Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : AU, OOC, Gaje Canon (?)
Genre : Mystery/Romance
Don't Like, Don't Read!
Chapter 1 : Bad day
Aku tidak pernah mendengar ada sekolah yang tidak memiliki sedikitnya satu Sabaku Gaara.
Itu lho, murid cowok yang lebih tua daripada siapapun di dalam kelas, korban-nilai. Kebanyakan dari orang yang ku kenal heran karena dia tidak mengosongkan saja lokernya dan berhenti sekolah. Ku dengar dia ketinggalan satu atau dua tahun dalam segala hal.
Dia berambut merah dan bertubuh tinggi, dia kelihatan cocok berada di lapangan basket, tapi bukan tipe cowok yang bisa diasosiasikan dengan kerja sama tim. Dia selalu berjalan agak membungkuk, mungkin agar kelihatan pendek dan tidak menarik perhatian, tapi tidak berhasil. Kau selalu bisa melihat Gaara, meskipun biasanya dia berada di latar belakang, menatap lantai, tidak pernah mengatakan apa pun, kecuali tampaknya dalam pelajaran bahasa prancis. Cowok itu duduk—dimana lagi?—di baris paling belakang di dalam kelas.
Dan sekarang, aku akan menempelkan bibirku di wajah Sabaku Gaara.
LoL
Semua ini diawali dengan terlambatnya aku ke sekolah pada jumat pagi. Kurasa juga tak ada ruginya untuk mengingat kalau Asuma-sensei sudah merencanakan sesuatu yang "istimewa" untuk kami hari ini. Asuma-sensei mengajar pendidikan jasmani untuk menggantikan Guy-sensei yang sedang mengambil cuti. Asuma-sensei memberikan pelajaran pertolongan pertama selama Guy-sensei mengambil cuti. Karena itulah, aku langsung menuju ruang olahraga.
Karena itu jugalah semua orang yang berada di ruang olahraga sudah duduk berpasangan. Yah, hampir semua. Satu-satunya yang duduk sendirian—satu-satunya yang tidak mendongak ketika aku masuk—adalah Sabaku Gaara.
Saat aku lagi mencari tempat duduk, Asuma sensei berkata,"Aku senang kau datang, Hinata. Berarti sekarang semua sudah dapat pasangan." Dia menggerakkan tangan ke arah Gaara sementara ruang olahraga bergemuruh oleh gelak tawa—dan tawa tertahan.
Ada saat-saat di dalam hidupku ketika aku lebih memilih di usir dari kelas daripada berpasangan dengan dengan orang seperti Gaara. 'Kau mampu mengatasinya. Kau pasti mampu' batinku
"Nah," kata Asuma-sensei, "masing-masing dari kalian akan di beri amplop berisi masker sekali pakai. Silakan buka amplop itu dan keluarkan maskernya dengan hati-hati."
"Masker?" kataku. Aku menoleh kepada Sakura yang berada di belakang ku.
Dia tersenyum manis kepadaku. "Kita akan berlatih memberikan bantuan pernapasan dari mulut ke mulut," katanya.
Tentu saja.
LoL
Situasi bisa saja semakin buruk. Aku mungkin dipasangkan dengan calon atlet besar seperti Rock Lee. Itu lho, tipe cowok yang ngiler membayangkan berlatih memberi napas bantuan dari mulut ke mulut dengan seorang cewek. Aku menoleh ke seberang ruang olahraga dan melihatnya nyengir kepadaku. Untungnya dia sudah berpasangan dengan cewek lain.
Kami menyimak instruksi-instruksi yang diberikan Asuma-sensei. Lalu, tibalah waktunya bagi kami untuk berlatih. Aku berbalik kepada Gaara, yang masih memandang lantai dengan tatapan tajam. Sikap itu membuatku bertanya-tanya kenapa dia mau repot-repot datang.
"Kau atau aku yang duluan?" tanyaku. Kedua pilihan itu membuat ku ingin muntah.
Gaara tidak menjawab.
Baiklah kalau begitu. "Berbaringlah, Gaara," perintahku. Sejujurnya, aku berharap dia menolak atau mungkin memberi jawaban kasar. Aku tidak mendapatkan keduanya. Sebaliknya, Gaara membaringkan tubuhnya dilantai dengan santai.
Aku memandang berkeliling ruangan dan melihat dua puluh sembilan calon peniup mulut berkata kepada rekannya yang berpura-pura pingsan, "Kau baik-baik saja?" sambil menepuk-nepuk bahu 'korban' dengan lembut. Aku melakukan hal yang sama kepada Gaara.
Lalu, tibalah bagian yang lucu. Aku harus menyentuh Sabaku Gaara. Kami tidak benar-benar harus meniup mulut pasangan kami—dan ada masker sekali pakai itu sebagai penghalang antara kulit mereka dan kulit kami—tapi, aku masih memiringkan kepala Gaara kebelakang dan mengangkat dagunya untuk membuka jalan udara. Dan, aku harus menahan tanganku di dahinya untuk memastikan kepalanya tidak tergelincir kembali. Iiiih!
Aku menjalankan setiap langkah. Tak ada satupun yang terlewat. Tapi, yang paling terekam dalam otakku adalah, 'Jangan pernah terlambat saat pelajaran pendidikan jasmani'
Lalu, giliranku untuk pura-pura pingsan, dan giliran Gaara untuk berusaha menghidupkan aku kembali. Aku berbaring dan menutup mata, tidak yakin apa yang kuharapkan. Mungkin ia tidak berani mencobanya. Atau dia akan salah melakukannya.
Yang terjadi sesungguhnya adalah, aku merasakan tangannya yang hangat dan kering dengan lembut memiringkan kepalaku ke belakang. Lalu sebuah masker diletakkan di mulutku, dan Sabaku Gaara meneruskan langkah-langkah bantuan pernapasan dari mulut ke mulut tanpa ragu-ragu. Bayangkan, sepanjang sisa hari ini, kemana pun aku pergi dan dengan siapa pun aku bertemu, aku diolok-olok karena sudah latihan bantuan pernapasan dengan Gaara.
"Pacar baru, hinata?"
Yeah, yang benar saja.
"Kencan untuk prom, hinata?"
Haha.
Dan dari Pein-senpai, "Lidah, Hinata?"
"Diam kau!" bentakku
Benar-benar melegakan mendengar lonceng terahir hari ini.
Laugh of Loud
To be continue
