LAVENDER

Naruto © Masashi Kishimoto

Rated: T

Genre: Romance

Warning(s): OOC, Gaje, Typos, Lebay, Garing, dll.

Summary: "Aku tidak romantis, aku tidak puitis, dan aku tidak tahu bahasa bunga. Tapi aku tahu 1 bahasa bunga untuk kita."/"Apa itu?"/"Lavender."

Enjoy! ^^

.

Chapter 1: Bahasa Bunga

Seperti kebanyakan para remaja umumnya, Uzumaki Naruto yang kini telah duduk di bangku kelas 1 SMA Konoha High School telah merasakan berbagai rasa mengenai cinta. Bagaimana jantungnya berpacu dengan cepat, semua tingkah lakunya yang menjadi serba salah, dan juga bagaimana wajahnya bisa merona hebat.

Apakah kalian sudah bisa menebak siapa yang bisa membuat Naruto merasakan semua itu?

Tentu saja dia –gadis manis nan imut dengan mata sayu dan indah miliknya berwarna lavender. Rambut panjang yang senada dengan warna bola matanya yang tergerai halus serta tutur katanya yang sopan dan begitu ayu.

Gadis itu bernama Hyuuga Hinata.

Sudah 3 bulan lamanya Naruto dan Hinata berpacaran dan telah 2 minggu lamanya mereka saling berdiam diri. Ya, hal yang biasa dialami oleh setiap pasangan. Hubungan mereka kini sedang berada dalam tahap tidak baik.

Tiga cowok cakep sedang asyik mengobrol di sebuah café mungil di pusat kota Konoha. Kita bisa melihat seorang cowok cakep sedang duduk di kursi dengan kaki disilangkan pada kakinya yang lain. Cowok tersebut memiliki rambut dengan model emo dan mata obsidiannya yang begitu tajam. Cowok yang dibilang terkharisma dari 2 cowok lainnya. Uchiha Sasuke. Dia terlihat sibuk bercakap-cakap, tidak seperti biasanya.

Di sampingnya terdapat cowok yang tak kalah rupawan darinya. Sedari tadi dia hanya tersenyum sambil tertawa-tawa kecil mendengar penuturan dari Sasuke. Sai. Sesekali ia menyeruput teh di depannya atau makan makanan kecil yang juga dihidangkan bersamaan dengan teh tersebut.

Di samping Sai terdapat tokoh utama kita kali ini, Naruto. Dia sama sekali tidak mendengarkan omongan dari Sasuke. Dia hanya menatap ke luar jendela sambil menopang dagu. Pancaran sinar di matanya begitu lemah dan dia terus termenung dan termenung. Memikirkan Sang Kekasih yang mungkin sedang tidak memikirkannya.

"Hei, Dobe! Apa kau tidak mendengarku, hah?" tanya Sasuke yang membangunkan Naruto dari lamunannya.

"Eh? Memangnya apa yang kau bicarakan?" ucap Naruto asal.

"Baka! Aku berbicara panjang lebar seperti ini adalah limited edition tahu! Tadi aku sedang berbicara mengenai bahasa bunga."

"Ha? Bahasa bunga?"

"Iya, Naruto. Seperti cewek saja, ya… Hahaha…" ucap Sai yang langsung mendapatkan death glare dari Sasuke.

"Kalian seperti tidak tahu saja! Cewek-cewek itu sangat menyukai bahasa bunga! Apabila kita tahu dan mengerti tentang bahasa bunga, pasti cewek-cewek pada nempel terus dengan kita," terang Sasuke.

"Contohnya?"

"Contohnya saja aku dengan Sakura. Aku pernah memberinya bunga aster. Apakah kau tahu artinya, Dobe?"

"Tentu saja tidak, Teme!"

"Bunga aster, artinya perempuan yang sangat cantik. Saat Sakura berulang tahun, aku memberinya chrysant merah yang berarti cinta."

"Karena kau tidak sempat membelinya kado makanya kau memberinya bunga, 'kan?" sahut Sai.

"Ya, seperti itulah. Saat dia marah atau kecewa padaku karena sesuatu hal, aku memberinya mawar pink yang berarti 'please, believe me'."

"Bahasa bunga, ya? Itu menyebalkan," ucap Naruto.

"Memangnya kenapa, Naruto?" tanya Sai.

Naruto melepaskan tangannya yang menjadi topangan untuk dagunya. "Karena bahasa bungalah akhir-akhir ini aku tidak pernah berbicara dengan Hinata."

"Eh?"

Flashback: ON

Di malam yang begitu indah dan dingin, terdapat 2 insan yang sedang menikmati keindahan danau dari kejauhan. Angin malam yang membelai lembut rambut kedua insan ini begitu menyejukkan sehingga mereka lebih memilih untuk diam dan merasakan kelembutan yang mereka dapatkan.

"Naruto-kun…"

"Ya? Ada apa, Hinata?"

"Kau aneh."

"Eh?"

Hening.

Dan lagi, angin malam menerpa lembut mereka berdua.

"Aku mencintaimu, Naruto-kun. Tapi… kau sama sekali tidak romantis…"

"Hinata…"

"Dan hal itu membuatku kembali bingung, apakah aku benar-benar mencintaimu atau tidak, Naruto-kun…"

"Apa maksudmu, Hinata?"

"Entahlah Naruto-kun. Kalau dipikir-pikir lagi, kau bukanlah tipe cowok kesukaanku."

"…"

"Kau tidak romantis dan puitis. Dan bisa kupastikan kau tidak mengerti tentang bahasa bunga."

"Hinata…"

"Yang ada dipikiranmu hanyalah olahraga, games, dan ramen. Kau sama sekali tidak pernah memikirkanku."

"Bukan begitu, Hinata. Aku—"

"Kau sama sekali tidak pernah memberiku apapun. Bahkan mengucapkan sepatah kata romantis pun kau tidak mampu. Aku iri dengan Sakura, Naruto-kun!"

"Seharusnya kau mengerti tentang diriku, Hinata!"

"Aku sudah mengerti dan lama-kelamaan hal ini membuatku gila! Kau tidak pernah mau mengerti tentangku! Kau jahat!"

DRAP! DRAP! DRAP!

"Hinata, tunggu!"

Terlambat.

Gadis indigo itu telah pergi dan meninggalkan Sang Kekasih yang termangu melihatnya.

"Sial!" gumamnya sambil menendang kerikil yang terdapat di dekatnya dan menjambak rambutnya frustasi.

Flashback: OFF

"Jadi, sekarang kau putus dengan Hinata, Dobe?" tanya Sasuke dengan sorot mata yang sulit ditebak.

"Tentu saja tidak!" ucap Naruto sambil berdiri. "Aku tidak putus dengannya!" lanjutnya lagi lalu berjalan meninggalkan café itu dan kedua orang sahabatnya.

"Seharusnya kau tidak bertanya seperti itu, Sasuke," ujar Sai.

"Hn."

Sai melirik kearah jam tangan yang dia kenakan. "Ah! Aku ada janji dengan Ino. Aku duluan, ya, Sasuke!" ucap Sai seraya pergi meninggalkan Sasuke yang masih termenung di dalam café itu tanpa perlu jawaban dari Si Bungsu Uchiha itu.

"Kau akan menjadi tulip putih, Naruto," gumam Sasuke setelah beberapa lama Sai meninggalkannya. Dia menyeringai licik.

"Putus cinta. Lihat saja nanti, Naruto."

Sasuke menghabiskan minumannya yang ada di hadapannya dengan beberapa teguk, kemudian dia melangkah pergi meninggalkan café mungil tersebut.


Konoha High School.

Di sinilah Naruto, Sasuke, Sai, Hinata, Sakura, dan juga Ino bersekolah dan di sini jugalah mereka merasakan sesuatu hal yang dinamakan cinta.

Di sebuah ruang kelas yang letaknya tak jauh dari tangga, terdapat 3 orang cewek yang sedang mengobrol. Cewek yang pertama adalah Haruno Sakura. Sakura adalah pacar Sasuke dan telah menjalin kasih kurang lebih 5 bulan. Sampai pada saat ini, belum ada di antara mereka pertengkaran yang membuat mereka saling mendiamkan diri layaknya hubungan Naruto dan Hinata.

Cewek yang kedua ialah Yamanaka Ino. Cewek yang terkenal paling centil se-Konoha High School dan kini telah merajut kasih selama 6 bulan bersama Sai. Dulu ia terkenal sebagai primadona sekolah dan Ratu Gosip karena ia memang hobby menggosipi orang. Sepertinya sifat itu keturunan dari ibunya.

Cewek yang ketiga ialah Hyuuga Hinata. Ia terlihat biasa saja bahkan tampak tidak ada raut kesedihan di wajahnya. Apa mungkin ia sama sekali tidak merasa bersalah dengan Naruto? Entahlah, sepertinya tidak. Ia begitu menikmati "acara diam-diaman"nya dengan Naruto. Hal ini jugalah yang membuat Naruto semakin bingung dan hatinya semakin kalut.

"Hei, ngomong-ngomong Sabtu ini aku ulang tahun. Kalian tidak lupa pastinya, 'kan?" ujar Ino sambil memasang tampang menyelidiki.

"Tentu saja kami tidak lupa, Ino Pig! Iya, kan, Hinata-chan?" ucap Sakura.

"I-Iya."

"Hehe… Kalau begitu, kalian sudah siap 'kan dengan kadonya?"

"Tentu saja, Ino! Memangnya ada apa, sih?"

"Haha… Jangan langsung marah, gitu dong, Jidat! Yah, seperti tahun-tahun sebelumnya. Aku mau mentraktir kalian makan malam di rumahku."

"Yang pasti bukan kamu 'kan yang masak makanannya?" selidik Sakura.

"Tentu saja, Jidat! Memangnya kenapa kalau aku yang masak?"

"Kalau kamu yang masak, dijamin lambung yang kemasukan makanan buatanmu tidak dapat bekerja dengan baik lagi! Hahaha…"

"Kau kejam sekali, Jidat!" Ino mendengus kecil.

"So-Soalnya buatan Ino-chan hanya bagus di luar. Ta-Tapi rasa tidak dijamin," tutur Hinata lembut.

"Hinata aja sampai bilang begitu. Kasihan sekali, kau Ino! Hahaha…" ujar Sakura sambil memegangi perutnya.

"Ya, ya, ya… Terserah kamu, deh, Jidat!" balas Ino sambil mengerucutkan bibirnya.

"Jangan kesal begitu, dong Ino… Nanti cantiknya hilang, loh!" seru Sai tiba-tiba dan langsung mengambil posisi di sebelah Ino.

"Aih, kamu bisa aja, Sai…" sahut Ino dengan wajah merah yang tertahan.

"Aduh, pagi-pagi udah romantis kayak gini. Aku dengan Hinata pergi ke luar, ya… Ntar dibilang ganggu orang pacaran… Hehe…" tutur Sakura dengan wajah tanpa dosa sambil melangkah ke luar kelas yang diikuti Hinata.

Hinata hanya tertunduk mendengar penuturan Sakura. Ia menggigit bibir bawahnya dan mencoba untuk menenangkan diri. Sesungguhnya Hinata cukup iri dengan Sakura maupun Ino yang mempunyai pasangan begitu romantis dan pengertian. Tidak seperti Naruto, menurutnya.

Hinata masih menundukkan kepalanya dan ia berjalan hanya melihat sepatu Saura yang berjalan namun pikirannya terbayang kepada Naruto. Tiba-tiba…

"Awas, Hinata!"

BUGH! DUG! AUW!

Hinata tidak menyadari hal ini, tangga. Saat akan menuruni tangga, Hinata tidak memperhatikannya hingga kini ia terjatuh.

"Lain kali, hati-hati."

Tidak jatuh sepenuhnya.

"Ah, Sasuke-kun. Untunglah kau ada di sini. Kalau tidak, mungkin Hinata-chan sudah jatuh terguling ke bawah. Terima kasih, ya, Sasuke-kun."

"Hn."

Saat itu, ketika kaki Hinata tidak pas menapaki tangga, ia kepeleset dan beruntungnya kebetulan Sasuke sedang lewat di tangga dan segera menangkap Hinata. Wajah Hinata sempat memerah karena jaraknya yang begitu dekat dengan Sasuke dan jantungnya… huh! Sedikit berdetak lebih cepat.

"A-Arigatou…" ucap Hinata sambil membungkukkan badan.

"Hn."

Hinata menegapkan tubuhnya dan yang ia lihat adalah Naruto yang sedang memasang wajah khawatir. Dia segera mendekati Hinata dan meletakkan tangannya di pundak Hinata.

"Kau tidak apa-apa, Hinata?" tanya Naruto cemas.

"A-Aku tidak apa-apa, Na-Naruto-kun. Sekarang, tolong le-lepaskan aku."

Naruto cukup terkejut dengan penuturan Hinata. Dia melepaskan tangannya dari pundak Hinata dan memandang kosong kearah perempuannya itu.

"Kenapa—" Hinata mulai bersuara.

Melihat atmosfer diantara Naruto dan Hinata yang tidak mau diganggu, Sasuke dan Sakura memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua. Setelah Sasuke dan Sakura menjauh, Hinata melanjutkan kata-katanya. "Kenapa… bukan Naruto-kun yang menolongku?"

DHEG!

"Kenapa malah Sasuke yang menolongku?" ujarnya lagi.

"Hinata, tadi aku berada jauh di belakang Sasuke. Dan kebetulan Sasuke yang berada di dekatmu, makanya dia menolongmu, Hinata."

"Aku tidak mau alasan itu! Seharusnya kamu yang menolongku, Na-ru-to-kun…"

"Hinata—"

Hinata melenggang pergi, meninggalkan Naruto sendirian yang hatinya sedang dirana oleh kesakitan.

"Mengapa jadi begini? Hinata…" gumamnya.


Hari Sabtu pun tiba. Dan malam itu Ino mengundang Sai, Sakura, Hinata, Sasuke, dan Naruto untuk merayakan ulang tahunnya di rumahnya yang terbilang cukup mewah.

"Happy birthday, Pig!" seru Sakura sembari memeluk sahabat karibnya itu dan memberinya sebuah kado dengan bungkus berwarna pink dan hijau.

"Terima kasih, Jidat!" balas Ino sambil membalas pelukan dari Sakura. "terima kasih juga atas kadonya, ya…"

"Se-Selamat ulang tahun, Ino-chan…" seru Hinata dengan malu-malu dan memberikan Ino sebuah kado dengan bungkus berwarna ungu.

"Iya, terima kasih Hinata-chan…"

"Happy birthday, my girlfriend…" ujar Sai sambil mencium pipi Ino dengan tiba-tiba.

"Aih, Sai-kun… Terima kasih, ya…" Wajah Ino memerah semerah tomat.

"Happy birthday," ucap Sasuke datar.

"Ya, thank you…"

"Happy birthday, Ino-chan…" seru Naruto yang suaranya dipura-purakan semangat karena ada Hinata di sana.

"Terima kasih, Naruto…"

"Semuanya sudah datang? Makanannya sudah siap, ayo semuanya ke ruang makan!" seru Ibu Ino dari arah dapur.

"Iya, Bu!" sahut Ino. "Ayo, semuanya kita ke ruang makan…"

Mereka berenam berjalan menuju ruang makan. Sakura, Ino, dan Hinata masih asyik bercakap-cakap. Sai hanya tersenyum melihat Ino. Sasuke masih tetap dengan tampang datarnya. Sementara Naruto –masih merasa sedih melihat Hinata yang menganggap keberadaannya bagaikan tidak ada.

Mereka akhirnya sampai di ruang makan dan segera mengambil posisi kursi yang pas.

"Makanannya tidak ada racunnya, kan, Ino?"

"Khusus untukmu aku sudah mencampurkan kapur barus di dalamnya," ujar Ino cekikikan.

"Kau membuatku jadi tidak nafsu makan, Ino!"

"Hahaha… Hanya bercanda, Sakura…"

Mereka menikmati makan malam itu dengan penuh senyuman, kecuali Naruto. Dia terus memandangi Hinata yang selalu berusaha untuk tersenyum dan tertawa, dan juga berusaha agar matanya tidak bertemu dengan mata milik Naruto.

Naruto terus memandang Hinata tanpa bosan.

Memandangi gadis itu dengan tatapan mata kosong dan lemah dan juga hati yang lemah.

Kepercayaannya berkurang dan berubah menjadi sebuah ketakutan.

Takut akan kehilangan gadis itu.

Takut gadis itu benar-benar tidak mencintainya.

Takut untuk menerima kenyataan mungkin saja gadis itu bukanlah jodoh untuknya.

"Aaaaaah, kenyang sekali, ya…" gumam Ino dengan blak-blakannya.

"Kau gembul sekali, Ino," desis Sakura.

"Tapi manis," sahut Sai tiba-tiba dan hal itu membuat wajah Ino kembali memerah entah untuk keberapa kalinya.

"Hehe… Terima kasih, Sai-kun…"

"Hei, Ino, bagaimana kalau kita bernyanyi?"

"Benar juga! Tapi aku ingin melihatmu bernyanyi bersama Sasuke. Hihihi…" ujar Ino cekikikan.

"Jangan!" sahut Sasuke tiba-tiba.

"Hm? Kenapa Sasuke-kun?" tanya Sakura bingung.

"Itu tidak mungkin! Err- maksudku, suaraku jelek dan aku tidak pandai bernyanyi."

"Hahaha, kau terlalu menanggapinya dengan serius, Sasuke. Aku 'kan hanya bercanda! Hahaha…" ujar Ino sambil tertawa. Semuanya ikut tersenyum.

Sakura dan Ino bernyanyi dengan penuh semangat di ruang tengah. Sementara Sai memperhatikan Ino sambil menemani Naruto yang terlihat begitu… menyedihkan. Padahal biasanya kalau ada acara pesta beginian pasti selalu Naruto yang membuat kehebohan. Tapi sekarang tidak.

"Kau masih sedih, Naruto?" tanya Sai dengan penuh hati-hati.

"Memang terlihat seperti itu, 'kan?"

"Kalau mau tahu mengenai pendapatku, lebih baik kau bicarakan hal ini baik-baik dengan Hinata. Atau—"

"Atau apa?"

"Kau coba belajar bahasa bunga saja dengan Sasuke."

"Haaah, kau membuatku kembali mengingat akan hal itu."

"He? Bukannya kau memang sedang mengingatnya?"

DHEG!

"Jujur saja, aku sudah tidak kuat lagi."

Sai tersenyum penuh arti.

"Semangatlah, Naruto. Aku mendukungmu. Kita sahabat, 'kan?"

"Ya, Sai. Terima kasih."

Naruto mencoba tersenyum. Hanya senyuman tipis, yang sangat tipis yang pernah dia coba.

Di teras rumah itu, terlihat sesosok gadis yang sedang menatap langit malam dengan mata sayunya. Pikirannya kembali melayang, bagaimana perkataannya-yang sangat ia sadari-begitu menyakiti Naruto. Ia bingung, ia kalut, dan ia juga kesal.

"Sendirian saja?" tiba-tiba suara bariton memecah keheningannya.

"Hm?"

"Boleh aku menemanimu di sini?"

"Te-Tentu saja, Sasuke."

Sasuke melangkah mendekati Hinata dan mengambil posisi di sampingnya.

"Malam ini indah sekali, ya," ujar Sasuke sambil menirukan Hinata yang memandang langit malam.

"I-Iya. Hmm, Sasuke?"

"Hn."

"Sasuke tidak menemani Sakura-chan di dalam? Aku tidak apa-apa, kok sendirian di sini."

"Tidak apa-apa. Lagipula Sakura sedang asyik bernyanyi bersama Ino."

"Hm… I-Iya juga."

"Sepertinya hubunganmu dengan Naruto sedang tidak baik, ya?"

"I-Iya… Ini… karena Naruto-kun…" ucap Hinata polos.

"Aku sudah tahu. Kau tahu? Kau itu seperti mawar marun."

"Eh?" Hinata mengalihkan pandangannya dan menatap sayu wajah tampan Sasuke.

"Cantik sekali," ujar Sasuke sambil membalas tatapan Hinata dengan… senyumannya.

Tampan sekali.

Hinata hanya dapat menahan wajahnya yang kini telah merona hebat.

"Kau cantik, manis, dan ayu sekali. Kau tahu? Banyak sekali lelaki di luar sana yang begitu ingin menjadi pacarmu."

"A-Aku tidak tahu." Hinata tertunduk malu.

"Kau polos sekali, ya…"

Sasuke kembali menatap langit malam yang penuh taburan para bintang itu.

Hinata hanya tersenyum melihat Sasuke dan kembali menatap langit.

Hening.

Cukup lama mereka terdiam dalam keheningan.

"Dingin," gumam Hinata pelan.

"Hn. Mau hangat?"

"Eng…"

Perlahan-lahan tangan Sasuke bergerak dan akhirnya sampai di tangan Hinata yang berada di sebelahnya. Hinata cukup terkejut dan wajahnya makin memerah.

Perlahan-lahan tangan Sasuke menyentuh lembut telapak tangan Hinata dan tetap dengan perlahan-lahan menautkan jari-jarinya pada jari-jari Hinata.

'Tangannya hangat.' Batin Hinata.

Dan akhirnya, Sasuke menggenggam erat tangan Hinata.

Cukup lama mereka dalam posisi seperti ini. Tiba-tiba, Sasuke memecah keheningan.

"Hinata, maukah kau menjadi pacarku—"

"Eh?"

"Selain Sakura?"

TBC

.

Haloha! XD

Farica coba-coba buat fanfic multichapter di fandom Naruto. Hanya threeshoot, sih… Semoga readers suka.

Sebenarnya fanfic ini sudah tidur selama 1 bulan di laptop saya. Kasihan juga gak di publish-publish, dan akhirnya baru kesampaian sekarang.

Bagaimana fanfic nya? Garingkah? Jelekkah?

Keep or delete?

*siap-siap klik tombol delete*

REVIEW-nya, minna? XD

But not FLAME, yaa… :D