a/n: kepikiran membuat fanfic AiMina hahaha.well, i can't help falling in love with this pairing. selain karena mereka berdua unyu abis, unsur angst antar keduanya juga kerasa uhuk. ditulis mendadak, karenanya maafkan atas keabalan dan keabsurdan yang saya tulis.
Sorrowful Blue
.
Persona 3 © ATLUS
.
Sepasang manik biru safir itu menatap kosong langit.
Hari ini langit begitu cerah, setelah beberapa hari mendung melanda di kota Iwatodai. Biru adalah warna yang mendominasi langit kali ini, dengan awan putih sebagai pengiringnya.
Aigis membiarkan angin yang berembus pelan membuat surai pirangnya melambai-lambai; ia terlalu sibuk untuk mengamati langit dengan seksama. Tidak peduli bahwa ia telah menghabiskan waktu selama satu jam di rooftop Gekkoukan High hanya karena hal ini.
Gadis berambut pendek itu memejamkan kelopak matanya perlahan. Dan kemudian ia mengepakkan kelopak matanya. Langit biru itu masih terbentang luas di hadapannya.
Biru...
Acapkali ia melihat warna biru, Aigis selalu teringat akannya. Pemuda berambut biru yang dulu selalu berada di sisinya. Pemuda yang dulu mengajarkan banyak hal padanya mengenai kemanusiaan—dan cinta.
Biru itu sama seperti dirinya, gumam Aigis dalam hati. Bibir merah ranumnya masih terkatup rapat.
.
Biru itu
Warna yang pasif
.
Dia orang yang tak banyak bicara, tetapi juga tak banyak bertingkah. Baginya, diam adalah emas. Pasif, memang.
Bukan berarti dia adalah orang yang tak acuh tak acuh. Dia tipe orang yang lebih suka menjadi pendengar dibandingkan pencerita. Dan kemudian memberikan komentar positif, atau sekedar celetukan.
.
Biru juga
Warna yang dingin
.
Orang-orang selalu menganggap dia pemuda yang dingin, hanya karena dia adalah orang yang hemat bicara. Bukti ini diperkuat dengan sepasang manik peraknya yang juga terlihat dingin di mata orang-orang,
Mereka semua salah. Persepsi mereka salah total. Bagi Aigis, dia—
.
Tetapi
Biru adalah warna yang lembut
.
—adalah orang terlembut di dunia ini.
Bagi Aigis, sepasang manik perang itu selalu memancarkan sinar kelembutan yang ia sukai. Kelembutan yang tiada duanya.
.
Tenang dan teduh
Itulah arti warna biru
.
Ia adalah orang dengan ketenangan yang luar biasa.
Aigis selalu nyaman berada di dekatnya, seakan tertular ketenangan itu sendiri. Aigis membiarkan pemuda itu membaringkan kepalanya di pangkuan Aigis, kemudian jemari besi Aigis menelusuri surai biru gelap dirinya dengan lembut. Membiarkan jarak antar wajah keduanya yang begitu dekat, membiarkan napas masing-masing saling menerpa satu sama lain.
Membiarkan jemari langsing namun kokoh miliknya, mengelus-elus pipi Aigis dengan penuh kasih sayang. Sementara kedua manik peraknya menatap intens kedua manik biru safir Aigis, dengan teduh.
Kemudian, bibirnya pun merayap pada bibir Aigis. Hangat.
.
Namun, sejatinya
Biru itu warna kesedihan.
.
Benar.
Biru itu warna yang penuh kesedihan.
Rasanya begitu menyesakkan—ketika ia pergi, pergi untuk selama-lamanya. Tidak akan pernah kembali, meskipun Aigis menangisinya selama seribu tahun. Air matanya takkan penah bisa membawa pulang dirinya. Sepasang manik perak itu terkunci rapat untuk selamanya.
Kristal bening perlahan mengalir dari sudut mata Aigis, membasahi pipinya. Ia rindu, rindu yang teramat sangat pada dirinya.
Tidak ada lagi yang memberikan kenyamanan pada Aigis. Tidak ada lagi yang memberikan ketenangan pada Aigis. Tidak ada lagi yang akan menghapus air matanya—seperti saat ini.
Dan tidak ada lagi yang mengecup lembut bibirnya.
Selamanya.
