Matahari bersinar cerah pagi ini. Tapi tidak secerah hati seorang pemuda manis bertubuh pendek yang bernama Do Kyungsoo ini.

Tidak. Hatinya tidak pernah cerah.

Karena pagi ini-ralat, setiap pagi harinya-di saat ia baru membuka pintu rumahnya untuk mengawali hari, selalu ada Park Chanyeol di hadapannya dengan senyum sejuta watt bodohnya yang membuat hidupnya selalu mendung.

.

.

.


Just A Neighbor.

Pair : Chansoo \ Chanbaek \ Kaisoo \ Hunhan

All EXO's belongs to GOD and this story belongs to me.

DLDR.

.

.

- Chapter 1 -

.

.

Park Chanyeol sempurna. Park Chanyeol tampan. Park Chanyeol tinggi. Park Chanyeol punya postur tubuh yang ideal. Park Chanyeol kaya. Park Chanyeol pintar. Park Chanyeol jago basket. Park Chanyeol hebat bermain musik.

Park Chanyeol, Park Chanyeol dan Park Chanyeol.

Tidak pernah ada pujian 'Do Kyungsoo sempurna. Do Kyungsoo tampan. Do Kyungsoo pintar.' Apalagi 'Do Kyungsoo tinggi.'

Menyebalkan.

Satu kata itu yang menggambarkan sosok Chanyeol bagi Kyungsoo. Semua orang selalu memuja Chanyeol. Itu tidak akan terlalu menyebalkan jika kau seorang yeoja. Tapi bagi Kyungsoo-yang seorang namja-itu amat membuatnya kesal karena merasa dirinya tidak ada apa-apanya dibanding Chanyeol.

Kyungsoo selalu satu sekolah dan satu kelas dengan Chanyeol sejak sekolah dasar. Sudah hampir dua belas tahun ia lewati bersama dengan teman jerapahnya itu. Sudah hampir dua belas tahun juga ia harus mendengar kedua orangtuanya membanding-bandingkannya dengan Chanyeol.

"Kau harusnya lihat Chanyeol, Kyungsoo !"

"Masa yang kau bisa hanya memasak ? Chanyeol saja bisa main gitar !"

"Sampai kapan kau mau malas-malasan terus di hari Minggu hah? Kalau kau malas lari pagi kau akan tambah pendek ! Tidak seperti Chanyeol yang makin tinggi !"

"Apa-apaan nilai rapormu ini ? Hampir semuanya remedial ! Kenapa nilai rapor Chanyeol di atas rata-rata semua ?! Apa saja yang kau lakukan di sekolah sebenarnya Kyungsoo ?"

"Ikut Chanyeol main basket sana ! Seperti pengangguran saja diam di rumah !"

"Sampai kapan kau mau kalah dari Chanyeol, Kyungsoo ? Kau tidak malu memangnya ?"

Begitu terus setiap hari. Ibunya terutama yang sangat sering membandingkan Kyungsoo dengan Chanyeol. Kalau ibunya sudah seperti itu, Kyungsoo hanya bisa menutup telinganya dari dalam kamarnya yang ditutup rapat.

Rasanya dibanding-bandingkan dengan tetanggamu yang (harus Kyungsoo akui) seribu kali lebih sempurna daripada dirimu itu terasa menyakitkan lama-lama. Maka dari itu, Kyungsoo selalu berusaha menjauhi Chanyeol agar ia tidak harus mendengar orang-orang membandingkan dirinya dengan Chanyeol. Tapi apa daya Kyungsoo, Chanyeol selalu mengganggunya. Selalu menghampirinya, selalu mengajaknya pergi ke sekolah bersama, selalu mengajaknya makan di luar, selalu minta diantar ke sana ke sini, selalu menyeretnya lari pagi dan masih banyak lagi hal lain yang-untuk mengingatnya pun Kyungsoo malas.

.

.

.

"Kenapa wajahmu seperti itu ? Kau mimpi buruk ?"

Kyungsoo menggeram tak suka, "minggir." Dia mengambil jalan ke arah lain, tapi Chanyeol menghalanginya.

"Bisakah kau minggir ?! Aku harus berangkat !" sahut Kyungsoo kesal karena Chanyeol terus-terusan menghalanginya-membuat kepalanya hampir menubruk dada 'tetangga' super jangkungnya itu.

Chanyeol mengerjap begitu mendengar Kyungsoo membentaknya. Biasanya paling-paling Kyungsoo hanya manyun dan mendiamkannya. Ada apa ini ? Kenapa dia marah ?

"Kenapa kau marah-marah ?" tanya Chanyeol sambil memegangi lengan Kyungsoo agar tidak pergi. "Apa yang kulakukan ? Kenapa marah padaku ?"

"Enyahlah Park Chanyeol," desis Kyungsoo sembari menginjak sepatu Chanyeol sampai membuat lelaki jangkung itu mengaduh kesakitan. Sambil membetulkan letak tas di pungungnya, Kyungsoo pun meninggalkan Chanyeol.

"YAK ! KYUNGSOO-YA !"

.

.

Chanyeol terengah-engah ketika sampai di bus. Untung ia tidak sampai ketinggalan busnya. Kyungsoo benar-benar. Anak itu menginjak kakinya dengan sangat keras, rasanya jempol kakinya sakit sekali sekarang-Chanyeol meringis.

Dia menemukan Kyungsoo yang duduk di deretan bangku paling belakang karena bangku yang lainnya sudah penuh. Laki-laki bermata besar itu menatap keluar jendela bus dengan serius. Seolah di luar sana ada hal yang sangat menarik perhatiannya. Chanyeol langsung menghampirinya dan tanpa aba-aba dia mendudukkan dirinya di atas paha tetangganya yang sedang melamun itu.

"YAK ! DASAR SIALAN ! AKU TIDAK BISA BERNAPAS BODOH !" teriak Kyungsoo kesakitan karena wajahnya tertutup tas ransel Chanyeol yang cukup besar dan berat tubuh Chanyeol yang menimpa pahanya.

Chanyeol menyeringai sambil memundurkan tubuhnya-membuat wajah Kyungsoo semakin terjepit tas.

"PARK CHANYEOL !"

Chanyeol tertawa puas dalam penderitaan Kyungsoo. Beberapa murid yang satu sekolah dengan mereka dan kebetulan berada di bis yang sama pun ikut terkekeh geli melihat tingkah dua sahabat yang sudah terkenal seantero sekolah itu.

"Hei, Park Chanyeol. Kau jangan menyiksanya begitu. Nanti dia makin menciut," seru salah seorang teman sekelas mereka, Yook Sungjae. Dia duduk tepat di depan mereka.

"Penderitaannya adalah kebahagiaanku. Kau tahu kan ?" kekeh Chanyeol yang tak bisa menahan seringaiannya lagi.

"Haha. Motto yang bagus !" Sungjae mengacungkan jempol.

"SIALAN KAU PARK DOBI !" Kyungsoo berusaha mendorong Chanyeol menjauh tapi usahanya sia-sia karena tubuh besar tetangganya itu. Bayangkan saja, perbedaan berat badan Kyungsoo dan Chanyeol hampir mencapai sepuluh kilogram (?) tapi orang itu tidak punya rasa kasihan sedikit pun dengan menduduki Kyungsoo yang memang lemah karena jarang olahraga. Tidak punya hati ! Bengis ! Raja hutan ! Jelek ! Manusia alien ! Maki Kyungsoo dalam hati.

Setelah beberapa lama bus berjalan, Chanyeol pun berdiri dari tempat duduknya (paha Kyungsoo), membuat namja manis itu menghela napas lega.

"Gantian."

"Apa ?" Kyungsoo menautkan kedua alisnya bingung dengan apa yang Chanyeol katakan. Gantian apa ?

Chanyeol berdecak, menarik Kyungsoo berdiri. Lalu dia sendiri duduk di bangku yang diduduki Kyungsoo tadi.

Kyungsoo menatapnya tidak percaya. "Setelah mendudukiku dengan sengaja kau sekarang menyuruhku berdiri ? Kemana akal sehatmu jerapah ? Kenapa kau tega seka-"

"Siapa yang menyuruhmu berdiri ?" tanya Chanyeol sambil mengangkat sebelah alisnya sok keren. Dia menepuk pahanya sendiri. "Duduk."

APA ?!

Mata Kyungsoo seperti mau copot dari tempatnya saking melototnya. Dia sudah hampir protes lagi, tapi Chanyeol menarik pinggangnya untuk duduk di pangkuannya.

"YAK ! Park Chanyeol !" teriak Kyungsoo tak suka. Apalagi saat ia menyadari tangan besar Park Chanyeol melingkari pinggangnya dan memeluknya erat.

"Diamlah," gumam Chanyeol. Suara beratnya terdengar lebih rendah dari biasanya-atau hanya perasaan Kyungsoo saja ? Dan apa-apaan Chanyeol yang terdengar seperti menahan napas itu ? Yang pasti, perjalanan ke sekolah mereka terasa lebih hening.

.

.

.

"PAGI KYUNGIIIIEEEEE !" sapa Baekhyun begitu Kyungsoo tiba di gerbang sekolah dengan wajah kusut.

"Pagi," sapa Kyungsoo setengah hati. Dia tidak mood bahkan hanya untuk membalas sapaan.

"P-pagi C-Chanyeol," suara Baekhyun berubah seratus delapan puluh derajat ketika menyapa Chanyeol. Dia terlihat gugup dan wajahnya (Kyungsoo bisa melihat) merona merah. Chanyeol di sebelahnya hanya mengangguk kecil, "pagi Baekhyun."

Senyum manis merekah di wajah Baekhyun. Ia kembali beralih pada Kyungsoo. "Kyung kau kenapa ? Kau kelihatan kurang tidur."

Apa ? Kurang tidur ? Yang benar saja, Kyungsoo mendengus. Ia malah kebanyakan tidur. "Tidak apa-apa," bohongnya. Baekhyun hanya menatapnya penuh selidik, lalu tidak bertanya lagi.

"Bagaimana pertandingan basket minggu depan dengan SMU Victory ?" tanya Chanyeol tiba-tiba. Kyungsoo berbalik hanya untuk melihat Chanyeol berbicara dengan siapa. Oh, ternyata dia sedang mengobrol dengan Kim Jongin, anak kelas mereka yang satu ekskul tim basket dengan Chanyeol. "Apa mereka benar-benar membatalkan pertandingannya ?" tanya Chanyeol lagi dengan raut wajah serius.

Hahhh, Kyungsoo benar-benar tidak mau ikut campur dalam urusan basket. "Baek, ayo kita ke kelas duluan."

"Oh, yeah-ayo."

Mereka pun berjalan menuju kelas. Di depan kelas mereka melihat Sehun dan Luhan yang sedang berduaan. Sehun tampak membelai wajah Luhan lembut sambil mengucapkan sesuatu yang membuat Luhan tertawa.

Pemandangan seperti itu sudah biasa bagi Kyungsoo.

"Mereka romantis sekali sihhh," pekik Baekhyun iri saat melewati mereka. "Kapan aku bisa seperti itu dengan Chanyeollie ?"

Kyungsoo mengernyitkan dahi, "bukankah kau bilang kau sudah berkencan dengan anak kuliahan itu-siapa namanya ?"

"Suho," jawab Baekhyun. Dia menghela napas. "Suho menyatakan perasaannya padaku tadi malam. Dia memberiku waktu untuk berpikir. Tapi aku tidak tahu apakah aku harus menerima perasaannya atau tetap berharap pada Chanyeol."

Chanyeol memang tidak peka. Yahh, dia sudah sekelas dengan Baekhyun tiga tahun. Selama itu Baekhyun menyukai Chanyeol. Baekhyun selalu menyapa Chanyeol, sering membuatkannya makan siang, ikut ke setiap pertandingan basketnya dan banyak hal lain yang Baekhyun lakukan untuk menunjukkan rasa tertariknya pada Chanyeol. Tapi dasar jerapah tidak peka (begitu kata Kyungsoo), dia sama sekali tidak memedulikan Baekhyun. Baekhyun sendiri tidak berani menyatakan perasaannya langsung. Ia takut ditolak. Padahal Kyungsoo sudah berkali-kali membujuk Baekhyun agar mengumpulkan keberaniannya dan menyatakan semuanya pada Chanyeol.

"Kau tidak akan mendapat hasil apa-apa kalau terus berharap pada raja hutan (?) itu," kata Dio dengan penekanan di kata 'raja hutan'. Yah, raja hutan adalah panggilan barunya untuk Park Chanyeol mulai hari ini karena sikapnya yang selalu semena-mena dan cenderung memerintah itu.

"Raja hutan ?" Baekhyun tertawa mendengar julukan baru Chanyeol. "Seriously, Kyungsoo. Kau benar-benar membencinya sampai menyebutnya raja hutan ?"

"Ya, aku membencinya sampai rasanya aku ingin mencekiknya sampai mati," jawab Kyungsoo.

"Ibumu memarahimu lagi ?" tebak Baekhyun tepat sasaran. Bingo. Kyungsoo mengangguk pelan, "ibu marah karena kemarin aku menyuruh Chanyeol pulang sementara dia mengajakku ke tempat fitness."

"Lalu ?"

"Mau bagaimana lagi ? Aku ikut si raja hutan itu ke tempat fitness. Tahunya dia lama sekali di sana, aku bahkan menghabiskan dua bigmac karena menunggunya."

Kyungsoo terus bercerita mengenai kejadian kemarin sampai mereka duduk di bangku mereka masing-masing lalu bel masuk berbunyi.

Semua anak berhamburan ke dalam kelas.

Pelajaran pertama hari ini adalah bahasa inggris. Yang mengajarnya Pak Choi Siwon. Tidak ada anak perempuan yang mau melewatkan pelajaran guru paling tampan sesekolah ini. Apalagi Pak Siwon masih lajang dan umurnya bahkan belum mencapai 30. Dengar-dengar sih, Pak Siwon ini anak tunggal dari CEO perusahaan otomotif ternama. Tapi karena beliau tidak mau meneruskan pekerjaan ayahnya, dia menjadi guru bahasa inggris.

Park Chanyeol memasuki kelas bersama Kim Jongin. Mereka tampaknya masih membicarakan seputar basket. Kyungsoo memutar bola matanya ketika Chanyeol dengan sengaja duduk di atas mejanya, matanya masih menatap Jongin yang duduk tepat di sebelah kiri Kyungsoo.

"Chan, menjauh dari mejaku ! Pak Siwon sebentar lagi masuk !" gerutu Kyungsoo. Seolah tidak mendengar Kyungsoo, Chanyeol bertanya pada Jongin, "jadi kita tetap latihan sepulang sekolah nanti ?"

Jongin menatap Kyungsoo, lalu beralih menatap Chanyeol. "Tentu saja. Kita harus tetap latihan."

"Okeeee !" Chanyeol mengangguk semangat. "Kyung, temani aku latihan !" ia kini beralih pada Kyungsoo yang duduk di kursi dengan wajah merengut.

"Tidak mau," tolak Kyungsoo langsung. Dia menatap keluar jendela kelas dengan kesal.

"Oh, ayolah ! Aku tidak bisa latihan kalau tidak ada kau," Chanyeol memasang wajah memelas yang menjijikkan sambil terus menatap mata Kyungsoo-memaksa mata itu berhenti memandangi jendela dan balas menatapnya. Kyungsoo menghela napas gusar dan menatap Chanyeol. Pandangan mereka bertemu. Mata Chanyeol berusaha menyelami mata Kyungsoo. "Kenapa aku harus menemanimu ?" tanya Kyungsoo datar. "Banyak orang lain yang akan menontonmu berlatih."

Lalu Chanyeol menghela napas berat. Dia langsung turun dari meja Kyungsoo. "Pokoknya kau harus ada di bangku penonton sampai latihanku selesai. Tidak ada penolakan," tegasnya.

"Kau tidak bisa seenaknya memutuskan !" sahut Kyungsoo tak terima. "Aku harus mengembalikan buku ke perpustakaan di pusat kota bodoh !"

"Kita bisa ke sana setelah latihanku selesai !"

"Itu terlalu sore !"

Tanpa mereka sadari, ada dua pasang mata yang melihat pertengkaran mereka dengan tatapan berbeda.

.

.

.

Jam istirahat pertama hampir habis.

Kyungsoo menutup buku fisika yang baru saja dibacanya dan menghela napas frustasi. Beberapa menit lagi dia akan menghadapi ulangan harian fisika yang sangat mematikan. Tapi bodohnya dia tidak belajar sama sekali kemarin. Lalu sekarang pun dia mencoba belajar dan tidak ada materi yang masuk sama sekali ke otaknya. Mana dia belum makan siang lagi.

Arrghh, sial ! Sial ! Sial !

Kyungsoo memaki dirinya sendiri. Dia pun menempelkan kedua lengannya di atas meja-menjadikannya bantal bagi kepalanya. Dia melihat ke luar jendela kelas lagi, dimana seorang Park Chanyeol sedang bermain basket dengan beberapa anak kelas sepuluh.

Si raja hutan itu tampak bersemangat merebut bola, lalu mendribblenya dan memasukannya ke ring. Sayangnya bolanya meleset. Tapi laki-laki dengan tinggi super itu nyengir lebar sambil berhigh-five dengan anak kelas sepuluh yang menjadi musuhnya. Keringat di dahinya mengalir deras. Bahkan rambut dan bagian belakang seragamnya basah oleh keringat.

Kyungsoo bergidik, membayangkan Chanyeol yang dalam keadaan basah kuyup oleh keringat itu memasuki rumahnya lalu menyandarkan tubuh bau keringatnya pada Kyungsoo-seperti yang biasa ia lakukan ketika sehabis pertandingan di hari Sabtu atau Minggu.

Pluk.

Seseorang menempelkan minuman dingin ke dahi Kyungsoo.

"Kai ?" tanya Kyungsoo begitu melihat Kai duduk di depannya sambil tersenyum tipis.

Kai menggeser kaleng kopi dingin yang tadi ditempelkannya ke dahi Kyungsoo. "Untukmu. Kelihatannya kau kurang tidur."

Apa lingkaran hitam di bawah mataku terlihat jelas ? Pikir Kyungsoo, kesal pada dirinya sendiri karena tidur terlalu cepat kemarin malam. Dia kembali menidurkan kepalanya di atas lengannya. "Terimakasih Kai," ucapnya malas. "Tapi aku tidak butuh kopi."

Kai sedikit terkejut mendapat penolakan dari Kyungsoo. "Lalu apa yang kau butuhkan ?"

"KYUNGSOO-YA ! KYUNGSOO-YAA ! KYUNGSOO-YAAAAAAAA !" teriakan Chanyeol menggema dari lorong. Bahkan sampai terdengar ke dalam kelas. Kyungsoo sedikit mengangkat kepalanya, lalu menghela napas keras.

Chanyeol masuk ke dalam kelas dan langsung berlari ke meja Kyungsoo. Keringat masih bercucuran di dahinya. Wajahnya basah oleh keringat. "Kyung aku mau-"

"Lap keringatmu Chan ! Dasar bau !"

Chanyeol mengelap keringatnya asal dengan tangannya. Kyungsoo lagi-lagi menghela napas. "Kyung pulang latihan nanti aku mau men-". Ucapan Chanyeol terhenti ketika Kyungsoo mengelap dahinya yang penuh keringat dengan tisu.

"Kau ini jorok sekali. Lain kali kau harus bawa sapu tangan sendiri dan bawa parfum, dasar bau keringat," kata Kyungsoo sambil mengelap bagian leher Chanyeol, membuat namja bermarga Park itu sedikit menenggak agar lehernya lebih mudah dibersihkan. Chanyeol tak mampu menahan senyumnya melihat wajah Kyungsoo yang begitu dekat dengannya.

"Iya sayang, aku akan bawa sapu tangan-"

Kyungsoo langsung memukul pipi Chanyeol pelan-tanda tidak setuju mendengar panggilan sayang dari Chanyeol. "Apa yang kau mau katakan tadi ?"

"Oh !" Chanyeol menjetikkan jarinya. "Aku akan pulang latihan lebih awal dan mengantarmu ke perpustakaan pusat kota. Setelah itu kita ke pasar swalayan. Ada yang mau kubeli."

"Apa itu ?"

"Mi instan."

"Bukannya waktu itu kau sudah membeli banyak mi instan ?"

Kai memerhatikan Kyungsoo dan Chanyeol yang tampak asyik mengobrol. Kyungsoo tak terlihat lesu lagi. Ia bahkan tak segan-segan meninju lengan Chanyeol ketika Chanyeol menyebutnya 'pikun'.

"Oh ? Ini kopi siapa ?" tanya Chanyeol, mengambil kopi kaleng di meja Kyungsoo. Kopi kaleng yang diberikan Kai untuknya.

"Kai memberikannya untukku," jawab Kyungsoo sembari membuka kembali buku fisikanya. Sebelah alis Chanyeol naik sambil menatap Kai, "kau ?"

Kai mengangguk. "Kyungsoo kelihatan mengantuk sekali. Jadi aku memberinya."

"Benarkah ?" gumam Chanyeol pelan. Ia menatap Kyungsoo.

"Aku tidak mengantuk. Kembali ke bangkumu sana ! Aku mau belajar !"

.

.

.

TBC