal ini. Ia hanya perlu mengimbangi, membalas setiap lumatan Seungcheol pada permukaan bibirnya.

Pemuda itu menarik sisi kepala Seungcheol dengan kedua tanggannya lembut, meraih potongan pendek dari surai kecoklatan milik pria yang masih sibuk membagi rasa manis di dalam mulutnya. Itu bukan ciuman yang mendesak, keduanya hanya menikmati layaknya sebuah aliran air pada sungai. Aroma seakan berada dalam kubangan coklat hangat menguar saat Wonwoo semakin gencar menarik pelan setiap anak rambut milik Seungcheol. Ia menikmatinya, begitu menikmati setiap kali Seungcheol menarik ujung dari lidahnya, menyesapnya dalam mulut pria itu menyisakan rasa memabukkan seakan ia meminum begitu banyak sampanye saat ini.

Seungcheol beranjak, menjauhkan kepalanya saat menyadari bahwa ciuman itu telah meraup begitu banyak oksigen dalam parunya. Melemparkan kekehan pada pemuda yang tampak mengulum senyum dibawahnya. Ia mencintai bagaimana sikap Wonwoo yang begitu terlihat manis setiap kali mencoba menutupi rasa malunya. Mendaratkan sebuah kecupan ringan pada telinga kanan pemuda itu. Mengatakann dengan begitu pelan bahwa ia mencintainya dengan sangat. Bahwa kebahagiaan kelak akan di terimanya dari pemuda itu.

Ia merunduk, mencari sebuah kanvas yang akan menjadi latar dimana pria itu akan meninggalkan jejaknya disana. Menyesap wangi rosemary yang selalu membuat perasaannya begitu tenang. Menyesap permukaan kanvas putih itu, meninggalkan lenguhan samar dari balik bibir Wonwoo.

Itu adalah kali pertama bagi Wonwoo merasa seakan perutnya tersengat oleh begitu banyak kepakkan sayap kupu-kupu. Menempatkan kedua telapak tangannya pada bahu pria yang masih menghisap lembut perpotongan lehernya. Sesekali pria itu meninggalkan bekas liur dari jilatannya. Membuat Wonwoo merasa kewarasannya terbang mengawang bersama partikel debu yang bergerak disekitarnya.

Ciuman itu perlahan turun, menanggalkan anak-anak kancing dari kemeja tidur yang di kenakan Wonwoo terlepas dari pengaitnya. Ia kembali melenguh, mendapati sengatan begitu kuat pada kedua titik sensitive di bagian dadanya. Meremas helaian rambut dari puncak kepala Sengucheol saat pemuda itu semakin kuat memberikan sengatan yang terasa membuat Wonwoo seakan ingin meledak saat itu juga.

Deru nafasnya menandakan bahwa pemuda itu berada dalam puncak hasratnya kini. Mencoba menggigit bibir bagian bawahnya hanya untuk menahan setiap lenguhan yang berlomba-lomba untuk lolos dari pangkal tenggorokkannya. Seungcheol kembali beranjak naik, menyesap rasa manis dari permukaan bibir Wonwoo. Bermain dengan lidahnya kembali selagi salah satu dari tangannya menelusup dari balik karet pinggang celana tidur Wonwoo.

Memberikan sentuhan begitu lembut pada permukaan kulit seputih susu itu hingga sesekali meremasnya menyisakan desahan tertahan dari balik ciuman keduanya. Beralih kembali menyusuri rahang tegas milik Wonwoo melalui kecupannya selagi kedua tangannya menanggalkan sepenuhnya seluruh benda yang masih melekat pada tubuh kurus di bawahnya kini.

Ia terdiam sesaat, merekam setiap sudut dari permukaan kulit Wonwoo dan ia menyadarinya dengan baik bahwa pemuda itu begitu terlahir nyaris sempurna. Beranjak hanya untuk melucuti pakaiannya, membuat Wonwoo menelan air liurnya sulit. Pasalnya pemuda itu selalu memiliki sudut fikirannya sendiri mengenai tubuh Seungcheol. Dan kini, seakan Tuhan begitu mencintainya pemuda itu dapat dengan jelas melunturkan semua daya fikirnya. Ia memandang lama tubuh pria yang begitu berbanding dengannya. Dan apa yang selama ini di khayalkannya nyatanya jauh lebih baik.

.

Pagi itu menjadi kenangan yang bagi Wonwoo akan tetap tertinggal dalam sudut otaknya tentang bagaimana ia begitu berusaha meredam lenguhannya saat Seungcheol dengan segala kemahirannya mengerjai dirinya. Membuat sesuatu dalam perutnya bergejolak begitu hebat. Ia selalu berusaha untuk mengimbangi namun Seungcheol selalu mampu membuatnya mengawang, mengaburkan pandangannya setiapkan hentakkan bertempo darinya menghujam.

Yang pada akhirnya hanya akan menyisakan genggaman erat tangan Wonwoo pada bahu pria itu. Itu akan menjadi memori pertamanya tentang pria yang begitu di cintainya. Tentang bagaimana pandangannya bertemu saat Seungcheol masih bermain disana. Dan ia bersumpah bahwa keraguannya yang dulu sempat memenuhi rongga dadanya mengenai Seungcheol seakan sirna. Bahwa pria itu tidak sebatas mencintainya hanya karena menginginkan sesuatu yang nyaris 10 tahun tidak pernah kembali di dapatkannya. Bahwa pria yang kini terenggah bersamanya kini sungguh-sungguh mencintainya dengan tulus.


Chit chatttt : Sumpah ya udah gk tau ini nulis apa xD ff ini requestan dari salah satu acc meme di ig yg ternyata ownernya salah satu readers ff Spiritum jaharaaa dunia sempit yak xD. Dan dia ngerequest ff ini mungkin krn butuh yg enaena /minta ditamparin xD. Serius ya aku nulis ff ini udah ky orang frustasi asli, aku tuh gk bisaaaaaaaa ngebayangin scoups enaenain Wonwoo rasanya ky aku yg lg di enaenain scoups /loh x'D. Pas nulis ff ini asli banget aku sampe bilang oh nooo! kalo ini meanie sih nulisnya pake muka datar emonya si wonwoo gampang nah ini woncoups bayangin woncoups ya tuhaaaan si scoups lelaki kardus bgt asli xD ff ini berchapter krn gk mungkin dibuat one atau two shoot krn nanti yg baca mabok terlalu panjang wkwkwk. Lagi pula aku mau ngebawain momentya yg gk terlalu ngebut2 ngepot ky orang lagi balapan motor xD pokoknya momentnya dibikin ngelebay mendayu2 gitu. Anw, maaf klo adegan intimnya gk seru kurang hot klo mau hot bacanya sambil nyemilin bon cabai aja yaa xD dan buat ff a road aku delete krn aku mau move ooonn /?. apa hubungannya? ya ada wong di last story bakal ada yg bikin aku baper setengah idup ko xD. Okay gk banyak omong lg sebelumnya makasih bgt buat akun ohmyww yg udah berhasil bikin aku nulis sambil ngeguman haaaaahhh /? trus krn sangking beratnya ini ff buat aku xD. Last but not least please tinggalin jejak, klo gk aku gk lanjut nih ff /ngancem xD

salam,

Crypt14