REVENGE OF WASTED

A fiction by Arisa Risarisarisa

Katekyo Hitman RebornAmano Akira

Genre : Hurt/Comfort, Family

Rated : M

Warning : Typo, slight gore, ooc Tsuna

.

.

.

.

Suara rantai yang bergesekan dengan lantai membangunkan sosok kecil yang meringkuk disudut ruangan tempat ia dikurung, perlahan sosok itu duduk sambil meringis sakit sesekali, kedua mata cokelatnya yang besar menatap satu-satunya pintu diruangan itu, jantungnya berdebar kencang saat pintu besi itu berderit, tiga orang pria bertubuh besar memasuki ruangan anak itu sementara ia semakin memojokkan dirinya disudut ruangan kecil itu berharap kegelapan disana mampu menyembunyikannya, tubuhnya bergetar hebat saat salah satu dari ketiga pria itu melihatnya dengan seringai diwajah jeleknya

"Hei Tsuna~ apa yang coba kau lakukan disana? Kau tau kau tak akan bisa bersembunyi disini ahahahaha…" ucap pria itu, ia bersama dengan dua rekannya berjalan pelan menuju anak kecil bernama Tsuna itu dengan langkah pelan bermaksud menambah kesan menakutkan pada diri mereka

"Hiii…" Tsuna semakin memojokkan dirinya, air matanya hampir mengalir, melihatnya ketiga pria itu hanya tertawa

"Kau benar-benar menyedihkan." Salah satu dari ketiga pria itu menarik rambut Tsuna, memaksa anak itu untuk berhadapan dengannya

Satu dari dua pria yang masih berdiri mengapit kedua lengan Tsuna yang meringis, pria yang tadi menjambaknya kini melepaskan tangannya dari rambutnya membuat Tsuna bernafas lega, tapi tiba-tiba pria itu meninju perutnya membuatnya berteriak kencang, pria itu terus menghajar anak kecil itu dengan senyum lebar diwajahnya sedangkan kedua rekannya hanya tertawa tidak merasa kasihan sedikit pun pada Tsuna yang hampir tidak sadarkan diri

'uugghh…sakiiit…kumohon hentikan…' ucap Tsuna dalam hatinya karena ia kini tidak mampu lagi bersuara

"Ini adalah hukumanmu, jika kau mematuhi perintah Baron-sama kami tidak akan melakukan ini padamu," ucap pria yang hanya berdiri dan melihat kedua rekannya menghajarnya

'bohong! Kalian selalu melakukan ini padaku!'

Puas memukuli dan menertawakan Tsuna, pria yang sedari tadi memegangnya melempar anak malang itu kesudut tempat ia meringkuk tadi. Salah satu dari pria itu kembali mendekati Tsuna yang sudah tidak mampu bergerak sedikit pun, ia menendang anak itu sebelum meletakkan kakinya yang berbalut sepatu boot didada Tsuna

"Jika kau membantah perintah Baron-sama lagi, ingatlah hari ini." Dengan itu ketiga pria itu keluar dari ruangan Tsuna dan mengunci pintunya dari luar

Tsuna menatap kosong langit-langit ruangannya, pikirannya kembali pada ucapan pria tadi, 'ingatlah hari ini,' bibir Tsuna terangkat saat kalimat itu berputar-putar dikepalanya, ia tidak tahan untuk tidak merasa itu adalah kalimat yang lucu

"Ingatlah hari ini katanya, hah apa istimewanya hari ini." Ia diam sejenak, membiarkan air matanya mengalir. "Hari ini sama saja dengan hari-hari sebelumnya." Seyum lebar tersungging diwajah babak belurnya, membuatnya tampak mengerikan. "Haha…aku bahkan lebih sering mengalami hari yang lebih buruk dari hari ini hahahahahahaha….apa istimewanya? APA?!" Ia kembali diam untuk bernafas lalu tiba-tiba ia tertawa keras saat mengingat semua peristiwa yang dialaminya selama ini sebelum ia berakhir diruangan kecil dan kosong itu

Ia ingat kaa-chan-nya, wanita manis yang selalu ada untuknya, selalu menolong dan menyemangatinya, tapi itu DULU, ia menutup kedua matanya membiarkan masa lalunya memenuhi dirinya. Ia ingat hari dimana semua berubah menjadi mimpi terburuknya

Saat itu ia baru berusia lima tahun, ia dan kaa-chan-nya, Nana, baru saja pulang dari supermarket, Nana menyadari pintu rumahnya yang tidak terkunci padahal sebelumnya ia sudah menguncinya, ia menarik Tsuna dan menyuruhnya untuk bersembunyi dibalik semak-semak dihalaman depan rumahnya yang dipatuhi anaknya, dengan langkah penuh kehati-hatian ia memasuki rumahnya yang kosong, namun aura didalamnya mengatakan padanya kalau ia tidak sendirian disana, dan benar saja, saat ia menuju ruang tamu empat orang pria berdiri dihadapannya

"Sawada Nana," panggil salah seorang dari mereka. "Serahkan Sawada Tsunayoshi dan kau akan baik-baik saja."

Nana menatap tajam mereka, ia tahu keempat pria itu adalah anggota mafia dan ia tahu apa alasan mereka untuk mencari putranya, tapi sebagai ibu dari anaknya tentu saja ia akan melindungi anaknya apapun yang terjadi. "Sampai kapanpun aku tak akan menyerahkan putraku pada kalian."

Keempat pria itu mengeluarkan senapan mereka dan mengarahkannya pada Nana yang mulai bergetar tubuhnya karena takut, tanpa sadar ia melangkah mundur. Salah satu dari keempat pria yang melihat Nana ketakutan mengatakan, "Jika kau menyerahkan anakmu, kau akan baik-baik saja, kami berjanji."

Nana berteriak sambil meraih vas bunga, "Aku tidak akan menyerahkan Tsuna pada siapapun!" Salah satu dari pria itu menembak vas bunga yang dipegang Nana membuat wanita itu terlonjak kaget, hal yang sama juga terjadi pada Tsuna yang masih bersembunyi dihalaman rumahnya, setelah beberapa menit senyap tiba-tiba suara tembakan dan teriakan kaa-chan-nya lagi-lagi terdengar. Penasaran dan khawatir pada kaa-chan-nya Tsuna memberanikan diri memasuki rumahnya

"K-kaa-chan…" Panggilan Tsuna langsung meredakan semua suara, lalu tiba-tiba sebuah senapan terarah padanya, Nana dengan sigap berdiri didepan Tsuna sambil merentangkan kedua lengannya

"Tsuna pergi dari sini!"

"Ta…"

"Cepat! Pergi dan sembunyi!"

Nana menahan keempat pria itu agar tidak mengejar putranya sementara Tsuna berlari, tapi dari pada bersembunyi anak berusia lima tahun itu berteriak minta tolong, kebetulan polisi yang sedang patrol mendengarnya dan menolong Nana serta meringkus keempat pria itu

Malam itu setelah Tsuna tidur Nana menelepon Iemitsu, suaminya yang bekerja diluar negeri sebagai bos CEDEF, mereka membicarakan Tsuna, ia mengatakan kalau pembunuh bayaran akan tetap datang untuk membunuh Tsuna dan meminta Iemitsu untuk membawa mereka bersamanya, namun Iemitsu menolak dengan alasan, "Disini jauh lebih berbahaya, kalian tidak akan bertahan lama, aku tidak ingin kehilangan kalian, aku sangat menyayangimu dan Tsuna…" Mereka berteriak satu sama lain mempertahankan argumen masing-masing sampai pada akhirnya mereka mencapai kesepakatan yang menyakitkan

"Hanya ini yang bisa kita lakukan untuk melindunginya Nana, kumohon…mengertilah…"

"Aku tidak mau! Kenapa kita harus lakukan itu?! Kita orang tuanya harusnya kita melindunginya Mitsu…"

"Kita sedang melindunginya!"

"Kita membuangnya! Aku membuangnya! Menurutmu bagaimana kalau nanti dia…."

"Nana…dengar…dengarkan aku, dia akan baik-baik saja, tidak akan ada yang menyentuhnya, ini hanya sementara, setelah semua kondisi aman kita akan mengambilnya kembali, kita harus berkorban demi keselamatannya, aku akan pulang."

Iemitsu memutuskan sambungan mereka tidak memperdulikan Nana yang terisak. Malam itu Nana diam-diam masuk kekamar Tsuna dan berbaring disamping anaknya, ia memeluk erat anaknya dan mengecup puncak kepalanya berkali-kali sambil menggumamkan, "Maaf Tsu-kun…maafkan kaa-chan." Dengan air mata yang mengalir

Tsuna tidak tahu kenapa kaa-chan-nya tiba-tiba berubah, wanita itu jadi sering memarahinya walau sekecil apapun kesalahannya, ia tidak pernah lagi dijemput disekolah atau jalan-jalan ketaman, kaa-chan-nya selalu memasang wajah kesal saat melihatnya, ia merindukan senyum kaa-chan-nya tapi kaa-chan-nya malah memberikan ucapan yang benar-benar menghancurkannya

"Kenapa kau tidak pernah melakukan sesuatu dengan benar hah! Apa yang salah dengan mengambil sebuah piring hah! Apa salahku hingga aku melahirkan anak tidak berguna sepertimu hah!"

Setelah mendengar kalimat beracun itu Tsuna jatuh terduduk dilantai yang terdapat pecahan piring, ia tidak memperdulikan kakinya yang terluka, ia hanya menatap kaa-chan-nya dengan kedua matanya yang melebar dan air mata yang mengalir, ia lalu berdiri dan berlari menuju kamarnya, menghiraukan panggilan kaa-chan-nya. Sementara Nana hanya mampu menutup mulutnya dengan kedua tangannya setelah ia menyadari apa yang baru saja ia katakan pada anaknya

'apa…apa yang baru saja kukatakan? Harusnya ini semua hanya agar ia tidak menyukaiku bukan membenciku, apa…yang salah denganku…Tsuna…Tsu-kun maafkan kaa-chan…maaf…maaf…'

Nana jatuh terduduk sambil terisak, ia terus mengucap, "Maaf." Berkali-kali saat mendengar tangisan Tsuna yang jauh lebih kencang, anaknya bahkan menjeritkan, "Kaa-chan jahat!" Beberapa kali. Nana harus menahan dirinya untuk berlari kekamar Tsuna dan menenangkan anaknya yang belum juga berhenti histeris setelah satu jam lebih mengurung diri dikamar. Malangnya malam itu tiba-tiba beberapa orang pembunuh bayaran datang dan menyerang Nana dan sempat melukai Tsuna, untungnya Iemitsu datang dan menghajar para pembunuh bayaran itu, ia memeluk Nana yang terisak dan menghiraukan tatapan bingung Tsuna

"Apa yang terjadi?" tanya Iemitsu sambil memeluk erat istrinya yang masih terisak

"Maaf…maafkan aku…hiks…aku tidak bermaksud hiks…maaf…" ucap Nana pada Tsuna yang memegang tangannya yang berdarah. Nana sangat terkejut saat melihat anaknya tersenyum lembut padanya sambil menggelengkan kepalanya pelan seolah mengatakan, 'aku memaafkan kaa-chan,' ia lalu pergi kekamarnya

"Nana…" Panggilan lembut Iemitsu membuat Nana menatap wajah sedih suaminya, air matanya yang tadi sempat berhenti mengalir kini mengalir lebih deras

"Iemitsi…aku…hiks…"

Iemitsu memeluk Nana dan mengelus punggungnya lembut. "Shh…kita lakukan semuanya besok." Ucapan Iemitsu barusan membuat Nana terlonjak dan melepas pelukan suaminya, ia menggeleng berkali-kali. "Pasti ada cara lain…hiks…pasti ada…"

"Nana…tenanglah…dia akan baik-baik saja, semua akan baik-baik saja, hanya ini satu-satunya cara untuk melindunginya." Nana terdiam selama beberapa saat lalu mengangguk lemah, Iemitsu lalu membawa Nana kekamar mereka

Keesokan harinya ketika semua orang masih tidur pasangan Sawada membawa anak mereka yang juga masih tertidur lelap keluar kota, Iemitsu mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh agar mereka cepat sampai ditempat tujuan mereka

Panti asuhan

Iemitsu memarkirkan mobilnya tidak jauh dari panti asuhan itu, ia bersama Nana yang menggendong Tsuna berjalan menuju panti asuhan itu

"Lihatlah Mitsu-kun, Tsu-kun begitu lelap tidurnya," ucap Nana yang lalu mencium pipi gempal Tsuna menyebabkan anak itu terbangun

Tsuna mengerjapkan mata beberapa kali sebelum pandangannya fokus, ia sangat terkejut saat melihat wajah kaa-chan-nya, tapi kemudian ia menutup matanya dan menarik menghela nafas panjang. Ia lalu membuka matanya dan mengucapkan, "Maaf kaa-chan, Tsu-kun tidak bermaksud berteriak seperti kemarin, Tsu-kun yang salah karena membuat kaa-chan marah." Nana terdiam sesaat setelah mendengar ucapan Tsuna, ia lalu tersenyum lembut dan mengeratkan pelukannya pada anaknya

"Nana, kita disini." Nana menghela nafas panjang saat melihat pintu utama panti asuhan, ia menurunkan Tsuna yang menatapnya bingung, ia menunduk untuk mencium dahi Tsuna lalu berkata, "Kami lakukan ini demi kebaikanmu Tsuna." Setelah itu ia pergi bersama Iemitsu dengan senyum diwajah mereka

'benar, demi kebaikannya, semua demi dirinya,' batin Nana, ia mengeratkan genggaman tangannya pada suaminya yang balas mengeratkan genggaman tangannya juga, mereka terus berjalan menjauhi panti asuhan itu dan menghiraukan Tsuna yang berteriak memanggil mereka

'kejam, mereka kejam,' batin Tsuna, ia menatap kosong gerbang panti asuhan dimana kedua orang tuanya menghilang dari pandangannya, ia menundukkan kepalanya membiarkan air matanya jatuh membasahi lantai, giginya bergemeletuk dan wajahnya memerah karena menahan amarah, ia menarik nafas panjang lalu berteriak, "Kalian jahat!" Ia jatuh terduduk dan terisak, bibir kecilnya terus menggumam, "Jahat, jahat, jahat." Tsuna yang baru berusia lima tahun mulai berpikir piring yang tidak sengaja dipecahkannya kemarin adalah alasan kenapa ia berada dipanti asuhan saat ini

'hanya karena sebuah piring, jahat…jahat…'

Walaupun kehidupan dipanti asuhan tidak terlalu buruk namun Tsuna selalu merindukan rumahnya, lagi-lagi ia berpkir kekanakan kalau tinggal dipanti asuhan hanya hukuman sementara dan kedua orang tuanya akan menjemputnya sebentar lagi, namun setelah tiga bulan menunggu kedua orang tuanya tidak juga menjemputnya, Tsuna mulai putus asa dan mimpi buruk selalu menghantui tiap tidurnya, terkadang ia terbangun sambil berteriak memanggil ibunya atau menangis kencang bahkan terkadang ia membasahi tempat tidurnya dengan urinnya yang berakhir ia diejek habis-habisan oleh anak-anak panti yang lain dan dihukum oleh para pengurus panti

Setelah tiga bulan tinggal dipanti asuhan, ia memutuskan untuk kabur dan pulang pada ibunya, tapi ia tidak tahu arah mana yang harus ia tuju, ia tersesat, terkadang ia meminta makanan pada orang, terkadang ia mengamen, tapi ia tidak putus asa, ia akan pulang, ia pasti akan pulang pada ibunya. Beberapa bulan kemudian ia tiba di Namimori, ia sangat senang hingga tanpa sadar ia lompat kegirangan

'rumah, kaa-chan,' pikirnya

Ia terus berjalan menuju rumah yang dulu ditinggalinya, ia ingin berlari dan menerobos pintu bercat cream itu tapi seluruh tubuhnya terasa sakit jadi ia berjalan pelan seperti biasa, ia melewati sebuah taman tempat ia dan kaa-chan-nya dulu sering bermain bersama, senyum pahit tersungging diwajah tirusnya, tanpa disadarinya kakinya membawanya masuk kedalam taman itu, ia begitu hanyut dalam pikirannya hingga suara wanita yang sangat dikenalnya menyadarkannya, ia tolehkan kepalanya kekiri dan kekanan untuk mencari sumber suara itu. Disana, tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri, seorang wanita yang begitu dirindukannya duduk disalah satu bangku taman sambil mengelus perutnya yang besar, disampingnya seorang pria yang juga dirindukannya ikut mengelus perut wanita itu sambil mencium dahinya mesra

"Kaa-chantou-chan…" panggilnya sangat pelan

Sepasang suami istri yang tidak menyadari keberadaannya itu terus tersenyum dan tertawa bahagia, ia tersenyum senang melihat mereka hingga satu kalimat dari ayahnya kembali menyakiti hatinya yang rapuh dan kembali menghancurkan harapan kecilnya

"Kali ini kita akan merawat anak kita bersama, ia akan lahir dengan imunitas dan kekuatan tulang yang normal, kita akan mencintainya dan aku akan melatihnya agar ia bisa melindungi diri dan kaa-chan-nya, kali ini tidak akan ada kesalahan yang sama seperti Tsuna."

'jadi karena itu…karena aku lemah makanya mereka membuangku, karena...karena aku adalah kesalahan, demi kebaikanku apanya, pembohong.'

Ia memaksa kakinya yang kecil untuk berlari dari taman itu dengan air mata yang mengalir dari kedua manik cokelatnya, ia terus berlari hingga ia terjatuh dan melukai lutut dan dagunya. Sejak saat itu ia kembali hidup dijalanan, ia tidak ingin kembali ke panti asuhan dan kembali pada orang tuanya adalah pilihan yang menyakitkan

Setahun setelah kejadian itu beberapa pria bertubuh kekar menculiknya, saat ia membuka matanya ia berbaring disebuah ranjang dengan kedua lengan dan kakinya terikat dan mulutnya ditutup dengan sebuah kain. Orang-orang berjas putih dengan masker yang menutupi wajah mereka datang dan mulai menyuntikkannya dengan cairan berbagai warna yang selalu membuat sekujur tubuhnya terasa sangat sakit, lalu mereka mulai melukainya dan membiarkan lukanya sembuh sendiri, semakin lama luka yang mereka buat semakin lebar dan dalam dan saat tubuhnya beregenerasi secara lambat mereka mulai menyuntiknya lagi hingga ia menjerit keras dan semakin lama tubuhnya beregenarasi semakin cepat, ia tidak tahu entah sudah berapa lama ia diruangan putih dengan para peneliti yang selalu menyebutnya 'proyek 27,' setiap saat adalah siksaan baginya, iblis berwujud manusia yang mengatasnamakan penelitian itu berulang kali menghancurkan tubuh kecilnya, mereka membunuhnya lalu dihidupkan kembali hanya untuk kembali dihancurkan, setiap saat ia selalu berdoa, memohon agar ia segera menghilang dari dunia

Suatu hari ia dibebaskan dari semua jarum yang menancap di kedua tangannya dan selang makanan dari mulutnya, ia diberikan satu set pakaian yang langsung dikenakannya setelah ia mandi, pakaiannya serba hitam, kaos dipadukan dengan rompi dan celana cargo dengan banyak saku dan sepatu boot hitam, ia suka penampilannya, gelap seperti hati dan pikirannya. Ia melihat refleksi dirinya dicermin besar diruangannya, tubuhnya sangat kecil, mirip seperti anak berusia sembilan tahun meskipun usianya lebih tua dari pada itu. Pintu ruangannya diketuk dan seorang pelayan wanita masuk lalu membungkuk padanya

"Tsunayoshi-sama, Baron-sama ingin bertemu dengan Anda." Ia tidak tahu siapa Baron itu, ia bahkan tidak tahu dimana ia sekarang berada, jadi ia hanya mengangguk dan mengikuti pelayan itu hingga ia berhenti didepan sebuah pintu mahogany bercorakkan bunga lily , wanita itu mengetuk pintu mahogany itu, setelah terdengar jawaban, "Masuk." Wanita itu membuka kedua daun pintu dan membungkuk

"Tsunayoshi-sama disini untuk bertemu dengan Anda." Wanita itu lalu mempersilahkannya masuk

Ruangan dimana Baron-sama ini berada sangat luas, ada banyak lukisan didinding dan buku-buku yang disusun rapi didalam rak, pria besar berambut pirang yang mengingatkannya pada ayahnya mendekatinya dengan membawa sebuah kotak kecil berbungkus kain beludru

"Bagaimana kabarmu Tsunayoshi? Aku harap para peneliti itu tidak terlalu mengganggumu hahahaha…." ucap pria itu berbasa-basi

"Kau Baron?"

Pria itu tertawa lepas saat mendengar pertanyaannya yang berani. "Ya, aku Baron."

"Apa yang kau inginkan dariku?"

Baron diam selama beberapa saat, lalu menjawab, "Kekuatanmu." Tsuna membelalakkan matanya setelah mendengar ucapan pria bernama Baron itu, ia yakin ia tidak memiliki kekuatan apapun, seolah mengetahui isi pikiran Tsuna, pria itu kembali tertawa. "Kau masih belum menyadarinya?" Tsuna menatap tajam pria itu, menuntut penjelasan

Baron menyeringai melihat tatapan Tsuna, ia lalu melirik sekilas sebuah dokumen yang berisi laporan eksperimen yang dilakukannya pada Tsuna. "Kau adalah objek penelitian dengan kode 27, saat anak buahku membawamu kesini aku mengetahui bahwa kau terlahir 'cacat' jadi aku lakukan penelitian padamu untuk menghilangkan kecacatanmu, dan lihatlah." Baron menggendong Tsuna yang masih memproses penjelasan Baron barusan. "Kau sempurna, dengan sedikit latihan kau akan menjadi salah satu asetku yang berharga." Baron menghela nafas panjang, lalu ia menurunkan Tsuna. "Jadi Tsuna, aku ingin kau bekerja untukku, kau hanya akan mendapat perintah dariku dan hanya dariku, kau mengerti?"

Tsuna menaikkan sebelah alisny setelah mendengar ucapan Baron barusan, ia berpikir, 'Apa yang akan kudapat jika aku bekerja untuk Baron?' jawaban langsung muncul dibenaknya, 'Aku akan kuat, Baron bilang ia ingin kekuatanku artinya aku memiliki kekuatan saat ini, Baron bilang aku hanya perlu sedikit latihan, aku akan kuat, dan aku akan…' Kedua matanya melebar saat dua kata terlarang muncul dibenaknya, 'Balas dendam.' Seringai mengerikan muncul diwajah tirusnya

"Tsunayoshi?" panggilan Baron menyadarkan Tsuna dari pikiran gelapnya, anak berusia dua belas tahun dengan wujud Sembilan tahun itu membungkuk didepan Baron yang tersenyum lebar

"Master." Senyum diwajah Baron semakin lebar saat ia mendengar panggilan Tsuna padanya, ia lalu membuka kotak berbungkus beludrunya dan memasangkan sebuah cincin berlambangkan 27 dijari manis Tsuna

Sejak saat itu Tsuna berlatih keras dengan tujuan balas dendam pada keluarganya, ia mengetahui kalau Baron dan kelompoknya adalah pembunuh bayaran yang paling disegani didunia bawah dengan kata lain mafia, yakuza, gangster, apapun sebutannya, ia mengetahui kalau saat ini ia berada di Italia. Baron mengajarinya banyak hal, pria itu juga menyayanginya layaknya anaknya sendiri dan Tsuna menghormatinya, tapi ia tidak menyayangi pria itu, tidak, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, ia hanya menghormati Baron

Baron mulai memberi misi pada Tsuna yang selalu diselesaikannya dengan baik, dan disinilah masalah bermula, saat itu Baron memberinya perintah untuk membunuh sebuah keluarga koruptor, walaupun Tsuna dilatih untuk menjadi pembunuh ia belum pernah benar-benar membunuh jadi ia sangat takut saat diberi misi itu, saat melihat salah satu rekannya membunuh seseorang dengan begitu mudah namun brutal ia begitu ketakutan hingga seluruh tubuhnya bergetar, itu adalah misi pertama yang ditolaknya, tapi ternyata Baron tidak senang, ia begitu marah pada Tsuna hingga ia mengurungnya di sel tahanan dan mengirimkan tiga orang untuk memberinya pelajaran

"Hahahahahahahaha…..benar hahaha…semua karena dia, tubuh lemahku hilang karena dia haha… kekuatan ini, tulang-tulang yang mampu menyokong tubuh ini, semua karena dia dan peneliti bodohnya." Tsuna menggeratakkan giginya, ia mengepalkan tangannya dan meninju dinding disampingnya. "Tak akan kumaafkan hahahaha…aku akan membalasnya hahahahaha…"

Waktu terus berjalan, Tsuna mengalami pembunuhan pertamanya yang ternyata tidak terlalu buruk menurutnya bahkan menyenangkan, tapi sejak saat itu ia berubah menjadi sosok yang kejam, tidak kenal ampun pada siapapun, ia selalu tertawa dalam situasi apapun, ia tertawa saat berbicara, ia tertawa keras saat membunuh, orang-orang sering berpikir kalau ia sudah gila, dan Tsuna mengakui kalau ia memang gila, pikirannya hanya dipenuhi dengan balas dendam dan bagaimana cara membunuh yang paling menyenangkan

Hari ini tanggal 14 Oktober, usia Tsuna hari ini sembilan belas tahun namun tubuhnya hanya berkembang sedikit saja, fisiknya masih kecil mirip anak berusia sebelas tahun, akibat tinggi tubuhnya ia sering disebut 'kaki pendek' oleh rekan-rekannya, tapi tentu saja Tsuna tidak memperdulikan hal itu ia hanya tertawa sambil mengatakan, "Hahahahaha…itu salah Baron."

Diulang tahunnya kali ini Tsuna ingin membuatnya tampak istimewa, itu sebabnya saat ini ia sedang memilih beberapa senjata favoritnya sambil bersenandung kecil

Tidak ada yang menyangka kalau Tsuna akan menyerang mereka disaat mereka sedang menyiapkan pesta ulang tahun untuk satu-satunya anggota kelompok mereka yang bertubuh paling mungil itu, Tsuna yang dilatih langsung oleh Baron dengan mudahnya membunuh semua orang sambil tertawa senang, ia bahkan tertawa lebih keras saat ia berhasil melukai Baron

"Ukh…Tsuna…kenapa?" tanya Baron, ia memiliki luka sayatan panjang dan dalam didadanya, darah segar terus mengalir dari lukanya walaupun ia sudah menekannya

Tsuna menyeringai lalu tertawa keras, "Hahahahaha…tentu saja untuk balas dendamku hahahaha…"

Baron membelalakkan matanya, ia sebagai master dari Tsuna tentu saja tahu tentang keinginan balas dendam anak itu dan ia berusaha kuat agar Tsuna melupakan tujuannya itu, tapi melihat keadaanya sekarang sepertinya semua usahanya gagal. "Kau masih memikirkan itu?"

"Hahahahaha…tentu saja! Setiap hari semakin kuat!" ucap Tsuna antusias

Baron menundukkan kepalanya, raut sedih terpatri diwajah tegasnya, tubuhnya bergetar karena air matanya mengalir, Tsuna yang melihat keadaan masternya yang menyedihkan segera memeluk erat pria itu dan mengelus punggungnya lembut

"Mou…kenapa master menangis?"

"Karena ini adalah perpisahan." Senyum lebar tersungging diwajah Tsuna saat menyadari maksud dari pertanyaan Baron, ia mengangguk semangat dan melepaskan pelukan Baron, ia berjinjit untuk menghapus air mata Baron

"Ne… Baron tenang saja, aku akan membuatnya cepat jadi kau tidak perlu merasa sakit hihihihi…"

Tanpa menunggu jawaban Baron, Tsuna mengarahkan tangannya yang dipenuhi sky flame keleher Baron dan dengan sekali kedipan mata kepala itu telah lepas dari tubuhnya yang jatuh tersungkur

"Hihihihihi…bubay Baron-sama hahahahahaha…."

Tsuna memotong kue ulang tahunnya yang sebagian berlumuran darah, ia singkirkan krim yang terkena darah dan langsung melahap kue itu dalam gigitan besar, ia sangat menikmati kuenya sebelum matanya melebar saat melirik jam dinding yang berdentang, ia berlari menuju bandara setelah mengganti bajunya yang sebelumnya berlumuran darah

'huuuff…hampir saja hahahaha…' batinnya lega saat ia berhasil masuk kepesawat yang akan membawanya 'pulang'

'aku datang Nana hihihihihi…'

Pesawat yang membawa Tsuna mendarat sempurna dilintasannya, satu-persatu penumpang keluar dari burung raksasa itu dan pergi ketempat tujuannya masing-masing termasuk Tsuna yang saat ini sedang berjalan kaki tak tentu arah sambil mengemut lollipop kesukaannya, sepanjang jalan ia terus tersenyum ramah pada semua orang hingga membuat orang-orang yang melewatinya balas tersenyum ramah padanya

Tsuna berjalan sambil melompat-lompat kecil dengan lollipop yang masih berada didalam mulutnya, dari arah yang berlawanan dengan Tsuna, tiga orang remaja berseragam Namimori Midle School berjalan sambil mengobrol, pemuda yang paling kiri yang memiliki rambut silver dengan model 'gurita' berteriak pada pemuda dengan rambut raven yang paling kanan, sedangkan pemuda yang ditengah yang memiliki rambut pirang terlihat tidak ambil pusing dengan tingkah kedua sahabatnya yang kekanakan, ia lebih memilih mengobrol dengan bayi yang duduk dibahunya, bayi itu mengenakan setelan jas dengan fedora yang menutupi kepalanya dan sebuah dot berwarna kuning yang menggantung dilehernya

Tsuna masih terus berjalan sambil melompat-lompat kecil tanpa perduli sekelilingnya, dan ketiga pemuda didepannya masih melakukan hal yang sama hingga Tsuna dan pemuda yang ditengah saling menabrak dan berakhir dengan Tsuna yang terjatuh

"Ah…ittai," ringis Tsuna sambil mengelus pantatnya yang sakit, ia tidak sadar lollipop kesukaannya kini tidak lagi berada didalam mulutnya melainkan tergolek lemah dijalan tidak jauh tadi tempat Tsuna jatuh tadi. "Nuuuu…" Tsuna mengerucutkan bibirnya lucu saat melihat keadaan lolipopnya

"Hei bocah! Kalau jalan lihat-lihat! Kalau juudaime terluka bagaimana?!" bentak Gokudera Hayato pada Tsuna yang masih meratapi lolipopnya

"Maa…maa…kau tak perlu membentaknya seperti itu, kau membuatnya takut haha…" ucap Yamamoto Takeshi menenangkan, ia berjalan mendekati Tsuna dan menyerahkan sebungkus permen padanya. "Ini untukmu, maafkan kakak galak itu ya haha…"

Tsuna menatap permen ditangannya lalu tersenyum lebar pada Yamamoto sambil mengangguk, pandangannya lalu beralih pada orang yang tadi ditabraknya, matanya melebar sejenak sebelum kembali normal, ia lalu membungkuk sambil mengucapkan, "Maaf…"

"Ah…tidak, aku yang salah karena tidak memperhatikan jalan," ucap pemuda itu sambil membungkuk, selesai membungkuk pemuda itu lalu menarik Gokudera yang masih marah-marah

Reborn memicingkan matanya saat melihat anak didepannya melebarkan matanya sebentar saat melihat muridnya, 'apa dia mengenal Natsu?' Reborn menurunkan fedoranya untuk menutupi seringainya, ia menoleh kebelakan untuk melihat anak yang tadi menabrak Natsu namun tidak ada siapapun disana, ia menepuk bahu Natsu untuk menunjukkan jalan kosong dibelakang mereka yang sayangnya tidak dimengerti oleh pemuda itu

Tsuna berdiri disalah satu atap rumah, ia masih mengawasi pemuda yang tadi saling bertabrakan dengannya berlari menuju sekolahnya, seringai lebar muncul diwajah baby face-nya, ia menggenggam erat permen yang tadi diberikan Yamamoto padanya dan membuangnya

"Aku tidak menyangka akan bertemu secepat ini denganmu, Sawada Natsu hihihi…"

Tsuna berjalan menuju lingkungan yang amat familiar baginya sambil bersenandung riang, namun saat berada didepan kediaman Sawada senyum Tsuna langsung hilang digantikan dengan wajah datarnya saat memandang pintu rumah yang perlahan terbuka menampilkan wanita yang dulu dipanggilnya kaa-chan. Tiba-tiba Tsuna merasa sakit didadanya, nafasnya mulai tersengal-sengal, ia meremas dadanya berharap rasa sakitnya hilang

'ada apa dengan rasa sakit ini?'

Tsuna menundukkan kepalanya sejenak dan saat ia mengangkat kepalanya wajahnya yang tadi datar berubah sedih dengan setitik air mata diujung matanya yang besar, ia berjalan mendekati Nana yang sedang menyirami tanamannya dan mengabaikan rasa sakit yang semakin terasa didadanya

Pandangan Nana beralih dari bunga-bunga miliknya ke anak lelaki yang sedang celingak-celinguk disekitar rumahnya, 'sepertinya mencari sesuatu,' batin Nana. Ia lalu mendekati anak itu dengan senyum ramah diwajahnya

"Hei…ada yang bi…" Ucapan Nana terpotong saat ia melihat anak itu dari dekat, tanpa sadar ia melangkah mundur dan menjatuhkan selang air yang digunakannya untuk menyirami tanamannya, shock jelas tergambar diwajahnya, tiba-tiba tubuhnya bergetar hebat, air matanya menumpuk dipelupuk matanya, nafasnya memburu seolah paru-parunya tidak lagi bekerja seperti yang seharusnya. "Tsu…" bisik Nana

Tsuna memiringkan kepalanya, ia memasang wajah sepolos mungkin, berpura-pura bingung dengan sikap Nana, berakting seolah ia teringat sesuatu ia menghampiri Nana dengan berlari kecil sementara wanita itu hanya diam terpaku melihat Tsuna

Tsuna menunjukkan wajah sedihnya dan dengan suara bergetar ia bertanya, "Baa-chanbaa-chan…apa baa-chan melihat Rinrin?" Kedua manic cokelatnya yang besar menatap manic cokelat Nana yang tiba-tiba merasa melihat binar kerinduan disana. "Baa-chan…" Panggilan Tsuna menyadarkan Nana dari fantasi sesaatnya

'mustahil anak ini adalah Tsuna ku, Tsuna sudah berusia Sembilan belas kemarin.'

Nana kembali tersenyum lembut, ia berlutut didepan Tsuna untuk menyamai tinggi mereka. "Rinrin?" Tsuna mengangguk, air matanya mengalir dan hal itu sukses membuat Nana merasa iba, ia mengulurkan tangannya yang masih bergetar kecil untuk mengelus surai cokelat Tsuna yang lembut. "Siapa Rinrin?"

Tsuna menghapus air matanya dengan punggung tangannya sambil terisak beberapa kali. "Bonekaku, kaa-chan yang membuatkannya untukku," jawab Tsuna disela-sela isakannya

Tiba-tiba sebuah ingatan terbesit dipikiran Nana, ia ingat dulu ia pernah membuatkan boneka kaos kaki mirip kelinci untuk Tsuna yang kemudian diberi nama Rinrin olehnya, tanpa sadar ia mengeratkan genggamannya pada bahu mungil Tsuna. "Bo-boneka s-seperti apa..Rin-Rinrin itu?" tanya Nana gagap

Tsuna tersenyum girang saat mendengar pertanyaan Nana, seolah ia memberi gambaran bahwa ia adalah anak yang polos. "Rinrin adalah boneka kelinci dari kaos kaki, Kaa-chan yang membuatkannya untukku saat aku masih kecil." Tsuna dapat merasakan seringai diwajahnya saat melihat wajah pucat Nana, wanita malang itu begitu kaget hingga kepalanya terasa ringan, ia merasa bahwa ia bisa pingsan kapan saja. Tsuna memasang wajah khawatir lalu mengatakan, "Sepertinya baa-chan sedang tidak sehat, sebaiknya baa-chan beristirahat saja, aku pergi dulu, jaa…"

Setelah Tsuna menghilang dari pandangan Nana, ia langsung jatuh terduduk dengan air mata mengalir deras membasahi wajahnya. "Mustahil…itu hanya kebetulan, hanya kebetulan hiks…kebetulan…"

TBC

Hai hai…Risa kembali lagi ke fandom KHR dengan cerita baru, semoga kalian menyukai yang satu ini ya, Risa mungkin updatenya gak akan teratur karena kesibukan di duta alias dunia nyata

Silahkan kalian memberikan kritik dan saran untuk cerita ini, itu akan sangat membantu kelangsungan cerita lho

RnR ya…ciao ciao